Tag: literasi anak

  • Lomba Literasi dan Seni Meriahkan Peringatan Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Lomba Literasi dan Seni Meriahkan Peringatan Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254, Saestwo Cafe berkolaborasi dengan komunitas Gotong Royong 45 dan media sastrawacana.id/ menggelar lomba literasi dan seni pada Jumat (19/12/2025).

    Kegiatan ini didukung oleh sejumlah komunitas dan organisasi di Banyuwangi, antara lain BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, Koppiwangi, Gata, Jurnalnews, PERGUNU, ELC Sibon, dan Aura Lentera.

    Rangkaian lomba berlangsung selama dua hari, 19–20 Desember 2025, dengan melibatkan peserta dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

    Lomba hari pertama diisi dengan tiga cabang, yakni pidato cilik (pildacil), bercerita menggunakan bahasa Using, serta lomba melukis.

    Lomba Pildacil Harjaba Saestwo Cafe

    Sejak siang, peserta silih berganti tampil di hadapan dewan juri, disaksikan orang tua dan pengunjung kafe yang turut memberi dukungan.

    Sementara itu, untuk hari kedua yang akan digelar hari Sabtu (20/12), panitia menjadwalkan lomba membaca puisi dari buku antologi Gotong Royong yang diterbitkan oleh Penerbit Lintang Banyuwangi dan story telling sebagai penutup rangkaian kegiatan.

    Pembukaan acara dilakukan oleh Ketua Panitia, H.M. Shodiqin yang juga Owner Saestwo Cafe.

    Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut digelar bukan sekadar untuk memeriahkan Harjaba, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan minat literasi dan apresiasi seni sejak usia dini.

    Lomba Bercerita Using Harjaba Saestwo Cafe

    “Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong tumbuhnya minat literasi dan apresiasi seni sejak usia dini. Anak-anak perlu diberi ruang untuk mengekspresikan gagasan dan kreativitasnya,” ujar Shodiqin.

    Ia juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan lomba ini sekaligus sebagai peringatan momentum Hari Ibu.

    Di sela sambutannya, Shodiqin mengajak seluruh peserta dan panitia menyanyikan lagu Kasih Ibu yang membuat suasana acara terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan.

    Selain lomba, kegiatan hari pertama juga dihiasi dengan tasyakuran 10 tahun Koppiwangi (Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi).

    Tasyakuran tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Koppiwangi Mujiono, S.H., beserta jajaran pengurus dan anggota komunitas.

    Mujiono, S.H menyampaikan bahwa Koppiwangi sejak awal berdiri berkomitmen untuk mendukung akses dan kualitas pendidikan melalui berbagai kegiatan literasi.

    Tasyakuran 10 tahun Koppiwangi

    Menurutnya, kolaborasi lintas komunitas seperti ini penting untuk menjaga semangat gotong royong dalam dunia pendidikan.

    “Kegiatan seperti ini menjadi contoh bahwa literasi bisa tumbuh dari ruang-ruang alternatif, tidak harus selalu di sekolah atau ruang formal,” ujarnya.

    Kemeriahan acara juga didukung kehadiran pelaku ekonomi kreatif lokal.

    Green Jasmine dan Batik Gerilya tampak membuka lapak di area kegiatan, memamerkan berbagai produk unggulan seperti batik khas Banyuwangi dan aneka kerajinan tangan.

    Kehadiran mereka menambah warna tersendiri sekaligus menjadi ajang promosi produk lokal kepada masyarakat.

    Pemenang Lomba Melukis Harjaba Saestwo Cafe

    Dari sisi apresiasi peserta, panitia menyediakan berbagai hadiah menarik. Salah satunya dukungan dari PT Tulus Hijrah Baitullah yang memberikan hadiah berupa voucher uang muka (DP) umrah senilai Rp2 juta bagi setiap pemenang lomba.

    Kemudian, khusus untuk lomba pildacil, juara pertama mendapatkan hadiah tambahan berupa voucher menginap di Hotel Aston.

    Hadiah tersebut dipersembahkan oleh Ketua BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, Achmad Sururuddin, S.E., M.Pd., sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan potensi anak-anak di bidang dakwah dan public speaking.

    Panitia berharap, rangkaian lomba ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.

    Melalui peringatan Harjaba ke-254, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang bertemu bagi komunitas, orang tua, dan anak-anak untuk bersama-sama menumbuhkan budaya literasi, seni, serta semangat gotong royong di Banyuwangi.

  • Pameran Petak Umpet, Ruang untuk Menemukan Kembali Sastra Anak Indonesia

    Pameran Petak Umpet, Ruang untuk Menemukan Kembali Sastra Anak Indonesia

    Kolaborasi antara Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Museum Anak Bajang, dan Bentara Budaya melahirkan Pameran Arsip dan Ilustrasi Petak Umpet Sastra Anak, sebuah upaya untuk membangkitkan kembali semangat sastra anak Indonesia.

    Pameran yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta pada 7–16 November 2025 ini menjadi ruang penghormatan untuk mengenang setahun wafatnya Dwianto Setyawan, penulis buku anak yang produktif di era 1970–1980an.

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya Dwianto, tetapi juga ajakan untuk menengok masa ketika sastra anak lokal hidup dengan energi dan daya cipta yang kuat.

    Pada masa itu, karya-karya Djokolelono, Arswendo Atmowiloto, Bung Smas, hingga Kembangmanggis mengisi rak buku anak Indonesia dengan kisah-kisah sederhana namun sarat makna.

    Selama beberapa dekade terakhir, karya-karya tersebut kian jarang terdengar. Nama-nama yang dulu akrab kini nyaris tak disebut, dan sebagian bukunya pun sulit ditemukan.

    Menurut Christina M. Udiani, Manajer Redaksi dan Produksi KPG, pameran ini tidak bertujuan mengkotakkan mana yang tergolong sastra anak atau bukan.

    “Pameran ini tidak dimaksudkan sebagai penentu karya mana yang termasuk sastra anak atau bukan, melainkan sebagai ruang bersama untuk mengenang dan mendiskusikannya,” ujarnya.

    Awal 2025 menjadi titik penting bagi kebangkitan sastra anak. KPG bersama pengamat sastra Setyaningsih dan ilustrator Nai Rinaket meluncurkan Seri Klasik Semasa Kecil, yang memuat karya pilihan Dwianto Setyawan dan Djokolelono.

    Hingga kini, sudah ada 15 judul buku klasik anak yang diterbitkan kembali, di antaranya Si Rejeki dan Astrid di Palungloro, disertai buku esai Melangkah ke Sastra Anak.

    Pembukaan pameran dilakukan oleh Romo Sindhunata, pendiri Museum Anak Bajang sekaligus penggagas kegiatan ini. Ia didampingi para kurator, yakni Setyaningsih, Nai Rinaket, dan Hanputro Widyono.

    Suasana pembukaan berlangsung penuh warna. Tarian Warok Cilik dan musik Orkestra Keroncong Sakpenake menyambut pembacaan cerita Terlalu Muluk oleh Altaf Jaddan Adzaro, siswa SD Muhammadiyah Sapen, yang tampil percaya diri di hadapan pengunjung.

    Romo Sindhu menuturkan bahwa dunia anak adalah semesta yang tak pernah berhenti berimajinasi.

    “Anak-anak adalah insan yang merasa bisa mengatur dirinya. Orang dewasa tak dapat sungguh menyelami apa yang ada di dalam pikiran dan khayalan mereka. Itulah yang coba diselami pengarang seperti Dwianto dan kawan-kawan,” terangnya.

    Ruang pamer dirancang layaknya perjalanan waktu. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat transformasi sastra anak Indonesia sejak Si Jamin dan Si Johan (1921), masa proyek Inpres pada era Orde Baru, hingga gelombang buku terjemahan yang pernah mendominasi pasar bacaan anak.

    Beragam arsip, ilustrasi, dan sampul buku lawas ditampilkan untuk menunjukkan bagaimana sastra anak tumbuh seiring perubahan sosial dan budaya bangsa.

    Selama sepuluh hari, pameran ini diisi dengan berbagai kegiatan interaktif seperti permainan Melacak Sersan Grung-Grung, lokakarya bercerita, sesi book playdate, hingga diskusi bertajuk Melangkah ke Sastra Anak yang menghadirkan Sindhunata, Reda Gaudiamo, dan Herdiana Hakim.

    Sumber: Antara, koranbernas

  • TUGU SAJUTA, Gerakan Literasi Membangun Budaya Membaca di SDN 3 Siliragung

    TUGU SAJUTA, Gerakan Literasi Membangun Budaya Membaca di SDN 3 Siliragung

    Di era digital, ketika gawai lebih menarik daripada buku, SD Negeri 3 Siliragung menemukan cara unik untuk menghidupkan kembali semangat membaca di kalangan siswanya.

    Lewat program TUGU SAJUTA (Satu Minggu Satu Judul Cerita), sekolah ini menyalakan kembali api literasi yang sempat meredup pascapandemi.

    Program TUGU SAJUTA lahir dari keprihatinan akan rendahnya nilai literasi dalam Rapor Pendidikan sekolah.

    Kepala SD Negeri 3 Siliragung, Nanik Ermawati, S.Pd.Gr , menuturkan bahwa ide ini berangkat dari kebutuhan sederhana, yaitu mengembalikan minat baca anak-anak yang kian menurun.

    SD Negeri 3 Siliragung

    “Program TuGu SaJuTa ini memang sangat bagus untuk sekolah kami yang sedang membenahi nilai literasi di dalam Rapor Pendidikan. Dengan program ini sangat membantu Bapak dan Ibu guru untuk lebih fokus dalam mendampingi anak-anak membaca, terlebih ada kolaborasi langsung dari wali murid yang sudah terjadwal setiap harinya. Sehingga ketika ada ruang perlombaan kami sudah memiliki aset baik yaitu siswa berbakat ini untuk mengeksplornya. Dan alhamdulillah hasil dari pendampingan ini membuahkan juara 2 kategori bercerita tingkat Kecamatan,” jelasnya.

    Melalui TUGU SAJUTA, siswa diajak membaca minimal satu cerita setiap minggu. Setelah itu, mereka bisa menuliskan kembali kisah yang telah dibaca, menggambarkannya, atau bercerita secara langsung di depan guru dan teman-temannya.

    Hasil karya mereka kemudian dipajang di Mading TUGU SAJUTA atau diunggah ke media sosial sekolah, menjadikan literasi sebagai aktivitas yang hidup dan menarik.

    Program ini juga merupakan pengembangan dari inovasi sebelumnya, MEKAR MERATA (Meningkatkan Kreativitas Siswa Melalui Literasi Digital), yang fokus pada penguatan fasilitas literasi di tiap kelas.

    Kini, TUGU SAJUTA melangkah lebih jauh dengan menghadirkan budaya membaca yang menyenangkan dan partisipatif.

    Yang membuatnya semakin istimewa adalah kolaborasi aktif dengan wali murid. Setiap kelas memiliki jadwal khusus pendampingan membaca bersama orang tua.

    Mereka tidak hanya membantu anak memahami isi bacaan, tetapi juga turut menjadi narasumber kecil atau motivator.

    Kolaborasi ini mempererat hubungan antara guru, siswa, dan orang tua, sekaligus memperkuat ekosistem literasi di sekolah.

    Literasi SD Negeri 3 Siliragung

    Dari kegiatan yang awalnya sederhana ini, lahirlah berbagai manfaat nyata. Anak-anak menjadi lebih percaya diri saat tampil bercerita, lebih fokus, dan terlatih berpikir kritis.

    Guru pun lebih mudah mengenali potensi literasi siswanya. Sementara bagi orang tua, keterlibatan langsung ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap proses pendidikan anak.

    Kini, setiap pekan di SD Negeri 3 Siliragung selalu ada cerita baru yang lahir dari tangan dan imajinasi siswa.

    TUGU SAJUTA bukan sekadar program membaca, tapi gerakan yang menumbuhkan karakter, membangun kolaborasi, dan menghidupkan kembali budaya literasi di sekolah.

    Dari satu cerita setiap minggu, lahir seribu inspirasi bagi masa depan yang lebih cerdas dan berdaya.