Tag: literasi banyuwangi

  • Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Banyuwangi – Gramedia Banyuwangi berkolaborasi dengan Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) dan Indonesia Book Party (IBP) menggelar Serambi Sastra #1, Minggu (13/09/2026).

    Mengangkat tema “Menulis yang Dekat: Merangkai Puisi dalam Keseharian”, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pelajar, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk belajar, berdiskusi, serta mengekspresikan pengalaman melalui puisi.

    Kegiatan berlangsung di Gramedia Banyuwangi N.X Poin Lantai 2, Jalan Kepiting No. 7, Sobo, Banyuwangi. Dari 43 peserta yang melakukan registrasi, sebanyak 21 peserta hadir dan mengikuti kegiatan hingga selesai.

    Peserta berasal dari berbagai kalangan, di antaranya pelajar SMK PGRI Rogojampi, MAN 1 Banyuwangi, dan SMPN 1 Banyuwangi.

    Selain itu, hadir pula anggota KOPIWANGI, Indonesia Book Party, Banyuwangi Book Party, mahasiswa, serta masyarakat umum.

    Serambi Sastra #1 menghadirkan Andi Budi Setiawan sebagai narasumber.

    Selain dikenal sebagai Ketua KOPIWANGI dan penulis buku Algoritma Cinta, Eunoia Sangkakala, dan Rumah Ilalang, Andi juga merupakan guru di SMK PGRI Rogojampi yang aktif menulis.

    Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.20 WIB dan dipandu Putri Nurul Azizah, staf Gramedia Banyuwangi.

    Acara dibuka dengan pantun yang membangun suasana hangat, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan profil narasumber dan sesi berbagi pengalaman tentang perjalanan menulis puisi.

    Dalam sesi tersebut, Andi mengungkapkan bahwa dirinya mulai menulis puisi ketika duduk di kelas X SMA, sekitar tahun 2001.

    Perjalanan panjang itu kemudian melahirkan buku pertamanya, Algoritma Cinta – Biarkan Algoritma Selaras dengan Semesta, yang sebagian besar puisinya ditulis ketika SMA dan baru diterbitkan pada 2021.

    “Hampir 90 persen puisi dalam buku Algoritma Cinta merupakan puisi yang saya tulis sejak SMA. Butuh waktu sekitar 20 tahun sampai akhirnya kumpulan puisi itu menjadi sebuah buku,” ungkap Andi.

    Jauh sebelum aktif menulis, Andi juga telah mengenal puisi sejak masih duduk di taman kanak-kanak.

    Ia pernah dipilih untuk mengikuti seleksi lomba baca puisi, meskipun akhirnya tidak terpilih sebagai wakil sekolah.

    Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Justru dari proses itulah ia semakin dekat dengan dunia puisi, hingga kemudian menjadikan puisi sebagai ruang untuk mengekspresikan pengalaman, perasaan, keresahan, bahkan kritik terhadap berbagai persoalan.

    “Bagi saya, puisi bukan sekadar rangkaian kata. Puisi menjadi ruang untuk mengenali diri, mengolah perasaan, dan menemukan ketenangan,” jelasnya.

    Menurut Andi, menulis puisi yang baik berawal dari kepekaan terhadap apa yang dirasakan, dilihat, dan dialami.

    Penulis tidak perlu memaksakan kata-kata indah, tetapi perlu menemukan kata-kata yang jujur dan mampu mewakili perasaan.

    Ia menyarankan penulis untuk banyak membaca, mengamati, melakukan riset, dan berani menulis.

    Setelah gagasan dituangkan, penulis dapat memperhatikan kembali pilihan diksi, majas, ritme, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

    “Puisi yang baik bukan hanya indah dibaca, tetapi juga mampu membuat pembaca ikut merasakan. Karena sesuatu yang lahir dari hati akan sampai ke hati juga,” ujarnya.

    Andi juga membagikan pengalamannya mengenai tantangan dalam menulis puisi.

    Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mencari kata yang indah, melainkan menemukan kata yang tepat untuk mewakili perasaan tanpa kehilangan makna.

    Karena itu, ia tidak selalu terburu-buru menyelesaikan sebuah puisi. Menurutnya, memberi waktu untuk merenung, membaca kembali, kemudian memperbaiki diksi merupakan bagian penting dari proses kreatif seorang penulis.

    Diskusi semakin hidup ketika peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan.

    Tiga pertanyaan yang muncul antara lain mengenai sosok yang pertama kali mendukungnya dalam membaca puisi, peran media sosial dan teknologi digital bagi sastrawan muda, serta puisi yang paling berkesan baginya.

    Menjawab pertanyaan tersebut, Andi menyebut guru TK sebagai salah satu sosok yang sejak awal memberikan dorongan untuk mengenal puisi.

    Meski tidak lolos dalam seleksi lomba baca puisi saat itu, dukungan tersebut menjadi pengalaman yang terus diingat dan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai penulis.

    Terkait perkembangan teknologi, Andi mengajak para penulis muda untuk tidak alergi terhadap perubahan. Menurutnya, perkembangan sastra kini tidak hanya berlangsung melalui buku cetak, tetapi juga berkembang melalui ebook, media sosial, dan berbagai platform digital.

    Sementara itu, ketika ditanya mengenai puisi yang paling berkesan, Andi menyebut Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.

    Ia menilai kekuatan puisi tersebut terletak pada penggunaan diksi yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan tetap relevan sepanjang waktu.

    Setelah sesi diskusi, peserta diajak mempraktikkan langsung materi yang telah dibahas.

    Gramedia memberikan waktu 15 menit kepada peserta untuk menulis puisi yang mewakili perasaan atau pengalaman mereka.

    Kesempatan tersebut dimanfaatkan peserta untuk menuangkan pengalaman masing-masing.

    Salah seorang peserta, Vivi, kemudian membacakan puisinya dengan penuh penghayatan dan mendapatkan apresiasi dari narasumber serta peserta lainnya.

    Kegiatan semakin semarak dengan kuis yang dipandu Putri Nurul Azizah. Peserta diminta menebak judul atau penulis buku berdasarkan sampul yang ditampilkan, sebelum acara ditutup dengan pemberian apresiasi.

    Gramedia Banyuwangi memberikan Blind Book kepada tiga peserta teraktif dan dua doorprize bagi pemenang kuis.

    Andi Budi Setiawan juga memberikan tiga buku karyanya kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dan berkesempatan membacakan puisinya.

    Serambi Sastra #1 kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta.

    Lebih dari sekadar pertemuan sastra, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa puisi dapat lahir dari sesuatu yang sangat dekat: pengalaman, perasaan, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.

    Serambi Sastra yang diselenggarakan Gramedia Banyuwangi diharapkan dapat menjadi ruang yang terus tumbuh bagi masyarakat Banyuwangi untuk membaca, menulis, dan berbagi gagasan.

    Sebab, terkadang sebuah karya besar tidak dimulai dari kata-kata yang sempurna, tetapi dari keberanian seseorang untuk menuliskan satu kata pertamanya.

    Jurnalis: Andi Budi Setiawan

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.

  • KOPIWANGI dan Dispusip Banyuwangi Bahas Publikasi Ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi serta Pengajuan ISBN

    KOPIWANGI dan Dispusip Banyuwangi Bahas Publikasi Ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi serta Pengajuan ISBN

    Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Andi Budi Setiawan, melakukan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Banyuwangi, Selasa (10/03/2026).

    Kunjungan tersebut dilakukan untuk menjalin kerja sama sekaligus membahas publikasi ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi (Antologi Pantun Basa Using) yang telah dirilis melalui platform ebookbanyuwangi.

    Andi Budi Setiawan tiba di kantor Dispusip Banyuwangi sekitar pukul 10.00 WIB.

    Ia disambut oleh Yusup Khoiri, S.STP, selaku Pustakawan Ahli Madya, di ruang kerjanya untuk berdiskusi mengenai pengembangan literasi daerah.

    Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah membahas publikasi ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi (Antologi Pantun Basa Using) yang sudah tersedia di laman resmi Dispusip Banyuwangi.

    Ebook tersebut dapat diakses masyarakat melalui platform digital perpustakaan daerah. (https://ebookbanyuwangi.id/book/tandang-bareng-mbangun-banyuwangi-antologi-pantun-basa-using/)

    Selain publikasi digital, Dispusip Banyuwangi juga berencana mengajukan ISBN untuk karya tersebut ke Perpustakaan Nasional.

    Langkah ini dilakukan agar antologi pantun tersebut tercatat secara resmi sebagai koleksi karya sastra yang mengangkat kearifan lokal Banyuwangi, khususnya pantun berbahasa Using.

    Antologi Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi memuat 48 pantun karya 34 penulis dari berbagai latar belakang.

    Para penulis berasal dari anggota KOPIWANGI, guru bahasa Using, hingga pegiat literasi yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah.

    Keragaman penulis tersebut menjadi kekuatan utama dalam antologi ini. Karya-karya yang terhimpun menunjukkan bahwa bahasa Using tetap hidup dan dirawat bersama oleh berbagai kalangan lintas generasi dan profesi.

    Secara tematik, pantun-pantun dalam antologi ini mengangkat kearifan lokal Banyuwangi melalui lima subtema utama.

    Subtema tersebut meliputi seni dan pertunjukan, ritual dan tradisi, arsitektur dan tata ruang, kuliner dan pangan, serta hubungan manusia dan alam.

    Melalui tema-tema tersebut, antologi ini merekam potret Banyuwangi secara utuh. Tidak hanya menggambarkan kekayaan seni dan tradisi adat, tetapi juga menampilkan lanskap alam serta ragam kuliner khas daerah.

    Dalam kesempatan itu, Yusup Khoiri menjelaskan bahwa tidak semua karya tulis dapat diajukan untuk mendapatkan ISBN dari Perpustakaan Nasional.

    Menurutnya, terdapat sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi oleh sebuah karya sebelum diajukan secara resmi.

    “Karya yang bisa diajukan ISBN, baik dalam bentuk PDF maupun cetak, harus sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional. Karya tulis yang merupakan produk pembelajaran tidak bisa diajukan ISBN.

    Jika karya tidak memenuhi syarat tersebut, maka bisa dipublikasikan melalui platform ebookbanyuwangi,” jelas Yusup Khoiri.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan menyampaikan bahwa Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis oleh Dispusip Banyuwangi.

    Sebelumnya, Dispusip telah menerbitkan dua antologi lain yang juga melibatkan pegiat literasi daerah.

    “Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis Dispusip Banyuwangi. Sebelumnya ada Marhaban Ya Ramadan, antologi pantun, puisi, dan quote Ramadan, serta Sajak Merah Putih, antologi puisi bertema pahlawan,” ujar Andi.

    Dispusip Banyuwangi juga mendorong keterlibatan aktif komunitas literasi dalam menghasilkan karya tulis.

    Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi lokal sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap karya-karya kreatif daerah.

    Langkah ini sejalan dengan visi KOPIWANGI yang mengusung semangat bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi.

    Kolaborasi antara komunitas literasi dan lembaga pemerintah menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan budaya melalui karya tulis.

    Melalui inisiatif ini, masyarakat Banyuwangi diharapkan semakin terdorong untuk membaca, menulis, dan mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.

    Karena itu, dukungan publik sangat penting agar gerakan literasi terus tumbuh dan memberi dampak luas bagi generasi mendatang.

  • Yusdi Irawan dan Harapan yang Disulam di Balik Rak Buku

    Yusdi Irawan dan Harapan yang Disulam di Balik Rak Buku

    Kemajuan literasi di daerah tidak hadir secara instan. Ia tumbuh melalui kesadaran, komitmen, serta keberpihakan para pemangku kebijakan terhadap pentingnya budaya membaca dan belajar sejak usia dini.

    Di Banyuwangi, upaya tersebut terus menunjukkan geliat yang positif, salah satunya melalui peran aktif Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E., M.Si., sosok pemimpin yang dikenal rendah hati, sederhana, dan memiliki kepedulian nyata terhadap literasi.

    Kehadiran Yusdi Irawan dalam kegiatan kunjungan dan donasi buku di MI Islamiyah Kedaleman Rogojampi menegaskan bahwa literasi tidak hanya menjadi wacana di ruang rapat, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata di lingkungan sekolah.

    Di sela-sela jadwal yang padat, Yusdi Irawan tetap meluangkan waktu untuk hadir langsung di tengah masyarakat, sebuah teladan kepemimpinan yang patut diapresiasi.

    Bagi penulis, sebagai pegiat literasi dan Ketua KOPIWANGI, langkah tersebut mencerminkan kepemimpinan yang memahami bahwa perpustakaan sekolah merupakan fondasi penting dalam menumbuhkan budaya baca di tengah masyarakat.

    Yusdi Irawan memandang perpustakaan bukan sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan sebagai ruang belajar yang hidup dan berkelanjutan.

    Pandangan tersebut sejalan dengan program-program Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi yang selama ini berfokus pada penguatan perpustakaan sekolah, peningkatan minat baca, serta perluasan akses literasi hingga ke wilayah-wilayah yang belum terjangkau secara optimal.

    Kehadiran layanan perpustakaan keliling serta kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan sekolah-sekolah menjadi wujud komitmen nyata dan kesungguhan dalam memajukan literasi di Banyuwangi.

    Dalam dialog bersama pihak sekolah, ia tidak hanya menyerahkan buku, tetapi juga menyampaikan masukan strategis terkait pengelolaan perpustakaan serta pembiasaan membaca bagi siswa.

    Pernyataannya bahwa kebiasaan membaca akan tumbuh menjadi budaya membaca mencerminkan pemahaman yang mendalam bahwa literasi merupakan proses jangka panjang, bukan kegiatan seremonial semata.

    Dari kebiasaan inilah akan tumbuh karakter peserta didik yang menyadari pentingnya membaca sebagai bekal menghadapi masa depan, sebab membaca adalah jendela untuk memahami dunia dan kehidupan.

    Sebagai seorang pendidik yang aktif di dunia literasi, penulis mengapresiasi komitmen tersebut.

    Dukungan langsung dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi sekolah.

    Perpustakaan pun menjadi lebih bermakna; guru dan siswa merasa diperhatikan, sementara sekolah memperoleh dorongan moral untuk terus berinovasi dalam kegiatan literasi.

    Dalam konteks ini, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai ruang membaca, tetapi juga sebagai ruang diskusi untuk berbagi gagasan, ruang kolaborasi untuk bekerja sama, serta ruang inovasi dalam melahirkan karya-karya kreatif.

    Apresiasi yang sama juga disampaikan oleh Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi dan Media Sastrawacana.

    Menurutnya, keterlibatan aktif Yusdi Irawan mencerminkan sinergi yang sehat antara pemerintah daerah, penerbit, media, komunitas literasi, dan sekolah.

    Sinergi inilah yang menjadi kunci terciptanya ekosistem literasi yang kuat dan berkelanjutan.

    Komitmen tersebut dibuktikan melalui kehadiran serta dukungan penuh Yusdi Irawan terhadap program donasi buku ke sekolah-sekolah yang membutuhkan, yang telah dicanangkan oleh Media Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, penguatan literasi sejak pendidikan dasar sebagaimana yang didorong Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi merupakan investasi masa depan.

    Literasi tidak hanya membentuk kecakapan membaca dan menulis, tetapi juga menanamkan nilai berpikir kritis, karakter, dan kepekaan sosial.

    Pada dasarnya, literasi berfungsi memberikan pencerahan (enlightenment), memperkaya pemikiran (enrichment), serta memberdayakan (empowerment).

    Penulis meyakini bahwa Banyuwangi berada di jalur yang tepat dalam membangun budaya literasi bagi generasi masa depan.

    Keyakinan tersebut tumbuh karena hadirnya pemimpin yang memiliki visi dan arah kebijakan yang jelas.

    Sosok Yusdi Irawan, S.E., M.Si. menunjukkan bahwa kemajuan literasi tidak cukup diwacanakan, tetapi menuntut kehadiran nyata, komitmen kebijakan yang konsisten, serta kerja bersama lintas sektor.

    Pada akhirnya, upaya memajukan literasi merupakan kerja kolektif yang menuntut kolaborasi berbagai pihak.

    Namun demikian, dukungan dan keteladanan dari pemimpin daerah menjadi penggerak utama agar gerakan literasi tidak berhenti di tengah jalan.

    Apa yang dilakukan Yusdi Irawan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk menjadikan Banyuwangi sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga kuat dalam tradisi membaca, berkesadaran tinggi, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat.

    ✍️ Penulis adalah Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    SMK Muhammadiyah 8 Siliragung kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi di kalangan pelajar melalui kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” pada Minggu, (26/10).

    Tak hanya sukses sebagai pelaksana acara, Ekskul Models Jurnalisme Mojoer Media yang dibina oleh Cici Arista Devi ini juga tampil sebagai motor penggerak di balik suksesnya kegiatan ini.

    Rangkaian acara yang digelar di ballroom ED Hotel SMK Model Siliragung ini meliputi Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang diikuti oleh ratusan peserta SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi.

    Di balik kemeriahan tersebut, para jurnalis muda SMK Models menjadi tim dokumentasi, peliput, dan redaksi yang menyiarkan jalannya kegiatan secara profesional.

    Dipimpin oleh Rhifan Ahmad Aki Pansurna selaku Pimpinan Redaksi Mojoer Media, para jurnalis muda ini menjalankan peran layaknya awak media sesungguhnya, mulai dari melakukan wawancara, menulis berita, hingga mengelola konten publikasi sekolah.

    “Menjadi jurnalis di SMK Models bukan hanya soal menulis berita, tapi juga belajar menyampaikan pesan secara utuh. Ibarat melihat gajah, kita tidak hanya melihat ekornya, tetapi keseluruhan bentuknya,” ujar Rhifan dalam wawancara di sela kegiatan Bulan Bahasa.

    Workshop Pentigraf SMK Models
    Workshop Pentigraf SMK Models Siliragung (Dok. sastrawacana.id/)

    Menurutnya, jurnalistik di sekolah menjadi ruang pembelajaran yang menantang sekaligus menyenangkan.

    Para siswa tidak hanya dilatih berpikir kritis dan menulis, tetapi juga berani berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami proses informasi secara mendalam.

    “Dulu kami hanya menulis untuk tugas sekolah. Tapi lewat Mojoer Media, kami belajar menulis untuk publik, untuk sekolah, bahkan untuk masyarakat. Itu pengalaman yang luar biasa,” tambahnya.

    Rhifan juga mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar bagi generasi muda saat ini adalah menumbuhkan kebiasaan literasi di tengah dominasi media digital.

    “Banyak teman yang terbiasa menghabiskan waktu dengan konten singkat. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan dunia digital sebagai ruang belajar dan menulis yang produktif,” jelasnya.

    Meski begitu, semangat tim Mojoer Media tidak surut. Mereka justru memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan berita kegiatan sekolah, promosi program, hingga publikasi karya siswa.

    Kini, Mojoer Media telah menerbitkan berbagai artikel, liputan kegiatan, dan bahkan buku antologi hasil karya tim jurnalistik.

    Mojoer Media

    “Teman-teman jurnalis kami sudah berani menulis buku. Itu langkah besar. Artinya, literasi di SMK Models sudah bergerak dari ruang kelas menuju ruang publik,” tutur Rhifan dengan bangga.

    Tak berhenti di situ, Rhifan menyebut bahwa ke depan Mojoer Media akan memperluas jangkauan liputan dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai media literasi di Banyuwangi.

    Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Mojoer Media.

    “Anak-anak jurnalistik kami adalah wajah sekolah. Mereka tidak hanya meliput, tapi juga membangun citra positif lembaga. Melalui tulisan dan karya mereka, SMK Models dikenal luas sebagai sekolah yang literat dan kreatif,” tandasnya.

    Sementara itu, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi media literasi sastrawacana.id/, turut memberikan apresiasi tinggi kepada tim Jurnalis SMK Models Mojoer Media atas kiprahnya dalam menghidupkan budaya menulis di lingkungan sekolah.

    Menurutnya, semangat dan profesionalitas para jurnalis muda SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menjadi bukti nyata bahwa literasi tidak lagi sekadar slogan, tetapi telah tumbuh menjadi gerakan yang berakar kuat di kalangan pelajar.

    “Saya melihat teman-teman Mojoer Media bekerja dengan etos seorang jurnalis sejati. Mereka meliput, menulis, dan mempublikasikan berita dengan tanggung jawab serta semangat belajar yang luar biasa. Semua ini tentu tidak lepas dari dukungan kepala sekolah dan para guru yang mendampingi,” ujarnya. (Heri Iskandar)

  • Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa 2025, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra.”

    Rangkaian kegiatan ini mencakup Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang digelar di Ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah Workshop Pentigraf yang menghadirkan narasumber Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus penulis buku.

    Workshop Pentigraf SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Kegiatan ini diikuti oleh total 60 peserta, yang terdiri atas 13 peserta dari sekolah eksternal (SMP dan SMA), 21 jurnalis SMK Models, serta 26 peserta dari intra dan ekstrakurikuler sekolah.

    Dipandu oleh moderator Ananda Ayu, suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta dengan semangat tinggi mengikuti setiap sesi yang disampaikan pemateri.

    Dalam paparannya, Affandi tidak hanya membahas teori seputar penulisan pentigraf (cerita pendek tiga paragraf), tetapi juga mengajak peserta memahami makna literasi secara lebih luas.

    Ia membagikan trik sederhana agar peserta lebih mudah menulis, yakni dengan memulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    “Menulis pentigraf tidak harus dimulai dari inspirasi besar. Justru ide terbaik bisa lahir dari benda, pengalaman pribadi, atau emosi yang kita rasakan,” ungkapnya.

    Ia kemudian memperkenalkan formula menulis pentigraf melalui tiga elemen dasar, yaitu benda, emosi, dan tempat.

    Dengan menentukan ketiga unsur tersebut, penulis sudah memiliki kerangka cerita yang siap dikembangkan menjadi karya utuh.

    Workshop Pentigraf

    Untuk menambah semangat, Affandi memberikan tantangan spontan kepada beberapa peserta untuk membaca karya pentigraf dan puisi di depan forum. Peserta yang berani tampil mendapat hadiah buku terbitan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Memasuki pertengahan sesi, peserta langsung diberi waktu praktik menulis pentigraf.

    Dalam waktu kurang dari 30 menit, sebagian besar peserta berhasil menuntaskan karya mereka dengan mengikuti trik yang baru saja dipelajari. Suasana ruangan pun dipenuhi antusiasme dan rasa ingin tahu.

    Di akhir sesi, Affandi mengajak peserta melakukan refleksi. Salah satu peserta dari tim Jurnalis SMK Models, Aurelia Clarista menyampaikan kesannya bahwa setelah mengikuti kegiatan ini, ia merasa lebih percaya diri dan mampu menulis pentigraf dengan mudah.

    “Sebelumnya saya merasa kebingungan dalam menentukan ide pentigraf, setelah mendengar pemaparan dari Kak Affandi, ternyata ada trik menulis pentigraf jadi tidak butuh waktu lama,” ujarnya.

    Sebelum workshop ditutup, moderator membuka sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam kesempatan itu, Affandi berpesan kepada seluruh peserta, khususnya para jurnalis muda, untuk tidak minder dalam berkarya.

    Workshop Pentigraf di SMK Models Siliragung

    “Tidak ada karya yang buruk. Semua karya itu baik, jadi jangan pernah malu dengan karya kita sendiri,” pesannya.

    Ia juga berbagi pengalaman pribadinya sebagai jurnalis dan penulis, mendorong peserta untuk terus berkarya dan menjadikan tulisan sebagai sarana menebar manfaat.

    “Menulis itu bukan sekadar hobi, tapi jalan untuk memahami diri dan dunia. Dari satu tulisan kecil, bisa lahir perubahan besar,” ujarnya menutup sesi dengan tepuk tangan meriah dari peserta.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung yang bekerja sama dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

  • Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar Lomba Baca Puisi dan Bercerita tingkat SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (26/10).

    Kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” ini berlangsung meriah di ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Sejak pagi, ratusan peserta bersama guru dan orang tua memenuhi ruangan dengan antusiasme tinggi.

    Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai pembukaan lomba sekaligus pelaksanaan Workshop Pentigraf yang diikuti pelajar dari jenjang SMP hingga SMA sederajat.

    Dari jenjang SD/MI hingga SMP di wilayah Siliragung dan sekitarnya, antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa dunia literasi kini semakin dekat dan digemari.

    Untuk lomba baca puisi, kategori A diikuti oleh 20 peserta dan kategori B diikuti 50 peserta. Sementara lomba bercerita diikuti oleh 43 peserta.

    Dewan juri terdiri dari tokoh dan praktisi sastra, antara lain Andi BS (Ketua KOPIWANGI), Andi Sep Kurniawan (Penulis Cerita Dwi Bahasa Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur), Meilysa Ajeng Kartika (Dosen dan Penulis), Heri Iskandar (Sastrawan Using dan Konten Kreator), Efa ET (penulis), serta Indriana Laili (jurnalis dari sastrawacana.id/).

    Adapun Workshop Pentigraf diikuti 60 peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Narasumber utama, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi, membagikan pengalaman menulis cerita tiga paragraf dengan pendekatan kreatif dan inspiratif.

    Suasana semarak literasi di ballroom ED Hotel SMK Muhammadiyah 8 Siliragung makin terasa hangat saat acara dibuka dengan sambutan dari Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan.

    Andi Budi Setiawan

    Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak sekolah yang telah menghadirkan kegiatan literasi yang kreatif dan inspiratif.

    “Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Kepala SMK Models Siliragung yang telah mengadakan event literasi yang begitu hebat. Tidak semua lembaga pendidikan mampu menghadirkan kegiatan sebesar dan seindah ini,” ungkap Andi penuh semangat.

    Ia juga berpesan kepada peserta untuk menjadikan lomba sebagai ruang kebahagiaan, bukan sekadar kompetisi.

    “Menang atau kalah itu biasa. Yang penting, tampil dengan hati senang dan sepenuh hati karena dari situlah semangat literasi sejati lahir,” tambahnya.

    Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jembatan untuk memperluas wawasan dan memperhalus budaya.

    “Bahasa bukan sekadar retorika, melainkan sarana memahami kehidupan dan menebar kebaikan,” tuturnya.

    Muhlas juga menyoroti pentingnya kegiatan literasi di sekolah, khususnya melalui ekstrakurikuler jurnalistik yang aktif membina siswa SMP di wilayah Siliragung.

    “Anak-anak jurnalistik kami turun langsung ke sekolah-sekolah menengah untuk berbagi ilmu menulis berita. Ini bentuk nyata bahwa literasi dapat menjadi amal ibadah yang luas manfaatnya,” ujarnya.

    Dalam sambutannya, ia sempat bernostalgia tentang masa mudanya sebagai pimpinan redaksi media kampus.

    Pengalaman itu menurutnya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menulis dan berpikir kritis dapat membentuk karakter dan kepekaan sosial.

    Lomba Baca Puisi SMK Models Siliragung

    Setelah sambutan dan pembukaan resmi oleh Kepala Sekolah, para peserta diarahkan menuju ruang lomba masing-masing. Sementara itu, peserta Workshop Pentigraf tetap di ballroom untuk mengikuti sesi pelatihan intensif.

    Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi SMK Muhammadiyah 8 Siliragung dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Kesuksesan acara juga tak lepas dari kerja keras Tim Panitia Ekskul Models Jurnalisme di bawah koordinasi Cici Arista Devi, selaku tenaga pendidik sekaligus pembina dari tim jurnalis di  SMK Models Siliragung. (Andi BS)

  • KOPIWANGI Meriahkan Bulan Bahasa dengan Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong

    KOPIWANGI Meriahkan Bulan Bahasa dengan Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong

    Momen bulan bahasa kali ini berdeba dengan tahun sebelumnya. Launching buku antologi “Gotong Royong” pada hari Jumat (17/10) di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi menjadi tanda komitmen KOPIWANGI untuk terus berkarya dan berkiprah serius di dunia literasi.

    Acara launching buku antologi “Gotong Royong” ini bersamaan dengan launching buku “Lamunan Seorang Wartawan” karya Ricky Sulivan. Dimana kisahnya diangkat dari perjalanan Ricky yang berprofesi sebagai seorang wartawan.

    Buku antologi “Gotong Royong” ini merupakan kolaborasi antara penerbit Lintang Banyuwangi dengan KOPIWANGI dan Komunitas Gotong Royong. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya dimana penulisnya merupakan anggota KOPIWANGI.

    Butuh proses panjang bisa menerbitkan buku antologi “Gotong Royong” ini. Sebagai bekal penulis mendapat pelatihan sebanyak dua kali secara daring lewat aplikasi zoom.

    Pelatihan pertama materi dasar tentang menulis puisi dan pentigraf berbahasa Indonesia dan Using. Pelatihan kedua peserta lebih banyak berdiskusi dengan narasumber tentang karya yang ditulis sampai selesai. Untuk selanjutnya dilakukan kurasi karya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan
    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (Dok. sastrawacana.id/)

    Beberapa narasumber pelatihan menulis, diantaranya Yeti Chotimah ketua MGMP SMP Bahasa Using, Heri Iskandar Sastrawan Using dan Andi Budi Setiawan sastrawan sekaligus ketua KOPIWANGI dengan Koordinator kurasi karya Muhammad Iqbal Baras.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam menyukseskan peluncuran buku tersebut.

    Ia menegaskan, sinergi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis merupakan cerminan nyata bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi terus berkembang dan tidak pernah padam.

    Pada kesempatan berikutnya, Lina Kamalin, M.Pd, selaku penasihat KOPIWANGI, menyampaikan bahwa terselenggaranya kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi yang harmonis antara penulis dan komunitas dalam menumbuhkan semangat literasi.

    “Buku Antologi Gotong Royong lahir dari perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak dengan kepedulian mendalam terhadap dunia literasi. Dari proses penulisan hingga penerbitan, setiap langkah dijalani dalam semangat kolaborasi, saling mendukung, dan tumbuh bersama. Karena itu, buku ini tidak sekadar menghimpun karya tulis, melainkan menjadi wujud nyata bahwa kebersamaan dapat menumbuhkan karya bermakna bagi Banyuwangi.” ujarnya.

    Lina Kamalin berharap, dalam beberapa bulan ke depan karya yang tengah digarap dapat segera rampung. Dengan demikian, tahun mendatang diharapkan menjadi momen peluncuran karyanya, agar dapat dinikmati dan menginspirasi para pembaca.

    Selanjutnya dilakukan seremonial penyerahan buku antologi “Gotong Royong” dan “Lamunan Seorang Wartawan” kepada pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Perpusda) Banyuwangi. Penyerahan tersebut diwakili oleh Yusuf Khoiri, disusul oleh Lina Kamalin yang mewakili KOPIWANGI, serta Iqbal Baras sebagai perwakilan kurator.

    “Terima kasih kepada Penerbit Lintang Banyuwangi yang telah menghibahkan kedua buku ini kepada Perpusda, sehingga dapat dinikmati oleh pembaca, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional melalui tautan e-book yang telah kami sediakan di laman https://ebookbanyuwangi.id,” jelas Yusuf Khoiri di sela-sela sambutannya.

    Saimah Veteran

    Selain peluncuran buku, acara turut dimeriahkan oleh berbagai penampilan peserta.
    Saimah, seorang veteran perdamaian, membacakan puisi karyanya berjudul Masa Transisi dengan suara tegas dan penuh penghayatan, membuat suasana aula hening dan haru.

    Penampilan berikutnya datang dari Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi, yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi dengan gaya bertutur khas anak-anak, menghidupkan kembali kisah klasik daerah.

    Dalam sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan lahir dari pengalaman pribadinya selama bertahun-tahun sebagai jurnalis. Ia mengungkapkan, banyak jurnalis yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan, antara tuntutan kecepatan dan akurasi dengan idealisme serta nilai kemanusiaan yang sering terabaikan. Buku ini, lanjutnya, menjadi bentuk refleksi atas kegelisahan tersebut.

    Dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd., memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong. Keduanya sepakat, buku ini tidak hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga menjadi wujud kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd., menekankan pentingnya menjadikan literasi sebagai gerakan sosial berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti pada peluncuran buku atau lomba menulis saja, tetapi perlu kesinambungan dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya terus tumbuh,” ungkapnya.

    Yeti menegaskan, semangat utama penerbitan ini adalah membangkitkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan mencintai literasi di daerahnya. Semangat gotong royong adalah jantung gerakan ini,” ujarnya.

    Sebagai penutup, kurator sekaligus tokoh literasi, Iqbal Baraas yang merupakan dosen Universitas Ibrahimy menyampaikan apresiasinya. Ia menilai karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik dari segi tema maupun teknik penulisan.

    Menurutnya, puisi menjadi media kuat untuk mengekspresikan kegelisahan batin, di mana penyair menuangkan perasaan, kekhawatiran, atau keresahan jiwa melalui rangkaian kata yang indah dan imajinatif.

    Tema kegelisahan, tambahnya, kerap muncul dalam puisi dan sering digambarkan lewat simbol alam maupun pergulatan batin penyair.

    Sementara itu, apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Ketiganya berharap kegiatan literasi seperti ini terus berlanjut agar literasi menjadi gerakan yang tumbuh di tengah masyarakat, bukan sekadar wacana.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi di Banyuwangi tidak pernah padam, khususnya bagi KOPIWANGI yang hingga kini telah menerbitkan tiga buku, yakni Lentera di Pengujung Asa (Maret 2024), Pena Sang Surya (Juli 2024), dan Antologi Gotong Royong (Oktober 2025). Seluruh karya tersebut sejalan dengan slogan “Bergerak Bersama Majukan Literasi Banyuwangi.”

  • Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa, dua buku baru, yaitu Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan resmi diluncurkan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (17/10).

    Kegiatan yang digagas oleh Penerbit Lintang Banyuwangi, Komunitas Gotong Royong 45, dan Kopiwangi ini dihadiri oleh puluhan pegiat literasi, penulis, akademisi, serta perwakilan dari berbagai instansi pemerintah.

    Peluncuran dua buku tersebut mendapat sambutan positif. Selain menjadi ruang temu antarkomunitas, acara ini juga menegaskan semangat kolaborasi dalam memperkuat tradisi menulis di Banyuwangi.

    Dua buku yang diluncurkan memiliki karakter berbeda namun sama kuat secara pesan.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (3)

    Antologi Gotong Royong berisi kumpulan puisi dan pentigraf dua bahasa (Indonesia–Using) yang ditulis oleh puluhan penulis Banyuwangi, termasuk penyair difabel.

    Sementara Lamunan Seorang Wartawan karya Ricky Sulivan merupakan novel fiksi yang mengangkat realitas profesi jurnalis di lapangan.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan peluncuran buku tersebut.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, mulai dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Dinas Kominfo, Komunitas Gotong Royong 45, Kopiwangi, hingga para penulis yang telah berkontribusi melahirkan karya,” ujarnya.

    Ia menambahkan, kolaborasi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis menjadi bukti bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi masih terus tumbuh.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh Lina Kamalin, M.Pd., selaku penasihat Kopiwangi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menunjukkan kekuatan sinergi antarpenulis dan komunitas.

    “Lahirnya Buku Antologi Gotong Royong ini merupakan cerminan dari proses panjang kolaborasi banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia literasi. Setiap tahap, mulai dari penulisan hingga penerbitan, dijalani dengan semangat saling mendukung dan belajar bersama. Proses itulah yang membuat buku ini tidak hanya menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga simbol nyata bagaimana kebersamaan dapat melahirkan karya yang bermakna bagi Banyuwangi,” ujarnya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (4)

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi H. Yusuf Khoiri yang menyampaikan bahwa pihaknya terus membuka ruang bagi kegiatan literasi publik.

    “Aula ini terbuka untuk siapa pun yang ingin menggelar kegiatan serupa. Kami ingin tempat ini menjadi ruang bersama bagi para pegiat literasi, penulis, maupun komunitas yang ingin berbagi gagasan dan karya. Buku Antologi Gotong Royong juga sudah kami unggah ke perpustakaan digital agar dapat diakses oleh masyarakat luas, semoga bisa menginspirasi banyak orang,” jelasnya.

    Selain peluncuran buku, acara juga dimeriahkan oleh sejumlah penampilan dari para peserta.

    Salah satunya datang dari Saimah, seorang veteran perdamaian yang membacakan puisi karyanya sendiri berjudul Masa Transisi.

    Saimah Veteran

    Dengan suara yang tegas namun sarat penghayatan, ia berhasil memikat perhatian. Suasana aula seketika hening, diiringi keharuan dan empati yang terasa menyelubungi ruangan.

    Penampilan dilanjutkan oleh Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi. Dengan gaya bertutur khas anak-anak, ia berhasil menghidupkan kembali kisah klasik yang menjadi identitas daerah.

    Memasuki sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan ditulis berdasarkan pengalaman nyata selama bertahun-tahun menjadi jurnalis.

    “Saya melihat banyak rekan seprofesi yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan. Di satu sisi, jurnalis dituntut untuk cepat dan akurat, namun di sisi lain, nilai-nilai idealisme dan kemanusiaan juga sering terpinggirkan. Dari kegelisahan itu, buku ini lahir sebagai refleksi,” tuturnya.

    Sementara itu, dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd, memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong.

    Keduanya sepakat bahwa buku ini hadir bukan hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga sebagai bentuk nyata kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Yeti Chotimah menjelaskan, semangat utama dari penerbitan buku ini adalah menghidupkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan menumbuhkan kecintaan terhadap literasi di daerahnya masing-masing. Semangat gotong royong adalah jantung dari gerakan ini,” ujar Yeti.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menekankan pentingnya menjadikan kegiatan literasi sebagai bagian dari gerakan sosial yang berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti di acara peluncuran buku atau lomba menulis semata. Harus ada kesinambungan, ruang belajar, dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya tetap tumbuh,” kata Andi.

    Menjelang akhir acara, sejumlah kurator dan tokoh literasi memberikan apresiasi. Iqbal Baraas, dosen Universitas Ibrahimy, yang menilai bahwa karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik secara tema maupun teknik penulisan.

    Apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Mereka menilai kegiatan semacam ini perlu terus digelar agar literasi tidak hanya menjadi wacana, tetapi gerakan yang hidup di tengah masyarakat.

    Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto para penulis, kurator, dan tamu undangan.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi Banyuwangi tidak pernah padam, melainkan terus tumbuh melalui kolaborasi dan kerja gotong royong.