Tag: lksa khadijah

  • Tanamkan Nilai Adab dan Empati, LKSA Khadijah Ajak Anak Asuh Berbagi dengan Lansia

    Tanamkan Nilai Adab dan Empati, LKSA Khadijah Ajak Anak Asuh Berbagi dengan Lansia

    Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Khadijah Banyuwangi mengisi masa liburan sekolah dengan menggelar Pesantren Kilat dan Tadabbur Alam pada Jumat-Sabtu (3-4/7).

    Kegiatan yang berlangsung di kompleks panti asuhan di Jalan MT Haryono Nomor 58, Karangrejo, tersebut diikuti 17 anak asuh.

    Kegiatan diawali dengan pembacaan surat-surat pendek dalam Juz Amma yang dipimpin santriwati Aulia Awang, dilanjutkan doa bersama yang dipimpin Pembina Yayasan, Hj. Muzayinah Zaini.

    Ketua Panitia, Hj. Ilmiah, mengatakan pesantren kilat tahun ini mengusung tema “Mendahulukan Adab dari Ilmu dan Meningkatkan Martabat Yatim dengan Memuliakan, Bukan Mengasihani.”

    Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan membentuk akhlakul karimah, menumbuhkan kemandirian, sekaligus menyiapkan anak-anak menjadi kader agama dan kader bangsa.

    Materi pertama disampaikan Aguk Wahyu Nuryadi mengenai organisasi dan kepemimpinan. Peserta dibagi menjadi lima kelompok untuk bermusyawarah memilih ketua dan sekretaris.

    Masing-masing kelompok memilih nama yang terinspirasi dari tokoh-tokoh Islam maupun pahlawan nasional, seperti Sahabat Nabi, Abu Nawas, dan Cut Nyak Dhien.

    Dalam kesempatan itu, Aguk mendorong para peserta aktif dalam organisasi, baik di sekolah maupun masyarakat.

    “Ayo aktif menjadi pengurus kelas, OSIS, remaja masjid, karang taruna, maupun organisasi pelajar dan kepemudaan sebagai bekal menjadi pemimpin di masa depan. Pada dasarnya kita semua adalah khalifah yang kelak dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

    Usai salat Magrib berjemaah, kegiatan dilanjutkan dengan tahlil dan istigasah yang dipimpin Ustaz Abdul Rosyid. Doa dipanjatkan untuk para pendiri yayasan serta sejumlah ulama.

    Pada kesempatan itu, keluarga almarhumah Siti Hazilah Hatib juga turut memohon doa bersama karena genap 100 hari wafatnya almarhumah.

    Setelah salat Isya, Ketua LKSA Khadijah, Hj. Miftahur Rohman, S.Ag., memberikan materi tentang thaharah, kesucian, salat, dan pendidikan reproduksi sesuai tuntunan syariat.

    “Materi ini penting bagi anak-anak yang sudah memasuki masa balig,” katanya.

    Sesi penutup diisi refleksi oleh Wakil Sekretaris LKSA Khadijah, Widayani, S.Pd., yang akrab disapa Bu Wiwit.

    Ia memotivasi anak-anak asuh agar tetap optimistis menjalani kehidupan dengan meneladani Rasulullah SAW yang juga tumbuh sebagai anak yatim.

    “Kalian memang kehilangan orang tua, tetapi jangan sampai kehilangan Allah. Rajinlah salat, gemar bersedekah, murah senyum, dan selalu berprasangka baik,” pesannya.

    Rangkaian kegiatan berlanjut pada dini hari dengan salat tahajud berjemaah.

    Pagi harinya, peserta mengikuti kerja bakti, senam bersama, kemudian melaksanakan tadabbur alam menuju kawasan Kolam Renang 9 Palm di dekat Pantai Gumuk Kantong, Muncar.

    Sebelum menuju lokasi wisata, rombongan menyempatkan bersilaturahmi sekaligus berbagi kebahagiaan dengan penghuni Panti Jompo Sahabat Dhuafa di Desa Blambangan.

    Pengasuh Panti Jompo Sahabat Dhuafa, Indah Purwaningrum, menjelaskan bahwa lembaga yang telah berdiri selama tujuh tahun itu saat ini mendampingi 16 anak yatim yang masih menempuh pendidikan dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, serta merawat 42 lansia berusia antara 63 hingga 95 tahun.

    Selain itu, panti juga mengelola layanan ambulans untuk mengantar pasien rujukan ke RSUD Blambangan maupun RS Saiful Anwar Malang.

    “Kami berupaya mandiri dengan dukungan para dermawan yang digerakkan Allah. Selain ikhtiar menjaga kesehatan, kami juga membina para lansia agar meraih husnul khatimah melalui salat lima waktu dan khataman Al-Qur’an,” ujar Indah.

  • Tradisi Kembang Ndog Warnai Santunan Bulanan LKSA Khadijah Banyuwangi

    Tradisi Kembang Ndog Warnai Santunan Bulanan LKSA Khadijah Banyuwangi

    Kegiatan santunan bulanan untuk anak asuh non panti LKSA Khadijah yang berlokasi di Jalan MT Haryono 58 Banyuwangi, kembali digelar pada pekan kedua bulan September 2025.

    Bertepatan dengan masuknya bulan Maulid, jajaran pengurus menambahkan suasana khas dengan menghadirkan jodang kembang ndog, tradisi yang telah melekat kuat dalam perayaan Maulid di Banyuwangi, Jumat siang (12/09/25).

    Aguk Wahyu Nurhadi selaku Humas LKSA Khadijah sekaligus pembawa acara membuka kegiatan dengan memberikan penjelasan mengenai sejarah serta makna dari tradisi kembang ndog-ndogan.

    Ia menuturkan, tradisi ini merupakan gagasan KH. Faqih Cemoro, salah satu ulama besar pendiri NU yang berasal dari Desa Balak, Songgon.

    Kembang dimaknai sebagai simbol keindahan dan wewangian, yang melukiskan rasa bahagia umat Islam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan telur, terdiri atas tiga bagian: kulitnya melambangkan Islam, putihnya merepresentasikan Iman, dan kuningnya menjadi simbol ihsan.

    Aguk menambahkan, ada alasan khusus mengapa pengurus menyiapkan telur bebek alih-alih telur ayam.

    “Bebek ketika bertelur tidak berkoar, ibarat tangan kanan memberi tanpa diketahui tangan kiri. Sementara ayam selalu berkokok setiap kali bertelur, layaknya orang beramal namun penuh riya,” papar seniman sekaligus wartawan ini.

    Ia juga mengingatkan agar kembang ndog tidak dibuat menyerupai barong atau ogoh-ogoh, sebab hal itu dinilai menyimpang dari esensi syiar agama.

    Suasana religius kemudian dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Asatid LKSA Khadijah, Ustadz Abdul Rostid, S.Pd.

    Rangkaian ibadah dimulai dengan bacaan Ummul Kitab, Asmaul Husna, istighotsah, asyroqol, mahallul qiyam, serta tahlil singkat yang ditujukan untuk orang tua anak asuh maupun pendiri yayasan yang telah wafat.

    Santunan Bulanan LKSA Khadijah Banyuwangi

    Tidak lupa doa khusus juga dipanjatkan bagi para donatur serta dermawan yang memiliki hajat tertentu.

    Usai doa bersama, giliran Ketua LKSA Khadijah, Hj. Miftahul Rochmah, menyampaikan mauidhoh hasanah.

    Ia mengawali tausiyah dengan menyenandungkan lagu yang menggambarkan perjalanan hidup keluarga Rasulullah SAW.

    Disampaikan bahwa Nabi Muhammad sejak kecil telah menjadi yatim piatu, ditinggal ibunda Siti Aminah pada usia masih belia hingga akhirnya dibesarkan oleh kakek, kemudian pamannya.

    “Meski yatim piatu, Rasulullah mampu menjadi teladan sempurna. Beliau sukses sebagai pedagang Al-Amin, menjadi khalifah amanah, memiliki anak cucu yang saleh, dan tentunya menjadi sosok uswatun hasanah yang patut diteladani. Kita semua berharap mendapatkan syafaat beliau di akhirat kelak. Aamiin,” ucap guru agama SMPN 2 yang telah purna tugas tersebut.

    Ia juga berpesan agar setiap muslim menghormati tiga sosok penting dalam hidupnya, yaitu orang tua kandung, mertua, dan guru.

    Santunan LKSA Khadijah Banyuwangi

    Menurutnya, guru tak hanya terbatas pada pendidikan formal di sekolah, tetapi juga guru ngaji, guru seni budaya, guru bela diri, bahkan guru kehidupan yang dijumpai di perjalanan meraih ridho Allah.

    Pesan penting lainnya, lanjut Hj. Miftahul Rochmah, adalah bukti kecintaan kepada Rasulullah yang diwujudkan melalui sholawat dan perilaku akhlaqul karimah dalam keseharian.

    Hadir pula relawan Gotong Royong, Maulana Affandi dalam gelaran tersebut bersama Ahmad Saiful, pemuda yang sedang ikhtiar untuk hijrah demi kehidupan yang lebih baik.

    Setelah salat Asar berjamaah, acara dilanjutkan dengan pembagian kembang ndog kepada seluruh anak asuh dan tamu undangan.

    Kegiatan ditutup dengan makan bersama menyantap hidangan nasi rawon, lalu pembagian paket sembako dan santunan pendidikan bagi 25 anak asuh LKSA Khadijah.