Tag: majas litotes

  • Pengertian Majas Litotes Menurut Ahli, Fungsi, dan Contohnya

    Pengertian Majas Litotes Menurut Ahli, Fungsi, dan Contohnya

    Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan dengan cara yang imajinatif atau kiasan.

    Majas juga digunakan untuk mengekspresikan ide atau emosi dengan cara yang lebih menarik dan efektif, dan bisa mencakup segala jenis bahasa kreatif.

    Menurut Aminuddin (1995: 4), menjelaskan bahwa gaya bahasa atau style merupakan teknik serta bentuk gaya bahasa seseorang dalam memaparkan gagasan sesuai dengan ide dan norma yang digunakan sebagai mana ciri pribadi pemakainya.

    Dalam bahasa Indonesia, ada banyak jenis majas yang sering digunakan, baik dalam komunikasi maupun tulisan. Salah satunya adalah majas litotes.

    Apa itu majas litotes? Simak penjelasannya berikut ini.

    Pengertian Majas Litotes

    Majas litotes adalah majas yang berupa pernyataan bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.

    Majas ini masuk dalam kategori majas pertentangan, artinya menggunakan kiasan yang bertentangan dengan yang maksud sesungguhhnya.

    Secara harfiah, litotes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “kesederhanaan”.

    Sementara menurut KBBI, pengertian majas litotes adalah pernyataan yang memperkecil sesuatu atau melemahkan, dan menyatakan kebalikannya, misalnya untuk mengatakan pandai digunakan ungkapan tidak bodoh

    Berbeda dengan hiperbola, majas ini digunakan untuk mengungkapkan pikiran yang melemahkan nilai si pengujar.

    Jadi untuk menampilkan gagasan tentang sesuatu yang kuat atau besar dengan ungkapan yang lemah nilainya, dengan tujuan bersopan santun.

    Sederhananya, pengertian majas litotes adalah majas yang digunakan untuk mengurangi kekuatan pengungkapan suatu pernyataan dengan mengatakan hal yang bertentangan dengan maksud yang sebenarnya.

    Contohnya:

    “Mainlah ke gubuk reot saya”

    Si pengujar sebenarnya tidak benar-benar memiliki gubuk reot, tapi ucapan tersebut hanyalah sebagai bentuk sopan santun untuk merendahkan diri.

    Ada kemungkinan juga rumah si pengujar tersebut mewah dan besar. Sehingga ia menggunakan majas litotes agar tidak menunjukkan kesan sombong.

    Pengertian Majas Litotes Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian majas litotes menurut para ahli.

    1. Rimang (2011:86)

    Mengemukakan bahwa gayabahasa litotes adalah gaya bahasa yang di dalamnya  mengungkapkan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan dan litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya.

    2. Damayanti (2013)

    Menyatakan bahwa majas litotes adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.

    3. Tarigan (2009)

    Mengatakan bahwa majas litotes adalah jenis gaya bahasa yang menyandung pernyataan yang dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, misalnya merendahkan diri.

    4. Keraf (2010)

    Majas lilotes ialah gaya bahas yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri.

    5. Pamungkas (2012)

    Mengungkapkan bahwa litotes merupakan gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu lebih kecil dari kenyataan dari yang sebenarnya dengan maksud merendahkan diri.

    Fungsi Majas Litotes

    Penggunaan majas litotes dapat memiliki beberapa fungsi dan tujuan, antara lain:

    1. Mengurangi kekuatan pengungkapan

    Dalam contoh kalimat di atas, penggunaan litotes membantu mengurangi kekuatan pengungkapan sehingga pernyataan tersebut terdengar lebih ringan.

    2. Meningkatkan persuasif

    Litotes dapat digunakan untuk membuat argumen lebih persuasif dengan mengurangi kekuatan pernyataan yang terlalu keras.

    3. Meningkatkan efektivitas

    Litotes dapat digunakan untuk membuat kalimat lebih efektif dengan menambahkan dimensi baru pada makna yang terkandung di dalamnya.

    Contoh Majas Litotes

    Berikut ini adalah beberapa contoh majas litotes.

    1. Silakan dinikmati jamuan kami yang seadanya ini.

    2. Kalau sempat, mampirlah ke gubuk kami.

    3. Kami hanya bisa mobil butut.

    4. Semoga kamu berkenan menerima sedikit bantuan dari kami.

    5. Ini imbalan tidak seberapa, dibanding jasamu menemukan dompet saya.

    6. Perjuangan saya hanya setitik air di samudera.

    7. Saya tidaklah pintar, tapi bersyukur dapat bekerja di tempat ini.

    8. Saya cuma pengusaha kecil yang sudah makan asam garam kehidupan dari dulu.

  • Majas: Pengertian, Macam-Macam, dan Contohnya

    Majas: Pengertian, Macam-Macam, dan Contohnya

    Pengertian Majas

    Pengertian majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan dengan cara yang imajinatif atau kiasan. Sehingga secara umum, sifat majas adalah tidak pada makna yang sebenarnya sehingga.

    Menurut Kbbi, majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain; kiasan

    Sedangkan menurut Slamet Muljana, arti majas adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis sehingga menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca.

    Jadi, dapat disimpulkan jika majas adalah sebuah cara menyampaikan sesuatu dengan kiasan atau tidak pada arti yang sebenarnya.

    Penggunaan majas biasanya bertujuan untuk menyentuh emosional pendengar atau pembaca sehingga majas seringkali digunakan untuk menyindir secara halus.

    Macam Macam Majas

    Ada berbagai jenis majas dalam Bahasa Indonesia yang sering digunakan. Namun, secara garis besar, majas dibagi menjadi empat, yaitu: majas perbandingan, majas penegasan, majas sindiran, dan majas pertentangan. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasannya berikut ini.

    A. Majas Perbandingan

    Majas perbandingan adalah sebuah gaya bahasa atau kata-kata yang digunakan untuk menyatakan perbandingan terhadapa sesuatu.

    Misalnya kita akan membandingkan satu objek dan objek lainnya, maka kita bisa menggunakan majas perbandingan.

    Adapun macam atau jenis majas perbandingan adalah sebagai berikut:

    1. Majas Personifikasi

    Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang menggambarkan sebuah benda mati seolah-olah menjadi hidup dengan melakukan hal-hal atau tindakan layaknya manusia.

    Majas personifikasi banyak digunakan dalam menulis karya sastra, baik berupa puisi, pantun, prosa, novel, dan sebagainya. Ciri khas dari majas personifikasi adalah meletakkan sifat manusiawani (hidup) kepada benda (mati).

    Contoh majas personifikasi:

    1. Badai tsunami menyapu bersih apapun yang dilaluinya
    2. Kursi goyang itu menidurkan nenekku dengan ayunannya
    3. Gempa mengoyang goyang seluruh gedung pencakar langit
    4. Lonceng stasiun memberitahu para penumpang untuk bergegas naik kereta
    5. Setiap hari lampu merah di jalanan mengatur para pengguna jalan
    6. Matahari bersinar terik terasa menggigit seluruh kulit tanganku

    2. Majas Metafora

    Majas metafora adalah sebuah majas perbandingan yang menjelaskan sesuatu secara kiasan atau bukan pada makna sesungguhnya.

    Lebih mudah lagi, majas metafora bisa dikatakan sebagai majas yang menggambarkan barang mati seolah-olah menjadi hidup, misalnya jago merah yang berarti api.

    Contoh majas metafora:

    1. Si jago merah melalap rumah susun hingga tersisa debu.
    2. Raja siang terbit di hari yang cerah.
    3. Raja malam mulai mengawasi mangsanya.
    4. Pak Karno sangat sayang dengan buah hatinya.
    5. Sampah masyarakat selalu meresahkan warga.

    3. Majas Asosiasi

    Majas asosiasi adalah majas yang menggunakan ungkapan dengan membandingkan dua objek berbeda, namun dianggap sama.

    Penggunaan majas asisoasi dilakukan dengan memberikan tanda sambung: bagaikan, bak, layaknya, atau seperti.

    Contoh majas asosiasi:

    1. Nasibku pasti berganti seperti roda yang berputar.
    2. Hatiku melebur dengan hatimu bak menabur garam di lautan.
    3. Menasehati Agus itu percuma, layaknya berbicara dengan tembok.

    4. Majas Hiperbola

    Majas hiperbola adalah majas yang mengungkapkan sesuatu dengan kesan yang berlebihan. Bahkan majas hiperbola selalu membandingkan sesuatu dengan cara yang terkesan tak masuk akal.

    Contoh majas hiperbola:

    1. Larinya secepat kilat sampai tak ada yang bisa mengejarnya.
    2. Bu Guru sangat baik seperti malaikat.
    3. Ayah bekerja sampai memeras keringat untuk biaya sekolahku.

    Baca juga:

    5. Majas Eufisme

    Majas eufemisme adalah majas yang menggantikan kata-kata kasar/kurang pantas menjadi padanan kata yang lebih halus dan bermakna sepadan.

    Contoh majas eufisme:

    1. Agus adalah seorang tuna daksa.
    2. Kita jangan kasar dengan orang yang tuna wisma.
    3. Kasihan Andi, ia terlahir sebagai tuna rungu.

    6. Majas Metonimia

    Majas metonimia adalah majas yang fungsinya menyandingkan merek atau istilah tertentu yang sudah populer, tujuannya adalah untuk merujuk benda yang sebenarnya lebih umum.

    Contoh majas metonimia:

    1. Ayah sangat suka dengan gudang garam.
    2. Dia menyuruhku membeli djarum super.
    3. Tolong ambilkan Aqua, aku haus sekali.

    7. Majas Simile

    Majas simile adalah gaya bahasa perbandingan yang di tandai dengan kata depan dan penghubung. Seperti layaknya. Ibarat, bagaikan, seperti, bagai, seumpama.

    Contoh majas simile:

    1. Adikmu tampak sangat lapar, jalannya seperti singa kelaparan.
    2. Rapat hari ini sangat kacau, seperti hutan terserang angin ribut.

    8. Majas Alegori

    Majas alegori adalah majas yang menyandingkan suatu objek dengan kata-kata kiasan bermakna konotasi atau ungkapan.

    Contoh majas alegori:

    1. Dina sedang mencari pelabuhan cintanya, dan pada Deni lah ia berlabuh.
    2. Dalam perlombaan memenangkan hati, jurinya adalah perasaan.

    9. Majas Sinekdok

    Majas sinekdode adalah majas yang menyebutkan sebagian, tapi yang di maksud adalah sseluruh bagian atau bahkan sebaliknya.

    Majas sinekdode terbagi menjadi dua, yaitu pars pro toto (sebagian untuk seluruh) dan  totem pro parte (seluruh untuk sebagian).

    10. Majas Simbolik

    Majas simbolik adalah gaya bahasa yang membandingkan antara manusia dengan sikap makhluk hidup lain dalam bentuk ungkapan.

    Contoh majas simbolik:

    1. Agus sangat berani seperti raja hutan.
    2. Rani bak ratu lebah yang disukai banyak pria.

    B. Majas Pertentangan

    Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kiasan yang bertentangan dengan yang maksud sesungguhhnya. Adapun jenis atau macam majas pertentangan adalah sebagai berikut.

    1. Majas Litotes

    Majas litotes adalah kebalikan dari majas hiperbola, tetapi lebih sempit pada ungkapan yang bertujuan untuk merendahkan diri, dan pada kenyataannya yang dimaksud tidak seperti yang dikatakan.

    Contoh majas litotes:

    1. Monggi dinikmatii makanan seadanya.
    2. Maaf kalau sedikit, ini ada uang pengganti untuk membeli es.
    3. Kami hanya bisa mobil butut.

    2. Majas Paradoks

    Majas paradoks adalah majas membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi yang berkebalikan.

    Contoh majas paradoks:

    1. Aku merasa lapar, padahal aku tinggal kawasan pusat kuliner.
    2. Agus tetap tersenyum, meski hatinya sedih karena ditinggal Dina.

    3. Majas Antitesis

    Majas antitesis adalah majas yang memadukan pasangan kata yang memiliki arti bertentangan.

    Contoh majas antitesis:

    1. Besar kecil jumlah gajinya, kita harus tetap bersyukur.
    2. Tinggi rendah martabat seseorang tergantung akhlaknya.
    3. Penilaian baik buruk tetap berlandaskan perilaku seseorang.

    4. Majas Kontradiksi Interminus

    Majas Kontradiksi Interminus adalah gaya bahasa dengan ungkapan menyangkal ujaran yang telah dipaparkan sebelumnya.

    Penggunaan majas ini biasanya diikuti konjungsi, seperti kata kecuali atau hanya saja.

    Contoh majas kontradiksi interminus:

    1. Hewan ternak milik Pak Agus sehat – sehat, tapi ada beberapa yang sakit – sakitan.
    2. Banyak mobil modern di dealer ini, kecuali satu mobil itu yang terlihat kuno.

    C. Majas Sindiran

    Majas sindiran adalah majas atau gaya bahasa yang tujuannya untuk menyindir seseorang atau perilaku tertentu dengan kata-kata kiasan. Adapun jenis atau macam majas sindiran adalah sebagai berikut.

    1. Majas Ironi

    Majas ironi adalah majas atau gaya bahasa untuk menyatakan suatu maksud sindiran atau berlainan/bertolak dengan maksud tersebut.

    Contoh majas ironi:

    1. Bersih sekali kamarmu, sampai-sampai bisa jadi sarang tikus.
    2. Wangi sekali rambutmu, sampai banyak lalat yang mengerubuti.
    3. Besar sekali hadiahmu, sampai bisa dimasukkan dalam kantong celana.

    2. Majas Sinisme

    Majas sinisme adalah gaya bahasa yang menyampaikan sindiran secara langsung. Sinisme tidak menggunakan ungkapan untuk memperhalus sindiran, namun sindiran juga tidak disampaikan secara kasar.

    Contoh majas sinisme:

    1. Kamarmu kotor sekali, sampai debu debu bertebaran di mana-mana.
    2. Apek sekali bantalmu seperti tidak pernah dicuci setahun.
    3. Kamu terlalu kurus, seperti orang yang tak makan setahun.

    3. Majas Sarkasme

    Majas sarkasme adalah majas atau gaya bahasa yang berisi sindiran secara kasar dan apa adanya.

    Contoh majas sarkasme:

    1. Kamu hanya sampah masyarakat yang tak berguna!
    2. Kenapa kamu sangat dungu dan tidak tahu apa-apa?
    3. Janganlah jadi anak tolol sehingga membuatku muak.

    D. Majas Penegasan

    Majas penegasan adalah majas yang tujuannya meningkatkan pernyataan penegas agar mempengaruhi pendengar/pembaca. Adapun jenis majas penegasan adalah sebagai berikut.

    1. Majas Pleonasme

    Majas pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata bermakna sama, sehingga terkesan tidak efektif. Tapi hal ini sengaja dilakukan untuk menegaskan.

    Contoh majas pleonasme:

    1. Silakan angkat tangan ke atas bagi yang setuju pendapat saya.
    2. Bagi yang merasa mampu mengerjakan, maju ke depan.
    3. Jangan pernah lupa akan sejarah di masa lalu.

    2. Majas Repetisi

    Majas repetisi adalah pengulangan kata, frase, atau bagian kalimat yang di anggap penting untuk memberikan penekanan.

    Contoh majas repetisi:

    1. Dia adalah tersangka, dia pencurinya, dialah yang mengambil dompetku.
    2. Saya ingin lebih baik, saya ingin rajin belajar, saya ingin pintar, saya ingin membanggakan orang tua.

    3. Majas Retorika

    Majas retorika adalah majas yang digunakan untuk memberi penegasan dalam bentuk kalimat tanya, yang sesungguhnya tidak perlu dijawab.

    Contoh majas retorika:

    1. Kapan Aku pernah memintamu untuk membohongiku?
    2. Apakah ada orang yang mau ditipu?
    3. Siapa yang rela jika harus kehilangan orang yang dikasihinya?

    4. Majas Klimaks

    Majas Klimaks adalah majas untuk menuturkan satu gagasan atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana meningkat ke gagasan atau hal yang lebih kompleks.

    Contoh majas klimaks:

    1. Kecil, sedang, besar, semua kue ini akan kubeli untukmu.
    2. S, L, M, XL, XXL, kita semua memiliki ukuran pakaian itu.

    5. Majas Antiklimaks

    Majas antiklimaks adalah kebalikan dengan klimaks, yaitu gaya bahasa yang tujuannya menegaskan sesuatu dengan mengurutkan suatu tingkatan dari tinggi ke tingkatan yang rendah.

    Contoh majas antiklimaks:

    1. Tua, muda, juga anak-anak punya hak yang sama.
    2. S3, S2. S1. juga D3, dipersilakan untuk mendaftar kerja di sini.

    6. Majas Pararelisme

    Majas paralelisme adalah gaya bahasa yang dilakukan dengan mengulang-ulang sebuah kata di dalam berbagai definisi berbeda. Jika pengulangan dilakukan di awal, maka disebut sebagai anafora.

    Contoh Majas Paralelisme:

    1. Cinta itu sabar.
    2. Cinta itu lemah lembut.
    3. Cinta itu memaafkan.
    4. Cinta itu tidak serakah.

    7. Majas Tautologi

    Majas tautologi adalah majas yang berupa pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata secara berlebihan dan tidak perlu.

    Majas ini memiliki kemiripan dengan pleonasme karena sama-sama menambahkan kata atau keterangan yang tidak diperlukan.

    Contoh majas tautologi:

    1. Suasana di acara ini sangat ramai, meriah, gegap gempita.
    2. Kelasmu terasa begitu sepi, sunyi, senyap, tidak ada yang hadir.
    3. Aku sua dia, karena dia ceria, gembira, riang, dan penuh suka cita.
    4. Jika memilih celana, ia selalu memilih yang modis, elegan, modern, dan gaya.