Tag: medis

  • Berikut ini tanda-tanda utama yang terlihat dari seseorang yang sudah sampai pada tahap AIDS

    HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) jika tidak diobati.

    Tanda utama pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat bervariasi dan berbeda-beda pada setiap orang.

    Namun, beberapa tanda umum yang sering terlihat pada pengidap AIDS meliputi:

    1. Penurunan Berat Badan Drastis: Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, 10% atau lebih dari berat badan ideal, dalam waktu 1 bulan.

    2. Demam Berkepanjangan: Demam yang berlangsung lebih dari 1 bulan, tanpa penyebab yang jelas, dan disertai dengan gejala lain seperti berkeringat di malam hari, kelelahan, dan diare.

    3. Infeksi Berulang: Sering mengalami infeksi oportunistik, seperti infeksi jamur di mulut (sariawan), pneumonia (radang paru-paru), atau tuberkulosis.

    4. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening: Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau selangkangan, yang berlangsung selama lebih dari 1 bulan.

    5. Diare Kronis: Diare yang berlangsung lebih dari 1 minggu, tanpa penyebab yang jelas, dan disertai dengan demam, kram perut, dan penurunan berat badan.

    6. Kelelahan Ekstrem: Kelelahan yang parah dan berkepanjangan, yang tidak membaik dengan istirahat.

    7. Ruam Kulit: Ruam kulit yang tidak biasa, gatal, dan tidak kunjung hilang.

    8. Penurunan Fungsi Kognitif: Kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, atau perubahan perilaku.

    9. Gejala Neurologis: Mati rasa, kesemutan, kelemahan otot, atau kesulitan berjalan.

  • Jika terjadi kerusakan pada glomerulus akan mengakibatkan gangguan yang disebut?

    Kerusakan pada glomerulus, yaitu bagian penyaring darah di ginjal, dapat menyebabkan gangguan yang disebut glomerulonefritis.

    Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomerulus yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk:

    • Kehilangan protein dan darah dalam urin: Glomerulus yang rusak memungkinkan protein dan darah bocor dari aliran darah ke urin. Hal ini dapat menyebabkan kondisi seperti proteinuria (protein dalam urin) dan hematuria (darah dalam urin).
    • Retensi air: Glomerulus yang rusak tidak dapat menyaring air dan limbah dengan baik, sehingga dapat menyebabkan retensi air dan pembengkakan (edema) di kaki, pergelangan kaki, dan wajah.
    • Tekanan darah tinggi: Glomerulus yang rusak dapat menyebabkan pelepasan hormon yang dapat meningkatkan tekanan darah.
    • Penurunan fungsi ginjal: Jika glomerulonefritis tidak diobati, dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen dan gagal ginjal.

    Gejala glomerulonefritis dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahannya. Gejala umum termasuk:

    • Urine berbusa: Protein dalam urin dapat menyebabkan urine berbusa.
    • Pembengkakan: Retensi air dapat menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, dan wajah.
    • Kelelahan: Penurunan fungsi ginjal dapat menyebabkan kelelahan.
    • Mual dan muntah: Penumpukan racun dalam darah dapat menyebabkan mual dan muntah.
    • Kurang nafsu makan: Penumpukan racun dalam darah juga dapat menyebabkan kurang nafsu makan.
    • Sesak napas: Retensi air di paru-paru dapat menyebabkan sesak napas.

    Jika mengalami gejala-gejala ini, penting untuk segera menemui dokter untuk diagnosis dan pengobatan.

    Pengobatan glomerulonefritis akan tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.

    Pengobatan umum termasuk obat-obatan untuk mengurangi peradangan, menurunkan tekanan darah, dan mengeluarkan kelebihan air dari tubuh.

    Dalam beberapa kasus, dialisis atau transplantasi ginjal mungkin diperlukan.

  • Jenis kontras intravena yang digunakan dalam pemeriksaan ct scan adalah?

    Pemeriksaan CT scan dapat dilakukan dengan atau tanpa kontras intravena.

    Kontras intravena adalah zat yang disuntikkan ke pembuluh darah pasien sebelum CT scan.

    Zat ini membantu meningkatkan visibilitas struktur dan jaringan tubuh pada gambar CT scan, sehingga dokter dapat melihatnya dengan lebih jelas.

    Baca juga: Metode yang dapat digunakan untuk pemeriksaan kadar kreatinin darah yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal adalah?

    Jenis kontras intravena yang digunakan dalam pemeriksaan CT scan umumnya terbagi menjadi dua kategori antara lain:

    1. Kontras non-ionik

    Berbahan dasar yodium:

    • Iohexol (Omnipaque)
    • Iopamidol (Isovue)
    • Iopromide (Ultravist)
    • Ioversol (Optiray)

    Berbahan dasar gadolinium:

    • Gadopentetate dimeglumine (Magnevist)
    • Gadobenate dimeglumine (MultiHance)

    2. Kontras ionik

    • Diatrizoate meglumine (Hypaque)
    • Iothalamate meglumine (Conray)

    Pemilihan jenis kontras intravena tergantung pada beberapa faktor, seperti:

    Bagian tubuh yang diperiksa:

    • Kontras non-ionik lebih sering digunakan untuk pemeriksaan CT scan kepala, leher, dan dada.
    • Kontras ionik lebih sering digunakan untuk pemeriksaan CT scan abdomen dan pelvis.

    Riwayat kesehatan pasien:

    • Pasien dengan alergi yodium harus menggunakan kontras non-ionik.
    • Pasien dengan penyakit ginjal mungkin tidak dapat menggunakan kontras ionik.

    Dokter yang akan melakukan pemeriksaan CT scan akan menentukan jenis kontras intravena yang tepat untuk Anda.

    Berikut beberapa informasi tambahan tentang kontras intravena:

    Efek samping:

    • Kontras intravena umumnya aman, tetapi dapat menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, dan rasa panas di tubuh.
    • Reaksi alergi terhadap kontras intravena jarang terjadi, tetapi bisa serius.
      Persiapan:
    • Anda mungkin perlu puasa selama beberapa jam sebelum pemeriksaan CT scan.
    • Anda harus memberitahu dokter tentang riwayat kesehatan Anda, termasuk alergi dan penyakit ginjal.

    Baca juga: Parameter pemeriksaan laboratorium untuk persiapan ct scan abdomen dengan kontras salah satunya adalah?

    Kontras non-ionik umumnya lebih sering digunakan untuk pemeriksaan CT scan kepala, leher, dan dada.

    Sedangkan kontras ionik lebih sering digunakan untuk pemeriksaan CT scan abdomen dan pelvis.

    Pemilihan jenis kontras intravena akan disesuaikan dengan beberapa faktor, seperti bagian tubuh yang diperiksa, riwayat kesehatan pasien, dan alergi.

    Dokter yang akan melakukan pemeriksaan CT scan akan menentukan jenis kontras yang tepat untuk Anda.

  • Metode yang dapat digunakan untuk pemeriksaan kadar kreatinin darah yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal adalah?

    Metode yang dapat digunakan untuk pemeriksaan kadar kreatinin darah yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal adalah?

    Berikut beberapa metode yang dapat digunakan untuk pemeriksaan kadar kreatinin darah yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal:

    1. Metode Jaffe

    Metode Jaffe adalah metode yang paling umum digunakan untuk pemeriksaan kadar kreatinin darah.

    Metode ini bekerja berdasarkan prinsip reaksi antara kreatinin dengan asam pikrat dalam suasana basa yang menghasilkan kompleks berwarna kuning-oranye.

    Intensitas warna yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 500-560 nm.

    Namun, metode ini memiliki beberapa kekurangan, yaitu kurang spesifik, sehingga dapat terpengaruh oleh beberapa zat seperti bilirubin, protein, dan keton.

    2. Metode Enzimatik

    Metode enzimatik menawarkan alternatif yang lebih spesifik dan akurat dibandingkan metode Jaffe untuk pemeriksaan kadar kreatinin darah.

    Prinsip metode ini melibatkan hidrolisis kreatinin oleh enzim kreatininase menjadi kreatin dan urea.

    Kreatin kemudian diubah menjadi asam dihidroasetat dan amonia oleh enzim kreatin dehidrogenase.

    Amonia selanjutnya diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 340 nm.

    Metode enzimatik lebih sering digunakan dalam situasi yang membutuhkan hasil yang lebih akurat, seperti pada pasien dengan kondisi yang kompleks atau yang sedang menjalani terapi obat-obatan tertentu.

    3. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC)

    Metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography) merupakan metode yang paling akurat dan spesifik untuk pemeriksaan kadar kreatinin darah.

    Metode ini bekerja dengan memisahkan kreatinin dari zat lain dalam darah menggunakan kolom HPLC. Kreatinin kemudian diukur dengan detektor UV.

    metode HPLC biasanya hanya digunakan dalam situasi yang membutuhkan hasil yang paling akurat dan spesifik, seperti pada penelitian ilmiah atau pada pasien dengan kondisi yang sangat kompleks.

    Baca juga: Metode prediksi waktu kedatangan contrast yang menggunakan nilai ambang batas hu adalah?

    Catatan:

    Penting untuk dicatat bahwa kadar kreatinin darah yang normal dapat berbeda-beda tergantung pada usia, jenis kelamin, dan faktor lainnya.

    Berikut adalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi kadar kreatinin darah:

    • Usia: kadar kreatinin darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
    • Jenis kelamin: pria umumnya memiliki kadar kreatinin darah yang lebih tinggi daripada wanita.
    • Ras: orang Afrika-Amerika umumnya memiliki kadar kreatinin darah yang lebih tinggi daripada orang Kaukasia.
    • Massa otot: orang dengan massa otot yang lebih besar umumnya memiliki kadar kreatinin darah yang lebih tinggi.
    • Dehidrasi: dehidrasi dapat meningkatkan kadar kreatinin darah.
    • Obat-obatan: beberapa obat dapat meningkatkan kadar kreatinin darah.
  • Peraturan yang Mengatur Tentang Pelayanan Radiologi Klinik Adalah?

    Peraturan yang mengatur tentang pelayanan radiologi klinik di Indonesia adalah Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2020 tentang Pelayanan Radiologi Klinik.

    Peraturan ini mengatur berbagai aspek terkait pelayanan radiologi klinik, antara lain:

    1. Tujuan penyelenggaraan: Menjamin keselamatan, keamanan, dan kesehatan tenaga kesehatan, pasien, masyarakat, dan lingkungan hidup; mewujudkan standar pelayanan radiologi klinik di Fasilitas Pelayanan

    2. Kesehatan (Fasyankes); dan meningkatkan mutu pelayanan radiologi klinik di Fasyankes.

    3. Ruang lingkup: meliputi penyelenggaraan, tata cara, dan prosedur pelayanan radiologi klinik diagnostik dan terapeutik.

    4. Kewajiban penyelenggara:

    • Memiliki izin penyelenggaraan;
    • Memiliki tenaga kesehatan yang kompeten;
    • Menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi standar;
    • Menerapkan standar mutu dan keselamatan pasien;
    • Melaksanakan sistem manajemen mutu dan keselamatan pasien;
    • Melakukan pemantauan dan evaluasi mutu dan keselamatan pasien.

    5. Hak pasien:

    • Mendapatkan informasi yang lengkap dan jelas tentang pelayanan radiologi klinik;
    • Memilih dan menentukan pelayanan radiologi klinik;
    • Menolak pelayanan radiologi klinik;
    • Mendapatkan pelayanan radiologi klinik yang aman, bermutu, dan efektif.

    6. Kewajiban pasien:

    • Memberikan informasi yang lengkap dan benar tentang kondisi kesehatannya;
    • Mematuhi instruksi dan arahan dari tenaga kesehatan;
    • Menjaga keselamatan diri dan orang lain selama berada di ruang pelayanan radiologi klinik.

    Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2020 ini mencabut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1014/Menkes/VIII/2008 tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik di Sarana Pelayanan Kesehatan dan Permenkes Nomor 780/Menkes/Per/VIII/2008 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Radiologi.

    Peraturan lain yang terkait:

    • Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
    • Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2019 tentang Keselamatan Kesehatan Kerja;
    • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 47 Tahun 2014 tentang Rekam Medis;
    • Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/VII/2012 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.

    Sumber: https://peraturan.go.id/id/permenkes-no-24-tahun-2020

  • Profil Lipid Adalah? Ini Pengertian dan Manfaatnya

    Pengertian Profil Lipid

    Profil lipid adalah tes darah yang dilakukan untuk mengukur kadar lemak tertentu, seperti kolesterol total, trigliserida, LDL (low-density lipoprotein), dan HDL (high-density lipoprotein), dalam darah.

    Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

    Profil lipid merupakan referensi atas komponen-komponen yang terdapat dalam cairan darah yang memiliki fungsi penting dalam metabolisme tubuh.

    Lipid merupakan kelompok senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen.

    Dalam profil lipid, beberapa jenis lipid yang sering dikaji termasuk lipid transportasi seperti cholesterol dan triglycerida, serta lipid struktural seperti fosfolipida.

    Perubahan dalam profil lipid ini dapat menunjukkan risiko terhadap penyakit jantung atau stroke, dan juga berperan dalam pemantauan kesehatan tubuh.

    Lemak dalam darah:

    • Kolesterol total: Jumlah keseluruhan kolesterol dalam darah, termasuk LDL, HDL, dan jenis lainnya.
    • LDL (low-density lipoprotein): Kadar kolesterol “jahat” yang menumpuk di arteri dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
    • HDL (high-density lipoprotein): Kadar kolesterol “baik” yang membantu menghilangkan LDL dari arteri.
    • Trigliserida: Jenis lemak lain dalam darah yang bisa meningkat karena konsumsi karbohidrat dan gula berlebih.

    Kolesterol tinggi dapat menyebabkan penumpukan plak di arteri. Plak tersebut dapat menyempitkan arteri (aterosklerosis), sehingga mengurangi aliran darah ke jantung.

    Kurangnya aliran darah ke jantung bisa menyebabkan angina (nyeri dada), serangan jantung, dan stroke.

    Mengapa profil lipid dilakukan?

    Profil lipid dilakukan untuk menilai risiko penyakit jantung dan membantu dokter menentukan apakah kita perlu pengobatan untuk menurunkan kolesterol.

    Profil lipid memberikan informasi penting tentang kesehatan kardiovaskular seseorang.

    Pengukuran dan interpretasi profil lipid membantu penilaian risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, serta membantu dalam perencanaan pengelolaan kesehatan

    Pemantauan dan kontrol profil lipid dapat menjadi bagian integral dari upaya pencegahan penyakit kardiovaskular.

    Manfaat Profil Lipid

    Profil lipid adalah tes darah yang mengukur kadar lemak dalam darah, termasuk kolesterol total, trigliserida, LDL (kolesterol jahat), dan HDL (kolesterol baik). Manfaat profil lipid antara lain:

    1. Menilai Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

    Manfaat utama profil lipid adalah untuk menilai risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

    Kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi, serta HDL yang rendah, merupakan faktor risiko utama penyakit jantung.

    Dengan mengetahui kadar lipid, dokter dapat memperkirakan risiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah.

    2. Mendeteksi Gangguan Lipid

    Profil lipid dapat membantu mendeteksi berbagai gangguan lipid, seperti:

    • Hiperlipidemia: Kadar kolesterol atau trigliserida yang tinggi
    • Hiperkolesterolemia: Kadar kolesterol LDL yang tinggi
    • Hipertrigliseridemia: Kadar trigliserida yang tinggi
    • Hipoalfalipoproteinemia: Kadar kolesterol HDL yang rendah

    Informasi ini dapat membantu dokter menentukan pengobatan yang tepat untuk menurunkan risiko penyakit jantung kita.

    3. Membantu Memonitor Pengobatan

    Jika kita sedang menjalani pengobatan untuk menurunkan kadar lipid, profil lipid dapat membantu dokter untuk memantau efektivitas pengobatan.

    Dokter dapat melihat apakah kadar lipid kita sudah mencapai target yang diinginkan dan apakah perlu penyesuaian pada pengobatan.

    4. Mendeteksi Penyakit Lainnya

    Profil lipid tidak hanya bermanfaat untuk menilai risiko penyakit jantung, tetapi juga dapat membantu mendeteksi penyakit lainnya, seperti:

    • Penyakit ginjal
    • Penyakit hati
    • Diabetes
    • Hipotiroidisme

    5. Meningkatkan Kesadaran Kesehatan

    Dengan mengetahui kadar lipid, kita dapat meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan membuat perubahan gaya hidup yang sehat untuk menurunkan risiko penyakit jantung.

    Nah, itulah arti profil lipid dan manfaatnya untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang.

  • Nonmaleficence dalam Keperawatan Adalah? Ini Penjelasannya

    Nonmaleficence dalam keperawatan merujuk pada prinsip atau kewajiban untuk tidak menyebabkan kerugian atau cedera pada klien.

    Prinsip ini menekankan pentingnya perawat untuk menjauhi tindakan atau keputusan yang dapat menimbulkan bahaya atau dampak negatif pada kesejahteraan fisik, mental, atau emosional pasien.

    Dalam konteks keperawatan, nonmaleficence melibatkan upaya untuk memberikan perawatan yang aman dan efektif, serta menghindari tindakan yang dapat merugikan klien.

    Perawat harus mempertimbangkan potensi risiko dan manfaat dari setiap tindakan atau intervensi yang dilakukan, dan memastikan bahwa keputusan yang diambil bersifat protektif terhadap kesehatan dan keselamatan pasien.

    Contoh penerapan nonmaleficence dalam praktik keperawatan termasuk pencegahan cedera, penghindaran komplikasi atau efek samping yang tidak diinginkan dari perawatan, dan memastikan bahwa semua tindakan yang diambil sesuai dengan standar etika dan keamanan kesehatan.

    Prinsip nonmaleficence bekerja beriringan dengan prinsip beneficence, dimana perawat tidak hanya berusaha untuk tidak menyebabkan cedera, tetapi juga berusaha untuk memberikan manfaat atau kebaikan sebanyak mungkin dalam perawatan yang diberikan.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh perawat untuk menjalankan prinsip nonmaleficence meliputi:

    1. Evaluasi Risiko

    Perawat harus secara sistematis mengevaluasi risiko potensial dari setiap tindakan atau keputusan perawatan. Ini mencakup mempertimbangkan kondisi kesehatan klien, alergi, dan faktor risiko lainnya.

    2. Informed Consent

    Memastikan bahwa klien atau wali yang sah telah memberikan persetujuan yang tepat dan menyeluruh sebelum menjalani prosedur atau perawatan tertentu. Ini memastikan bahwa klien memiliki pemahaman yang memadai tentang potensi risiko yang terlibat.

    3. Kewaspadaan Terhadap Efek Samping

    Memantau dan melaporkan efek samping obat atau tindakan medis, serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi risiko efek samping yang mungkin muncul.

    4. Keselamatan Lingkungan

    Memastikan lingkungan tempat perawatan aman dan bebas risiko untuk klien. Hal ini mencakup pencegahan cedera akibat jatuh, kecelakaan, atau kondisi lingkungan lainnya yang dapat membahayakan kesejahteraan klien.

    5. Kerjasama dengan Tim Kesehatan

    Berkomunikasi secara efektif dengan anggota tim kesehatan lainnya untuk memastikan bahwa semua aspek perawatan dijalankan sesuai dengan standar keselamatan dan etika yang berlaku.

  • 8 Prinsip Etik dalam Keperawatan yang Wajib Diketahui

    Prinsip-prinsip keperawatan itu seperti dasar-dasar atau aturan yang harus diikuti saat memberikan perawatan. Beberapa prinsip keperawatan yang penting di antaranya:

    1. Otonomi (Autonomy)

    Prinsip ini bicara tentang pentingnya membiarkan orang membuat keputusan sendiri. Ketika orang sudah dewasa, dianggap mereka punya kemampuan untuk memilih dan membuat keputusan, dan ini harus dihormati oleh orang lain.

    2. Berbuat Baik (Beneficence)

    Ini artinya melakukan hal-hal yang baik. Saat memberikan perawatan, kita harus berusaha untuk mencegah kesalahan atau kejahatan, menghilangkan kesalahan yang ada, dan membuat kebaikan bagi orang yang dirawat.

    3. Keadilan (Justice)

    Prinsip ini menekankan perlunya memberikan perlakuan yang sama dan adil kepada semua orang. Saat memberikan perawatan, perawat harus bekerja sesuai hukum, standar praktek, dan keyakinan yang benar agar perawatan yang diberikan berkualitas.

    Baca juga: Apa yang dianggap sebagai atribut inti dari profesionalisme keperawatan?

    4. Tidak Merugikan (Nonmaleficence)

    Ini berarti kita tidak boleh menyebabkan cedera atau dampak negatif pada orang yang dirawat. Perawat harus berusaha untuk memberikan perawatan tanpa menimbulkan risiko cedera fisik atau mental.

    5. Kejujuran (Veracity)

    Prinsip ini menekankan pentingnya mengatakan kebenaran. Informasi yang disampaikan harus akurat, lengkap, dan jujur, sehingga orang yang dirawat dapat memahami kondisinya dengan baik.

    6. Menepati Janji (Fidelity)

    Prinsip ini mengacu pada pentingnya mematuhi komitmen dan menjaga kerahasiaan klien. Perawat harus setia pada tugasnya dan menjaga rahasia informasi klien.

    7. Kerahasiaan (Confidentiality)

    Prinsip ini menegaskan bahwa informasi tentang klien harus tetap pribadi. Catatan kesehatan hanya boleh diakses dalam konteks perawatan dan memerlukan izin tertulis dari klien.

    8. Akuntabilitas (Accountability)

    Akuntabilitas terkait tanggung jawab dan standar yang memungkinkan penilaian terhadap tindakan seorang profesional. Meskipun dalam situasi sulit atau tidak jelas, seorang perawat tetap bertanggung jawab atas tindakannya.

    Sumber: fikes.almaata.ac.id

  • Beneficence dalam Keperawatan Adalah? Ini Penjelasannya

    Prinsip-prinsip keperawatan mencakup sejumlah nilai dan pedoman etika yang menjadi dasar dalam memberikan asuhan keperawatan. Berikut adalah beberapa prinsip keperawatan yang umumnya diakui:

    1. Otonomi (Autonomy)

    Prinsip otonomi berakar pada keyakinan bahwa individu memiliki kemampuan untuk berpikir secara logis dan memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan sendiri.

    Ketika seseorang telah mencapai dewasa, dianggap bahwa mereka memiliki kompetensi dan kekuatan untuk membuat, memilih, dan memiliki berbagai keputusan atau opsi yang perlu dihormati oleh pihak lain.

    Prinsip otonomi mengekspresikan penghargaan terhadap individu, dilihat sebagai persetujuan yang tidak memaksa dan tindakan yang rasional.

    Otonomi mencerminkan hak atas kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pengakuan atas keberagaman.

    Dalam praktik profesional, prinsip otonomi tercermin ketika perawat menghormati hak-hak klien untuk membuat keputusan mengenai perawatan diri mereka sendiri.

    2. Berbuat baik (Beneficience)

    Beneficence memiliki arti melakukan hal yang baik, melibatkan upaya untuk mencegah kesalahan atau kejahatan, menghilangkan kesalahan atau kejahatan yang ada, serta meningkatkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

    Pada beberapa situasi dalam pelayanan kesehatan, terkadang terjadi konflik antara prinsip ini dengan prinsip otonomi.

    3. Keadilan (Justice)

    Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan.

    Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

    Baca juga: Apa yang dianggap sebagai atribut inti dari profesionalisme keperawatan?

    4. Tidak merugikan (Nonmaleficience)

    Prinsip ini mengindikasikan tidak menimbulkan risiko cedera atau dampak negatif secara fisik maupun psikologis pada klien.

    5. Kejujuran (Veracity)

    Prinsip veracity bermakna sepenuhnya mengungkapkan kebenaran.

    Nilai ini menjadi esensial bagi penyedia layanan kesehatan untuk menyampaikan informasi yang jujur kepada setiap klien, serta memastikan bahwa klien memahaminya sepenuhnya.

    Prinsip veracity terkait dengan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan kebenaran.

    Informasi yang diberikan haruslah akurat, komprehensif, dan obyektif, sehingga memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang disampaikan, serta memberikan kejelasan kepada klien mengenai semua hal yang terkait dengan kondisinya selama proses perawatan.

    6. Menepati janji (Fidelity)

    Prinsip kesetiaan diperlukan bagi individu untuk menghormati janji dan keterikatannya terhadap orang lain. Seorang perawat menunjukkan kesetiaan dengan mematuhi komitmen dan menjaga kerahasiaan klien.

    Kesetiaan, sebagai kewajiban, menuntut individu untuk mempertahankan janji yang telah dibuatnya.

    Kesetiaan mencerminkan ketaatan perawat terhadap kode etik yang menegaskan bahwa tanggung jawab mendasar perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan mengurangi penderitaan

    7. Kerahasiaan (Confidentiality)

    Prinsip kerahasiaan menetapkan bahwa informasi mengenai klien harus tetap menjadi privasi klien.

    Isi dari catatan kesehatan klien hanya boleh diakses dalam konteks pengobatan klien, dan tidak ada yang dapat mengakses informasi tersebut kecuali dengan izin tertulis dari klien.

    Diskusi tentang klien di luar konteks layanan, atau memberikan informasi tentang klien kepada teman atau keluarga tanpa izin dari pihak perawatan kesehatan lainnya, harus dihindari.

    Baca juga: Karakteristik Keperawatan Profesional Menurut Kusnanto 2014

    8. Akuntabilitas (Accountability)

    Akuntabilitas adalah standar pasti yang memungkinkan penilaian terhadap tindakan seorang profesional, bahkan dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa pengecualian.

  • Karakteristik Keperawatan Profesional Menurut Kusnanto 2014

    Karakteristik keperawatan profesional menurut Kusnanto (2014) adalah memiliki otoritas (authority), akuntabilitas (accountability), pengambilan keputusan yang mandiri (independent decision making), kolaborasi (collaboration), dan pembelaan/dukungan (advocacy).

    Dengan profesionalisme perawat diharapkan mampu bersikap humanis yaitu memperlakukan pasien sebagai manusia yang harus diperhatikan (Nursalam, 2011).

    Profesionalisme pelayanan keperawatan pada dasarnya memberi penekanan pada kualitas pelayanan keperawatan (Saragih, 2013).

    Keperawatan adalah proses penting dalam bidang kesehatan yang bertujuan untuk memberi perlakuan dan pengaturan lingkungan yang baik kepada pasien untuk mencegah komplikasi, mengurangi efek samping, dan mempercepat proses pemulihan.

    Keperawatan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien dan memastikan bahwa kebutuhan-kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual mereka dihormati dan diprioritaskan.

    Sehingga tujuan utama keperawatan adalah untuk memelihara, mengembalikan, dan meningkatkan kesehatan serta kualitas hidup pasien.

    Keperawatan memiliki dasar konsep dan teori yang melibatkan penggunaan pengetahuan ilmiah, keterampilan klinis, dan empati terhadap pasien.

    Keberhasilan asuhan keperawatan dapat diukur dari perbaikan kondisi kesehatan pasien, kepuasan pasien terhadap pelayanan, dan pemenuhan kebutuhan fisik dan psikososial pasien.

    Sumber: Kusnanto. (2014). Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC