Tag: mitos

  • Cecep ditegur oleh orang tuanya karena bersiul di malam hari

    Cecep ditegur oleh orang tuanya karena bersiul di malam hari, orang tua Cecep yang berasal dari Sunda mengatakan hal tersebut pamali yang artinya bila dilakukan akan mendatangkan kejadian yang kurang baik, orang tua Cecep memiliki sikap?

    A. Etnosentrisme
    B. Fanatisme
    C. Primordialisme
    D. Egoisme

    Jawaban:

    C. Primordialisme

    Pembahasan:

    Primordialisme mengacu pada penekanan pada identitas etnis, budaya, atau asal-usul sebagai dasar untuk membentuk identitas sosial dan nilai-nilai tertentu.

    Dalam kasus ini, orang tua Cecep menegaskan kepercayaan atau tradisi tertentu yang berasal dari budaya Sunda mereka, yang menandakan penghormatan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai dan keyakinan tradisional mereka.

    Ciri-ciri Primordialisme:

    • Loyalitas berlebihan terhadap kelompok sendiri: Individu yang memiliki paham primordialisme akan lebih loyal dan membela kelompoknya sendiri, bahkan ketika kelompoknya melakukan kesalahan.
    • Kecurigaan dan permusuhan terhadap kelompok lain: Individu dengan paham ini sering kali mencurigai dan memusuhi kelompok lain, yang dapat memicu diskriminasi dan bahkan konflik.
    • Pengabaian nilai-nilai universal: Primordialisme sering kali mengabaikan nilai-nilai universal seperti kemanusiaan dan keadilan demi kepentingan kelompok sendiri.
    • Ketidakmampuan untuk menerima perbedaan: Individu dengan paham ini sering kali tidak dapat menerima perbedaan dan memaksakan nilai-nilai kelompoknya kepada orang lain.
  • Merasa akan terjadi kesialan atau musibah karena adanya suatu pertanda

    Merasa akan terjadi kesialan atau musibah karena adanya suatu pertanda, yang sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dengan kesialan atau musibah disebut Thiyarah.

    Thiyarah adalah sebuah kepercayaan yang menghubungkan suatu kejadian dengan kejadian lain tanpa adanya bukti ilmiah.

    Dalam Islam, thiyarah dikategorikan sebagai salah satu bentuk kesyirikan karena menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu yang tidak memiliki kuasa.

    Beberapa contoh thiyarah:

    • Melihat burung gagak terbang di atas kepala dan merasa akan terjadi kesialan.
    • Memecahkan cermin dan merasa akan mendapatkan tujuh tahun kesialan.
    • Melewati kucing hitam di jalan dan merasa akan mengalami kecelakaan.

    Perlu diingat bahwa semua kejadian di dunia ini terjadi atas kehendak Allah SWT. Tidak ada pertanda yang secara otomatis dapat menyebabkan kesialan atau musibah.

    Oleh karena itu, sebagai umat Islam, kita harus bertawakal kepada Allah SWT dan tidak terpengaruh oleh thiyarah.

    Untuk terhindar dari thiyarah, penting untuk memperkuat keimanan dan tawakal kita kepada Allah SWT. Yakinlah bahwa segala kejadian di dunia ini atas kehendak-Nya.

    Jika hal yang menurut tradisi dianggap sebagai pertanda sial, carilah penjelasan ilmiahnya. Alih-alih berprasangka buruk, biasakanlah berprasangka baik kepada Allah SWT.

    Dengan landasan iman yang kokoh dan berprasangka baik, kita terhindar dari rasa was-was dan kegelisahan yang ditimbulkan oleh thiyarah.

    Jika Anda merasa terpengaruh oleh thiyarah, segeralah beristighfar dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

  • 7 Ciri-Ciri Orang Kena Pelet, Cek Dirimu Apakah Jadi Korban Juga

    Perjalanan manusia dalam menjalani kehidupan sering kali ditemani oleh berbagai misteri dan kepercayaan. Salah satu yang sering menjadi perbincangan adalah fenomena pelet.

    Konon, pelet dapat memengaruhi perasaan dan pikiran seseorang sehingga bisa tergila-gila dan hilang akan sehat dalam mencintai orang lain.

    Apalagi kita hidup di lingkungan masyarakat yang masih kental unsur mistisnya. Sehingga, tak menutup kemungkinan kita juga bisa terkena pelet.

    Baca juga: 7 Alasan Kenapa Sulit Melupakan Orang yang Kita Cintai

    Ciri-Ciri Orang Kena Pelet

    Meski masih belum dapat dibuktikan kebenaran tentang kekuatan magis ini, setidaknya kita mengetahui bagaimana ciri-ciri orang kena pelet agar kita bisa lebih berhati-hati.

    1. Perubahan Sikap yang Drastis

    Salah satu ciri yang sering ditemui adalah terjadinya perubahan sikap yang tiba-tiba dan drastis pada seseorang yang diduga terkena pelet.

    Misalnya, seseorang yang tadinya memiliki perasaan positif terhadapmu, tiba-tiba menjadi jauh dan dingin.

    Ada kemungkinan terjadi perubahan dalam pikiran dan perasaannya yang dipengaruhi oleh kekuatan gaib.

    2. Pikiran Terpengaruh

    Orang yang terkena pelet mungkin akan mengalami pengaruh yang mendalam terhadap seseorang yang melakukannya.

    Misalnya, merasa tertarik atau terikat secara emosional dengan orang yang melakukan pelet, bahkan jika sebelumnya tidak ada rasa tertarik sedikitpun.

    Hal yang tiba-tiba seperti ini tentu agak sulit dijelaskan, sehingga banyak yang mengatakan jika hal ini merupakan salah satu efek dari pelet tersebut.

    3. Perasaan Bingung

    Orang yang terkena pelet kadang-kadang merasa bingung atau tidak dapat menjelaskan alasan mengapa tiba-tiba tertarik pada seseorang.

    Semakin didalami dan mencari jawaban, orang yang terkena pelet justru akan merasa kebingungan dan sulit pahami.

    Baca juga: 7 Hal yang Sering Dianggap Sia-Sia Dalam Hidup Padahal Penuh dengan Makna

    4. Obsesi yang Tidak Wajar

    Salah satu ciri yang perlu diwaspadai adalah obsesi yang tidak wajar terhadap seseorang.

    Orang yang terkena pengaruh ini mungkin tidak dapat berhenti memikirkan atau berbicara tentang orang yang melakukan pelet.

    Bahkan, obsesi yang tinggi itu bisa mengganggu kesehatan mental dan fisik seseorang.

    5. Perubahan Fisik

    Meskipun kurang umum, beberapa keyakinan di kalangan masyarakat juga mengatakan bahwa orang yang terkena pelet dapat mengalami perubahan fisik tertentu, seperti berubahnya penampilan atau gaya berpakaian.

    6. Gangguan Emosional

    Pelet juga dapat dikaitkan dengan gangguan emosional atau psikologis pada orang yang terkena pengaruhnya. Emosional bisa jadi tidak stabil, seperti mengalami kecemasan yang tidak wajar.

    Hal tersebut lantaran pelet dalam mengacaukan pikiran dan mental sehingga yang ada dalam pikiran hanyalah orang yang memeletnya.

    Baca juga: 7 Alasan Mengapa Bersikap Bodo Amat Itu Perlu dalam Kehidupan Sehari-Hari

    7. Berubah dalam Prioritas

    Seseorang yang terkena pelet mungkin juga mengalami perubahan dalam prioritas hidup, seperti mengutamakan orang yang melakukan pelet di atas segala hal lainnya.

    Kemudian, orang terkena pelet juga cenderung lebih tidak produktif karena yang ada dalam pikirannya hanyalah satu orang tersebut.

    Tidak ada lagi harapan seperti membangun cita-cita maupun karier. Sehingga, kebanyakan orang terkena pelet cenderung gagal dalam urusan pekerjaan.

    Nah, itulah beberapa ciri-ciri orang terkena pelet yang perlu diketahui. Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tapi kepercayaan ini tergantung pada pribadi masing-masing.

  • 10 Mitos dan Fakta Seputar Sekolah Kedinasan yang Perlu Kamu Ketahui

    10 Mitos dan Fakta Seputar Sekolah Kedinasan yang Perlu Kamu Ketahui

    Sekolah kedinasan adalah institusi pendidikan yang mempersiapkan siswa untuk karier dalam berbagai bidang di sektor publik.

    Sekolah kedinasan biasanya memiliki program pendidikan dan pelatihan agar siswa siap menjadi pelayan masyarakat di kemudian hari.

    Namun, meski sekolah kedinasan cukup populer bagi anak muda, ada beberapa mitos yang beredar di masyarakat tentang sekolah kedinasan yang belum terbukti kebenarannya.

    Mitos dan Fakta Seputar Sekolah Kedinasan

    Nah, buat kamu yang penasaran, berikut adalah beberapa mitos dan fakta sekolah kedinasan.

    1. Mitos: Hanya orang kaya atau memiliki hubungan yang bisa masuk sekolah kedinasan

    Fakta: Masuk ke sekolah kedinasan tidak melihat status sosial atau hubungan seseorang. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendaftar dan lulus tes seleksi.

    2. Mitos: Sekolah kedinasan hanya untuk orang yang ingin menjadi anggota militer atau polisi

    Fakta: Meskipun banyak sekolah kedinasan yang memiliki program pendidikan untuk militer dan polisi, namun ada juga sekolah kedinasan untuk berbagai profesi lainnya, seperti diplomat, pelayan publik, dan pengacara.

    3. Mitos: Pendidikan di sekolah kedinasan lebih mudah daripada di perguruan tinggi biasa

    Fakta: Pendidikan di sekolah kedinasan sangat kompetitif dan menuntut. Siswa harus memenuhi standar akademik dan fisik yang tinggi dan juga menjalani latihan militer atau pelatihan lainnya yang intensif.

    4. Mitos: Lulus dari sekolah kedinasan menjamin kesuksesan karier di masa depan

    Fakta: Meskipun lulus dari sekolah kedinasan dapat membantu dalam memulai karier, namun kesuksesan karier seseorang bergantung pada berbagai faktor, seperti kemampuan, kerja keras, dan keberuntungan.

    5. Mitos: Siswa di sekolah kedinasan tidak memiliki kebebasan pribadi dan terikat oleh peraturan yang ketat

    Fakta: Seperti sekolah lainnya, sekolah kedinasan memiliki peraturan yang harus diikuti siswa.

    Namun, siswa juga memiliki hak untuk mengekspresikan pendapat dan memiliki kebebasan untuk memilih kegiatan ekstrakurikuler dan minat mereka sendiri.

    6. Mitos: Sekolah kedinasan hanya menerima siswa laki-laki

    Fakta: Sekolah kedinasan saat ini terbuka untuk siswa laki-laki dan perempuan. Banyak sekolah kedinasan bahkan memiliki program khusus untuk siswa perempuan, seperti ilmu kesehatan.

    7. Mitos: Sekolah kedinasan hanya menerima siswa yang memiliki fisik yang kuat dan sehat

    Fakta: Meskipun beberapa sekolah kedinasan memerlukan siswa untuk memiliki kondisi fisik yang baik, namun ada juga sekolah kedinasan yang menerima siswa dengan kondisi fisik yang beragam.

    Siswa akan diberi pelatihan fisik dan pengembangan diri untuk mencapai standar yang dibutuhkan.

    8. Mitos: Sekolah kedinasan hanya menekankan pada disiplin dan kedisiplinan

    Fakta: Selain menekankan disiplin dan kedisiplinan, sekolah kedinasan juga memberikan pendidikan yang komprehensif pada berbagai bidang, seperti keterampilan sosial, keterampilan kepemimpinan, dan pengetahuan tentang hukum dan politik.

    9. Mitos: Setelah lulus dari sekolah kedinasan, siswa harus bekerja selama beberapa tahun untuk pemerintah

    Fakta: Setelah lulus dari sekolah kedinasan, siswa memiliki opsi untuk bekerja untuk pemerintah atau mencari pekerjaan di sektor swasta.

    Namun, beberapa sekolah kedinasan memerlukan siswa untuk bekerja untuk pemerintah setidaknya selama beberapa tahun sebagai bagian dari kewajiban mereka.

    10. Mitos: Sekolah kedinasan hanya memberikan peluang karier di dalam negeri

    Fakta: Lulusan sekolah kedinasan memiliki peluang karier di dalam dan luar negeri. Banyak lulusan sekolah kedinasan bekerja di organisasi internasional atau sebagai diplomat di luar negeri.

  • 5 Arti dan Pertanda Mata Kiri Kedutan Terus

    5 Arti dan Pertanda Mata Kiri Kedutan Terus

    Kedutan mata kiri cukup sering terjadi dan umum dialami oleh kebanyakan orang.

    Namun, menurut mitos dan kepercayaan masyarakat, kedutan pada mata memiliki arti tertentu.

    Salah satu mitos dari mata kedutan adalah pertanda akan mendapat kabar atau kejadian yang mengejutkan, entah kabar baik ataupun buruk.

    Tentu saja dari mitos yang beredar tersebut membuat banyak orang mencari tahu arti mata kiri kedutan terus.

    Lalu, sebenarnya mata kiri kedutan artinya apa?

    1. Arti Mata Kiri Kedutan Bagian Kelopak mata

    Menurut sebuah kepercayaan Afrika kuno, arti mata kedutan ini bisa menjadi pertanda baik.

    Bahkan, kamu akan mendapatkan banyak kejutan tidak terduga dari seorang tamu.

    Kejutan ini juga bisa berbentuk materi atau kabar membahagiakan lainnya.

    2. Arti Mata Kiri Kedutan Bagian Alis

    Dalam primbon Jawa, arti dari mata kiri yang kedutan di bagian alis kiri menandakan akan datangnya pertanda baik.

    Selain itu juga memiliki arti bahwa kamu akan mendapatkan sebuah keberuntungan besar, seperti sebuah kebahagiaan, orang yang dicintai, dan lain-lain.

    3. Arti Bola Mata Kiri Kedutan

    Arti bola mata kiri yang kedutan memiliki makna bahwa akan adanya kabar baik yang menghampirimu.

    Kabar bahagia ini pun bisa datang dari mana saja, seperti harta benda dan bertemu dengan orang-orang yang kamu cintai.

    3. Arti Mata Kiri Kedutan Bagian Bawah

    Dalam primbon Jawa kuno, disebutkan bahwa arti mata kiri kedutan di bagian bawah menjadi sebuah pertanda bahwa kamu akan bertemu dengan teman lama.

    Bahkan, teman lama yang datang tersebut, nantinya akan memberi kabar bahagia untukmu.

    4. Arti Mata Kiri Kedutan Bagian Atas

    Jika kamu pernah mengalami mata kiri yang kedutan di bagian atas, maka ini akan memberi pertanda baik untukmu.

    Sebab, kamu akan memperoleh keuntungan dan rezeki yang melimpah, rezeki tersebut bisa datang secara tak terduga dan sangat mengejutkan.

    Selain itu, makna dari kedutan mata kiri atas juga bisa menjadi pertanda bahwa keinginan selama ini yang kamu inginkan akan segera terkabul.

    5. Arti Mata Kiri Kedutan Menurut Medis

    Selain memiliki arti tertentu dalam primbon, namun dalam dunia medis mata kiri yang kedutan bisa disebut dengan myokymia.

    Myokymia sendiri adalah kejang otot pada kelopak mata yang berulang dan tidak disengaja sehingga menyebabkan mata menjadi kedutan.

    Mata kiri kedutan artinya memang berbeda-beda.

    Akan tetapi hal ini tidak serta merta harus dipercayai karena itu adalah sebuah kepercayaan yang belum tentu benar adanya.

    Langkah yang tepat adalah kamu harus tetap berhati-hati dan selalu berdoa agar kabar baik selalu datang di kehidupanmu.

  • 5 Mitos Jawa yang Masih Dipercaya Hingga Sekarang

    5 Mitos Jawa yang Masih Dipercaya Hingga Sekarang

    Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan tradisi, salah satunya adalah keberadaan berbagai mitos yang telah diwariskan secara turun-temurun.

    Setiap daerah memiliki cerita mitosnya sendiri, termasuk Pulau Jawa, yang sampai saat ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat meskipun zaman telah berubah.

    Mitos-mitos ini sering kali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk larangan, pantangan, maupun kebiasaan yang dianggap membawa keberuntungan atau malapetaka.

    Mitos Jawa yang Masih Dipercaya

    Di era modern seperti sekarang, mungkin sebagian dari kita sering mendengar orang-orang membicarakan mitos-mitos yang konon memiliki pengaruh terhadap nasib atau kehidupan.

    Meski terlihat kuno, banyak dari mitos ini tetap dipertahankan karena dianggap sebagai bagian dari budaya dan identitas masyarakat.

    Berikut beberapa mitos Jawa yang masih dipercaya hingga kini.

    1. Menabrak kucing merupakan pertanda sial

    Salah satu mitos yang masih banyak dipercayai adalah jika seseorang menabrak kucing, maka akan mendatangkan kesialan. Bagi sebagian orang, membiarkan kucing yang tertabrak tanpa melakukan sesuatu dianggap dapat menimbulkan nasib buruk. Padahal, hal ini lebih bersifat kepercayaan budaya dan tidak memiliki dasar ilmiah.

    2. Menyapu rumah yang tidak bersih berhubungan dengan jodoh

    Mitos lain yang cukup terkenal adalah keyakinan bahwa rumah yang disapu tapi tidak bersih akan memengaruhi jodoh, seperti mendapat suami yang brewokan. Mitos ini mungkin terdengar lucu, namun sebenarnya ditujukan agar masyarakat menjaga kebersihan rumah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

    3. Mandi di malam hari mengundang makhluk halus

    Banyak orang Jawa percaya bahwa mandi di malam hari adalah pamali karena dapat mengundang makhluk halus. Mitos ini berkembang dari tradisi lama yang ingin menekankan kehati-hatian pada malam hari. Faktanya, mandi malam sama sekali tidak berhubungan dengan hal-hal mistis.

    4. Nasi menangis jika tidak dihabiskan

    Mitos ini sering diceritakan oleh orang tua kepada anak-anak agar tidak membuang makanan. Konon, jika sisa nasi dibiarkan, nasi akan “menangis”. Tentu ini hanyalah simbol agar semua orang menghargai makanan dan mengajarkan kebiasaan tidak menyia-nyiakan rezeki.

    5. Kejatuhan cicak pertanda sial

    Kejatuhan cicak di kepala dipercaya dapat membawa sial bagi yang mengalaminya. Bahkan beberapa orang mandi lengkap dengan pakaian untuk “menghilangkan sial”. Padahal ini hanyalah kebetulan semata dan tidak ada hubungan antara kejatuhan cicak dengan nasib buruk seseorang.

    Mitos-mitos ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya tradisional terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

    Meski sebagian bersifat simbolik atau lucu, mitos tetap menjadi bagian dari identitas budaya dan sarana pendidikan moral, seperti menghargai makanan dan menjaga kebersihan. Apakah kamu percaya atau bahkan pernah mengalami sendiri salah satu dari mitos ini?

  • 9 Mitos Tentang Kucing, Nomor 4 Menyeramkan!

    Kucing adalah salah satu jenis hewan peliharaan yang diminati banyak orang tak mengenal usia dan jenis kelamin. Hal tersebut dikarenakan hewan yang satu ini memang menggemaskan juga lucu.

    Mitos Kucing

    Namun, di balik tingkah yang menggemaskan, beredar mitos yang cukup mengerikan.

    Ya, ada banyak sekali mitos tentang kucing yang membuat orang harus berpikir dua kali untuk mengasuh kucing. Apa saja mitos kucing tersebut? Berikut diantaranya.

    1. Kucing Hitam Pembawa Sial

    Beredar kabar yang mengatakan bahwa kucing sial membawa sial sehingga tak sedikit orang yang enggan merawatnya karena takut ketiban sial.

    Parahnya lagi, ada anggapan lebih ekstrem yang mengatakan jika memelihara kucing hitam membuat pemiliknya cepat meninggal.

    2. Kucing Hitam Jelmaan Tukang Sihir

    Masih soal kucing hitam. Ada juga mitos yang mengatakan bahwa kucing hitam adalah jelmaan tukang sihir.

    Maka banyak orang-orang yang takut ketika bertemu kucing hitam di malam hari, apalagi saat melihat matanya yang berkilau.

    3. Musibah Datang Saat Kucing Menjilat Tangan

    Pernah dengar mitos yang satu ini? Banyak kabar seliweran yang mengatakan bahwa kucing memiliki kemampuan untuk membaca masa depan, salah satunya adalah musibah yang akan terjadi.

    Mitosnya, jika kucing menjilat-jilat tangannya sendiri, akan ada hujan badai datang.

    4. Jenazah Bisa Hidup Lagi Jika Dilangkahi Kucing

    Mitos yang satu ini cukup mengerikan. Bagaimana tidak, dikatakan bahwa jenazah yang dilangkahi akan hidup kembali untuk beberapa saat.

    Seramnya lagi, jenazah tersebut akan refleks memeluk orang terdekat dengan erat. Hiii ngeri!

    5. Kucing Punya 9 Nyawa

    Mitos yang satu ini sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Bahkan saking populernya mitos ini, banyak percobaan dilakukan untuk membuktikannya.

    6. Menabrak Kucing Bisa Bawa Sial

    Mitos selanjutnya adalah ketika kita menabrak kucing, maka kita akan mendapat kesialan bertubi-tubi. Untuk membatalkan kesialan itu, kita harus menguburnya secara benar.

    7. Kucing Bisa Melihat Hantu

    Mitos tentang kucing ini merupakan mitos yang paling populer. Dikatakan bahwa kucing bisa melihat hantu.

    Ketika melihat hantu, maka ia akan bertingkah aneh dengan mengeluarkan suara seolah-olah sedang mengusir hantu tersebut.

    8. Kucing Bisa Buat Kualat

    Wanita hamil dilarang berlaku kasar pada kucing karena bisa kualat dan kembali pada anak yang sedang dikandung. Misalnya saat hamil menyiram kucing, mitosnya nanti anak lahir dengan warna belang.

    9. Kucing Keturunan Harimau

    Mitos ini cukup menakutkan karena kucing disebut-sebut sebagai keturunan harimau yang siap menerjang siapa saja ketika perut lapar.

    Nah, itulah beberapa mitos tentang kucing. Bagaimana tanggapan kalian? Percaya atau tidak dengan mitos yang beredar tersebut?

  • 7 Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah KKN Desa Penari

    7 Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah KKN Desa Penari

    Beberapa hari belakangan ini, masyarakat Indonesia sedang dihebohkan dengan kisah KKN Desa Penari.

    Ya, dalam cerita yang diunggah oleh akun twitter @simpleM81378523 itu, dia menceritakan bahwa ada sekelompok Mahasiswa asal kota S yang sedang melakukan pengabdian kepada masyarakat di kota B.

    Namun, pengabdian itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Proker yang sudah dirancang sedemikian rupa tak dapat diselesaikan karena terjadi insiden cukup menyeramkan selama mengabdi di Kota B tersebut. Bahkan, sampai merenggut nyawa.

    Penulis membuat dua cerita yang berbeda sudut pandang. Sudut pandang pertama adalah versi Nur, selanjutnya adalah versi Widya (keduanya adalah anggota KKN di Desa Penari). Walau berbeda sudut pandang, keduanya masih memiliki rentetan cerita yang sama dan menyiratkan unsur mistis yang kuat.

    Tentu saja fenomena yang sedang viral ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Ada yang percaya, ada juga yang menganggap bahwa cerita itu hanyalah khayalan belaka.

    Bahkan, tidak sedikit yang mencoba untuk menguak kebenarannya dengan observasi langsung ke tempat-tempat yang disinyalir menjadi lokasi KKN tersebut.

    Karena begitu hebohnya berita ini, sampai-sampai ada informasi seliweran di media sosial jika kisah KKN di Desa Penari akan diangkat menjadi sebuah film!

    Namun, terlepas dari itu semua, kali ini Sastrawacana akan membahasnya dengan sudut pandang lain, yakni hikmah serta pelajaran yang bisa kita dapat dari cerita seram tersebut.

    Sebab, setiap peristiwa pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik agar dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

    Nah, apa saja pelajaran dan hikmah dari kisah KKN di Desa Penari? Berikut diantaranya:

    1. Patuhi Ucapan Orang Tua

    Dalam cerita KKN Desa Penari, ada sebuah dialog antara tokoh ‘Widya’ dengan orang tuanya. Yang mana orang tua Widya merasa kurang berkenan jika Widya melakukan KKN di Desa yang notabene adalah hutan di wilayah timur.

    Sangking khawatirnya, orang tua Widya juga menanyakan apakah KKN bisa ditunda tahun depan. Namun, Widya bersikeras untuk meyakinkan orang tuanya dengan berbagai alasan.

    Alhasil, walau dengan berat hati, orang tuanya mengizinkan.

    Dari penggalan cerita tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwasanya ucapan orang tua itu sakral. Naluri dan insting orang tua sangat kuat, apalagi yang berususan dengan anaknya.

    Ketika orang tua tidak mengizinkan atas apa yang kita lakukan, maka patuhilah agar tidak terjadi sesuatu yang buruk di kemudian hari.

    2. Jangan Memaksakan Kehendak

    Dalam awal cerita, ada seorang tokoh bernama ‘Ilham’ yang memaksa Pak Prabu agar adiknya dapat KKN di desa angker tersebut.

    Pak Prabu adalah Kepala Desa di sana, jadi dia pasti sangat tahu kondisi dan situasi desanya sehingga menolak secara tegas jika ada Mahasiswa yang ingin mengabdi di sana.

    Namun, di sisi lain Ilham tetap memaksa Pak Prabu dengan berbagai alasan. Hingga pada akhirnya, Pak Prabu dengan berat hati mengizinkan sekelompok Mahasiswa tersebut untuk KKN di desanya.

    Pelajaran yang dapat dipetik adalah agar kita tidak memaksakan kehendak, apalagi sampai memaksa orang lain.

    Sebab, kadang orang lain lebih mengerti daripada kita sehingga jika kita mendapat penolakan, cobalah untuk memahami maksud dari penolakan tersebut. Bukannya malah memaksakan kehendak.

    3. Menjunjung Tinggi Etika dan Norma

    Dalam cerita KKN horor ini, ada beberapa dialog yang menceritakan bahwa Mahasiswa tersebut kerap mengeluarkan kata-kata yang tak pantas sehingga membuat orang lain sedikit tersinggung.

    Ingatlah, Indonesia terdiri dari banyak kultur dan budaya. Tidak semuanya bisa menerima candaan kita. Bahkan, kadang budaya candaan kita bisa dianggap sebuah penghinaan oleh budaya masyarakat di tempat lain.

    Maka dari itu, menjaga perkataan serta menjunjug tinggi etika dan norma adalah hal yang perlu dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja.

    Apalagi kita adalah orang berpendidikan, maka prinsip tersebut harusnya sudah melekat dalam diri.

    4. Menjaga Perilaku

    Dalam penggalan cerita KKN Desa Penari versi Nur, ada sebuah part yang menjelaskan jika salah satu dari anggota KKN melakukan aktivitas yang diluar batas bersama teman sekelompoknya.

    Parahnya lagi, aktivitas diluar nikah tersebut dilakukan dua kali dengan dalih ‘khilaf’. Padahal, apapun alasannya, perbuatan tersebut sangat tidak pantas dilakukan.

    Apalagi status mereka adalah Mahasiswa yang sedang mengabdi kepada masyarakat dan ingin membangun desa serta SDM masyarakat setempat.

    Nur saja merasa geram ketika melihat perilaku temannya. Sebab Nur paham jika hal tersebut memang tidak layak dan tidak boleh dilakukan menurut agama.

    Jadi, menjaga perilaku dari tindakan-tindakan kurang terpuji adalah kewajiban setiap orang, tanpa terkecuali.

    5. Jauhi Syirik

    Jika ditarik benang merahnya, cerita seram ini bermula dari kelakuan syirik anggota KKN yang meminta bantuan makhluk halus untuk dapat mengabulkan permintaannya. Tentu saja ini adalah perbuatan syirik, menyekutukan Tuhan.

    Tiada lain tempat meminta hanyalah kepada Allah S.W.T, Tuhan Yang Maha Esa. Namun yang dilakukan oleh anggota KKN tersebut sudah melampaui batas, meminta kepada makhluk halus atau jin penunggu desa.

    Alih-alih dikabulkan, justru kita akan disesatkan oleh makhluk halus tersebut dengan berbagai tipu dayanya.

    Kita akan menderita jika sampai terseret dalam area syirik. Ingat, jangan turuti nafsu karena bisa menghancurkan keimanan.

    6. Mendengar Kata Hati

    Sebenarnya, sebelum mereka melakukan kegiatan KKN di desa tersebut, ada firasat-firasat yang kurang indah.

    Hanya saja mereka tidak jeli mendengar kata hati. Ingatlah, kata hati adalah sebuah bisikan yang tulus dari dalam diri. Jangan sampai akal mengelabuinya sehingga kata hati menjadi redup sehingga sulit tuk didengar.

    Sering terjadi, kata hati yang tidak digubris membuat orang jatuh ke dalam jurang penyesalan dalam segala urusan, seperti urusan asmara maupun karir.

    Memang benar, mendengarkan kata hati adalah hal yang cukup sulit karena tak terdengar dan tak tampak.

    Tapi pada dasarnya kita semua bisa membaca kata hati asalkan tahu bagaimana cara membedakan antara kata hati dan kata pikiran.

    Untuk mempelajari itu, kalian bisa mendapatkannya secara lengkap melalui buku #CintaPentiumSatu yang sudah tersedia di seluruh toko buku Indonesia.

    Pelajarilah cara membaca kata hati dari sekarang, agar keputusan yang kita ambil tidak membuat kita menyesal di kemudian hari.

    7. Jadilah Lelaki Pemberani

    Jika memang menaruh hati pada perempuan, maka jadilah lelaki pemberani dengan berjuang secara sehat. Cari cara dan atur strategi agar wanita yang kita suka bisa menerima kita.

    Tapi ingat, cara yang digunakan haruslah cara yang sehat, bukan dengan bantuan makhluk halus, apalagi sampai ilmu hitam berupa pelet. Ingatlah, sesuatu yang didapatkan secara cepat, akan berakhir cepat pula.

    Selain itu, tidak akan ada kepuasaan serta kebanggan dalam diri ketika berhasil mendapatkan wanita dengan cara-cara yang tidak terpuji.

    Ada banyak cara bersih untuk memikat hati wanita, jadi kenapa harus menggunakan cara yang kotor?

    Nah, itulah beberapa hikmah serta pelajaran yang dapat dipetik dari kisah mengerikan KKN Desa Penari yang sedang viral saat ini. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di Sastrawacana.

    Penulis: Maulana Affandi (Penulis Buku #CintaPentiumSatu)

    Buku #CintapentiumSatu bisa kalian dapatkan di toko buku atau Gramedia terdekat di kota kalian. Semoga ratusan lembar dalam buku tersebut bisa menjadi inspirasi serta pembelajaran bagi kita semua untuk mengarungi kehidupan yang lebih baik sehingga menggapai kesuksesan dunia dan akhirat.

    Temukan saya di Media Sosial:

  • Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Nur Part 5

    Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Nur Part 5

    Cerita ini bersumber dari cuitan akun twitter @simpleM81378523 yang tengah viral saat ini. Daripada penasaran, yuk simak kisah lengkapnya!

    —————

    Nur menyerah, namun firasat buruknya, semakin terasa

    (ada hal ganjil disini, yang Nur sadari di kemudian hari, orang atau makhluk yang memberi Nur selendang ini, siapa?

    sampai akhir cerita ini belum dipecahkan, bahkan dari saat gw bicara sama mbak Nur, beliau hanya berasumsi, namun tidak berani mengatakan)

    puncaknya, adalah setelah malam panjang itu. disini, petaka yang paling di takutkan oleh Nur, terjawab.

    Nur terbangun ketika subuh, ia tersentak saat mendengar Widya menangis, tangisanya sangat keras sampai Nur terkesiap lalu terbangun dari tidurnya

    saat ia melihat, apa yang membuatnya terbangun, Nur melihat Ayu, dengan mata terbuka, ia mengangah, seperti mau mengatakan sesuatu

    belum berhenti sampai disana, Nur tidak menemukan Widya di tempatnya, hal itu, membuat Nur menjerit sehingga Wahyu dan Anton merangsek masuk dengan wajah khawatir.

    “onok opo Nur? (ada apa Nur?)

    “Widya ilang mas” (Widya hilang mas)

    Wahyu dan Anton terhenyak sesaat, sebelum-

    “Bima yo gak onok nang kamar loh”(Bima juga gak ada di dalam kamar) kata Anton buru-buru,

    sontak, semua mata memandang Ayu, Wahyu terhentak bingung.

    “Ayu kenek opo Nur” (Ayu kenapa Nur)

    “celukno pak Prabu!!” (panggilkan pak Prabu)

    Anton yang mendengarnya langsung pergi.

    “yu, tangi yu!!” (yu ayok bangun yu) namun, Ayu masih sama, ia hanya melihat langit-langit, Nur manah mulutnya agar tertutup, namun, ia terus mengangah, Wahyu yang melihat tidak bisa berbuat apa-apa

    “Cok onok opo seh iki” (asem, ada apa sih ini)

    “celokno warga ojok ndelok tok!”

    Wahyu pun ikut pergi, Nur terus menahan mulut Ayu. sampai Pak prabu datang bersama Anton dan melihatnya.

    “kok isok koyok ngene to nduk” (kok bisa sampai begini sih nak)

    Pak prabu, pergi ke pawon, ia kembali membawa teko air, Nur menahan isi kepala Ayu, dan meminumkanya.

    tiba-tiba, ayu menutup mulutnya, namun, ia masih belum bereaksi, tidak beberapa lama, warga sudah berdatangan bersama Wahyu, saat itu, rumah itu di penuhi warga, tanpa banyak bicara, pak Prabu menyuruh beberapa orang untuk memanggil mbah Buyut.

    dan warga itu pun pergi.

    Nur menjelaskan kronologi kejadian itu, namun, ia meminta pak Prabu tidak menceritakan semua ini kepada warga, Anton dan Wahyu yang mendengarnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

    “Asu, kok isok loh” (anj*ng! kok bisa bisanya) Wahyu tampak merah padam mendengarnya.

    pak Prabu pun mengumpulkan warga, meminta mereka semua pergi menyisir setiap penjuru Desa, ia beralaskan, bahwa Bima dan Widya hilang kemarin malam, dan saat ini belum kembali.

    meski warga awalnya bingung, bagaimana bisa, namun mereka semua langsung bergerak, termasuk Wahyu

    Anton pun begitu, ia ikut menyisir ke hilir sampai hulu sungai, sebisa mungkin dengan beberapa warga yang membawa parang dan berbagai barang yang tidak pernah ia pahami.

    Nur terus menangis, melihat kondisi Ayu, membuat ia tidak bisa menahan kesedihan yang sudah memenuhi hatinya

    pak Prabu meminta penjelasan lebih detail, setelah itu, Nur menunjukkan barang yang seharusnya ia berikan kepada pak Prabu saat mendapatkanya.

    tepat ketika membuka kotak itu, pak Prabu yang melihatnya, kaget bukan main, sampai ia tiba-tiba berteriak marah “OLEH TEKAN NDI IKI?!”

    (DAPAT DARIMANA KAMU BENDA INI!!)

    Nur yang kaget, kemudian menjelaskan sisa ceritanya, disana, pak Prabu terlihat frustasi, ia kemudian mengatakan kepada Nur, “nek kancamu gak ketemu, ikhlasno, ben aku sing ngadepi masalah iki” (bila sampai temanmu, tidak ditemukan, ikhlaskan-

    biar aku yang menghadapi sisanya)

    Nur pun bertanya, benda apa itu sebenarnya, namun pak Prabu tidak bicara, ia harus menunggu datangnya mbah Buyut yang akan menceritakan semuanya.

    berjam-jam sudah di lewati namun belum ada kabar satupun dari warga yang kembali, sampai terdengar suara motor mendekat, manakala Nur dan pak Prabu berdiri untuk melihat sesiapa yang datang,

    mbah Buyut mendetak dengan tergopoh-gopoh, seakan mencari sesuatu,

    mbah Buyut mengambil kawaturih, kemudian bertanya siapa yang punya, Nur mendekat, menjelaskan semuanya, ekspresi tenang mbah Buyut, tidak terlihat sama sekali.

    kemudian ia menatap Ayu, helaan nafas berat mbah Buyut keluarkan, kemudian ia, meminta Prabu membuatkan kopi hitam

    mbah Buyut duduk sembari berpikir, banyak pertanyaan yang ia ajukan mulai, sejak kapan ada benda seperti ini disini, lalu bagaimana bisa selendang itu di miliki Ayu,

    Nur menceritakan semuanya,

    saat menyesap kopi itu, mbah Buyut berujar “kancamu, keblubuk angkarah”

    (temanmu terjebak dalam pusaran)

    “trus, yok nopo mbah?” (lalu bagaimana mbah)

    “siji kancamu wes ketemu, tapi sukmane gorong, tenang sek, yo” (satu temanmu sudah ketemu lagi, tapi rohnya belum, sabar ya)

    tidak beberapa lama, kerumunan warga mendekat, Wahyu masuk wajahnya pucat

    seorang warga membopong seseorang.

    ketika Nur melihatnya, ia tidak bisa menghentikan jeritanya, manakala melihat Bima kejang-kejang layaknya seorang yang terkena epilepsi.

    Wahyu, segera memeluknya, menutupi Nur agar tidak melihat Bima yang menjadi seperti itu.

    Mbah buyut kemudian mengatakan, bahwa bila sukma dua orang ini sedang terjebak, namun, ada satu orang yang bukan hanya sukmanya yang hilang atau di sesatkan, melainkan raganya juga ikut disesatkan, ia adalah Widya, orang yang paling di inginkan oleh, Badarawuhi namun, ia meleset

    Mbah buyut menunjukkan kawaturih, yang harusnya memiliki pasangan, benda ini di letakkan di lengan seorang penari, sebagai susuk, entah ada kejadian apa, Badarawuhi menginginkan benda ini ada pada Widya, namun, Nur yang menemukanya, kemudian mengambilnya, membuat benda ini-

    kehilangan pemilik, yang maka artinya, Nur yang memiliki, tapi, Nur di lindungi, itulah alasan kenapa Nur selalu merasakan bahwa badanya terasa berat di jam-jam tertentu, mbah Dok yang melindungi Nur sudah berkelahi hampir dengan setengah penghuni hutan ini.

    setelah itu, pak Prabu meminta agar Ayu dan Bima di tutup oleh kain selendang, di ikat dengan tali kain kafan, membiarkanya seolah-olah mereka sudah tidak bernyawa.

    mbah Buyut, pergi ke kamar, ia akan mencari Widya, menjelma sebagai Anjing hitam dengan ilmu kebatinanya

    pak Prabu menceritakan bahwa memang ada rahasia yang tidak ia katakan dan alasan kenapa ia menolak keras di adakan kegiatan ini sejak awal.

    tepat di samping lereng, ada tapak tilas, tempat penduduk desa ini mengadakan pertunjukkan tari, bukan untuk manusia namun untuk jin hutan

    ia mengatakan, dulu, setiap di adakan tarian itu, untuk menghindari balak (bencana) bagi desa ini, seriring berjalanya waktu, rupanya, mereka yang menari untuk desa ini, akan di tumbalkan, masalahnya, setiap penari haruslah dari perempuan muda yang masih perawan.

    “tapi Ayu pak” kata Nur membantah.

    “itu masalahnya” kata pak Prabu, “asumsi saya, Ayu sejak awal hanya sebagai perantara, ke Widya lewat Bima, namun, Ayu tidak memenuhi tugasnya, akibatnya, Ayu di buatkan jalan pintas, ia di beri selendang hijau itu. tau darimana selendang itu?”

    selendang para penari.

    pak Prabu kemudian duduk, matanya merah padam, “seharusnya saya menolak habis-habisan bila bukan karena dia adik teman saya” “selendang itu, adalah selendang yang keramat, tidak ada lelaki yang bisa menolak selendang itu saat di pakai oleh perempuan”

    “nak Ayu tidak salah, nak Bima pun begitu, saya yang salah, seharusnya saya tolak kalian semua, toh anak-anak kami pun tidak ada yang tinggal disini, tempat ini, bukan untuk anak setengah matang seperti kalian”

    mendengar itu, membuat Nur tidak kuasa melihat Ayu,

    hari semakin petang, ketika Matahari sudah benar-benar tenggelam, terdengar orang berteriak heboh, ia meneriakkan bila Widya sudah ketemu, pun saat itu juga, Mbah Buyut keluar, wajahnya tampak kecewa, sepertinya ia tidak bisa membawa Ayu dan Bima pulang, lebih tepatnya belum

    momen ketika melihat Widya, membuat Nur tidak bisa bicara apa-apa, ia berjalan dengan gaguk, seperti barusaja menghadapi peristiwa yang sangat berat, bahkan, Widya berjalan dengan mata yang kosong, ia melihat Ayu terus menerus, mencoba memahami situasi.

    “Wid, tekan ndi awakmu” (Wid darimana kamu?) tanya Nur,

    “onok opo iki Nur” (ada apa ini Nur) kata Widya, matanya sembab melihat Ayu dan Bima terbujur,

    Nur tidak sanggup menceritakanya, Wahyu kemudian berdiri mengatakan semuanya, Widya menjerit sejadi-jadinya, semua diam.

    selang beberapa saat, mbah Buyut keluar, ia memanggil Widya, menyuruhnya untuk masuk, dan entah apa yang mereka bicarakan.

    Nur masih mencoba membangunkan Ayu, meski hal itu, mustahil bisa dilakukan.

    ketika melihat mbah Buyut keluar, Nur, Wahyu, dan Anton yang baru tiba, ikut masuk ke dapur, ia hanya melihat Widya murung, seperti memikirkan sesuatu.

    Wahyu yang sedari tadi sudah menahan diri, mengatakan bahwa Bima dan ayu sudah kelewatan sehingga mereka juga kena getahnya.

    Malam itu juga, pak Prabu mengumpulkan semua anak yang tersisa, ia mengatakan, sudah menghubungi pihak kampus, pun dengan kakak Ayu, yang sedang dalam perjalanan kesini. esok, mungkin mereka tiba.

    mbah Buyut, menjaga rumah ini, konon, semua lelembut sudah mengepung rumah ini.

    pagi itu, Nur menemui pak Prabu meminta seharusnya ia menahan diri sebelum informan ini keluar, karena sebelumnya, mbah Buyut mengatakan bisa mengembalikan Ayu dan Bima, hanya tinggal menunggu waktu. namun ucapan pak Prabu membuat Nur tidak berkutik.

    “nek pancen isok, yo gak bakal akeh sing wes dadi korban, awakmu eroh patek ireng iku opo, nyoh kui korban sak durunge, nang ndi sak iki, wes gak onok” (kalau memang bisa, ya gak mungkin ada korban, kamu tahu, kenapa ada nisan dengan kain hitam, itu korban sebelum kejadian ini)

    “gak nutup kemungkinan kancamu isok mbalik, tapi kemungkinane cilik, gak usah berharap, mbah Buyut asline wes mblenger, kudu urusan ambek bangsa iku” (gak menutup kemungkinan memang temanmu bisa kembali, tapi, kemungkinanya kecil, mbah Buyut sudah bosan, berurusan dengan mereka”

    siang hari, rombongan orang dari kampuspun dengan beberapa wali datang, bahkan suara membentak dari mas Ilham bisa terdengar dari luar, ada tawar menawar dimana mbah Buyut menjanjikan agar Ayu dan Bima tetap disini, namun pihak keluarga menolak sampai mengancam, ini akan tersebar

    akhir dari perjalanan KKN mereka selesai disini, bukan hanya pak Prabu yang terseret, pihak kampus efeknya lebih besar lagi, sampai harus menjanjikan bahwa masih ada jalan lain mengembalikan mereka.

    KKN mereka, resmi di coret, tak ada hasil apapun selama pra kerja mereka.

    Widya, butuh waktu lama untuk pulih setidaknya itu yang Nur dengar, sementara Nur menjelaskan kronologi kejadian pada Abah dan Umi, orang tua Bima, yang tidak henti-hentinya, mengadakan doa bersama di rumahnya, pukulan keras setiap Nur melihat air mata umi menetes.

    ada kejadian menarik, dimana Nur di ceritakan oleh Umi, semalam sebelum Bima akhirnya meninggal, ia mengetuk pintu kamar, disana ia meminta maaf sama Abah dan Umi, kemudian pamit kembali ke kamar, sembari mengatakan ular-ular, dan di akhiri dengan hembusan nafas terakhirnya

    namun, Nur juga diberitahu Abah, bahwa, apa yg di katakan Umi tempo hari tidak usah di pikirkan, karena Umi menceritakan tentang mimpinya, anaknya Bima masih kejang-kejang dan memang meninggal pada malam kejadian , semua itu mimpi Umi, mungkin itu cara Bima pamit dan memberitahu

    masih mau lanjut apa besok saja, sekarang yang mbak Nur saksikan saat mendampingi Ayu, ia di ajak ke Ng**i yang katanya bisa menyembuhkan beliau.

    sedikit panjang dan gw jadikan 1 thread saja. gimana?

    Maksudnya gw sambung sama thread ini. Biar gak usah nyari thread lagi ya. Gw mau kelarin malam ini semuanya.

    Mas Ilham menghubungi Nur, beliau meminta tolong agar Nur bersedia mendampngi Ayu selama proses penyembuhan, dimana dokter sudah angkat tangan dan mendiagnosa Ayu, lumpuh total yang tidak di ketahui penyebabnya. ia di beritahu oleh temanya, bahwa Nur adalah orang yang tahu semua

    malam itu, Ayu di bawa ke kabupaten Ng**i, di perjalanan, Nur selalu melihat Ayu, matanya di tutup paksa dengan kain, melihatnya kadang membuat Nur merasa Ayu sadar ada dia di sampingnya.

    namun tetap saja nihil, sampailah mereka di rumah orang yang menawarkan bantuan itu

    sesampai disana, Ayu di tidurkan di atas pelepah daun pisang. yang kemudian, di masukkan dalam sebuah keranda, Nur yang melihat itu, mengatakan pada mas Ilham bahwa itu perbuatan tidak benar, namun, mas Ilham menolak. mengatakan mungkin masih bisa, mas Ilham sangat frustasi.

    butuh waktu lama, sampai orang yang membantu tiba tiba, bangun dan mengatakan ia tidak sanggup.

    Ayu, tidak dapat di selamatkan, kecuali, di bawa keluar dari pulau jawa. namun, hal itu, juga mustahil dilakukan.

    “ayu gorong wayahe mati, dadi, keadaane yo bakal koyok ngene sampe wayahe mati” (ayu belum seharusnya meninggal, jadi dia akan terjebak seperti ini sampai waktunya tiba)

    “di bawa saja ke pulau K********N, saya ada saudara disana” kata mas Ilham waktu itu.

    “masalahe arek iki gak oleh cidek segoro, nek cedek segoro, isok di matekno” (masalahnya, anak ini di larang mendekati laut/samudera, bila tetap nekat dia mati)

    “kan isok numpak pesawat” (kan bisa naik pesawat) kata mas Ilham,

    “isok pesawat gak liwat segoro?” (memang bisa pesawatnya gak usah melewati laut)

    setelah darisana itu, Ayu akhirnya di pulangkan, ia ada di rumah itu kurang lebih 3 bulan, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir juga, setelah orang tua Ayu mengatakan sudah ikhlas, termasuk mas Ilham.

    keikhlasan orang tua Ayu termasuk mencabut gugatan terhadap pihak kampus, dan juga sudah tidak mau menyalahkan siapapun, Ayu di kebumikan di makam keluarga, sembari di doakan, di situ, ibunya mengaku, sering melihat Ayu meneteskan air mata, dan inilah akhir cerita mbak Nur.

    jadi gw bakal tutup Thread ini dengan pesan mbak Nur dan alasanya kenapa ia mau bercerita.

    sejak awal, mbak Nur tidak begitu tertarik dengan unsur seram dalam ceritanya, ia ingin menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya, agar siapapun kita, tetap menjaga tata krama

    ini bukan tentang, hal yang sepele, siapapun kamu, dimanapun kamu berada, sekali lagi, jaga sikap dan prilaku karena sesungguhnya sebagai tamu, selayaknya tetap bersiteguh pada warisan pendahulu kita yang mengutamakan sopan santun terhadap tuan rumah. gw simple_man undur diri.

    mohon maaf atas typo, dan waktu yang kentang ya, sekali lagi, gw ucapkan banyak terimakasih yang sudah mengikuti sejak awal, dengan ini, Thread ini gw tutup selamanya!!

    Sumber: @SimpleM81378523

     

  • Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Widya Part 4

    Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Widya Part 4

    Cerita ini bersumber dari cuitan akun twitter @simpleM81378523 yang tengah viral saat ini. Daripada penasaran, yuk simak kisah lengkapnya!

    —————

    Namun, saat Widya mencoba pergi, tanganya sudah di cengkram sangat kuat.

    “kerasan nak nang kene,” (betah tinggal disini)

    Widya tidak menjawab sepatah katapun, suaranya mengingatkanya pada neneknya sendiri, benar-benar melengking.

    “yo opo cah ayu, wes ngertos badarawuhi” (gimana anak cantik, sudah kenal sama penunggu disini)

    Widya mulai menangis.

    “lo lo lo, cah ayu ra oleh nangis, gak apik” (anak cantik gak boleh menangis) Matanya masih melotot, pergelangan tangan Widya di cengkram dengan kuku jari Nur.

    “cah lanang sing ngganteng iku ae wes kenal loh kale Badarawuhi” (anak ganteng itu saja sudah kenal sama dia)

    “Nur” ucap Widya sembari tidak bisa menahan takutnya lagi, suasana di ruangan itu benar-benar baru kali ini bisa membuat Widya setakut ini.

    “iling Nur iling” (sadar Nur sadar)

    Nur tertawa semakin kencang, tertawanya benar-benar menyerupai tertawa yang membuat Widya diam takut.

    “awakmu gak ngerti, sopo aku” (kamu gak ngerti siapa aku?)

    “mbok pikir, nek gak onok aku, cah ndablek model koncomu sing gowo Bolo alus nang kene isok nyilokoi putu ‘ku, aku, sing jogo Nur sampe sak iki, ra tak umbar, Bolo alus nyedeki putuku. ngerti”

    (kamu pikir, kalau tidak ada aku, anak nakal seperti temanmu yang sudah membawa penunggu disini bisa mencelakai cucuku, aku yang selama ini sudah menjaganya, tidak akan ku biarkan mereka mendekati cucuku. mengerti)

    “nyilokoi nopo to mbah” (mencelakai bagaimana?)

    “cah ayu, kancamu siji bakal ra isok balik. nek awakmu rong sadar, opo sing bakal kedaden, tak ilingno, cah ganteng iku, bakal gowo ciloko, nyeret kabeh nang petoko nang deso iki”

    (anak cantik, satu dari temanmu tidak akan bisa kembali, jika kamu belum sadar, semuanya akan terjadi, ingatkan anak itu, yang sedang membawa petaka jika di biarkan semuanya akan kena batunya di desa ini)

    setelah mengatakan itu, Nur teriak keras sekali, lalu jatuh terjerembap.

    Widya menggotong Nur kembali ke kamarnya, menungguinya sampai ia terbangun dari pingsanya, dan benar saja, ia tidak tahu kenapa ia bisa tertidur, mungkin terlalu terbawa ketika sholat.

    Nur bercerita saat di pondok, kalau sudah kudu menikmati sholatnya, biasanya sampai ketiduran.

    entah apa yang Widya pikirkan, sampai tiba-tiba ia bertanya hal yang Nur paling tidak sukai

    “sejak kapan bisa lihat begituan?”

    awalnya, Nur salah tingkah, tidak mau cerita, sampai ketika Widya menungguinya, Nur mengatakanya, sejak mondok, ia bisa melihatnya, karena memang harus

    “Ghaib itu ada” kata Nur, “sebenarnya, tiap orang ada yang jaga, jenisnya berbeda-beda, ada yang jahat, ada yang baik, ada yang cuma mengikuti, ada yang cuma numpang lewat”

    “awakmu onok sing jogo?” (kamu ada yang jaga?) tanya Widya.

    “jarene onok” (katanya ada) ucap Nur, suaranya pelan, sepeti tidak mau menjawab.

    “kok jarene” (kok katanya)

    “aku ra tau ndelok Wid, aku di kandani kancaku sak durunge metu tekan pondok, jarene, sing jogo aku, wujud’e mbah dok, mbahku biyen)

    (aku belum pernah melihatnya langsung, aku di kasih tahu temanku sebelum keluar dari pondok, katanya, wujudnya menyerupai nenekku)

    setelah mendengar itu, Widya hanya mendengar Nur, bercerita tentang pengalamanya selama mondok, namun, Widya lebih memikirkan hal lain.

    23 Hari, sudah di lalui, setiap hari, perasaan Widya semakin tidak enak, di mulai dari satu persatu warga yang membantu prokernya mulai tidak datang satu persatu, kabarnya mereka jatuh sakit, anehnya, itu terjadi di proker kelompok mereka, yang berurusan dengan Sinden.

    pernah suatu hari, Widya mendengar secara tidak langsung, kalau ini semua karena Sindenya mengandung kutukan, tapi pak Prabu bersihkeras itu mitos, takhayul, sesuatu yang membuat warga desanya ketinggalan jaman.

    namun, satu kali, Widya pernah di kasih tahu warga, bila Sinden ini ada yang jaga.

    katanya, Sinden ini dulu, sering di gunakan untuk mandi oleh dia. dia yang di bicarakan ini, tidak pernah di sebut warga, namun yang mencurigakan dari kasus ini adalah, nama Sinden ini, adalah Sinden kembar.

    Sinden kembar. Widya selalu mengulangi kalimat itu.

    Sinden kembar, membuat Widya semakin penasaran

    alasan kenapa pak Prabu memasukkan ini menjadi proker adalah, agar air sungai dapat di alirkan ke Sinden ini, sehingga warga tidak perlu lagi jauh-jauh mengambil air ke sungai yang tanahnya terjal, namun, seperti ada yang ganjil

    Malam itu, Ayu mengumpulkan semua anak, perihal masalah yang mereka hadapi, hampir setengah warga yang membantu proker mereka tidak mau melanjutkan pekerjaanya. alasanya bermacam-macam, sibuk berkebun sampai badanya sakit semua.

    dari semua anak yang punya usul, hanya Bima yang tidak seantusias yang lain.

    di malam itu juga, Widya ingat yang di katakan Wahyu, setiap malam, Bima pergi keluar rumah, entah apa yang di lakukanya.

    Widya, sengaja begadang hanya untuk memastikan, dan ternyata benar, malam itu

    Bima pergi keluar rumah.

    Widya masuk ke kamar Bima, disana ada Wahyu sama Anto, yang pertama Widya lakukan, membangunkan Wahyu, meski enggan, Widya terus memaksanya, setelah Wahyu benar-benar terjaga, Widya memberitahu kalau Bima baru saja keluar.

    Wahyu hanya menatap Widya keheranan,

    “aku lak wes tau ngomong su” (aku kan sudah pernah bilang jing)

    “lha ya, ayo di tutno, nang ndi arek iku” (lha iya, makanya, ayo kita ikuti, kemana anak itu)

    “gawe opo? paling nang omahe prabu, ndandani tong bambu’ne” (buat apa, palingan dia ke rumah prabu, memperbaiki tong sampahnya yang dari bambu)

    “yo wes mboh” (ya sudah terserah)

    Widya keluar dari kamar itu, kemudian ia pergi menyusul Bima, sendirian.

    Bima itu anak cowok yang paling religius, sama kaya Nur, karena mereka memang sudah dekat di kampus. tapi, Anton sering cerita, kalau kadang, dia memergoki Bima Onani di dalam kamar, dan itu tidak sekali dua kali, masalahnya adalah, saat Bima melakukan itu, ada suara perempuan

    Widya tidak terima Bima di katain itu oleh Anton, Widya pun bertanya darimana dia tahu Bima onani?

    “heh, mbok pikir aku ra eroh wong onani iku yo opo?” (kamu pikir saya gak tau bagaimana cowok onani?)

    Widya masih diam, mendengarkan penjelasan Anton.

    “sing dadi masalahe iku guk Bima Onani” “kabeh lanangan pasti tahu onani, aku gak munafik, masalahe, onok suara wedok’e,??”

    (yang jadi masalahnya itu bukan Bima onani, semua cowok pasti pernah, aku gak munafik, masalahnya, ada suara perempuanya.??)

    “pas tak enteni, sopo arek iku, nek gak awakmu, pasti Ayu nek gak Nur, tapi, ra onok sopo sopo sing nang kamar ambek cah kui” (ketika ku tunggu, siapa perempuan itu, ku kira itu kamu, kalau gak ayu atau nur, ternyata, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar sama dia)

    “trus” tanya Widya.

    “suoro sopo sing tak rungokno lek ngunu?” (suara siapa dong yang ku dengar waktu itu)

    “masalahe, aku wes sering krungu, mesti, onok suoro iku” (masalahnya, aku sudah sering dan selalu dengar suara itu)

    cerita Anton membuat pandangan Widya berubah, dan malam itu, ia melihat Bima berjalan jauh ke timur, arah menuju sebuah tempat yang seringkali membuat Widya merinding tiap memandangnya.

    Tipak Talas.

    TIPAK TALAS

    Widya melihat Tipak talas seperti sebuah lorong panjang hanya saja, dindingnya adalah pepohonan besar dengan akar di sana-sini, selain medan tanahnya yang menanjak, di depan Tipak talas, ada gapura kecil, lengkap dengan kain merah dan hitam di sekelilingnya.

    pak Prabu pernah bercerita, kain hitam adalah nama adat untuk sebuah penanda seperti di pemakaman, namun bukankah warna cerah lebih baik untuk menjadi sebuah penanda, sebelum Widya tahu kebenaran dari warga yang bercerita, bahwa hitam yang di maksud adalah simbol alam lain.

    hitam bukan untuk yang hidup, melainkan untuk tanda bagi mereka yang sudah mati. MATI

    lalu, apa maksud penanda warna merah?

    konon, dari seluruh tempat yang di beri penanda sebuah kain di desa ini, hanya gapura ini yang di beri kain warna merah, apalagi bila bukan simbol petaka

    Widya mulai melangkah naik, kakinya tidak berhenti mencari pijakan antara akar dan batu, sembari tanganya mencari sesuatu yg bisa menahan berat tubuhnya

    Malam sangat dingin, dingin sekali. hanya kabut di tengah kegelapan yg bisa Widya lihat, butuh perjuangan keras untuk sampai

    ketika Widya sampai di puncak Tapak tilas, Widya hanya melihat satu jalan setapak, kelihatanya tidak terlalu curam, namun rupanya butuh ekstra perjuangan juga, disana, Widya merasakanya, perasaan yang tidak enak dari tempat ini, semakin kentara, hal itu, membuat Widya merinding.

    jalan setapak itu tidak terlalu besar, di kanan-kiri di tumbuhi rumput dan tumbuhan yang tingginya hampir sebahu Widya, dari sela tumbuhan dan rumput, Widya bisa melihat hutan yang benar-benar hutan, pohon menjulang tinggi dengan tumbuh2an disekitarnya yang tidak tersentuh.

    sangat mudah mengikuti Bima, karena hanya tinggal mengikuti jalan setapak, namun, setiap kali Widya berjalan, selalu saja, dari balik semak atau rerumputan, seperti ada yang bergerak-gerak, kadang ketika Widya mencoba memandangnya, suara itu lenyap begitu saja.

    Tanahnya keras, dan lembab. namun Widya terus menembus jalanan itu, semakin lama semakin dingin, dan sudah beberapa kali Widya berhenti untuk menghela nafas panjang.

    jalanan ini, sepeti tidak berujung, namun, bila kembali, Widya tidak akan tahu apa yang dikerjakan Bima disini.

    hal yang cukup di sesali Widya hanya satu, ia hanya mengenakan sandal selop, memang, apa yang Widya lakukan malam ini, spontan karena penasaran, tanpa persiapan, tanpa teman, dan sesal itu, kian bertambah saat Widya mulai mendengar gending.

    suara yang familiar,

     

    nada yang dimainkan adalah kidung yang Widya dengar saat ia berada di bilik mandi, bersama Nur, sedangkan alunan gamelan yang dimainkan adalah alunan yang sama saat Widya mencuri pandang pada penari yang menari di malam dia bersama Wahyu.

    bukanya lari, Widya semakin menjadi-jadi

    semakin jauh, suaranya semakin jelas, dan semakin jelas suaranya, semakin ramai bahwa disana, Widya tidak sendirian.

    namun, yang Widya temui, adalah ujung Tipak talas, yaitu, sebuah tumbuhan yang di tanam tepat di jalan setapak.

    tumbuhan itu, adalah tumbuhan beluntas.

    tumbuhanya kecil, tapi rimbun, samping kiri kanan, sudah gak bisa di lewati, kecuali bila membawa parang, dan tentu saja butuh waktu yang lama untuk membabat semak belukar, namun, wangi tumbuhan beluntas seharusnya langu, namun yang ini, wanginya seperti aroma melati,

    seperti tidak sadar, Widya sudah mengunyah daun itu, dan terus mengunyah, Widya baru sadar saat tenggorokanya tersayat batang beluntas yang tajam, dan di balik tumbuhan itu, Widya melihat jalan menurun, pantas saja, ia hanya bisa melihat ujung jalan setapak berhenti disini.

    jadi, jalan menurunya di tutup oleh banyak sekali tumbuhan beluntas, saat Widya menuruninya, ia sampai harus berdarah-darah meraih tanaman beluntas yang di lilit tali puteri.

    di bawahnya, dia melihat Sanggar yang di ceritakan Ayu dulu, dan sanggarnya benar-benar berantakan.

    ada 4 pilar kayu jati yang di pangkas segi 4, memanjang ke atas dengan atap mengerucut, dari jauh terlihat seperti bangunan balai desa, namun lebih besar dengan lantai panggung.

    disana, suara gamelan terdengar jelas sekali, seperti sumber suara gamelan itu ada di bangunan ini.

    saat Widya mendekatinya, meski ragu, ia merasa kehadiranya tidak sendirian, ramai, seperti tempat ini penuh sesak, namun, tidak ada siapapun disana, hanya dia sendiri, yang berjalan mendekati

    tepat ketika Widya menginjak anak tangga pertama, suara gamelan, berhenti, sunyi senyap

    hening sekali.

    keheningan itu benar-benar menganggu Widya, kehadiranya seperti tidak di terima disini.

    namun Widya memaksa untuk tetap melihat, dan saat itu, Widya mendengar seseorang menangis, suaranya familiar, seperti suara orang yang ia kenal.

    Ayu.

    Widya baru mengingat sesuatu yang paling ganjil selama KKN disini, Ayu.

    Ayu tidak pernah sekalipun cerita apapun tentang desa ini, sesuatu yang ganjil yang menganggunya, sebaliknya, Ayu menentang semua yang tidak masuk akal di desa ini,

    namun di malam ketika mereka berdebad mendengar suara gamelan, Ayu pasti berbohong, Ayu sebenarnya juga tahu dan mendengarnya secara langsung, Ayu lebih tahu tentang semua ini, jauh di atas yang lain, termasuk, apa yang Bima lakukan selama ini.

    seperti menangkap angin, ada suara tangisanya, namun tak ada wujud dimanapun Widya mencari, tetapi, tempat sesunyi dan sesepi itu, masih terasa ramai bagi Widya, seperti ia di tatap dari berbagai sudut.

    Widya melihat dari jauh, di bawah sanggar, ada sebuah gubuk, berpintu.

    Widya mendekatinya, namun enggan membukanya, ia mengelilingi gubuk itu, dari dalam gubuk, terdengar suara Bima, di ikuti suara perempuan mendesah, sangat jelas, namun Widya tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana.

    leher Widya perlahan semakin berat, dan berat.

    saat Widya masih bersusah payah mencari cara untuk melihat, nasib baik, Widya menemukan beberapa celah kecil untuk mengintip, darisana Widya menyaksikanya langsung, Bima, sedang berendam di Sinden (Kolam) di sekitarnya, ia di kelilingi banyak sekali ular besar.

    melihat itu Widya kaget, dan parahnya, Bima menatap lurus ke tempat Widya mengintip, semua ularnya sama, seperti yang Widya rasakan, mereka tahu, ada tamu tak di undang.

    melihat reaksi seperti itu, Widya berbalik dan lari pergi.

    saat lari itulah, suara tabuhan gong di ikuti suara kendang, terdengar lagi, suara gamelan itu, terdengar keras, lengkap dengan suara tertawa yang bersahut-sahutan, dan Widya melihat Sanggar kosong itu, di penuhi semua yang tidak Widya lihat saat tiba di tempat ini.

    dari ujung ke ujung, penuh sesak, banyak sekali yang dilihat Widya, ada yang melotot, dari yang wajahnya separoh, sampe yang tidak punya wajah.

    dari yang pendek, sampai yang tingginya setinggi pohon beringin. mereka memenuhi Sanggar dan sekitarnya, Widya mulai menangis.

    suara yang nyaris memenuhi telinga Widya dan hampir membuatnya gila itu tiba-tiba berhenti.

    Widya melihat, di depanya, ada yang sedang menari, tarianya hampir membuat semua yang ada disana melihatnya.

    disana, Widya menyadari, yang menari itu Ayu,

    matanya Ayu sembab, seperti sudah menangis lama, tapi gelagat ekspresi wajahnya seperti menyuruh Widya lari, lari, tanpa tahu apa yang terjadi, Widya langsung lari, melewati kerumunan yang sedang melihat Ayu menari di sanggar.

    Widya memanjat tempat itu, menangis sejadi-jadinya.

    sampai di jalan setapak, Widya dengar anjing menggonggong, tidak beberapa lama, anjing hitam keluar dari semak belukar, setelah melihat Widya, anjing itu lari, Widya mengikuti anjing itu.

    Widya keluar dari jalan setapak itu, ketika subuh, terlihat dari langit yang kebiruan.

    tapi rupanya, Widya salah.

    seorang warga desa, kaget bukan main melihat Widya, dia langsung lari sambil berteriak memanggil warga kampung.

    “Widya nang kene, iki Widya wes balik” (Widya disini, anaknya sudah kembali)

    bingung, hampir warga berhamburan memeluk Widya.

    “mrene ndok, mrene, awakmu sing sabar yo, awakmu kudu siap yo ambek berita iki” (kesini nak, kesini, kamu yang sabar ya, kamu harus siap sama berita yang nanti kamu dengar) seorang ibu, memeluk Widya, di matanya ia seperti menahan nangis, Widya hanya gaguk, diam, tidak mengerti.

    si ibuk menggandeng Widya, Widya masih diam, seperti orang linglung, di jalan ramai warga desa yang mengikuti Widya, Widya mencuri dengar dari mereka yang bicara di belakang.

    “wes di goleki sampe Alas D********* jebule, maghrib kaet ketemu arek iki, aku wes mikir elek”

    (sudah di cari sampai ujung *********** gak taunya baru ketemu maghrib anak ini, aku sudah mikir buruk)

    sehari semalam, Widya rupanya sudah menghilang.

    ketika Widya melihat rumah penginapan mereka, Widya melihat banyak sekali orang berkumpul disana, dan saat mata mereka melihat Widya, semuanya hampir tercengang tidak habis pikir. seperti melihat hantu, lalu, terlihat dari dalam, pak Prabu keluar, wajahnya, mengeras melihat Widya

    mata pak Prabu mendelik, melihat Widya. “tekan ndi ndok?” (darimana kamu nak)

    Widya tidak menjawab apa yang pak Prabu tanyakan, si ibuk juga menenangkan pak Prabu agar tenang, sembari menggiring Widya masuk ke rumah, Widya mendengar Nur menjerit, menangis, seperti kesetanan.

    saat Widya masuk dan melihat apa yang terjadi, Widya melihat ruangan itu di penuhi orang yang duduk bersila, mereka mengelilingi 2 orang yang terbujur, tubuhnya di tutup selendang, di ikat dengan tali putih, menyerupai kafan, Wahyu dan Anto menatap kaget saat Widya masuk.

    “Wid, tekan ndi awakmu?” (darimana kamu Wid?) ucap Nur yang langsung memeluk Widya.

    “onok opo iki Nur?” (ada Apa ini Nur)

    Nur menutup mulutnya, tidak tau harus memulai darimana, sampai Wahyu berdiri, “Ayu Wid, Nur lihat Ayu, tiba-tiba terbujur kaku, matanya tidak bisa di tutup”

    Widya mendekati Ayu, di sampingnya ada Bima, ia terus menerus menendang-nendang dalam posisi terikat itu, layaknya seseorang yang terserang epilepsi, matanya kosong melihat langit-langit, mereka berdua terbaring tidak berdaya, sontak Widya ikut menjerit sebelum ada yg menenangkan

    dari Pawon, mbah Buyut keluar, ia melihat Widya kemudian memanggilnya.

    “sini ndok, Mbah jek tas gawe kopi” (sini nak, si mbah baru saja selesai membuat kopi)

    mbah Buyut, duduk di kursi kayu yang ada di pawon, ia melihat Widya lama, kemudian mengatakanya. “Koncomu wes kelewatan”

    “Pripun mbah?” (bagaimana mbah?)

    “yo opo rasane di kerubungi demit sa’alas?” (bagaimana rasanya di kelilingi makhluk halus satu hutan?)

    Mbah Buyut masih mengaduk kopinya, memandang Widya yang tampak mulai kembali kesadaranya, “nyoh, di ombe sek” (nih, di minum dulu)

    Widya menyesap kopi dari mbah Buyut, tiba-tiba rasa pahit yang monohok membuat tenggorokan Widya seperti di cekik, membuat Widya memuntahkanya, begitu banyak muntahan air liur Widya yang keluar, ia melihat mbah Buyut yang tampak mengangguk. seperti memastikan.

    “koncomu, ngelakoni larangan sing abot, larangan sing gak lumrah gawe menungso opo maneh bangsa demit” (temanmu, melakukan pantangan yang tidak bisa di terima manusia, apalagi bangsa halus) kata mbah Buyut sembari geleng kepala.

    “paham ndok” (paham nak)

    Widya mengangguk.

    “Sinden sing di garap, iku ngunu, Sinden kembar, siji nang cidek kali, siji’ne nang enggon sing mok parani wingi bengi” (Sinden yang kamu kerjakan, itu kembar, satu di dekat sungai, satu yang kemarin malam kamu datangi)

    “eroh opo iku sinden?” (tahu kegunaan Sinden?)

    “mboten mbah” (tidak tahu mbah)

    “Sinden ku, enggon adus’e poro penari sak durunge tampil. nah, Sinden sing cidek kali, gak popo di garap, tapi, sinden sing sijine, ra oleh di parani, opo maneh sampe di gawe kelon”

    (Sinden itu tempat mandinya para penari sebelum tampil, nah, sinden yang di dekat sungai tidak apa-apa di kerjakan, tapi, sinden yang satunya, tidak boleh di datangi, apalagi di pakai kawin)

    “Widya ngerti, sopo sing gok Sinden iku?” (Widya tahu siapa yang ada di sinden itu)

    Widya diam lama, sebelum mengatakanya. “Ular mbah”

    “nggih. betul” “sing mok delok iku, ulo-anak’e Bima karo” (yg kamu lihat itu, adalah anaknya Bima sama)

    “Ular itu mbah”

    mbah buyut mengangguk

    “iku ngunu, mbah sing kecolongan, Widya mek di dadekno Awu awu, ben si mbah ngawasi Widya, tapi mbah salah, koncomu iku sing ket awal wes di incer karo” (itu, mbah yang kecolongan, Widya cuam di jadikan pengalih perhatian, biar si mbah ngawasi kamu, tapi mbah salah, dari awal,

    yang di incar sama)

    mbah Buyut diam lama, seperti tidak mau menyebut nama makhluk itu. ”

    “ngantos, yo nopo mbah, Ayu kale bima saget mbalik?” (lalu bagaimana mbah, apa Ayu sama Bima bisa kembali?)

    “isok isok” kata mbah Buyut, “sampe balak’e di angkat”

    “balak’e di angkat mbah” (bencananya di angkat) kata Widya, bingung.

    “Bima ambek Ayu wes kelewatan, sak iki, kudu nanggung opo sing di lakoni” (Bima sama Ayu sudah kelewatan, sekarang, dia harus menanggung apa yang dia perbuat)

    “Ayu sak iki, kudu nari, keliling Alas iki)

    (Ayu sekarang harus menari mengelilingi Hutan ini)

    “sak angkule nari, sadalan-sadalan” (tampil, menari, di setiap jengkal tanah ini)

    “Bima mbah?”

    “Bima, yo kudu ngawini sing nduwe Sinden” (Bima ya harus mengawini yang punya Sinden)

    “Badarawuhi mbah”

    Mbah buyut kaget.

    “oh ngunu” (oh begitu) “wes eroh jeneng’e” (sudah tahu namanya)

    “Badarawuhi, iku salah sijine sing jogo wilayah iki, tugas Badarawuhi iku nari, dadi bangsa lelembut iku yo seneng ndelok Badarawuhi iki nari, nah, sak iki, Ayu kudu nanggung tugas Badarawuhi nari”

    (Badarawuhi itu salah satunya yang jaga di wilayah ini, tugasnya ya menari, jadi bangsa lelembut suka melihat tarian dari Badarawuhi, sekarang, Ayu harus menggantikanya)

    “Bima, kudu ngawini Badarawuhi, anak’e iku wujud’e ulo, sekali ngelahirno, isok lahir ewonan ulo”

    (Bima harus mengawini Badarawuhi, anaknya itu berwujud ular, sekali melahirkan, bisa lahir ribuan ular)

    “salah kancamu, wes ngelakoni hal gendeng nang kunu, dadi kudu nanggung akibate” (salah temanmu sendiri, jadi sekarang mereka harus tanggung jawab)

    “Badarawuhi iku ngunu ratune ulo, bangsa lelembut sing titisan aji sapto, balak’e ra isok di tolak opo maneh di mendalno, mene isuk, tak coba’e ngomong apik-apik’an, wedihku, koncomu ra isok balek orep2”

    (Badarawuhi itu ratunya ular, bangsa lelembut yang sudah tak terbendung, kutukanya, gak bisa di tolak apalagi sampai di buang, besok pagi, biar tak coba ngomong baik-baik, takutnya, temanmu tidak bisa kembali hidup2)

    mbah buyut pergi, Nur, Wahyu dan Anton melihat Widya sendirian di pawon, duduk, sembari termenung.

    “Goblok!! Bima karo Ayu asu!! kakean ngent*t!!” (bodoh!! Bima sama Ayu itu Anj*ng!! kebanyakan ngent*t)

    kaimat itu, yang mereka semua pikirkan malam itu.

    meski yang di ucapkan Wahyu itu kasar, namun tidak ada yang keberatan dengan semua itu, terlebih, masalah ini sudah sampai ke pihak kampus, bahkan ke keluarga Bima dan Ayu.

    pak Prabu menceritakan bahwa kronologi kejadian ini sudah tidak bisa mereka bendung, KKN yang menjadi tanggung jawab beliau, harus sampai, ke semua orang yang terlibat, meski awanya Nur mencoba memohon agar masalah ini jangan sampai keluar dulu, namun, hilangnya Widya, membuat

    Pak Prabu akhirnya menyerah dan memilih melaporkanya.

    lalu apa yang terjadi sama Ayu dan Bima?

    Pagi itu, serombongan mobil datang, mereka adalah keluarga sekaligus panitia KKN yang sudah mendengar semua ceritanya dari pak Prabu.

    Ayu masih terbaring, matanya melotot, namun tubuhnya masih seperti orang lumpuh.

    Bima, masih kejang2

    well ada yang mau lihat foto mereka?

    maaf maaf, Aib!!

    soal mobil, gw gak paham. intinya mereka di jemput paksa, KKN mereka di coret, gw bakal lanjutin akhir ceritanya saja ya, sama yang bersangkutan. di selesaiin saja malam ini, biar gw bisa fokus kerja. lagi. tapi serius pengen lihat foto mereka?

    gw cuma moto dari hape, karena fotonya di cetak di art paper, dan gw cuma bisa bilang, Bima sama Ayu, cantik dan ganteng memang. karena itu gw berani gambarin fisiknya si Bima.

    gw lanjut ya

    sebenarnya, proses penjemputan gak semudah yang bakal gw tulis, karena pihak keluarga Bima maupun Ayu, marah besar, mereka tidak terima anaknya di bikin seperti ini.

    bahkan pihak kampus juga kena, karena kasusnya benar-benar hampir di bawa ke media nasional,

    Widya, Nur sampai harus mohon agar Ayu dan Bima di biarkan tetap tinggal disini, yang konon kata Mbah Buyut bisa saja balaknya di ambil sewaktu waktu, namun, dari pihak keluarga Ayu dan Bima, tidak mau lagi, mereka tetap membawa Ayu dan Bima, hasilnya?

    Ayu hanya bisa tidur dengan mata terbuka terus menerus, Widya pernah di ceritain oleh ibunya, bahwa kadang, ia melihat mata Ayu meneteskan air mata, tapi, setiap di tanya, dia hanya diam, tak menjawab, Ayu akhirnya meninggal setelah 3 bulan di rawat. abangnya, merasa bersalah

    sampai hampir mau mengamuk di desa itu, namun, pak Prabu pun sama, seharusnya sejak awal, saat Ayu memohon di ijinkan KKN disana, ia tegas menolak, alasanya, memang tempat itu tidak baik untuk di tinggali mereka yang masih bau kencur.

    Bima??

    bagaimana?? meninggal juga, Malam sebelum dia meninggal, Bima teriak minta tolong, tapi ketika ditanya, kenapa dan minta tolong apa?

    Bima berteriak ular, ular, ular, ia meninggal lebih dulu dari Ayu, tubuhnya di kebumikan, orang tuanya awalnya masih mau memperpanjang-

    masalah ini sama pihak kampus, tapi akhirnya di cabut, dengan catatan, KKN tidak lagi di adakan di timur jawa lagi, sejak saat itu, kampus ini, hanya memperbolehkan KKN ke arah barat, tidak lagi timur, apalagi Desa yang jauh.

    —————

    Ada hal yang bikin gw radak susah gambarin adalah, narasumber (Widya) disamarkan, setiap beliau bercerita, beliau hanya menceritakan intinya, dan gw harus ngatur ulang ceritanya agar nyambung, terlepas dari itu, gw inget, tiap dia cerita, tanganya gugup, seperti –

    tidak mau mengulang peristiwa itu. apapun itu, gw berharap cerita ini mengandung hikmah bagi kalian yang membacanya,

    untuk peserta KKN nya pun sebenarnya bukan 6 orang, tapi 14 orang, gw perpendek untuk mempersingkat cerita beliau yang saling berkaitan satu sama lain

    untuk kesalahan, pengetikan, dan bikin kentangnya, gw mohon maaf sebesar-besarnya.

    memang benar, manusia itu merasa besar, padahal sesungguhnya ada kebesaran lain yang membuat manusia gak ada apa-apanya di balik kalimat kecil, dimanapun kalian berada, junjung tata krama-

    saling menghormati, saling menjaga satu sama lain, dan senantiasa bersikap layaknya manusia yang beradab.

    gw simple_Man undur diri, untuk waktu yang tidak di tentukan.

    Sumber:  Twitter @SimpleM81378523