Tag: morfologi

  • Konsep Esensial Geografi yang Berkaitan dengan Bentuk Muka Bumi Adalah?

    Konsep esensial geografi yang berkaitan dengan bentuk muka bumi adalah morfologi.

    Morfologi mempelajari tentang bentuk dan struktur permukaan bumi, termasuk gunung, lembah, dataran, dan lainnya.

    Konsep ini penting karena membantu kita memahami:

    1. Proses pembentukan permukaan bumi

    Morfologi mempelajari bagaimana proses geologi seperti tektonisme, erosi, dan sedimentasi membentuk permukaan bumi.

    Baca juga: 5 Penyebab Pembangunan Belum Merata di Indonesia Dilihat dari Aspek Geografis

    2. Klasifikasi bentuk muka bumi

    Morfologi mengklasifikasikan berbagai bentuk muka bumi berdasarkan karakteristiknya, seperti ketinggian, kemiringan, dan jenis batuan.

    3. Hubungan antara manusia dan bentuk muka bumi

    Morfologi membantu kita memahami bagaimana manusia berinteraksi dengan bentuk muka bumi, seperti membangun infrastruktur dan memanfaatkan sumber daya alam.

    Memahami morfologi bermanfaat bagi berbagai bidang, seperti:

    • Geologi: Morfologi membantu para ahli geologi memahami sejarah dan struktur bumi.
    • Teknik sipil: Morfologi membantu para insinyur sipil dalam merancang infrastruktur yang aman dan stabil.
    • Perencanaan wilayah: Morfologi membantu para perencana wilayah dalam mengembangkan wilayah yang berkelanjutan.

    Baca juga: Pengertian Unsur Geografis & Bentang Alam Asia Tenggara

    Berikut beberapa contoh konsep morfologi:

    • Gunung: Gunung adalah bentuk muka bumi yang menonjol tinggi di atas permukaan bumi.
    • Lembah: Lembah adalah bentuk muka bumi yang rendah dan memanjang, biasanya di antara dua gunung.
    • Dataran: Dataran adalah bentuk muka bumi yang relatif datar dan luas.
    • Pantai: Pantai adalah garis batas antara daratan dan laut.

    Dengan mempelajari morfologi, kita dapat lebih memahami bagaimana bumi bekerja dan bagaimana manusia dapat hidup dan beradaptasi dengan berbagai bentuk muka bumi.

  • Proses Morfologis Bahasa Indonesia

    Proses Morfologis Bahasa Indonesia

    Morfologis adalah bagian dari kajian morfoligi, yakni ilmu yang mempelajari mengenai bentuk kaidah bahasa.

    Adapun proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari kesatuan yang lain yang merupakan bentuk dasarnya ( Ramlan: 1979).

    Bentuk dasar sendiri bisa berupa kata, seperti kata “berjalan” yang dibentuk dari kata “jalan, kata “menulis” dibentuk dari kata “tulis,” “gedung-gedung” dari kata “gedung.”

    Mungkin juga berupa pokok kata, atau istilah lainnya prakatagorial, misalnya kata “bertemu” dari pokok kata “temu,” kata “mengalir” dari kata “alir;” mungkin berupa frase, misalnya frase “ketidakadilan” dibentuk dari frase tidak “adil.”

    Dalam bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologis, yaitu :

    1. Proses pembubuhan afiks (afiksasi)
    2. Proses pengulangan (reduplikasi)
    3. Proses pemajemukan.

    Di samping tiga proses morfologis di atas, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disebut dengan proses perubaan zero.

    Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, yakni kata yang termasuk golongan kata verbal transitip, seperti : makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya adalah kata verbal transitif (kata verbal yang dapat diikuti oleh objek dan dapat diubah menjadi kata verbal pasif). Misalnya:

    Membeli => dibeli
    Memperbaiki => diperbaiki
    Makan => dimakan
    Minum => diminum

    1. Poses Pembubuhan Afiks (Imbuhan)

    Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan afiks suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afik ber- pada kata jalan menjadi berjalan. Pada sepeda menjadi bersepeda.

    Bentuk tunggal => terdiri dari satu morfem, misalnya : makan, minum.
    Bentuk kompleks => terdiri lebih dari satu morfem : rumah makan, berlari,.
    Kata berlari terdiri dari dua morfem yakni morfem [ber-] dan morfem [lari].

    Satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar disebut bentuk dasar, dalam contoh di atas kata jalan adalah bentuk dasar dari berjalan, kata sepeda adalah bentuk dasar dari kata bersepeda

    Bentuk afiksasi yang salah

    Tak jarang kita mendengar dipungkiri, atau kata mempesona. Kata-kata tersebut memiliki intensitas yang cukup tinggi, artinya sering diucapkan.

    Tapi apakah kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia? Berikut sedikit pembahasan:

    Fonem /N/ pada morfem meN berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutiya berawal /p,b,f/. Misalnya :

    meN + pesan => memesan
    meN + pukul => memukul
    meN + potong => memotong
    meN + Pesona => memesona

    Jadi sudah jelas bahwa kata yang benar adalah memesona, bukan mempesona. Lalu bagimana dengan kata dipungkiri?

    Kata dipungkiri adalah bentuk yang salah. Dalam KBBI tidak ada kata dasar pungkir yang ada adalah mungkir jadi bentuk yang benar adalah dimungkiri.

    2. Proses Pengulangan (Reduplikasi)

    Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan suatu gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak.

    Hasil pengulangan tersebut disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk dasar.

    Misalnya kata ulang rumah-rumah dibentuk dari kata dasar rumah, kata ulang berjalan jalan dibentuk dari kata berjalan kata ulang bolak balik berasal dari kata balik.

    Akan tetapi kita sering terkecoh dengan bentuk yang mirip dengan kata ulang, tetapi susunguhnya bukanlah kata ulang, jika dilihat dari tinjauan deskriptif.

    Misalnya kata-kata berikut: sia-sia, huru-hara, mondar-mandir. Kata-kata tersebut bukanlah kata ulang, karena sebenarnya tidak ada satuan atau kata dasar yang diulang.

    kata sia-sa bukan berasal dari kata dasar sia, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ada kata dasar sia, begitupun dengan kata huru-hara, dan kata mondar-mandir.

    3. Proses Pemajemukan

    Dalam bahasa Idonesia kerap sekali ditemukan gabungan dua kata yang membentuk makan baru.

    Kata yang terjadi dari gabungan dua kata tersebut lazim disebut dengan kata mejemuk. Rumah sakit, meja makan, kepala batu.

    Cara Membedakan Antara Kata Menjemuk Dengan Yang Bukan Kata Mejemuk?

    Misalnya saya beri contoh kursi malas dengan adik malas. Mana diantara contoh tersebut yang merupakan kata mejemuk.

    Dilihat dari kategori pengolongan kata, kata kursi malas dan adik malas terdiri dari kata benda dan kata sifat.

    Artinya keduanya mempunyai kemungkinan sebagai klausa dan sebagai frase.

    Jika kursi malas sebagi klausa, tentu dapat diikuti dengan kata itu, misalnya menjadi *kursi itu malas, kata malas dapat diikuti dengan kata sangat,tidak agak, *kursi itu sangat malas,* kursi itu agak malas.

    Jelaslah bahwa semua itu tidak lazim. berbeda halnya dengan adik malas, dapat diperluas menjadi *adik yang malas, atau adik itu sangat malas. Jadi jelas kursi malas bukanlah klausa.

    Jika kursi malas itu fase, tentu dapat disela dengan kata yang, misalnya pada contoh tadi; adik malas dapat disisipi kata yang menjadi adik yang malas.

    Sedangkan kursi yang malas tidak lazim atau tidak berterima, oleh karena itu maka kursi malas bukanlah frase melaikan kata majemuk.

  • Pengertian Abreviasi dan Contohnya

    Pengertian Abreviasi dan Contohnya

    Pengertian Abreviasi

    Abreviasi adalah proses penanggalan leksem atau kombinasi leksem yang diambil dari struktur kata lengkap atau frase dan memiliki makna yang sama dengan makna aslinya atau bentuk semula.

    Jenis-jenis abreviasi adalah singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf.

    Abreviasi didefinisikan sebagai kependekan dari sebuah kata atau frasa. Berikut jenis-jenis abreviasi/singkatan.

    • Akronim, membentuk singkatan dengan menggunakan huruf-huruf awalnya. Contoh, ABBA, MAD, OPEC, semuanya merupakan akronim yang menggunakan huruf pertama dari setiap kata untuk membentuk kata baru. Akronim yang kurang dikenal contohnya scuba dan laser, menunjukkan tidak semua akronim harus ditulis huruf besar.
    • Initialism (inisial), juga disebut alphabetism, sekumpulan huruf yang pengucapannya terpisah, biasanya digunakan sebagai singkatan suatu nama atau suatu ekspresi. Contohnya, CD, TV dan UK.
    • Truncation atau pemotongan, abreviasi ini berisi bagian awal dari sebuah kata. Tipe ini paling sering digunakan dalam sebuah judul yang mengacu pada bulan, tahun, hari seperti Mon, Fri, Oct.
    • Clipped, hampir sama dengan truncation, hanya saja bagian kata yang digunakan untuk membentuk singkatan dapat diambil dari tengah atau akhir kata, seperti phone (telephone), fridge (refrigerator).
    • Aphesis, penghilang vokal di awal kata, biasanya tidak disengaja dan terjadi dalam bahasa lisan dalam percakapan sehari-hari. Contoh cause untuk because.
    • Portmanteau, gabungan dua kata atau lebih. Contoh liger dari kata lion dan tiger, spork dari spoon dan fork, brinner utnuk breakfast dan dinner.

    Klasifikasi Jenis Jenis Abreviasi

    Singkatan terjadi karena proses – proses berikut:

    1) penggalan huruf pertama tiap komponen. Misalnya: H = Haji, AA = Asia-Afrika, RS = Rumah Sakit.
    2) pengekalan huruf pertama dengan pelesapan konjungsi, preposisi, reduplikasi, dan artikulasi kata. Misalnya: IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
    3) pengulangan huruf pertama dengan bilangan bila berulang. Misalnya 3D = Dilihat, Diraba, Diterawang.
    4) pengekalan dua huruf pertama dari kata. Misalnya: Ny = nyonya, Wa = Wakil.
    5) pengekalan tiga huruf pertama dari sebuah kata. Misalnya: Okt = Oktober.
    6) pengekalan empat huruf pertama dari suatu kata. Misalnya: sekr = sekretaris, Sept = September.
    7) pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir kata. Misalnya: Ir = Insinyur.
    8) pengekalan huruf pertama dan huruf ketiga. Misalnya: Gn = Gunung.
    9) pengekalan huruf pertama dan terakhir dari suku kata pertama dan huruf pertama dari suku kata kedua. Misalnya: Kpt = Kapten.
    10) pengekalan huruf pertama kata pertama dan huruf pertama kata kedua dari gabungan kata. Misalnya: VW = Volkswagen.
    11) pengekalan dua huruf pertama dari kata pertama dan huruf pertama kata kedua dalam suatu gabungan kata. Misalnya Swt = Swatantra.
    12) pengekalan huruf pertama suku kata pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kata kedua dari suatu kata. Misalnya: Bdg = Bandung, tgl = tanggal.
    13) pengekalan huruf pertama dari tiap suku kata. Misalnya: hlm = halaman.
    14) pengekalan huruf pertama dan huruf keempat dari suatu kata. Misalnya:DO = depot.
    15) pengekalan huruf yang tidak beraturan. Misalnya: Kam = keamanan.

  • 8 Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    8 Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    Pengertian Morfologi Menurut Para Ahli

    Morfologi adalah bagian ilmu bahasa yang mempelajari atau membicarakan tentang seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.

    Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik.

    Morfologi juga mempelajari arti yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik, yang biasa disebut arti gramatikal atau makna.

    Satuan yang paling kecil dipelajari oleh morfologi adalah morfem, sedangkan yang paling besar berupa kata.

    Morfologi hanya mempelajari peristiwa-peristiwa yang umum, peristiwa yang berturut-turut terjadi, yang bisa dikatakan merupakan sistem dalam bahasa.

    Peristiwa perubahan bentuk misalnya pada perubahan kata dari jala menjadi jalan pada kata berjalan, dan perubahan dari kata aku menjadi saya, serta perubahan kata dari tahun menjadi tuhan boleh dikatakan hanya terjadi pada kata tersebut.

    Oleh karena itu, peristiwa tersebut tidak bisa disebut sebagai peristiwa umum, tentu saja bukan termasuk dalam bidang morfologi, melainkan termasuk dalam ilmu yang biasa disebut etimologi, yaitu ilmu yang mempelajari seluk-beluk asal sesuatu kata secara khusus.

    Di sini dikemukakan bahwa pembicaraan tentang satuan gramatik yang salah satu dari unsurnya berupa afiks dibahas dalam bidang morfologi, dan pembicaraan tentang kata majemuk juga dibicarakan dalam bidang morfologi mengingat bahwa kata majemuk masih termasuk golongan kata.

    1. Cristal (198:232–233)

    Morfologi adalah cabang tata bahasa yang menelaah struktur atau bentuk kata, utamanya melalui pengguanaan morfem.

    Morfologi pada umumnya dibagi ke dalam dua bidang: yakni telaah infleksi (inflectional morfhology). Dan telaah pembentukan kata (lexical or derivational morphology).

    Analisis morfemik bagian dari telaah linguistik sikronis; analisis morfologis diterapkan terhadap telaah historis. Analisis morfologis dilakukan dalam berbagai bentuk.

    Satu pendekatan membuat telaah distribusional morfem dan varian morfemis yang muncul dalam kata (analisis susunan morfotaktis).

    2. Bauer (1983:33)

    Morfologi membahas struktur internal bentuk kata. Dalam morfologi, analisis membagi bentuk kata ke dalam formatif komponennya, dan berusaha untuk menjelaskan kemunculan setiap formatif.

    Morfologi dapat dibagi ke dalam dua cabang utama, yaitu morfologi infleksional dan pembentukan kata yang disebut morfologis leksikal. Morfologi infleksional membahas leksem – leksem baru dari pemajemukan kata (komposisi).

    Deriviasi berurusan dengan pembentukan leksem baru dari dua atau lebih sistem potensial. Derivasi kadang – kadang juga dibagi ke dalam derivasi mempertahankan kelas (class-maintaining derivation) dan derivasi perubahan kelas (class-changing derivation).

    3. Rumandji (1993:2)

    Morfologi mencakup kata, bagiannya, dan prosesnya.

    4. O’Grady dan Dobrovolsky (1989:89-90)

    Morfologi adalah komponen tata bahasa generative tranformasional (TTG) yang membicarakan struktur internal kata.

    Teori morfologi umum yang berurusan dengan pembahasan secara tepat mengenai jenis – jenis kaidah morfologi yang dapat ditemukan dalam bahasa – bahasa alamiah.

    Morfologi khusus merupakan seperangkat kaidah yang mempunyai fungsi ganda. Pertama, kaidah – kaidah ini berurusan dengan pembentukan kata baru.

    Kedua, kaidah – kaidah ini mewakili pengetahuan penutur asli yang tidak disadari tentang struktur internal kata yang sudah ada dalam bahasanya.

    5. Menurut Ramlan (1978:2)

    Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk beluk struktur kata serta pengaruh perubahanperubahan struktur kata terhadap golongan dan arti kata.

    6. Menurut Nida (1974: 1)

    Menyatakan bahwa morfologi adalah suatu kajian tentang morfem-morfem dan penyusunan morfem dalam rangka pembentukan kata.

    7. Veerhar (1984 : 52)

    Morfologi atau tata bentuk ada pula yang menyebutnya morphemics adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal.

    Dengan perkataan lain, morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata.

    8. Zaenal Arifin dan Juaiyah

    Morfologi adalah bentuk, makna, dan fungsi. Morfologi adalah ilmu bahasa tentang seluk-beluk bentuk kata (struktur kata).