Tag: pahlawan

  • Biografi Singkat Soeharto, Bapak Pembangunan Nasional

    Biografi Singkat Soeharto, Bapak Pembangunan Nasional

    Nama    : Soeharto
    TTL        : Yogyakarta, Rabu, 8 Juni 1921
    Agama  : Islam
    Istri       : Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien)

    Biografi Soeharto Singkat

    Jenderal Besar TNI Purnawiran Haji Muhammad Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921.

    Ayah Soeharto bernama Kertosudiro, seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam mengairi sawah Desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

    Pada tahun 1941 Soeharto muda terpilih menjadi prajurit teladan di sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah. Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945, Soeharto resmi menjadi anggota TNI.

    Genap di usia 26 tahun, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah atau yang akrab dengan sapaan Ibu Tien yang kala itu berusia 24 tahun, seorang anak pegawai Mangkunegaraan.

    Pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo.

    Mereka dikaruniai enam putra dan putri, diantaranya: Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

    Selama masa jabatannya, Soeharto berjuang dalam pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan).

    Bahkan Soeharto sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan pada 1985. Sehingga Soeharto dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan Nasional.

    Soeharto meninggal pada tanggal 27 Januari 2008, diusianya yang ke 87 tahun. Berita wafatnya Soeharto pertama kali diinformasikan oleh Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta.

    Setelah itu, secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto.

    Pendidikan:

    SD Pedes Yogyakarta
    SMP Muhammadiyah di Yogyakarta
    Sekolah militer di Gombong

    Karir:

    Anggota TNI
    Komandan Brigade Garuda Mataram
    Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel
    Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD)
    Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat
    Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
    Panglima Kopkamtib
    Mayor Jendral
    1966 – 1998 Presiden Kedua RI

    Penghargaan:

    Bapak Pembangunan Nasional
    Bintang Mahakarya Gotong Royong dari Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong

  • Biografi Jendral Sudirman, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Jendral Sudirman, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Jendral Sudirman

    • Nama : Raden Soedirman
    • Dikenal : Jenderal Besar Sudirman
    • Lahir : Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916
    • Wafat : Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950
    • Orang Tua : Karsid Kartawiraji (ayah), Siyem (ibu)
    • Saudara : Muhammad Samingan
    • Istri : Alfiah
    • Anak : Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, Taufik Effendi, Titi Wahjuti Satyaningrum, Didi Praptiastuti, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, Ahmad Tidarwono.

    Biografi Singkat Jendral Sudirman

    Jenderal Besar Sudirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Dia merupakan anak dari pasangan Karsid Kartawiuraji dan Siyem. Namun, sejak kecil Jendral Sudirman iku dengan pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo.

    Paman Jendral Sudirman memiliki kondisi keuangan yang lebih baik daripada kedua orang tuanya sehingga kedua orang tuanya merelakan Jendral Sudirman ikut bersama pamannya agar bisa melanjutkan pendidikan.

    Sudirman kecil belajar di HIS (hollandsch inlandsche school). Kemudian pindah ke sekolah milik Taman Siswa pada tahun ketujuh.

    Selanjutnya, ia pindah lagi ke Sekolah Wirotomo karena sekolah milik Taman Siswa tidak dianggap oleh pemerintah Belanda.

    Sedari kecil, Sudirman sudah memiliki jiwa religius yang dibuktikan dengan keteguhan serta ketaatannya dalam beribadah. Bahkan dia juga aktif dalam organisasi-organisasi Islam, salah satunya adalah Hizbul Wathan, milik Muhammadiyah.

    Beranjak dewasa, Sudirman mengikuti pelatihan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Karirnya menjulang tinggi sehingga tak butuh waktu lama akhirnya Sudirman langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya.

    Selanjutnya, ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk. Kemudian, Sudirman terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

    Dalam sejarah, Sudirman adalah Jendral pertama dan termuda di Indonesia. Keberaniannya dalam mengusir penjajah tidak perlu diragukan lagi. Bahkan dia mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk bangsa.

    Dalam biografi Jendral Sudirman, diketahui bahwa ia mengidap penyakit yang cukup parah hingga akhirnya pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar Sudirman wafat di Magelang. Pemakamannya ke Yogyakarta diiringi oleh konvoi empat tank serta 80 kendaraan bermotor.

    Pendidikan Jendral Sudirman

    • Sekolah Taman Siswa
    • HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo
    • Pendidikan Militer PETA, Bpgor

    Karir Jendral Sudirman

    • Guru di His Muhammadiyah, Cilacap
    • Komandan Batalyon, Kroya
    • Panglima Divisi V Banyumas, dengan pangkat Kolonel
    • Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal

    Penghargaan Jendral Sudirman

    • Jendral Besar Anumerta Bintang Lima (1997)
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Sakti
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Gerilya
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Mahaputra Adipurna
    • Jenderal Besar Anumerta Mahaputra Pratama
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Republik Indonesia Adipradana
    • Pahlawan Nasional Indonesia
  • Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

    Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

    Biodata Ki Hajar Dewantara

    Nama Lengkap : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
    Nama Panggilan : Ki Hadjar Dewantara
    Lahir : Yogyakarta, 2 Mei 1889
    Wafat : Yogyakarta, 26 April 1959
    Agama : Islam
    Orang Tua : Pangeran Soerjaningrat (Ayah), Raden Ayu Sandiah (ibu)
    Saudara : Soerjopranoto
    Istri : Nyi Sutartinah
    Anak : Ratih Tarbiyah, Syailendra Wijaya, Bambang Sokawati Dewantara, Asti Wandansari, Subroto Aria Mataram. Sudiro Alimurtolo.

    Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara

    Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889 yang kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara terlahir dari keluarga Bangsawan, yang mana ia merupakan anak dari GPH Soerjaningrat, cucu dari Pakualam III.

    Sejak muda, beliau memiliki semangat yang besar untuk menyebarkan pendidikan ke seluruh rakyat Indonesia.

    Meski berasal dari kalangan bangsawan, Ki Hajar Dewantara tidak membatasi dirinya dalam cakupan pendidikan elit. Ia ingin agar setiap anak Indonesia mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan.

    Salah satu kontribusi terbesar Ki Hajar Dewantara adalah pendirian Taman Siswa pada tahun 1922.

    Ini adalah sekolah model yang dirancang untuk menyediakan pendidikan yang terjangkau dan relevan bagi anak-anak Indonesia pada masa itu.

    Taman Siswa mengusung konsep “belajar sambil berbuat” yang menggabungkan pengetahuan akademis dengan keterampilan praktis.

    Melalui pendekatan ini, Ki Hajar Dewantara ingin menciptakan generasi muda yang memiliki kemampuan holistik dan siap menghadapi tantangan dunia nyata.

    Dalam beberapa versi menyebutkan jika Ki Hajar Dewantara sekolah di ELS yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan.

    Selepas dari ELS Ki Hajar Dewantara kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda.

    Di waktu muda, Ki Hadjar Dewantara bergabung dengan organisasi Budi Utomo.

    Ia berperan sebagai aktivis untuk menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan pentingnya pendidikan untuk kemajuan bangsa.

    Ia pun juga membuat semboyan yang sampai sekarang dipakai dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu:

    • Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh)
    • Ing madyo mangun karso, (di tengah memberi semangat)
    • Tut Wuri Handayani, (di belakang memberi dorongan)
  • Biografi Singkat Mohammad Hatta, Tokoh Kemerdekaan Indonesia

    Biografi Singkat Mohammad Hatta, Tokoh Kemerdekaan Indonesia

    Biodata Mohammad Hatta

    Nama : Dr. Drs. H. Mohammad Hatta
    Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
    Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980
    Agama : Islam
    Orang Tua : Muhammad Djamil (ayah), Siti Saleha (ibu)
    Istri : Rahmi Rachim
    Anak : Meutia Hatta, Halida Hatta, Des Alwi, Gemala Hatta
    Pendidikan : Universitas Erasmus Rotterdam Belanda

    Biografi Singkat Mohammad Hatta

    Mohammad adalah anak laki-laki satu-satunya dari enam bersaudara.

    Menjadi anak laki-laki satu-satunya menjadikan Mohammad Hatta memiliki rasa tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan sejak kecil.

    Ia memulai pendidikan dasarnya di ELS (Europeesche Lagere School).

    Sejak duduk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan.

    Pada tahun 1921 Hatta melanjutkan pendidikan di Handels Hoge School di Rotterdam, Belanda. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging.

    Namun pahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging.

    Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

    Mohammad Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923.

    Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925.

    Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi saat itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif.

    Hatta pun memasuki jurusan itu dengan dorongan minatnya yang besar di bidang politik.

    Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan kemudian pulang ke Indonesia.

    Pada tahun 1932 dan 1933, Hatta rutin menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat.

    Perjalanan hidupnya pun tidak mulus, dia juga merasakan hal yang sama dengan Soekarno, yaitu mendapat tekanan dari berbagai pihak yang tidak sejalan dengannya.

    Namun karena jiwa nasionalisme dan perjuangannya yang tinggi, Hatta tetap semangat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

  • Biografi Singkat R.A Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita

    Biografi Singkat R.A Kartini, Tokoh Emansipasi Wanita

    Biodata R.A Kartini

    Nama Lengkap : Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat
    Nama lain : R.A Kartini
    Tempat dan Tanggal Lahir : Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879
    Wafat : Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904
    Agama : Islam
    Orang Tua : Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Ayah), M.A. Ngasirah (Ibu)
    Saudara Kandung : R.M Slamet Sosroningrat, P.A Sosrobusono, R.A Soelastri, Drs. R.M.P Sosrokartono, R.A Roekmini, R.A Kardinah, R.A Kartinah, R.M Muljono, R.A Soematri, R.M Rawito
    Suami : K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
    Anak : Soesalit Djojoadhiningrat

    Biografi Singkat R.A Kartini

    Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya yang bernama Raden mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang bupati Jepara kala itu.

    Dilihat dari silsilah keluarganya, Kartini adalah keturunan ningrat. Ia merupakan putri dari istri pertama ayahnya yang bernama M.A Ngasirah yang merupakan putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Sedangkan dari sisi ayahnya, silsilah Kartini sampai ke Hamengkubuwana VI.

    Pada tahun 1903 pada saat R.A Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

    Meskipun begitu, suami R.A Kartini ykni K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat memahami apa yang menjadi keinginan istrinya saat itu.

    Sehingga akhirnya Kartini diberi kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita pertama. Sekolah itu berdiri di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang yang kemudian sekarang dikenal sebagai Gedung Pramuka.

    Sepeninggal R.A Kartini, ada seorang pria belanda bernama J.H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda.

    Ia mulai mengumpulkan surat-surat serta berkas yang pernah ditulis oleh R.A Kartini ketika ia aktif melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berada di Eropa ketika itu.

    Berbekal data-data itulah kemudian disusun buku yang awalnya berjudul ‘Door Duisternis tot Licht‘ yang kemudian diterjemahkan dengan judul Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang terbit pada tahun 1911.

  • Biografi Soekarno, Sang Prokalamator Kemerdekaan Indonesia

    Biografi Soekarno, Sang Prokalamator Kemerdekaan Indonesia

    Biografi Soekarno

    • Nama Lengkap : Dr. Ir. H. Soekarno
    • Nama Kecil : Koesno Sosrodihardjo
    • Nama Panggilan : Bung Karno, Soekarno, Pak Karno
    • Lahir : Surabaya, 6 Juni 1901
    • Wafat : Jakarta, 21 Juni 1970
    • Orang Tua : Soekemi Sosrodihardjo (Ayah), Ida Ayu Nyoman Rai (Ibu),
    • Istri : Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manopo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar
    • Anak : Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Taufan Soekarnoputra, Bayu Soekarnoputra, Totok Suryawan Soekarnoputra, Karina Kartika Sari Dewi Soekarno, Ayu Gembirowati.

    Masa Kecil Soekarno

    Sejak kecil, Soekarno tidak hidup bersama orang tuanya di Blitar, Jawa Timur. Ia tinggal bersama kakeknya yang bernama Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

    Soekarno kecil menjalani kehidupannya dengan sangat baik, ia anak yang penurut, baik, pintar, dan terlihat jiwa kepemimpinannya walau di usia belia.

    Pendidikan Soekarno

    Soekarno pernah sekolah di Eerste Inlandse School yang mana ayahnya juga menjadi guru di sana. Namun pada tahun 1911 Soekarno dipindah ke ELS (Europeesche Lagere School) yang setingkat Sekolah Dasar untuk menyiapkan diri masuk di HBS (Hogere Burger School) di Surabaya.

    Setelah tamat di HBS, Soekarno melanjutnya pendidikannya di Technische Hoogeschool (THS) jurusan teknik sipil. Technische Hoogeschool (THS) sekarang menjadi ITB (Institut Teknologi Bandung). Di situ ia menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar Insinyur.

    Riwayat Organisasi

    Sejak muda, Soekarno cukup aktif mengikuti organisasi, salah satunya adalah Serikat Islam (SI). Di organisasi inilah Soekarno akhirnya mengenal tokoh-tokoh penting lainnya seperti Haji Agus Salim dan Abdul Muis.

    Selain itu, Soekarno juga pernah masuk dalam organisasi yang bernama Tri Koro Darmo yang kemudian berubah nama menjadi Jong Java. Di sini, ia semakin banyak mengenal orang-orang penting yang membangkitkan jiwa Nasionalismenya.

    Kemudian, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) yang menjadi cikal bakal dari Partai Nasional Indonesia.

    Masa Pergerakan Nasional

    Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkan ia ditangkap oleh Belanda pada bulan Desember 1929 dan dipenjara di Penjara Banceuy.

    Pada tahun 1930 dipindahkan ke Sukamiskin dan memunculkan pledoinya yang fenomenal, Indonesia Menggugat (pledoi), hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

    Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI.

    Namun, ia kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933 dan diasingkan ke Flores. Walau diasingkan, tidak membuat semangat Soekarno surut. Semangatnya tetap membara dalam memperjuangkan kedaulatan Bangsa.

    Tidak berhenti sampai di situ saja, Soekarno pun pernah diasingkan pada tahun 1938 hingga tahun 1942 ke Provinsi Bengkulu. Lantas, Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

  • Biografi Bung Tomo, Pembakar Semangat Pejuang Surabaya

    Biografi Bung Tomo, Pembakar Semangat Pejuang Surabaya

    Biografi Bung Tomo

    Bung Tomo adalah pahlawan yang berasal dari kota Surabaya. Jasanya teramat besar terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia ketika melawan penjajah yang ingin merebut kedaulatan serta kekuasaan di Surabaya.

    Beliau adalah seorang yang pemberani, hingga akhirnya menjadi orator yang membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk melawan penjajah yang dikenal sebagai pertempuran 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

    Biodata Bung Tomo

    Nama Lengkap : Sutomo
    Tempat Lahir : Surabaya, Jawa Timur
    Tanggal Lahir : 03 Oktober 1920
    Kebangsaan : Indonesia
    Dikenal : Sebagai Pahlawan Indonesia

    Kehidupan Bung Tomo

    Bung Tomo lahir pada tanggal 3 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur dengan nama Sutomo. Namun, rakyat lebih mengenalnya dengan julukan Bung Tomo.

    Bung Tomo adalah anak dari Kartawan Tjiptowidjojo, seorang pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.

    Sejak kecil, Bung Tomo terkenal sebagai anak yang penuh semangat. Pada saat usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO.

    Kemudian Bung tomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

    Di usia muda Bung Tomo cukup aktif dalam organisasi kepanduan atau KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda.

    Bung Tomo juga memiliki minat pada dunia jurnalisme. Beliau pernah bekerja sebagai wartawan lepas pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya pada tahun 1937.

    Setahun kemudian, ia menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat serta menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres, di Surabaya pada tahun 1939.

    Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei, bagian Bahasa Indonesia untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya pada tahun 1942-1945.

    Saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan, beliau memberitakannya dalam bahasa Jawa bersama wartawan senior Romo Bintarti untuk menghindari sensor Jepang.

    Selanjutnya, beliau menjadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

    Setelah Kemerdekaan

    Pada tahun 1950, Bung Tomo sempat terjun dalam dunia politik. Namun hanya sesaat, hingga akhirnya ia menghilang dari panggung politik karena berbagai alasan.

    Pada awal tahun 1970, ia kembali dan mempunyai pandangan pendapat yang berbeda dengan pemerintahan Orde Baru.

    Ia berbicara dengan keras terhadap program-program yang dijalankan oleh Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras tersebut. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto.

    Akhir Hidup Bung Tomo

    Bung Tomo meninggal dunia pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, saat sedang menunaikan ibadah haji.

    Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci yang harus dimakamkan di tanah suci.

    Tapi jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

  • Biografi Achmad Soebardjo Tokoh Nasionalis Indonesia

    Biografi Achmad Soebardjo Tokoh Nasionalis Indonesia

    Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, dan seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

    Beliau juga merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia pertama. Achmad Soebardjo lahir di Karawang, Jawa Barat pada 23 Maret 1896 – meninggal 15 Desember 1978 pada umur 82 tahun. Gelarnya Meester in de Rechten, yang diperoleh di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1933.

    Silsilah keluarga

    Achmad Soebardjo adalah anak dari pasangan Teuku Muhammad Yusuf dan Wardinah. Ayahnya masih keturunan bangsawan Aceh dari Pidie. Sedangkan Ibu Achmad Soebardjo adalah keturunan Jawa-Bugis, sekaligus anak dari Camat di Telukagung, Cirebon.

    Teuku Abdul Manaf adalah nama yang di berikan ayahnya, sedangkan ibunya memberinya nama Achmad Soebardjo. Nama Djojoadisoerjo ditambahkannya sendiri setelah dewasa, saat ia ditahan di penjara Ponorogo karena “Peristiwa 3 Juli 1946”.

    Riwayat perjuangan

    Semasa masih menjadi mahasiswa, Soebardjo adalah mahasiswa aktif yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui beberapa organisasi seperti Jong Java dan Persatuan Mahasiswa Indonesia di Belanda.

    Pada bulan Februari 1927, ia pun menjadi wakil Indonesia bersama dengan Mohammad Hatta dan para ahli gerakan-gerakan Indonesia pada persidangan antarbangsa “Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah” yang pertama di Brussels dan kemudiannya di Jerman.

    Pada persidangan pertama itu juga hadir Jawaharlal Nehru dan pemimpin-pemimpin nasionalis yang terkenal dari Asia dan Afrika.

    Sewaktu kembalinya ke Indonesia, ia aktif menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan kemudian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

    Penyusun Naskah Proklamasi

    Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo di rumah Laksamana Muda Maeda. Setelah selesai dan beragumentasi dengan para pemuda, dinihari 17 Agustus 1945, Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi.

    Karir

    Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri pada Kabinet Presidensial yaitu kabinet Indonesia yang pertama. Pada tahun 1951 – 1952, Ia kembali menjabat menjadi Menteri Luar Negeri. Selain itu, ia juga menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Switzerland antara tahun 1957-1961.

    Dalam bidang pendidikan, Soebardjo merupakan profesor dalam bidang Sejarah Perlembagaan dan Diplomasi Republik Indonesia di Fakultas Kesusasteraan, Universitas Indonesia.

    Wafat

    Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo meninggal dunia pada 15 Desember 1978 dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, akibat flu yang menimbulkan komplikasi. Ia dimakamkan di rumah peristirahatnya di Cipayung, Bogor. Pemerintah mengangkat almarhum sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009 melalui Keppres No. 58/TK/2009. (Wikipedia)

  • Biografi Ismail Marzuki, Maestro Musik Nasional dan Pencipta Lagu-Lagu Abadi

    Biografi Ismail Marzuki, Maestro Musik Nasional dan Pencipta Lagu-Lagu Abadi

    Ismail Marzuki adalah seorang komponis besar Indonesia yang semasa hidupnya sudah menciptakan lebih dari 200 buah lagu.

    Diantaranya lagu Sepasang Mata Bola, Rayuan Pulau kelapa, Indonesia Pusaka, dan lain-lain.

    Namanya diabadikan sebagai nama pusat kesenian di Jakarta, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM).

    Karyanya yang luar biasa bagi negara membuat pemerintah juga memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada 2004.

    Ismail Marzuki atau Bang Maing adalah putra Betawi asli. Lahir di Kwitang, Jakarta pada 11 Mei 1914.

    Sejak kecil ia tidak banyak menerima kasih sayang sang ibu, karena ibunya meninggal ketika ia berusia tiga bulan.

    Sedangkan kakak kandungnya bernama Anie Haminah yang umurnya berbeda sekitar sebelas tahun.

    Ismail menempuh pendidikan di HIS Idenburg, Menteng sampai tamat kelas 7, dilanjutkan ke MULO di jalan Menjangan, Jakarta.

    Saat itu ia dibelikan ayahnya alat musik seperto harmonika, mandolin, dan lain-lain. Dengan alat musik itu ia bermain musik dan menciptakan lagu.

    Lagu pertamanya berjudul O Sarinah yang ia ciptakan saat berusia 17 tahun.

    Dengan bekal ijazah MULO dan lancar berbahasa Inggris dan Belanda ia diterima bekerja di Socony Servie Station. Tetapi ia tidak lama bekerja di sana.

    Ismail kemudian bekerja di perusahaan dagang KK Nies, yang menjual alat-alat musik dan merekam piringan hitam.

    Ia senang bekerja disana karena bisa menyalurkan bakatnya dalam bidang musik.

    Sejak usia muda, Ismail sudah menguasai berbagai alat musik. Sekitar tahun 1936 Ismail bergabung dengan perkumpulan orkes Lief Java pimpinan Hugo Dumas.

    Di sanalah kemampuannya meningkat pesat. Ia sangat kreatif mengaransemen lagu beragam genre, lagu-lagu Barat, irama keroncong, maupun langgam Melayu.

    Ia yang pertama memperkenalkan instrument akordean kedalam langgam Melayu sebagai pengganti harmonium pompa.

    Sejak itu ia memperoleh kesempatan tampil dalam siaran Nederlands Indische Omroap Maatschapij dan tidak pernah meninggalkan dunia radio.

    Kegiatannya lebih banyak menggubah dan mengaransemen lagu-lagu.

    Saat pendengar radio meminta Lief java menyiarkan lagu-lagu Hawaii juga, maka dibentuk sebuah Band Hawaiian dengan nama Sweet Java Islander yang diisi oleh Ismail, Victor Tobing, Hasan Basri, Pek De Rosario,dan Hardjomuljo.

    Karya-karya Ismail pertama mulai direkam ke piringan hitam pada 1937 yang disambut hangat oleh para penggemar musik.

    Diantara lagu yang direkam antara lain O Sarinah, Ali Baba Rumba, dan Olhe Lheu Dari Kotaradja.

    Setahun kemudian Ismail Marzuki mengisi suara dalam film Terang Bulanyang diperankan oleh Rd. Muchtar dalam lagu Duduk Termenung, karena bintang film itu tidak sanggup menyanyikannya.

    Kesuksesan di dunia film membuatnya diundang ke Malaysia dan Singapura dalam serangkaian pementasan.

    Salah satu lagu yang ia ciptakan pada 1939 berjudul Als De Orchideen Bloeien, sangat memikat hati penggemar di seluruh tanah air bahkan hingga ke negeri Belanda.

    Pemancar Radio Hilversium, Nederland, sering menyiarkan lagu itu atas permintaan pendengar.

    Pada masa penjajahan Jepang ia melakukan perlawanan dengan caranya sendiri melalui lagu. Ia menggubah lagu Bisikan Tanah Air serta lagu Indonesia Pusaka.

    Ia pernah dipanggil oleh Kenpetai untuk dimintai penjelasan saat lagu itu disiarkan secara luas di radio. Ia juga membuat lagu perjuangan untuk Peta (Pembela Tanah Air), yaitu mars Gagah Perwira.

    Lagu Rayuan Pulau Kelapaia ciptakan tahun 1944. Ia tidak sendiri, karena komposer lain seperti Cornel Simandjuntak membuat lagu yang menggugah semangat, Maju Tak Gentar, dan Kusbini membuat lagu yang membangkitkan perasaan Bagimu Negeri.

    Ismail menikah pada 1940 dengan Eulis Zuraidah. Sampai akhir hayatnya Ismail tidak dikaruniai anak. Tetapi ia memiliki seorang anak angkat bernama Rachmi Aziah.

    Pada tahun 1956 Ismail jatuh sakit. Lagu terakhir yang ia ciptakan yang dibuat pada masa sakit berjudul Inikah bahagia? Pada tanggal 25 Mei 1958 di Jakarta, Ismail meninggal dunia di usia 44 tahun.