Tag: pelajar banyuwangi

  • Festival Literasi Bahasa Using 2026 Angkat Tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, Merawat Budaya Sekaligus Membentuk Generasi Beradab

    Festival Literasi Bahasa Using 2026 Angkat Tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, Merawat Budaya Sekaligus Membentuk Generasi Beradab

    Festival Literasi Bahasa Using 2026 kembali digelar sebagai ruang untuk memperkuat pelestarian bahasa, sastra, seni, dan budaya Using di Banyuwangi.

    Mengangkat tema “Ngurmati Wong Tuwek Ambi Guru”, kegiatan ini menekankan pentingnya penghormatan kepada orang tua dan guru sebagai bagian dari pembentukan adab serta budi luhur generasi muda.

    Festival tersebut digelar di Panggung Kreatif Gesibu Blambangan, Sabtu, 5 September 2026.

    Sebanyak 450 murid SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, mengikuti rangkaian perlombaan yang diselenggarakan dalam festival tersebut.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Bahasa Ibu yang secara nasional digelar di 19 provinsi.

    Di Jawa Timur, kegiatan literasi bahasa ibu mencakup Bahasa Using dan Bahasa Madura yang dilaksanakan di tujuh kabupaten.

    Selain itu, juga mulai dirintis kegiatan bahasa di wilayah sekitar Sidoarjo dan Gresik.

    Untuk tingkat Jawa Timur, seluruh rangkaian kegiatan akan digelar pada Oktober mendatang di Balai Bahasa Jawa Timur, Surabaya.

    Juara pertama dari masing-masing kategori atau cabang lomba akan melanjutkan kompetisi di tingkat tersebut.

    Khusus untuk Bahasa Using, para juara secara otomatis menjadi wakil Jawa Timur dalam Festival Bahasa Ibu di Jakarta.

    Para pemenang juga memperoleh apresiasi berupa sertifikat yang ditandatangani Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen).

    Sertifikat tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pendukung dalam SPMB melalui jalur prestasi.

    Dalam Festival Literasi Bahasa Using 2026, peserta mengikuti tujuh cabang lomba sesuai petunjuk teknis (juknis) nasional.

    Pelaksanaan lomba ditempatkan di 14 kelas di SDN Kepatihan. Ketujuh cabang tersebut meliputi aksara, nembang, geguritan, dongeng cerita, ngewer, nulis cerita, dan pidato.

    Selain tujuh cabang lomba tersebut, panitia juga menghadirkan inovasi mandiri berupa Memengan Teater untuk jenjang SD dan Mocoan Lontar untuk jenjang SMP.

    Kabid SD Dispendik, Drs. Sutikno, menyampaikan bahwa festival tersebut menjadi wadah kreativitas dan prestasi yang lahir dari proses pembelajaran di sekolah.

    Menurutnya, kegiatan ini sekaligus menunjukkan kepedulian Pemerintah Daerah terhadap pelestarian dan pengembangan Bahasa Using.

    Jika pada tahun sebelumnya festival mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, tahun ini tema yang dipilih berfokus pada penghormatan terhadap orang tua dan guru.

    Pesan tersebut menjadi penting untuk memperkuat adab dan budi luhur di tengah tantangan kebiasaan penggunaan gawai pada era digital.

    Festival dibuka oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Pembukaan ditandai dengan prosesi tarik janur Kopat bersama Muspida serta basanan bersama para murid.

    Ipuk mengungkapkan bahwa festival tersebut memiliki arti strategis karena mempertemukan budaya literasi dengan budaya kearifan lokal sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

    Suasana festival juga semakin semarak dengan penampilan tari dari siswi SMP Negeri 2 Rogojampi yang telah meraih prestasi tingkat nasional.

    Penampilan tersebut diiringi gamelan Wiyogo Lare dari Sanggar Sayu Wiwit Aliyan dan tampil atraktif serta memukau para penonton.

    Rangkaian kegiatan juga diisi doa yang dipimpin Dr. H. Fathurahman dari Kemenag serta santunan kepada yatim piatu.

    Doa dan santunan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar serta harapan kepada Gusti Pengeran agar festival tahunan tersebut berjalan lancar dan mendapatkan keberkahan.

    Setelah melalui proses penampilan dan penilaian, peserta dinilai oleh juri dari berbagai latar belakang.

    Mereka berasal dari kalangan seniman dan budayawan, di antaranya Dewan Kesenian Blambangan, Sengker Kuwung Blambangan, Pesinauan Kemiren, serta Sanggar Merah Putih ’45.

    Selain itu, terdapat wartawan Sastrawacana Jurnal News, radio komunitas JRKBB-JRKI, youtuber, Koppiwangi, tutor PKBM Koppat, akademisi bidang sastra dan budaya, serta guru madrasah yang memiliki karya dan prestasi juara.

    Juri Festival Literasi Using 2026

    Penilaian juga melibatkan unsur guru KKG dan MGMP Bahasa Using SMP yang sebelumnya telah mendapatkan pembekalan materi lomba dari para ahli.

    Pembekalan tersebut difasilitasi oleh Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Dari proses tersebut kemudian terpilih lima besar pada setiap cabang lomba yang langsung diumumkan.

    Para juara berasal dari berbagai wilayah Banyuwangi, mulai Pesanggaran, Purwoharjo, Cluring, Sempu, Songgon, Singojuruh, Srono, Blimbingsari, Kalipuro, Glagah, Kabat, hingga wilayah kota.

    Kemenangan juga diraih sejumlah sekolah swasta yang berhasil menjadi juara pertama.

    Dengan capaian tersebut, mereka berhak melanjutkan ke tingkat Jawa Timur di Surabaya sekaligus memperoleh tambahan pembinaan.

    Salah satu peserta, Arayo asal Desa Kebo-Keboan, Alasmalang, yang bersekolah di SMPN 3 Rogojampi, mengungkapkan rasa syukurnya setelah kembali meraih prestasi.

    “Alhamdulillah tahun lalu juara pidato dan tahun ini juara lawakan ngewer. Kesuwun guru hang bimbing lan emak hang dungo ugo kanca-kanca kabeh!,” ungkap Arayo.

    Sementara itu, juri Mocoan, Slamet Nyamsul Diharjo, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut yang dinilainya dapat menjadi bagian dari kaderisasi untuk menjaga keberlanjutan seni, budaya, adat, dan tradisi leluhur.

    “Kesuwun dikanggoaken kaderisasi ngelestariaken seni budaya adat tradisi leluhur!,” tutur Slamet Nyamsul Diharjo.

    Hal senada disampaikan Nuchbah Baroroh Maulidah, S.Ag., guru MTsN 1 Banyuwangi yang selama dua tahun berturut-turut terlibat sebagai juri geguritan.

    Ia mengaku senang dapat berkolaborasi dengan penyair yang memiliki karya dan prestasi di bidang baca puisi Jawa Timur.

    “Senang sudah 2 tahun ini jadi juri geguritan undhorasa bareng penyair yang punya karya dan prestasi baca puisi jatim!” kata Nuchbah Baroroh Maulidah, S.Ag.

    Nuchbah sendiri merupakan guru yang juga aktif berkarya di bidang puisi. Karya puisinya telah masuk dalam antologi ASEAN.

    Ia juga pernah meraih juara 1 baca puisi Radar Banyuwangi untuk kategori guru.

    Melalui Festival Literasi Bahasa Using 2026, pelestarian bahasa ibu tidak hanya ditempatkan sebagai upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, meraih prestasi, sekaligus memperkuat karakter melalui bahasa, sastra, seni, dan kearifan lokal.

    (Aguk Wahyu Nuryadi/Yechot)

  • Avilla dan Reyhan Raih Gelar Jawara Lomba Bercerita PARFI Banyuwangi

    Avilla dan Reyhan Raih Gelar Jawara Lomba Bercerita PARFI Banyuwangi

    Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Kabupaten Banyuwangi menggelar lomba bercerita bertema kepahlawanan nasional dan perjuangan daerah di Terminal Wisata Terpadu Sobo, Jumat (28/8/2026).

    Kegiatan tersebut mendapat dukungan Bidang Festival Seni Budaya Jawa Timur yang diketuai Laros Dr. Hj. Soekanti Swastika Wati, SH, MM.

    Peserta lomba berasal dari kalangan pelajar dan terbagi dalam dua kategori, yakni SD/MI serta SMP/MA/SMA/SMK.

    Pada kategori SMP/MA/SMA/SMK, juara diraih Reyhan Iftitah Surya dari SMA Muhammadiyah 2 Genteng.

    Ia membawakan kisah perjuangan pasukan Macan Putih dalam Agresi Militer II di wilayah Jalen, Genteng, dengan mengangkat sosok Letkol Baderun dan Kapten Samiran.

    Sementara itu, Avilla Putri Yuwono dari MI Islamiyah Rogojampi menjadi juara pada kategori SD/MI sekaligus memperoleh penghargaan naskah terbaik. Avilla mengangkat kisah Psedo Wilis yang bersumber dari buku Sejarah Seni Budaya Banyuwangi karya Yeti Chotimah.

    Cerita tersebut dibawakannya dengan judul Sayu Wiwit Srikandi Blambangan.

    Prestasi yang diraih keduanya bukan tanpa pengalaman.

    Reyhan dan Avilla sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam seni bertutur dan puisi hingga tingkat Provinsi Jawa Timur.

    Selain para juara utama, panitia juga memberikan apresiasi kepada peserta lainnya.

    Penghargaan harapan 3 diraih Dzakiyah dari MI Darunnajah 2 Banyuwangi yang membawakan sosok Bung Hatta.

    Sementara Kirana dari SMPN 1 Rogojampi mengangkat kisah Prabu Tawang Alun yang bersumber dari buku Lontar Babad Tawang Alun karya Wiwin Indiarti serta buku Sejarah Seni dan Budaya Banyuwangi karya Yeti Chotimah.

    Yeti Chotimah sendiri diketahui merupakan Ketua MGMP Bahasa Using SMP sekaligus Guru Pendamping Khusus Disabilitas.

    “Terima kasih pelatih yang telaten dan ibu ibu Dharma Wanita Persatuan Bappenda PPD UPT Banyuwsngi yang kompak hingga anak kami percaya diri serta meraih trophy pertama di ajang non akademik bidang seni. Semoga event berikutnya bisa masik 3 besar,” ungkap ibu Kirana, Eka Pujiastuti sembari memeluk anak semata wayangnya sembari menangis haru.

    Penasehat Panitia, Bahtiar Dahlan, SH, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan bercerita, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan sekaligus meluruskan kembali sejarah perjuangan daerah.

    Menurutnya, materi yang dibawakan para peserta berpotensi dikembangkan menjadi bahan skenario film pendek.

    Para peserta juga berkesempatan mendapat pengalaman lebih jauh di bidang perfilman, termasuk menjadi talent, aktor maupun artis.

    “Kami Terima kasih ke kadisbudpar, bakesbangpol, camat, kolase, Komunitas Kebaya dan Senam serta Mitra sponsor yang partisipasinya dalam lomba bercerita serta nonton bareng Film edukasi Ada Hantu Di Menara Merdu dan Motivasi Disabilitas di SLB PGRI Tegaldlimo,” pungkas aktivis Pemuda Panca Marga ini. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.

  • Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Sebanyak 14 pelajar asal Kabupaten Banyuwangi yang terdiri dari 7 siswa SD dan 7 siswa SMP diberangkatkan menuju Surabaya untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Timur, Jumat (7/11).

    Kegiatan pelepasan peserta berlangsung di pelataran Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M.

    Dalam arahannya, Suratno menyampaikan agar para peserta terus melestarikan bahasa Using dan tidak malu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

    “Ke-14 siswa tersebut merupakan duta Bahasa Using yang telah bertanding secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan kini provinsi. Mereka adalah hasil seleksi dari kegiatan Festival Literasi Using yang dilaksanakan pada 1 November 2025 dan dihadiri langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani,” paparnya.

    Juara Puisi Festival Literasi Using

    Sementara itu, Erpandi, S.Pd., M.Pd., salah satu pendamping delegasi, menyampaikan harapan besar kepada para peserta.

    “Bisa jadi nanti mereka yang masuk peringkat satu di ajang Tunas Bahasa Ibu kategori Bahasa Madura dan Bahasa Using akan terundang pada peringatan Hari Pendidikan Nasional bulan Mei 2026 di tingkat nasional,” tuturnya sambil mengajak seluruh kafilah menaiki bus pariwisata.

     

    Selain berkompetisi, duta Banyuwangi yang merupakan gabungan pelajar SD dan SMP bersama para guru juga akan menampilkan seni pertunjukan khas Banyuwangenan di Surabaya.

    Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Jawa Timur digelar pada 6–8 November 2025 di Hotel Santika Surabaya, dengan format awarding.

    Peserta berasal dari empat kabupaten di Madura, serta Situbondo dan Bondowoso.

    Adapun Banyuwangi menjadi satu-satunya peserta dengan bahasa Using yang sebelumnya telah menorehkan prestasi di tingkat nasional pada ajang serupa.

    Daftar Delegasi Banyuwangi Peraih Juara 1

    Nulis Aksara

    • Ahmed Fahrizi Paythoni – SMPN 2 Banyuwangi
    • Tinnaka Aknini Magfiroh – SDN 2 Gintangan, Blimbingsari

    Ndongeng

    • Graceylla Alley Nadyne CP – SMPN 5 Banyuwangi
    • Novi Jasmin Al Marista – SDN 2 Sumberagung, Pesanggaran

    Ngewer

    • Achmad Fikry Setiawan – SMPN 3 Rogojampi
    • Ulan Pancar Sari – SDN 3 Rogojampi

    Pidato

    • Arayo Datan Pratama – SMPN 3 Rogojampi
    • Annora Hanifa Firmala – SDN 1 Licin

    Maca Geguritan

    • İstiqlal Syukri Ahmad – SMP Bustanul Makmur, Genteng
    • Nabila Umaira Bramanta – SDN 4 Penganjuran, Banyuwangi

    Nembang

    • Cinta Qieta Berliana Putry – SMP Muhammadiyah 7 Sempu
    • Putri Qoireen Khumaira Herlangga – SDN 1 Rogojampi

    Nulis Cerita Cendhek

    • Anggun Aulia Pratama Putri – SMPN 2 Cluring
    • Keyra Febrisal Wardani – SDN 1 Pakistaji, Kabat

    Selain itu, juara 2 kategori cerita cendhek, Sifa Zulliyati (SMPN 1 Singojuruh) dan Aisya Nada Nahdliyina (SDN 1 Tamansuruh, Glagah), juga diundang menghadiri awarding.

    Juara Festival Literasi Using

    Para peserta tersebut akan mengikuti program inkubasi pelatihan menulis cerpen dwibahasa (bahasa lokal dan bahasa Indonesia) yang dilaksanakan Balai Bahasa Jawa Timur bekerja sama dengan Sengker Kuwung Blambangan di Hotel Swiss-Belinn Manyar, Surabaya, pada 9–11 November 2025.

    Peserta dari kategori bahasa Madura juga dijadwalkan mengikuti pelatihan serupa dalam kegiatan bertajuk Kemah Cerpen.

    Salah satu pengurus MGMP Bahasa Using SMP, Widyaningsih, S.Pd. dari SMPN 1 Blimbingsari, berharap bahasa Using terus dilestarikan dan memiliki penerus di masa mendatang.

    “Bahasa Using harus terus bergenerasi sampai anak cucu nanti. Untuk jenjang SD sudah lama berjalan sebagai muatan lokal, tapi di tingkat SMP belum ada regulasi yang tegas. Harapannya, lewat ajang festival ini, Bupati bisa membuat gebrakan yang menjadi gerakan nyata,” ujarnya.

    Widyaningsih juga menegaskan, keberlanjutan bahasa daerah tak hanya bergantung pada peserta didik, tetapi juga dukungan kebijakan dan pelatihan guru melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) dan diseminasi.

  • Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar Lomba Baca Puisi dan Bercerita tingkat SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (26/10).

    Kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” ini berlangsung meriah di ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Sejak pagi, ratusan peserta bersama guru dan orang tua memenuhi ruangan dengan antusiasme tinggi.

    Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai pembukaan lomba sekaligus pelaksanaan Workshop Pentigraf yang diikuti pelajar dari jenjang SMP hingga SMA sederajat.

    Dari jenjang SD/MI hingga SMP di wilayah Siliragung dan sekitarnya, antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa dunia literasi kini semakin dekat dan digemari.

    Untuk lomba baca puisi, kategori A diikuti oleh 20 peserta dan kategori B diikuti 50 peserta. Sementara lomba bercerita diikuti oleh 43 peserta.

    Dewan juri terdiri dari tokoh dan praktisi sastra, antara lain Andi BS (Ketua KOPIWANGI), Andi Sep Kurniawan (Penulis Cerita Dwi Bahasa Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur), Meilysa Ajeng Kartika (Dosen dan Penulis), Heri Iskandar (Sastrawan Using dan Konten Kreator), Efa ET (penulis), serta Indriana Laili (jurnalis dari sastrawacana.id/).

    Adapun Workshop Pentigraf diikuti 60 peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Narasumber utama, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi, membagikan pengalaman menulis cerita tiga paragraf dengan pendekatan kreatif dan inspiratif.

    Suasana semarak literasi di ballroom ED Hotel SMK Muhammadiyah 8 Siliragung makin terasa hangat saat acara dibuka dengan sambutan dari Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan.

    Andi Budi Setiawan

    Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak sekolah yang telah menghadirkan kegiatan literasi yang kreatif dan inspiratif.

    “Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Kepala SMK Models Siliragung yang telah mengadakan event literasi yang begitu hebat. Tidak semua lembaga pendidikan mampu menghadirkan kegiatan sebesar dan seindah ini,” ungkap Andi penuh semangat.

    Ia juga berpesan kepada peserta untuk menjadikan lomba sebagai ruang kebahagiaan, bukan sekadar kompetisi.

    “Menang atau kalah itu biasa. Yang penting, tampil dengan hati senang dan sepenuh hati karena dari situlah semangat literasi sejati lahir,” tambahnya.

    Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jembatan untuk memperluas wawasan dan memperhalus budaya.

    “Bahasa bukan sekadar retorika, melainkan sarana memahami kehidupan dan menebar kebaikan,” tuturnya.

    Muhlas juga menyoroti pentingnya kegiatan literasi di sekolah, khususnya melalui ekstrakurikuler jurnalistik yang aktif membina siswa SMP di wilayah Siliragung.

    “Anak-anak jurnalistik kami turun langsung ke sekolah-sekolah menengah untuk berbagi ilmu menulis berita. Ini bentuk nyata bahwa literasi dapat menjadi amal ibadah yang luas manfaatnya,” ujarnya.

    Dalam sambutannya, ia sempat bernostalgia tentang masa mudanya sebagai pimpinan redaksi media kampus.

    Pengalaman itu menurutnya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menulis dan berpikir kritis dapat membentuk karakter dan kepekaan sosial.

    Lomba Baca Puisi SMK Models Siliragung

    Setelah sambutan dan pembukaan resmi oleh Kepala Sekolah, para peserta diarahkan menuju ruang lomba masing-masing. Sementara itu, peserta Workshop Pentigraf tetap di ballroom untuk mengikuti sesi pelatihan intensif.

    Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi SMK Muhammadiyah 8 Siliragung dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Kesuksesan acara juga tak lepas dari kerja keras Tim Panitia Ekskul Models Jurnalisme di bawah koordinasi Cici Arista Devi, selaku tenaga pendidik sekaligus pembina dari tim jurnalis di  SMK Models Siliragung. (Andi BS)