Tag: pelatihan

  • Perkuat Media NU di Era Digital, MWC NU Rogojampi dan YPIA Rogojampi Gelar Lokakarya Jurnalistik Berbasis AI

    Perkuat Media NU di Era Digital, MWC NU Rogojampi dan YPIA Rogojampi Gelar Lokakarya Jurnalistik Berbasis AI

    sastrawacana.id/ – Dalam rangka memperingati Harlah ke-100 Masehi Nahdlatul Ulama, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Rogojampi bersama Yayasan Pendidikan Islam Ahlussunah WalJama'ah (YPIA) Rogojampi bekerja sama dengan Media sastrawacana.id/ menggelar Lokakarya Jurnalistik Digital NU bertema Inovasi Penulisan Berita dan Dokumentasi NU Berbasis Artificial Intelligence.

    Kegiatan ini dilaksanakan di MI Islamiyah Rogojampi, Ahad (8/2/2026).

    Lokakarya yang dimulai pukul 08.30 WIB ini diikuti puluhan peserta, mayoritas dari kalangan kader muda NU, termasuk perwakilan IPNU, IPPNU ISNU, pengurus ranting NU se-Kecamatan Rogojampi, serta operator dan kepala sekolah lembaga pendidikan di bawah naungan YPIA Rogojampi.

    Hadir pula jajaran syuriah dan tanfidziyah MWC NU Rogojampi, pengurus YPIA, serta perwakilan lembaga pendidikan mulai dari TKM Khodijah 2, MI Islamiyah Rogojampi, MTs Rogojampi, hingga SMA Sultan Agung Rogojampi.

    Kegiatan diawali dengan khutbah iftitah yang disampaikan oleh Rois Syuriah MWC NU Rogojampi, Kyai. Faturrozaq Ahdini.

    Dalam pesannya, Kyai Faturrozaq menekankan pentingnya tanggung jawab moral warga NU di era digital.

    Ia menyebutkan tiga hal yang menjadi tanda rahmat Allah SWT kepada manusia, yakni menjaga lisan dan tulisan, mengenali zaman atau era yang sedang dihadapi, serta istiqamah di jalan Ahlussunnah wal Jamaah.

    “Di era digital dan kecerdasan buatan, menjaga ucapan dan tulisan menjadi sangat penting. Jari jemari kita hari ini bisa menjadi ladang pahala, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah jika tidak dijaga,” pesan Kyai Faturrozaq singkat namun reflektif.

    Ketua Pengurus YPIA Rogojampi, Drs. H. Moh. Dimyati, MM, dalam sambutannya menegaskan bahwa literasi digital merupakan kebutuhan mendesak, terutama bagi generasi muda NU.

    Ia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, sehingga harus direspons dengan sikap bijak dan bertanggung jawab.

    “Generasi muda NU harus sadar teknologi. Kita sudah berada di era digital. Media harus digunakan secara bijak, karena apa yang keluar dari mulut dan tulisan kita akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

    Ia juga menekankan pentingnya mekanisme kontrol editorial, agar setiap berita yang dipublikasikan benar, jelas, dan membawa manfaat.

    Sementara itu, Nanang Khoriri, SH, yang mewakili Ketua Tanfidziyah MWC NU Rogojampi, menyoroti Artificial Intelligence (AI) sebagai fenomena yang memiliki manfaat sekaligus risiko.

    Menurutnya, warga NU tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus selangkah lebih maju dalam memahami dan memanfaatkan AI, khususnya dalam pengelolaan media dan informasi.

    “AI punya kelebihan dan kelemahan. Karena itu, kita harus bijak dalam menggunakan media sosial dan teknologi, agar tidak terjebak arus informasi yang menyesatkan,” tegasnya.

    Lokakarya ini menghadirkan Maulana Affandi Digital Specialist Lintang Academy sebagai narasumber utama.

    Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia hingga tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan.

    Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi peluang besar bagi NU untuk memperkuat dakwah dan narasi keumatan melalui media digital.

    Ia menjelaskan secara teknis pemanfaatan AI dalam penulisan berita dan konten.

    Mulai dari proses ide, penyusunan prompt yang tepat, hingga menghasilkan draft awal yang kemudian harus diedit dan diverifikasi oleh manusia.

    “AI bukan pengganti jurnalis. Ide, arah, dan nilai tetap menjadi tanggung jawab manusia. Hasil AI hanyalah bahan mentah yang wajib disunting agar layak konsumsi publik,” jelasnya.

    Dalam sesi diskusi, peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan, terutama terkait penggunaan AI untuk menulis berita NU secara cepat dan praktis tanpa meninggalkan kaidah jurnalistik.

    Maulana menegaskan bahwa manusia tetap menjadi pengendali utama, sedangkan AI hanyalah alat bantu yang bisa diarahkan sesuai kebutuhan.

    Menjelang akhir sesi pertama, peserta diajak praktik langsung menulis berita dengan bantuan AI.

    Praktik ini memberikan pengalaman nyata bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara efektif, asalkan digunakan secara etis dan bertanggung jawab.

    Narasumber kedua, Andi BS sebagai Jurnas sastrawacana.id/, menekankan bahwa menulis berita NU adalah bentuk khidmah.

    andi budi setiawan mwcnu rogojampi

    Ia mengingatkan pentingnya prinsip kejujuran, kejelasan, dan kemanfaatan, serta penggunaan pola dasar 5W+1H.

    Ia juga mengajak peserta mengangkat kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan budaya NU, serta menghindari kabar provokatif dan praktik salin-tempel.

    Sebagai tindak lanjut, peserta diberi tugas menulis berita tentang kegiatan di lingkungan masing-masing dalam waktu 1×24 jam untuk dikumpulkan kepada panitia sebagai produk lokakarya.

    Salah satu peserta menyampaikan, “Saya sangat mendukung kegiatan lokakarya jurnalistik semacam ini. Materinya padat dan sangat bermanfaat, membantu menulis berita secara mudah, cepat, dan praktis.”

    Panitia berharap lokakarya ini menjadi langkah awal penguatan media NU di Rogojampi, sekaligus mendorong keberlanjutan pengelolaan media online mwcnurogojampi.com dan ypiarogojampi.mwcnurogojampi.com sebagai sarana dakwah, literasi, dan syiar NU yang berdampak luas bagi masyarakat Rogojampi dan Banyuwangi.

  • Dari Dapur Rumahan ke Ruang Pelatihan, Kisah Alfina Bakery yang Menularkan Semangat Kuliner di Banyuwangi

    Dari Dapur Rumahan ke Ruang Pelatihan, Kisah Alfina Bakery yang Menularkan Semangat Kuliner di Banyuwangi

    Bicara kuliner di Banyuwangi seolah tak ada habisnya. Setiap sudut kota menawarkan cita rasa khas yang menggugah selera, seiring berkembangnya sektor ekonomi dan pariwisata yang kian menjanjikan.

    Di sektor pariwisata sendiri, kuliner menjadi bagian tak terpisahkan dari daya tarik destinasi. Setiap daerah memiliki makanan khas, mulai dari hidangan berat hingga jajanan tradisional yang menggugah selera wisatawan maupun warga lokal.

    Lebih dari itu, di jantung kota ada sebuah event mingguan yang sudah lama dikenal masyarakat, yaitu Banyuwangi Creative Market (BCM).

    Kegiatan ini digelar di area Gesibu Taman Blambangan dan telah berlangsung sejak sebelum pandemi hingga sekarang.

    Pada pertengahan Agustus 2025 lalu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Koperasi juga meluncurkan event serupa bernama Community & Food Day (CFD).

    Acara ini diadakan setiap hari Minggu di sepanjang Jalan Ahmad Yani, mulai dari depan kantor kecamatan hingga ke depan SMPN 1 Banyuwangi yang diikuti oleh para pelaku UMKM dari berbagai penjuru kota.

    Perkembangan kuliner di Banyuwangi semakin terasa dengan menjamurnya kafe-kafe kekinian, baik berskala kecil maupun besar.

    Hampir di setiap sudut kota, bahkan hingga ke jalan-jalan perkampungan dan kawasan Kecamatan Glagah, kini berdiri kafe yang menawarkan aneka menu pastry dan bakery.

    Dilengkapi dengan minuman kopi modern yang digemari anak muda, banyak kafe menghadirkan konsep berkelas dengan latar pemandangan alam pedesaan, kebun, dan bukit yang memanjakan mata.

    Konsep yang sederhana namun hangat, berpadu dengan aneka roti, cake, dan kudapan manis, membuat kafe-kafe ini semakin diminati.

    Di sisi lain, meski toko roti di Banyuwangi sudah sangat banyak, mulai dari yang besar hingga rumahan, keberadaan tempat kursus atau pelatihan membuat roti masih jarang ditemui di kota yang dikenal dengan sebutan Kota Gandrung ini.

    Pelatihan Alfina Bakery

    Di tengah minimnya tempat pelatihan membuat roti di Banyuwangi, Alfina Bakery Cake & Cookies atau yang akrab disebut Kedai Makmoer hadir menawarkan solusi.

    Gerai yang berlokasi di Jalan Mayor Supono No. 10, Lingkungan Stendo, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi ini dikelola oleh Ulfiatuz Zuhro.

    Selain menjual berbagai produk roti dan kue, Ulfi juga aktif mengadakan pelatihan singkat atau LATBAR (Latihan Bareng) untuk masyarakat umum.

    Ia tak ingin sekadar disebut pemilik toko, melainkan lebih nyaman dikenal sebagai home baker, karena usaha ini berawal dari resep-resep rumahan.

    Lahir di Kecamatan Puger, Jember, Ulfi kerap mengikuti berbagai kelas khusus di kota asalnya bersama mentor berpengalaman.

    Dari situlah ia memperdalam ilmu tata boga, khususnya di bidang bakery dan pastry, hingga kini mampu membagikan pengetahuannya kepada banyak orang dengan penuh semangat.

    Roti Alfina Bakery

    Produk Alfina Bakery sangat beragam, mulai dari roti bluder, roti macan, roti tawar gandum, roti sisir, bolen, hingga sourdough cranberry.

    Setiap Minggu, Ulfi menggelar kegiatan LATBAR yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar dari dasar, mulai dari mengolah adonan hingga menghias hasil akhir.

    Pada Minggu, 19 Oktober 2025, kegiatan LATBAR kembali digelar di Kedai Makmoer dengan tiga materi pelatihan, yaitu Strawberry Shortcake, Salt Bread, dan Pastel Tutup.

    Sebanyak 15 peserta ikut berpartisipasi, berasal dari berbagai wilayah seperti Tegalsari, Genteng, dan daerah sekitar Banyuwangi.

    Salah satu peserta, Srina Lestari dari Kecamatan Tegalsari yang merupakan lulusan SMAN 1 Bangorejo tahun 2024 mengaku antusias mengikuti pelatihan untuk kedua kalinya.

    Ia merasa senang dapat mengajak rekannya ikut serta, sekaligus menambah pengalaman belajar langsung teknik dasar membuat roti dari adonan hingga hasil akhir.

    “Luar biasa senang bisa langsung praktik sesuai materi yang diajarkan Bu Ulfi,” ujarnya.

    Srina juga mengaku pelatihan ini memberinya bekal penting untuk meningkatkan keterampilan baking, baik untuk hobi maupun peluang usaha di bidang kuliner.

    Peserta lainnya, Risgiyowati atau yang akrab disapa Bu Rizgi, warga Jalan Wiji Nongko, Kelurahan Sobo, juga rutin mengikuti kegiatan ini.

    Pelatihan Membuat Roti Alfina Bakery

    Ia menilai LATBAR bukan hanya ajang belajar, tetapi juga sarana menyegarkan pikiran setelah sibuk bekerja.

    “Lewat kegiatan ini, saya bisa bertemu peserta lain, berbagi cerita, dan menambah referensi materi pelatihan untuk dipraktikkan di rumah bersama keluarga,” tuturnya.

    Ia menambahkan, ilmu yang diperoleh dari kegiatan ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pengetahuan tentang pastry dan bakery.

    Pelatihan singkat seperti LATBAR Alfina Bakery tidak hanya menambah kreativitas dan keterampilan, tetapi juga memperluas jejaring (networking) di antara pelaku kuliner yang memiliki semangat dan minat yang sama.

    Jika Anda tertarik untuk mengikuti LATBAR ini, bisa menghubungi Ulfi di nomor 081333924441 atau datang langsung ke Kedai Makmoer di Jalan Mayor Supono No. 10, Lingkungan Stendo, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi.

  • Pegiat Literasi SMK Models Ikuti Workshop Kepenulisan & Kurasi Karya Bersama KOPIWANGI

    Pegiat Literasi SMK Models Ikuti Workshop Kepenulisan & Kurasi Karya Bersama KOPIWANGI

    Models Jurnalisme, 1 Agustus 2025 – Suasana Meeting Room lantai 3 SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) berubah menjadi ruang penuh inspirasi pada Kamis, 31 Juli 2025.

    Pagi itu, ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat dan diskusi menjelma menjadi pusat semangat literasi bagi para siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Models Jurnalisme.

    Kegiatan hari itu bertajuk Workshop Kepenulisan dan Kurasi Karya, sebuah agenda yang tak sekadar berbicara soal teknik menulis, tetapi juga menyentuh sisi reflektif dan kreatif para peserta.

    Workshop ini menjadi bagian dari persiapan menuju penerbitan buku antologi siswa yang direncanakan terbit sebagai rangkaian peringatan Bulan Bahasa mendatang.

    Kurang lebih 20 siswa mengikuti acara ini dengan penuh semangat. Yang membuat acara ini istimewa adalah kehadiran Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), sebuah komunitas literasi aktif yang telah lama bergerak di dunia kepenulisan dan penerbitan.

    Andi BS
    Ketua Kopiwangi, Andi BS (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam workshop tersebut, KOPIWANGI menghadirkan dua pemateri. Salah satunya adalah Andi Budi Setiawan, seorang pendidik sekaligus penulis dari SMK PGRI Rogojampi.

    Ia juga menjabat sebagai Ketua KOPIWANGI dan dikenal produktif di bidang jurnalistik dan sastra, dengan sejumlah buku puisi dan pentigraf yang telah ia terbitkan.

    Materi yang disampaikan dalam workshop tersebut berfokus pada tips menulis puisi dan pentigraf secara cepat, padat, dan layak terbit.

    Para peserta diajak memahami struktur karya sastra mini dalam bentuk yang ringan dan interaktif, sehingga tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga langsung dapat dipraktikkan.

    Namun, lebih dari sekadar membahas format dan teknik menulis, Andi Budi Setiawan juga menekankan pentingnya nilai reflektif dalam literasi. Dalam salah satu momen penyampaian materi, ia berkata

    “Orang yang mencintai literasi sering kali tanpa sadar mampu memperdayakan diri sendiri bukan dalam arti negatif, melainkan karena mereka terbiasa mengevaluasi diri. Di situlah letak kekuatan literasi memperdayakan melalui pemahaman dan refleksi diri,” ujar Andi penuh semangat.

    Pernyataan tersebut mengundang perhatian seluruh peserta. Suasana hening sejenak sebuah tanda bahwa pesan tersebut tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan.

    Setelah sesi pemaparan, kegiatan berlanjut ke tahapan kurasi karya. Tulisan-tulisan para siswa kebanyakan berupa pengalaman selama mengikuti berbagai organisasi di SMK Models yang telah dikumpulkan sebelumnya, ditinjau secara langsung oleh para pemateri.

    Mereka memberi masukan dan menilai kelayakan karya-karya tersebut untuk dimasukkan dalam buku antologi Journey of Organisation.

    Sesi ini menjadi salah satu bagian paling menarik dari workshop. Para peserta merasakan bagaimana tulisannya dibaca dan diapresiasi oleh penulis dan kurator sungguhan.

    Bagi sebagian siswa, momen ini menjadi pengalaman pertama karya mereka diperhatikan secara serius oleh pihak luar.

    Menjelang akhir acara, suasana dibuat lebih santai melalui sesi ice breaking berupa permainan kata.

    Peserta diberikan satu kata secara acak dan diminta menghubungkannya dengan kata lain yang sesuai. Tawa dan semangat mulai terdengar memenuhi ruangan.

    Meski singkat, permainan ini berhasil mengasah spontanitas dan kreativitas berpikir peserta dalam waktu singkat.

    Workshop ini bukan sekadar satu hari belajar menulis. Ia adalah bagian dari proses yang lebih besar menghidupkan budaya literasi di sekolah, membangun kepercayaan diri dalam berkarya, dan menyatukan suara siswa dalam sebuah karya kolektif.

    Buku antologi yang sedang dipersiapkan bukan hanya kumpulan tulisan, melainkan bukti bahwa semangat menulis dan berpikir reflektif tetap tumbuh, bahkan di tengah kesibukan aktivitas sekolah.

    Melalui kolaborasi bersama KOPIWANGI, SMK Models membuka ruang bagi para siswa untuk tidak hanya menulis, tetapi juga menemukan suara mereka sendiri.

    Dan dari ruang kecil di lantai tiga itulah, semangat literasi dinyalakan, bukan hanya untuk hari itu, tetapi untuk perjalanan panjang ke depan.

  • Merawat Rasa Lewat Kata, Webinar Literasi Bahasa Indonesia dan Using Siap Lahirkan Generasi Penulis Baru

    Merawat Rasa Lewat Kata, Webinar Literasi Bahasa Indonesia dan Using Siap Lahirkan Generasi Penulis Baru

    Sebuah webinar literasi bertajuk Pelatihan Menulis Puisi dan Pentigraf Berbahasa Indonesia dan Using sukses diselenggarakan pada Jumat, 18 Juli 2025.

    Acara ini merupakan kolaborasi antara Penerbit Lintang Banyuwangi, media online sastrawacana.id/, dan komunitas literasi Kopiwangi.

    Kegiatan ini diikuti oleh 75 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, hingga praktisi literasi.

    Mereka berkumpul secara daring untuk memperdalam wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan menulis sastra, khususnya puisi dan pentigraf, dalam dua bahasa: Indonesia dan Using.

    Webinar dipandu oleh Yeti Chotimah, seorang pendidik sekaligus penulis produktif yang telah menerbitkan sejumlah buku, termasuk yang bertema kebudayaan Banyuwangi.

    Jalannya acara semakin dinamis berkat kehadiran Qurrota Ninin sebagai pembawa acara, yang telah berpengalaman dalam berbagai kegiatan literasi dan kebudayaan.

    Tiga narasumber utama dihadirkan dalam webinar ini. Pertama, Maulana Affandi, penulis sekaligus pemimpin redaksi Penerbit Lintang.

    Kedua, Andi Budi Setiawan, penulis buku dan editor sastrawacana.id/ yang juga dikenal dengan nama pena Penapanuluh.

    Ketiga, Heri Iskandar dengan nama panggung Dzakawangi, pencipta lagu serta pemerhati bahasa Using yang aktif dalam pelestarian budaya lokal.

    Dalam pemaparannya, Maulana Affandi mengingatkan para peserta akan pentingnya warisan intelektual melalui karya tulis.

    Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan ide, melainkan bentuk tanggung jawab pada generasi mendatang. Ia juga menegaskan jika penulis itu tak akan pernah mati karena pemikirannya selalu abadi.

    "Fisik kita akan lenyap suatu hari nanti, tapi pemikiran kita harus tetap hidup dan abadi di dalam buku. Maka, warisan terbaik adalah buku yang membuat kita akan dikenang oleh generasi selanjutnya," paparnya.

    Pemateri kedua, Andi Budi Setiawan yang telah menelurkan beberapa karya turut memberikan panduan teknis dalam menulis puisi dan pentigraf yang ideal.

    Salah satu poin yang ditegaskan adalah perihal pemilihan diksi yang harus dilakukan secara mendalam agar menghasilkan karya yang kuat dan penuh makna.

    "Diksi yang tepat akan menghidupkan puisi, bukan sekadar menghiasinya. Sebab, puisi itu perlu rasa yang dapat hadir dari pemilihan kata.”

    Kemudian, penulis buku Algoritma Cinta ini juga memberi tips kepada peserta untuk menggali inspirasi dari pengalaman pribadi dan suasana sekitar.

    Sementara itu, Heri Iskandar memberikan perspektif berbeda dengan menekankan pentingnya menulis dalam bahasa Using.

    Ia mencontohkan beberapa puisi karyanya dalam bahasa Using yang kemudian dijadikan lagu dan telah dikenal luas oleh masyarakat.

    “Saya mengajak generasi muda untuk bangga berbahasa Using. Jangan malu, karena jika kita tidak memakai bahasa ini, maka perlahan akan hilang dari kehidupan kita.”

    Webinar ini juga diwarnai sesi diskusi yang aktif. Salah satu peserta, Halili, S.HI, Kepala MTs Nurul Huda Blimbingsari, menyampaikan pertanyaan seputar cara menjaga konsistensi dalam menulis, terutama saat kehabisan ide.

    Heri Iskandar menjawab lugas, “Yang membuat tulisan tidak selesai biasanya rasa malas. Karena itu, semangat menulis harus dijaga. Jangan menunda-nunda, karena semakin ditunda, semakin berat untuk memulai kembali.”

    Sebagai penutup, panitia memberikan buah tangan berupa beberapa buku bagi peserta yang aktif dan berani berbicara tentang mimpinya menjadi penulis.

    Selain itu, disampaikan pula bahwa webinar ini akan berlanjut ke sesi kedua. Nantinya, para peserta akan diajak untuk menulis dan berkolaborasi dalam sebuah buku antologi yang rencananya akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa pada Oktober 2025.

    Webinar ini bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi menjadi ruang temu yang memperkuat semangat literasi, melestarikan bahasa daerah, dan menumbuhkan kesadaran untuk berkarya sebagai bagian dari warisan budaya.

  • Pelatihan Jurnalistik Digital di Saestwo Cafe Buka Peluang Baru bagi Anak Muda Banyuwangi

    Pelatihan Jurnalistik Digital di Saestwo Cafe Buka Peluang Baru bagi Anak Muda Banyuwangi

    Pelatihan jurnalistik dan digital marketing digelar di pelataran Saestwo Cafe dan diikuti oleh pelajar serta masyarakat Banyuwangi, pada Sabtu malam (10/5/2025)

    CEO Saestwo, HM. Shodiqin, menyampaikan bahwa materi yang disajikan mungkin dianggap biasa dan tidak penting oleh sebagian orang.

    Namun, dengan niat untuk menuntut ilmu, membuka “gelas kosong”, serta adanya semangat inovasi, motivasi, karakter, dan pengalaman dari para narasumber, pasti ada hikmah yang bisa diambil sebagai lentera dalam menghadapi dunia nyata di era digital saat ini.

    Shodiqin, yang juga merupakan guru di SMKN Kalipuro dan dikenal dengan ciri khas udeng PERGUNU-nya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya workshop ini.

    Di antaranya adalah Media Sastrawacana, Penerbit Lintang, Jurnal News, ACTA News, Brader Advertising, Komunitas Gotong Royong 45, dan Yayasan Aura Lentera Indonesia yang peduli pada disabilitas.

    Ia juga mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti kegiatan ini, baik secara langsung maupun melalui siaran live di media sosial seperti TikTok Zhie, Instagram Gotongroyong, dan YouTube Sastrawacana.

    Bahkan, ada netizen dari Al Azhar Mesir, Atambua Belu NTT, Probolinggo, Situbondo, dan Malang yang turut berinteraksi.

    “Oleh karena itu, saya berharap melalui pelatihan ini para peserta dapat memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam meliput berita, menulis artikel, memahami etika jurnalistik, dan cakap bermedia sosial secara sehat,” ujarnya.

    Shodiqin menekankan bahwa keberadaan para jurnalis yang bijak dalam bermedia sosial sangat penting untuk menyampaikan berita dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Banyuwangi.

    Ia berharap momentum ini dapat menjadi wadah untuk bertukar pengalaman dan saling belajar.

    “Maka dari itu, mari kita gunakan momentum ini untuk bertukar pengalaman dan belajar satu sama lain. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh sehingga ke depan bisa menjadi calon-calon jurnalis daerah yang berkualitas dan profesional,” tambahnya.

    Ia juga menyebutkan bahwa pada sore hari sebelumnya, Komunitas Kajian Lingkaran Studio Ar Rahman mengadakan diskusi dan silaturahmi bersama ormas keagamaan Islam.

    Sementara pada Minggu besok, Saestwo Cafe akan menjadi tempat berkumpulnya Komunitas Mobil Kuno Corolla.

    Sementara itu, Ketua Perkumpulan Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima yang menjadi fasilitator workshop ini menyampaikan bahwa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa yang berfungsi sebagai penyampai informasi kepada publik.

    Jurnalistik juga dapat diartikan sebagai bahasa komunikasi pengantar pemberitaan yang biasa digunakan oleh media cetak maupun elektronik.

    Workshop ini dipandu oleh host difabel daksa yang aktif di TikTok, Puji Zhie Winarsih. Narasumber pertama adalah Andi Budi Setiawan, seorang sastrawan dan wartawan.

    “Sebagai media informasi dan komunikasi, jurnalistik dituntut untuk memberikan informasi yang aktual dan faktual. Seorang jurnalis harus mampu menyampaikan informasi yang mendidik kepada masyarakat, sehingga pembaca bisa memperoleh manfaat dan mampu memfilter opini maupun hoaks,” ujar guru penggerak yang aktif di SMK PGRI Rogojampi dan Komunitas Kopiwangi ini.

    Narasumber kedua adalah Rafly Rafjanjani Aziz Attubel, seorang social media specialist yang merupakan diaspora dari perbatasan NTT dan Timor Leste serta mahasiswa UMM.

    Ia menyampaikan materi tentang bijak bermedia sosial, menguasai SEO dan SEM untuk menjadi viral dan menghasilkan cuan tanpa batas ruang dan waktu.

    Narasumber ketiga adalah Agung Broder, pengusaha dan pemilik percetakan digital printing di Rogojampi, Banyuwangi. Ia membagikan materi mengenai bagaimana menjadi pebisnis yang tangguh.

    Ketiga narasumber memberikan materi yang luar biasa dan bermanfaat, mulai dari penulisan, kebijaksanaan dalam bermedia sosial, hingga ketangguhan dalam berbisnis.

    Pemimpin Redaksi Sastrawacana, Affandi Maulana, S.S., dalam pernyataan penutupnya menyampaikan bahwa seluruh peserta akan dimasukkan ke dalam grup WhatsApp sebagai wadah untuk terus belajar literasi dan sosial bisnis.

    Ia juga membuka peluang agar kegiatan serupa dapat diselenggarakan di sekolah-sekolah, lembaga pemberdayaan masyarakat, PKBM, maupun taman baca masyarakat, dengan narasumber dan topik yang bisa disesuaikan.

  • Edukasi Jurnalistik KJJT dan Polresta Banyuwangi: Cetak Generasi Cerdas, Kritis, dan Taat Hukum

    Edukasi Jurnalistik KJJT dan Polresta Banyuwangi: Cetak Generasi Cerdas, Kritis, dan Taat Hukum

    Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) bersama Polresta Banyuwangi menggelar edukasi jurnalistik bagi pelajar SMP/MTs se-Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan bertajuk “Edukasi Jurnalistik Membangun Generasi Taat Hukum” ini bertujuan membekali para siswa dengan kemampuan literasi yang mumpuni agar terhindar dari berita hoaks dan perilaku negatif seperti bullying.

    Pada Selasa (25/2/2025), kegiatan edukasi digelar di SMPN 1 Banyuwangi dengan menghadirkan narasumber dari KJJT Banyuwangi, termasuk Yudha AO, Fitron Jelani, Bobby Yudha, serta Maulana Affandi, seorang penulis dan pegiat literasi.

    Turut hadir pula Aipda Vicki dari Sat Binmas Polresta yang dalam paparannya menjelaskan berbagai bentuk bullying yang kerap terjadi di sekolah, baik verbal maupun fisik, serta sanksi yang dapat menjerat pelaku.

    Para narasumber memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya literasi dan jurnalistik dalam menyaring informasi serta konsekuensi hukum dari tindakan bullying.

    M. Sodiq, S.Pd (1)

    Kegiatan dibuka oleh Kepala SMPN 1 Banyuwangi, M. Sodiq, S.Pd yang mengapresiasi kegiatan edukasi jurnalistik karena dirasa sangat bermanfaat untuk kreativitas siswa, khususnya dalam menghadapi mengenali hoax di era digital.

    “Terima kasih kepada teman-teman KJJT dan pihak Polresta Banyuwangi yang telah hadir, semoga apa yang disampaikan bisa bermanfaat bagi siswa, khususnya dalam meningkatkan kreativitas dan pemahaman tentang informasi digital,” ujarnya.

    Aipda Vicki

    Materi pertama disampaikan oleh Aipda Vicki yang memberi pengetahuan terkait apa saja bentuk perundungan yang kerap terjadi di sekolah.

    Ia juga menegaskan bahwa saat ini perundungan tidak hanya soal fisik saja, tapi juga ke arah digital, misalnya menggunakan stiker WhatsApp yang sifatnya mengolok-olok.

    “Kan biasanya ada foto temannya dijadikan stiker, terus dishare ke banyak orang. Lebih baik jangan, karena bisa membuat orang lain merasa malu dan sakit hati, itu bisa menjadi bentuk bullying,” tegasnya.

    Tak hanya perihal perundungan, Aipda Vicki juga menyelipkan informasi terkait kegiatan-kegiatan yang melanggar aturan hukum, seperti balap liar, hingga bahaya miras bagi pelajar.

    Maulana Affandi

    Dilanjut ke materi selanjutnya oleh Maulana Affandi yang memberi arahan bagaimana peran literasi dan jurnalistik untuk membentengi para pelajar dari informasi hoax yang marak di media sosial belakangan ini.

    “Bagaimana caranya agar kita tidak mudah termakan hoax? Ya, cara paling mudah adalah dengan literasi, terutama banyak membaca,” ujarnya.

    Tak hanya itu, Maulana Affandi yang saat ini menjabat Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi juga menambahkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis saja, tetapi juga tentang memahami informasi secara kritis.

    Setelah pemaparan materi, para narasumber mengajak para siswa untuk praktik langsung menulis berita tentang kegiatan edukasi ini.

    Fitron Jelani mengawali dengan memberi arahan kepada para siswa tentang bagaimana etika saat ingin mewawancarai narasumber, termasuk mengatur tata bahasa agar komunikasi jadi lebih baik.

    “Biasakan untuk memperkenalkan diri dulu, ya. Namanya siapa, terus dari mana, kemudian dijelaskan maksud dan tujuannya,” papar Fitron, yang kemudian langsung dipraktikkan oleh siswa.

    Tak hanya itu, Fitron Jaelani juga memberikan pengetahuan tentang pertanyaan apa saja yang hendaknya ditanyakan kepada narasumber, sehingga muatan serta substansi beritanya jadi lebih bermanfaat bagi pembaca.

    Sementara pemateri lain, Yudha AO lebih fokus kepada teknik penulisan berita, termasuk bagaimana penyusunan kata demi kata agar lebih mudah dibaca dan dipahami.

    “Berita hendaknya diawali dari nama daerah terlebih dahulu, misalnya Banyuwangi,” ujarnya, sembari memperlihatkan contoh berita di layar proyektor.

    Yudha AO juga menegaskan bahwasanya dalam menghasilkan karya jurnalistik, para siswa harus memerhatikan kalimat yang dirangkai agar tidak terjadi pemborosan kata.

    Di sisi lain, pemateri lain, Bobby Yudha yang kerap disapa Bobby menjelaskan rinci bagaimana struktur berita yang baik dan benar, sehingga berita tersebut menjadi lebih tertata dan mudah dimengerti.

    Sembari mencontohkan ke secarik kertas, Bobby membimbing siswa bagaimana proses menulis karya jurnalistik dengan dimulai dari pembuatan judul terlebih dahulu.

    Sebagai bentuk apresiasi, narasumber memberikan buah tangan berupa buku antologi puisi Algoritma Cinta karya Andi Budi Setiawan dan beberapa cokelat.

    Sementara itu, Ketua KJJT Wilayah Banyuwangi, Ricky Sulivan, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan ini.

    Ia menekankan bahwa pembekalan kejurnalistikan akan membantu pelajar mendeteksi berita palsu dan memahami produk jurnalistik yang berkualitas.

    “Dengan literasi yang baik, pelajar dapat mengenali arah sebuah berita, sehingga meminimalisir kesalahpahaman,” ujarnya.

    Ricky Sulivan menambahkan bahwa pemahaman tentang jurnalistik sangat krusial bagi generasi muda.

    Mereka perlu mengetahui bagaimana proses pembuatan berita yang benar, mulai dari penerapan prinsip 5W+1H, cara mengumpulkan data, hingga etika wawancara.

    Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda Banyuwangi yang cerdas, kritis, dan taat hukum.

    Dengan pemahaman literasi yang baik, para pelajar tidak hanya akan lebih bijak dalam menerima informasi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara positif di era digital yang serba cepat ini.

  • Pelatihan Menulis Puisi MI Darun Najah II, Majidatul Himmah: Menulislah untuk Dikenang dan Menjadi Ilmu yang Bermanfaat

    Pelatihan Menulis Puisi MI Darun Najah II, Majidatul Himmah: Menulislah untuk Dikenang dan Menjadi Ilmu yang Bermanfaat

    Sebagai bentuk kepedulian terhadap literasi, MI Darun Najah II Banyuwangi menggelar pelatihan Menulis puisi bagi siswi.

    Kegiatan yang melibatkan 99 siswi ini menghadirkan dua orang narasumber, yaitu H. Syafaat, S.H, M.H.I (Ketua Yayasan Lentera Sastra) dan Maulana Affandi, S.S (Pemred Penerbit Lintang & media Sastrawacana)

    Dalam sambutannya, Kepala Madrasah, Majidatul Himmah. S. Ag  mengingatkan jika karya dapat membuat seseorang dikenang dan menjadi amal jariyah jika tulisan itu dimanfaatkan  orang banyak, sehingga ia mengajak kepada setiap siswi untuk berkarya.

    “Tanpa karya, seseorang akan dilupakan. Maka kita harus menulis, agar nama kita dikenang selamanya,” paparnya.

    Pemateri pertama, Syafaat menjelaskan pengetahuan dasar tentang puisi dan memberi motivasi agar para siswi dapat berkarya.

    Kemudian, Syafaat juga menegaskan bahwa tidak ada tulisan yang jelek, sehingga ia menyeru kepada siswi agar tidak malu dengan tulisannya.

    “Tidak ada tulisan yang jelek, semua karya itu bagus. Jadi jangan malu, ya!” tegasnya.

    Tak hanya itu, Syafaat juga berbagi buku ‘Hebat Bersama Ummat’ pada siswa yang bisa menjawab pertanyaan, yaitu Hawa Ummu Salamah yang punya prestasi Hafidz, serta Adelia yang punya prestasi baca puisi di event Porseni, event Komunitas Gotongroyong45 dan finalis lomba se Jawa Bali di Bustanul Makmur 2023.

    Pemateri selanjutnya, Maulana Affandi yang merupakan alumni Fakultas Sastra UNEJ menggiring siswi interaktif untuk ungkapkan perasaan dan tuangkan dalam puisi.

    “Itu kenapa puisi disebut ungkapan hati atau curhat dalam bentuk tulisan yang indah, tapi cukup beberapa bait saja, nggak sampai jadi pentigraf atau cerpen bahkan novel,” paparnya.

    Affandi mengajarkan beberapa trik menulis puisi bagi siswi madrasah, salah satunya adalah menulis daftar kata yang berkaitan dengan tema atau topik yang diangkat.

    Dengan beberapa trik yang diberikan, siswi menjadi lebih mudah dalam menulis puisi.

    Setelah dialog interaktif, Maulana Affandi mengajak para siswi untuk praktik menulis puisi dengan menekankan agar menulis dengan hasil pemikiran sendiri, bukan mencontek atau duplikasi.

    Di sesi akhir, Bung Aguk yang turut hadir juga memberi arahan kepada para siswi, sekaligus membantu mereka dalam mengoreksi puisi yang ditulis.

    Kegiatan yang dipandu Miss Aida dan Yusqi  serta dinotulensi Ust Bagas itu, akhirnya menghasilkan karya puisi spontan dengan waktu relatif cepat.

    “Harapannya saat perpisahan akhir tahun ajaran akan terbit buku kedua ‘Petualangan  Penaku’ karya guru dan siswi tentang cerita dan puisi!” tutur Miss Aida yang diamanati pengembangan literasi dan kesiswaan ini.

    Sebagai iformasi tambahan, madrasah dengan program unggulan hafidzah ini, memiliki ekstra puisi, pantomin, pidato, nasyid, renang, MTQ kaligrafi .

    Di akhir pelatihan, siswi yang ikut lomba menulis surat ke Bupati dikumpulkan via Kepala Madrasah untuk selanjutnya dikirim ke Radar Banyuwangi sebelum deadline jelang Asyar.

    Penulis: Maulana Affandi/Aguk

  • Pelatihan Metode BCM untuk Guru TPA/TPQ di Banyuwangi: Mengajar Anak Lewat Bermain, Bercerita, dan Menyanyi

    Pelatihan Metode BCM untuk Guru TPA/TPQ di Banyuwangi: Mengajar Anak Lewat Bermain, Bercerita, dan Menyanyi

    LPPD SDM DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi mengadakan kegiatan Mengajar Anak dengan Memanfaatkan Metode BCM (Bermain, Cerita dan Menyanyi) yang dilaksanakan pada hari Minggu, 6 Oktober 2024 di Masjid Hijau Baitullah, Kemaleman, Banyuwangi.

    Kegiatan yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB tersebut disambut dengan penuh semangat dan riang gembira oleh 350 dewan assatidz TPA/TPQ se-Kabupaten Banyuwangi.

    Narasumber Ustaz H. Wuntat Wawan Sumbodo, seorang juru kisah nasional asal Yogyakarta memperkenalkan metode BCM (Bermain, Cerita, Menyanyi) sebagai pendekatan yang menyenangkan untuk mengajar anak-anak.

    Ia menekankan bahwa metode ini mampu mengatasi kejenuhan anak dalam belajar, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.

    Menurut Ketua Panitia, Al Mukarom Achmad Zakaria, metode BCM dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

    “Anak-anak membutuhkan suasana yang nyaman, senang, dan gembira. Dengan pelatihan BCM ini, kami berharap ustaz dan ustazah dapat mengajar dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.

    Ketua Umum DPD BKPRMI Banyuwangi, Achmad Sururuddin, SE., M.Si, menambahkan bahwa metode BCM yang meliputi kegiatan bermain, bercerita, dan menyanyi adalah pendekatan yang tepat untuk dunia anak.

    “Tugas seorang guru adalah membantu anak-anak belajar dalam suasana yang penuh kearifan. Dengan begitu, proses pembelajaran akan terasa lebih mudah,” jelasnya.

    Bermain, Bercerita, dan Menyanyi: Metode Pembelajaran yang Efektif

    Ustaz Wuntat menguraikan tiga komponen utama dalam metode BCM.

    Pertama, bermain digunakan untuk membangun kreativitas, mengenal lingkungan, dan menumbuhkan kemampuan bekerja sama.

    Kedua, bercerita digunakan sebagai sarana untuk menjalin kontak batin dengan anak, menstimulasi imajinasi, serta menyampaikan nilai-nilai agama.

    Ketiga, menyanyi yang digemari oleh anak-anak berfungsi sebagai hiburan sekaligus media untuk menyampaikan pesan.

    Dalam sesi bercerita, Ustaz Wuntat menekankan pentingnya totalitas dalam mendongeng, mulai dari mengekspresikan gerakan, menggunakan berbagai suara, hingga memilih alat peraga yang tepat.

    Ia juga mencontohkan cara memilih lagu yang tepat dengan lirik Islami untuk menyampaikan nilai-nilai positif.

    Selain mengajak bermain dengan game game mendidik, ada jurus kedua yang diberikan Ustaz Wuntat, yakni bercerita dengan mengutip akhiran ayat dari QS. Al A’raf ayat 176, “Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”

    Ada banyak cerita dan kisah teladan yang dapat dijadikan rujukan dan “senjata ampuh” untuk mengambil hati anak peserta didik.

    Setelah anak merasa senang dan cocok dengan gurunya, disitulah mulai proses mentransfer ilmu dapat dilakukan dengan baik.

    Karena seorang anak yang kurang mengenal gurunya, akan sulit untuk menerima pelajaran dari sang guru.

    Cerita mempunyai fungsi antara lain:

    1. Sarana kontak batin antara ustadz/ah dengan santri.

    2. Pendidikan imajinasi/ fantasi.

    3. Pendidikan emosi (perasaan).

    4. Media penyampaian pesan/ nilai-nilai agama.

    5. Membantu proses identifikasi diri/ perbuatan.

    6. Memperkaya pengalaman batin.

    7. Hiburan/ penyegaran & penarik perhatian.

    Lebih lanjut, Ustaz Wuntat juga menyampaikan bagaimana cara bercerita dengan baik, yaitu:

    • total
    • satukan perhatian anak
    • visualisasi gerak/ peragaan (akting)
    • ekspresif
    • ilustrasi suara, suara lazim & tak lazim: a. suara asli, b. suara besar dan suara kecil, c. suara hewan, d. suara kendaraan, dan sebagainya
    • media atau alat peraga
    • humor.
    Ustaz Angga, salah satu peserta dari TPA Al Amien Gambiran, mengapresiasi pelatihan ini.

    “Terima kasih kepada DPD BKPRMI dan Ustaz Wuntat atas ilmu yang luar biasa. Semoga pelatihan seperti ini dapat diadakan lebih sering untuk meningkatkan kemampuan para ustadz dan ustadzah,” ungkapnya.

    Pelatihan ini diharapkan dapat memperkaya metode pengajaran di lingkungan TPA/TPQ, menjadikan proses belajar mengajar lebih menarik, dan membantu anak-anak dalam mempelajari nilai-nilai agama Islam dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan dunia mereka. (Ninin/Aguk)

  • 10 Pengertian Pelatihan Menurut Para Ahli

    10 Pengertian Pelatihan Menurut Para Ahli

    Pengertian Pelatihan Menurut Para Ahli

    1. Menurut Daryanto (2007: 393)

    Dalam buku Kamus Bahasa Indonesia, kata “pelatihan” berasal dari kata “latih” (melatih) yang berarti mengajar seseorang atau binatang agar mampu melakukan sesuatu yang diharapkan (sesuatu latihan); membiasakan untuk melakukan atau berbuat sesuatu yang baik. Dan yang dimaksud dengan “pelatihan” adalah proses, cara, perbuatan melatih, kegiatan atau pekerjaan melatih.

    2. Menurut Shofiatun (2000 : 38)

    Menyatakan bahwa pelatihan adalah suatu proses belajar mengajar dengan menggunakan teknik dan metode tertentu guna meningkatkan keterampilan dan kemampuan bekerja seseorang.

    3. Menurut Sakula (1981)

    Dalam bukunya “Personnel Administration and Human Resources Management”, sebagaimana dikutip oleh Martoyo (2007: 57); Mendifinisikan “pelatihan” sebagai suatu pendidikan jangka pendek melalui suatu proses yang sistematis dan tepat guna serta terorganisir secara prosedural yang diikuti oleh beberapa orang untuk belajar teknik, ilmu pengetahuan, dan keterampilan yang telah ditentukan tujuannya.

    4. Payaman Simanjuntak (2005)

    Mendefinisikan pelatihan merupakan bagian dari investasi SDM (human investment) untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja, dan dengan demikian meningkatkan kinerja pegawai. Pelatihan biasanya dilakukan dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan jabatan, diberikan dalam waktu yang relatif pendek, untuk membekali seseorang dengan keterampilan kerja.

    5. Menurut DeCenzo dan Robin (1999:227)

    Training is a learning experience in that it seeks a relatively permanent change in an individual that will improve the ability to perform on the job. Ini berarti bahwa pelatihan adalah suatu pengalaman pembelajaran di dalam mencari perubahan permanen secara relatif pada suatu individu yang akan memperbaiki kemampuan dalam melaksanakan pekerjaannya itu.

    6. Menurut Gary Dessler (2009)

    Pengertin pelatihan menurut Gary Dessler (2009) adalah Proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, ketrampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka”.

    7. Noe, Hollenbeck, Gerhart & Wright (2003:251)

    Mengemukakan, training is a planned effort to facilitate the learning of job-related knowledge, skills, and behavior by employee. Hal ini berarti bahwa pelatihan merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi pembelajaran tentang pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, keahlian dan perilaku oleh para pegawai.

    8. Menurut Gomes (2003:197)

    Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performansi pekerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya, atau satu pekerjaan yang ada kaitannya dengan pekerjaannya.

    9. Menurut Robbins, Stephen P, (2001:282)

    Training meant formal training that’s planned in advanced and has a structured format. Ini menunjukkan bahwa pelatihan yang dimaksudkan di sini adalah pelatihan formal yang direncanakan secara matang dan mempunyai suatu format pelatihan yang terstruktur.

    10. Menurut Gomez-Mejia, Balkin, dan Cardy (2001:259)

    Training is usually conducted when employees have a skill deficit or when an organization changes a system and employees need to learn new skill. Ini berarti bahwa pelatihan biasanya dilaksanakan pada saat para pekerja memiliki keahlian yang kurang atau pada saat suatu organisasi mengubah suatu system dan para perlu belajar tentang keahlian baru.