Tag: pembelajaran

  • Mengapa pendekatan culturally responsive teaching dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada peserta didik?

    Mengapa pendekatan culturally responsive teaching dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada peserta didik?

    Mengapa pendekatan culturally responsive teaching dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada peserta didik?

    Jawaban:

    Pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada peserta didik karena beberapa alasan berikut:

    1. Membangun Rasa Memiliki dan Dihargai

    CRT menghargai keragaman budaya dan pengalaman peserta didik.

    Guru yang menerapkan CRT akan berusaha memahami latar belakang budaya dan pengalaman hidup peserta didiknya.

    Hal ini dapat membantu membangun rasa memiliki dan dihargai pada diri peserta didik.

    2. Meningkatkan Relevansi Pembelajaran

    CRT menghubungkan materi pembelajaran dengan budaya dan pengalaman hidup peserta didik. Hal ini membuat pembelajaran lebih relevan dan menarik bagi peserta didik.

    3. Meningkatkan Motivasi Belajar

    Ketika peserta didik merasa aman, nyaman, dan dihargai, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar. CRT dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan kondusif bagi semua peserta didik.

    4. Meningkatkan Prestasi Belajar

    Penelitian menunjukkan bahwa CRT dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

    Hal ini karena CRT membuat pembelajaran lebih relevan dan menarik bagi peserta didik, dan juga meningkatkan motivasi belajar mereka.

    Berikut beberapa contoh penerapan CRT di kelas:

    • Menggunakan bahan ajar yang mencerminkan keragaman budaya.
    • Mendorong peserta didik untuk belajar tentang budaya mereka sendiri dan budaya orang lain.
    • Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa dan budaya mereka sendiri dalam pembelajaran.
    • Membangun hubungan yang positif dengan peserta didik dan keluarga mereka.

    Dengan menerapkan CRT, guru dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada peserta didik. Hal ini dapat membantu meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar peserta didik.

  • Proses pembelajaran seperti apa yang ingin anda perbaiki dengan menggunakan asas trikon?

    Proses pembelajaran seperti apa yang ingin anda perbaiki dengan menggunakan asas trikon?

    Dengan asas trikon dapat menyesuaikan proses pembelajaran dengan kultur dan lingkungan sekolah, misalnya sekolah berada di lingkungan pegunungan, maka para siswa dapat diajarkan bercocok tanam yang baik untuk mencegah terjadinya erosi.

    Sehingga semua proses pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan kultur masing-masing agar hasilnya lebih efektif.

    Penerapan asas trikon sangat berpengaruh dalam pengembangan sistem pendidikan saat ini.

    Asas trikon adalah prinsip dalam pengembangan dan pembelajaran yang berfungsi untuk mewujudkan transformasi pendidikan.

    Asas ini dicetus dan digagas oleh Ki Hajar Dewantara berdasarkan keyakinan akan pentingnya pendidikan yang menyeluruh dan seimbang dalam membentuk manusia yang berkepribadian baik

    Diberi nama asas trikon karena memuat tiga unsur penting, yaitu Kontinuitas, Konvergensi, dan Konsentris.

    1. Kontinuitas: Pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus dan selalu berkesinambungan.

    2. Konvergensi: Proses pengembangan pendidikan yang dilakukan dengan cara mengambil sumber lain yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi diri sendiri.

    3. Konsentris: Pengembangan pendidikan yang disesuaikan dengan kultur budaya bangsa sendiri agar proses belajar menjadi lebih efektif.

    Itulah jawaban dari pertanyaan: Proses pembelajaran seperti apa yang ingin anda perbaiki dengan menggunakan asas trikon?

  • Sebagai guru apa saja pengalaman belajar yang perlu dimaknai oleh murid?

    Sebagai guru apa saja pengalaman belajar yang perlu dimaknai oleh murid?

    A. Pengetahuan, keterampilan, dan wawasan keilmuan, serta pendidikan karakter
    B. Pengetahuan, pengalaman, dan sikap untuk terus belajar.
    C. Pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk terus belajar, serta mendampingi murid untuk bisa memahami dan mencapai tujuan belajarnya.
    D. Keterampilan, wawasan pengetahuan, dan mengajarkan mereka bersosialisasi.

    Jawaban:

    A. Pengetahuan, keterampilan, dan wawasan keilmuan, serta pendidikan karakter

    Pembahasan:

    Sebagai seorang guru, tanggung jawab utama bukan hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap murid. Pengalaman belajar inilah yang nantinya akan menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun masa depan. Maka dari itu, pengalaman belajar yang perlu dimaknai oleh murid mencakup pengetahuan, keterampilan, wawasan keilmuan, serta pendidikan karakter.

    Pertama, murid perlu memperoleh pengetahuan yang memadai. Pengetahuan menjadi dasar dari segala proses pembelajaran, karena melalui pengetahuan murid dapat memahami konsep-konsep penting, menguasai teori, serta mampu melihat hubungan antara ilmu yang dipelajari dengan realitas kehidupan. Pengetahuan ini tidak hanya terbatas pada ilmu akademik, tetapi juga meliputi informasi umum yang bermanfaat bagi perkembangan diri murid.

    Kedua, murid juga perlu dibekali dengan keterampilan. Pengetahuan yang dimiliki tidak akan maksimal apabila tidak disertai keterampilan untuk mengaplikasikannya. Misalnya, pengetahuan tentang teknologi informasi harus diikuti dengan keterampilan mengoperasikan perangkat digital. Begitu pula dalam bidang bahasa, murid tidak hanya mengetahui tata bahasa, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik. Keterampilan ini sangat penting karena akan mendukung murid dalam menghadapi tantangan kehidupan yang nyata.

    Selain itu, guru juga memiliki peran penting dalam menanamkan wawasan keilmuan kepada murid. Wawasan keilmuan membuat murid mampu berpikir lebih luas, terbuka, dan kritis. Dengan wawasan yang luas, murid tidak hanya memahami sesuatu dari satu sudut pandang, tetapi bisa melihat dari berbagai perspektif. Hal ini melatih mereka untuk lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan serta terbiasa mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang muncul di sekitarnya.

    Tidak kalah penting adalah pendidikan karakter. Pendidikan sejati bukan hanya melahirkan manusia cerdas, tetapi juga melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Karakter menjadi fondasi dalam kehidupan sosial, karena orang yang berkarakter baik akan mampu menempatkan diri di tengah masyarakat. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik murid agar memiliki sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama. Pendidikan karakter inilah yang akan membimbing murid untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi lingkungannya.

    Dengan demikian, pengalaman belajar yang dimaknai oleh murid bukanlah satu aspek saja, melainkan gabungan dari pengetahuan, keterampilan, wawasan keilmuan, dan pendidikan karakter. Keempat hal tersebut saling melengkapi dan membentuk murid menjadi pribadi yang cerdas, terampil, berwawasan luas, sekaligus berkarakter baik. Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya, sebagaimana yang diamanatkan oleh para tokoh pendidikan, termasuk Ki Hajar Dewantara, bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

  • Pembelajaran Murid Sebaiknya Berkesinambungan dari Waktu ke Waktu Adalah Asas?

    Pembelajaran murid sebaiknya berkesinambungan dari waktu ke waktu adalah asas kontinyu.

    Maksud dari asas kontinyu adalah pengembangan dalam pembelajaran harus selalu berkesinambungan dan dilakukan secara terus-menerus dengan menggunakan perencanaan yang baik.

    Sebab suatu kondisi yang baik tentu saja butuh proses, tidak mungkin dapat dicapai dalam sekali waktu atau instan.

    Tahap demi tahap pengembangan perlu dilakukan yang didasari dengan rencana yang matang.

    Dengan perencanaan, maka setiap tahap akan terukur. Ketika sudah melakukan satu tahap, dilanjutkan ke tahap berikutnya melalui evaluasi dan perbaikan yang tepat.

    Umumnya pengembangan yang sifatnya mendadak akan hilang dengan cepat. Kemudian juga berpotensi kehilangan semangat di waktu-waktu setelahnya.

    Sehingga tidak akan menghasilkan perubahan yang berarti dalam jangka panjang.

    Asas kontinyu sendiri dikenalkan oleh Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Asas kontinyu masuk dalam asas trikon, yang isinya sebagai berikut:

    1. Kontinyu: berkesinambungan dan terus-menerus.

    2. Konvergen: mengambil sumber lain.

    3. Konsentris: berdasarkan kepribadian sendiri.

  • 6 Pengertian Strategi Pembelajaran Menurut Ahli

    6 Pengertian Strategi Pembelajaran Menurut Ahli

    Strategi pembelajaran merupakan suatu serangkaian rencana kegiatan yang termasuk didalamnya penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam suatu pembelajaran.

    Strategi pembelajaran disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Strategi pembelajaran didalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik.

    Pengertian Pembelajaran Menurut Ahli

    Berikut ini adalah beberapa definisi strategi pembelajaran menurut para ahli.

    1. Hamzah B. Uno (2008:45)

    Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan guru dalam proses pembelajaran.

    2. Dick dan Carey (2005:7)

    Pengertian strategi pembelajaran adalah komponen-komponen dari suatu set materi termasuk aktivitas sebelum pembelajaran, dan partisipasi peserta didik yang merupakan prosedur pembelajaran yang digunakan kegiatan selanjutnya.

    3. Suparman (1997:157)

    Strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik, peralatan dan bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

    4. Hilda Taba

    Strategi pembelajaran adalah pola atau urutan tongkah laku guru untuk menampung semua variabel-variabel pembelajaran secara sadar dan sistematis.

    5. Gerlach dan Ely (1990)

    Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu.

    6. Kemp (1995)

    Stategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

  • 15 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Para Ahli

    15 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Para Ahli

    Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning adalah suatu metode pembelajaran atau strategi dalam belajar dan mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja.

    Dengan kata lain, pembelajaran dilakukan dengan membuat sejumlah kelompok dengan jumlah peserta didik 2-5 anak yang bertujuan untuk saling memotivasi antar anggotanya untuk saling membantu agar tujuan dapat tercapai secara maksimal.

    Pembelajaran Kooperatif Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah definisi pembelajaran kooperatif menurut para ahli.

    1. Rusman (2010:202)

    Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

    Sedangkan cooperative learning adalah teknik pengelompokkan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4-5 orang.

    2. Johnson

    Belajar cooperative adalah pemanfaatan kelompok kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut (Johnson dalam Hasan:1996 dalam Rusman 2010:204).

    3. Slavin (2010:9)

    Menyatakan bahwa belajar kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya empat sampai enam orang dengan struktur kelompok heterogen.

    4. Karli dan Margaretha (2002:70)

    Menyatakan, “belajar kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih”.

    5. Ibrahim, et al. (2000:19)

    Menyatakan,“Pembelajaran Kooperatif mencerminkan pandangan bahwa manusia belajar dari pengalaman mereka dan partisipasi aktif dalam kelompok kecil membantu siswa belajar keterampilan sosial yang penting sementara itu secara bersamaan mengembangkan sikap demokratis dan keterampilan berfikir logis”.

    6. Robert E. Slavin (2010 : 11)

    Mengemukakan tipe-tipe pembelajaran yang dapat mewakili tipe cooperative learning, yaitu:

    a. Student teams achievement division (STAD)
    b. Teams Games-Tournament (TGT)
    c. Jigsaw (model tim ahli)
    d. Team Accelerated Instruction (TAI)
    e. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
    f. Group investivigation

    7. Bern dan Erickson (2001:5)

    Cooperative learning (pembelajaran kooperatif) merupakan strategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil dimana siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar.

    8. Eggen and Kauchak (1996:279)

    Model Pembelajaran kooperatif adalah sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.

    9. Tukiran Taniredja, dkk (2011:55)

    Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur.

    10. Slavin (Isjoni, 2011:15)

    “In cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by the teacher”.

    Ini berarti bahwa cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang peserta didik lebih bergairah dalam belajar.

    11. Suprijono (2013:54)

    Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud.

    12. Arends (1997)

    Menyebutkan bahwa: The cooperative learning model provides a framework within with teacher can foster important social learning and human relations goals.

    Arends memandang bahwa model pembelajaran kooperatif menyediakan suatu kerangka bagi guru untuk dapat membantu kepentingan pengembangan pembelajaran dan tujuan hubungan manusia.

    13. Trianto (2007:41)

    Mengatakan di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu.

    14. Riyanto (2010:267)

    Mengatakan hakikat pembelajaran kooperatif adalah metode pembelajaran yang dirancang untuk melatih kecakapan akademis (academic skills), keterampilan sosial (social skill) dan interpersonal skill.

    15. Suprijono (2009:54)

    Pembelajaran kooperatif adalah jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk kegiatan yang dibimbing dan diarahkan oleh guru.

    Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

  • Pengertian Metode Suggestopedia dan Penerapannya

    Pengertian Metode Suggestopedia dan Penerapannya

    Metode Suggestopedia

    Suggestopedia adalah suatu metode yang dikembangkan oleh seorang ahli psikiatri dan pendidikan dari Bulgaria bemama Georgi Lozanov (1979).

    Seperti diuraikan oleh Lozanov sendiri, dalarn artikelnya yang berjudul Suggestology and Suggestopedy yang dimuat (Blair,1982: 146‑159), dan yang diambil intinya dalam buku ini, suggestopedia berdasarkan tiga asumsi, yakni bahwa:

    1. Belajar itu melibatkan fungsi‑fungsi sadar dan di bawah sadar manusia,
    2. Siswa mampu belajar lebih cepat daripada dengan metode‑metode lainnya,
    3. Proses belajar‑mengajar dapat terhambat oleh beberapa faktor, yakni;

    1) norma‑norma umum dan kendala‑kendala yang lazim berlaku dalam masyarakat, 2) suasana yang kurang serasi dan santai tidak ada atau kurang dalam pengajaran bahasa, dan 3) kekuatan‑kekuatan atau potensi‑potensi dalam diri siswa yang tidak/kurang dimanfaatkan guru.

    Georgi Losanov percaya bahwa dalam proses pembelajaran ada kendala psikologi.

    Suggestopedia merupakan aplikasi sugesti dalam pedagogi dimana perasaan pembelajar mengalami kegagalan dapat dihilangkan.

    Dalam model pembelajaran suggestopedia, kendala psikologi pembelajar dapat diatasi (Brown,2001:28).

    Teknik-teknik dalam Suggestopedia:

    a) Classroom Set-up
    b) Role-Play
    c) Peripheral Learning
    d) First Concert
    e) Positive Suggestion
    f) Second Concert
    g) Visualization
    h) Primary Activation
    i) Choose a New Identity
    j) Secondary Activation

    Cara mengajar menggunakan metode suggestopedia

    1) Dalam mengaplikasikan model pembelajaran ini, ruang kelas ditata sedemikian rupa sehingga berbeda dengan kelas biasa (menggunakan cahaya yang remang-remang). Siswa duduk di tempat duduk yang dibentuk dalam setengah lingkaran. Beberapa poster yang berhubungan dengan materi pembelajaran dipasang di tembok atau papan tulis.
    2) Guru menyapa dengan menggunakan mother tongue (bahasa ibu atau bahasa pamulaan atau bahasa pertama, misalnya di Kalimantan Selatan menggunakan Bahasa Banjar)
    3) Kemudian meyakinkan siswa kalau nereka tidak perlu berusaha untuk belajar tapi pembelajaran akan berlangsung secara alami.
    4) Guru memutar musik klasik kemudian mengarahkan siswa untuk rileks dengan cara menarik nafas panjang.
    5) Selanjutnya guru mengajak siswa berimajinasi tentang materi yang sedang dipelajari. Ketika mereka membuka mata, mereka bermain peran.
    6) Setelah itu, guru membaca sambil memperdengarkan musik.
    7) Guru tidak memberi pekerjaan rumah.

    Daftar Pustaka:

    Brown, H. Douglas. 2001.Teaching by Principles an Interactive Approach to Language Pedagogy. Second Edition.A Pearson Education Company.

  • Pengertian Teknik Rumpang dan Tujuannya

    Pengertian Teknik Rumpang dan Tujuannya

    Pengertian Teknik Rumpang

    Teknik rumpang merupakan istilah diambil dari persepsi psikologi gestal yang merupakan proses ‘menutup’ sesuatu yang belum lengkap.

    Dalam teknik rumpang, tempat kosong sengaja disediakan dalam suatu wacana dengan menghilangkan kata-kata tertentu yang kesekian (ke-n: ke-5, ke-6, atau ke-7).

    Tugas siswa dalam tes ini adalah mengisikan kembali kata-kata yang dihilangkan tersebut. Untuk mengisikan kembali kata-kata itu secara tepat, siswa dituntut menguasai sistem gramatikal bahasa dan harus dapat memahami wacana.

    Teknik rumpang pertama kali diperkenalkan oleh Wilson Taylor (Puji Santosa, dkk, 2009: 6.11) mengemukakan bahwa :

    “…teknik isian rumpang konsepnya menjelaskan tentang kecenderungan manusia untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap secara mental menjadi satu kesatuan yang utuh; kecenderungan untuk mengisi atau melengkapi sesuatu yang sesungguhnya ada, namun tampak dalam keadaan yang tidak utuh, melihat bagian-bagian sebagai suatu keseluruhan.”

    Berdasarkan konsep tersebut, dapat dikembangkan menjadi sebuah alat ukur keterbacaan wacana  dengan sebutan Teknik Isian Rumpang.

    Teknik isian rumpang sebagai suatu metode yang dipergunakan untuk melatih daya tangkap pembaca/penyimak terhadap maksud/pesan penulis/pembicara dengan cara menyajikan secara tidak utuh dalam suatu wacana (merumpangkan bagian-bagian tertentu).

    Para pembaca/penyimak harus mampu mengolahnya menjadi sebuah pola yang utuh seperti wujudnya semula.

    Tujuan Penggunaan Teknik Rumpang

    Kemampuan siswa untuk mengisikan kata yang hilang dalam teks itu mirip dengan proses konstruktif.

    Jika konteksnya secara komplit bersifat redundan (melimpah/pengulangan), atau pengisian kata itu berupa peringatan, pengisian data itu tidak berbeda dengan melengkapi pola visual yang belum sempurna.

    Akan tetapi, jika konteksnya belum dikenal, pengisian kata menjadi lebih sulit dilakukan karena kita harus memahami konteks itu terlebih dahulu.

    Itu sebabnya teknik rumpang tepat digunakan dalam mengukur kemampuan siswa untuk memahami suatu wacana (umumnya berupa tulisan, tetapi dapat juga secara lisan).

    Teknik rumpang untuk mengukur kemahiran berbahasa siswa SD secara menyeluruh maka penghilangan secara sistematis terhadap kata-kata.

    Adapun variasi rumpang, terbuka dan jarak tempat kosong ini di buat seragam, membiarkan huruf pertama dari kata yang dihilangkan, menggunakan alternatif  pilihan ganda yakni setiap tempat yang dikosongkan dilengkapi 4 atau 5 alternatif jawaban.

    Teknik rumpang yang dikembangkan oleh Taylor (Muchlisoh, dkk, 1953) adalah “sejenis tes dalam bentuk wacana dengan sejumlah kata yang dikosongkan (rumpang) dan pengisi tes diminta mengisi kata-kata yang sesuai di tempat yang kosong itu.”

    Kebenaran isi jawaban akan dilihat dari naskah asli wacana tersebut. Tiga cara menghilangkan kata sebagai berikut:

    • Menghilangkan kata pada urutan tertentu secara konsisten, tanpa membedakan jenis kata (the fixed-ratio method). Misalnya, apabila kata yang dihilangkan itu adalah kata yang ketujuh, maka setiap kata yang ketujuh dihilangkan secara konsisten.
    • Menghilangkan kata pada urutan tertentu dengan ketentuan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pembuat tes (the variables-fixed ratio). Misalnya, kata itu akan dihilangkan apabila termasuk kata benda atau kata kerja.
    • Menghilangkan kata pada urutan tertentu secara sistematis tetapi apabila kata pada urutan tertentu itu adalah nama tempat, nama diri, angka, tanggal, bulan, tahun, atau istilah, maka kata itu dilampaui dan dipilih kata berikutnya.

    Dari ketiga cara teknik menghilangkan kata di atas maka yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan cara yang pertama dengan menghilangkan kata yang ketujuh sebagai teknik rumpang yang sesuai dengan kebutuhan siswa kelas IV SD.

    Keunggulan dan Kelemahan Penggunaan Teknik Rumpang dalam Menulis Surat

    Menurut pendapat Wilson Taylor (Muchlisoh, dkk., 1995: 217) mengemukakan bahwa ada beberapa keunggulan teknik rumpang antara lain:

    • Tugas bisa dinilai secara objektif, karena jarang ada yang lebih dari satu jawaban dari satu celah.
    • Teknik rumpang hemat dan hasil yang diperoleh sekarang mendorong reabilitas dan validitas internal. Akan terlihat menggambarkan alternatif yang aktif pada prosedur rumpang.
    • Memperlihatkan secara relatif teknik dalam bentuk ini terdapat dari nilainya sebagian besar perhatian telah diberikan mengenai yang dapat diterima umum sebagai ukuran kemampuan bahasa yang diberikan.