Tag: pembentukan karakter

  • SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi Gelar Leadership Camp, Tanamkan Jiwa Kepemimpinan dan Karakter Siswa

    SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi Gelar Leadership Camp, Tanamkan Jiwa Kepemimpinan dan Karakter Siswa

    SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi menggelar Leadership Camp Muhlas 2025, sebuah kegiatan gabungan antara program pembentukan karakter siswa dan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) IPM, Jumat–Sabtu (24–25/10/2025).

    Agenda dua hari satu malam ini dilaksanakan di area alam Jeongmara Campuhan dan diikuti 90 siswa (kelas VII–IX) serta 13 guru pendamping, sehingga total peserta mencapai 103 orang.

    Kepala sekolah, Slamet Hidayat, S.Pd membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab bagi siswa.

    Kepada jurnalis media sastrawacana.id/, Slamet berharap kegiatan ini memberi dampak langsung pada perilaku sehari-hari siswa di sekolah dan rumah.

    “Kami ingin program seperti ini membentuk siswa yang berdisiplin, bertanggung jawab, dan siap menjadi pemimpin yang berakhlaq,” katanya.

    Kegiatan Leadership Camp 2025 SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi

    Kegiatan yang sedianya direncanakan pada awal tahun ajaran harus diundur karena kondisi cuaca pada Juli–September, sehingga baru dapat dilaksanakan pada akhir Oktober.

    Untuk efisiensi dan sinergi program, sekolah memutuskan menggabungkan agenda pembentukan karakter dengan pergantian pengurus IPM menjadi satu paket kegiatan, yakni Leadership Camp Muhlas 2025.

    Leadership Camp menghadirkan materi campuran, dimana teori, praktik lapangan, dan permainan edukatif dirancang untuk mengasah kepemimpinan, jiwa kebersamaan, dan ketahanan mental.

    Berbagai kegiatan digelar dalam agenda Leadership Camp Muhlas 2025, antara lain materi dasar-dasar kepemimpinan yang dipandu oleh Maulana Affandi, pelatihan keorganisasian dan tata kelola organisasi pelajar, serta pengembangan karakter dan penguatan mental bersama Heri Skandar.

    Selain itu, peserta juga mengikuti latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB), sosialisasi tentang kenakalan remaja dan dampaknya, serta berbagai permainan dan simulasi kepemimpinan yang dikemas secara interaktif di lapangan.

    Pelatihan disusun bergantian antara penyampaian materi, praktik kelompok, dan permainan edukatif sehingga suasana tetap dinamis.

    Leadership Camp 2025

    Salat Jumat menjadi salah satu momen kebersamaan yang dilakukan di lokasi dipimpin oleh H. Jarkoni sebagai imam.

    Kegiatan ini juga menjadi wadah serah terima serta pembekalan bagi pengurus IPM yang baru.

    Menurut penanggung jawab sekaligus ketua panitia kegiatan, Heri Pranoto, S.Sos, tujuan utama kegiatan ini adalah memberi pengalaman nyata bagi siswa untuk lebih mandiri dan kreatif sekaligus menyiapkan pengurus organisasi pelajar yang matang.

    “Kegiatan ini agar anak-anak betul-betul bisa lebih kreatif dan bisa mandiri, serta melatih kepemimpinan yang ada di sekolah maupun organisasi IPM Muhammadiyah,” ujar Heri Pranoto.

    Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan LDKS akan menjadi agenda tahunan yang dipusatkan pada pergantian pengurus IPM, dengan lokasi yang berganti-ganti setiap periode untuk memperkaya pengalaman peserta.

    Dukungan orang tua terhadap kegiatan ini terbilang positif. Beberapa orang tua menyatakan setuju anaknya ikut LDKS dengan harapan anak menjadi lebih mandiri dan berakhlak baik.

    Guru pendamping juga aktif mendampingi setiap kegiatan evaluasi dan permainan untuk memastikan aspek keselamatan dan pembelajaran berjalan sesuai rencana.

    Pihak sekolah berharap hasil Leadership Camp bukan hanya terbaca dari aspek keterampilan kepemimpinan, tetapi juga tercermin dalam perubahan sikap sehari-hari siswa agar lebih disiplin, mau bekerja sama, dan bertanggung jawab.

    Kepala sekolah Slamet menegaskan bahwa program serupa akan terus dikembangkan sebagai bagian dari kurikulum karakter sekolah.

    Kegiatan di Jeongmara Campuhan menjadi momentum penting bagi SMP Muhlas dalam meneguhkan komitmen pembentukan karakter. Melalui latihan kepemimpinan ini, diharapkan lahir generasi pelajar yang tangguh, disiplin, dan berakhlak mulia.

  • Mengapa pembelajaran perlu secara holistik melibatkan murid dalam olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga?

    Mengapa pembelajaran perlu secara holistik melibatkan murid dalam olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga?

    Mengapa pembelajaran perlu secara holistik melibatkan murid dalam olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga?

    Jawaban:

    Pembelajaran yang baik tidak hanya berhenti pada penguasaan pengetahuan semata.

    Pendidikan sejatinya bertujuan membentuk manusia seutuhnya, yaitu pribadi yang memiliki keseimbangan antara akal, hati, rasa, dan tubuh.

    Itulah sebabnya mengapa pembelajaran perlu dirancang secara holistik dengan melibatkan murid dalam olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga.

    Keempat aspek tersebut saling melengkapi satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan jika ingin menghasilkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.

    Olah hati

    Olah hati berhubungan dengan pembentukan moral, etika, dan spiritualitas murid. Dalam proses belajar, aspek ini bisa ditanamkan melalui pembiasaan sikap jujur, tanggung jawab, empati, serta menghargai orang lain.

    Murid yang terbiasa mengolah hati akan memiliki kesadaran batin bahwa ilmu yang dipelajari bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk memberi manfaat bagi orang lain.

    Tanpa olah hati, pengetahuan bisa menjadi kering, bahkan berpotensi disalahgunakan karena tidak didasari nilai-nilai kebajikan.

    Olah rasa

    Olah rasa menyentuh dimensi kepekaan sosial, estetika, dan budaya. Murid perlu dilatih agar mampu merasakan perasaan orang lain, peka terhadap lingkungan sekitar, dan menghargai keindahan.

    Misalnya melalui seni, musik, sastra, atau kegiatan sosial, murid diajak merasakan pengalaman batin yang mendalam.

    Dengan begitu, mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang kaku, tetapi memiliki keluwesan dalam berinteraksi, mampu memahami perasaan sesama, dan menghargai perbedaan.

    Olah pikir

    Olah pikir tentu menjadi bagian utama dari pembelajaran. Melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif adalah bekal penting agar murid mampu menghadapi tantangan zaman.

    Guru mendorong murid untuk tidak hanya menghafal, melainkan memahami, menalar, dan mengembangkan ide-ide baru.

    Dengan olah pikir, murid terbentuk menjadi individu yang cerdas, rasional, serta mampu membuat keputusan yang tepat berdasarkan pertimbangan logis dan pengetahuan yang benar.

    Olah raga

    Olah raga berkaitan dengan kesehatan fisik dan kebugaran tubuh. Tubuh yang sehat akan menunjang semangat belajar dan aktivitas sehari-hari.

    Melalui kegiatan olahraga, permainan, atau aktivitas fisik sederhana, murid dilatih untuk disiplin, sportif, dan menjaga keseimbangan hidup.

    Pendidikan yang melibatkan olah raga tidak hanya membangun kekuatan tubuh, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan, kerja sama tim, serta sikap pantang menyerah.

    Jika keempat aspek ini terintegrasi dengan baik, murid akan berkembang menjadi pribadi yang utuh, bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang baik, empati terhadap orang lain, kreativitas dalam berkarya, serta kesehatan jasmani yang prima.

    Inilah hakikat pendidikan holistik yang sejati, yaitu membentuk manusia seimbang yang siap menghadapi kehidupan dengan segala tantangannya.