Tag: pendidikan karakter

  • Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Di tengah perubahan kehidupan sosial yang semakin dinamis pada abad ke-21, kemampuan masyarakat untuk bekerja sama, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan menjadi semakin penting.

    Kemajuan teknologi memang memudahkan komunikasi dan aktivitas sehari-hari, namun perubahan tersebut juga memunculkan tantangan baru dalam membangun relasi sosial yang sehat.

    Dalam situasi itu, warisan pemikiran Nusantara dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menemukan kembali nilai-nilai kehidupan bersama yang relevan dengan kondisi saat ini.

    Salah satu warisan tersebut adalah Sastra Gendhing, karya yang dikaitkan dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

    Nilai-nilai di dalamnya dikaji oleh Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd., Dosen FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), untuk melihat relevansinya dengan kehidupan sosial masyarakat kontemporer.

    Dalam proses kajiannya, Khoirul melibatkan KGPH Puger, putra PB XII sekaligus budayawan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    Keterlibatan budayawan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif dalam membaca Sastra Gendhing, tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga dengan mempertimbangkan latar belakang kebudayaan Jawa yang melingkupinya.

    Kajian dari sudut pandang sosial-humaniora itu menemukan bahwa Sastra Gendhing tidak hanya berbicara mengenai persoalan filosofis dan spiritual.

    Karya tersebut juga memuat gagasan tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan bersama, membangun hubungan dengan sesama, serta menjaga keseimbangan dalam lingkungan sosial.

    Dari pembacaan tersebut, muncul pemahaman bahwa ajaran dalam Sastra Gendhing memiliki keterkaitan dengan etika kehidupan bersama, khususnya mengenai semangat gotong royong.

    Nilai ini menempatkan kepentingan bersama, tanggung jawab, dan keharmonisan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan sosial.

    Perspektif tersebut dinilai masih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

    Kehidupan abad ke-21 menuntut setiap individu tidak hanya memiliki kemampuan personal, tetapi juga kecakapan untuk berkomunikasi, bernegosiasi, bekerja dalam tim, menghormati perbedaan, serta mengambil tanggung jawab dalam lingkungan sosial.

    Semangat yang tercermin dalam Sastra Gendhing menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan yang harmonis membutuhkan kemauan untuk saling memahami dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

    Nilai tersebut dapat menjadi salah satu pijakan dalam membangun karakter masyarakat yang mampu berkolaborasi di tengah perubahan zaman.

    Khoirul Anwar menilai, mempelajari Sastra Gendhing tidak cukup hanya dengan menempatkannya sebagai peninggalan masa lalu yang perlu dilestarikan.

    Kandungan nilai di dalamnya perlu terus dibaca dan dikaitkan dengan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.

    Menurutnya, semangat kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan upaya menjaga harmoni merupakan nilai yang tidak kehilangan relevansinya meskipun pola kehidupan masyarakat terus berubah.

    Karena itu, karya-karya intelektual Nusantara dapat diperlakukan sebagai sumber pengetahuan yang masih dapat diajak berdialog dengan persoalan sosial di era modern.

    Kajian tersebut sekaligus membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut terhadap berbagai karya pemikiran Nusantara dengan menggunakan pendekatan lintas disiplin.

    Pendekatan semacam ini memungkinkan warisan intelektual masa lalu tidak hanya dipahami dari sisi sejarah dan budaya, tetapi juga dikaji berdasarkan relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat sekarang.

    Di sisi lain, generasi muda diharapkan tidak semakin jauh dari warisan pemikiran para intelektual Nusantara.

    Berbagai karya tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai nilai kehidupan, sekaligus ruang untuk memahami bagaimana gagasan masa lalu dapat diterapkan dan dimaknai kembali sesuai tantangan zaman.

    Melalui pembacaan kembali terhadap Sastra Gendhing, warisan pemikiran Sultan Agung tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah kebudayaan Jawa.

    Nilai-nilai di dalamnya dapat terus dihidupkan sebagai bahan refleksi untuk membangun masyarakat yang memiliki semangat gotong royong, mampu berkolaborasi, menghargai perbedaan, dan menjaga keharmonisan kehidupan bersama. (Miskawi)

  • LP Ma’arif NU Banyuwangi Siap Cetak Generasi Berilmu dan Berakhlak Lewat Kepengurusan Baru

    LP Ma’arif NU Banyuwangi Siap Cetak Generasi Berilmu dan Berakhlak Lewat Kepengurusan Baru

    Pengurus Cabang (PC) LP Ma’arif NU Banyuwangi resmi dikukuhkan dalam sebuah acara yang berlangsung di Kantor LP Ma’arif Cabang Banyuwangi, Kecamatan Srono, Kamis (21/5).

    Momentum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki fondasi spiritual yang kuat.

    Bagi Nahdlatul Ulama, pendidikan tidak semata-mata dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan. Lebih dari itu, pendidikan merupakan ikhtiar menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus membangun peradaban melalui pembinaan generasi penerus bangsa.

    Kepengurusan baru LP Ma’arif NU Banyuwangi periode ini dipimpin oleh Saeroji. Selain dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Bangorejo, ia juga menjabat sebagai Kepala MAN 2 Banyuwangi.

    Prosesi pengukuhan dihadiri oleh jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, pengurus LP Ma’arif, tokoh pendidikan, serta perwakilan MWC LP Ma’arif dari berbagai kecamatan di Banyuwangi.

    Kehadiran berbagai elemen tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan semangat pengabdian kepada umat.

    Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, Ahmad Turmudzi, menegaskan bahwa lembaga pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama memikul tanggung jawab besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat.

    Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, profesionalisme dalam tata kelola lembaga, serta peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.

    “LP Ma’arif harus mampu menjadi bagian dari solusi pendidikan masyarakat melalui penguatan kualitas guru, peningkatan kapasitas kelembagaan, dan pelayanan pendidikan yang berorientasi pada kemaslahatan,” ujarnya.

    Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari prestasi akademik semata.

    Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu membentuk pribadi berkarakter, memiliki kepedulian sosial, dan menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

    Pada kesempatan yang sama, Rois Syuriyah PCNU Banyuwangi, KH Fahrudin Manan, mengingatkan bahwa pengabdian di dunia pendidikan merupakan bagian dari perjuangan yang bernilai ibadah.

    Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis sebagai ruang penanaman nilai-nilai keislaman, pembentukan akhlak generasi muda, serta sarana menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan spiritual.

    “Pelayanan pendidikan merupakan bagian dari pengabdian dalam memuliakan umat serta menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat,” tuturnya.

    Pengukuhan kepengurusan baru LP Ma’arif NU Banyuwangi ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi antarlembaga pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

    Dengan semangat khidmah dan pengabdian, serta komitmen menghadirkan pendidikan yang bermutu, lembaga pendidikan NU di Banyuwangi diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kokoh dalam akhlak, dan siap menghadapi berbagai tanggung jawab kehidupan di masa mendatang.

  • SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Kenalkan Pendidikan Karakter Berbasis Pemahaman Al-Qur’an Jelang Ramadhan 1447 H

    SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Kenalkan Pendidikan Karakter Berbasis Pemahaman Al-Qur’an Jelang Ramadhan 1447 H

    sastrawacana.id/ – Menyongsong Ramadhan 1447 H, pengasuh Ponpes Akmalul Muhsinin Karangbaru, Panderejo, Banyuwangi, KH. Imam Hasan Thoha bersilaturahmi ke pengasuh Yayasan Sahal Suhail Bajulmati serta tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat yang juga Ketua Forum BPD Desa se-Wongsorejo, Sabtu (14/2/2026).

    KH. Imam Hasan Thoha bersama Kepala SMP Qur’an Akmalul Muhsinin, H. Wawuh Sondi Purnomo, ST, Gr, kemudian menjadi narasumber talkshow di Radio Komunitas Planet FM. Talkshow tersebut dipandu host Hadi Purwanto.

    Dalam siaran yang inspiratif itu, KH Imam menekankan pentingnya memahami makna bacaan Al-Qur’an, agar remaja tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami tafsir dan menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

    Ia juga mendorong generasi muda untuk melaksanakan ibadah wajib sesuai rukun Islam serta menjadi teladan yang beradab di lingkungan masing-masing.

    “Dengan metode i‘rab, murid jadi paham tafsir dan makna yang dibaca. Soal hafal Al-Qur’an itu bonus dan membutuhkan amalan individu yang siap kami terima sorogan tiap hari atau tiap minggu sesuai kemampuan,” ujar alumni Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep itu.

    Siaran pada frekuensi 107,7 MHz tersebut juga disiarkan langsung melalui Facebook dan YouTube radio.

    Pendengar dan warganet dapat mengajukan pertanyaan seputar sistem SPMB serta proses pendidikan di SMP Qur’an dalam membentuk karakter remaja, khususnya di tengah kecenderungan kecanduan gawai.

    Targetnya, lulusan mampu menjadi imam salat yang khusyuk dan fasih, bahkan saat kelas IX sudah mampu menjadi khatib Jumat.

    Talkshow ini turut dipublikasikan di portal online Sinergi Media serta media sosial Gotong Royong ’45.

    Menurut H. Wawuh Sondi Purnomo, peserta didik tidak wajib mukim di pondok.

    Namun, jika memilih mondok akan memperoleh nilai tambah berupa pendidikan madrasah diniyah kitab serta kemampuan membaca huruf pegon.

    Biaya sekolah hanya Rp50 ribu per bulan, sedangkan akomodasi pondok sekitar Rp300 ribu per bulan.

    “Ke depannya untuk makan siang bisa memanfaatkan UMKM sekitar sekolah dan siap menerima program MBG,” tutur pengurus PERGUNU dan LPPTKA-BKPRMI yang sehari-hari juga mengampu pengembangan mutu SMK Negeri Kalipuro tersebut.

    Ia juga melayani pertanyaan dan pendaftaran peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027 melalui nomor 081281856321.

    “Terima kasih kepada koordinator KKM dan K3S yang telah memberi kesempatan kami menyampaikan informasi kepada siswa dan wali murid kelas VI,” ungkap Hariyanto, wali santri asal Kepundungan, Srono.

    Selain melalui silaturahmi, media mainstream, dan media sosial, sosialisasi SMP Qur’an juga dilakukan dengan menurunkan tim lapangan ke SD/MI yang terdiri dari Edi, Hariyanto, dan Syaifudin, didampingi Yudha Hari Setiawan, SE, SH.

    Di kompleks pondok di Jalan Kopral Sanusi 32 Panderejo, terdapat admin Abidin Zaen (HP 083875684605) yang juga mengelola LKSA Graha Anak Sholeh bagi yatim dan dhuafa.

    Dalam bidang pengembangan minat dan bakat, SMP Qur’an tidak hanya memiliki ekstrakurikuler hadrah dan tilawah, tetapi juga khitobah, puisi, qishah, pidato, jurnalistik, serta konten kreatif.

    Kegiatan ini dilatih oleh seniman Aguk Darsono dari Sanggar Merah Putih ’45.

    Usai talkshow, rombongan melanjutkan silaturahmi ke kediaman H. Hasan Bashori di Sidodadi.

    Rumah tersebut pernah menjadi tempat pernikahan putri hafidzah alumni Yogyakarta yang dinikahkan oleh KH Azaim Sukorejo pada 5 Oktober 2024 dengan seorang hafidz asal Rogojampi alumni Salafiyah Sukorejo.

    Kunjungan juga direncanakan untuk memohon restu kepada Ra Fadhol Alasbuluh sebagai bagian dari keluarga besar Ponpes Nurul Jadid Paiton.

  • Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Pentingnya Kesehatan Mental Pada Siswa Pasca Ledakan di SMAN 72 Jakarta

    Oleh: Amalia Salsa Sabila
    (Mahasiswi Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga di Banyuwangi)

    Ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 saat ritual salat Jumat, membuka mata banyak pihak akan urgensi membangun sistem dukungan kesehatan mental di sekolah yang nyata, bukan sekadar formalitas.

    Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan fisik, tetapi cerminan ketidakstabilan sosial dan psikologis yang telah lama mengendap di kalangan siswa.

    Ketika lingkungan belajar berubah menjadi tempat yang dipenuhi rasa takut. Ada masalah mendasar terkait cara sekolah memahami, mengidentifikasi, dan menangani tanda-tanda gangguan emosional serta perlakuan yang diterima siswa setiap hari.

    Menurut pernyataan dari Kepolisian Daerah Metro Jaya dan saksi di lokasi kejadian, salah satu siswa yang diduga sebagai pelaku telah menahan gejolak batinnya terlalu lama.

    Dia sering mengekspresikan perasaannya melalui media nonverbal seperti tulisan, gambar, dan bahkan ekspresi wajah sehari-hari, tetapi gagal mendapatkan respons yang tepat dari lingkungan sekolah (Kombes i Hermanto, tvOneNews, 10 November 2025; Wikipedia SMAN 72).

    Kasus ini memperkuat pendapat bahwa pendekatan preventif melalui konseling, komunikasi terbuka, dan pembentukan karakter harus menjadi inti sistem pendidikan, bukan sekadar tambahan dalam kurikulum.

    Konselor bimbingan, dengan segala tantangan pekerjaan mereka, harus hadir di tengah dinamika siswa dengan empati, bukan menunggu laporan administratif atau bahkan terjebak dalam praktik perundungan internal.

    Sekolah perlu menyadari bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, tekanan, dan mekanisme penyesuaian yang berbeda.

    Sistem konseling yang efektif adalah sistem di mana guru benar-benar mengenali perubahan sikap, perilaku, dan tingkah laku, serta menciptakan ruang aman bagi siswa yang merasa terancam atau tidak nyaman, terutama mereka yang menghadapi stigma sosial atau perundungan (Sela, ANTARA News, 7 November 2025; DetikNews, CCTV SMAN 72).

    Sama pentingnya, keluarga juga harus menjadi sistem dukungan utama yang dapat memberikan landasan stabil di tengah tekanan kehidupan sekolah.

    Orang tua saat ini diharuskan memahami perubahan perilaku anak-anak mereka sejak dini, bukan hanya ketika masalah akut muncul. Komunikasi dua arah antara anak dan orang tua merupakan kunci untuk mencegah anak mencari “solusi” di luar saluran yang sehat.

    Pendidikan karakter dan dukungan psikososial, jika diterapkan secara konsisten, akan mencegah siswa merasa sendirian atau terpaksa “bertahan” dalam ekosistem pendidikan tanpa bimbingan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Siaran Pers, 9 November 2025; BBC Indonesia).

    Tragedi di SMAN 72 juga memaksa kita untuk mengevaluasi peran semua pihak: mulai dari kepala sekolah, guru, staf, hingga lingkungan sekitar, dalam memutus rantai perundungan dan berbagai bentuk intimidasi yang disamarkan sebagai disiplin.

    Insiden yang menewaskan lebih dari 90 korban terluka ini membuktikan bahwa masalah psikologis tidak boleh diremehkan.

    Sekolah harus mengembangkan SOP untuk deteksi dini perilaku berisiko, mengintegrasikan skrining emosional ke dalam program harian, dan selalu berkolaborasi dengan psikolog profesional.

    Kemitraan antara sekolah dan keluarga tidak boleh sekadar formal, tetapi aktif dan memiliki program konkret yang bertujuan menciptakan ruang yang aman dan nyaman, bukan sekadar slogan.

    Maka kampanye anti bullying sejak dini perlu digalakkan yang lebih humanis dan empiris. Juga kesetaraan atas mungkin perbedaan fisik, keyakinan dan suku untuk suasana yang nyaman, aman dan harmoni penuh toleransi.

  • MTs Maulana Ishaq Peringati Hari Pahlawan dengan Teater Puisi yang Menginspirasi

    MTs Maulana Ishaq Peringati Hari Pahlawan dengan Teater Puisi yang Menginspirasi

    Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional 2025 dengan tema “Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan,” keluarga besar MTs Maulana Ishaq menggelar upacara bendera sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan, Senin (10/11).

    Sejak pagi, halaman madrasah telah dipenuhi siswa-siswi yang tampil rapi mengenakan pakaian adat, batik, dan busana daerah dari berbagai penjuru Nusantara.

    Upacara bendera berlangsung lancar dan penuh semangat sebagai wujud cinta tanah air.

    Petugas upacara melaksanakan tugas dengan tertib dan penuh tanggung jawab, sementara peserta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan khidmat.

    Suasana di lapangan terasa tenang dan khusyuk saat bendera Merah Putih dikibarkan.

    Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya disiplin, rasa hormat, dan kebersamaan dalam menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan siswa.

    Suasana upacara semakin semarak dengan penampilan istimewa dari OSIM (Organisasi Siswa Intra Madrasah) MTs Maulana Ishaq yang membawakan teater puisi bertema “Pertempuran 10 November.”

    Melalui perpaduan drama, puisi, dan musik, para siswa berhasil menggambarkan semangat perjuangan para pahlawan yang rela berkorban demi kemerdekaan.

    Teater Puisi MTs Maulana Ishaq

    Pertunjukan tersebut mengingatkan seluruh peserta upacara bahwa kebebasan yang dirasakan saat ini lahir dari keberanian, persatuan, dan tekad kuat mempertahankan kehormatan bangsa.

    Karya kreatif dari OSIM itu mendapat tepuk tangan meriah dari guru dan siswa yang hadir.

    Banyak di antara mereka tampak terharu dan bangga menyaksikan semangat para siswa dalam menghayati nilai-nilai kepahlawanan melalui seni pertunjukan.

    Kepala MTs Maulana Ishaq, Bapak Rustam Efendi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut.

    “Kegiatan seperti ini menjadi cara yang menarik untuk menanamkan nilai perjuangan dan semangat cinta tanah air. Melalui teater puisi, siswa tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga belajar mengekspresikan semangat juang dengan cara yang kreatif,” ujarnya.

    Beliau menambahkan bahwa MTs Maulana Ishaq akan terus mendorong kegiatan positif yang membentuk karakter siswa agar menjadi generasi yang berakhlak, bersemangat, dan memiliki daya juang tinggi.

    Upacara Hari Pahlawan tahun ini menjadi momen berkesan bagi seluruh warga madrasah. Dengan semangat kepahlawanan dan kreativitas, siswa-siswi MTs Maulana Ishaq menunjukkan tekad untuk menjadi generasi penerus perjuangan bangsa.

    Nilai-nilai perjuangan seperti keberanian, keikhlasan, tanggung jawab, dan cinta tanah air tercermin dalam sikap peserta didik selama kegiatan berlangsung.

    Mereka belajar bahwa menjadi pahlawan tidak selalu berarti berperang, melainkan berjuang melalui ilmu, kerja keras, dan kontribusi nyata bagi lingkungan.

    Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh, menjadikan para siswa pribadi tangguh yang siap menjaga dan meneruskan cita-cita para pahlawan Indonesia.

  • Jodang Inka dan Bendera One Piece Meriahkan Arak-Arakan Kembang Ndog SMKN Kalipuro

    Jodang Inka dan Bendera One Piece Meriahkan Arak-Arakan Kembang Ndog SMKN Kalipuro

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMKN 1 Kalipuro (Pelayaran Niaga), Kabupaten Banyuwangi, dirayakan dengan Arak-Arakan Jodang Kembang Ndog-ndogan.

    Acara ini menampilkan replika karya Pengurus OSIS Batalyon dan perwakilan kelas, diawali kirab Drum Band Blue Sailor, dan ditutup dengan penampilan Hadrah, pada Kamis (25/09/25).

    Kirab dimulai dari Balai Kelurahan Kalipuro, dilepas oleh Kasi Pemerintahan dan Trantib Kantor Kecamatan Kalipuro, Plt Lurah Yanuar Pribadi, SE, didampingi Kepala Sekolah Suliha, M.Pd dan KTU Bobi Ananta, S.AP.

    Tepat pukul 07.17, arak-arakan melewati perkampungan dan disambut hangat warga. Warga menerima pembagian kembang telur, sambil disambut salam santri MI Darusalam dan keluarga di KUA.

    Kegiatan diikuti 300 taruna-taruni, 90 persen berasal dari luar kota dan pulau seperti Madura, NTB, Bali, dan Kalimantan, yang menuntut ilmu di bidang nautika, pengelasan, teknik, dan boga.

    Replika jodang dilombakan, dengan juara pertama diraih Pengurus Batalyon yang membuat Tongkang Boat lengkap dengan pelampung.

    Juara kedua diraih hasil kolaborasi kelas XI Pengelasan dan Boga dengan kue tart bersusun, sementara juara ketiga adalah kelas XI Nautika Kapal Niaga yang mengibarkan bendera One Piece, sosok bajak laut dari Jepang.

    Replika lain menampilkan pabrik INKA, perhotelan Mitra Dudi yang bekerja sama dengan SMKN Kalipuro, masjid, Ka’bah, serta bebek yang filosofinya berbeda dengan ayam: bila bertelur atau beramal tidak riya, sementara ayam selalu ramai diumumkan.

    Selama proses pembuatan jodang, digelar lomba baca puisi yang dimenangkan Faras dari Genteng, Cleo dari Kalimantan, dan Ganesha dari Maluku.

    Maulid Nabi SMKN Kalipuro

    Ketua Panitia HM Shodiqiin, S.Pd, MM, membuka sambutan dengan pekik “semangat pagi” yang disambut yel-yel dan sholawat Asyifa.

    Ia menjelaskan inti kegiatan Maulid adalah pembentukan karakter dan cinta Rasulullah Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah, serta mengenalkan tradisi Kembang Ndog yang diperkenalkan Kyai Faqih dari Cemoro Songgon.

    Filosofi kembang dijelaskan: bunga yang harum adalah nama yang baik, cangkang telur ibarat Islam, putihnya iman, dan kuningnya ihsan.

    “Pengalaman peringatan Maulid di Bumi Blambangan sangat berkesan bagi mereka yang bekerja di lautan dan kembali ke kampung halaman,” tutur pengurus PERGUNU yang pernah mengajar 20 tahun di Belu, perbatasan Timor Timur.

    Usai arak-arakan, taruna-taruni berkumpul di aula untuk siraman rohani Maulid oleh Habib Muchsin Baharun. Acara juga diisi sholawatan, asyarakal, gema wahyu Illahi, penampilan jawara baca puisi, dan kultum bahasa Inggris.

    Rangkaian kegiatan disiarkan live via TikTok sekolah, memungkinkan guru, tenaga kependidikan, serta keluarga yang berada di Surabaya, Semarang, maupun jauh lainnya memantau anak-anaknya.

    Kepala SMKN 1 Kalipuro, Suliha, M.Pd, mengapresiasi semarak kiprah taruna (80 persen) dan taruni (20 persen), serta memberi penghargaan kepada Ketua Panitia, guru matematika yang berhati sastra.

    “Kami berharap anak-anak menjadi lebih beradab dengan akhlaqul karimah, didukung disiplin sekolah. Adab lebih tinggi dari ilmu, contohnya diam dan mendengarkan saat orang berbicara,” tutur Suliha, mantan guru Bahasa Indonesia di SMKN 1 Banyuwangi.

    Dalam maudhah hasanah, Habib Muchsin menyampaikan kegembiraannya bertemu para kader bangsa yang semangat hijrah menuntut ilmu demi cita-cita. “Kami doakan kalian menjadi kebanggaan orangtua serta bahagia dunia dan akhirat!” tuturnya, yang diamini hadirin.

  • Apa yang Dimaksud dengan Pendidikan Nilai dalam Konteks Pendidikan Nasional?

    Apa yang Dimaksud dengan Pendidikan Nilai dalam Konteks Pendidikan Nasional?

    Pendidikan tidak hanya sekadar proses transfer pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan juga sarana untuk membentuk pribadi yang berkarakter.

    Dalam konteks pendidikan nasional, aspek pembentukan karakter ini diwujudkan melalui pendidikan nilai.

    Pendidikan nilai menekankan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya membuat peserta didik cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan bangsa Indonesia.

    Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, pendidikan nilai menjadi semakin relevan karena generasi muda tidak hanya dihadapkan pada kebutuhan untuk memiliki keterampilan, tetapi juga dituntut agar tetap berpegang pada moral, etika, dan budaya bangsa.

    Pengertian Pendidikan Nilai dalam Konteks Nasional

    Pendidikan nilai dalam kerangka pendidikan nasional adalah proses sistematis untuk menanamkan, membiasakan, dan menginternalisasikan nilai-nilai moral, sosial, budaya, serta spiritual ke dalam diri peserta didik.

    Nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai pedoman dalam bertindak, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

    Pendidikan nilai ini berpijak pada dasar falsafah bangsa, yaitu Pancasila dan UUD 1945, yang menjadi sumber nilai utama bagi kehidupan berbangsa.

    Selain itu, nilai yang diajarkan juga mencakup ajaran agama, kearifan lokal, serta norma sosial yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

    Tujuan Pendidikan Nilai

    Pendidikan nilai bertujuan untuk mencetak generasi penerus yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga berkepribadian mulia. Tujuan utamanya meliputi:

    • Membentuk karakter peserta didik agar berperilaku sesuai dengan norma dan etika masyarakat.
    • Menanamkan rasa cinta tanah air dan kebangsaan.
    • Membiasakan perilaku yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
    • Mengembangkan sikap peduli terhadap sesama dan lingkungan.
    • Mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup bermasyarakat dengan menjunjung tinggi nilai toleransi dan keadilan.

    Dengan tujuan tersebut, pendidikan nilai menjadi salah satu landasan penting dalam mencetak generasi bangsa yang berintegritas.

    Prinsip-Prinsip dalam Pendidikan Nilai

    Agar pendidikan nilai dapat terlaksana dengan baik, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penerapannya.

    Pertama, pendidikan nilai harus bersifat universal dan dapat diterima oleh semua pihak, karena nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian adalah nilai yang berlaku umum.

    Kedua, pendidikan nilai sebaiknya dilakukan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah, agar terbentuk kebiasaan yang melekat pada diri peserta didik.

    Selain itu, pendidikan nilai juga harus bersifat kontekstual, artinya disesuaikan dengan situasi dan kondisi sosial budaya yang ada di lingkungan peserta didik.

    Hal ini membuat pendidikan nilai lebih relevan dan mudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Implementasi Pendidikan Nilai dalam Sistem Pendidikan Nasional

    Implementasi pendidikan nilai di sekolah tidak hanya melalui mata pelajaran khusus, tetapi juga melalui seluruh aktivitas pembelajaran dan kehidupan sekolah.

    Misalnya, guru dapat menanamkan nilai disiplin melalui pembiasaan datang tepat waktu, atau menumbuhkan nilai kejujuran dengan mendorong siswa untuk menghindari praktik mencontek.

    Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, olahraga, kesenian, dan organisasi siswa juga menjadi sarana penting dalam mengembangkan nilai-nilai kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, dan solidaritas.

    Pendidikan nilai juga dapat diintegrasikan dalam kurikulum dengan memuat muatan lokal yang mencerminkan budaya daerah.

    Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami nilai nasional, tetapi juga melestarikan warisan budaya yang menjadi identitas bangsa.

    Tantangan dalam Pendidikan Nilai

    Meski penting, pendidikan nilai memiliki tantangan besar, terutama di era digital. Generasi muda saat ini sangat mudah terpengaruh oleh arus informasi global yang tidak selalu sejalan dengan nilai budaya dan norma bangsa.

    Fenomena individualisme, perilaku konsumtif, hingga menurunnya sikap saling menghargai menjadi contoh nyata dari tantangan yang dihadapi.

    Selain itu, tidak semua guru atau tenaga pendidik memiliki kesiapan dan pemahaman yang memadai untuk menanamkan pendidikan nilai secara efektif.

    Peran keluarga juga menjadi tantangan, karena tidak jarang orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah tanpa memberikan teladan di rumah.

    Peran Guru, Sekolah, dan Masyarakat

    Keberhasilan pendidikan nilai sangat bergantung pada kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Guru berperan sebagai teladan sekaligus fasilitator yang membantu peserta didik memahami pentingnya nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari.

    Sekolah berfungsi sebagai lingkungan kedua setelah keluarga yang menyediakan pengalaman belajar bermakna untuk membentuk karakter siswa.

    Sementara itu, masyarakat juga harus berperan aktif dengan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung penerapan nilai. Apabila semua pihak berkolaborasi, pendidikan nilai tidak hanya menjadi wacana, melainkan benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

    Kesimpulan

    Pendidikan nilai dalam konteks pendidikan nasional merupakan bagian penting dari pembangunan bangsa, tidak hanya membentuk peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, bermoral, dan berbudaya.

    Dengan menanamkan nilai-nilai luhur bangsa, generasi muda diharapkan mampu menjaga identitas nasional sekaligus siap menghadapi tantangan global.

    Melalui pendidikan nilai, pendidikan nasional Indonesia dapat melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijaksana, berintegritas, dan memiliki komitmen untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi dirinya, masyarakat, dan bangsanya.

  • Mengapa pembelajaran perlu secara holistik melibatkan murid dalam olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga?

    Mengapa pembelajaran perlu secara holistik melibatkan murid dalam olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga?

    Mengapa pembelajaran perlu secara holistik melibatkan murid dalam olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga?

    Jawaban:

    Pembelajaran yang baik tidak hanya berhenti pada penguasaan pengetahuan semata.

    Pendidikan sejatinya bertujuan membentuk manusia seutuhnya, yaitu pribadi yang memiliki keseimbangan antara akal, hati, rasa, dan tubuh.

    Itulah sebabnya mengapa pembelajaran perlu dirancang secara holistik dengan melibatkan murid dalam olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga.

    Keempat aspek tersebut saling melengkapi satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan jika ingin menghasilkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.

    Olah hati

    Olah hati berhubungan dengan pembentukan moral, etika, dan spiritualitas murid. Dalam proses belajar, aspek ini bisa ditanamkan melalui pembiasaan sikap jujur, tanggung jawab, empati, serta menghargai orang lain.

    Murid yang terbiasa mengolah hati akan memiliki kesadaran batin bahwa ilmu yang dipelajari bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk memberi manfaat bagi orang lain.

    Tanpa olah hati, pengetahuan bisa menjadi kering, bahkan berpotensi disalahgunakan karena tidak didasari nilai-nilai kebajikan.

    Olah rasa

    Olah rasa menyentuh dimensi kepekaan sosial, estetika, dan budaya. Murid perlu dilatih agar mampu merasakan perasaan orang lain, peka terhadap lingkungan sekitar, dan menghargai keindahan.

    Misalnya melalui seni, musik, sastra, atau kegiatan sosial, murid diajak merasakan pengalaman batin yang mendalam.

    Dengan begitu, mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang kaku, tetapi memiliki keluwesan dalam berinteraksi, mampu memahami perasaan sesama, dan menghargai perbedaan.

    Olah pikir

    Olah pikir tentu menjadi bagian utama dari pembelajaran. Melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif adalah bekal penting agar murid mampu menghadapi tantangan zaman.

    Guru mendorong murid untuk tidak hanya menghafal, melainkan memahami, menalar, dan mengembangkan ide-ide baru.

    Dengan olah pikir, murid terbentuk menjadi individu yang cerdas, rasional, serta mampu membuat keputusan yang tepat berdasarkan pertimbangan logis dan pengetahuan yang benar.

    Olah raga

    Olah raga berkaitan dengan kesehatan fisik dan kebugaran tubuh. Tubuh yang sehat akan menunjang semangat belajar dan aktivitas sehari-hari.

    Melalui kegiatan olahraga, permainan, atau aktivitas fisik sederhana, murid dilatih untuk disiplin, sportif, dan menjaga keseimbangan hidup.

    Pendidikan yang melibatkan olah raga tidak hanya membangun kekuatan tubuh, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan, kerja sama tim, serta sikap pantang menyerah.

    Jika keempat aspek ini terintegrasi dengan baik, murid akan berkembang menjadi pribadi yang utuh, bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang baik, empati terhadap orang lain, kreativitas dalam berkarya, serta kesehatan jasmani yang prima.

    Inilah hakikat pendidikan holistik yang sejati, yaitu membentuk manusia seimbang yang siap menghadapi kehidupan dengan segala tantangannya.

  • Sebagai guru apa saja pengalaman belajar yang perlu dimaknai oleh murid?

    Sebagai guru apa saja pengalaman belajar yang perlu dimaknai oleh murid?

    A. Pengetahuan, keterampilan, dan wawasan keilmuan, serta pendidikan karakter
    B. Pengetahuan, pengalaman, dan sikap untuk terus belajar.
    C. Pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk terus belajar, serta mendampingi murid untuk bisa memahami dan mencapai tujuan belajarnya.
    D. Keterampilan, wawasan pengetahuan, dan mengajarkan mereka bersosialisasi.

    Jawaban:

    A. Pengetahuan, keterampilan, dan wawasan keilmuan, serta pendidikan karakter

    Pembahasan:

    Sebagai seorang guru, tanggung jawab utama bukan hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap murid. Pengalaman belajar inilah yang nantinya akan menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun masa depan. Maka dari itu, pengalaman belajar yang perlu dimaknai oleh murid mencakup pengetahuan, keterampilan, wawasan keilmuan, serta pendidikan karakter.

    Pertama, murid perlu memperoleh pengetahuan yang memadai. Pengetahuan menjadi dasar dari segala proses pembelajaran, karena melalui pengetahuan murid dapat memahami konsep-konsep penting, menguasai teori, serta mampu melihat hubungan antara ilmu yang dipelajari dengan realitas kehidupan. Pengetahuan ini tidak hanya terbatas pada ilmu akademik, tetapi juga meliputi informasi umum yang bermanfaat bagi perkembangan diri murid.

    Kedua, murid juga perlu dibekali dengan keterampilan. Pengetahuan yang dimiliki tidak akan maksimal apabila tidak disertai keterampilan untuk mengaplikasikannya. Misalnya, pengetahuan tentang teknologi informasi harus diikuti dengan keterampilan mengoperasikan perangkat digital. Begitu pula dalam bidang bahasa, murid tidak hanya mengetahui tata bahasa, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik. Keterampilan ini sangat penting karena akan mendukung murid dalam menghadapi tantangan kehidupan yang nyata.

    Selain itu, guru juga memiliki peran penting dalam menanamkan wawasan keilmuan kepada murid. Wawasan keilmuan membuat murid mampu berpikir lebih luas, terbuka, dan kritis. Dengan wawasan yang luas, murid tidak hanya memahami sesuatu dari satu sudut pandang, tetapi bisa melihat dari berbagai perspektif. Hal ini melatih mereka untuk lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan serta terbiasa mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang muncul di sekitarnya.

    Tidak kalah penting adalah pendidikan karakter. Pendidikan sejati bukan hanya melahirkan manusia cerdas, tetapi juga melahirkan manusia yang berakhlak mulia. Karakter menjadi fondasi dalam kehidupan sosial, karena orang yang berkarakter baik akan mampu menempatkan diri di tengah masyarakat. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik murid agar memiliki sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama. Pendidikan karakter inilah yang akan membimbing murid untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi lingkungannya.

    Dengan demikian, pengalaman belajar yang dimaknai oleh murid bukanlah satu aspek saja, melainkan gabungan dari pengetahuan, keterampilan, wawasan keilmuan, dan pendidikan karakter. Keempat hal tersebut saling melengkapi dan membentuk murid menjadi pribadi yang cerdas, terampil, berwawasan luas, sekaligus berkarakter baik. Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya, sebagaimana yang diamanatkan oleh para tokoh pendidikan, termasuk Ki Hajar Dewantara, bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.