Tag: pendidikan literasi

  • Jurnalis SMK Models Gelar Ngabuburead Produktif, Bahas Literasi sebagai Nutrisi Ruhani

    Jurnalis SMK Models Gelar Ngabuburead Produktif, Bahas Literasi sebagai Nutrisi Ruhani

    Ekstrakurikuler Jurnalis SMK Models (Mojoer Media) menggelar kegiatan Ngabuburead Produktif secara daring pada Selasa, 10 Maret 2026.

    Kegiatan yang dilaksanakan dalam suasana Ramadan ini menghadirkan Maulana Affandi, S.S. sebagai pemateri dengan tema “Literasi sebagai Nutrisi Ruhani.”

    Acara yang dipandu oleh Aurelia Clarista Putri ini menjadi ruang belajar bagi para siswa untuk memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa dengan aktivitas yang bermanfaat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran literasi di kalangan pelajar.

    Dalam pemaparannya, Affandi menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan dasar yang saling berkaitan, yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan intelektual, dan kebutuhan batin. Menurutnya, ketiga kebutuhan tersebut perlu dipenuhi secara seimbang.

    Ia merumuskan gagasan itu dalam tiga kunci sederhana, yakni fisik yang lapar membutuhkan makanan, pikiran yang lapar membutuhkan pengetahuan, sementara jiwa yang kosong memerlukan literasi sebagai nutrisi ruhani.

    ngabuburead produktif smk models

    Affandi menjelaskan bahwa literasi tidak sekadar aktivitas membaca dan menulis, tetapi merupakan proses memperkaya batin melalui perjumpaan dengan berbagai gagasan, pengalaman, serta nilai kehidupan yang tertuang dalam teks.

    Menurutnya, melalui kegiatan membaca seseorang dapat bertemu dengan berbagai gagasan dan cara pandang yang disampaikan penulis melalui karya.

    Dari proses tersebut, seseorang tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga memperluas cara pandang terhadap kehidupan.

    Ia juga menegaskan bahwa kebijaksanaan lahir dari literasi. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan gagasan melalui membaca, maka semakin luas pula perspektif yang dimilikinya.

    “Literasi itu bukan hanya soal baca tulis. Literasi adalah proses bertemunya gagasan. Dari sanalah seseorang belajar memahami banyak sudut pandang hingga akhirnya melahirkan kebijaksanaan,” jelasnya.

    Karena itu, ia menilai bahwa tingkat literasi seseorang sangat memengaruhi cara berpikir dan sikap dalam menghadapi persoalan kehidupan.

    Orang yang terbiasa membaca dan berpikir kritis cenderung lebih mampu melihat masalah secara jernih serta mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.

    Kegiatan Ngabuburead Produktif tersebut berlangsung interaktif. Para peserta diajak aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta menyampaikan pandangan mereka terkait literasi dan kebiasaan membaca di kalangan pelajar.

    Beberapa siswa seperti Dirly dan Novan turut menyampaikan pendapat serta pengalaman mereka dalam membangun kebiasaan membaca di tengah aktivitas sekolah.

    Salah satu peserta mengaku kegiatan ini memberikan perspektif baru tentang pentingnya membaca.

    “Materinya membuat saya sadar bahwa membaca itu bukan hanya untuk tugas sekolah, tetapi juga untuk memperluas cara berpikir kita,” ujarnya.

    Di akhir sesi, Affandi juga menekankan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

    Dengan literasi yang kuat, pelajar tidak hanya menjadi pembaca informasi, tetapi juga mampu menjadi penghasil gagasan.

    Suksesnya kegiatan Ngabuburead Produktif ini juga tidak lepas dari peran pembina Mojoer Media, Cici Arista Devi, S.Pd., yang memberikan dukungan serta memfasilitasi para siswa sehingga kegiatan literasi tersebut dapat terselenggara dengan baik.

    Kegiatan Ngabuburead Produktif ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat membaca dan menulis di kalangan siswa SMK Models, sekaligus menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat kualitas intelektual dan spiritual melalui literasi.

  • Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Persiapan Festival Literasi Using SMP 2025 resmi dimulai dengan technical meeting atau rapat teknis secara daring melalui Zoom pada Rabu (8/10/2025), diikuti oleh panitia, juri, serta pendamping dari sekolah negeri dan swasta yang akan mengikutsertakan muridnya dalam gelaran bergengsi ini.

    Rapat teknis ini menjadi langkah awal untuk menyatukan pemahaman, membahas petunjuk teknis, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan festival berjalan lancar dan seragam di setiap cabang lomba.

    Sebagai informasi, Festival Literasi Using merupakan agenda tahunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang didukung MGMP Bahasa Using SMP, PKG SD serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Ketua MGMP Bahasa Using SMP, Yeti Chotimah menyampaikan bahwa festival ini sudah memasuki tahun kelima pelaksanaan.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar lomba, melainkan ruang bagi siswa untuk mencintai bahasa dan budaya Using, identitas asli masyarakat Banyuwangi.

    “Selama lima tahun ini, Festival Literasi Using menjadi wadah bagi siswa SMP, baik negeri maupun swasta, untuk menunjukkan kecintaan mereka pada bahasa daerah. Tujuannya bukan hanya berlomba, tapi juga melestarikan warisan budaya Using,” ujary Yeti, yang siap memberikan informasi lebih lanjut melalui WhatsApp di 081336275599.

    Tahun ini, Festival Literasi Using akan digelar pada tanggal 1 November 2025 di SDN Model Banyuwangi. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 8 – 26 Oktober 2025 melalui link berikut ini https://bit.ly/FESTIVALUSING2025

    Sementara untuk grup peserta dapat bergabung melalui tautan ini: KLIK DI SINI.

    Ada tujuh kategori yang dilombakan, diantaranya Nulis Aksara (Menulis Kalimat Using), Nulis Cerpen, Moco Geguritan (Baca Puisi), Nembang (Menyanyi), Ngewer (Stand-up Comedy Using), dan Ndongeng (Bercerita) serta pidato.

    Setiap cabang dirancang untuk mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya dalam bahasa Using dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

    Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Didik Eko Wahyudi, S.Pd, memberikan apresiasi terhadap konsistensi MGMP Bahasa Using dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, festival tersebut menjadi wujud nyata dari upaya pelestarian bahasa daerah melalui jalur pendidikan.

    Suasana rapat teknis berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Sekitar 45 peserta yang terdiri dari panitia, juri, dan guru pendamping aktif berdiskusi, menyimak penjelasan juknis tiap cabang lomba, serta menyampaikan pertanyaan seputar aturan teknis.

    Terpisah, Affandi Maulana, pemimpin redaksi media online sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang menyatakan siap menjadi media partner dan merasa terhormat karena dilibatkan sebagai juri bersama dengan tokoh literasi dari komunitas literasi Gotongroyong ’45 serta Kopiwangi.

    Sarjana Sastra UNEJ ini menekankan pentingnya agar karya siswa tidak berhenti hanya di ajang lomba, tetapi terus berkembang dalam aktivitas literasi di dunia pendidikan maupun kehidupan masyarakat.

    "Karya-karya anak kita sebaiknya tidak hanya tampil di panggung festival, tapi juga diabadikan dalam bentuk buku antologi. Dengan begitu, semangat literasi Using bisa terus hidup dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya," ujarnya.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, selaku ketua komunitas Kopiwangi, turut mengapresiasi gelaran festival ini.

    Menurutnya, kegiatan seperti Festival Literasi Using sangat penting karena tidak hanya mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya, tetapi juga menumbuhkan kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya Using, sehingga generasi muda tetap terhubung dengan warisan budaya daerahnya.

    Pertemuan daring yang berlangsung selama dua jam itu ditutup dengan sesi foto bersama, dimana seluruh peserta mengangkat simbol tangan literasi sebagai wujud komitmen untuk menjaga bahasa Using agar tetap hidup, digunakan, dan dicintai oleh para pelajar Banyuwangi di tengah arus zaman yang serba digital.

    Selain itu, muncul harapan agar Using kelak bisa diakui sebagai bahasa mandiri dengan identitasnya sendiri, bukan sekadar dipandang sebagai dialek, sehingga keberadaannya dapat terus dilestarikan dan berkembang di tengah masyarakat.