Tag: pendidikan tinggi

  • Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Sebanyak 21 mahasiswa Program Studi S1 Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur melaksanakan Kuliah Lapangan Dialektologi di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi pada Kamis (23/10).

    Kegiatan ini bertujuan untuk meneliti dan mendalami bahasa Using, bahasa tutur khas masyarakat Banyuwangi yang menjadi bagian penting dari kekayaan linguistik Nusantara.

    Acara pembukaan berlangsung di pendopo kantor desa, dihadiri oleh Ketua Program Studi Pendidikan, Dr. Endang Sholihatin, S.Pd., M.Pd., serta dua dosen pembimbing, Dwika Muzakky Anan Taturia, M.Hum., dan Nisa Hanum Mufida, M.Hum.

    Turut hadir pula Kasi PMK Kecamatan Kabat, Sahroni, S.T., Mujalis, perangkat desa, dan beberapa warga yang akan menjadi narasumber penelitian di wilayah Pondoknongko.

    Antusiasme masyarakat tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Warga merasa bangga karena bahasa yang mereka gunakan sehari-hari menjadi objek kajian ilmiah yang dapat memperkaya khazanah linguistik Indonesia.

    Kepala Desa Pondoknongko, Hamdan Ramahurmuzi, S.T., dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bangga atas kedatangan mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur.

    Ia menyebut kegiatan ini memiliki makna pribadi karena dirinya merupakan alumnus kampus yang sama, angkatan 1996 jurusan Teknik Industri.

    Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    “Saya dulu angkatan 96 dari jurusan Teknik Industri. Kedatangan adik-adik mahasiswa ini benar-benar membawa kenangan dan kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

    Hamdan berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using.

    “Semoga kolaborasi ini membawa manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using,” imbuhnya.

    Bahasa Using sendiri dikenal sebagai identitas budaya masyarakat Banyuwangi yang memiliki struktur dan ciri khas tersendiri.

    Melalui kuliah lapangan ini, para mahasiswa berkesempatan mendalami karakter bahasa yang lahir dari sejarah panjang dan kehidupan masyarakat pesisir timur Jawa.

    Selain menggali aspek linguistik, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat.

    Bagi mahasiswa, pengalaman langsung di lapangan menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana bahasa hidup dan berkembang di tengah budaya lokal.

    Dari Desa Pondoknongko, semangat pelestarian bahasa daerah kembali digaungkan. Menjaga bahasa tidak sekadar melestarikan kata, tetapi juga merawat jati diri, budaya, dan ingatan kolektif bangsa.

  • Rektor IPB Dorong Generasi Muda Siap Hadapi Tantangan Teknologi dan Iklim

    Rektor IPB Dorong Generasi Muda Siap Hadapi Tantangan Teknologi dan Iklim

    Di tengah derasnya perubahan zaman, mahasiswa tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengetahuan.

    Mereka harus mampu beradaptasi, berinovasi, dan memimpin perubahan untuk menghadapi tantangan teknologi serta perubahan iklim global.

    Pesan tegas ini disampaikan Rektor Prof Arif Satria kepada lebih dari 8.000 mahasiswa baru IPB University angkatan 62, baik dari program Sarjana (S1) maupun Sarjana Terapan (D4), dalam acara Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) yang berlangsung pada 11–12 Agustus.

    “Setiap tahun kebutuhan skill berubah. Karena itu, kita harus menjadi pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), akan menggeser banyak peran tradisional.

    Selain AI skill dan digital skill, saat ini berkembang pula green skill, kemampuan mengelola sumber daya alam secara efisien dan ramah lingkungan.

    “Setiap kenaikan satu derajat celcius suhu global dapat menurunkan produksi beras 10-20 persen. Bahkan, jika perubahan iklim tidak diantisipasi, kopi bisa punah pada 2080,” tambahnya.

    Menurut dia, era Society 5.0 menempatkan isu lingkungan dan kemanusiaan sebagai pusat perhatian.

    Banyak perusahaan besar mulai mencari ahli sosial, kemanusiaan, dan lingkungan. “Kita harus lead change sekaligus lead the future,” tegasnya.

    Kepada mahasiswa baru angkatan 62 ‘Jatayu Harsakala’, Prof Arif juga memberikan tiga pesan utama.

    Pesan pertama adalah menjadi insan inspiratif, yaitu orang yang mampu menggerakkan orang lain melalui gagasan, kepemimpinan, dan karya.

    “Ciri insan inspiratif adalah punya visi, mindset positif, semangat belajar, kegigihan, keberanian, dan empati,” ucapnya.

    Pesan kedua adalah memiliki growth mindset. Menurutnya, mahasiswa harus mampu melihat kegagalan sebagai peluang belajar, bukan batas kemampuan.

    “Masalah dan kegagalan akan selalu ada, tapi berhenti dari kegagalan adalah kesalahan terbesar. Pembelajar sejati adalah mereka yang mampu mengambil pelajaran dari siapa pun dan di mana pun,” katanya.

    Pesan ketiga adalah menjadi insan inovatif. Mahasiswa dituntut memiliki rasa ingin tahu tinggi, berpikir kreatif, berani mengambil risiko, fokus pada future practice, dan memiliki daya adaptasi.

    Semua orang bisa menuju puncak, tetapi bertahan di puncak adalah soal karakter,” ucap Rektor dengan penuh semangat.

    Bagi mahasiswa baru, pesan ini menjadi motivasi yang berarti. Hal itu diungkapkan oleh Rizki, peserta MPKMB, “Motivasi ini benar-benar membuat saya sadar bahwa pada akhirnya karakter menjadi hal yang sangat penting dalam hidup ini.”

    Menutup penyampaiannya, Prof Arif memaparkan visi IPB University sebagai Innopreneur University, yang memadukan riset dan inovasi untuk kepentingan bisnis (techno-preneurship) maupun sosial (socio-preneurship).

    “IPB University menyiapkan ekosistem pendidikan, riset, dan pengembangan kewirausahaan bagi mahasiswa sejak awal perkuliahan, termasuk melalui Talent Mapping, pelatihan 7 Habits, business mentoring, dan Startup School,” pungkasnya.