Tag: penyair

  • D. Zawawi Imron Hadir di Olimpiade Literasi KOPIWANGI, Menyemai Inspirasi bagi Generasi Muda Banyuwangi

    D. Zawawi Imron Hadir di Olimpiade Literasi KOPIWANGI, Menyemai Inspirasi bagi Generasi Muda Banyuwangi

    Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) menggelar Olimpiade Literasi Baca Puisi dan Bercerita dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia, pada Minggu (27/10/2024).

    Acara ini menjadi lebih istimewa dengan kehadiran maestro sastra nasional, D. Zawawi Imron yang terkenal dengan julukan Celurit Emas.

    Kedatangan Zawawi Imron ke Banyuwangi sendiri adalah bagian dari rangkaian acara Jambore Sastra Asia Tenggara yang berlangsung dari 24 hingga 26 Oktober 2024, dan ia berkesempatan hadir dalam Olimpiade Literasi untuk bertemu langsung dengan para peserta.

    Kehadirannya di tengah para peserta dan guru pendamping memberikan nuansa khidmat sekaligus mendalam bagi seluruh hadirin.

    Duduk bersama peserta, Zawawi Imron menyempatkan diri untuk berbagi pengalaman dan motivasi dalam dunia sastra.

    Dengan semangat yang tulus, ia memberikan dorongan bagi para pelajar yang mengikuti olimpiade untuk mengembangkan bakat dan kecintaan mereka pada literasi.

    Dalam sesi tersebut, Zawawi menekankan pentingnya kepekaan dalam melihat realitas kehidupan melalui puisi dan cerita yang menurutnya dapat membantu seseorang menyelami makna kehidupan lebih dalam.

    Tak hanya memberi motivasi, Zawawi juga membacakan puisi legendarisnya yang berjudul “Ibu.”

    Puisi ini telah lama dikenal sebagai karya yang penuh emosi dan rasa syukur kepada sosok ibu, yang selalu menjadi inspirasi utama dalam hidupnya.

    Suasana menjadi begitu hening dan khusyuk saat Zawawi melantunkan puisi itu, seakan-akan tiap kata yang diucapkannya menyentuh hati para peserta, yang banyak di antaranya tampak terkesima.

    “Ibu” tidak hanya mengangkat tema kasih sayang dan pengorbanan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur tentang cinta dan penghormatan terhadap orang tua.

    Di akhir sesi, D. Zawawi Imron menutup kehadirannya dengan sebuah nasihat sebagai tanda perpisahan, membuat suasana semakin hangat.

    Para peserta, guru, dan panitia tampak antusias mengabadikan momen bersama melalui foto yang nantinya akan menjadi kenang-kenangan berharga.

    Kehadiran Zawawi Imron dalam acara ini tak hanya menambah semangat literasi bagi pelajar Banyuwangi tetapi juga menegaskan bahwa puisi dan sastra tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

    Momen istimewa ini memberi warna tersendiri dalam pelaksanaan Olimpiade Literasi KOPIWANGI, yang sukses menarik minat besar dari berbagai kalangan, terutama generasi muda.

    Diharapkan, semangat yang dibawa Zawawi Imron dapat menjadi sumber inspirasi yang mendorong lebih banyak generasi muda Banyuwangi untuk berkarya dan memperkaya dunia sastra di masa mendatang.

  • 11 Tokoh Sastra Dunia yang Menginspirasi Perkembangan Sastra Modern

    11 Tokoh Sastra Dunia yang Menginspirasi Perkembangan Sastra Modern

    Sastra dunia adalah harta karun yang penuh dengan kisah, emosi, dan kebijaksanaan dari berbagai budaya.

    Dari zaman klasik hingga modern, tokoh-tokoh sastra memberi pengaruh besar yang melampaui batas waktu dan geografis.

    Mereka tidak hanya menciptakan karya-karya terkenal, tetapi juga memberikan inspirasi dan wawasan yang relevan hingga hari ini.

    Dari puisi yang penuh makna hingga novel yang menggugah pemikiran, para penulis ini meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi pembaca di seluruh dunia.

    Nah, buat kamu yang ingin belajar sastra, berikut ini adalah nama dari para tokoh sastra dunia yang menjadi inspirasi bagi sastrawan generasi selanjutnya.

    Tokoh Sastra Dunia Abad Pertengahan – Abad Pencerahan

    Pada periode Abad Pertengahan hingga Abad Pencerahan, dunia sastra mengalami perkembangan yang signifikan.

    Masa ini menyaksikan lahirnya karya-karya yang tidak hanya mempengaruhi pemikiran zaman itu, tetapi juga membentuk fondasi bagi literatur modern.

    Para tokoh sastra dari periode ini dikenal dengan karya-karya mereka yang menggugah imajinasi, menantang norma-norma sosial, dan mendorong batasan intelektual.

    1. Geoffrey Chaucer (1343-1400)

    Geoffrey Chaucer dikenal sebagai “Bapak Sastra Inggris” karena peran pentingnya dalam mengembangkan bahasa Inggris sebagai medium sastra.

    The Canterbury Tales, karya monumentalnya, yakni kumpulan cerita yang disampaikan oleh sekelompok peziarah.

    Setiap cerita dalam karya ini membawa satir sosial yang tajam, mencerminkan kondisi masyarakat Inggris pada masa itu.

    2. William Shakespeare (1564-1616)

    William Shakespeare
    William Shakespeare (engoo)

    William Shakespeare adalah salah satu tokoh sastra yang paling terkenal di dunia. Karyanya mencakup berbagai genre, termasuk drama, puisi, dan tragedi.

    Shakespeare dikenal dengan kemampuannya menggambarkan karakter dan emosi manusia dengan mendalam. Tema cinta, ambisi, dan moralitas dalam karyanya tetap relevan hingga saat ini, menjadikannya ikon dalam dunia sastra.

    Karya William Shakespeare yang cukup terkenal diantaranya Hamlet, Romeo and Juliet, Macbeth

    3. Miguel de Cervantes (1547-1616)

    Miguel de Cervantes
    Miguel de Cervantes (theneweuropean)

    Miguel de Cervantes adalah penulis Spanyol yang terkenal dengan karyanya Don Quixote, yang dianggap sebagai novel modern pertama.

    Karya ini adalah satire yang menggambarkan petualangan seorang pria yang terobsesi dengan ide-ide kesatria.

    Don Quixote mengeksplorasi tema ilusi versus realitas dan kritik sosial terhadap masyarakat Spanyol pada zamannya.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 19

    Abad ke-19 merupakan era emas bagi dunia sastra, di mana sejumlah penulis besar muncul dengan karya-karya yang revolusioner dan mendalam.

    Pada masa ini, sastra menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan perubahan sosial, menggali kompleksitas manusia, dan mengekspresikan keindahan serta tragedi kehidupan.

    Berikut adalah beberapa tokoh sastra dunia dari abad ke-19 yang karyanya terus menginspirasi hingga saat ini.

    4. Leo Tolstoy (1828-1910)

    Leo Tolstoy
    Leo Tolstoy (piramida)

    Leo Tolstoy adalah penulis Rusia yang karyanya dianggap sebagai puncak sastra realisme. War and Peace adalah epik sejarah yang menggambarkan kehidupan masyarakat Rusia selama invasi Napoleon.

    Anna Karenina mengeksplorasi tema cinta, keluarga, dan moralitas. Tolstoy memiliki kemampuan luar biasa dalam menggambarkan kompleksitas karakter manusia dan kehidupan sosial.

    5. Charles Dickens (1812-1870)

    Charles Dickens
    Charles Dickens (oboolo)

    Charles Dickens adalah salah satu penulis Inggris yang paling produktif dan berpengaruh. Karyanya sering mengangkat isu sosial, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan eksploitasi anak.

    Dickens dikenal dengan karakter-karakter yang kuat dan alur cerita yang penuh dengan emosi dan kritik sosial.

    Beberapa karya Charles Dickens yang terkenal diantaranya A Tale of Two Cities, Great Expectations, Oliver Twist

    6. Emily Brontë (1818-1848)

    Emily Brontë
    Emily Brontë (thefamouspeople)

    Emily Brontë adalah penulis Inggris yang dikenal dengan satu-satunya novelnya, Wuthering Heights.

    Karya ini merupakan eksplorasi intens tentang cinta, pembalasan, dan kehancuran diri dalam lingkungan yang keras.

    Wuthering Heights dianggap sebagai salah satu karya sastra paling unik dan menantang dalam literatur Inggris, dengan narasi yang inovatif dan kompleks.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 20

    Abad ke-20 menandai periode penting dalam dunia sastra, di mana para penulis bereksperimen dengan gaya, tema, dan teknik baru untuk mencerminkan kompleksitas zaman yang penuh perubahan.

    Era ini dipenuhi dengan peristiwa besar seperti perang dunia, revolusi, dan transformasi sosial yang mempengaruhi karya sastra secara mendalam.

    Para tokoh sastra dari abad ke-20 tidak hanya menangkap esensi zaman mereka, tetapi juga mempengaruhi cara kita memahami dunia dan diri kita sendiri.

    Mari kita mengenal lebih jauh para tokoh sastra dunia dari abad ke-20 yang meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam sejarah literatur.

    7. Franz Kafka (1883-1924)

    Franz Kafka
    Franz Kafka (deutschland)

    Franz Kafka adalah penulis Ceko yang karya-karyanya terkenal dengan nuansa absurditas dan alienasi.

    Istilah “Kafkaesque” digunakan untuk menggambarkan situasi yang aneh dan tidak masuk akal seperti yang digambarkan dalam karya-karyanya.

    The Metamorphosis dan The Trial mengeksplorasi tema identitas, birokrasi, dan ketidakberdayaan individu dalam menghadapi kekuatan besar.

    8. James Joyce (1882-1941)

    James Joyce
    James Joyce (catholicregister)

    James Joyce adalah salah satu tokoh utama dalam gerakan modernisme sastra.

    Karyanya Ulysses dianggap sebagai salah satu novel terpenting dalam sastra Inggris abad ke-20. Joyce dikenal dengan eksperimen dalam struktur naratif dan penggunaan bahasa.

    Karyanya penuh dengan alusi budaya, menjadikannya tantangan sekaligus keindahan untuk dibaca.

    9. Gabriel García Márquez (1927-2014)

    Gabriel García Márquez
    Gabriel García Márquez (humanidades)

    Gabriel García Márquez adalah penulis Kolombia yang menjadi pelopor gerakan realisme magis.

    One Hundred Years of Solitude adalah novel epik yang menggambarkan kehidupan keluarga Buendía selama beberapa generasi, di mana realitas dan fantasi bercampur dengan harmonis.

    Karya-karyanya sering menggambarkan kehidupan di Amerika Latin dengan campuran mitos dan realitas, yang menciptakan narasi yang kaya dan penuh warna.

    Beberapa karya Gabriel García Márquez yang terkenal diantaranya One Hundred Years of Solitude, Love in the Time of Cholera.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 21

    Abad ke-21 membawa dunia sastra ke dalam era baru yang ditandai dengan globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial yang cepat.

    Para penulis dari masa ini menghadapi tantangan dan peluang yang unik, menciptakan karya-karya yang mencerminkan kompleksitas dunia modern.

    Dengan gaya yang beragam dan tema yang mencakup berbagai aspek kehidupan kontemporer, para tokoh sastra abad ke-21 terus mendorong batasan kreativitas dan menghubungkan kita dengan berbagai realitas yang ada di seluruh dunia.

    10. Haruki Murakami

    Haruki Murakami adalah penulis Jepang yang karya-karyanya dipengaruhi oleh budaya pop Barat dan elemen surealisme.

    Tema-tema seperti kesepian, realitas alternatif, dan pencarian jati diri sering muncul dalam novelnya.

    Murakami dikenal dengan gaya naratif yang halus dan atmosfer yang melankolis, yang membuat karyanya menjadi favorit di kalangan pembaca global.

    Beberapa karyanya yang terkenal seperti Kafka on the Shore, Norwegian Wood.

    11. Chimamanda Ngozi Adichie

    Chimamanda Ngozi Adichie adalah penulis Nigeria yang karya-karyanya membahas isu-isu identitas, feminisme, dan postkolonialisme.

    Half of a Yellow Sun menggambarkan Perang Saudara Nigeria, sementara Americanah mengeksplorasi pengalaman imigran Afrika di Amerika.

    Adichie adalah suara penting dalam sastra kontemporer yang memberikan perspektif baru tentang Afrika dan peran wanita dalam masyarakat.

    Pengaruh Tokoh Sastra Dunia Terhadap Sastra Modern

    Pengaruh tokoh sastra dunia tidak hanya terasa pada masanya, tetapi juga membentuk landasan bagi perkembangan sastra modern.

    Melalui karya-karya mereka yang inovatif dan pemikiran yang mendalam, para penulis besar ini telah menginspirasi generasi penulis berikutnya untuk mengeksplorasi tema baru, bereksperimen dengan gaya penulisan, dan menantang konvensi yang ada.

    Dari narasi eksistensial hingga kritik sosial, warisan mereka terus mempengaruhi cara kita menulis dan memahami sastra hari ini.

    Peninggalan Sastra dan Inspirasi

    Tokoh-tokoh sastra ini tidak hanya menghasilkan karya-karya yang hebat, tetapi juga memberikan inspirasi yang mendalam bagi penulis-penulis generasi berikutnya.

    Mereka membentuk dasar-dasar sastra modern, menciptakan gaya dan tema yang masih diadopsi dan dikembangkan hingga hari ini.

    Pengaruh mereka terlihat jelas dalam berbagai bentuk sastra kontemporer, dari novel hingga drama dan puisi.

  • Biografi Ahda Imran, Karya, dan Prestasinya dalam Dunia Sastra

    Biografi Ahda Imran, Karya, dan Prestasinya dalam Dunia Sastra

    Ahda Imran adalah seorang penyair dan esais yang lahir di Payakumbuh pada 10 Agustus tahun 1966, kemudian besar dan berkarya di Cimahi, Jawa Barat.

    Selain dikenal sebagai penyair, Ahda Imran juga menulis beberapa naskah drama, salah satunya adalah untuk seri teater Monolog 3 Perempuan.

    Dalam karya tersebut, Ahda Imran berkolaborasi dengan Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu.

    Kemudian pada tahun 2013, ia menulis naskah untuk Monolog Inggit Garnasih yang dimainkan oleh Happy Salma dan disutradarai oleh Wawan Sofwan.

    Sepanjang kariernya, ia telah melahirkan banyak karya juga mencetak berbagai penghargaan, salah satunya adalah Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kategori kumpulan puisi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2022.

    Selain itu, ia juga telah menulis banyak puisi yang sering dimuat dalam Harian Kompas, salah satunya puisi berjudul “Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze (2012)”.

    Berikut ini adalah beberapa karya dan prestasi yang telah diraih oleh Ahda Imran sepanjang kariernya.

    Karya Puisi Ahda Imran

    • Sajak Tan Malaka Kepada Harry A Poeze (2012)
    • Hujan Yang Berwarna Hitam (2013)
    • Dari Bahasa kepada Puisi (2013); puisi untuk Afrizal Malna
    • Hikayat Sebuah Meja (2013); puisi untuk Hanafi
    • Setenang Buddha (2013)
    • Kalajengking (2013)
    • Hikayat Tangan (2013)
    • Dalam Kapal Nuh (2013)
    • Hikayat Aradea (2013)
    • 24 Jam Berikutnya dalam Kepalamu (2013)
    • Dunia Perkawinan (buku puisi, 1999)
    • Penunggang Kuda Negeri Malam (buku puisi, 2008)
    • Rusa Berbulu Merah (buku puisi, 2014)
    • Ludah Orang Suci (buku puisi, 2021)

    Antologi Puisi Ahda Imran

    • 70 Puisi: Penunggang Kuda Negeri Malam (2008); diterbitkan oleh Akar Indonesia
    • Rusa Berbulu Merah: Kumpulan Puisi 2008-2013 (2014); diterbitkan oleh Pustaka Jaya

    Kumpulan Cerita Ahda Imran

    • 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur! (2010); bersama Zaki Yamari; diterbitkan oleh Pikiran Rakyat
      Naskah drama Ahda Imran
    • Monolog Inggit Garnasih (2013); dipentaskan oleh Happy Salma, disutradarai oleh Wawan Sofwan
    • Monolog 3 Perempuan (2014); bersama Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu
    • Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah (buku naskah drama)
    • Sjahrir (buku naskah drama)
    • Amir Hamzah; Nyanyian Sunyi Revolusi (buku naskah drama)
    • The Sin Nio, Sepinya Sepi (buku naskah drama)
    • Annelis Mallema (buku naskah drama)
    • Kacamata Sjafruddin (buku naskah drama)

    Karya Nonfiksi Ahda Imran

    • Di Atas Viaduct (2009); diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama
    • 5 Dasa Warsa Irawati Menari (2011); bersama Miftahul Malik dan Irawati Durban Ardjo

    Penghargaan Ahda Imran

    • Tahun 2014, antologi puisi Ahda Imran berjudul Rusa Berbulu Merah masuk dalam daftar lima besar nominasi ajang Kusala Sastra Khatulistiwa.
    • Tahun 2022 ia masuk dalam nominasi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik bersama Kamila Andini dalam film Nana di Festival Film Indonesia 2022.
    • Buku puisi Rusa Berbulu Merah menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo (2015)
    • Buku puisi Ludah Orang Suci menjadi buku Rekomendasi Majalah Tempo (2021)
    • Buku puisi Ludah Orang Suci menerima Penghargaan Buku Puisi Kemendikbud (2022)
    • Pemenang Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta (2022) untuk naskah Mesin Jemaat Rawayan Award.
    • Novel biografisnya “Jais Darga Namaku” diangkat ke layar lebar dengan judul  Before, Now & Then (Nana) dan terpilih mengikut Berlinale Festival 2022 di Berlin.
  • Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo
    • Nama : Joko Pinurbo
    • TTL    : Sukabumi, 11 Mei 1962
    • Istri    : Nurnaeni Amperawati Firmina
    • Anak  : Paskasius Wahyu Wibisono, Maria Azalea Anggraeni

    Biografi Singkat Joko Pinurbo

    Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia menyelesaikan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Sanata Darma Yogyakarta pada tahun 1987 dan kemudian menjadi staf pengajar di almamaternya.

    Sejak tahun 1979 Joko Pinurbo sudah tertarik dengan puisi dan atau sajak-sajak yang dibuat oleh para sastrawan terkenal Indonesia. Namun uniknya, selama 20 tahun ia mengamati puisi/sajak, selama itu pula ia belum membuat satu puisi pun.

    Hingga akhirnya pada tahun 1999 barulah ia menghasilkan puisi dan membukukan dalam suatu tema Celana, yang menurut pengakuannya belum pernah ada penyair sebelumnya memakai kata tersebut dalam karya puisi.

    Sejak tahun 1999, sudah 10 buku kumpulan puisi diluncurkan, diantaranya Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005).

    Beberapa buku kumpulan puisinya memperoleh hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi) 2001, penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas 2002, Tokoh Sastra PIlihan Tempo 2001, Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005.

    Dan yang lebih fenomenal lagi, bukunya sangat laris. Buku kumpulan puisi Kepada Cium (terbit tahun 2007), hanya dalam jangka waktu satu bulan sudah terjual 1000 buku. Suatu jumlah yang luar biasa untuk buku puisi.

    Pendidikan Joko Pinurbo

    • SD Mardi Yuana Warung Kiara, Sukabumi (1973)
    • SMP Sanjaya Babadan, Sleman (1976)
    • Seminari St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang (1981)
    • IKIP Sanata Darma (sekarang Universitas Sanata Dharma) Yogyakarta (1987)

    Karya Joko Pinurbo

    • Celana (1999)
    • Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
    • Pacarkecilku (2002)
    • Trouser Doll merupakan terjemahan karyanya berjudul Celana ke dalam bahasa Inggris (2002)
    • Telepon Genggam (2003)
    • Kekasihku (2004)
    • Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005)
    • Kepada Cium (2007)
    • Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007)
    • Haduh, aku di-follow (2013)
    • Surat Kopi (2014)
    • Malam ini aku akan tidur di matamu (2016)
    • Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016)

    Penghargaan Joko Pinurbo

    • Hadiah Sastra Lontar, 2001,
    • Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi), 2001,
    • Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas, 2002,
    • Tokoh Sastra PIlihan Tempo, 2001,
    • Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005
  • Biografi Sutardji Calzoum Bachri, Sang Sastrawan Kontemporer

    Biografi Sutardji Calzoum Bachri, Sang Sastrawan Kontemporer

    Sutardji Calzoum Bachri atau yang lebih akrab disapa Bung Tardji lahir di Rengat, Indragiri Hulu, pada tanggal 24 Juni 1941. Dia adalah seorang pujangga terkemuka di Indonesia yang telah menciptakan banyak karya sastra.

    Bung Tardji merupakan putra dari pasangan Mohammad Bachri dan May Calzum. Mohammad Bachri sendiri berasal dari Kutoarjo, Jawa Tengah. Sedangkan May Calzum berasal dari Tanbelan, Riau.

    Bung Tardji kecil tumbuh kembang dengan hobinya, yaitu menulis. Hingga akhirnya setelah lulus SMA, Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung.

    Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya mulai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

    Sutardji Calzoum Bachri juga sering disebut sebagai sastrawacan pelopor puisi kontemporer. Dia mencoba memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia.

    Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

    Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam.

    Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975.

    Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.

    Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

    “O Amuk Kapak” merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979.

    Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

    Karya puisi yang telah dimuat dalam buku antologi:

    Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976),
    Writing from The Word (USA),
    Westerly Review (Australia),
    Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975),
    Ik Wil Nogdulzendjaar Leven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979),
    Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977),
    Parade Puisi Indonesia (1990),
    Majalah Tenggara,
    Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan
    Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).
    Kumpulan Sajak Sutardji Calzoum Bachri
    O, diterbitkan oleh Yayasan Indonesia (tahun  1971)
    Kucing, diterbitkan oleh Sinar  Harapan (tahun 1973)
    Amuk (tahun 1977)
    O, Amuk, Kapak, antologi, diterbitkan  oleh Sinar Harapan (tahun 1981)
    Aku Datang Padamu
    Perjalanan Kubur David  Copperfield.
    Realites’90 Tanah Air  Mata.

    Penghargaan yang pernah diraihnya adalah:

    Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand (1979);
    Menerima penghargaan Sastra Kabupaten Kepulauan Riau oleh Bupati Kepulauan Riau (1979);Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993);
    Menerima Anugrah Sastra Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jakarta. (1990an);
    Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan
    Dianugrahi gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).

  • Biografi Mochtar Lubis, Sastrawan Pengkritik Penguasa

    Biografi Mochtar Lubis, Sastrawan Pengkritik Penguasa

    Biodata Muchtar Lubis

    • Nama: Mochtar Lubis
    • Tempat/Tgl. Lahir: Padang, 7 Maret 1922
    • Meninggal: Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun
    • Agama : Islam
    • Istri: Halimah, 77 tahun, tutup usia pada 27 Agustus 2001

    Mochtar Lubis lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922 – meninggal di Jakarta, 2 Juli 2004 pada umur 82 tahun. Ia adalah seorang jurnalis senior dan pengarang ternama asal Indonesia.

    Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit.

    Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966.

    Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980). Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.

    Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952 diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh A.H. John menjadi A Road With No End, London, 1968), mendapat Hadiah Sastra BMKN 1952; cerpennya Musim Gugur menggondol hadiah majalah Kisah tahun 1953; kumpulan cerpennya Perempuan (1956) mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-1956; novelnya, Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979. Selain itu, Mochtar juga menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992).

    Bibliografi

    • Tidak Ada Esok (novel, 1951)
    • Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950)
    • Teknik Mengarang (1951)
    • Teknik Menulis Skenario Film (1952)
    • Harta Karun (cerita anak, 1964)
    • Tanah Gersang (novel, 1966)
    • Senja di Jakarta (novel, 1970; diinggriskan Claire Holt dengan judul Twilight in Jakarta, 1963)
    • Judar Bersaudara (cerita anak, 1971)
    • Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972)
    • Manusia Indonesia (1977)
    • Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980)
    • Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982)
    • Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983)

    Karya jurnalistiknya:

    • Perlawatan ke Amerika Serikat (1951)
    • Perkenalan di Asia Tenggara (1951)
    • Catatan Korea (1951)
    • Indonesia di Mata Dunia (1955)

    Mochtar Lubis juga menjadi editor:

    • Pelangi: 70 Tahun Sutan Takdir Alisyahbana (1979)
    • Bunga Rampai Korupsi (bersama James C. Scott, 1984)
    • Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno (1986)

    Karya Terjemahannya:

    • Tiga Cerita dari Negeri Dollar (kumpulan cerpen, John Steinbeck, Upton Sinclair, dan John Russel, 1950)
    • Orang Kaya (novel F. Scott Fitgerald, 1950)
    • Yakin (karya Irwin Shaw, 1950)
    • Kisah-kisah dari Eropa (kumpulan cerpen, 1952)
    • Cerita dari Tiongkok (terjemahan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari, 1953.
  • Biografi Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Besar dengan Suara Perlawanan

    Biografi Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Besar dengan Suara Perlawanan

    Biografi Pramoedya Ananta Toer

    Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung.

    Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

    Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan seringkali ditempatkan di Jakarta di akhir perang kemerdekaan.

    Ia menulis cerpen dan buku sepanjang karir militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949.

    Pada 1950-an ia sanggup tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembalinya ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia.

    Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.

    Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, dan pada saat yang sama mulai berhubungan erat dengan para penulis di China.

    Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia.

    Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa mesti dipindahkan ke luar Jawa.

    Perjuangan Pramoedya Ananta Toer

    Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Chinanya.

    Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau-pulau di sebeluah timur Indonesia.

    Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan:

    • 13 Oktober 1965 – Juli 1969,
    • Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan,
    • Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru,
    • November – 21 Desember 1979 di Magelang.

    Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru.

    Namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia.

    Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri.

    Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

    Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S.

    Tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999.

    Dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

    Pramoedya Ananta Toer Berkarya

    Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri.

    Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).

    Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat ‘protes’ ke yayasan Ramon Magsasay.

    Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang” di masa demokrasi terpimpin.

    Tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

    Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu.

    Katanya, bukan menuntut ‘pencabutan’, tetapi mengingatkan ‘siapa Pramoedya itu’.

    Katanya, banyak orang tidak mengetahui ‘reputasi gelap’ Pram dulu.

    Dan pemberian penghargaan Magsasay dikatakan sebagai suatu kecerobohan.

    Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsasay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.

    Lubis juga mengatakan, HB Yassin pun akan mengembalikan hadiah Magsasay yang pernah diterimanya.

    Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Yassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.

    Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965.

    Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran ‘tidak terpuji’ pada ‘masa paling gelap bagi kreativitas’ pada jaman demokrasi terpimpin.

    Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

    Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari ‘golongan polemik biasa’ yang boleh diikuti siapa saja.

    Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang ‘kelewat jauh’.

    Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala.

    Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup.

    Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

    Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya Ananta Toer tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

    Pramoedya Ananta Toer Mengkritik Pemerintah

    Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini.

    Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang.

    Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa.

    Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

    Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa.

    Pramoedya Ananta Toer Aktif Menulis

    Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri.

    Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995.

    Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra.

    Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors’ Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia.

    Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memenangkan hadiah dari Universitas Michigan.

    Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan sedang dirawat di rumah sakit.

    Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak nsapas dan jantungnya melemah.

    Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya.

    Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya.

    Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara.

    Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

    Penghargaan Pramoedya Ananta Toer

    Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
    Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
    Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people”, dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
    Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people”, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
    UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence” dari UNESCO, Perancis, 1996
    Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom” dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
    Chancellor’s distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding”, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
    Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
    New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
    Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
    The Norwegian Authors Union, 2004
    Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004

    Karya Pramoedya Ananta Toer

    Bumi Manusia
    Gadis Pantai
    Arus Balik
    Jejak Langkah
    Nyanyi Sunyi Seorang Bisu
    Arok Dedes
    Larasati
    Anak Semua Bangsa
    Bukan Pasar Malam
    Perburuan
    Cerita Dari Blora
    Panggil Aku Kartini Saja
    Rumah Kaca
    Mangir
    Keluarga Gerilya
    Cerina Calon Arang
    Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
    Midah Si Manis Bergigi Emas
    Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer
    Sekali Peristiwa di Banten Selatan
    Subuh
    Tepi di Kali Bekasi
    Cerita Dari Jakarta
    Mereka Yang Dilumpuhkan
    Korupsi
    Gulat di Jakarta
    Jang Sudah Hilang
    Menggelinding
    Kronik Revolusi Indonesia
    Saya Terbakar Amarah Sendirian
    Memoar Oei Tjoe Tat: pembantu Presiden Soekarno

  • Biografi Sutan Takdir Alisjahbana, Tokoh Sastra Rasionalis di Era Pergerakan

    Biografi Sutan Takdir Alisjahbana, Tokoh Sastra Rasionalis di Era Pergerakan

    Biografi Sutan Takdir Alisyahbana

    Ibunya seorang Minangkabau yang telah turun temurun menetap di Natal, Sumatera Utara. Ayahnya, Raden Alisyahbana gelar Sutan Arbi, ialah seorang guru.

    Selain itu, dia juga menjalani pekerjaan sebagai penjahit, pengacara tradisional (pokrol bambu), dan ahli reparasi jam.

    Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemain sepak bola yang handal.

    Kakek Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dari garis ayah, Sutan Mohamad Zahab, dikenal sebagai seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas.

    Di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA) ketika dia masih kecil.

    Kabarnya, ketika kecil Sutan Takdir Alisjahbana (STA) bukan seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main di luar.

    Setelah lulus dari sekolah dasar pada waktu itu, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) pergi ke Bandung.

    Dan seringkali menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatera setiap kali dia mendapat liburan.

    Pengalaman ini bisa terlihat dari cara dia menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal: Layar Terkembang.

    Keterlibatan dengan Balai Pustaka

    Setelah lulus dari Hogere Kweekschool di Bandung, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) melanjutkan ke Hoofdacte Cursus di Jakarta (Batavia), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu.

    Di Jakarta, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) melihat iklan lowongan pekerjaan untuk Balai Pustaka, yang merupakan biro penerbitan pemerintah administrasi Belanda.

    Dia diterima setelah melamar, dan di dalam biro itulah Sutan Takdir Alisjahbana (STA) bertemu dengan banyak intelektual-intelektual Hindia Belanda pada saat itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda.

    Salah satunya ialah rekan intelektualnya yang terdekat, Armijn Pane.

    Sutan Takdir Alisjahbana dan Perkembangan Bahasa Indonesia

    Dalam kedudukannya sebagai penulis ahli dan kemudian ketua Komisi Bahasa selama pendudukan Jepang, Takdir melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa.

    Ia yang pertama kali menulis Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari segi Indonesia serta Kamus Istilah yang berisi istilah- istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang.

    Setelah Kantor Bahasa tutup pada akhir Perang Dunia kedua, ia tetap memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia melalui majalah Pembina Bahasa yang diterbitkan dan dipimpinnya.

    Sebelum kemerdekaan, Takdir adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo.

    Pada tahun 1970 Takdir menjadi Ketua Gerakan Pembina Bahasa Indonesia dan inisiator Konferensi Pertama Bahasa- Bahasa Asia tentang “The Modernization of The Languages in Asia (29 September-1 Oktober 1967).

    Direktur Cenfer for Malay Studies Universitas Malaya tahun 1060-1968.

    Karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana

    Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
    Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)
    Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
    Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
    Layar Terkembang (novel, 1936)
    Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
    Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
    Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
    Pelangi (bunga rampai, 1946)
    Pembimbing ke Filsafat (1946)
    Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
    The Indonesian language and literature (1962)
    Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)
    Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
    Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
    Values as integrating vorces in personality, society and culture (1974)
    The failure of modern linguistics (1976)
    Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
    Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
    Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)
    Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
    Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)
    Kalah dan Menang (novel, 1978)
    Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab (1982)
    Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam SemeSutan Takdir Alisjahbana (STA) (1982)
    Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)
    Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
    Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
    Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985)
    Sajak-Sajak dan Renungan (1987).