Tag: puisi taufik ismail

  • Kumpulan Puisi Taufik Ismail yang Melegenda

    Kumpulan Puisi Taufik Ismail yang Melegenda

    Taufik Ismail adalah salah satu sastrawan senior di Indonesia. Ia telah menciptakan begitu banyak karya sastra yang indah dan menyentuh hati.

    Untuk membaca biografi lengkap Taufik Ismail, silakan baca di sini: Biografi Taufik Ismail.

    Berikut adalah beberapa kumpulan puisi karya Taufik Ismail.

    SEBUAH JAKET BERLUMURAN DARAH

    Sebuah jaket berlumur darah
    Kami semua telah menatapmu
    Telah pergi duka yang agung
    Dalam kepedihan bertahun-tahun.

    Sebuah sungai membatasi kita
    Di bawah terik matahari Jakarta
    Antara kebebasan dan penindasan
    Berlapis senjata dan sangkur baja
    Akan mundurkah kita sekarang
    Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
    Berikara setia kepada tirani
    Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?.

    Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
    Kami semua telah menatapmu
    Dan di atas bangunan-bangunan
    Menunduk bendera setengah tiang.

    Pesan itu telah sampai kemana-mana
    Melalui kendaraan yang melintas
    Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
    Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
    Prosesi jenazah ke pemakaman
    Mereka berkata
    Semuanya berkata
    Lanjutkan Perjuangan.

    Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya Berangkat Dewasa

    Jika adalah yang harus kaulakukan
    Ialah menyampaikan kebenaran
    Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
    Ialah ang bernama keyakinan
    Jika adalah yang harus kau tumbangkan
    Ialah segala pohon-pohon kezaliman
    Jika adalah orang yang harus kauagungkan
    Ialah hanya Rasul Tuhan
    Jika adalah kesempatan memilih mati
    Ialah syahid di jalan Ilahi.

    KARANGAN BUNGA

    Tiga anak kecil
    Dalam langkah malu-malu
    Datang ke salemba
    Sore itu.

    Ini dari kami bertiga
    Pita hitam pada karangan bunga
    Sebab kami ikut berduka
    Bagi kakak yang ditembak mati
    Siang tadi.

    Salemba

    Alma Mater, janganlah bersedih
    Bila arakan ini bergerak pelahan
    Menuju pemakaman
    Siang ini.

    Anakmu yang berani
    Telah tersungkur ke bumi
    Ketika melawan tirani.

    GUGUR DALAM PENCEGATAN TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN

    Demikian cerita kakek penjaga
    Tentang pengunjung lelaki setengah baya
    Berkemeja dril lusuh, dari luar kota
    Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya
    Datang ke musium perjuangan
    Pada suatu sore yang sepi
    Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela
    Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara
    Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu
    Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan
    Dan sebelum dia pergi
    Menyalami dulu kakek Aki
    Dengan tangannya yang dingin aneh
    Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh
    Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan
    Ke tengah gerimis di pekarangan
    Tetapi sebelum ke pagar halaman
    Lelaki itu tiba-tiba menghilang

    DOA

    Tuhan kami
    Telah nista kami dalam dosa bersama
    Bertahun-tahun membangun kultus ini
    Dalam pikiran yang ganda
    Dan menutupi hati nurani

    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amin

    Tuhan kami
    Telah terlalu mudah kami
    Menggunakan AsmaMu
    Bertahun di negeri ini
    Semoga Kau rela menerima kembali
    Kami dalam barisanMu

    Ampunilah kami
    Ampunilah
    Amin

    12 MEI, 1998

    Mengenang elang Mulya, Hery Hertanto,
    Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan

    Empat syuhada berangkat pada suatu malam
    gerimis air mata tertahan di hari keesokan
    telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
    dan simaklah itu sedu-sedan

    Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,
    mengukir reformasi karena jemu deformasi
    dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,

    Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
    Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu

    Tapi malaikat telah mencatat
    indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti
    bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani
    mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,

    Merah putih yang setengah tiang ini
    merunduk di bawah garang matahari
    tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi,

    Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama
    dan kalian pahlawan bersih dari dendam
    karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari tuhan.

    SYAIR ORANG LAPAR

    Lapar menyerang desaku
    Kentang dipanggang kemarau
    Surat orang kampungku
    Kuguratkan kertas
    Risau
    Lapar lautan pidato
    Ranah dipanggang kemarau
    Ketika berduyun mengemis
    Kesinikan hatimu
    Kuiris
    Lapar di Gunungkidul
    Mayat dipanggang kemarau
    Berjajar masuk kubur
    Kauulang jua
    Kalau.

    MEMANG SELALU DEMIKIAN, HADI

    Setiap perjuangan selalu melahirkan
    Sejumlah pengkhianat dan para penjilat
    Jangan kau gusar, Hadi.

    Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita
    Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang
    Jangan kau kecewa, Hadi.

    Setiap perjuangan yang akan menang
    Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
    Dan para jagoan kesiangan.

    Memang demikianlah halnya, Hadi.