Tag: puisi

  • Lentera Sastra Banyuwangi Berkolaborasi dengan BCM dan Rumah Kebangsaan Peringati Hari Puisi Nasional

    Lentera Sastra Banyuwangi Berkolaborasi dengan BCM dan Rumah Kebangsaan Peringati Hari Puisi Nasional

    BANYUWANGI – Peringatan Hari Puisi Nasional yang digelar di Taman Blambangan, Banyuwangi, Minggu (26/7/2026), berlangsung semarak dan penuh makna.

    Kegiatan ini merupakan kolaborasi Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Banyuwangi Creative Market (BCM), dan Rumah Kebangsaan Banyuwangi yang menghadirkan panggung baca puisi sekaligus berbagai aksi sosial dalam rangka satu tahun Banyuwangi Creative Market.

    Dalam kegiatan tersebut, panitia berhasil menghimpun dana sebesar Rp6.450.000 dari pembuka lapak yang kemudian diwujudkan dalam bentuk santunan uang saku dan paket sembako bagi anak yatim piatu.

    Selain pembacaan puisi, acara juga diisi dengan donor darah, santunan kepada anak yatim, serta berbagai kegiatan sosial lainnya sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.

    Kolaborasi antara komunitas sastra, pelaku ekonomi kreatif, dan organisasi kemasyarakatan itu menghadirkan ruang publik yang memadukan seni, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, H. Syafaat, M.HI, mengatakan bahwa Hari Puisi Nasional merupakan momentum untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

    “Puisi adalah media yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan, membangun kepekaan sosial, serta mempererat persaudaraan. Karena itu, kami menggabungkan peringatan Hari Puisi Nasional dengan kegiatan sosial agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

    Panggung puisi diikuti oleh penyair, guru, pelajar, santri, serta pegiat literasi dari berbagai komunitas di Banyuwangi.

    Dari lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi hadir Kepala MTsN 5 Banyuwangi Herny Nilawati, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Uswatun Hasanah, Lulu Anwariyah dan Cicik Handayani dari MTsN 4 Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah, M.Pd., Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi yang juga guru MAN 1 Banyuwangi bersama para siswanya, Nukhbah Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi yang merupakan peraih Juara Liga Puisi Radar kategori guru sekaligus penerima penghargaan Sastra Tama, serta Nur Khofifah, guru MIN 1 Banyuwangi yang juga menerima penghargaan Sastra Tama.

    Peringatan Hari Puisi Nasional juga dimeriahkan penampilan Elok Faiqoh, Juara Liga Puisi Kategori SLTA Tahun 2025.

    Penampilannya yang penuh penghayatan mendapat apresiasi dari para hadirin.

    Warna tersendiri juga hadir melalui penampilan santriwati MI Darunnajah 2 Tukang Kayu, Azka Dzakiyatus Shaleha dan Zahiya Farha Sakinah, yang tampil didampingi Kepala Madrasah Majidatul Himmah, S.Ag.

    Keduanya membacakan puisi karya wali murid Ahmadi yang mengangkat isu penggusuran lapak UMKM Blambangan, dengan pesan agar masyarakat tetap bersabar dan meyakini bahwa rezeki berasal dari Yang Maha Kaya.

    Sementara itu, santri MI Syamsul Huda Bulusan Kalipuro, yakni Muhammad Bisma Arkananta Mahardika, Kiasatina Elisa Yulfani, dan Ananda Nur Millati Laili, tampil percaya diri didampingi guru pembina Wahyu Prahariningsih.

    Salah satu penampilan yang paling memukau hadir saat Purwowidodo, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, membawakan puisi berjudul Bukan Warisan Malaikat.

    Dengan penghayatan yang kuat dan intonasi yang penuh penjiwaan, ia mengajak hadirin merenungkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan tanggung jawab moral.

    Penampilannya mendapat tepuk tangan meriah dan menjadi salah satu momen paling berkesan dalam peringatan Hari Puisi Nasional tahun ini.

    Ketua Banyuwangi Creative Market, Rahmad Hidayat, mengapresiasi sinergi berbagai komunitas yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

    Menurutnya, perpaduan seni, kreativitas, dan aksi sosial menjadi kekuatan untuk menghidupkan ruang publik sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Banyuwangi.

    Sementara itu, Ketua Rumah Kebangsaan, Hakim Said, SH, menegaskan bahwa sastra memiliki peran strategis dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan.

    Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan sebagai media membangun karakter bangsa melalui kebudayaan.

    Kegiatan baca puisi juga dihadiri Pengawas Madrasah St. Muanifah, penyair Faiz Abadi bersama putrinya Tirta Baiti Jannah, serta sejumlah penyair dan pegiat literasi dari berbagai komunitas.

    Suasana berlangsung hangat, tertib, dan penuh apresiasi terhadap karya sastra, menunjukkan bahwa puisi tetap memiliki tempat di hati masyarakat Banyuwangi.

    Melalui kolaborasi Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Banyuwangi Creative Market, dan Rumah Kebangsaan, peringatan Hari Puisi Nasional diharapkan menjadi ruang bersama untuk mengembangkan budaya literasi, memperkuat kepedulian sosial, serta meneguhkan semangat persatuan melalui seni dan kebudayaan.

    Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa sastra tidak hanya hidup dalam untaian kata, tetapi juga hadir sebagai penggerak solidaritas, persaudaraan, dan peradaban.

    Acara ditutup dengan tumpengan dan doa yang dipimpin Syech H. Mohammad Ikrom sebagai ungkapan tasyakuran atas satu tahun perjuangan UMKM Banyuwangi Creative Market (BCM), sekaligus sebagai wujud tawakal, permohonan ampun, dan doa lahir batin demi kebahagiaan dunia dan akhirat. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Banyuwangi – Gramedia Banyuwangi berkolaborasi dengan Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) dan Indonesia Book Party (IBP) menggelar Serambi Sastra #1, Minggu (13/09/2026).

    Mengangkat tema “Menulis yang Dekat: Merangkai Puisi dalam Keseharian”, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pelajar, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk belajar, berdiskusi, serta mengekspresikan pengalaman melalui puisi.

    Kegiatan berlangsung di Gramedia Banyuwangi N.X Poin Lantai 2, Jalan Kepiting No. 7, Sobo, Banyuwangi. Dari 43 peserta yang melakukan registrasi, sebanyak 21 peserta hadir dan mengikuti kegiatan hingga selesai.

    Peserta berasal dari berbagai kalangan, di antaranya pelajar SMK PGRI Rogojampi, MAN 1 Banyuwangi, dan SMPN 1 Banyuwangi.

    Selain itu, hadir pula anggota KOPIWANGI, Indonesia Book Party, Banyuwangi Book Party, mahasiswa, serta masyarakat umum.

    Serambi Sastra #1 menghadirkan Andi Budi Setiawan sebagai narasumber.

    Selain dikenal sebagai Ketua KOPIWANGI dan penulis buku Algoritma Cinta, Eunoia Sangkakala, dan Rumah Ilalang, Andi juga merupakan guru di SMK PGRI Rogojampi yang aktif menulis.

    Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.20 WIB dan dipandu Putri Nurul Azizah, staf Gramedia Banyuwangi.

    Acara dibuka dengan pantun yang membangun suasana hangat, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan profil narasumber dan sesi berbagi pengalaman tentang perjalanan menulis puisi.

    Dalam sesi tersebut, Andi mengungkapkan bahwa dirinya mulai menulis puisi ketika duduk di kelas X SMA, sekitar tahun 2001.

    Perjalanan panjang itu kemudian melahirkan buku pertamanya, Algoritma Cinta – Biarkan Algoritma Selaras dengan Semesta, yang sebagian besar puisinya ditulis ketika SMA dan baru diterbitkan pada 2021.

    “Hampir 90 persen puisi dalam buku Algoritma Cinta merupakan puisi yang saya tulis sejak SMA. Butuh waktu sekitar 20 tahun sampai akhirnya kumpulan puisi itu menjadi sebuah buku,” ungkap Andi.

    Jauh sebelum aktif menulis, Andi juga telah mengenal puisi sejak masih duduk di taman kanak-kanak.

    Ia pernah dipilih untuk mengikuti seleksi lomba baca puisi, meskipun akhirnya tidak terpilih sebagai wakil sekolah.

    Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Justru dari proses itulah ia semakin dekat dengan dunia puisi, hingga kemudian menjadikan puisi sebagai ruang untuk mengekspresikan pengalaman, perasaan, keresahan, bahkan kritik terhadap berbagai persoalan.

    “Bagi saya, puisi bukan sekadar rangkaian kata. Puisi menjadi ruang untuk mengenali diri, mengolah perasaan, dan menemukan ketenangan,” jelasnya.

    Menurut Andi, menulis puisi yang baik berawal dari kepekaan terhadap apa yang dirasakan, dilihat, dan dialami.

    Penulis tidak perlu memaksakan kata-kata indah, tetapi perlu menemukan kata-kata yang jujur dan mampu mewakili perasaan.

    Ia menyarankan penulis untuk banyak membaca, mengamati, melakukan riset, dan berani menulis.

    Setelah gagasan dituangkan, penulis dapat memperhatikan kembali pilihan diksi, majas, ritme, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

    “Puisi yang baik bukan hanya indah dibaca, tetapi juga mampu membuat pembaca ikut merasakan. Karena sesuatu yang lahir dari hati akan sampai ke hati juga,” ujarnya.

    Andi juga membagikan pengalamannya mengenai tantangan dalam menulis puisi.

    Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mencari kata yang indah, melainkan menemukan kata yang tepat untuk mewakili perasaan tanpa kehilangan makna.

    Karena itu, ia tidak selalu terburu-buru menyelesaikan sebuah puisi. Menurutnya, memberi waktu untuk merenung, membaca kembali, kemudian memperbaiki diksi merupakan bagian penting dari proses kreatif seorang penulis.

    Diskusi semakin hidup ketika peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan.

    Tiga pertanyaan yang muncul antara lain mengenai sosok yang pertama kali mendukungnya dalam membaca puisi, peran media sosial dan teknologi digital bagi sastrawan muda, serta puisi yang paling berkesan baginya.

    Menjawab pertanyaan tersebut, Andi menyebut guru TK sebagai salah satu sosok yang sejak awal memberikan dorongan untuk mengenal puisi.

    Meski tidak lolos dalam seleksi lomba baca puisi saat itu, dukungan tersebut menjadi pengalaman yang terus diingat dan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai penulis.

    Terkait perkembangan teknologi, Andi mengajak para penulis muda untuk tidak alergi terhadap perubahan. Menurutnya, perkembangan sastra kini tidak hanya berlangsung melalui buku cetak, tetapi juga berkembang melalui ebook, media sosial, dan berbagai platform digital.

    Sementara itu, ketika ditanya mengenai puisi yang paling berkesan, Andi menyebut Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.

    Ia menilai kekuatan puisi tersebut terletak pada penggunaan diksi yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan tetap relevan sepanjang waktu.

    Setelah sesi diskusi, peserta diajak mempraktikkan langsung materi yang telah dibahas.

    Gramedia memberikan waktu 15 menit kepada peserta untuk menulis puisi yang mewakili perasaan atau pengalaman mereka.

    Kesempatan tersebut dimanfaatkan peserta untuk menuangkan pengalaman masing-masing.

    Salah seorang peserta, Vivi, kemudian membacakan puisinya dengan penuh penghayatan dan mendapatkan apresiasi dari narasumber serta peserta lainnya.

    Kegiatan semakin semarak dengan kuis yang dipandu Putri Nurul Azizah. Peserta diminta menebak judul atau penulis buku berdasarkan sampul yang ditampilkan, sebelum acara ditutup dengan pemberian apresiasi.

    Gramedia Banyuwangi memberikan Blind Book kepada tiga peserta teraktif dan dua doorprize bagi pemenang kuis.

    Andi Budi Setiawan juga memberikan tiga buku karyanya kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dan berkesempatan membacakan puisinya.

    Serambi Sastra #1 kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta.

    Lebih dari sekadar pertemuan sastra, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa puisi dapat lahir dari sesuatu yang sangat dekat: pengalaman, perasaan, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.

    Serambi Sastra yang diselenggarakan Gramedia Banyuwangi diharapkan dapat menjadi ruang yang terus tumbuh bagi masyarakat Banyuwangi untuk membaca, menulis, dan berbagi gagasan.

    Sebab, terkadang sebuah karya besar tidak dimulai dari kata-kata yang sempurna, tetapi dari keberanian seseorang untuk menuliskan satu kata pertamanya.

    Jurnalis: Andi Budi Setiawan

  • Peluncuran Buku Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri, Upaya Menghidupkan Bahasa Using Lewat Sastra

    Peluncuran Buku Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri, Upaya Menghidupkan Bahasa Using Lewat Sastra

    Suasana haru dan semarak mewarnai peluncuran buku puisi berbahasa Using bertajuk “Sangang Puluh Sanga (99)”, karya Drs. Ir. Jainuri, NZ, M.Pd yang digelar di LKP TMB Elit, Lemahbang Dewo, Sabtu (12/10).

    Buku Sangang Puluh Sanga (99) merupakan karya ketiga Jainuri dalam genre puisi berbahasa Using, setelah sebelumnya ia menerbitkan Guritan Telu Likur (23) dan Guritan Suwidak Siji (61).

    Ketiga buku tersebut membentuk semacam trilogi yang memperlihatkan konsistensi dan dedikasi Jainuri dalam menghidupkan bahasa Using melalui sastra.

    Acara yang dipandu oleh Nikmatur Rosyida ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan pegiat seni budaya.

    Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd, M.M; Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Drs. Hasan Basri; Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si; budayawan sekaligus Ketua Kiling Using, Aekanu Hariyono; serta perwakilan dari berbagai komunitas literasi dan seni, termasuk komunitas sastra Kopiwangi.

    Para peserta yang hadir berasal dari beragam elemen, mulai dari pengajar, pegiat literasi, seniman, budayawan, serta mahasiswa dan pelajar yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap peluncuran buku ini.

    Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd.,  M.M, memberikan apresiasi mendalam terhadap karya Jainuri. Ia bahkan membacakan salah satu puisi dari buku tersebut yang berjudul “Guru”.

    “Inilah hasil kristalisasi intuisi yang kemudian dijadikan karya. Sebuah proses kreatif yang tidak bisa diraih secara instan,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, “Jika seseorang bisa terus melahirkan karya, berarti orang itu luar biasa. Apalagi jika karya itu mampu menginspirasi dan mengangkat budaya lokal seperti yang dilakukan Pak Jainuri.”

    Sementara itu, dalam testimoni, Aekanu Hariyono, budayawan Banyuwangi yang juga Ketua Kiling Using, menyampaikan bahwa kehadiran buku Sangang Puluh Sanga (99) menjadi oase dalam upaya pelestarian budaya daerah, khususnya bahasa Using.

    “Karya ini bisa digunakan untuk nguri-nguri Bahasa Using agar tetap hidup di kalangan generasi muda. Ini penting agar anak-anak kita tidak kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

    Apresiasi tertulis juga datang dari Ketua DKB, Drs. Hasan Basri. Ia menilai buku puisi Using karya Jainuri memiliki kompleksitas yang tinggi, bukan hanya dari sisi bahasa, tetapi juga tema-tema yang diangkat.

    Acara peluncuran buku juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan seni, salah satunya penampilan Avila, murid MI Islamiyah Rogojampi, yang membawakan dongeng berjudul Sritanjung Hidup Lagi.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si, turut memberikan testimoni. Ia berharap karya ini dapat menjangkau lebih luas generasi muda.

    “Pak Jaenuri menginspirasi kita semua. Buku ini bisa menjadi jendela budaya. Anak-anak muda Banyuwangi harus tahu bahwa bahasa Using itu kaya, dan puisi adalah cara indah untuk menyampaikannya,” tegas Taufik.

    Sementara itu, Ketua komunitas Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, yang juga dikenal sebagai penyair puisi, turut memberikan apresiasi dengan peluncuran buku puisi ini.

    “Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan tonggak sejarah bagi perkembangan literasi lokal. Kita perlu mendukung lebih banyak karya seperti ini agar semangat berkarya tidak pernah padam, khususnya dalam bahasa ibu kita sendiri,” kata Andi.

    Buku Sangang Puluh Sanga (99) berisi 99 puisi yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Using.

    Sebuah usaha nyata dari Jainuri untuk memperkenalkan kembali keindahan bahasa lokal kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus mendokumentasikannya dalam bentuk karya sastra yang dapat dinikmati lintas generasi.

    Acara peluncuran ini bukan hanya menjadi ajang perayaan karya sastra, tetapi juga ruang temu dan diskusi lintas komunitas tentang pentingnya menjaga budaya dan bahasa daerah di tengah arus globalisasi.

  • Uang dalam Puisi: Ketika Cinta Harus Menyerah pada Cicilan

    Uang dalam Puisi: Ketika Cinta Harus Menyerah pada Cicilan

    Di era serba digital dan serba mahal ini, cinta tak lagi cukup dengan janji manis dan puisi indah.

    Banyak hubungan yang kandas bukan karena hilangnya rasa, melainkan karena tidak sanggup menghadapi tekanan ekonomi bersama.

    Lalu, bagaimana jika kesedihan finansial itu kita tuangkan dalam puisi?

    Inilah saatnya kita membaca kumpulan puisi pendek yang menggabungkan ironi cinta dan realitas cicilan—sebuah refleksi puitis tentang cinta yang harus bernegosiasi dengan dompet.

    1. Puisi: Sebulan Setelah Gajian

    Cinta,
    waktu kamu bilang ingin jalan-jalan ke Bali,
    aku mengangguk pelan,
    sambil melirik sisa saldo:
    cukup untuk hidup… tiga hari lagi.

    Makna:

    Puisi ini menggambarkan dilema klasik pasangan muda: ingin romantis, tapi terhalang keterbatasan finansial. Ini dekat dengan realitas anak muda zaman sekarang—terutama yang terjebak gaya hidup FOMO (Fear of Missing Out).

    2. Puisi: Kredit Tanpa Bunga

    Katamu, kita bisa bahagia dengan sederhana.
    Tapi cicilan motor itu datang tiap tanggal lima.
    Dan kita mulai bertengkar
    karena kamu ingin aku bahagia
    tanpa terlambat bayar angsuran.

    Makna:

    Kritik sosial dalam bentuk puisi: cinta tidak cukup kalau urusan finansial tak beres. Kalimat “bahagia dengan sederhana” menjadi ironi ketika realitas ekonomi lebih rumit dari kata-kata.

    3. Puisi: ATM dan Aku

    Aku berdiri di depan ATM,
    seperti aku berdiri di depanmu:
    penuh harapan
    tapi tahu takkan ada yang keluar hari ini.

    Makna:

    Puisi ini menyindir realitas kaum gaji bulanan yang selalu “haus” sebelum tanggal gajian tiba. Relatable, tragis, dan lucu dalam satu waktu.

    4. Puisi: Dompet Kosong dan Pesan Singkatmu

    Kamu tanya,
    “Sudah makan?”
    Aku jawab:
    “Sudah kenyang lihat saldo rekening.”

    Makna:

    Puisi ini jadi kritik yang satir terhadap gaya basa-basi pasangan. Lucu dan menyakitkan di saat bersamaan—seperti cinta yang dipaksa bertahan di antara tagihan.

    5. Puisi: Tanggal Tua, Rasa Luka

    Kamu diam.
    Aku diam.
    Kita tak bicara karena takut
    satu sama lain mengucap:
    “Bisa pinjam dulu gak?”

    Makna:

    Puisi pendek ini sangat dekat dengan relasi anak muda urban yang menghadapi tekanan keuangan bersama—tanpa banyak kata, mereka tahu kondisi masing-masing sudah rapuh.

    Cinta dan uang mungkin dua dunia yang tampak berbeda. Tapi dalam realitas hidup, keduanya saling bersinggungan, bahkan saling memengaruhi.

    Lewat puisi-puisi ini, kita belajar bahwa cinta tak hanya soal perasaan, tapi juga perjuangan untuk bertahan hidup bersama. Bahkan, kadang, perjuangan itu harus tunduk pada cicilan dan tagihan.

  • Meriahkan Hari Anak Nasional, TBM Al-Djawahir Gelar Lomba Puitisasi Alquran, Bercerita, dan Mewarnai Se-Kabupaten Banyuwangi

    Meriahkan Hari Anak Nasional, TBM Al-Djawahir Gelar Lomba Puitisasi Alquran, Bercerita, dan Mewarnai Se-Kabupaten Banyuwangi

    Memaknai setahun berdirinya Taman Baca Masyarakat (TBM) Al-Djawahir sekaligus menyambut Hari Anak Nasional, digelar serangkaian lomba kreatif dan literatif yang meliputi puitisasi Alquran, bercerita, serta menggambar dan mewarnai pada Ahad (20/7/2025) di kawasan kompleks TBM Al-Djawahir, Gambiran, Banyuwangi.

    Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas komunitas yang melibatkan TBM Al-Djawahir, Mak'E Mart, Posyandu Desa, komunitas Gotong Royong 45, Sanggar Merah Putih'45, Jaringan Rumah Kita Banyuwangi (JRKBB), media literasi sastrawacana.id/, media online jurnalnews, event organizer Senyum Agmadina, serta komunitas-komunitas literasi lainnya di Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam sambutan pembukaan, Djawahir selaku pendiri TBM Al-Djawahir menyampaikan sejarah singkat berdirinya taman baca tersebut.

    Sambutan Pendiri TBM Al Djawahir

    Ia menuturkan bahwa TBM ini lahir dari semangat menyediakan ruang alternatif belajar bagi masyarakat, khususnya anak-anak di wilayah Gambiran dan sekitarnya, agar lebih dekat dengan budaya membaca.

    Pengalaman beliau saat di perpustakaan sekolah membekas untuk diteruskan iqro’ membaca ke anak cucu.

    Ketua panitia, Dafik Ismail, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini perdana yang juga sebagai tasyakuran mendapatkan hibah 1000 buku dari Perpustakaan Nasional berikut rak bukunya.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dari berbagai wilayah di Banyuwangi yang telah ikut berpartisipasi, serta kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini seperti Perpustakaan Nasional, Enggal Modified beserta pegiat literasi dan seniman yang jadi juri serta media partner. Semoga kegiatan ini bisa menjadi semangat bersama dalam membumikan literasi di kalangan generasi muda,” ujar aktivis dakwah dalam naungan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini.

    Sambutan juga diberikan oleh Yeti Chotimah yang turut menyemarakkan acara dengan membagikan sejumlah buku hasil karyanya sebagai hadiah bagi para pemenang lomba.

    Kehadiran hadiah buku ini diharapkan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta untuk terus berkarya dan mencintai literasi. Antara lain buku Sejarah seni budaya, bathokan, cerpen bisikan manis serta yang baru diluncurkan Penerbit Erlangga Jakarta, yakni cerita rakyat maupun adat tradisi Banyuwangi seperti Keboan, Puter Kayun dan Mantu Kucing. Rencana akan terbit 11 judul buku.

    Rangkaian lomba untuk kategori puitisasi Alquran dan bercerita, pelaksanaan lomba dilakukan dalam dua tahap, yaitu seleksi video secara daring dan penampilan langsung di lokasi acara bagi tiga finalis terpilih di masing-masing kategori.

    juri lomba puitisasi alquran
    juri lomba puitisasi alquran (Dok. Fathma/Syifa)

    Dewan juri lomba puitisasi dan bercerita terdiri dari tiga tokoh literasi dan seni yang berpengalaman, yakni Maulana Affandi (penulis dan pemimpin redaksi Penerbit Lintang) sebagai ketua juri, Syaiful Anwar (guru SMK Muhammadiyah 1 Genteng sekaligus penulis aktif ), dan R. Ayu Pudjiati (seniman teater asal Madura).

    Ketiganya tak hanya menilai, tetapi juga memberikan masukan langsung kepada peserta yang tampil di panggung.

    Mereka menyoroti pentingnya penguasaan panggung, ekspresi wajah, gestur, hingga pemilihan diksi yang tepat agar pesan cerita atau puisi tersampaikan secara kuat dan menyentuh.

    Dalam penjelasannya, Maulana Affandi menyampaikan bahwa seluruh peserta yang tampil langsung di lokasi adalah anak-anak terbaik yang telah lolos proses seleksi ketat dari seluruh peserta yang mengirim video.

    “Anak-anak yang hadir di panggung ini adalah mereka yang terpilih, bukan sembarang peserta. Maka dari itu, orang tua patut berbangga karena putra-putrinya menunjukkan kualitas dan semangat yang luar biasa,” ujarnya dengan semangat.

    Syaiful Anwar juga menegaskan bahwa proses ini diibaratkan sebagai menjajaki anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai puncak.

    “Jadi, anggap saja perlombaan seperti ini sebagai proses anak menaiki anak tangga yang pada waktunya akan sampai di puncak,” jelasnya.

    Sementara itu, lomba menggambar dan mewarnai diperuntukkan bagi siswa TK dan SD, dan diikuti oleh puluhan peserta dari seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.

    Suasana lomba tampak semarak karena para peserta datang bersama orang tua yang setia mendampingi.

    Sorak semangat, tawa anak-anak, serta dukungan dari para pendamping menambah hangat suasana kegiatan.

    Dewan juri untuk lomba mewarnai dan menggambar juga menghadirkan para praktisi seni dan pendidikan.

    lomba mewarnai dan menggambar
    lomba mewarnai dan menggambar (Dok. Fathma/Syifa)

    Ketua juri adalah Muhammad Taufik, S.Sn yang biasa dipanggil Oklek guru kesenian di SMP Muhammadiyah 1 (Muhi) Genteng.

    Ia didampingi oleh dua juri lainnya, yakni Indriana Laily dan Qurrota Ninin yang juga aktif dalam kegiatan seni dan pengembangan kreativitas anak.

    Dalam proses penilaian, Oklek tak lupa berpesan kepada segenap orang tua yang hadir agar terus mendampingi anak-anaknya untuk mengasah bakat seni yang dimiliki.

    “Anak-anak di sini sudah memiliki bakat seni yang luar biasa, jadi hendaknya didampingi terus, kalau bisa dihadirkan guru seni untuk mengasah bakatnya,” papar Oklek.

    Di akhir acara, para pemenang dari tiap kategori diumumkan dan diberikan penghargaan, berupa trofi, piagam, serta hadiah menarik.

    Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara para pemenang dan dewan juri sebagai penanda kebersamaan dan semangat literasi yang terus tumbuh di tengah masyarakat Banyuwangi.

  • Puisi-Puisi Gimien Artekjursi, Sang Penyair dari Tanah Imajinasi

    Puisi-Puisi Gimien Artekjursi, Sang Penyair dari Tanah Imajinasi

    STASIUN ROGOJAMPI

    (Suatu Malam di Bulan September)

     

    setelah kereta terakhir berangkat

    loket ditutup, sinyal pun dilipat

    rel-rel membujur makin kaku

    dan peron lengang

    berselimut dingin angin malam akhir september

     

    di ruang tunggu

    tinggal nyala lampu menghidupkan malam

    bersama bangku-bangku yang tertidur tanpa mimpi

     

    (di jalanan

    seperti biasa: semua serba diburu

    waktu tak pernah mau menunggu

    sampai habis suara di kerongkonganmu memanggil

    larimu tertinggal jauh

    dikejar bayang-bayang remang lampu jalanan)

     

    dan stasiun masih setia menunggu

    (walau tanpa rindu)

    apapun yang datang

    untuk berangkat

    menuju stasiun-stasiun selanjutnya

    yang juga senantiasa menunggu kedatangan apapun

    yang baru

    walau tanpa rindu

     

    Kumendung, September-Oktober 2023

    *Stasiun Rogojampi merupakan stasiun kereta api kelas I. Terletak di Rogojampi, Banyuwangi. Termasuk dalam Daerah Operasi IX Jember. (Google)

     

    STASIUN KALIWUNGU (RIWAYATMU KINI)

    hanya melintas

    tak ada lagi yang singgah di sini untuk melepas lelah

    kalaupun singgah sekedar menunggu kesempatan lewat

    loket, peron dan bangku-bangku

    tak lagi menunggu apapun

    meski penjaga senantiasa melambai

    menyambut setiap yang melintas

     

    tapi rel-rel tak lepas setia

    membujur di seluruh jalur

    juga tanda-tanda tak henti menunjuk arah dan peringatan

    seiring putaran waktu

     

    lambaian penjaga mencoba mengingatkan:

    pernah banyak kenangan, dulu

    berpuluh musim lalu!

     

    tapi masihkah ada yang mau mengenang

    kenangan dan masa lalu itu?

    atau sekedar melihat batas nama

    dan terburu-buru segera menjauh untuk melupakan semua?

     

    lengking peluit penjaga stasiun menegaskan berkali-kali:

    kereta lewat dan menjauh dari stasiun ini

    hanya melintas membawa gemuruhnya sendiri

     

    sampai waktu mengubahnya

    :hilang atau berganti

     

    Kaliwungu, 24 November 2023

    *Stasiun Kaliwungu adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Krajan Kulon, Kaliwungu, Kendal; termasuk ke dalam Daerah Operasi IV Semarang. Tidak ada kereta api yang berhenti di sini, kecuali ada penyusulan antar kereta api. (Google)

     

    STASIUN SUMBERWADUNG (NASIBMU KINI)

     

    tak ada lagi keriuhan:

    perempuan-perempuan menggendong dagangan

    laki-laki bersarung kumuh menggerutu

    anak-anak berseragam sekolah terburu-buru

    :tak ada

     

    hanya penjaga stasiun bertopi merah

    sekali waktu siaga

    dengan tongkat sinyalnya

    menghormat pada kereta melaju

    setelah semua tanda dari jurusan yang akan dilintasi

    dipastikan siap

     

    setelah bertahun-tahun menimbun peristiwa

    hanya sebagian kenangan tersisa

    dalam ingatan mereka

    yang pernah hadir di stasiun itu

     

    di tengah waktu terus berlalu

    zaman berubah

    satu persatu harus ada yang tersisih

    digantikan atau dibuang

    diingat atau dilupakan

     

    tak ada lagi keriuhan di stasiun itu

    selain dalam kenangan

     

    Kumendung, 17 Oktober 2024

    *Stasiun Sumberwadung merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil. Terletak di Tulungrejo, Glenmore, Banyuwangi. Sebelumnya stasiun ini menjadi penghentian semua kereta api penumpang dari dan menuju Banyuwangi. Per 10 Februari 2021 hanya KA Tawang Alun yang berhenti di stasiun ini. Kemudian sejak 1 Juni 2023 layanan penumpang di stasiun ini dihapus sama sekali. Sehingga tak ada lagi kereta api yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persilangan dan penyusulan antar kereta api.(Google)

     

    KALIBARU, DI SALAH SATU SUDUTMU AKU PERNAH TINGGAL

     

    kalibaru

    di salah satu sudutmu kenangan itu tertinggal

    menggigil berselimut dingin dan malam yang membekukan

    dan selalu

    tiap kali melintas di jalanmu

    serasa aku terbenam ke masa lalu itu

    yang tak pernah ingin kuulang

    meski ada yang tak mungkin kubuang

    apalagi dilupakan

     

    dan seperti biasa

    dari stasiun

    kereta yang selalu berangkat

    dengan gerbong penuh mimpi yang itu-itu juga

    lengking peluitnya

    masih menembus terowongan mrawan dan garahan

    menggema sampai di perkebunan coklat, karet dan kopi

    tersangkut di runcing daun-daun pinus

    makin mengingatkanku pada suatu yang hilang

    tertimbun waktu

     

    dan di salah satu sudutmu serasa aku masih berdiam

    dengan mimpi dan secuil angan-angan

     

    selain kenangan

    apa yang kita cari ketika kembali ke masa lalu?

    harapan?

    ilusi?

    kesia-sian?

     

    –jangan menangis

    aku tak punya sapu tangan yang lembut

    untuk mengusap air matamu

     

    Kumendung, 2023-2024

    *Kalibaru adalah kota kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang berbatasan dengan Kabupaten Jember.

     

    STASIUN

    (SEBUAH AMSAL)

     

    di stasiun itu menunggu

    di bangku-bangku

    menunggu sebuah perjalanan

    diberangkatkan

    ke berbagai tujuan

     

    awal atau akhir

    tidaklah pasti

    suatu yang awal

    bisa jadi akhir

    bila tak lagi berlanjut

    dan yang akhir

    bisa jadi awal

    ketika terus melaju

     

    ketika akhirnya berhenti

    itu yang pasti

     

    di stasiun itu

    semua berawal

    lalu kembali singgah

    atau sekedar lewat

    bisa juga berakhir

    (tergantung takdir)

     

    Kumendung, 19 Juli 2024

     

    PERJALANAN

    (SEBUAH TANYA)

     

    apakah yang ada setelah perjalanan panjang?

    stasiun tempat berhenti

    stasiun tempat mulai

    dan burung-burung menggaris-bawahi tiap tanda

     

    yang tercecer mungkin terlupakan

    pada tiap tingkungan, pada tiap tanjakan

    pada stasiun-stasiun antara stasiun

    yang membeku, yang terkubur di bawah debu

    bahkan yang tak tahu lagi arah

     

    lantas apa yang sisa setelah perjalanan?

    jejak, kenangan, sebuah kesia-siaan?

    :stasiun-stasiun kosong

    tangis mengering

    cinta tak berkesampaian

     

    hanya matahari yang jelas masih bersinar

    bertahan entah sampai kapan

    (pengembara keburu lelap sebelum menemukan cinta)

     

    Biodata Gimien Artekjursi

    • Lahir: 03 Agustus 1963. Tinggal di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur
    • Puisi-puisi tampil di media cetak dan online di Indonesia dan pada beberapa antologi bersama.
    • Juara Lomba Cipta Puisi Sanggar Minum Kopi Bali (1989)
    • Juara Negeri Kertas com (2022)
    • Juara TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia) (2023)
    • Nominasi Anugerah Sastra Apajake (2023)
  • Anatomi Cinta Karya Heri Iskandar

    Anatomi Cinta Karya Heri Iskandar

    Judul: Anatomi Cinta

    Karya: Heri Iskandar

    Anatomi cinta adalah sebuah penyatuan dari bagian bagian bagian penyusun sistem organ yang bernama rasa cinta, ekspresi yang dimunculkan merupakan aktualisasi dari nilai-nilai ketulusan hati yang murni tanpa pengaruh apapun.

    Disana ada sedih, disana ada gembira, disana ada rindu, disana ada kesal, disana ada terpuruk, disana ada bangkit, disana ada kasih, disan ada harapan, disana ada benci, disana ada  rindu, disana ada kejujuran, disana ada kebohongan, disana ada legowo, disana ada iri, disana ada semangat, disana ada putus asa, semua bergerak sesuai sang operator  utama yaitu hati.

    Bila sikap mulia yang ditunjukkan, maka kasih sayang yang dirasakan, tapi bila sakit yang di munculkan, maka kecewa yang di rasakan.

    Anatomi cinta mengajarkan kita untuk  lebih tahu batas antara cinta dan benci. Jangan membuang luka dihati yang penuh cinta karena dia akan membenci dengan pujian dan senyuman.

    Kata Penulis:

    Motivasi dan harapan penulis terhadap buku karya perdana ini adalah semoga dapat membuka
    cakrawala berfikir, merajut rasa dan menyamakan frekuensi pemikiran saat para
    pembaca menikmati tiap goresan kata yang berbanjar rapi di lembar demi lembar
    buku ini, sehingga menjadi inspirasi bagi para pemula untuk lebih menyukai
    dunia menulis puisi, dimanapun dan kapanpun.

    Salam hangat berupa
    persaudaraan dari hati paling dalam penulis sampaikan semoga buku ini dapat
    dinikmati, disukai dan berkesan di hati para pembacanya. Tentunya penulis
    menyadari akan ketidaksempurnaan dari karya ini, sehingga kritik dan saran
    selalu penulis nantikan untuk menjadi bahan perbaikan dalam buku-buku
    selanjutnya.

  • Hasan Ali ‘Neko’ Nong Peluncuran Puisi Basa Using Suwidak Siji Karya Jaenuri NZ

    Hasan Ali ‘Neko’ Nong Peluncuran Puisi Basa Using Suwidak Siji Karya Jaenuri NZ

    Kumpulan 61 undharasa Using kanggo nyuguhaken sugihe budaya karya Drs. Ir. Jaenuri NZ, M.Pd Meluncur dino Ahad, 8 Desember 2024 ning LKP ambi TBM ELIT Lemahbang Dewo Rogojampi.

    Undharasa iki kanggo kado rabine hang diwelasi hang wis purnatugas dadi guru ring SMPN 2 Rogojampi setaun sabene: Dra. Yayuk Werdi Arini, MM hang umure 61 ambi kanggo kutha kelahiran hang wis ke-253 taun sakmarine Perang Puputan Bayu 18 Desember 1771.

    Buku Suwidak Siji (61) iki kumpulan ghurit hang ping 2 sakmarine taun sabene temane telulikur (23) mergo jumlah puisi 23 lan makna niat hajate.

    “Dongakno kesat terus nggawe puisi 99 Asmaul Husna dadi taun ngarep kene kumpul maning.Wis ana modal 23 puisi awal hang durung ISBN mung wis nyebar gratis nong 200 an SD/MI!” Jare penggowes onthel lan petani bonsai iki.

    Budayawan Aekanu Haryono seneng nyang kancane iku hang padha pinter Basa Inggris ambi miloni nerbitaken buku kanggo amal jariyah nyang generasi bangsa.

    “Selamat, prof Nuri spesial puisi bahasa dhaerah using hang saktemene kanggo tanah kelahiran!” Jare pendongeng wayang jajang hang seneng berudeng, kaos lukis gandrung ambi sarungan batik iki hang nyelipaken lagu nasional tepak cerita ring ngarepe lalare. Iyane uga siap sosialisasi karya bukune ring sekolah ambi sanggar sanggar seni.

    Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Drs. Hasan Basri tambah apresiasi seru nyang Kang Nuri hang melaku ring dalan hang bener ngeluri karyane nong dalan uripe hang endah nong keluarga, agama uga nulihi sak ubenge kauripan kuno nyang anak putu ambi generasi ring rejane jaman.

    “Kadhung gedigi isun iling ruwahe Hasan Ali hang sabar telaten muputi kosa kata hang suwi kependem!” jare guru agama SMPN 1 iki  ambi suaro mesesegen lan banyu moto ngoco.

    Acara hang diselingi maca puisi, pidato lan ngewer soko murid SMPN 3 Rogojampi hang prestasi nong Festival Sastra Using Dispendik iku, digongi sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taufik Rohman, M.Si hang ngarep klendi karya sewidak siji iso gadhuk nong murid lan biso diakses ikawangi lewat e-book.Selamat lan kesuwun nambah nilai ana karya tulis hang langka iki!” jare wong Alas Malang Singojuruh iki ambi nompo buku bareng 45 undangan liyane.

    Undangan antara lain pencipta lagu,penyiar radio komunitas, wartawan, Youtuber Eko Ndut, seniman, pawang, guru, EO lan pegiat literasi.

    Marek gesah apresiasi soko hang hadir, penulis jawab,

    “Pastine buku terbitan Ide Bangsa Yogyakarta hang ISBN: 978-623-89159-6-5, sak durunge isun koreksi ambi kamus bahasa using Hasan Ali hang dadi cekelane mulok. Hang teka ulih buku  ambi madhang ngombe khas bumi belambangan.Hang hing teka monggo gandakno dewek.Hun papag tekan ndiko dulur lan bisa tahun ngarep lomba maca undharasa karya isun trophy souvenir ELIT Kiling Osing!” angene.

    Pemandu gesah Bung Aguk Darsono ugo pimpin dungo kirim Al Fatehah kanggo tuan rumah mugo kian samawa berkah keluargane lan ikhlase dulur kirim dungo kanggo arwahe Hasan Ali, Hasnan Singodimayan, AK Armaya, Andang CY, Bashir Nurdian, Sutejo Hadi, Sayun, Suoinah, Indra Gunawan lan pahlawan seniman budayawan Belambangan liyane: Al Fatehah!

  • Mengenang Pahlawan dan Menghidupkan Literasi, KOPIWANGI Gelar Lomba Menulis Puisi

    Mengenang Pahlawan dan Menghidupkan Literasi, KOPIWANGI Gelar Lomba Menulis Puisi

    Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, KOPIWANGI mengadakan lomba menulis puisi bertema pahlawan nasional khusus untuk para anggota komunitasnya pada Minggu, 10 November 2024.

    Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi dan penghormatan kepada jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia.

    Lomba ini juga merupakan salah satu bentuk nyata program KOPIWANGI dalam mendukung event literasi bagi anggota komunitasnya.

    Tujuan dari program ini adalah memberikan wadah kepada anggota yang memiliki minat dan bakat dalam menulis puisi, sekaligus mendorong semangat literasi di kalangan komunitas.

    Lomba diselenggarakan secara daring, di mana peserta memposting hasil karya puisinya dalam bentuk JPEG atau PNG yang telah dibuat sebelumnya melalui aplikasi Canva.

    Peserta kemudian mengunggahnya ke akun Instagram masing-masing dengan menambahkan caption: “Lomba Menulis Puisi Pahlawan Nasional” dan menandai akun IG komunitas, yaitu @komunitas_kopiwangi.

    Penilaian lomba ini berdasarkan jumlah like dan komentar terbanyak pada puisi yang diunggah.

    Satu karya terbaik dipilih untuk menerima hadiah berupa Buku Antologi Puisi berjudul “Lentera Di Pengujung Asa – Pendidikan Yang Memerdekakan” yang ditulis oleh anggota KOPIWANGI, serta sejumlah uang pembinaan.

    Lomba berlangsung dari tanggal 10 hingga 12 November 2024, dengan batas waktu penilaian hingga pukul 18.00 WIB. Pemenang lomba diumumkan pada 12 November 2024 pukul 20.00 WIB.

    Antusiasme peserta dalam mengikuti lomba sangat tinggi, terbukti dari keikutsertaan berbagai kalangan, mulai dari guru, pegiat literasi, hingga kepala sekolah.

    Namun, karena waktu penyelenggaraan lomba yang singkat, beberapa anggota komunitas tidak dapat ikut serta akibat kesibukan dan keterbatasan waktu, sehingga menyayangkan ketidakhadiran mereka dalam lomba ini.

    Pemenang lomba diraih oleh Rohmaniyah, S.Pd.Gr dengan puisinya yang berjudul “Ode Untuk Kartini.”

    Puisi Rohmaniyah
    Puisi Rohmaniyah

    Puisinya berhasil mendapatkan puluhan like dan komentar, menunjukkan betapa puisinya diminati dan diapresiasi oleh para pembaca.

    Pengumuman pemenang ini kemudian dibagikan di grup komunitas KOPIWANGI.

    KOPIWANGI terus berkomitmen melaksanakan program-program literasi yang bermanfaat

    Beberapa program yang sudah berjalan di antaranya lomba menulis puisi, lomba baca puisi dan bercerita, lomba menulis esai, serta seminar kesehatan mental.

    “Itu merupakan bentuk komitmen bersama dalam memajukan literasi di Banyuwangi. Harapannya ke depan KOPIWANGI semakin eksis dan konsisten memberikan budaya positif di bidang literasi”, ujar Andi BS, ketua KOPIWANGI.

  • Pengulangan bunyi pada akhir larik atau bait di dalam puisi disebut?

    Pengulangan bunyi pada akhir larik atau bait di dalam puisi disebut?

    a. diksi
    b. intonasi
    c. rima
    d. amanat

    Jawaban:

    c. rima

    Baca juga: Gagasan Pokok yang Ingin Disampaikan Pengarang Disebut?

    Pembahasan:

    Rima adalah pengulangan bunyi yang sama pada akhir larik atau bait puisi.

    Pengulangan bunyi ini dapat berupa bunyi vokal (asonansi) atau bunyi konsonan (aliterasi).

    Rima dalam puisi merupakan persamaan bunyi pada akhir larik atau bait, menciptakan musikalitas dan keindahan dalam penyampaian pesan.

    Ibarat orkestrasi dalam musik, rima bagaikan melodi yang memikat telinga pembaca.

    Baca juga: Buku yang memuat kumpulan puisi, baik dari seorang penyair atau beberapa penyair, pernyataan tersebut merupakan pengertian dari?

    Fungsi rima antara lain:

    • Memperindah puisi: Rima membuat puisi lebih enak didengar dan dibaca, memberikan irama dan alunan yang menarik.
    • Memudahkan penghafalan: Rima membantu pembaca mengingat isi puisi dengan lebih mudah.
    • Menekankan makna: Rima dapat digunakan untuk menekankan kata atau frasa tertentu, sehingga maknanya lebih terasa.
    • Membangkitkan emosi: Rima dapat membangkitkan emosi tertentu, seperti kebahagiaan, kesedihan, atau kemarahan.

    Rima hanyalah salah satu elemen penting dalam puisi. Masih banyak elemen lain seperti irama, majas, dan pemilihan kata yang perlu diperhatikan untuk menciptakan puisi yang indah dan bermakna.