Tag: relawan prb

  • Jambore III FPRB Jawa Timur Hadirkan Inklusi, Relawan Disabilitas Ikut Belajar Mitigasi Bencana

    Jambore III FPRB Jawa Timur Hadirkan Inklusi, Relawan Disabilitas Ikut Belajar Mitigasi Bencana

    Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur yang berlangsung di Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, pada 12-14 September 2025, menjadi ruang pembelajaran kolektif bagi ratusan relawan dari berbagai daerah.

    Selama tiga hari, acara dipadati sesi paparan, diskusi, hingga praktik lapangan dengan beragam topik pengurangan risiko bencana (PRB).

    Agenda berjalan sejak pagi hingga malam, menghadirkan narasumber dari lembaga nasional hingga daerah.

    Tak hanya materi teknis, jambore tahun ini juga menghadirkan sesi tematik paralel yang menekankan inklusi dan pelibatan bermakna.

    Dalam sesi tersebut, mitra Civil Society Organization (CSO) memandu diskusi bersama peserta yang datang dari berbagai forum PRB daerah.

    Keistimewaan Jambore III kali ini adalah kehadiran kelompok disabilitas. Panitia menghadirkan Gerakan Kesehatan Tuli Indonesia (GERKATIN) serta Yayasan Aura Lentera Indonesia yang mendampingi peserta tunanetra.

    Nurhadi Windoyo, Ketua Yayasan Aura Lentera, mengapresiasi keterlibatan komunitas disabilitas dalam forum besar ini.

    “Kami sangat senang bisa ikut serta di jambore ini, meskipun belum bisa sepenuhnya dilibatkan dalam simulasi,” ujar Windoyo.

    Ia menambahkan, pihaknya berharap ke depan ada kolaborasi lebih luas dalam Jambore Nasional, sehingga relawan dari berbagai latar belakang dapat memahami situasi penyelamatan warga disabilitas ketika bencana melanda.

    Antusiasme juga tampak dari Gerkatin Banyuwangi yang aktif mengikuti simulasi penyelamatan bersama tim PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI).

    Proses latihan dilengkapi pendampingan Juru Bahasa Isyarat (JBI), sehingga semua tahapan dapat dipahami peserta tuli.

    Ricky Malebhy, Ketua Gerkatin Banyuwangi, bahkan mendorong anggotanya terlibat langsung di setiap sesi.

    Fahmi, salah satu anggota Gerkatin, mendapat kesempatan mempraktikkan pertolongan korban tenggelam sekaligus melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

    “Kami merasa bangga, lewat jambore ini Gerkatin bisa meningkatkan kapasitas menghadapi bencana,” kata Ricky.

    Selain aspek inklusi, jambore juga menghadirkan materi berbobot dari berbagai instansi. BNPB, Kemendes, Kemendagri, Kemenkeu, Kemen PPN/Bappenas, MPBI, BPBD Jawa Timur, hingga FPRB Jawa Timur hadir membawakan diskusi.

    BNPB membuka jalannya diskusi dengan tema Peran Forum dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Membangun Ketangguhan Bencana.

    Direktur Kesiapsiagaan BNPB turut mensosialisasikan rancangan peraturan baru terkait Forum PRB. Selain itu, BNPB juga mengenalkan Katalog Digital Kesiapsiagaan yang tengah diuji coba.

    Sesi panel selanjutnya menyoroti praktik baik Forum PRB daerah dalam implementasi PRBBK. FPRB Jawa Timur berbagi pembelajaran dari Kampung Bungin, disusul sharing session praktik baik PRB yang menginspirasi banyak peserta.

    Pada hari terakhir, jambore menghadirkan sesi panel kedua dengan topik Strategi Kolaborasi dan Koordinasi antar Forum PRB sebagai Pendorong Resiliensi: Tantangan dan Peluang. Diskusi ini dilanjutkan lokakarya mekanisme komunikasi dan koordinasi antar forum, serta praktik lapangan berupa water rescue dan simulasi penyelamatan.

    Menutup rangkaian kegiatan, digelar dialog terbuka untuk menyusun agenda bersama menuju Festival Forum PRB 2026. Sebelum penutupan resmi, panitia membacakan rekomendasi serta komitmen bersama yang menjadi kesepakatan seluruh peserta.

    Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, yang hadir dalam pembukaan, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Jambore III.

    “Forum ini adalah wadah strategis yang mempertemukan relawan PRB, tidak hanya dari Jawa Timur tapi juga skala nasional. Melalui forum ini, para relawan mendapat pencerahan untuk memperdalam manajemen pengurangan risiko bencana,” kata Adhy kepada jurnalis, Sabtu (13/9).

    Ketua FPRB Banyuwangi, Mahbub Junaidi, juga menyampaikan penghargaan kepada semua pihak.

    “Terima kasih kepada peserta yang sudah mengikuti kegiatan selama tiga hari penuh di Pantai Grand Watudodol. Apresiasi juga untuk Pemkab Banyuwangi, BPBD, sponsor, serta seluruh instansi terkait yang telah mendukung penuh acara ini,” ujarnya.

  • Jambore III FPRB Jatim Ditutup, Ratusan Relawan Pulang dengan Bekal Ilmu PRB

    Jambore III FPRB Jatim Ditutup, Ratusan Relawan Pulang dengan Bekal Ilmu PRB

    Rangkaian kegiatan Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur yang dipusatkan di Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, resmi berakhir pada Minggu (14/9/2025).

    Selama tiga hari penuh, mulai 12 hingga 14 September, para peserta mengikuti berbagai paparan, diskusi, hingga praktik lapangan yang menghadirkan narasumber dari tingkat pusat hingga daerah.

    Kemeriahan jambore kali ini ditandai dengan padatnya agenda sejak pagi hingga malam. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teori, tetapi juga membahas praktik langsung di lapangan.

    Narasumber yang dihadirkan pun berasal dari lembaga-lembaga strategis, seperti BNPB, Kementerian Desa, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Bappenas, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), BPBD Jawa Timur, FPRB Jawa Timur, hingga mitra Civil Society Organization (CSO).

    Diskusi pertama dibuka dengan tema Peran Forum dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Membangun Ketangguhan Bencana bersama BNPB.

    Pada kesempatan itu, Direktur Kesiapsiagaan BNPB juga memaparkan rancangan peraturan terbaru mengenai keberadaan Forum PRB.

    BNPB sekaligus memperkenalkan Katalog Digital Kesiapsiagaan yang saat ini sedang diuji coba.

    Agenda berlanjut pada sesi panel mengenai Praktik Baik Forum PRB Daerah dalam Implementasi PRBBK yang dipandu langsung oleh perwakilan FPRB Jawa Timur.

    Dalam kesempatan ini, peserta juga diajak mempelajari pengalaman dari Kampung Bungin yang dinilai sukses menjalankan program PRB berbasis komunitas.

    Sesi berikutnya diisi oleh MPBI yang membedah tema besar Mewujudkan Tujuan Peta Jalan PRBBK 2045; Di Mana Kita Sekarang? sekaligus memandu refleksi kolektif: Apakah kita sudah berjalan sesuai arah yang benar menuju 2025?

    Diskusi ini memantik semangat peserta untuk melihat kembali capaian yang sudah dilakukan sekaligus menata langkah ke depan.

    Tak kalah menarik, pada hari kedua digelar sesi tematik paralel secara serentak di beberapa ruangan. Di ruang pertama, mitra CSO memandu diskusi tentang inklusi dan pelibatan bermakna dalam forum PRB.

    Di ruang kedua, BPBD dan FPRB Jawa Timur memfasilitasi penyusunan rencana strategis dengan mengintegrasikan PRB dan API.

    Sementara itu, di ruang ketiga peserta membahas pemanfaatan Indeks Desa serta metode penilaian ketangguhan untuk 75 ribu desa di Indonesia.

    Di ruang keempat, fokus perbincangan diarahkan pada peran Forum PRB dalam implementasi Pooling Fund bencana.

    Agenda malam kedua diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut yang konkret.

    Tidak hanya itu, panitia dan peserta juga mulai membicarakan gambaran awal Jambore IV FPRB Jawa Timur yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2027 mendatang.

    Memasuki hari terakhir, acara dimulai dengan sesi panel kedua yang membahas strategi kolaborasi dan koordinasi antar forum PRB sebagai pendorong resiliensi, termasuk tantangan dan peluang yang dihadapi.

    Setelah itu, peserta terlibat dalam lokakarya mengenai mekanisme komunikasi dan koordinasi antar forum.

    Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan berupa water rescue dan simulasi penanganan darurat.

    Menutup rangkaian kegiatan, digelar dialog terbuka untuk menyusun agenda bersama menuju Festival Forum PRB 2026.

    Sebelum resmi ditutup, panitia membacakan hasil rekomendasi dan komitmen bersama sebagai kesepakatan kolektif.

    Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan akbar ini.

    “Forum ini menjadi wadah berkumpulnya relawan Pengurangan Risiko Bencana se Jawa Timur, bahkan nasional, sehingga harus bisa memberikan pencerahan untuk belajar manajemen pengurangan risiko bencana,” ujarnya kepada awak media usai pembukaan, Sabtu (13/9).

    Sementara itu, Ketua FPRB Banyuwangi, Mahbub Junaidi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung jalannya kegiatan.

    “Terima kasih kepada para peserta yang mengikuti acara sejak awal hingga akhir, juga kepada Pemkab Banyuwangi, BPBD, sponsor, serta instansi terkait yang membantu menyediakan fasilitas. Dukungan ini menjadi kunci sukses jambore selama tiga hari di Pantai Grand Watudodol,” ungkapnya.