Tag: santri

  • Cetak Santri Literat, PPYD Ladunna Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    Cetak Santri Literat, PPYD Ladunna Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa (PPYD) Ladunna terus memperkuat budaya literasi di kalangan santri melalui kegiatan Belajar Literasi dan Jurnalistik yang diselenggarakan pada Rabu (24/6).

    Bertempat di Masjid Al-Khoirot, pelatihan ini menghadirkan sastrawan dan penulis nasional Bung Aguk Wahyu Nuryadi serta pegiat literasi Yeti Chotimah sebagai narasumber.

    Kegiatan tersebut diikuti puluhan santri yang tampak antusias sejak awal hingga akhir acara.

    Dengan suasana yang hangat dan interaktif, para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan mengikuti berbagai sesi praktik sederhana mengenai dunia kepenulisan.

    Pelatihan ini menjadi salah satu upaya PPYD Ladunna untuk membangun budaya membaca dan menulis di lingkungan pesantren.

    Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, serta menyampaikan gagasan melalui tulisan dinilai menjadi bekal penting bagi generasi muda, termasuk para santri.

    Dalam sesi pertama, Bung Aguk Wahyu Nuryadi mengajak para santri memahami bahwa setiap karya besar selalu berawal dari kebiasaan membaca.

    Menurutnya, seseorang tidak mungkin menjadi penulis yang baik tanpa terlebih dahulu menjadi pembaca yang tekun.

    “Kalau ingin menjadi penulis, mulailah menjadi pembaca. Jangan menunggu punya banyak waktu. Bacalah sedikit demi sedikit setiap hari, karena dari situlah pengetahuan dan ide akan tumbuh,” ujar Bung Aguk di hadapan para peserta.

    Ia juga mengingatkan bahwa membaca bukan sekadar mengeja tulisan, melainkan proses memahami, mempertanyakan, dan menemukan sudut pandang baru terhadap berbagai persoalan.

    Karena itu, budaya membaca perlu dibiasakan sejak dini agar melahirkan generasi yang memiliki daya pikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.

    Menurut Bung Aguk, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami realitas kehidupan.

    Seseorang yang memiliki literasi yang baik akan lebih siap menghadapi perubahan zaman karena mampu menganalisis persoalan sebelum mengambil keputusan.

    “Jangan hanya membaca untuk tahu, tetapi membaca untuk memahami. Ketika kita memahami, kita akan mampu menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.

    Pada sesi berikutnya, Ibu Yeti Chotimah membimbing para santri mengenal dasar-dasar jurnalistik.

    Ia menjelaskan bahwa berita harus dibangun di atas fakta, disusun secara runtut, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami pembaca.

    Para santri dikenalkan dengan unsur-unsur penting dalam penulisan berita, mulai dari cara menentukan sudut pandang, menyusun paragraf pembuka yang menarik, hingga menjaga objektivitas dalam menyampaikan informasi.

    Materi tersebut disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta yang sebagian besar baru pertama kali belajar jurnalistik.

    Selain membahas penulisan berita, Ibu Yeti juga mengajak para santri memasuki dunia sastra melalui puisi.

    Menurutnya, puisi merupakan media untuk mengekspresikan pengalaman, perasaan, dan nilai-nilai kehidupan dengan bahasa yang indah namun tetap bermakna.

    Suasana ruangan seketika menjadi hening ketika Ibu Yeti membacakan puisinya yang berjudul Diam. Penampilan tersebut mendapat perhatian penuh dari para santri.

    Tidak sedikit peserta yang mengaku baru pertama kali menyaksikan pembacaan puisi secara langsung oleh penyair.

    Pelatihan Literasi dan Jurnalistik di PPYD Ladunna

    Selama kegiatan berlangsung, para peserta terlihat aktif merespons pertanyaan yang diberikan narasumber.

    Beberapa santri bahkan mencoba menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka mengenai kebiasaan membaca maupun menulis. Interaksi tersebut membuat suasana pelatihan menjadi lebih hidup dan mendorong peserta untuk lebih percaya diri mengemukakan gagasan.

    Sebagai bentuk apresiasi terhadap keaktifan peserta, panitia memberikan hadiah berupa buku karya Bung Aguk Wahyu Nuryadi dan Yeti Chotimah kepada beberapa santri yang aktif mengikuti kegiatan.

    Penghargaan tersebut diberikan kepada Radit Besan, Mustofa Besan, dan Dzakiroh Qoyyimah Hubbi.

    Salah seorang penerima hadiah, Dzakiroh Qoyyimah Hubbi, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang sangat berkesan melalui kegiatan tersebut.

    Ia mengatakan materi yang disampaikan para narasumber membuatnya semakin tertarik untuk membaca dan belajar menulis.

    “Selama ini saya mengira menulis itu sulit. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi tahu bahwa menulis bisa dipelajari asalkan rajin membaca dan terus berlatih. Saya ingin mulai membiasakan diri menulis setiap hari,” tuturnya.

    Hal senada juga dirasakan peserta lain yang berharap kegiatan serupa dapat kembali diselenggarakan dengan materi yang lebih mendalam.

    Mereka menilai pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka wawasan mengenai pentingnya literasi sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

    Melalui kegiatan Belajar Literasi dan Jurnalistik, PPYD Ladunna berharap budaya membaca dan menulis dapat tumbuh menjadi kebiasaan di lingkungan pesantren. (Zakariya Palopi/Mursit Siden)

  • Tasyakur Kelulusan Angkatan ke-21, SMP Bustanul Makmur II Siapkan Generasi Bermartabat

    Tasyakur Kelulusan Angkatan ke-21, SMP Bustanul Makmur II Siapkan Generasi Bermartabat

    Tasyakur kelulusan siswa angkatan ke-21 Tahun Ajaran 2025-2026 SMP Bustanul Makmur II Banyuwangi berlangsung khidmat di Hall Hotel Mahkota Genteng, Sabtu (16/05).

    Kegiatan tersebut ditandai dengan penyerahan Surat Keterangan Lulus serta prosesi pengalungan gordon oleh kepala sekolah kepada para siswa.

    Turut hadir dalam acara itu wali murid, Pengasuh Buma Pusat Kebunrejo KH Muafik Amir, keluarga ndalem Buma II bu Nyai Siti Munawaroh, Ketua Yayasan KH Robiathul Haq, S.Hub.Int beserta istri, Pengawas SMP Phujianto, M.Pd, hingga jajaran Muspindes.

    Kepala SMP Bustanul Makmur Imammudin, M.Pd.I mengatakan para siswa telah melewati proses pendidikan dan pembinaan selama tiga tahun, termasuk pembiasaan bangun pukul 03.00 dini hari untuk tahajud dan berjamaah Subuh.

    “Teruslah menuntut ilmu dengan jalan yang mulia untuk masa depan gemilang!” tutur alumni Ponpes Nurul Jadid Paiton ini.

    Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak hanya mengejar kepintaran maupun popularitas semata.

    Menurutnya, siswa harus mampu menjadi pribadi yang benar dan bermartabat. Selain itu, ia berpesan agar para siswa menjaga diri dari godaan perkembangan zaman, terutama penggunaan handphone.

    Pihak sekolah, lanjut Imammudin, akan tetap mengawal para siswa hingga memperoleh sekolah lanjutan.

    Dari 160 siswa yang dinyatakan lulus, sebanyak 78 siswa telah diterima di MAN, baik di dalam maupun luar kota.

    Tasyakur Kelulusan SMP Bustanul Makmur

    Selain itu terdapat tujuh siswa yang melanjutkan pendidikan ke SMK, sementara sebagian lainnya mendaftar SMA berbasis pondok pesantren.

    Adapun sisanya masih menunggu hasil SPMB SMA/SMK negeri di dalam kota.

    Sementara itu, Pengasuh KH Robitul Haq, S.Hub.Int, M.Si berharap para santri mampu menjadi generasi Qurani yang berbekal ketakwaan dan akhlakul karimah sesuai tema tasyakur tahun ini.

    Ia juga mengenang masa awal para santri masuk pondok tiga tahun lalu. Saat itu masih banyak siswa yang menangis dan dijenguk orang tua setiap hari.

    Kini, menurutnya, para siswa dan wali murid sudah semakin tertata, bahkan banyak santri yang melanjutkan mondok di luar kota.

    “Ingat Allah, jaga iman dan ilmu kitab serta tetab beradab ke guru dan orang tua!” pesan kyai Robert seraya mengajak hadirin mengirim Al Fatihah untuk para pendiri pondok.

    Prosesi kelulusan berlangsung khidmat dengan penampilan paduan suara adik kelas yang membawakan lagu hymne, mars, lagu nasional hingga sejumlah lagu populer yang membuat suasana haru bercampur bahagia.

    Pembacaan puisi juga turut mewarnai jalannya acara.

    Siswa lulusan angkatan ke-21 tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Banyuwangi, tetapi juga dari Madura, Bali, hingga Kalimantan.

    Panitia turut memberikan penghargaan bagi siswa berprestasi di bidang akademik, seperti juara Olimpiade IPA dan OSN Matematika tingkat nasional Daffa Shobirul Haq.

    Penghargaan non-akademik juga diberikan kepada siswa berprestasi di bidang silat, jebeng thulik, puisi, dan bercerita.

    Penghargaan khusus diberikan kepada Istiqlal Syukri Ahmad yang berhasil menjadi jawara aksara dan geguritan basa Using dalam Festival Bahasa Ibu yang digelar Balai Bahasa Jawa Timur.

    Selain itu, apresiasi juga diberikan kepada Ketua OSIS dan siswa terbaik homestay.

    Santri Madin terbaik turut menerima sertifikat penghargaan dan berfoto bersama orang tua serta pengasuh pondok.

    Acara yang dipenuhi buket bunga dan kenangan tersebut juga diisi dengan ikrar alumni.

    Para santri menyatakan kesiapan menjadi kader agama sekaligus kader bangsa serta menjaga nama baik almamater.

    Pesan dan kesan dalam kegiatan itu turut disampaikan Sekretaris OSIS Claresta Azzarin Natania, perwakilan wali murid Bambang Harnowo, M.Pd, serta alumni angkatan ke-7 Dr. Rifki Firdaus, M.Pd.I.

    Dalam testimoninya, Rifki menyebut para guru di Buma tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, melatih, serta membentuk pembiasaan yang akhirnya menjadi karakter siswa melalui program di dalam kelas maupun luar sekolah.

    “Dan dari dulu hingga sekarang SMP BustanuI Makmur menjadi salah satu yang terbaik dan unggul di Kabupaten Banyuwangi!” ujar dosen UIIB ini.

  • Cetak Generasi Qurani, Darun Najah Banyuwangi Wisuda 234 Penghafal Al-Qur’an

    Cetak Generasi Qurani, Darun Najah Banyuwangi Wisuda 234 Penghafal Al-Qur’an

    Yayasan Pendidikan dan Sosial (YPS) Darun Najah Banyuwangi menyelenggarakan Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Tahun 2026 di El Royal Hotel Banyuwangi pada Kamis (14/05).

    Acara berlangsung khidmat dan penuh haru dengan dihadiri wali murid, komite sekolah, tokoh pendidikan, serta jajaran Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, di antaranya Pengawas MI Bambang Hartono, S.Pd., M.Pd., Pengawas MTs Hj. Sulaikah, M.Pd., dan bagian urusan literasi H. Syafaat, SH., M.HI.

    Kegiatan wisuda tahfidz ini merupakan agenda rutin yayasan yang didirikan oleh almarhum KH. Harun Abdullah.

    Program tahfidzul Qur’an diwajibkan bagi seluruh siswa di lingkungan Yayasan Darun Najah sebagai bagian dari pembentukan karakter sekaligus penguatan pendidikan keagamaan.

    Pada tahun 2026, jumlah wisudawan mencapai 234 siswa yang terdiri atas MI Darun Najah 1 (putra) sebanyak 37 siswa, MI Darun Najah 2 (putri) sebanyak 159 siswa, serta MTs Darun Najah sebanyak 40 siswa.

    Capaian hafalan para peserta wisuda meliputi Juz 30 sebanyak 97 siswa, Juz 1 sebanyak 90 siswa, Juz 2 sebanyak 37 siswa, Juz 3 sebanyak 3 siswa, Juz 4 sebanyak 4 siswa, dan Juz 6 sebanyak 1 siswa putri pegawai Kemenag, Imam Iskandar.

    Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., MM., turut memberikan apresiasi khusus terhadap pelaksanaan wisuda tahfidz tersebut melalui tayangan video yang diputar selama acara berlangsung.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa menghafal Al-Qur’an akan memudahkan seseorang dalam mempelajari berbagai ilmu lainnya.

    Chaironi yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton itu memberikan dukungan kepada Pesantren Darun Najah yang dinilai telah berkontribusi besar dalam perkembangan pendidikan, pembinaan kader bangsa, serta melahirkan generasi pecinta mukjizat Rasulullah di Kabupaten Banyuwangi.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Banyuwangi, para pengawas madrasah, Lurah Tukangkayu, dewan guru, serta seluruh orang tua wisudawan.

    Pengasuh Pesantren Darun Najah, KH. Latif Harun, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak dapat membaca, namun mampu menghafalkannya dengan sempurna.

    Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa Al-Qur’an memang kitab terbaik untuk dihafalkan.

    “Semoga para santri ke depan mampu menghafal 30 juz sekaligus memahami isi kandungannya. Ilmu itu berada di hati, bukan hanya di kepala,” ujarnya, sambil mengutip hadis tentang orang tua penghafal Al-Qur’an yang kelak akan mendapatkan mahkota di surga.

    Ia juga menegaskan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak akan menghambat kemampuan mempelajari ilmu umum, justru akan mempermudah seseorang memahami berbagai disiplin ilmu lainnya.

    Sementara itu, Plt Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Banyuwangi, Fakhrurazi, S.Ag., M.Pd., yang putrinya juga menjadi salah satu wisudawati, menyampaikan bahwa seluruh anaknya merupakan santri sekaligus alumni Darun Najah.

    Bahkan istrinya juga tercatat sebagai alumni dan pernah menjadi pengajar di lembaga tersebut.

    “Hendaknya kita takdim kepada guru dan anak-anak kita memiliki adab yang mulia,” tambah Plt Pendidikan Madrasah tersebut.

    Dalam prosesi wisuda juga ditampilkan sesi iktibar makro berupa sambung ayat Al-Qur’an yang dilakukan para wisudawan.

    Penampilan itu mendapat apresiasi dan tepuk tangan dari para tamu undangan karena menunjukkan kemampuan hafalan para santri secara langsung di hadapan peserta wisuda.

    Setelah menjalani munaqasyah dan dinyatakan berhak menerima syahadah atau ijazah, sebanyak 234 hafidz yang Surat Keputusan yayasannya dibacakan oleh Majidatul Himmah, S.Ag., secara spontan mendapatkan bonus amplop dari H. Haris Rusdi.

    Sementara para peserta terbaik dari masing-masing lembaga melalui Hi Annisa Harun juga memperoleh tambahan amplop serta voucher menginap di hotel berbintang bersama orang tua mereka.

    Sebagai penutup acara, penampilan nasyid dan puisi yang dibawakan para juara Porseni MI turut memeriahkan suasana.

    Acara kemudian dilanjutkan dengan momen para hafidz mendatangi orang tua mereka yang menyambut dengan pelukan dan cium penuh rasa syukur atas keberhasilan putra-putri mereka menjadi anak yang saleh dan salehah.