Tag: sekolah dasar

  • Tingkatkan Literasi Sains Siswa, Dosen dan Mahasiswa Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga di SDN Jarangan 1

    Tingkatkan Literasi Sains Siswa, Dosen dan Mahasiswa Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga di SDN Jarangan 1

    Pembelajaran sains tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas.

    Melalui pemanfaatan potensi alam yang ada di sekitar lingkungan sekolah, dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi siswa SDN Jarangan 1, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Literasi Sains Siswa SDN Jarangan 1 melalui Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga (Mangifera indica L.)” menjadi bukti nyata bahwa sains dapat dipelajari secara kontekstual melalui praktik langsung yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Kegiatan yang diselenggarakan pada Kamis, 16 Juli 2026 ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik sekaligus mengenalkan pemanfaatan tanaman lokal sebagai produk herbal bernilai tambah.

    Daun mangga yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah pekarangan diperkenalkan sebagai bahan baku teh herbal yang memiliki potensi manfaat bagi kesehatan apabila diolah dengan benar.

    Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dipelajari melalui buku, tetapi juga melalui proses mengamati, mencoba, menganalisis, dan menarik kesimpulan berdasarkan fenomena yang mereka temui di lingkungan sekitar.

    pengabdian mahasiswa um di sd 1 jarangan

    Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Frida Kunti Setiowati, S.T., M.Si. dengan anggota Dr. Sofia Ery Rahayu, S.Pd., M.Si., Dr. Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si., Dra. Hj. Nursasi Handayani, M.Si., Dr. Siti Imroatul Maslikha, S.Si., M.Si., Agung Witjoro, S.Pd., M.Kes., Stevanus Purbadirja, dan Talita Dwi Ardiningrum.

    Tim pengabdian memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna dengan memanfaatkan permasalahan dan potensi yang ada di lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

    Menurut Stevanus Purbadirja, kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan melalui pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

    “Ini merupakan langkah siswa untuk menghadapi tantangan di Era Globaliasi dan perkembangan di era 5.0, ini juga merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan bahan yang ada disekitar kita menjadi nilai guna,” ujar Stevanus Purbadirja (17/07).

    Sejak kegiatan dimulai, suasana belajar tampak hidup dan penuh antusiasme. Para siswa mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

    Diawali dengan pengenalan tanaman mangga beserta kandungan senyawa alaminya, peserta kemudian mempelajari manfaat daun mangga, prinsip pengolahan pangan herbal, hingga pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan pangan selama proses produksi.

    Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, demonstrasi, permainan edukatif, serta tanya jawab sehingga mampu membangun keterlibatan aktif seluruh peserta.

    Puncak kegiatan berlangsung ketika siswa mempraktikkan secara langsung proses pembuatan teh herbal daun mangga. Dengan pendampingan dosen dan mahasiswa UM, peserta belajar memilih daun yang tepat, melakukan pencucian, pelayuan, penggulungan (rolling), pengeringan, hingga proses pengemasan sederhana.

    mahasiswa um di sd 1 jarangan

    Setiap tahapan tidak hanya mengajarkan keterampilan praktis, tetapi juga memperkenalkan konsep-konsep ilmiah seperti perubahan fisika dan kimia, pengaruh suhu terhadap kadar air, pentingnya sanitasi, serta teknik pengawetan bahan pangan.

    Melalui pengalaman tersebut, siswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan teori sains dengan penerapannya dalam kehidupan nyata.

    Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan karakter ilmiah pada peserta didik.

    Siswa dilatih untuk mengamati secara teliti, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, bekerja sama dalam kelompok, serta menyampaikan hasil pengamatannya.

    Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai bagian dari kompetensi abad ke-21 yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan saat ini.

    Ketua tim pengabdian, Dr. Frida Kunti Setiowati, S.T., M.Si., menyampaikan bahwa pemanfaatan daun mangga dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, memiliki nilai ekonomis, serta menyimpan potensi sebagai bahan pangan fungsional.

    “Pemanfaatan daun mangga dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, memiliki nilai ekonomis, serta menyimpan potensi sebagai bahan pangan fungsional. Melalui inovasi sederhana ini, siswa diperkenalkan pada konsep hilirisasi hasil alam sejak usia dini sehingga mereka memahami bahwa sumber daya di sekitar dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi, dan ramah lingkungan apabila didukung oleh pengetahuan sains dan kreativitas,” ujar Dr. Frida Kunti Setiowati (17/07).

    Kepala SDN Jarangan 1, Suhartiwiningsih, S.Pd.SD., menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut.

    Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar memberikan pengalaman belajar baru yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

    Pembelajaran yang memadukan teori dan praktik dinilai lebih efektif dalam menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus memperkuat pemahaman konsep-konsep sains.

    Kehadiran dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang juga menjadi inspirasi bagi peserta didik untuk terus semangat belajar dan bercita-cita melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

    “Ini merupakan momentum yang Istimewa bagi SDN Jarangan 1, bisa diatangai oleh Bapak/Ibu Dosen Universitas Negeri Malang, serta kita memperoleh Ilmu Baru untuk keberlanjutan,” ujarnya (18/07).

    Bagi Universitas Negeri Malang, kegiatan ini merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat.

    Dosen dan mahasiswa tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun kemitraan dengan sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berkelanjutan.

    Melalui kolaborasi tersebut, hasil-hasil kajian akademik dapat diterapkan secara langsung sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar.

    Pelatihan pembuatan teh herbal daun mangga di SDN Jarangan 1 menjadi bukti bahwa literasi sains dapat ditumbuhkan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

    Dengan mengintegrasikan potensi lokal, pembelajaran berbasis praktik, dan pendampingan dari perguruan tinggi, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami konsep sains, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

    Dari selembar daun mangga, lahir semangat baru untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan melalui sains. (IZ.Fathma Agmadina/AWN)

  • Kompetisi Aswaja Online 2025 Sukses Digelar, Diikuti 1.208 Peserta se-Banyuwangi

    Kompetisi Aswaja Online 2025 Sukses Digelar, Diikuti 1.208 Peserta se-Banyuwangi

    Gelaran Kompetisi Aswaja Online (KAO) 2025 tingkat MI/SD se-Kabupaten Banyuwangi berlangsung sukses dan penuh semangat.

    Kegiatan yang dipusatkan di SMK Gajah Mada Banyuwangi pada Sabtu, 18 Oktober 2025, ini diikuti oleh 1.208 peserta dari berbagai madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar di seluruh Banyuwangi.

    Dari ribuan peserta tersebut, sebanyak 99 finalis berhasil melaju ke babak akhir dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam memahami makna, sejarah, dan tokoh-tokoh Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

    Kompetisi ini menjadi ajang penting bagi siswa untuk memperdalam nilai-nilai keaswajaan sekaligus menumbuhkan semangat intelektual yang berakar pada tradisi keislaman.

    Acara dibuka secara resmi oleh Gus Fatan, yang hadir mewakili Ketua PCNU Kabupaten Banyuwangi. Dalam sambutannya, Gus Fatan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

    Ia juga berjanji akan mengajak para juara bertemu langsung dengan Bupati Banyuwangi dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2025.

    Kompetisi Aswaja Online 2025 Banyuwangi

    “Anak-anak yang berprestasi di ajang ini patut diberi ruang apresiasi. Mereka adalah generasi penerus yang akan menjaga nilai-nilai Aswaja di masa depan,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Panitia KAO 2025, M. Haris Jamroni, M.Pd.I., yang juga merupakan Kepala MIN 1 Banyuwangi, menjelaskan bahwa kompetisi ini tidak sekadar lomba akademik, tetapi sarana edukatif untuk mengenalkan pemahaman Aswaja secara kontekstual.

    “Soal-soal disusun agar peserta berpikir kritis dan mampu mengaitkan ajaran Aswaja dengan realitas kehidupan sehari-hari,” terangnya.

    Hal senada disampaikan oleh Ketua PERGUNU Banyuwangi, Drs. H. Wijanarko, M.Pd., selaku penggagas kegiatan dan Kepala SMK Gajah Mada.

    Ia menuturkan, ajang ini bukan hanya perlombaan, tetapi juga wahana silaturahmi dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.

    Kegiatan KAO 2025 terselenggara berkat dukungan sejumlah pihak, di antaranya LP Ma’arif NU, Bank Syariah Indonesia (BSI), BMPS, PGRI, serta Travel Umrah dan Haji Kubah Hijau.

    Dukungan tersebut menjadi bentuk nyata sinergi lintas lembaga dalam memperkuat pendidikan berbasis nilai-nilai Aswaja di Banyuwangi.

    Adapun para juara Kompetisi Aswaja Online (KAO) 2025 adalah sebagai berikut:

    Juara I: Syifa Mufida Zahrani (MI Darul Amin Gambiran)

    Juara II: Keenar Amabel Fitriyani (MI Miftahul Huda Pondok Nongko Kabat)

    Juara III: Fatin Arfadhia Sholihah (MIN 1 Banyuwangi)

    Kategori Harapan:

    Harapan I: Moza Alya Kirana (SDN Kepatihan)

    Harapan II: Aulada Hafizah Ramadhani (MIN 1 Banyuwangi)

    Harapan III: Ahmad Hadziq El Haddho (MIN 3 Banyuwangi)

    Selain menyabet beberapa gelar juara, MIN 1 Banyuwangi juga dinobatkan sebagai madrasah dengan peserta terbanyak dalam ajang KAO 2025.

    Para pemenang menerima tropi, piagam penghargaan, uang pembinaan, serta voucher umrah senilai dua juta rupiah sebagai bentuk apresiasi atas prestasi mereka.

    Acara ditutup dengan penuh hikmah oleh Dewan Pakar PERGUNU Banyuwangi, H. Zaqy Mubarok, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya melestarikan nilai-nilai Aswaja di kalangan generasi muda.

    “Aswaja bukan hanya ajaran, tapi juga karakter. Melalui ajang seperti ini, kita menanamkan nilai cinta tanah air dan moderasi beragama sejak dini,” pesannya.

    Dengan terselenggaranya Kompetisi Aswaja Online 2025 ini, Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah yang aktif menggerakkan pendidikan keagamaan berbasis tradisi Aswaja.

    Semangat keilmuan dan kebersamaan yang tampak di ajang ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Aswaja terus hidup dan berkembang di hati para pelajar muda.

  • Apa yang perlu jadi perhatian utama dalam memetakan kebutuhan peserta didik terhadap isu kekerasan seksual di sekolah dasar?

    Apa yang perlu jadi perhatian utama dalam memetakan kebutuhan peserta didik terhadap isu kekerasan seksual di sekolah dasar?

    A. Pengetahuan dasar mengenai diri mereka sendiri
    B. Pengetahuan dasar mengenai hubungan keluarga
    C. Pengetahuan dasar mengenai jenis-jenis kekerasan
    D. Pemahaman terhadap sistem reproduksi manusia

    Jawaban:

    A. Pengetahuan dasar mengenai diri mereka sendiri

    Pembahasan:

    Memahami pengetahuan dasar mengenai diri sendiri memang penting dalam memetakan kebutuhan peserta didik terhadap isu kekerasan seksual di sekolah dasar.

    Hal ini dapat membantu membangun kepercayaan diri dan identitas diri, yang merupakan faktor penting dalam melindungi diri dari kekerasan.

    Meskipun pengetahuan dasar mengenai diri sendiri penting, fokus untuk memetakan kebutuhan terkait kekerasan seksual merupakan hal penting pada pemahaman tentang berbagai bentuk kekerasan dan cara melindungi diri.

    Berikut beberapa aspek lain yang perlu dipertimbangkan:

    • Usia dan tingkat perkembangan peserta didik: Materi dan metode pemetaan kebutuhan harus disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan peserta didik.
    • Latar belakang dan pengalaman peserta didik: Memahami latar belakang dan pengalaman peserta didik dapat membantu memfokuskan pemetaan pada kebutuhan spesifik mereka.
    • Ketersediaan sumber daya: Pemetaan kebutuhan harus mempertimbangkan ketersediaan sumber daya untuk intervensi dan edukasi terkait kekerasan seksual.

    Dengan memperhatikan berbagai aspek tersebut, pemetakan kebutuhan peserta didik dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk merancang program edukasi dan intervensi yang tepat dan efektif dalam mencegah dan menangani kekerasan seksual di sekolah dasar.

  • Youth Leader Program Kenalkan Piala Dunia FIBA 2023 Untuk Anak Sekolah Dasar

    Piala Dunia Bola Basket atau Piala Dunia FIBA 2023 akan segera digelar bulan depan, tepatnya pada tanggal 25 Agustus 2023 mendatang.

    Indonesia sebagai salah satu penyelenggara FIBA World Cup 2023 bersama Filipina dan Jepang.

    Arena olahraga baru pun telah disiapkan oleh Pemerintah Indonesia.

    Nantinya, Indoor Multifunction Stadium (IMS) akan menjadi saksi sejarah bahwa kompetisi basket tingkat dunia diadakan di Indonesia.

    Panitia Pelaksana Lokal (LOC) Piala Dunia FIBA 2023 Indonesia telah melakukan beberapa kegiatan guna mempromosikan kompetisi basket pada level global tersebut.

    Salah satunya, diperkenalkan melalui kegiatan yang diberi nama Youth Leader Program.

    Youth Leader Program adalah bagian dari Gerakan Basket Untuk Kebaikan (Basketball for Good), dalam rangka menyemarakkan 30 hari hitung mundur jelang Piala Dunia FIBA 2023.

    Di Indonesia program ini bakal digelar di beberapa sekolah di Jakarta pada 26 Juli sampai 2 Agustus 2023.

    Youth Leader Program dibagi menjadi beberapa edisi. Pada edisi pertama ini mengambil tema recycle atau daur ulang.

    Tema ini juga sesuai dengan komitmen FIBA untuk menjaga keberlanjutan bumi agar tetap hijau.

    Nantinya program ini akan terus diterapkan selama kompetisi FIBA 2023 berlangsung, mulai dari 25 Agustus hingga 3 September 2023 di Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta.

    Dikutip dari laman ANTARA, SD Negeri 1 Menteng terpilih sebagai sekolah pertama yang dikunjungi oleh youth leaders bersama JIP, maskot Piala Dunia FIBA 2023.

    Sebagai informasi tambahan, JIP sendiri adalah singkatan dari Japan, Indonesia, Philipines, yang merupakan maskot berbentuk robot dengan keranjang bola basket di punggungnya.

    Keranjang tersebut harus diisi oleh benda-benda yang dapat didaur ulang sebagai sumber energi dari JIP.

    Dalam kegiatan Youth Leader Program di SD Negeri 1 Menteng, 25 siswa dari kelas 4 hingga 6 dikenalkan serta diajarkan tentang dasar-dasar olahraga sekaligus mensosialisasikan FIBA World Cup 2023.

    Claudia Natasha, salah satu youth leaders yang turut hadir menuturkan bahwa kegiatan ini adalah program dari FIBA Foundation, dimana tema recycle digunakan agar anak-anak tetap menjaga lingkungan.

    “Selain mengajarkan basic skill basket, seperti shooting, passing, dan blocking, juga mengajarkan kepada para peserta untuk membuang sampah pada tempatnya. Di mana pun tempatnya, tetap sadar jika kita harus menjaga kebersihan,” kata Claudia, dikutip sastrawacana.id/ dari ANTARA.

    Author: Maulana Affandi