Tag: sekolah literasi

  • TUGU SAJUTA, Gerakan Literasi Membangun Budaya Membaca di SDN 3 Siliragung

    TUGU SAJUTA, Gerakan Literasi Membangun Budaya Membaca di SDN 3 Siliragung

    Di era digital, ketika gawai lebih menarik daripada buku, SD Negeri 3 Siliragung menemukan cara unik untuk menghidupkan kembali semangat membaca di kalangan siswanya.

    Lewat program TUGU SAJUTA (Satu Minggu Satu Judul Cerita), sekolah ini menyalakan kembali api literasi yang sempat meredup pascapandemi.

    Program TUGU SAJUTA lahir dari keprihatinan akan rendahnya nilai literasi dalam Rapor Pendidikan sekolah.

    Kepala SD Negeri 3 Siliragung, Nanik Ermawati, S.Pd.Gr , menuturkan bahwa ide ini berangkat dari kebutuhan sederhana, yaitu mengembalikan minat baca anak-anak yang kian menurun.

    SD Negeri 3 Siliragung

    “Program TuGu SaJuTa ini memang sangat bagus untuk sekolah kami yang sedang membenahi nilai literasi di dalam Rapor Pendidikan. Dengan program ini sangat membantu Bapak dan Ibu guru untuk lebih fokus dalam mendampingi anak-anak membaca, terlebih ada kolaborasi langsung dari wali murid yang sudah terjadwal setiap harinya. Sehingga ketika ada ruang perlombaan kami sudah memiliki aset baik yaitu siswa berbakat ini untuk mengeksplornya. Dan alhamdulillah hasil dari pendampingan ini membuahkan juara 2 kategori bercerita tingkat Kecamatan,” jelasnya.

    Melalui TUGU SAJUTA, siswa diajak membaca minimal satu cerita setiap minggu. Setelah itu, mereka bisa menuliskan kembali kisah yang telah dibaca, menggambarkannya, atau bercerita secara langsung di depan guru dan teman-temannya.

    Hasil karya mereka kemudian dipajang di Mading TUGU SAJUTA atau diunggah ke media sosial sekolah, menjadikan literasi sebagai aktivitas yang hidup dan menarik.

    Program ini juga merupakan pengembangan dari inovasi sebelumnya, MEKAR MERATA (Meningkatkan Kreativitas Siswa Melalui Literasi Digital), yang fokus pada penguatan fasilitas literasi di tiap kelas.

    Kini, TUGU SAJUTA melangkah lebih jauh dengan menghadirkan budaya membaca yang menyenangkan dan partisipatif.

    Yang membuatnya semakin istimewa adalah kolaborasi aktif dengan wali murid. Setiap kelas memiliki jadwal khusus pendampingan membaca bersama orang tua.

    Mereka tidak hanya membantu anak memahami isi bacaan, tetapi juga turut menjadi narasumber kecil atau motivator.

    Kolaborasi ini mempererat hubungan antara guru, siswa, dan orang tua, sekaligus memperkuat ekosistem literasi di sekolah.

    Literasi SD Negeri 3 Siliragung

    Dari kegiatan yang awalnya sederhana ini, lahirlah berbagai manfaat nyata. Anak-anak menjadi lebih percaya diri saat tampil bercerita, lebih fokus, dan terlatih berpikir kritis.

    Guru pun lebih mudah mengenali potensi literasi siswanya. Sementara bagi orang tua, keterlibatan langsung ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap proses pendidikan anak.

    Kini, setiap pekan di SD Negeri 3 Siliragung selalu ada cerita baru yang lahir dari tangan dan imajinasi siswa.

    TUGU SAJUTA bukan sekadar program membaca, tapi gerakan yang menumbuhkan karakter, membangun kolaborasi, dan menghidupkan kembali budaya literasi di sekolah.

    Dari satu cerita setiap minggu, lahir seribu inspirasi bagi masa depan yang lebih cerdas dan berdaya.

  • Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    SMK Muhammadiyah 8 Siliragung kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi di kalangan pelajar melalui kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” pada Minggu, (26/10).

    Tak hanya sukses sebagai pelaksana acara, Ekskul Models Jurnalisme Mojoer Media yang dibina oleh Cici Arista Devi ini juga tampil sebagai motor penggerak di balik suksesnya kegiatan ini.

    Rangkaian acara yang digelar di ballroom ED Hotel SMK Model Siliragung ini meliputi Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang diikuti oleh ratusan peserta SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi.

    Di balik kemeriahan tersebut, para jurnalis muda SMK Models menjadi tim dokumentasi, peliput, dan redaksi yang menyiarkan jalannya kegiatan secara profesional.

    Dipimpin oleh Rhifan Ahmad Aki Pansurna selaku Pimpinan Redaksi Mojoer Media, para jurnalis muda ini menjalankan peran layaknya awak media sesungguhnya, mulai dari melakukan wawancara, menulis berita, hingga mengelola konten publikasi sekolah.

    “Menjadi jurnalis di SMK Models bukan hanya soal menulis berita, tapi juga belajar menyampaikan pesan secara utuh. Ibarat melihat gajah, kita tidak hanya melihat ekornya, tetapi keseluruhan bentuknya,” ujar Rhifan dalam wawancara di sela kegiatan Bulan Bahasa.

    Workshop Pentigraf SMK Models
    Workshop Pentigraf SMK Models Siliragung (Dok. sastrawacana.id/)

    Menurutnya, jurnalistik di sekolah menjadi ruang pembelajaran yang menantang sekaligus menyenangkan.

    Para siswa tidak hanya dilatih berpikir kritis dan menulis, tetapi juga berani berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami proses informasi secara mendalam.

    “Dulu kami hanya menulis untuk tugas sekolah. Tapi lewat Mojoer Media, kami belajar menulis untuk publik, untuk sekolah, bahkan untuk masyarakat. Itu pengalaman yang luar biasa,” tambahnya.

    Rhifan juga mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar bagi generasi muda saat ini adalah menumbuhkan kebiasaan literasi di tengah dominasi media digital.

    “Banyak teman yang terbiasa menghabiskan waktu dengan konten singkat. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan dunia digital sebagai ruang belajar dan menulis yang produktif,” jelasnya.

    Meski begitu, semangat tim Mojoer Media tidak surut. Mereka justru memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan berita kegiatan sekolah, promosi program, hingga publikasi karya siswa.

    Kini, Mojoer Media telah menerbitkan berbagai artikel, liputan kegiatan, dan bahkan buku antologi hasil karya tim jurnalistik.

    Mojoer Media

    “Teman-teman jurnalis kami sudah berani menulis buku. Itu langkah besar. Artinya, literasi di SMK Models sudah bergerak dari ruang kelas menuju ruang publik,” tutur Rhifan dengan bangga.

    Tak berhenti di situ, Rhifan menyebut bahwa ke depan Mojoer Media akan memperluas jangkauan liputan dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai media literasi di Banyuwangi.

    Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Mojoer Media.

    “Anak-anak jurnalistik kami adalah wajah sekolah. Mereka tidak hanya meliput, tapi juga membangun citra positif lembaga. Melalui tulisan dan karya mereka, SMK Models dikenal luas sebagai sekolah yang literat dan kreatif,” tandasnya.

    Sementara itu, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi media literasi sastrawacana.id/, turut memberikan apresiasi tinggi kepada tim Jurnalis SMK Models Mojoer Media atas kiprahnya dalam menghidupkan budaya menulis di lingkungan sekolah.

    Menurutnya, semangat dan profesionalitas para jurnalis muda SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menjadi bukti nyata bahwa literasi tidak lagi sekadar slogan, tetapi telah tumbuh menjadi gerakan yang berakar kuat di kalangan pelajar.

    “Saya melihat teman-teman Mojoer Media bekerja dengan etos seorang jurnalis sejati. Mereka meliput, menulis, dan mempublikasikan berita dengan tanggung jawab serta semangat belajar yang luar biasa. Semua ini tentu tidak lepas dari dukungan kepala sekolah dan para guru yang mendampingi,” ujarnya. (Heri Iskandar)