Tag: seni

  • Daftar Istilah dalam Seni Teater dan Artinya

    Dalam seni teater, ada beberapa istilah yang biasa digunakan oleh pemeran atau aktor.

    Istilah-istilah tersebut memiliki arti/makna yang sesuai dengan fungsi dalam pementasan. Nah, apa saja istilah-istilah dalam teater? Berikut diantaranya.

    Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak

    Additive Mixing : Pencampuran warna pada objek yang disinari dari dua atau lebih lampu yang berbeda

    Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan

    Aktor : orang yang melakukan akting

    Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno

    Amplifikasi : Penguatan energi listrik setelah melalui rangkaian elektronik

    Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium

    Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner

    Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara

    Aside : Dialog menyamping, atau suara hati dan pikiran tokoh

    Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan

    Audibility : Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendengaran

    Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium

    Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung

    Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh

    Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu

    Barndoor : Sirip empat sisi yang diletakkan pada lampu dan digunakan untuk mebatasi lebar sinar cahaya

    Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan

    Beats : Satu kesatuan arti terkecil dari dialog

    Belly to Belly : Dua lensa yang dipasang berhadapan dalam sebuah lampu dan jaraknya bisa diatur

    Bifocal : Lampu Bifocal adalah lampu profile standar yang ditambahi dengan shutter tambahan

    Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung

    Boom : Baris lampu yang dipasang secara vertikal

    Border : Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permainan yang digunakan

    Bracket : Pengait untuk memasang lampu pada boom. Disebut pula sebagai boom arm

    Catwalk : Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain

    Clamp : Klem atau pengait untuk memasang lampu pada bar, disebut juga sebagai C-clamp atau Hook Clamp

    Control Balance : Pengaturan tingkat kekerasan suatu sumber suara terhadap sumber suara yang lain

    Control Desk : Disebut juga Remote Control, alat untuk mengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya dari jarak jauh

    Cyc Light : Lampu flood yang dikhususkan untuk menerangi layar belakang (siklorama)

    Denotasi : Arti yang sebenarnya sesuai dengan arti yang terdapat dalam kamus

    Dialog : Percakapan para pemain.

    Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut

    Diffuse : Jenis refleksi cahaya yang memiliki pantulan merata serta panjang sinarnya sama

    Diftong : Kombinasi dua huruf vokal dan diucapkan bersamaan

    Diksi : Latihan mengeja kata dengan suara keras dan jelas

    Dimmer : Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya

    Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan

    Donut : Pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketajaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot

    Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi

    Dramatic Irony : Aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dimana tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri

    Ekstensi : Menambah besarnya sudut antara dua bagian badan

    Eksposisi : Penggambaran awal dari sebuah lakon, berisi tentang perkenalan karakter, dan masalah yang akan digulirkan

    Elastisitas : Tingkat kekenyalan suatu objek sehingga dengan mudah bisa diterapkan atau digunakan

    Ellipsoidal : Jenis reflektor yang memiliki bentuk elips

    Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran

    Ephemeral : Sifat pertunjukan yang bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama

    ERS : Elliposoidal Reflector Spotlight. Lampu spot yang menggunakan reflektor berbentuk elips disebut juga lampu profile atau leko

    ERS Axial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang secara horisontal

    ERS Radial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang miring 45 derajat

    Farce : Seni pertunjukan yang menyerupai dagelan tetapi bukan dagelan yang seperti di Indonesia

    Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu

    Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini

    Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih

    Fleksi (flexion) : Membengkokkan suatu sendi untuk mengurangi sudut antara dua bagian badan

    Fleksibelitas : Daya lentur suatu objek / tingkat kelenturan suatu objek

    Flies : Disebut juga penutup. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya

    Floodligth : Jenis lampu yang sinar cahayanya menyebar serta tidak bisa diatur fokusnya

    Focal Point : Titik temu (pusat) pendar cahaya

    FOH : Front Of House. Bagian depan baris kursi penonton dimana di atasnya terdapat pipa baris lampu

    Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas

    Follow Spot : Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain

    Fore Shadowing : Bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi

    Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat

    Frequency Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum

    Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi

    Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat

    Gestus : Aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh

    Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut

    Globe : Panggung yang tempat duduk penontonnya berkeliling, digunakan dalam pementasan teater jaman Elizabeth di Inggris

    Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya

    Groundrow : Lampu flood yang diletakkan di bawah untuk menerangi aktor atau siklorama dari bawah.

    Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya

    Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.

    Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.

    Insersio : Kearah mana otot itu berjalan atau arah jalannya otot yang bergerak.

    Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur

    Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu

    Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.

    Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran

    Karakter Teatrikal : Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.

    Kolokasi : Asosiasi kata dengan bahasa yang tidak formal, bahasa percakapan sehari-hari pada suatu tempat dan masa tertentu.

    Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya

    Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan

    Komunikan : Penerima komunikasi

    Komunikator : Penyampai kamunikasi

    Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.

    Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.

    Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerah kan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.

    Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita

    Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan

    Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi

    Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.

    Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi

    Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar

    Lever : Bilah yang dapat dinaikkan dan diturunkan yang terdapat pada control desk

    Ligamen : Jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau pembungkus sendi.

    Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton

    Membran : Selaput atau lapisan tipis yang sangat peka terhadap getaran

    Metacarpal : Disebut juga dengan metatarsus atau ossa metatarsalia yaitu tulang pertama dari jari

    Mime : Pertunjukan teater yang menitikberatkan pada seni ekspresi wajah pemain

    Mimetic/mimesis : Peniruan atau meniru sesuatu yang ada

    Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    Mixed : Jenis refleksi cahaya yang hasilnya bercampur antara relfeksi diffuse dan specular

    Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain

    Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman

    Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan

    Orchestra Pit : Tempat para musisi orkestra bermain

    Origio : Tempat otot timbul atau tempat asal otot yang terkuat

    Pageant : Panggung kereta abad Pertengahan yang digunakan untuk mementaskan teater secara berkeliling

    Panoramic : Kesan suara yang terdengar pada telinga kiri atau telinga kanan

    Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    PAR : Parabolic Aluminized Reflector. Lampu yang menggunkan reflektor parabola terangkai dalam satu unit dengan lensanya

    Parafrase : Latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, dengan tujuan untuk membuat jelas dialog tersebut

    PC : (1) Planno Convex, jenis lensa yang permukaannya halus. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa tunggal baik lensa Planno Convex atau Pebble Convex

    Pebble Convex : Jenis lensa yang mukanya halus tapi bagian belakangnya bergerigi

    Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).

    Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.

    Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater

    Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida

    Pita magnetic : Pita plastic yang dilapisi oleh serbuk magnet yang digunakan untuk menyimpan getaran listrik

    Planno Convex : Jenis lensa (lih. PC)

    Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu

    Polarity : Kemampuan maksimum dalam menangkap sumber suara

    Practical : Lampu sehari-hari atau lampu rumahan yang digunakan di atas panggung

    Preset : Pengaturan intensitas cahaya pada control desk disaat lampu dalam keadaan mati (tidak dinyalakan)

    Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan

    Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.

    Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita

    Proscenium : Bentuk panggung berbingkai

    Proscenium Arc : Lengkung atau bingkai proscenium

    Resonansi : Bergema atau bergaung

    Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif

    Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran

    Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik

    Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.

    Round Karakter : Karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya

    Scoop : Jenis lampu flood yang menggunakan reflektor ellipsoidal

    Sendi : Hubugan yang terbentuk antara dua tulang.

    Sendratari : Pertunjukan drama yang di tarikan atau gabungan seni drama dan seni tari

    Side Wing : Bagian kanan dan kiri panggung yang tersem bunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil

    Skeneri : Dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan

    Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran

    Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri

    Specular : Jenis refleksi yang memantulkan cahaya seperti aslinya (efek cermin)

    Snoot : Disebut juga Top Hat, piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya

    Spherical : Jenis reflektor yang memiliki bentuk setengah lingkaran

    Spread : Jensi refleksi cahaya yang mengenai objek dengan intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan lebih panjang dari yang lain

    Stand : Pipa untuk memasang lampu yang dapat berdiri sendiri

    Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.

    Suara Nasal : Suara yang dihasilkan oleh rongga hidung karena udara beresonansi.

    Suara Oral : Suara yang dihasilkan oleh mulut

    Subtractive Mixing: Pencampuran warna cahaya yang dihasilkan dari dua filter berbeda

    Surprise : Peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.

    Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.

    Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.

    Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.

    Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.

    Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan

    Thrust : Bentuk panggung yang sepertiga bagiannya menjorok ke depan

    Timbre : Warna suara yang memberi kesan pada kata-kata yang kita ucapkan

    Tirai Besi : Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung, tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.

    Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis

    Trapezium : Tulang yang ada pada antara pergelangan tangan dan ibu jari tangan

    Trap Jungkit : Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.

    Wicara : Cara kita berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon

    Under : (tata suara) Hasil rekaman suara yang sangat lemah

  • Mengenal Alat Musik Akordeon, Sejarah, dan Cara Memainkannya

    Mengenal Alat Musik Akordeon, Sejarah, dan Cara Memainkannya

    Alat Musik Akordeon

    Akordeon adalah sebuah alat musik sejenis organ yang terbuat dari kayu atau plastik dengan beberapa bilah notasi yang dapat ditekan.

    Akordeon memiliki memiliki 2 kotak di sisi kanan dan kiri yang tersambung (menyatu) sehingga dimainkan menggunakan dua tangan.

    Akordeon memiliki dua set tombol, yang pertama adalah tombol melodi dan yang kedua adalah tombol bass.

    Tombol melodi digunakan untuk memainkan melodi utama lagu, sedangkan tombol bass digunakan untuk mengiringi melodi dengan akord atau suara dasar yang sesuai.

    Alat musik ini berfungsi untuk mengiringi musik-musik religi serta modern untuk berbagai genre, seperti jazz, rock, pop, dan classical. Lantas, akordeon mempunyai peran penting sebagai membawa melodi utama dan akor pengiring.

    Akordeon merupakan alat musik khas dari Sumatera Utara yang merupakan hasil dari dari budaya luar. Secara umum, ada dua jenis akordeon yang populer digunakan, yaitu accordion diantonis dan accordion piano.

    Jenis accordion diantonis sering digunakan di Eropa sebagai pengiring tarian kelompok. Sementara accordion piano lebih fleksibel untuk mengiringi berbagai acara kesenian.

    Sejarah Akordeon

    Menurut sejarah, akordeon merupakan alat musik yang berasal dari Eropa yang kemudian diserap dan menjadi
    bagian dalam Ansambel Musik Melayu.

    Dari informasi yang dihimpun, Akordion ditemukan oleh Christian Friedrich Ludwig Buschmann di Berlin pada tahun 1822 yang kemudian dipatenkan pada tahun 1829 oleh Cyrill Demian.

    Cara Memainkan Akordeon

    Karena bentuknya relatif kecil, akordeon dimainkan dengan cara digantungkan ke leher, kemudian dua tangan memegang akordeon bagian kiri dan kanan untuk menekan akord.

    Cara kerja akordeon melibatkan tekanan udara dan reeds. Ketika pemain menarik kain atau kulit, volume udara di dalam instrumen meningkat, menciptakan tekanan udara rendah.

    Saat kain atau kulit ditekan kembali, volume udara berkurang, meningkatkan tekanan udara. Tekanan udara ini memaksa reeds bergetar, dan getaran reeds inilah yang menghasilkan suara.

    Posisi pemain harus berdiri tegak dan tidak boleh membungkuk agar akordeon dapat dimainkan secara efektif sebab dada akan menjadi tumpuan alat musik ini.

  • Mengenal Alat Musik Kolintang dan Cara Memainkannya

    Mengenal Alat Musik Kolintang dan Cara Memainkannya

    Alat musik kolintang adalah alat musik tradisional Minahasa yang terbuat dari serangkaian batang logam yang disusun secara horizontal.

    Kolintang biasanya terdiri dari dua baris batang logam, satu untuk nada tinggi dan satu untuk nada rendah.

    Kemudian, bilahnya menggunakan kayu khusus, biasanya kayu telur, kayu bandaran, kayu wnuang, dan kayu kakinik.

    Pembuatannya melalui beberapa proses, salah satunya kayu yang digunakan harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum dipotong menjadi beberapa bilah kecil.

    Ukurannya pun tidak boleh asal agar nada atau suara yang dikeluarkan sesuai.

    Menurut sejarah, kolintang telah digunakan sejak zaman dahulu untuk berbagai acara budaya dan upacara tradisional, seperti dalam pertunjukan seni atau perayaan adat.

    Bahkan, alat musik ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang fungsinya sebagai pemujaan terhadap roh leluhur.

    Namun, seiring berjalannya waktu alat musik kolintang lebih difungsikan sebagai kesenian, seperti pengiring seni tari maupun pertunjukan musik.

    Melansir laman Kemenkeu, pemerintah setempat sedang memperjuangkan alat musik kolintang sebagai Warisan Budaya tak Benda asal Indonesia versi The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

    Cara Memainkan Alat Musik Kolintang

    Cara memainkan alat musik kolintang adalah dengan dipukul menggunakan mallet (tongkat kecil) yang ujungnya dibalut dengan benang atau kain.

    Umumnya ada 3 mallet yang digunakan, 1 di tangan kiri dan 2 di sela-sela jari tangan kanan.

    Adapun suara yang dihasilkan ada 9 jenis, diantaranya: loway (bass), cella (cello), karua (tenor 1), karua rua (tenor 2), uner (alto 1), uner rua (alto 2), katelu (ukulele), ina esa (melodi 1), ina rua (melodi 2), dan ina taweng (melodi 3).

    Untuk memainkan kolintang, pemain perlu memahami notasi agar suara yang dihasilkan tepat dengan lagu yang diiringi.

  • Pengertian Alat Musik Ritmis dan Contohnya

    Bermain musik adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan dan memiliki beragam manfaat, salah satunya sebagai terapi untuk menyehatkan jiwa dan raga.

    Selain itu, bermain musik juga menjadi salah bakat serta minat yang dapat terus dilatih serta dikembangkan untuk mendapatkan prestasi non akademik.

    Maka tak heran jika setiap sekolah memiliki ekstrakurikuler musik sebagai wadah dalam mengembangkan bakat bermusik siswa.

    Nah, bicara tentang musik, ada banyak jenis alat musik yang dapat dimainkan, salah satunya alat musik ritmis yang biasa digunakan dalam seni pertujukan.

    Baca juga: Alat Musik Angklung: Pengertian, Sejarah, Fungsi, dan Jenis-Jenisnya

    Apa itu alat musik ritmis?

    Alat musik ritmis adalah alat musik yang tidak bernada yang fungsinya sebagai pengiring dan mengatur tempo dari sebuah lagu atau musik.

    Alat musik ini tidak hanya ditemukan di lagu modern saja, tapi sudah digunakan sejak zaman dahulu dengan fungsi yang beragam.

    Bentuknya sederhana dan tidak memiliki banyak panel untuk mengatur nada karena memang alat musik ini tanpa nada.

    Umumnya alat musik ritmis dimainkan dengan cara dipukul, baik menggunakan tangan maupun stik atau tongkat. Ada juga beberapa alat musik ritmis yang dimainkan dengan cara digoyang-goyang.

    Sehingga bagi pemain alat musik ini, tidak perlu mengapal notasi atau nada, tapi diperlukan ketepatan terutama dalam tempo.

    Secara fungsi, alat musik ritmis adalah pelengkap dari alat musik melodis. Keduanya saling berkaitan untuk menghasilkan harmoni dalam sebuah lagu atau musik.

    Misalnya, alat musik ritmis drum yang akan membuat sebuah lagu menjadi lebih indah didengar, khususnya pada lagu-lagu pop.

    Baca juga: 15 Contoh Alat Musik yang Digesek dan Penjelasannya

    Contoh Alat Musik Ritmis

    Berikut ini adalah beberapa contoh alat musik ritmis.

    1. Kendang

    Kendang adalah alat musik tradisional yang masih populer hingga saat ini. Dikatakan sebagai alat musik ritmis karena kendang tidak memiliki nada.

    Kendang sendiri masuk dalam instrumen gamelan Jawa. Cara memainkan kendang adalah dengan ditabuh menggunakan tangan ke bagian kulit kerbau.

    2. Tifa

    Tifa adalah alat musik tradisional yang berasal dari Papua hang menjadi identitasi asli masyarakat Papua dan Maluku.

    Bentuknya menyerupai kendang dan diujungnya terdapat kulit untuk menghasilkan suara. Bedanya, kendang menggunakan kulit kerbau, sementara tifa menggunakan kulit rusa.

    3. Marakas

    Marakas adalah alat musik yang terdiri dari sepasang tabung dari bahan kayu atau plastik, yang di dalamnya diisi dengan biji-bijian atau bola logam kecil.

    Cara memainkan marakas adalah dengan dipegang pada bagian tengahnya, kemudian digoyangkan atau dikocok dengan gerakan tangan yang cepat.

    4. Gong

    Gong merupakan alat musik ritmis tradisional yang sering dijumpai dalam instrumen gamelan Jawa. Cara memainkannya adalah dengan ditabuh menggunakan tongkat yang ujungnya dibalut karet.

    5. Tamborin

    Tamborin yang sering disebut “ecek-ecek” juga merupakan alat musik ritmis karena tidak bisa menghasilkan nada. Cara memainkan dengan digoyangkan agar suaranya keluar.

    Baca juga: Mengenal Alat Musik Recorder, Cara Memainkan, dan Sejarahnya

    6. Drum

    Drum adalah alat musik ritmis modern yang biasanya digunakan oleh grup band. Drum bukanlah alat tunggal, melainkan sepaket alat yang berbeda, seperti snare, simbal, bass, dan lainnya.

    7. Jimbe

    Jimbe hampir mirip dengan kendang, tapi cara menggunakannya berbeda. Bentuk jimbe seperti cawan yang satu ujungnya dibalut oleh kulit kerbau.

    Itulah pengertian alat musik ritmis dan contohnya. Temukan artikel tentang seni lainnya di sastrawacana.id/.

  • 7 Pengertian Seni Patung Menurut Para Ahli

    Patung adalah karya seni tiga dimensi yang dibuat oleh seorang seniman untuk menggambarkan bentuk atau wujud manusia, hewan, atau objek lainnya.

    Patung biasanya dibentuk dari berbagai jenis bahan seperti kayu, batu, logam, tanah liat, atau bahan sintetis lainnya.

    Seni patung telah ada sejak zaman kuno dan menjadi salah satu bentuk seni yang paling tua dalam sejarah manusia.

    Patung dapat dijadikan sebagai ekspresi seni, simbol budaya, atau sebagai sarana menggambarkan keindahan dan bentuk-bentuk yang ada di alam.

    Patung juga sering ditempatkan di ruang publik, taman, atau bangunan sebagai dekorasi atau monumen untuk menghormati tokoh atau peristiwa penting.

    Baca juga: Pengertian Seni Rupa Dekoratif dan Macam-Macamnya

    Pengertian Patung Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian patung menurut para ahli.

    1. Mikke Susanto (2011: 296)

    Seni patung adalah sebuah tipe karya tiga dimensi yang bentuknya dibuat dengan metode subtraktif (mengurangi bahan seperti memotong, menatah) atau aditif (membuat model lebih dulu seperti mengecor dan mencetak).

    2. Soenarso dan Soeroto

    Dalam bukunya (1996: 6), Soenarso dan Soeroto mendefinisikan Seni Patung adalah semua karya dalam bentuk meruang.

    3. B. S. Mayer (1958: 131-132)

    Mendefinisi-kan Seni patung adalah karya tiga dimensi yang tidak terikat pada latar belakang apa pun atau bidang manapun pada suatu bangunan.

    4. Mayer (1969: 351)

    Seni patung berdiri sendiri dan memang benar-benar berbentuk tiga dimensi sehingga dari segi manapun kita melihatnya, kita akan dihadapkan kepada bentuk yang bermakna.

    5. Bastomi (1981: 51)

    Pengertian seni patung adalah karya seni yang bermatra tiga yang artinya terbentuk dari berbagai unsur diantaranya garis, bidang dan volume pada suatu ruang.

    6. Karthadinata, (2009:17)

    Seni patung adalah bentuk yang bisa dilihat dari berbagai arah ataupun penjuru; baik depan, samping, belakang maupun atas.

    Baca juga: Pengertian Seni Rupa Terapan Dan Contohnya

    7. Sahman (1993:201)

    Seni patung bersifat trimatra, maksudnya adalah bisa dinikmati dari berbagai segi dengan cara mengelilinginya.

    8. Widjanarko (1983:10)

    Definisi seni patung adalah cabang seni rupa yang diciptakan lewat bentuk tiga dimensi yang memuat unsur panjang, lebar dan tinggi.

    9. Ensiklopedia indonesia (1990 : 215)

    Seni patung yaitu seni tiga dimensi pahat ataupun berwujud badan yang padat dan bisa berupa gambar relief ataupun patung yang dibuat berbahan kayu ataupun logam.

    10. G. Shidarta (1987)

    Patung adalah Bentuk yang mempunyai tri matra atau bentuk yang mempunyai ukuran panjang, lebar, dan tinggi.

  • Orang yang menciptakan patung disebut?

    Orang yang menciptakan patung disebut pematung, tujuannya adalah menghasilkan karya seni yang dapat bertahan selama mungkin.

    Pembahasan

    Patung adalah karya berbentuk benda tiga dimensi yang diakui secara khusus sebagai suatu karya seni.

    Menurut Susanto (2011: 296) seni patung adalah sebuah tipe karya tiga dimensi yang bentuknya dibuat dengan metode subtraktif (mengurangi bahan seperti memotong, menatah) atau aditif (membuat model lebih dulu seperti mengecor dan mencetak).

    Menurut Soenarso dan Soeroto dalam bukunya (1996: 6) Seni Patung adalah semua karya dalam bentuk meruang.

    Menurut KBBI, arti patung adalah benda tiruan, bentuk manusia dan hewan yang cara pembuatannya dengan dipahat.

    Dalam menciptakan karya, pematung biasanya menggunakan bahan-bahan yang kuat dan tahan lama, seperti batu, semen, pasir, dan material lainnya.

    Selain bahan di atas, kadang juga pematung menggunakan bahan-bahan berharga seperti emas, perak, jade, dan gading.

    Penggunaannya pun menerapkan pola, dimana bahan umum dan tidak terlalu mahal digunakan untuk bagian luar, termasuk kayu, keramik, dan logam.

    Fungsi Patung

    Secara umum, fungsi patung adalah sebagai berikut:

    1. Patung Religi: digunakan sebagai sarana ibadah.

    2. Patung Monumental: peringatan peristiwa bersejarah.

    3. Patung Arsitektur: sebagai kontruksi bangunan.

    4. Patung Dekorasi: Hiasan bangunan atau taman.

    5. Patung Seni: Dinikmati keindahannya.

    6. Patung Kerajinan: Untuk komersial.

  • 13 Cara Melukis Untuk Pemula, Yuk Dicoba!

    Seni melukis adalah salah satu bentuk ekspresi kreatif yang memadukan imajinasi, keterampilan, dan perasaan untuk menghadirkan dunia dalam bentuk visual yang unik.

    Dalam melukis, seorang seniman menggunakan imajinasi, keterampilan teknis, dan perasaan untuk menggambarkan dunia dalam perspektif mereka sendiri.

    Kemudian, aktivitas melukis dapat menjadi sarana bagi seorang seniman untuk mengekspresikan ide, perasaan, dan pengalaman melalui visual.

    Maka, melukis adalah hal yang menyenangkan karena dapat meluapkan ekspresi serta perasaan ke dalam karya.

    Cara Melukis Untuk Pemula

    Nah, buat kamu yang ingin belajar melukis, alangkah baiknya untuk tahu beberapa cara melukis untuk pemula berikut ini.

    1. Siapkan Alat dan Bahan

    Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan  semua alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melukiss.

    Seperti pensil, kuas, cat (misalnya cat minyak, cat air, atau cat akrilik), palet, kanvas atau kertas lukis, dan cairan pembersih (untuk cat minyak).

    2. Tentukan Tema atau Objek

    Sebelum mulai melukis, tentukan tema atau objek apa yang ingin kamu gambarkan.

    Apakah kamu ingin melukis pemandangan, potret, benda-benda, atau abstrak?

    Memilih objek atau tema akan membantumu memiliki panduan dalam proses melukis.

    3. Buat Sketsa Awal

    Mulailah dengan membuat sketsa awal di atas kanvas atau kertas menggunakan pensil.

    Sketsa ini akan menjadi dasar untuk mengatur komposisi dan proporsi gambar yang akan kamu lukis.

    4. Pilih Media Lukis

    Pilihlah media lukis sesuai kebutuhan. Setiap media memiliki karakteristik berbeda, misalnya cat minyak yang lebih berat dan berani, cat air yang transparan, atau cat akrilik yang cepat kering.

    5. Tentukan Teknik Melukis

    Tentukan teknik melukis yang akan kamu gunakan. Beberapa teknik yang umum digunakan antara lain:

    • Basah-ke-Basah (Wet-on-Wet): Menerapkan cat baru di atas cat yang masih basah, menciptakan percampuran warna yang halus dan aliran yang menarik.
    • Basah-ke-Kering (Wet-on-Dry): Menerapkan cat pada permukaan kering, menghasilkan lapisan yang lebih tajam dan terperinci.
    • Glazing: Menerapkan lapisan tipis cat transparan di atas lapisan cat yang sudah kering untuk menciptakan efek mendalam dan warna yang kompleks.

    6. Pilih Warna

    Jika menggunakan cat, pilih palet warna yang sesuai dengan objek atau tema gambar. Eksperimen dengan perpaduan warna untuk mencari kombinasi yang tepat.

    7. Mulai Melukis

    Mulailah melukis dari latar belakang ke depan, yaitu dari bagian yang paling jauh hingga bagian yang paling dekat dengan penonton. Hal ini membantu menciptakan ilusi kedalaman dalam lukisan.

    8. Gunakan Lapisan

    Jika menggunakan cat, gunakan teknik lapisan untuk mencapai hasil yang lebih baik.

    Mulailah dengan lapisan dasar, lalu tambahkan lapisan-lapisan berikutnya untuk menambah dimensi dan detail pada lukisan.

    9. Bermain dengan Tekstur

    Eksperimenlah dengan berbagai teknik untuk menciptakan efek tekstur pada lukisan. Kamu bisa menggunakan kuas, palet pisau, spons, atau benda lainnya untuk mencapai hasil yang berbeda-beda.

    10. Periksa dan Koreksi

    Selama proses melukis, periksa secara berkala untuk memastikan proporsi, komposisi, dan detail gambar sesuai dengan yang diinginkan. Jika diperlukan, lakukan koreksi dengan hati-hati.

    11. Selesaikan Lukisan

    Setelah merasa puas dengan hasilnya, selesaikan lukisanmu dengan tanda tangan di sudut atau bagian bawah gambar.

    12. Proteksi Lukisan

    Jika menggunakan cat minyak, biarkan lukisan mengering selama beberapa waktu, kemudian proteksi dengan lapisan vernis untuk melindungi dan memberikan kilau pada lukisan.

    13. Praktik dan Eksplorasi Lebih Lanjut

    Latihan dan praktek teratur akan membantumu mengasah keterampilan melukis. Selain itu, jangan ragu untuk bereksperimen dengan teknik, gaya, dan media yang berbeda-beda.

    Nah, itulah beberapa tahapan dan langkah-langkah yang dapat kamu terapkan untuk belajar melukis di rumah.

    Semoga bermanfaat, jangan lupa baca artikel menarik lainnya di sastrawacana.id/.

  • Apa Itu Ilustrasi? Simak Pengertian, Ciri, Fungsi, dan Cara Membuatnya

    Ilustrasi merupakan salah satu bentuk seni gambar yang populer dan sering kita jumpai dalam berbagai media, seperti buku, majalah, kartu pos, dan situs web.

    Sebagai bentuk seni, ilustrasi memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan atau cerita secara visual.

    Nah, pada artikel ini sastrawacana.id/ akan memberikan informasi lengkap tentang ilustrasi, mulai dari pengertian, fungsi, dan cara membuatnya, Yuk Disimak!

    Apa Itu Ilustrasi?

    Ilustrasi adalah seni menggambar atau melukis gambar dengan tujuan untuk memperjelas, menyempurnakan, atau memvisualisasikan suatu konsep, cerita, atau pesan.

    Gambar-gambar ini dapat berupa karakter, objek, atau pemandangan yang menyampaikan informasi dengan cara yang mudah dipahami oleh penonton.

    Biasanya, ilustrasi digunakan untuk mendukung teks atau narasi, sehingga membantu memperjelas dan memperkaya isi dari suatu media.

    Sementara menurut KBBI, arti ilustrasi adalah gambar (foto, lukisan) untuk membantu memperjelas isi buku, karangan, dan sebagainya.

    Ciri Khas Ilustrasi

    Ilustrasi memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari seni gambar lainnya, antara lain:

    1. Fungsionalitas

    Ilustrasi diciptakan untuk tujuan tertentu, seperti mendukung cerita, memberikan gambaran produk, atau menyampaikan pesan spesifik.

    Selain itu, ilustrasi juga berfungsi sebagai alat komunikasi visual yang dapat diandalkan untuk menyampaikan ide dan konsep.

    2. Sederhana dan Ekspresif

    Ilustrasi sering kali menggunakan gaya yang sederhana dan mudah dipahami, dengan garis dan bentuk yang jelas.

    Dengan demikian, dapat menyampaikan pesan secara langsung tanpa perlu interpretasi yang rumit.

    3. Beragam Gaya

    Ilustrasi dapat dihasilkan dalam beragam gaya, mulai dari yang realistis hingga yang abstrak, dari yang kartun hingga yang serius.

    Setiap gaya memiliki daya tariknya sendiri, tergantung pada tujuan dan audiens yang dituju.

    4. Cerita atau Narasi

    Ilustrasi sering kali bercerita atau menggambarkan suatu adegan yang berhubungan dengan cerita atau narasi tertentu.

    Sehingga dapat membantu membawa penonton masuk ke dalam dunia imajinatif yang dirancang oleh ilustrator.

    5. Fleksibel

    Ilustrasi dapat dihasilkan menggunakan berbagai media, seperti pensil, tinta, cat air, cat minyak, atau bahkan secara digital dengan bantuan komputer dan tablet grafis.

    Fungsi Ilustrasi

    Ilustrasi memainkan peran penting dalam masyarakat, terutama dalam konteks komunikasi visual. Berikut adalah beberapa fungsi utamanya:

    1. Pendukung Teks

    Ilustrasi membantu memperjelas teks atau cerita, sehingga membantu pembaca atau penonton memahami isi dengan lebih baik.

    Dalam buku anak-anak misalnya, ilustrasi dapat membuat cerita lebih menarik bagi pembaca muda.

    2. Pemasaran dan Iklan

    Dalam dunia pemasaran, ilustrasi digunakan untuk mempromosikan produk atau layanan. Bentuknya bisa berupa iklan cetak, poster, brosur, atau konten digital untuk media sosial.

    3. Kartu Ucapan dan Desain Produk

    Ilustrasi juga digunakan dalam pembuatan kartu ucapan, kalender, hingga desain produk seperti kemasan makanan atau mainan.

    4. Media Digital dan Permainan

    Dalam industri game dan media digital, ilustrasi menjadi bagian penting dalam pengembangan karakter, lingkungan, dan elemen visual lainnya.

    5. Komunikasi Pendidikan

    Dalam dunia pendidikan, ilustrasi digunakan untuk membuat buku-buku pelajaran yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa.

    Cara Membuat Ilustrasi

    Membuat ilustrasi tidak selalu harus dilakukan oleh seniman atau ilustrator profesional.

    Beberapa langkah sederhana untuk membuat ilustrasi adalah sebagai berikut:

    1. Penentuan Tujuan

    Tentukan tujuan dari ilustrasi yang akan kita buat. Apakah untuk mendukung cerita, mempromosikan produk, atau keperluan lainnya.

    2. Pilih Gaya dan Media

    Pilih gaya dan media yang sesuai dengan pesan yang ingin kita sampaikan. Apakah kita ingin ilustrasi terlihat realistis, kartun, atau mungkin lebih abstrak?

    3. Buat Sketsa

    Buatlah sketsa terlebih dahulu sebelum menggambar secara keseluruhan.

    Sketsa membantu kita menentukan komposisi gambar dan memastikan elemen-elemen utama sudah sesuai dengan harapan.

    4. Tentukan Warna

    Jika ilustrasi akan diwarnai, tentukan palet warna yang akan digunakan. Pertimbangkan suasana atau emosi yang ingin ditampilkan oleh ilustrasi.

    5. Buat Ilustrasi Utuh

    Setelah sketsa dan warna ditentukan, buatlah ilustrasi secara keseluruhan dengan seksama dan detail.

    6. Digitalisasi (Opsional)

    Jika kita membuat ilustrasi tradisional, makab isa mendigitalkannya dengan mengambil foto atau menggunakan scanner.

    Jika menggunakan media digital, kita bisa langsung membuatnya di perangkat digital.

  • 15 Pengertian Seni Tari Menurut Para Ahli

    Seni tari adalah bentuk ekspresi artistik yang melibatkan gerakan tubuh yang diatur dengan ritme, musik, dan ekspresi emosi.

    Tarian telah ada sejak zaman kuno dan menjadi bagian penting dari budaya di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

    Di Indonesia, seni tari memiliki keanekaragaman yang kaya dan beragam, dengan berbagai gaya dan jenis tarian yang berasal dari setiap daerah dan suku bangsa.

    Setiap tarian memiliki cerita, makna, dan simbolisme yang unik.

    Pengertian Seni Tari Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian seni tari menurut para ahli.

    1. Kuswarsantyo (2012: 17)

    Seni tari adalah salah satu cabang seni yang dalam ungkapannya menggunakan bahasa gerak tubuh.

    2. Suryadiningrat dalam (Mulyani, N., 2016: 49)

    Tari adalah gerak dari seluruh anggota tubuh manusia yang disusun selaras dengan irama musik, serta mempunyai maksud tertentu.

    3. Sekarningsih dan Henny (2006: 4)

    Menjelaskan pengertian tari adalah alat ekspresi atau sarana komunikasi seorang seniman kepada orang lain (penonton/ penikmat).

    4. Bagong Kussudiardjo dalam (Apriliani, F., 2014: 3)

    Definisi tari adalah keindahan bentuk dari anggota badan manusia yang bergerak, berirama musik dan berjiwa yang harmonis.

    5. Jazuli (2008: 7)

    Tari merupakan bentuk gerak yang indah, lahir dari tubuh yang bergerak, berirama dan berjiwa sesuai dengan maksud dan tujuan tari.

    6. Salim (2008: 27)

    Tari merupakan sebuah aktivitas alamiah dari berbagai bentuk yang telah berkembang di dunia bergantung pada pola budaya dan ritual.

    7. Pekerti (2014: 7.3)

    Pengertian tari merupakan wujud ekspresi pikiran, kehendak, perasaan, dan pengalaman manusia yang cirinya menggunakan media gerak.

    8. Soedarsono (1984:3)

    Mengatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang dituangkan melalui gerak yang ritmis dan indah.

    9. Yulianti (2009:11)

    Seni tari memiliki empat unsur utama keindahan, yaitu wiraga,wirama, wirasa, wirupa. Keempat unsur seni tersebut merupakan satu ikatan yang membentuk harmoni.

    10. Corrie Hartong

    Tari adalah gerak ritmis dari tubuh sebagai media di dalam ruang.

    11. Sedyawati (1986:3)

    Tari adalah salah satu pernyataan budaya. Oleh karena itu maka sifat, gaya dan fungsi tari selalu tak dapat dilepaskan dari kebudayaan yang menghasilkannya.

    12. Amir rochyatmo (1986:73)

    Tari adalah gerak ritmis yang indah sebagai ekspresi jiwa manusia, dengan memperhatikan unsur ruang dan waktu.

    13. Curt Sach

    Menyatakan bahwa tari adalah gerakan yang ritmis (Dance is rhythmich motion), pengertian ini mengisyaratkan bahwa gerakan itu lebih besar berkaitan dengan pola waktunya sebagai sebuah proses.

    14. Dr. J. Verkuyl

    Tari adalah gerak-gerak tubuh dan angota-anggotanya yang diatur sedemikian rupa sehingga berirama.

    15. Crawiey

    Tari adalah pernyataan gaya interaktif dari urat mengenai sesuatu perasaan.

  • 7 Perbedaan Drama dan Teater, Serupa Tapi Tak Sama

    Drama dan teater adalah dua seni peran yang sama-sama menghibur serta cenderung memiliki nilai moral dalam praktiknya.

    Lantas, keduanya juga berisi obrolan-obrolan yang kemudian diperagakan oleh pemeran atau aktor.

    Maka, secara umum sebenarnya drama dan teater memiliki kesamaan serta keterkaitan antara satu dengan lain.

    Sehingga, tak sedikit orang yang menganggap keduanya sama saja, meski sebenarnya ada beberapa perbedaan.

    Perbedaan Drama dan Teater

    Lantas, apa saja perbedaan drama dan teater? Berikut diantaranya.

    1. Berbeda dari Segi Istilah

    Secara istilah, keduanya tentu berbeda. Drama berasal dari bahasa Bahasa Yunani yaitu dramoai yang artinya menyampaikan.

    Sementara istilah teater berasal dari Bahasa Yunani yaitu theatron yang artinya tempat melihat.

    Sementara menurut KBBI, arti drama adalah cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater.

    Sedangkan arti teater adalah gedung atau ruangan tempat pertunjukan film, sandiwara, dan sebagainya.

    2. Berbeda pada Konteks Kisah

    Melihat kedua perbedaan istilah di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

    Drama adalah pertunjukan seni gerak untuk menyampaikan kisah yang berisi dialog berdasarkan naskah.

    Sementara teater lebih luas, dimana pertunjukannya tidak selalu berdasarkan naskah dan didukung oleh beragam alat, seperti dekor, musik, dan sebagainya.

    3. Berbeda dalam Segi Cerita

    Kemudian, perbedaan teater dan drama juga bisa dilihat dari segi ceritanya.

    Teater umumnya mengangkat cerita yang bersumber dari cerita rakyat maupun cerita yang sudah pernah digarap sebelumnya.

    Sementara drama mengangkat cerita yang bersumber dari kehidupan sehari-hari.

    4. Berbeda dalam Alur Cerita

    Dalam pementasan drama, ada runtutan peristiwa yang jelas seperti konflik, klimaks, dan penyelesaian.

    Sementara dalam teater, biasanya cenderung tidak menampilkan konflik, klimaks, dan penyelesaian karena bentuknya hanya pementasan saja.

    5. Berbeda Tempat Pementasan

    Drama tidak harus dipentaskan di atas panggung, tapi juga bisa dalam kehidupan sehari-hari dan tempat lainnya.

    Sementara teater harus dipentaskan di atas panggung saja.

    6. Berbeda Interpretasi

    Dalam pementasan drama, interpretasi kisah yang diperagakan bergantung pada penafsiran audiens.

    Sedangkan dalam teater, interpretasi kisahnya ditentukan oleh penafsiran dari pemain.

    7. Berbeda Cara Menikmati

    Dalam adegan drama, penonton cenderung diajak untuk merasakan kisah yang sedang diperagakan oleh pemain.

    Sementara dalam adegan teater, penonton cenderung hanya menyaksikan serta menikmati kisah yang diperagakan.

    Nah, itulah beberapa perbedaan drama dan teater yang perlu diketahui. Jangan lupa baca artikel lainnya di sastrawacana.id/.