Tag: singojuruh

  • Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tetap teguh menjaga tradisi leluhur melalui ritual adat Kebo-Keboan.

    Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, ikhtiar, dan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, serta hasil panen yang melimpah.

    Ketua Lembaga Adat Kebo-Keboan Alas Malang sekaligus Ketua Panitia Kebo-Keboan 2026, Doni Agus Ferdianto, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari sebuah peristiwa pagebluk yang pernah melanda desa pada masa lampau.

    Wabah penyakit saat itu menyebar begitu cepat hingga merenggut banyak nyawa warga.

    “Konon, pada masa itu seseorang yang pagi hari jatuh sakit, sore harinya sudah meninggal. Dalam kondisi tersebut, Buyut Karti melakukan semedi di Watu Loso sebagai ikhtiar memohon kepada Tuhan agar pagebluk segera berakhir,” ujar Doni.

    Dari peristiwa itulah kemudian lahir ritual Kebo-Keboan yang terus dilaksanakan hingga kini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah, diberi keselamatan, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan dan pertanian.

    Kerbau dipilih sebagai simbol utama dalam ritual ini karena memiliki kedekatan yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris.

    Hewan tersebut dikenal kuat, tangguh, dan menjadi sahabat petani dalam mengolah sawah sejak dahulu.

    Selain itu, dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat, Danyang Watu Loso digambarkan sebagai sosok berbadan manusia berkepala kerbau yang dipercaya menjaga wilayah Alas Malang.

    Rangkaian ritual Kebo-Keboan dimulai sejak malam 1 Suro dengan menggelar selametan di Watu Loso, tempat yang diyakini sebagai lokasi Buyut Karti memperoleh petunjuk untuk mengakhiri pagebluk.

    Memasuki H-7, warga bergotong royong mendirikan Gapura Poro Bungkil yang kemudian dihiasi berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.

    Pada H-3, panitia bersama masyarakat mengadakan santunan kepada anak-anak yatim yang diawali dengan pawai obor.

    Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus doa agar seluruh rangkaian ritual berlangsung dengan penuh keberkahan.

    Dua hari menjelang puncak acara, masyarakat kembali bergotong royong menghias gapura menggunakan beragam hasil pertanian, mulai dari padi, jagung, buah-buahan, hingga aneka sayuran yang menjadi hasil unggulan Desa Alas Malang.

    Sehari sebelum prosesi utama, warga mengikuti tasyakuran bersama yang digelar di sepanjang jalan dusun.

    Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika malam harinya, seusai salat Isya, masyarakat menanam berbagai jenis pohon di sepanjang jalan kampung sebagai simbol pelestarian alam dan harapan akan kehidupan yang terus tumbuh.

    Menjelang dini hari, para sesepuh adat melaksanakan ritual peletakan sesaji di empat batu yang dianggap sakral, yakni Watu Loso, Watu Nogo atau Watu Tumpeng, Watu Gajah, dan Watu Karangan.

    Keempat batu tersebut dipercaya telah ada sejak sebelum Desa Alas Malang berdiri dan diyakini menjadi penjaga Dusun Krajan dari berbagai ancaman maupun niat jahat.

    Ritual ini menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan para leluhur agar seluruh rangkaian Kebo-Keboan berjalan dengan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

    Lebih dari sekadar ritual adat, Kebo-Keboan juga menjadi ruang yang memperkuat solidaritas warga. Seluruh masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari membersihkan lingkungan, menghias kampung, menyiapkan perlengkapan ritual, hingga menyambut tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Semangat gotong royong tersebut menjadi nilai penting yang terus diwariskan kepada generasi muda.

    Di sisi lain, penyelenggaraan Kebo-Keboan turut memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

    Ribuan wisatawan yang hadir setiap tahun membawa berkah bagi para pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penjual hasil pertanian, hingga penyedia jasa parkir dan transportasi lokal.

    Perputaran ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan ritual menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga.

    Momentum ini juga menjadi panggung bagi para pelaku seni dan budaya lokal untuk menunjukkan kreativitasnya.

    Kelompok kesenian tradisional, penabuh gamelan, penari, pembuat properti adat, hingga para perajin lokal turut ambil bagian dalam menyukseskan rangkaian acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bagi masyarakat Desa Alas Malang, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual, gotong royong, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

    Melalui Kebo-Keboan, warisan budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempersatukan warga sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa.

  • Musyawarah Khusus Kelurahan Singotrunan, Warga Sepakat Bentuk Koperasi Merah Putih

    Musyawarah Khusus Kelurahan Singotrunan, Warga Sepakat Bentuk Koperasi Merah Putih

    Warga Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi, menggelar musyawarah kelurahan khusus pada hari Selasa (28/5) untuk membahas pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih.

    Kegiatan yang digelar di Pendopo Kelurahan Singotrunan dan dihadiri oleh berbagai pihak terkait, diantaranya Lurah Singotrunan, perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyuwangi, perwakilan dari Kecamatan Banyuwangi, Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat, sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, serta puluhan warga yang mewakili berbagai RW di wilayah kelurahan.

    Dalam sambutannya, Lurah Singotrunan, Kadarisman, menyampaikan bahwa pembentukan koperasi ini merupakan langkah strategis yang sangat penting untuk memperkuat struktur perekonomian masyarakat di tingkat kelurahan.

    Menurutnya, koperasi menjadi solusi konkret untuk menjawab tantangan ekonomi yang muncul pasca pandemi COVID-19, serta merupakan bagian dari upaya jangka panjang menuju kemandirian ekonomi warga.

    “Koperasi Kelurahan Merah Putih ini diharapkan menjadi wadah ekonomi kerakyatan yang dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel, serta mampu menampung berbagai kegiatan usaha masyarakat seperti simpan pinjam, perdagangan, dan layanan usaha kecil lainnya,” ujarnya.

    Sementara itu, perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyuwangi, Peni, menyatakan bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan penuh dalam proses legalisasi dan pembentukan koperasi hingga koperasi tersebut dapat beroperasi secara resmi dan optimal.

    Ia juga mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi aktif sebagai anggota koperasi agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara merata dan menyeluruh oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Dalam forum musyawarah yang berlangsung secara demokratis dan penuh semangat kekeluargaan tersebut, peserta secara mufakat menyetujui pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih.

    Mereka juga sepakat untuk segera membentuk struktur organisasi koperasi yang terdiri dari lima orang pengurus dan tiga orang dewan pengawas.

    Dewan pengawas ini dipilih dari perwakilan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang dianggap memiliki integritas dan kepedulian terhadap pembangunan ekonomi warga.

    Pengurus dan pengawas koperasi tersebut diberi mandat untuk segera menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) koperasi serta mempersiapkan seluruh dokumen yang diperlukan untuk pengajuan badan hukum koperasi.

    Sebagaimana diketahui, pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang bertujuan memperkuat basis ekonomi masyarakat di tingkat lokal dan mempercepat pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah Indonesia.

    Salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam musyawarah tersebut turut memberikan pandangan.

    Ia menekankan pentingnya penunjukan pengurus koperasi yang benar-benar kompeten, jujur, dan memiliki pengalaman di bidang usaha maupun dalam pengelolaan koperasi.

    Menurutnya, keberhasilan koperasi sangat bergantung pada kualitas dan integritas orang-orang yang menjalankannya.

    Dengan semangat gotong royong, kemandirian, dan komitmen bersama, warga Kelurahan Singotrunan optimistis bahwa pembentukan koperasi ini akan menjadi tonggak penting dalam pembangunan ekonomi lokal yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.