Tag: story

  • Ragamu Memang Pergi, tapi Kenanganmu Tertinggal di Sini

    Setiap manusia pasti akan mengalami yang namanya mati, ditipu pol*tisi, dan ditinggal pergi. Sekarang atau lusa, cepat atau lambat, kita akan ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayang.

    Begitu juga sebaliknya, kita pun akan pergi meninggalkan orang-orang yang sayang kepada kita. Semakin bertambah usia, seseorang harus siap dengan segala konsekuensi kehidupan. Semakin banyak bertemu, artinya semakin banyak pula perpisahan yang harus dilalui.

    Sebab pertemuan adalah awal dari perpisahan.

    Namun, perpisahan itu tidak selalu komplit. Yang terpisah hanyalah raga, tidak sepaket dengan kenangannya. Bisa jadi pikiran mencoba melupakan seseorang yang telah pergi, tapi bagaimana dengan indera yang lain?

    Kadang, kita mengendus aroma khas tertentu, kemudian ingat lagi dengan orang tersebut. Benar begitu? Berarti, kenangan tentang seseorang bisa menempel di sekujur badan kita.

    Artinya, kita tidak bisa lari dari kenangan dan cerita masa lalu. Cara paling mudah agar tidak tertanggu oleh selimut kenangan adalah melebur dengan kenangan itu sendiri.

    Terima saja, anggap itu bagian dari tubuh kita, meski tak rupa bentuknya. Sebab, apapun yang terjadi sudah ditentukan oleh kuasa-Nya, termasuk pertemuan dan perpisahan. Memang sulit, melebur dengan kenangan masa lalu. Tapi kamu bisa mempelajarinya dengan membaca buku Eunoia Sangkakala.

    Dalam buku itu, ada banyak puisi tentang kehidupan yang akan membuatmu lebih paham bagaimana cinta itu bekerja dan bagaimana semestinya cinta diletakkan.

    Semoga tulisan ini bermanfaat. Jangan lupa follow @sastrawacana untuk membaca story-story saya yg lainnya.

    Maulana Affandi, 11/06/2022

  • Sekolah Tinggi-Tinggi Kok Masih Nganggur?

    Pernah nggak sih kamu dengar ucapan seperti itu? Atau kamu sendiri pernah ngalamin? Gimana rasanya? Sakit hati, emosi, atau b aja?

    Ya emang bener, itu hak mereka untuk bicara apa saja. Toh, kita juga bisa berucap hal yang sama. Tapi, itulah beda kita dengan mereka. Kita tidak menggunakan kemampuan verbal untuk mengutarakan sesuatu yg sekiranya menyinggung orang lain.

    Eh, tapi kalau dipikir-pikir, apapun yang terucap, tentu berasal dari otak. Bukan begitu? Berarti ucapan kita, mencerminkan isi otak kita.

    Yang bahaya adalah ketika kita melawan ucapan tersebut dengan kalimat yang merendahkan juga. Kalau sampai terjadi, lantas apa bedanya kita dengan mereka?

    Jangan-jangan isi otak kepala kita sama juga, hanya dibedakan oleh surat legalitas bernama “IJAZAH” saja. Jangan sampai. Tapi bisa terjadi juga, sih.

    Lalu, kenapa tulisan ini ada?

    Karena saya pun korbannya 🙂

    Bahkan sampai sekarang, mereka masih sempat ada yang bilang demikian, saya dapat laporan dari cepu. Entah si cepu ini benar atau mengada-ada, saya gak begitu peduli. Saya belikan bakso, hitung-hitung mengganti energinya yg sudah lelah memberi informasi.

    Mungkin karena hidup saya lebih banyak di rumah pakai sarung, daripada berseragam necis yang setiap pagi keluar rumah, pulangnya sore–menjelang malam.

    Di era digital ini, masa sih masih ada orang yang nggak ngerti kalau kita bisa cari cuan cuma bermodalkan kuota? Saya rasa mayoritas udah pada paham. Cuma kalau udah nggak suka, mau gimanapun kita tetap salah di mata mereka.

    Alangkah bijaknya untuk tidak pernah menjawab, apalagi membalas. Dijelaskan juga tak perlu karena mereka tidak mau tahu. Ketika pikiran sudah dipenuhi rasa iri, tidak suka, atau bahkan benci, maka cerita tentang kebaikanmu hanyalah menjadi dongeng belaka bagi mereka.

    Sadar diri, apalah kita? Nabi Muhammad yang jelas-jelas sangat amat baik dan terpuji pun pernah mendapat sindiran serta cacian. Lalu kita yang nggak baik-baik amat masak minta terbebas dari omongan orang?

    Tapi balik lagi, hati kita tidak semulia Nabi, yang sabar dan penuh kasih sayang. Wajar jika kita sedikit merasa “kok gitu sih”. Ya, itu wajar, maka jadikan sebagai kewajaran.

    Artinya, terus melangkah, jangan lelah hanya karena omongan orang. Balasan terbaik kepada orang yang menggunjing adalah cuek. Biarkan dia fokus ke kita, sedangkan kita fokus pada cita-cita 🙂

    Maulana Affandi, 8/6/2022

    #maulanaaffandi #sastrawacana