Tag: surat resmi

  • Gambarkan struktur umum dari sebuah surat resmi dan jelaskan fungsi masing-masing bagian

    Gambarkan struktur umum dari sebuah surat resmi dan jelaskan fungsi masing-masing bagian

    Surat resmi adalah bentuk komunikasi tertulis yang digunakan oleh individu, lembaga, atau instansi untuk menyampaikan informasi secara formal.

    Surat resmi memiliki struktur yang baku dan sistematis. Setiap bagiannya memiliki fungsi tersendiri untuk menunjang kejelasan, kesopanan, dan efektivitas dalam penyampaian pesan.

    Berikut adalah struktur umum surat resmi beserta fungsi dari masing-masing bagian:

    1. Kop Surat (Kepala Surat)

    Kop surat berisi identitas instansi atau lembaga yang mengirim surat. Biasanya mencakup nama instansi, logo, alamat, nomor telepon, email, dan terkadang website.

    Fungsi dari kop adalah untuk memberi informasi identitas pengirim secara jelas dan menunjukkan bahwa surat bersifat resmi dan dapat dipertanggungjawabkan.

    2. Nomor Surat

    Nomor surat adalah kode unik dari surat yang mencerminkan urutan, jenis surat, dan identitas lembaga.

    Fungsinya sebagai referensi pengarsipan, memudahkan pencarian surat, dan menjadi bukti administratif yang sah dalam kegiatan surat-menyurat.

    3. Lampiran

    Bagian ini menunjukkan apakah surat dilengkapi dengan dokumen tambahan. Jika ada, dicantumkan jumlah lampirannya.

    Fungsinya untuk memberi informasi kepada penerima bahwa ada dokumen pendukung yang menyertai isi surat utama.

    4. Hal (Perihal)

    Merupakan ringkasan atau pokok isi surat. Biasanya hanya satu baris yang langsung menunjukkan maksud utama surat.

    Fungsinya untuk menyampaikan secara singkat tujuan dari surat agar penerima segera memahami konteksnya.

    5. Tanggal Surat

    Menunjukkan kapan surat ditulis atau dikeluarkan. Biasanya terletak di sisi kanan atas setelah kop surat.

    Fungsinya menjadi acuan waktu pengiriman dan digunakan untuk pengarsipan atau pelacakan surat.

    6. Alamat Tujuan

    Berisi nama dan jabatan penerima surat serta alamat instansi atau lembaga yang dituju.

    Fungsinya untuk menentukan secara spesifik siapa yang dituju agar tidak terjadi kekeliruan dalam penerimaan surat.

    7. Salam Pembuka

    Salam hormat yang digunakan untuk membuka komunikasi secara sopan. Biasanya berupa “Dengan hormat,”

    Fungsi salam pembuka adalah untuk menciptakan suasana sopan dan menghargai penerima surat sebelum masuk ke inti pembicaraan.

    8. Isi Surat

    Bagian inti dari surat resmi yang dibagi menjadi tiga bagian:

    • Pembuka: pengantar, latar belakang, atau maksud umum.
    • Isi pokok: inti informasi atau permohonan utama.
    • Penutup: harapan, ucapan terima kasih, atau kalimat penutup yang sopan.

    Fungsi dari isi surat adalah menyampaikan pesan utama dari pengirim dengan struktur yang jelas dan logis.

    9. Salam Penutup

    Ucapan penutup yang bersifat formal, seperti “Hormat kami,” atau “Demikian, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.”

    Fungsinya sebagai penutup surat dengan sopan dan menjaga etika komunikasi resmi.

    10. Nama dan Tanda Tangan Pengirim

    Bagian ini berisi nama lengkap, jabatan, dan tanda tangan dari orang yang bertanggung jawab atas surat tersebut.

    Fungsinya memberikan keabsahan surat dan menunjukkan siapa yang berwenang dalam komunikasi tersebut.

    11. Tembusan (jika ada)

    Berisi informasi pihak lain yang juga menerima salinan surat tersebut. Fungsinya untuk menyampaikan informasi kepada pihak terkait lainnya agar mengetahui isi surat.

  • Jelaskan Perbedaan Antara Salam Pembuka dan Salam Penutup dalam Surat Resmi

    Jelaskan Perbedaan Antara Salam Pembuka dan Salam Penutup dalam Surat Resmi

    Dalam penulisan surat resmi, struktur dan tata bahasa memiliki peranan penting untuk menunjukkan profesionalitas dan kesantunan komunikasi.

    Salah satu unsur penting dalam surat resmi adalah adanya salam pembuka dan salam penutup.

    Keduanya sama-sama berfungsi sebagai bentuk penghormatan dan kesopanan, namun memiliki perbedaan yang sangat jelas baik dari segi letak, fungsi, maupun bentuk penyampaiannya.

    Salam pembuka merupakan bagian awal dari isi surat resmi yang biasanya ditulis setelah bagian “perihal” dan “alamat tujuan”, atau sebelum isi utama surat dimulai.

    Fungsinya adalah untuk membuka komunikasi secara santun dan membangun suasana yang positif antara pengirim dan penerima surat. Dalam surat resmi, salam pembuka yang umum digunakan adalah “Dengan hormat,”.

    Kalimat ini menjadi standar dalam hampir semua surat resmi yang dikirimkan kepada perseorangan, instansi, ataupun pejabat.

    Selain “Dengan hormat”, salam pembuka juga bisa didahului dengan frasa seperti “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” dalam konteks formal keagamaan, namun tetap harus diikuti dengan “Dengan hormat,” sebagai standar netral dan formal.

    Penggunaan salam pembuka sangat penting karena menunjukkan bahwa penulis surat menghargai penerima dan mengawali isi surat dengan etika.

    Tanpa salam pembuka, surat dapat terkesan terlalu langsung atau bahkan tidak sopan, terutama dalam budaya birokrasi Indonesia yang menjunjung tinggi tata krama komunikasi formal.

    Sementara itu, salam penutup berada di bagian akhir surat, tepat sebelum nama dan tanda tangan pengirim.

    Fungsinya adalah untuk menutup surat dengan kesan hormat dan ramah, serta menjadi bentuk akhir dari komunikasi tertulis. Salam penutup umum yang digunakan antara lain: “Hormat kami,”, “Dengan hormat,”, atau “Atas perhatian Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.”

    Penggunaan salam penutup bertujuan untuk mengakhiri surat dengan sopan dan menjaga hubungan baik antara kedua belah pihak.

    Biasanya, salam penutup juga mencerminkan sikap rendah hati dan apresiasi kepada penerima surat karena telah meluangkan waktu membaca dan mempertimbangkan isi surat yang disampaikan.

    Perbedaan utama antara salam pembuka dan salam penutup terletak pada posisi dan tujuan penggunaannya.

    Salam pembuka ditujukan untuk memulai komunikasi dan menciptakan nuansa sopan sejak awal, sedangkan salam penutup digunakan untuk menutup komunikasi dengan kesan positif dan menjaga etika komunikasi sampai akhir.

    Bentuk bahasanya pun berbeda; salam pembuka cenderung singkat dan langsung, sedangkan salam penutup kadang disertai ungkapan terima kasih atau harapan.

    Dalam konteks administrasi dan kelembagaan, penggunaan salam pembuka dan penutup secara tepat juga menunjukkan kompetensi penulis surat.

    Surat yang ditulis dengan struktur yang lengkap dan salam yang sesuai akan lebih dihargai, serta memberikan kesan profesional.

    Oleh karena itu, memahami perbedaan dan penggunaan kedua salam ini sangat penting dalam praktik penulisan surat resmi yang baik dan benar.

  • Apa yang Dimaksud dengan Lampiran dalam Surat Resmi?

    Apa yang Dimaksud dengan Lampiran dalam Surat Resmi?

    Dalam dunia surat-menyurat resmi, dikenal beberapa unsur penting yang membentuk keseluruhan struktur surat agar mudah dipahami dan diproses dengan baik.

    Salah satu unsur tersebut adalah lampiran. Secara sederhana, lampiran dalam surat resmi adalah dokumen tambahan atau pelengkap yang disertakan bersama isi surat utama untuk memberikan informasi tambahan, mendukung keterangan, atau memperjelas maksud dari isi surat tersebut.

    Lampiran tidak selalu ada dalam setiap surat, tetapi keberadaannya sangat penting ketika isi surat memerlukan bukti, penjelasan tambahan, data pendukung, atau dokumen resmi lain yang berkaitan langsung dengan pokok isi surat.

    Lampiran bisa berbentuk berbagai jenis dokumen, seperti fotokopi identitas, daftar hadir, laporan kegiatan, foto dokumentasi, rincian anggaran, proposal, atau bahkan surat-surat lainnya.

    Misalnya, dalam surat permohonan kerja, biasanya terdapat lampiran berupa fotokopi ijazah, sertifikat, dan curriculum vitae.

    Begitu pula dalam surat pengajuan kegiatan kepada instansi tertentu, biasanya disertai dengan proposal dan rundown acara.

    Lampiran menjadi bagian tak terpisahkan dari surat, karena tanpa dokumen pendukung ini, surat utama bisa terasa kurang kuat atau kurang meyakinkan.

    Bahkan dalam banyak kasus, pihak penerima surat justru lebih memperhatikan isi lampiran untuk menilai validitas atau kelayakan isi surat utama.

    Dalam format penulisan surat resmi, keterangan tentang lampiran biasanya dicantumkan di bagian atas surat, tepatnya setelah nomor dan hal (perihal).

    Penulis akan menuliskan kata “Lampiran” diikuti dengan jumlah dokumen yang dilampirkan, misalnya “Lampiran: 3 (tiga) berkas” atau “Lampiran: Satu berkas proposal kegiatan”.

    Penulisan jumlah berkas bisa ditulis dalam angka dan kata untuk memperjelas, serta menghindari kesalahan persepsi.

    Lampiran-lampiran tersebut biasanya disusun rapi dan dijilid atau distaples bersama surat utama, atau dimasukkan dalam satu amplop atau map jika dikirim dalam bentuk fisik.

    Dalam konteks pengiriman digital atau melalui email, lampiran bisa berupa file dalam format PDF, Word, Excel, gambar, atau format digital lainnya yang diunggah bersama surat resmi utama.

    Meski cara pengirimannya berbeda dari surat fisik, fungsi dan tujuan lampiran tetap sama, yaitu memberikan dukungan informasi tambahan bagi surat yang dikirimkan.

    Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa file lampiran dapat dibuka dengan mudah, memiliki nama file yang jelas, dan relevan dengan isi surat.

    Meskipun terkesan sebagai pelengkap, lampiran justru menjadi bagian vital dalam komunikasi resmi.

    Lampiran menjadi bukti otentik yang memperkuat pernyataan dalam surat, sehingga bisa memengaruhi keputusan dari pihak penerima surat.

    Surat yang baik bukan hanya memiliki isi yang jelas, tetapi juga dilengkapi dengan lampiran yang relevan dan tersusun rapi.

    Dalam dunia administrasi, ketelitian menyusun lampiran bisa mencerminkan profesionalitas pengirim surat.

    Maka dari itu, setiap kali kita membuat surat resmi, penting untuk memperhatikan apakah perlu ada lampiran yang menyertainya, dan jika iya, pastikan lampiran tersebut tersusun dengan jelas dan lengkap.

  • 5 Alasan Mengapa Penting untuk Mencantumkan Nomor Surat dalam Surat Resmi

    5 Alasan Mengapa Penting untuk Mencantumkan Nomor Surat dalam Surat Resmi

    Dalam dunia administrasi dan komunikasi formal, surat resmi memegang peranan penting sebagai alat dokumentasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan.

    Salah satu elemen yang tidak boleh dilewatkan dalam surat resmi adalah nomor surat.

    Meskipun tampak seperti bagian kecil dari keseluruhan dokumen, nomor surat memiliki fungsi yang sangat vital dalam tata kelola administrasi, baik di lingkungan pemerintahan, pendidikan, bisnis, maupun organisasi sosial.

    Untuk memahami lebih dalam, mari kita telusuri berbagai alasan mengapa nomor surat wajib dicantumkan dalam setiap surat resmi.

    1. Sebagai Identitas Surat

    Nomor surat merupakan identitas unik bagi setiap dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu instansi atau organisasi.

    Setiap surat resmi yang keluar memiliki nomor yang berbeda, dan nomor ini bisa digunakan untuk membedakan satu surat dengan surat lainnya, meskipun isi surat hampir sama atau dikirim pada tanggal yang sama.

    Contohnya: Nomor: 013/SK/IV/2025.

    Nomor ini menunjukkan urutan ke-13 dari surat keputusan yang dikeluarkan pada bulan April 2025. Kombinasi angka dan huruf ini menjadi “sidik jari” surat tersebut.

    2. Memudahkan Pengarsipan dan Penelusuran Dokumen

    Dengan mencantumkan nomor surat, proses pengarsipan menjadi lebih sistematis dan efisien.

    Surat-surat resmi yang disimpan dalam arsip dapat diorganisasi berdasarkan urutan nomor surat, sehingga mudah ditelusuri saat dibutuhkan.

    Misalnya, jika suatu instansi ingin mencari surat tugas yang dikirim bulan lalu, mereka tinggal mencari folder surat bulan tersebut dan menyortirnya berdasarkan nomor.

    Tanpa nomor surat, pencarian akan menjadi rumit dan memakan waktu lama.

    3. Menunjukkan Profesionalisme dan Standar Administrasi

    Dalam lingkungan kerja yang profesional, pencantuman nomor surat merupakan standar administrasi yang mencerminkan kredibilitas suatu instansi.

    Surat resmi tanpa nomor bisa dianggap tidak sah atau tidak valid secara administratif.

    Bahkan, dalam beberapa kasus, surat tanpa nomor tidak akan diproses lebih lanjut karena dianggap tidak memenuhi kaidah surat-menyurat formal.

    Oleh karena itu, bagi lembaga pendidikan, instansi pemerintahan, hingga perusahaan swasta, mencantumkan nomor surat bukan hanya formalitas, tetapi juga bagian dari upaya menjaga integritas administrasi.

    4. Memudahkan Rujukan dan Balasan Surat

    Dalam komunikasi antarinstansi, sering kali surat yang dikirim akan mendapatkan balasan.

    Nah, nomor surat akan digunakan sebagai rujukan balasan surat. Dalam surat balasan, biasanya akan ditulis: “Menindaklanjuti surat Nomor: 013/SK/IV/2025 tentang…”

    Dengan adanya nomor tersebut, kedua belah pihak bisa merujuk dokumen yang sama tanpa terjadi kebingungan.

    Hal ini penting terutama dalam hubungan komunikasi yang panjang dan melibatkan banyak dokumen.

    5. Sebagai Bukti Legalitas dan Keabsahan

    Dalam beberapa kasus hukum atau audit, nomor surat menjadi alat bukti penting untuk menunjukkan bahwa sebuah dokumen memang dikeluarkan secara resmi oleh instansi terkait.

    Nomor surat yang tercatat dalam arsip bisa digunakan sebagai referensi untuk mengonfirmasi isi, waktu pengiriman, dan keabsahan surat tersebut.

    Misalnya, ketika sebuah surat keputusan dijadikan dasar dalam sebuah pengambilan tindakan hukum, nomor surat menjadi acuan utama untuk membuktikan bahwa surat itu benar-benar pernah dikeluarkan.

    6. Mendukung Transparansi dan Akuntabilitas

    Penomoran surat yang teratur dan terdokumentasi membantu instansi menjaga transparansi dan akuntabilitas.

    Setiap surat yang keluar dan masuk dapat dilacak dengan jelas, seperti kapan dikirim, siapa yang mengeluarkan, dan apa isinya yang sangat penting untuk menghindari manipulasi data atau pengeluaran surat palsu.

    Nah, Itulah mengapa nomor surat begitu penting dalam surat resmi. Meskipun terlihat sederhana, keberadaannya membantu banyak hal, mulai dari pengarsipan, pelacakan, sampai pembuktian legalitas.

    Tanpa nomor surat, sebuah dokumen bisa kehilangan identitasnya dan menyulitkan banyak proses administrasi.

  • Apa yang Dimaksud dengan Surat Pribadi dan Surat Resmi?

    Surat merupakan alat komunikasi tertulis yang telah lama digunakan untuk menyampaikan informasi, pesan, atau ungkapan kepada pihak lain.

    Dalam perkembangannya, surat dikategorikan menjadi dua jenis utama, yaitu surat pribadi dan surat resmi.

    1. Surat Pribadi

    Surat pribadi adalah jembatan komunikasi yang menghubungkan kita dengan orang-orang terkasih, mengantarkan pesan dan makna dengan cara yang personal dan mendalam.

    Di balik kesederhanaannya, surat pribadi menyimpan kekuatan untuk:

    • Mengungkapkan perasaan: Melalui goresan pena, kita dapat menuangkan isi hati yang terpendam, ungkapan cinta, kasih sayang, rasa rindu, atau bahkan kekecewaan dengan cara yang lebih personal dan mendalam dibandingkan komunikasi langsung.
    • Menjalin hubungan: Surat pribadi menjadi benang merah yang mempererat tali persahabatan, kekeluargaan, atau hubungan romantis. Surat-surat yang terkirim dan terbalas menjadi pengingat bahwa kita tidak sendiri, dan selalu ada orang yang peduli dengan kita.
    • Berbagi cerita: Surat pribadi menjadi wadah untuk berbagi cerita, pengalaman hidup, suka dan duka, mimpi dan harapan. Melalui surat, kita dapat menjalin koneksi dengan orang lain yang memiliki kesamaan minat, pengalaman, atau perspektif.
    • Menyimpan kenangan: Surat-surat pribadi menjadi kapsul waktu yang menyimpan kenangan indah dan momen penting dalam hidup. Membaca kembali surat-surat lama bagaikan menjelajahi lorong waktu, mengenang kembali masa lalu dengan segala keindahan dan kesedihannya.

    Ciri-ciri Surat Pribadi:

    • Bahasa: Menggunakan bahasa yang santai, tidak resmi, dan sesuai dengan gaya bahasa penulis.
    • Format: Format surat pribadi lebih bebas dan tidak terikat aturan baku.
    • Isi: Isi surat pribadi biasanya berisi tentang kehidupan pribadi penulis, cerita sehari-hari, ungkapan perasaan, atau informasi ringan lainnya.
    • Contoh: Surat kabar, surat undangan ulang tahun, surat cinta.

    2. Surat Resmi

    Surat resmi adalah surat yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau maksud dalam konteks formal.

    Layaknya pakaian dinas yang melambangkan keseriusan, surat resmi hadir dengan struktur dan bahasa baku yang mencerminkan profesionalisme dan kredibilitas.

    Ciri-ciri utama surat resmi:

    • Bahasa: Menggunakan bahasa yang baku, resmi, sopan, dan mudah dipahami. Penulisan surat resmi harus menghindari bahasa yang ambigu, bertele-tele, dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
    • Format: Mengikuti format baku yang telah ditetapkan, dengan struktur yang jelas dan rapi. Hal ini meliputi penggunaan kop surat, nomor surat, perihal, alamat tujuan, isi surat, penutup surat, tanda tangan, dan stempel.
    • Isi: Harus jelas, ringkas, terstruktur, dan menyampaikan informasi atau maksud dengan tepat dan mudah dipahami. Hindari informasi yang tidak relevan dan bertele-tele.
    • Tujuan: Digunakan untuk berbagai keperluan formal, seperti surat lamaran kerja, surat undangan resmi, surat dinas, surat permohonan, surat pemberitahuan, surat edaran, dan lain sebagainya.

    Fungsi utama surat resmi:

    • Menyampaikan informasi: Digunakan untuk memberikan informasi kepada pihak lain, seperti pengumuman, undangan, pemberitahuan, atau instruksi.
    • Meminta informasi: Digunakan untuk meminta informasi kepada pihak lain, seperti surat permohonan, surat lamaran kerja, atau surat penelitian.
    • Membangun hubungan: Digunakan untuk membangun hubungan dan kerjasama antar instansi atau organisasi.
    • Menyelesaikan masalah: Digunakan untuk menyelesaikan masalah atau perselisihan antar pihak.
    • Dokumentasi: Digunakan sebagai bukti tertulis untuk mendokumentasikan suatu kegiatan atau peristiwa.

    Contoh surat resmi:

    • Surat lamaran kerja: Digunakan untuk melamar pekerjaan pada perusahaan atau instansi tertentu.
    • Surat undangan resmi: Digunakan untuk mengundang seseorang menghadiri acara resmi, seperti seminar, workshop, atau rapat.
    • Surat dinas: Digunakan untuk berkomunikasi antar instansi atau pejabat pemerintahan.
    • Surat permohonan: Digunakan untuk meminta sesuatu kepada pihak lain, seperti permohonan izin, bantuan, atau rekomendasi.
    • Surat pemberitahuan: Digunakan untuk memberitahukan sesuatu kepada pihak lain, seperti pemberitahuan perubahan alamat, perubahan kebijakan, atau pengumuman hasil seleksi.
    • Surat edaran: Digunakan untuk menyampaikan informasi kepada banyak orang sekaligus, seperti edaran tentang peraturan baru, kebijakan baru, atau informasi penting lainnya.
  • Surat Resmi: Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur, dan Contoh

    Surat Resmi: Pengertian, Ciri, Fungsi, Struktur, dan Contoh

    Pengertian Surat Resmi

    Surat resmi adalah surat yang dibuat oleh perseorangan, instansi, maupun organisasi tertentu, yang bersifat resmi dan ditulis dengan bahasa baku.

    Surat resmi ditulis berdasarkan kaidah serta aturan yang ditentukan, seperti strukturnya, penggunaan kata, isi yang lugas, serta ditulis sesuai keperluan.

    Ciri-Ciri Surat Resmi

    Berikut ini adalah ciri-ciri surat resemi, diantaranya:

    a. Menggunakan kop surat (intansi, lembaga, organisasi)

    Kop surat atau kepala surat adalah identitas dari instansi yang dilengkapi dengan logo, nama instansi, alamat, nomor telpon, email, fax, dan sebagainya.

    b. Menggunakan nomor surat

    Nomor Surat adalah nomor dokumentasi surat-surat yang dikeluarkan oleh suatu badan instansi, lembaga, maupun organisasi.

    Adapun fungsi nomor surat adalah sebagai berikut:

    – Untuk membagi penggolongan atau pengelompokan surat sesuai dengan jenis isi surat
    – Untuk memudahkan pencarian jika surat dibutuhkan
    – Untuk memudahkan penyimpanan administratif
    – Untuk memudahkan pengontrolan frekuensi pengiriman surat

    c. Ada lampiran dan perihal

    Lampiran disertakan jika ada, namun jika tidak ada cukup diberi tanda (-)

    d. Menggunakan salam pembuka dan penutup resmi,

    Salam pembuka dan penutup seperti: Hormat saya, Hormat kami, dan Assalamu’alaikum.

    e. Menggunakan Bahasa Baku

    Bahasa baku adalah ragam bahasa yang yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dengan mengacu pada Ejaan Bahasi Indonesia (EBI) serta Kamus Besar bahas Indonesia (KBBI).

    f. Membubuhkan cap atau stempel

    Cap atau stempel merupakan penguat dari tanda tangan suaru instansi tertentu atau perseorangan. Dibubuhkan diatas tanda tangan pengirim.

    g. Menggunakan format tulisan tertentu (Tidak bebas)

    Format tulisan telah ditentukan pada bagian-bagian surat resmi, jadi tidak asal menulissurat. Surat resmi merupakan surat yang terstruktur dengan format tertentu.

    Fungsi Surat Resmi

    Berikut ini adalah beberapa fungsi dari surat resmi, antara lain:

    1. Sarana berkomunikasi

    Surat digunakan sebagai alat komunikasi orang perorang maupun lembaga dengan lembaga tertentu. Surat resmi digunakan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain maupun kelompok secara resmi.

    2. Sebagai dokumen tertulis

    Surat merupakan bukti penting dalam kegiatan dinas, maupun kegiatan resmi lainnya..

    3. Pedoman Kerja

    Dengan adanya surat tersebut, hal – hal yang bersangkutan tentang pedoman kerja tertulis didalamnya.

    4. Menyampaikan pesan

    Melalui surat, maka pesan dari pembuat surat akan diterima oleh penerima surat.

    5. Sebagai keterangan

    Digunakan untuk menjelaskan keadaan atau keterangan tertentu oleh pengirim. Contohnya surat keterangan lulus, surat keterangan tidak mampu dan surat keterangan izin pendirian bangunan.

    6. Sebagai jaminan

    Surat juga berfungsi sebagai jaminan keamanan ataupun jaminan tertentu, untuk melindungi yang bersangkutan. Misalnya surat perjanjian digunakan sebagai jaminan tanggung jawab antara pihak satu dan yang lainnya.

    Struktur Surat Resmi

    Adapun struktur surat resmi adalah sebagai berikut.

    1. Kepala atau kop surat

    Dalam pembuatan surat resmi, kop surat harus disertakan karena kop surat merupakan identitas lembaga organisasi yang terdiri atas: Logo atau lambang lembaga atau instansi (jika ada), nama instansi, alamat instansi dan nomor telepon, fax atau email.

    2. Nomor surat

    Pada umumnya nomor surat berisi nomor urut, kode, bulan dan tahun pembuatan surat.

    3. Tanggal penulisan surat

    Penulisan tanggal ini bertujuan supaya penerima dapat mengetahui kapan surat ini dibuat serta mengetahui masa berlakunya surat tersebut.

    4. Lampiran yang disertakan

    Lampiran berfungsi untuk menunjukkan bahwa terdapat dokumen yang disertakan pada surat tersebut

    5. Perihal

    Menunjukkan kepada penerima mengenai pokok isi surat, dengan begitu penerima segera mengetahui tujuan surat tersebut.

    6. Alamat tujuan

    Hal yang paling penting dalam penulisan surat adalah kepada siapa surat tersebut ditujukan.

    ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS)
    SMAN 1 SURABAYA
    Jalan Surabaya Kota No 1
    081111111111/[email protected]
    ***************************************************************************

    No. : ….
    Lampiran : –
    Perihal : Undangan Rapat

    Yang terhormat,
    Pengurus OSIS SMAN 1 Surabaya
    Di tempat

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Sehubungan dengan akan dilaksanakannya kegiatan bakti sosial oleh OSIS SMAN 1 Surabaya, maka dengan ini kami mengundang seluruh pengurus OSIS SMAN 1 Surabaya untuk hadir pada acara rapat persiapan yang akan dilaksanakan pada :

    Hari, tanggal : Senin, 10 Oktober 2010
    Waktu : 10.00 – selesai
    Tempat : Ruang OSIS
    Agenda :
    1. Pembentukan Panitia Bakti Sosial
    2. Evaluasi Mingguan

    Demikian undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerja samanya kami ucapkan terima kasih.
    Wassalamualaikum Wr. Wb.

     

    Surabaya, 9 Oktober 2010
    Ketua OSIS Sekretaris
    Firdaus