Tag: syafaat

  • Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi
    Oleh: Syafaat

    Liga Puisi 4 yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi memang telah berakhir, namun gema dan napasnya belum benar-benar pergi. Ia masih berputar di udara seperti gema adzan di dada yang belum selesai berdzikir.

    Setiap kali kenangan itu disentuh, terdengar kembali suara-suara anak madrasah yang membaca puisi dengan wajah serius, suara yang mungkin sedikit gemetar, namun jujur. Suara yang tidak hanya mengucapkan kata, tetapi menyalakan lentera kecil di dalam dirinya sendiri.

    Dari empat kategori jenjang yang dilombakan, tiga juara pertama diraih oleh insan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, dan kategori guru.

    Tiga kemenangan itu seperti tiga bait dalam satu puisi panjang tentang kesabaran, bait pertama ketulusan, bait kedua keuletan, bait ketiga doa yang tak bersuara.

    Orang bisa menyebutnya keberuntungan, tetapi siapa pun yang memahami denyut hidup di madrasah akan tahu: ini bukan kebetulan.

    Ini buah dari kerja panjang yang senyap, dari peluh yang jatuh di antara dhuha dan ashar, dari latihan-latihan kecil yang tak pernah dimuat di berita, tapi menyimpan cahaya di baliknya, seperti lampu minyak yang terus menyala di tengah malam panjang.

    Madrasah adalah dunia kecil yang melatih kepekaan dengan cara paling sederhana. Di sana anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, melagukan Tilawah dengan suara yang bening, lalu tanpa sadar belajar pula membaca kehidupan dengan rasa yang halus.

    Dua tahun sekali mereka mengadakan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) hingga ke tingkat provinsi—dan membaca puisi selalu menjadi cabang lomba yang ditunggu, seperti zikir yang berubah rupa menjadi suara.

    Di madrasah, puisi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan pelengkap iman. Anak-anak membaca dan menulis tentang ibu yang tak pernah berhenti berdoa, tentang guru yang berjalan di bawah gerimis membawa spidol, tentang langit pagi yang disapa dengan salam dan harapan.

    Sering kali terlupa bahwa di balik seragam hijau tua itu, tersimpan anak-anak yang memendam mimpi menjadi penyair. Mereka mungkin tak memiliki banyak buku sastra, tetapi mereka punya guru yang mengajarkan makna kata ikhlas.

    Mungkin karena itu, setiap kali mereka membaca puisi, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, getar yang membuat penonton diam sejenak sebelum bertepuk tangan. Bukan karena kagum, tetapi karena terharu. Sebab yang berbicara di atas panggung bukan sekadar anak madrasah, melainkan hati yang sedang mencari cara untuk bersyukur.

    Kini banyak madrasah menggandeng pelatih profesional, bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena ingin belajar dari yang terbaik. Mereka tahu, membaca puisi bukan hanya tentang suara, tetapi tentang keberanian membuka hati.

    Di antara anak-anak itu, ada yang dulunya pemalu, tak berani bicara di depan kelas. Namun ketika diberi teks puisi dan diminta membaca, sesuatu di dalam dirinya menyala. Puisi memberi ruang untuk menjadi diri sendiri, memberi tempat bagi jiwa untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

    Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir semakin giat menumbuhkan gerakan literasi dan sastra. Guru-guru madrasah dan ASN membentuk komunitas, menerbitkan antologi, menulis di media.

    Sebagian dari mereka bahkan rutin mengadakan pelatihan menulis di sela jam mengajar, di antara azan dan ujian. Literasi di madrasah bukan sekadar program, melainkan jalan menuju empati; bukan lomba untuk menang, tetapi perjalanan menuju pencerahan.

    Entah dengan rahasia apa, madrasah selalu punya cara yang lembut namun dalam dalam menanak rasa. Kata-kata di sana tumbuh dari tanah yang disiram doa dan diterangi ayat.

    Saat para santri menulis, ada aroma kitab yang baru saja dibuka, wangi kertas, tinta, dan kesunyian yang penuh makna. Di antara diksi-diksi mereka tercium jejak sujud yang panjang, langkah kecil menuju pemahaman yang tak selalu perlu dijelaskan.

    Dan ketika mereka membaca, suara mereka datang dari ruang yang lebih jauh dari sekadar panggung, ada gema doa di setiap jeda, ada dzikir yang bersembunyi di antara tanda baca.

    Bahasa mereka mungkin belum semegah para penyair besar, tetapi kejujuran mereka berdenyut lebih hangat, lebih hidup—seperti embun yang tak tahu bahwa dirinya sedang memantulkan cahaya matahari. Sebab di madrasah, kata-kata tak pernah dikejar untuk dipuji, melainkan dijaga agar tetap suci.

    Di sana, kalimat lahir dari hati yang terbiasa tunduk pada makna, dan setiap makna adalah perjalanan pulang menuju Yang Maha Kata.

    Liga Puisi bukan sekadar ajang, melainkan cermin kecil dari apa yang telah mereka tanam bertahun-tahun. Kemenangan bukan tujuan utama, mereka datang bukan hanya untuk bersaing, tetapi untuk berbagi ruh.

    Ada murid MI yang membaca puisi tentang pendidikan dan kemiskinan, guru madrasah yang menulis tentang sunyi ruang kelas dan karut-marut nasib anak bangsa, siswi MTs yang suaranya nyaris pecah menahan tangis saat membaca tentang perjuangan orang tua. Tak satu pun dari itu dibuat-buat, semuanya lahir dari hati yang mengenal kehilangan dan doa.

    Layak diteladani, bagaimana mereka saling mendukung tanpa iri, tanpa ingin tampil paling indah. Di ruang lomba itu, terpantul semangat lama: bahwa puisi tidak dilahirkan dari kepandaian, melainkan dari kepedihan yang diterima dengan sabar.

    Dan barangkali di situlah madrasah menang, karena mereka telah terbiasa menulis dan membaca dengan kesabaran, seperti santri yang belajar menulis huruf arab satu demi satu hingga menjadi doa yang utuh.

    Madrasah, dengan segala kesederhanaannya, kini menjelma taman kata. Di sana, iman dan imajinasi saling berpelukan seperti dua sahabat lama yang tak pernah benar-benar berpisah. Anak-anak belajar shalawat sambil belajar metafora, menulis bukan untuk terkenal, melainkan agar langit mendengar.

    Setiap bait menjadi doa yang disusun dalam bentuk baru; setiap kata adalah zikir yang disampaikan dengan nada lembut. Suatu hari nanti, tak ada lagi yang heran melihat madrasah terus melahirkan penyair.

    Sebab di sana, puisi tak pernah diajarkan sebagai pelajaran, tetapi dihidupkan sebagai kehidupan. Membaca puisi menjadi cara lain untuk bersyukur, menulis puisi menjadi bentuk zikir yang paling sunyi.

    Dan ketika panggung Liga Puisi telah kosong, mikrofon dimatikan, para juri meninggalkan tepat, gema itu masih tinggal. Ia bergetar di dada para guru yang tersenyum bangga, berbisik di hati anak-anak yang malamnya masih mengulang bait-baitnya di depan cermin.

    Di dunia yang semakin bising ini, madrasah telah memberi satu anugerah paling berharga: kemampuan untuk mendengarkan suara hati sendiri, suara yang lirih namun abadi, yang kelak tumbuh menjadi puisi kehidupan itu sendiri.

    Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

  • Membaca Ulang Sastra Pesantren – Syafaat

    Membaca Ulang Sastra Pesantren – Syafaat

    Membaca Ulang Sastra Pesantren
    Oleh : Syafaat (Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)

    Tahun lalu, dalam perhelatan Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi, ada satu denyut yang menggugah kesadaran: denyut dari balik tembok pesantren.

    Dari ratusan puisi yang mengalir menuju meja panitia, banyak di antaranya lahir dari tangan-tangan santri, dari ruang-ruang sunyi Kementerian Agama dan pesantren yang tersebar dari Riau hingga Madura, dari Tapal Kuda hingga lereng-lereng pesantren tua di timur Jawa. Fenomena ini tentu bukan kebetulan.

    Ia seperti getar halus dari sejarah yang tengah menulis dirinya sendiri, bahwa pesantren kini sedang membuka babak baru dalam kesusastraan Indonesia.

    Dari balik dinding yang dulu hanya bergema lantunan kitab kuning, desiran syi’ir selepas adzan, kidung puji-pujian sebelum jamaah berkumpul untuk shalat, dan bisikan wirid Subuh yang merambat lembut di antara detik-detik pagi, kini mengalir pula sajak-sajak yang berbahasa Indonesia: puisi yang tetap berjiwa religius namun menatap dunia dengan mata kemanusiaan.

    Dan ketika Sastra Timur Jawa menggelar Temu Karya Serumpun 2025, gema itu kembali terdengar. Di antara halaman-halaman tebal antologi yang disusun dari penulis lintas negara, puisi-puisi santri turut menorehkan warna, lembut tapi teguh, sederhana namun memancarkan kedalaman batin.

    Sastra pesantren telah menjelma bukan hanya gema spiritual, tetapi juga pernyataan estetik: bahwa dari rahim kesunyian, lahir puisi yang membawa cahaya.

    Puisi di pesantren tumbuh dari keseharian yang sederhana, dari ketukan waktu yang diatur oleh adzan, dari denyut kehidupan asrama yang bersahaja, dari perenungan malam di serambi mushala yang remang. Puisi santri lahir bukan dari ruang akademik atau ruang baca yang tenang, tetapi dari ruang-ruang batin yang penuh dzikir dan kesunyian.

    Mereka menulis di antara waktu belajar Nahwu dan Shorof, di antara doa dan kerja bakti, di antara rindu dan kepatuhan.Karena itu, puisi-puisi mereka sering kali tidak berambisi menjadi “modern” atau “eksperimental” dalam pengertian estetika kota, tetapi jujur dan bersumber dari getaran iman yang paling dalam.

    Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru, tradisi puisi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan pesantren, bahkan sejak masa-masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Syi’ir-syi’ir berbahasa Arab dan Jawa dengan aksara Pegon digunakan sebagai media pengajaran dan dakwah.

    Nadzoman tentang akhlak, fiqih, dan tasawuf dilagukan dengan nada yang indah agar mudah dihafal. Para santri belajar ilmu sekaligus belajar estetika: bagaimana kata bisa menuntun hati, bagaimana irama bisa menjadi jalan menuju Tuhan. Dalam suasana seperti itulah lahir ungkapan terkenal bahwa “setiap ilmu yang tidak disertai adab adalah kegelapan, dan setiap kata tanpa niat adalah suara kosong.”

    Sastra pesantren, dalam beragam bentuknya, hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syi’ir, dan nadzoman, merupakan cermin dari upaya manusia pesantren memahami dunia. Ia lahir dari pergulatan antara teks dan konteks, antara tradisi keilmuan dan realitas sosial.

    Karya-karya ini dibacakan di surau, di langgar, di rumah-rumah kiai, dan di sela pengajian. Orang-orang tua dan muda mendengarkannya bersama, lalu menurunkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Karena itulah sastra pesantren memiliki sifat komunal, ia milik bersama, bukan milik individu semata.
    Berbicara tentang “sastra pesantren” berarti berbicara tentang kesadaran budaya yang tumbuh dari pengalaman religius. Ia bukan sekadar catatan kehidupan kaum santri, tetapi juga cermin dari subyektivitas kreatif mereka dalam menafsirkan dunia.

    Sejarah mencatat bahwa sejak abad ke-17, pesantren telah menjadi tempat persemaian para pujangga dan penulis. Yasadipura I (Raden Ngabehi Yasadipura I), Yasadipura II (Tumenggung Sastronagoro), dan Ranggawarsita yang hidup di Kasunanan Surakarta adalah contoh klasik: mereka pernah nyantri, menguasai bahasa Arab dan Jawa, dan menulis karya-karya besar yang menggabungkan hikmah spiritual dengan pengalaman sejarah bangsanya.

    Yasadipura I, misalnya, melalui karyanya Serat Cabolek, adalah sebuah cermin zaman — cermin yang merekam denyut ketegangan antara syariat dan makrifat, antara akal yang tunduk pada hukum dan hati yang mencari makna di balik hukum itu sendiri.

    Di dalamnya bergolak perdebatan antara Ketib Anom, sang penjaga kemurnian ajaran syariat, dengan Haji Mutamakkin, pengembara ruhani yang menapaki lorong-lorong mistik Jawa.

    Keduanya berhadap-hadapan di hadapan para ulama dan bangsawan Keraton Kartasura, di mana agama dan kekuasaan bersilang pandang, dan bahasa langit bernegosiasi dengan bahasa bumi.

    Melalui karya Yasadipura I, kisah itu menjelma bukan sekadar pertentangan dua tokoh, melainkan pertemuan dua arus besar peradaban: pesantren dan kraton, kitab dan kebudayaan, syariat dan rasa.

    Di sana, pesantren tampak tidak lagi semata sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi menjelma menjadi pusat kebudayaan jiwa Jawa — ruang di mana aksara berdoa, dan doa berubah menjadi aksara

    Dalam berbagai daerah Nusantara, karya-karya santri juga berkembang dalam bentuk lokalnya masing-masing.

    Di Jawa Barat muncul Tjarita Ibrahim dan Tjarita Nurulqamar; di pesisir Jawa Tengah hidup Serat Jatiswara dan Serat Centhini; di Sumatera terdapat Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura; bahkan di Sulawesi Selatan, kisah I La Galigo disisipkan unsur pesantren, ketika tokoh Sawerigading dalam versi santri digambarkan pergi menuntut ilmu ke Mekkah dan pulang mendirikan masjid.

    Proses penyisipan dan penyesuaian ini menunjukkan daya kreatif kaum pesantren dalam mentransformasikan kebudayaan lokal menjadi kebudayaan Islam Nusantara.

    Tradisi puisi dalam pesantren memiliki kekuatan spiritual yang khas. Ia tidak semata berbicara tentang cinta atau keindahan, tetapi juga tentang perjalanan jiwa. Dalam syi’ir-syi’ir pesantren, cinta selalu mengarah pada Tuhan, dan keindahan adalah cermin dari keagungan-Nya.

    Puisi menjadi alat tafakur, sarana tazkiyah (penyucian jiwa). Santri belajar menulis bukan untuk menjadi penyair besar, melainkan untuk memahami makna diri. Dan dalam keheningan malam, mereka melafalkan kata-kata yang seolah menembus batas antara manusia dan Tuhan.

    Puisi-puisi itu kini menemukan bentuk barunya. Para santri muda menulis di koran, di majalah sastra, dan di media sosial. Mereka menulis tentang kehidupan pesantren dengan bahasa yang segar, namun tetap membawa nilai-nilai keislaman dan etika sufistik.

    Karya-karya penyair seperti D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Ahmad Tohari menjadi bukti bahwa dunia pesantren masih memancarkan cahaya bagi kesusastraan Indonesia. Mereka membawa kesederhanaan hidup santri ke panggung nasional, tanpa kehilangan ruh spiritual yang membentuknya.

    Sebut saja dua puisi Acep Zamzam Noor dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan, dua puisi (Fajar bagi Kata-kata, dan Teluk Nipah) yang memantulkan aroma pesantren, serupa dupa yang menyala perlahan di ruang hati.

    Di antara bait-baitnya, tercium wangi kesunyian, getir pengalaman, dan cahaya makrifat yang menetes lembut dari langit penghayatan. Acep, penyair yang menempuh jalan sunyi antara sastra dan tasawuf, seolah menulis dengan tinta yang dicelup dari air wudhu.

    Puisinya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan dzikir yang berirama, doa yang disamarkan dalam keindahan metafora. Ketika ia hadir dalam Liga Puisi 2025 di Banyuwangi, suaranya bukan hanya membaca, ia menafsirkan diri sendiri.

    Setiap larik yang keluar dari bibirnya seperti menyentuh ruang batin para pendengar; menyapa yang jauh, memeluk yang luka, dan mengingatkan bahwa kata sejati selalu lahir dari jiwa yang bersujud.

    Juga KHR Ahmad Azzaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, turut menorehkan cahaya dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan.

    Puisinya yang berjudul “Allahumma Ampelkan Jiwa Raga” adalah napas panjang dari seorang salik yang berjalan di jalan sunyi menuju Yang Maha Cinta.

    Dalam larik-lariknya, kata tidak hanya menjadi bunyi, melainkan doa yang berdenyut, dzikir yang bergetar, dan cahaya yang menuntun jiwa. Puisi itu seolah lahir dari kedalaman malam di mana seorang kekasih berbicara diam-diam dengan Tuhannya.

    Aroma tasawuf begitu kental di dalamnya, seakan setiap kata telah dimandikan oleh air mata rindu yang tak pernah kering. Ia menulis bukan untuk memamerkan keindahan bahasa, melainkan untuk mengembalikan bahasa kepada asalnya: sebagai jalan pulang.

    Dan dari bait-bait itu, kita merasakan sesuatu yang melampaui wacana, semacam getar halus dari hati yang telah luluh di hadapan Sang Maha Segalanya.

    Dalam puisi Allahumma Ampelkan Jiwa Raga, kata “Ampelkan” bukan sekadar seruan, tetapi permohonan seorang hamba agar raganya pun berlabuh di pelukan Ilahi.

    Namun demikian, posisi sastra pesantren, termasuk puisi pesantren, masih berada di pinggiran dalam peta sastra Indonesia. Karya-karya mereka sering dianggap kurang “modern”, atau terlalu “moralistik”.

    Padahal, di tengah krisis spiritual masyarakat modern, suara-suara dari pesantren justru menawarkan keseimbangan. Mereka mengingatkan bahwa sastra bukan hanya permainan bentuk, tetapi juga laku batin; bukan hanya tentang estetika, tetapi juga etika; bukan sekadar tentang kata-kata, tetapi tentang kejujuran hati.

    Dalam pandangan ini, sastra pesantren bukan sekadar genre, melainkan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah, membaca adalah bagian dari tafakur, dan mendengar adalah bagian dari dzikir.

    Santri yang menulis puisi sesungguhnya sedang belajar memahami dirinya sendiri: bagaimana ia mencintai, bagaimana ia percaya, bagaimana ia berdoa. Dalam setiap bait puisi, selalu ada jejak sujud yang tak kelihatan.

    Di Banyuwangi, sastra pesantren tumbuh seperti pohon tua yang akarnya menembus masa lalu dan pucuknya menatap langit masa kini. Jejaknya kentara, berdenyut dalam nadi para santri dan insan Kementerian Agama yang menulis bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menyucikan ingatan.

    Sebut saja Shalawat Badar, yang ditulis oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun 60-an, sebuah kidung yang melampaui zaman, menjadi gema dari masa ketika puisi masih lahir dari sujud dan air mata.

    Dari tangan seorang abdi negara, lahirlah syair yang bukan sekadar karya sastra, melainkan dzikir yang berpakaian bahasa.

    Dan kini, denyut itu tak padam. Ia menjelma dalam diri Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi hari ini, yang sajak-sajaknya mengalir dengan aroma pesantren, lembut, teduh, dan sarat makna.

    Dalam setiap puisinya terasa desir angin serambi mushala, gema adzan di pagi buta, dan getar kesadaran bahwa kata hanyalah jembatan menuju Yang Maha Kata.

    Kini, ketika dunia semakin bising oleh kata-kata yang kehilangan makna, puisi pesantren hadir sebagai suara yang lembut namun tegas. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, tapi mengalir seperti air yang jernih, menyentuh yang mau disapa, dan menghidupkan yang haus akan makna.

    Dalam setiap puisinya, ada doa yang disamarkan, ada cinta yang disembunyikan, dan ada pengakuan kecil bahwa manusia selalu butuh Tuhan dalam setiap perjalanan menulisnya.

    Mungkin di situlah letak keabadian sastra pesantren: ia tidak mencari kemegahan, tapi ketulusan. Ia tidak mengejar abadi, tapi karena keikhlasanlah, ia bertahan dalam keabadian.

    Penulis adalah ASN/Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

  • Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan

    Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan

    Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan
    Syafaat (Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)

    Malam penutupan Festival Banyuwangi Tempo Dulu adalah malam yang penuh bayangan. Lampu-lampu panggung menyala seperti kunang-kunang yang terjebak di jaring raksasa, sementara angin dari Selat Bali membawa aroma laut yang samar-samar menyusup di antara kain batik Gajah Oling, kebaya, dan udeng yang dikenakan para penonton, orang-orang berdiri rapat, sebagian duduk di kursi undangan yang berjejer rapi, sebagian lagi bersila di tikar seadanya, dan sisanya sibuk mencari sudut paling pas untuk menyaksikan pertunjukan.

    Ada yang menyalakan kamera kecil, ada yang menempelkan mata ke layar telepon genggam, berharap gambar bergerak itu kelak bisa disimpan dan dibagikan ulang, tetapi ada juga yang sekadar duduk diam, memandang, membiarkan malam menanamkan dirinya ke dalam ingatan.

    Saya ada di sana, duduk di deretan undangan, di antara pejabat, seniman, dan warga yang datang dengan penuh rasa ingin tahu, saya merasa seperti sedang mencari sesuatu di bukan sekadar hiburan, saya ingin meraih sepotong makna dari panggung yang malam itu menampilkan tradisi pernikahan khas Banyuwangi: Mupus Braen Blambangan.

    Saya tidak pernah bisa menolak undangan yang berkaitan dengan tradisi, barangkali karena saya lahir di tanah ini, tanah yang penuh percampuran, tanah yang diceritakan leluhur dengan cara berlapis-lapis, ada sejarah migrasi, ada riwayat perdagangan, ada kisah pelayaran.

    Namun, di balik semua itu, selalu ada satu rasa yang menempel pada saya: rasa seperti orang asing di rumah sendiri.

    Saya teringat masa kecil, di sekolah dasar, teman-teman sering memanggil saya wong jowo kulon di sebutan itu terdengar sederhana, tetapi ia membawa garis pemisah yang tidak terlihat, saya bukan suku Osing di saya anak Jawa, lahir dari keluarga Mataraman yang datang dari barat, dari Tulungagung, Jogjakarta Kediri, atau mungkin lebih jauh lagi, kata itu melekat begitu lama, membuat saya sering merasa hanya sedang singgah, meski akte kelahiran saya jelas ditulis: lahir di Banyuwangi.

    Namun malam itu, ketika gamelan ditabuh dengan ritme yang memanggil, ketika pengantin Mupus Braen memasuki panggung dengan segala riasan penuh makna, saya merasa dipanggil pulang, seakan ada meja besar terbentang, meja warisan leluhur, tempat semua orang Banyuwangi boleh duduk: Osing, Jawa, Madura, Bali, Arab, Cina, Bugis, tidak ada lagi sekat, tidak ada lagi garis. Yang tersisa hanyalah rasa memiliki bersama, budaya ini milik kita, semua suku yang ada di bumi Blambangan.

    Dan cinta, rupanya, adalah bahasa yang membuat semua pintu terbuka, Mupus Braen. Saya baru benar-benar mengerti artinya malam itu, mupus berasal dari kata pupus, daun muda di pucuk pohon: rapuh, hijau, penuh harapan. Braen berarti indah, menawan, memesona, maka Mupus Braen adalah puncak merias diri, puncak keindahan, yang hanya dilakukan sekali seumur hidup: saat menikah.

    Pengantin di panggung malam itu mengenakan pakaian merah dan hitam, merah melambangkan keberanian menghadapi hidup rumah tangga. Hitam adalah doa agar langgeng sampai maut memisahkan.

    Di atas kepala, bunga melati putih disematkan sebagai lambang kesucian dan keharuman. Mahkota emas menambah agung, seolah cinta yang mereka bawa harus tegak berdiri di hadapan waktu.

    Saya tiba-tiba menyadari: riasan itu bukan kosmetik semata. Ia adalah kitab yang dibaca dengan mata. Merah, hitam, putih, emas, setiap warna adalah doa, setiap perhiasan adalah nasihat.

    Bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa. Ia butuh keberanian, ia butuh doa, ia butuh kesucian, ia butuh keagungan, dan saya berkhayal jika saya yang jadi mempelainya.

    Betapa kontras dengan cinta-cinta yang sering saya lihat di luar panggung: cinta yang tergesa, cinta yang tumbuh cepat lalu layu seketika, cinta yang berakhir bahkan sebelum sempat dirayakan. Mupus Braen mengajarkan hal sebaliknya, cinta adalah puncak yang dicapai lewat kesabaran.

    Ada aturan yang unik: Mupus Braen hanya untuk anak bungsu, saya bertanya dalam hati, mengapa demikian? Mengapa hanya bungsu yang berhak? Mengapa yang lain tidak?. Saya tidak menemukan jawabannya malam itu.

    Namun, semakin saya renungi, semakin saya merasa ada filosofi cinta di balik aturan itu. Anak bungsu adalah penutup sebuah garis, akhir dari sebuah generasi.

    Mungkin itu simbol bahwa cinta sejati adalah yang terakhir, yang mengikat sepenuhnya, yang bukan lagi permainan atau percobaan.

    Apakah itu berarti setiap orang memang ditakdirkan jatuh cinta berkali-kali, hingga menemukan yang terakhir? Saya tidak tahu. Tetapi saya tahu, di usia tertentu, cinta berhenti menjadi bunga liar yang bisa tumbuh di mana saja.

    Ia berubah menjadi pohon besar. Ia menuntut akar yang dalam. Ia memerlukan tanah subur, air, dan kesabaran yang panjang, selain riasan, tradisi ini juga membawa ubarampe: bantal, guling, tikar, ayam, telur, kelapa, kampil putih. Semua disertai doa. Semua membawa makna.

    Saya suka membayangkan cinta dengan cara yang sama. Cinta membutuhkan bantal untuk tempat beristirahat, guling untuk sandaran, tikar untuk alas kebersamaan, ayam dan telur untuk keberlangsungan hidup, kelapa untuk keteguhan, kampil putih untuk kesederhanaan, tidak ada cinta yang bertahan hanya dengan ciuman dan janji.

    Ia membutuhkan ubarampe sehari-hari: kesabaran, pengertian, pengorbanan, tawa, dan doa. Banyak orang ingin cinta yang indah, tetapi enggan mengumpulkan ubarampe itu. Padahal tanpa ubarampe, cinta hanya akan menjadi pesta semalam, lalu padam ketika lampu dipadamkan.

    Saya teringat sebuah doa Nabi Muhammad saw. dalam pernikahan: “Semoga Allah memberkahimu, memberkahi atasmu, dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.” Doa sederhana, tapi menyeluruh. Dan doa itu, barangkali, adalah ubarampe paling penting.

    Tuhan memahami semua bahasa, termasuk bahasa simbol. Tuhan tahu doa manusia meski tidak diucapkan dengan lisan. Doa bisa hadir lewat tanda, lewat isyarat, lewat ubarampe. Di tanah Osing, setelah akad nikah, doa sering diiringi shalawat dan kembar mayang: dua rangkaian kembang yang penuh tanda.

    Ada iembang jambe, ada bunga yang biasanya dipakai di pemakaman, ada buah-buahan. Semua itu doa yang disamarkan, harapan agar pernikahan tidak akan dipisahkan kecuali oleh kematian, lalu disatukan kembali di alam kelanggengan.

    Malam itu, ketika pertunjukan usai dan tepuk tangan bergema, saya berdiri diam, saya tahu saya tidak baru saja menonton tari-tarian, saya sedang menonton tafsir cinta.

    Cinta, rupanya, adalah tradisi. Ia bukan sekadar perasaan dua orang, melainkan doa leluhur, nasihat orang tua, dan harapan anak-anak yang belum lahir. Cinta adalah ritual kecil sehari-hari: menunggu dengan sabar, menjemput dengan ikhlas, memberi kabar dengan jujur, menahan amarah dengan rendah hati, dan memaafkan dengan tulus.

    Mupus Braen mengajarkan itu dengan bahasa yang indah. Bahwa cinta adalah daun muda yang rapuh, tapi juga indah. Bahwa cinta adalah merah keberanian, hitam doa panjang, putih kesucian, emas keagungan. Bahwa cinta membutuhkan ubarampe sederhana: sabar, doa, tawa, dan pengorbanan.

    Saya pulang dari festival itu dengan langkah pelan di angin malam menyapa wajah saya, seperti tangan yang lembut. Di jalan, lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang turun ke bumi.

    Saya merasa ditemani sesuatu yang tidak bisa saya lihat, tapi bisa saya rasakan. Saya tahu, cinta bukan lagi sekadar perasaan. Ia adalah upacara. Ia adalah doa yang harus dipelihara setiap hari.

    Dan di Banyuwangi, doa itu diwariskan lewat Mupus Braen Blambangan.

  • Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember

    Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember

    Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember
    Oleh : Syafaat
    (Pendamping Kafilah Kab. Banyuwangi)

    Langit malam itu seakan menuliskan ayat-ayat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

    Sejak awal saya tidak mengira bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an provinsi Jawa Timur ke XXXI bisa dihadirkan dengan cara seperti itu, dengan cahaya-cahaya yang menari di udara, dengan huruf-huruf yang seolah jatuh dari langit, dengan kalimat yang tidak bersuara tapi justru lebih dalam menembus hati.

    Bagi sebagian orang mungkin itu hanya atraksi teknologi, hanya permainan lampu dari ratusan drone yang dikendalikan komputer.

    Namun bagi saya, itu adalah tanda, itu adalah isyarat, itu adalah ayat yang lain. Ayat yang tidak ditulis dengan tinta, tidak dibacakan dengan suara, melainkan dilukiskan dengan cahaya, dipamerkan di langit, dan ditinggalkan di hati.

    Malam itu saya belajar sesuatu: bahwa firman Tuhan tidak pernah bisa dibatasi. Mushaf adalah rumahnya, tilawah adalah suaranya, hafalan adalah bentengnya, tetapi hakikat firman Tuhan selalu mencari jalan untuk mendekati manusia.

    Kadang ia hadir dalam lantunan anak kecil yang terbata, kadang dalam suara tua yang parau, kadang dalam doa lirih seorang ibu yang memeluk anaknya, dan malam itu firman itu hadir dalam cahaya, menari di langit Jember.

    Saya tahu, cinta kepada kitab suci bukan sekadar hafalan. Hafalan bisa hilang, bisa terlupa, bisa salah urutan. Tetapi cinta yang menempel di dada tidak akan hilang, ia akan terus menyala bahkan ketika lidah tidak mampu melafalkan lagi.

    Ketika saya melihat anak-anak kafilah yang saya dampingi tertidur di kursi belakang mobil dalam perjalanan pulang, saya merasa seakan Tuhan sedang membisikkan sesuatu: bahwa tugas saya bukan hanya mengantar mereka ikut lomba, bukan hanya memastikan mereka tampil baik di hadapan dewan hakim, tetapi mengantar mereka berjalan di jalan panjang cinta kepada Al-Qur’an.

    Tilawah bisa dilombakan, tajwid bisa dinilai, suara bisa diperingkat, tetapi cinta tidak bisa diberi angka. Cinta hanya bisa ditumbuhkan, dirawat, dipelihara dengan doa dan kasih. Dan cinta itu yang harus menjadi bekal anak-anak ini, bukan hanya piala yang bisa berdebu di lemari.

    Saya teringat pada sebuah kisah lama tentang seorang sufi. Ia tidak pandai membaca Al-Qur’an. Ia hanya bisa mengulang satu ayat, dengan suara yang parau, dengan bacaan yang tidak sempurna.

    Orang-orang menertawakannya, mencibirnya, menganggapnya tak pantas. Tetapi dalam mimpinya, sufi itu mendengar suara Tuhan yang mengatakan: “Aku lebih menyukai satu ayatmu yang penuh cinta daripada seribu ayat yang dibaca tanpa hati.” Malam itu saya merasa seperti sufi itu.

    Tidak ada suara, tidak ada tartil, hanya cahaya drone yang menulis huruf-huruf di langit.

    Tetapi justru dari situ hati saya tersentuh, lebih dalam daripada sekadar mendengar suara qari yang merdu. Dan saya sadar, inilah hakikat cinta religius. Ia tidak butuh alasan panjang, tidak butuh penjelasan rumit.

    Cinta religius adalah ketika hati bergetar hanya karena mendengar satu ayat, atau melihat satu cahaya, atau merasakan satu sentuhan.

    Cinta religius adalah ketika seseorang berwudhu bukan karena ingin shalat, tetapi karena ia ingin wajahnya segar ketika menghadap Tuhan.

    Cinta religius adalah ketika seseorang menangis bukan karena sedang susah, tetapi karena ayat yang dibacanya tiba-tiba terasa seperti surat pribadi dari Tuhan yang ditujukan hanya untuknya.

    Malam MTQ ke XXXI itu memang penuh keramaian, penuh musik, penuh parade. Tetapi yang tinggal di hati saya bukanlah gemerlapnya panggung, bukan pula suara pidato pejabat, melainkan saat-saat langit terbuka dan menuliskan huruf-huruf bercahaya.

    Saya yakin, bagi setiap orang yang menengadah malam itu, ada doa yang diam-diam terpanjat. Ada rasa yang sulit dijelaskan, rasa bahwa kita sedang dilihat oleh sesuatu yang lebih besar, rasa bahwa firman Tuhan selalu menemukan cara untuk turun ke bumi.

    Saya teringat pada ibu saya, yang setiap malam membaca surat Yasin dengan suara lirih. Tidak pernah tartil sempurna, tidak pernah dengan suara merdu.

    Tetapi dari bibirnya saya belajar, bahwa membaca Al-Qur’an bukan untuk dipuji, bukan untuk didengar orang, melainkan untuk membuat hati lebih tenang.

    Cinta ibu kepada Al-Qur’an bukan hafalan yang panjang, melainkan kebiasaan sederhana yang dilakukan tanpa henti. Dari situlah saya tahu, bahwa cinta kepada kitab suci adalah soal kesetiaan, bukan soal kemampuan.

    Kesetiaan membuka mushaf, kesetiaan melafalkan ayat, kesetiaan mendengarkan bacaan orang lain, kesetiaan menundukkan hati ketika ayat dibacakan.

    Dan kesetiaan itulah yang kadang hilang dalam kehidupan modern kita. Kita mudah terpesona pada lomba besar, pada suara merdu, pada panggung yang megah, tetapi lupa pada mushaf kecil yang sepi di pojok rumah.

    Kita sibuk mengejar juara, tetapi lupa membisikkan doa untuk anak-anak yang belajar terbata. Kita bangga dengan hafalan ribuan ayat, tetapi lupa menumbuhkan cinta yang sederhana.

    Padahal, tanpa cinta, hafalan akan kering. Tanpa cinta, tilawah hanya akan jadi nyanyian indah tanpa makna.

    Tanpa cinta, MTQ hanya akan jadi pesta besar yang segera terlupakan. Cinta adalah inti dari semua ibadah. Ketika seseorang shalat tanpa cinta, ia hanya akan menghitung gerakan.

    Ketika seseorang berzikir tanpa cinta, ia hanya akan mengulang kata-kata. Tetapi ketika cinta hadir, shalat akan menjadi pertemuan, zikir akan menjadi percakapan, doa akan menjadi bisikan yang hangat. Dan malam itu, cinta hadir dalam bentuk cahaya.

    Saya tidak tahu apakah bupati muda yang berjanji akan menghadirkan pembukaan istimewa menyadari hal itu.

    Mungkin baginya itu hanya strategi pencitraan, hanya cara untuk menunjukkan kebesaran acara. Tetapi bagi saya, justru di balik permainan cahaya itulah Tuhan menurunkan pelajaran.

    Bahwa firman-Nya tidak hanya terbatas pada lembaran, bahwa cinta bisa datang dari arah yang tak disangka-sangka.

    Bahkan dari drone yang dingin dan tanpa perasaan. Bukankah Tuhan memang sering menghadirkan kasih-Nya lewat jalan yang aneh, lewat kejadian yang sederhana, lewat orang-orang yang tidak kita kira?

    Cinta religius juga sering datang dengan cara seperti itu. Kita tidak selalu jatuh cinta pada orang yang dekat. Kadang kita jatuh cinta pada seseorang yang hanya kita temui sekali. Kadang kita merasakan kedekatan spiritual dengan seseorang yang bahkan tidak kita kenal namanya. Dan dalam cinta religius, kita sadar bahwa rasa itu hanyalah pantulan dari cinta yang lebih besar: cinta Tuhan kepada makhluk-Nya.

    Saya teringat sebuah kisah tentang Rabi’ah al-Adawiyah, seorang perempuan sufi besar. Ia pernah berdoa: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, jauhkan aku darinya.

    Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Kau haramkan aku dari keindahan-Mu.” Doa itu selalu membuat saya terdiam. Sebab di dalamnya ada keberanian untuk menyingkirkan semua imbalan, semua ketakutan, semua hitungan, dan hanya menyisakan cinta.

    Bukankah itulah yang seharusnya menjadi inti dari MTQ, dari tilawah, dari hafalan, dari doa-doa yang kita panjatkan? Bahwa kita membaca bukan untuk lomba, bukan untuk juara, bukan untuk hadiah.

    Kita membaca karena cinta. Kita melafalkan karena cinta. Kita mengulang ayat-ayat itu karena cinta. Dan cinta itulah yang akan menuntun kita, meski suara kita parau, meski hafalan kita terbata, meski tartil kita tidak sempurna.

    Ketika saya menuliskan ini, cahaya drone malam itu masih terbayang jelas di kepala saya. Huruf-huruf bercahaya itu masih menempel di hati saya. Mereka telah padam di langit, tetapi mereka masih menyala di dada saya. Dan mungkin memang begitu cara Tuhan bekerja: cahaya di langit hanya sebentar, tetapi cahaya di hati bisa bertahan lama, bahkan seumur hidup.

    Saya membayangkan suatu hari nanti, anak-anak kafilah yang saya dampingi akan mengenang malam itu. Bukan karena megahnya panggung, bukan karena panjangnya pidato, tetapi karena mereka pernah menengadah dan melihat langit menulis ayat dengan cahaya.

    Dan mungkin dari kenangan itu, cinta mereka kepada Al-Qur’an akan tumbuh. Cinta yang sederhana, cinta yang tidak mencari juara, cinta yang tidak membutuhkan hadiah, tetapi cinta yang membuat mereka ingin terus membaca, terus mendekat, terus menundukkan hati.

    Pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah ketika nama mereka diumumkan sebagai juara. Kemenangan sejati adalah ketika mereka tetap membuka mushaf meski tidak ada yang menilai, ketika mereka tetap melafalkan ayat meski tidak ada yang mendengarkan, ketika mereka tetap berdoa meski tidak ada yang mengaminkan. Kemenangan sejati adalah ketika mereka bisa meraih rida Tuhan melalui cinta yang tulus.

    Dan saya percaya, doa yang lahir dari cinta tidak akan pernah padam. Ia akan terus menyala, bahkan setelah semua lampu stadion dipadamkan, bahkan setelah semua orang pulang, bahkan setelah semua lomba selesai. Doa itu akan tetap ada, menempel di hati, berjalan bersama kehidupan, menyinari jalan yang panjang.

    Doanya sederhana: jangan berhenti membaca, meski tak bersuara. Jangan berhenti mencari, meski hanya lewat cahaya. Jangan berhenti mencinta, meski sebentar saja. Dan saya tahu, doa itu akan terus menyala, bahkan setelah tulisan ini selesai.