Tag: teater

  • Memukau, Siswa Ekskul Teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi Menghipnotis Penonton di Peringatan Hari Pahlawan Banyuwangi

    Memukau, Siswa Ekskul Teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi Menghipnotis Penonton di Peringatan Hari Pahlawan Banyuwangi

    Siswa ekstra kurikuler teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi tampil menawan dalam acara peringatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45, Asosiasi Usaha Mikro Kecil Koperasi Sinergi Gotong Royong 45 (Asosiasi UMKK Segoro 45), Sanggar Merah Putih 45, dan Jaringan Radio Komunitas dan Broadcast Banyuwangi (JRKBB).

    Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 3 November 2024 di Masjid Al Hilal 2 ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menghargai sejarah bangsa.

    Dalam penampilannya, enam siswa ekskul teater yang didampingi oleh Rifkian Kurniawan selaku guru menyuguhkan teatrikal puisi berjudul “Merdekaku Merdekamu”.

    Terbilang sukses, mereka berhasil menggambarkan bagaimana perjuangan para pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

    Melalui ekspresi dan penjiwaan yang mendalam, penampilan mereka tidak hanya memukau, tetapi juga berhasil mengharukan hati seluruh penonton yang hadir, bahkan tak sedikit yang mengurai air mata.

    Teatrikal puisi yang diperagakan oleh enam siswa tersebut juga menjadi pengingat bagi generasi muda yang saat ini sering terlena dengan dunia maya, sehingga cenderung melupakan sejarah bangsanya.

    Dengan iringan lagu “Tanah Airku”, suasana semakin terbangun, menghipnotis penonton dan membangkitkan semangat nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda.

    Budayawan dan praktisi teater kawakan, Bung Aguk, memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan siswa SMK Muhammadiyah 6.

    Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dan penting untuk mengingatkan generasi muda akan sejarah bangsanya.

    Bung Aguk juga memuji kemampuan akting dan penjiwaan siswa yang mampu menarik perhatian serta emosi penonton.

    “Penjiwaannya dapat, penampilan kalian bisa membuat penonton hanyut ke dalam cerita pencipta literasinya,” paparnya.

    Selain itu, Bung Aguk juga menuturkan bahwa penampilan dari para siswa SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi berhasil menggugah rasa nasionalisme yang saat ini mulai memudar di kalangan remaja.

    “Penampilan ini mampu menggugah rasa nasionalisme yang mungkin mulai memudar di kalangan anak muda,” terang Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang saat ini aktif melatih literasi dan dolanan teater di berbagai sekolah, sekaligus baru saja mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara.

    Sementara itu, sutradara sekaligus pelatih ekstra kurikuler teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi, Maulana Affandi menyatakan rasa bangga atas pencapaian anak didiknya.

    Ia berharap agar para siswa tidak hanya berperan di atas panggung, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

    “Harapan saya adalah anak-anak ini tidak hanya menjadi pemeran yang baik di atas panggung, tetapi juga bisa menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus menyadari bahwa seni dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan moral,” ujarnya.

    Sebagai informasi tambahan, SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi dikenal memiliki prestasi yang membanggakan di bidang teater.

    Sekolah ini pernah meraih juara 1 dalam lomba Porfesi pada tahun 2023 tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Banyuwangi.

    Prestasi tersebut menunjukkan bakat siswa dalam seni peran serta dukungan dari pihak sekolah untuk menumbuhkan potensi yang dimiliki oleh siswa.

    Saat ini, SMK Muhammadiyah 6 juga sedang fokus pada peningkatan bakat dan minat siswa dalam bidang seni dan literasi melalui berbagai program yang dirancang untuk menggali potensi siswa.

  • Pengertian Gestikulasi dalam Teater, Fungsi, Jenis, dan Tekniknya

    Dalam dunia teater, komunikasi bukanlah sekadar tentang kata-kata yang diucapkan.

    Sebagian besar dari apa yang disampaikan oleh seorang aktor kepada penonton tidak hanya melalui dialog, tetapi juga melalui bahasa tubuh mereka.

    Salah satu elemen kunci dari bahasa tubuh ini adalah gestikulasi, yang merupakan gerakan tangan, lengan, wajah, dan tubuh lainnya yang digunakan untuk mengekspresikan emosi, maksud, dan karakter dalam pertunjukan.

    Pengertian Gestikulasi

    Gestikulasi dalam teater adalah gerakan tubuh yang dilakukan oleh aktor untuk menyampaikan pesan, emosi, dan ide kepada penonton.

    Ini melibatkan gerakan tangan, lengan, wajah, dan tubuh yang bertujuan untuk mengekspresikan emosi, karakter, atau situasi.

    Gestikulasi dapat mencakup segala hal mulai dari gerakan tangan sederhana hingga gerakan tubuh yang kompleks, tergantung pada karakter dan konteks pertunjukan.

    Fungsi Gestikulasi dalam Teater

    Gestikulasi yang efektif dapat membantu aktor untuk:

    1. Mengungkapkan Emosi

    Gestikulasi memungkinkan aktor untuk mengungkapkan berbagai emosi kepada penonton tanpa harus menggunakan kata-kata.

    Misalnya, anggukan kepala yang cepat dan gestur tangan yang terbuka dapat mengekspresikan kebahagiaan, sementara jari yang mengepal dan ekspresi wajah yang tegang dapat menunjukkan kemarahan atau kekesalan.

    2. Menggambarkan Karakter

    Setiap karakter dalam pertunjukan teater memiliki gestikulasi yang unik sesuai dengan kepribadian dan latar belakang mereka.

    Seorang karakter yang percaya diri mungkin memiliki gerakan tubuh yang anggun dan percaya diri, sementara karakter yang cemas atau ragu-ragu mungkin memiliki gestur yang ragu-ragu atau gemetar.

    3. Membantu Narasi

    Gestikulasi juga dapat digunakan untuk membantu menceritakan cerita kepada penonton.

    Misalnya, seorang aktor dapat menggunakan gerakan tangan yang menggambarkan objek atau situasi dalam cerita, seperti menunjukkan ukuran atau bentuk suatu objek.

    4. Memperkuat Dialog

    Gestikulasi dapat digunakan untuk memperkuat atau menekankan kata-kata yang diucapkan oleh aktor.

    Sebagai contoh, sebuah pernyataan yang penting atau emosional dapat didukung oleh gerakan tangan yang dramatis atau ekspresi wajah yang kuat.

    5. Mengatur Tata Panggung

    Gestikulasi juga dapat membantu mengatur tata panggung dan memandu perhatian penonton.

    Gerakan tubuh yang besar atau gestur yang tajam dapat menarik perhatian penonton ke arah yang diinginkan oleh sutradara atau aktor.

    Jenis-jenis Gestikulasi

    Berikut adalah beberapa jenis gestikulasi yang umum digunakan dalam teater:

    • Gerakan tangan: Gerakan tangan dapat digunakan untuk menunjukkan arah, menekankan kata-kata, dan mengekspresikan emosi.
    • Ekspresi wajah: Ekspresi wajah dapat digunakan untuk menyampaikan emosi, seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan.
    • Bahasa tubuh: Bahasa tubuh dapat digunakan untuk menunjukkan postur tubuh, gerakan kaki, dan gerakan tubuh lainnya yang dapat membantu untuk menyampaikan pesan.

    Tips Menggunakan Gestikulasi

    Berikut adalah beberapa tips untuk menggunakan gestikulasi yang efektif dalam teater:

    1. Konsistensi

    Penting bagi aktor untuk konsisten dalam penggunaan gestikulasi mereka, terutama ketika menggambarkan karakter yang sama.

    Konsistensi dalam gestur membantu menciptakan kesan yang kuat dan kohesif kepada penonton.

    2. Keterampilan Fisik

    Aktor harus memiliki keterampilan fisik yang baik untuk menggunakan gestikulasi secara efektif.

    Latihan reguler dalam gerakan tubuh dan ekspresi wajah dapat membantu meningkatkan kemampuan aktor dalam menggunakan gestikulasi dengan tepat dan kuat.

    3. Kesesuaian dengan Karakter dan Konteks

    Gestikulasi harus sesuai dengan karakter yang sedang dimainkan dan konteks pertunjukan.

    Gestur yang cocok untuk satu karakter atau situasi mungkin tidak sesuai untuk yang lain, jadi penting bagi aktor untuk memilih gestikulasi yang tepat untuk setiap momen dalam pertunjukan.

    Kesimpulan

    Dalam dunia teater, gestikulasi adalah elemen penting dalam menyampaikan cerita kepada penonton.

    Gestur tangan, lengan, wajah, dan tubuh dapat digunakan oleh aktor untuk mengekspresikan emosi, karakter, dan situasi dalam pertunjukan.

    Dengan menggunakan gestikulasi secara efektif, aktor dapat memperkaya pengalaman teater bagi penonton dan membantu menciptakan koneksi yang lebih dalam antara penonton dan cerita yang dipentaskan

  • Daftar Istilah dalam Seni Teater dan Artinya

    Dalam seni teater, ada beberapa istilah yang biasa digunakan oleh pemeran atau aktor.

    Istilah-istilah tersebut memiliki arti/makna yang sesuai dengan fungsi dalam pementasan. Nah, apa saja istilah-istilah dalam teater? Berikut diantaranya.

    Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak

    Additive Mixing : Pencampuran warna pada objek yang disinari dari dua atau lebih lampu yang berbeda

    Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan

    Aktor : orang yang melakukan akting

    Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno

    Amplifikasi : Penguatan energi listrik setelah melalui rangkaian elektronik

    Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium

    Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner

    Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara

    Aside : Dialog menyamping, atau suara hati dan pikiran tokoh

    Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan

    Audibility : Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendengaran

    Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium

    Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung

    Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh

    Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu

    Barndoor : Sirip empat sisi yang diletakkan pada lampu dan digunakan untuk mebatasi lebar sinar cahaya

    Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan

    Beats : Satu kesatuan arti terkecil dari dialog

    Belly to Belly : Dua lensa yang dipasang berhadapan dalam sebuah lampu dan jaraknya bisa diatur

    Bifocal : Lampu Bifocal adalah lampu profile standar yang ditambahi dengan shutter tambahan

    Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung

    Boom : Baris lampu yang dipasang secara vertikal

    Border : Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permainan yang digunakan

    Bracket : Pengait untuk memasang lampu pada boom. Disebut pula sebagai boom arm

    Catwalk : Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain

    Clamp : Klem atau pengait untuk memasang lampu pada bar, disebut juga sebagai C-clamp atau Hook Clamp

    Control Balance : Pengaturan tingkat kekerasan suatu sumber suara terhadap sumber suara yang lain

    Control Desk : Disebut juga Remote Control, alat untuk mengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya dari jarak jauh

    Cyc Light : Lampu flood yang dikhususkan untuk menerangi layar belakang (siklorama)

    Denotasi : Arti yang sebenarnya sesuai dengan arti yang terdapat dalam kamus

    Dialog : Percakapan para pemain.

    Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut

    Diffuse : Jenis refleksi cahaya yang memiliki pantulan merata serta panjang sinarnya sama

    Diftong : Kombinasi dua huruf vokal dan diucapkan bersamaan

    Diksi : Latihan mengeja kata dengan suara keras dan jelas

    Dimmer : Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya

    Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan

    Donut : Pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketajaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot

    Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi

    Dramatic Irony : Aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dimana tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri

    Ekstensi : Menambah besarnya sudut antara dua bagian badan

    Eksposisi : Penggambaran awal dari sebuah lakon, berisi tentang perkenalan karakter, dan masalah yang akan digulirkan

    Elastisitas : Tingkat kekenyalan suatu objek sehingga dengan mudah bisa diterapkan atau digunakan

    Ellipsoidal : Jenis reflektor yang memiliki bentuk elips

    Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran

    Ephemeral : Sifat pertunjukan yang bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama

    ERS : Elliposoidal Reflector Spotlight. Lampu spot yang menggunakan reflektor berbentuk elips disebut juga lampu profile atau leko

    ERS Axial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang secara horisontal

    ERS Radial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang miring 45 derajat

    Farce : Seni pertunjukan yang menyerupai dagelan tetapi bukan dagelan yang seperti di Indonesia

    Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu

    Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini

    Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih

    Fleksi (flexion) : Membengkokkan suatu sendi untuk mengurangi sudut antara dua bagian badan

    Fleksibelitas : Daya lentur suatu objek / tingkat kelenturan suatu objek

    Flies : Disebut juga penutup. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya

    Floodligth : Jenis lampu yang sinar cahayanya menyebar serta tidak bisa diatur fokusnya

    Focal Point : Titik temu (pusat) pendar cahaya

    FOH : Front Of House. Bagian depan baris kursi penonton dimana di atasnya terdapat pipa baris lampu

    Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas

    Follow Spot : Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain

    Fore Shadowing : Bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi

    Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat

    Frequency Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum

    Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi

    Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat

    Gestus : Aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh

    Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut

    Globe : Panggung yang tempat duduk penontonnya berkeliling, digunakan dalam pementasan teater jaman Elizabeth di Inggris

    Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya

    Groundrow : Lampu flood yang diletakkan di bawah untuk menerangi aktor atau siklorama dari bawah.

    Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya

    Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.

    Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.

    Insersio : Kearah mana otot itu berjalan atau arah jalannya otot yang bergerak.

    Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur

    Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu

    Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.

    Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran

    Karakter Teatrikal : Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.

    Kolokasi : Asosiasi kata dengan bahasa yang tidak formal, bahasa percakapan sehari-hari pada suatu tempat dan masa tertentu.

    Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya

    Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan

    Komunikan : Penerima komunikasi

    Komunikator : Penyampai kamunikasi

    Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.

    Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.

    Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerah kan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.

    Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita

    Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan

    Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi

    Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.

    Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi

    Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar

    Lever : Bilah yang dapat dinaikkan dan diturunkan yang terdapat pada control desk

    Ligamen : Jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau pembungkus sendi.

    Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton

    Membran : Selaput atau lapisan tipis yang sangat peka terhadap getaran

    Metacarpal : Disebut juga dengan metatarsus atau ossa metatarsalia yaitu tulang pertama dari jari

    Mime : Pertunjukan teater yang menitikberatkan pada seni ekspresi wajah pemain

    Mimetic/mimesis : Peniruan atau meniru sesuatu yang ada

    Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    Mixed : Jenis refleksi cahaya yang hasilnya bercampur antara relfeksi diffuse dan specular

    Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain

    Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman

    Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan

    Orchestra Pit : Tempat para musisi orkestra bermain

    Origio : Tempat otot timbul atau tempat asal otot yang terkuat

    Pageant : Panggung kereta abad Pertengahan yang digunakan untuk mementaskan teater secara berkeliling

    Panoramic : Kesan suara yang terdengar pada telinga kiri atau telinga kanan

    Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    PAR : Parabolic Aluminized Reflector. Lampu yang menggunkan reflektor parabola terangkai dalam satu unit dengan lensanya

    Parafrase : Latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, dengan tujuan untuk membuat jelas dialog tersebut

    PC : (1) Planno Convex, jenis lensa yang permukaannya halus. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa tunggal baik lensa Planno Convex atau Pebble Convex

    Pebble Convex : Jenis lensa yang mukanya halus tapi bagian belakangnya bergerigi

    Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).

    Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.

    Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater

    Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida

    Pita magnetic : Pita plastic yang dilapisi oleh serbuk magnet yang digunakan untuk menyimpan getaran listrik

    Planno Convex : Jenis lensa (lih. PC)

    Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu

    Polarity : Kemampuan maksimum dalam menangkap sumber suara

    Practical : Lampu sehari-hari atau lampu rumahan yang digunakan di atas panggung

    Preset : Pengaturan intensitas cahaya pada control desk disaat lampu dalam keadaan mati (tidak dinyalakan)

    Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan

    Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.

    Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita

    Proscenium : Bentuk panggung berbingkai

    Proscenium Arc : Lengkung atau bingkai proscenium

    Resonansi : Bergema atau bergaung

    Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif

    Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran

    Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik

    Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.

    Round Karakter : Karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya

    Scoop : Jenis lampu flood yang menggunakan reflektor ellipsoidal

    Sendi : Hubugan yang terbentuk antara dua tulang.

    Sendratari : Pertunjukan drama yang di tarikan atau gabungan seni drama dan seni tari

    Side Wing : Bagian kanan dan kiri panggung yang tersem bunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil

    Skeneri : Dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan

    Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran

    Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri

    Specular : Jenis refleksi yang memantulkan cahaya seperti aslinya (efek cermin)

    Snoot : Disebut juga Top Hat, piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya

    Spherical : Jenis reflektor yang memiliki bentuk setengah lingkaran

    Spread : Jensi refleksi cahaya yang mengenai objek dengan intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan lebih panjang dari yang lain

    Stand : Pipa untuk memasang lampu yang dapat berdiri sendiri

    Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.

    Suara Nasal : Suara yang dihasilkan oleh rongga hidung karena udara beresonansi.

    Suara Oral : Suara yang dihasilkan oleh mulut

    Subtractive Mixing: Pencampuran warna cahaya yang dihasilkan dari dua filter berbeda

    Surprise : Peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.

    Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.

    Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.

    Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.

    Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.

    Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan

    Thrust : Bentuk panggung yang sepertiga bagiannya menjorok ke depan

    Timbre : Warna suara yang memberi kesan pada kata-kata yang kita ucapkan

    Tirai Besi : Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung, tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.

    Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis

    Trapezium : Tulang yang ada pada antara pergelangan tangan dan ibu jari tangan

    Trap Jungkit : Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.

    Wicara : Cara kita berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon

    Under : (tata suara) Hasil rekaman suara yang sangat lemah

  • 7 Perbedaan Drama dan Teater, Serupa Tapi Tak Sama

    Drama dan teater adalah dua seni peran yang sama-sama menghibur serta cenderung memiliki nilai moral dalam praktiknya.

    Lantas, keduanya juga berisi obrolan-obrolan yang kemudian diperagakan oleh pemeran atau aktor.

    Maka, secara umum sebenarnya drama dan teater memiliki kesamaan serta keterkaitan antara satu dengan lain.

    Sehingga, tak sedikit orang yang menganggap keduanya sama saja, meski sebenarnya ada beberapa perbedaan.

    Perbedaan Drama dan Teater

    Lantas, apa saja perbedaan drama dan teater? Berikut diantaranya.

    1. Berbeda dari Segi Istilah

    Secara istilah, keduanya tentu berbeda. Drama berasal dari bahasa Bahasa Yunani yaitu dramoai yang artinya menyampaikan.

    Sementara istilah teater berasal dari Bahasa Yunani yaitu theatron yang artinya tempat melihat.

    Sementara menurut KBBI, arti drama adalah cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater.

    Sedangkan arti teater adalah gedung atau ruangan tempat pertunjukan film, sandiwara, dan sebagainya.

    2. Berbeda pada Konteks Kisah

    Melihat kedua perbedaan istilah di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

    Drama adalah pertunjukan seni gerak untuk menyampaikan kisah yang berisi dialog berdasarkan naskah.

    Sementara teater lebih luas, dimana pertunjukannya tidak selalu berdasarkan naskah dan didukung oleh beragam alat, seperti dekor, musik, dan sebagainya.

    3. Berbeda dalam Segi Cerita

    Kemudian, perbedaan teater dan drama juga bisa dilihat dari segi ceritanya.

    Teater umumnya mengangkat cerita yang bersumber dari cerita rakyat maupun cerita yang sudah pernah digarap sebelumnya.

    Sementara drama mengangkat cerita yang bersumber dari kehidupan sehari-hari.

    4. Berbeda dalam Alur Cerita

    Dalam pementasan drama, ada runtutan peristiwa yang jelas seperti konflik, klimaks, dan penyelesaian.

    Sementara dalam teater, biasanya cenderung tidak menampilkan konflik, klimaks, dan penyelesaian karena bentuknya hanya pementasan saja.

    5. Berbeda Tempat Pementasan

    Drama tidak harus dipentaskan di atas panggung, tapi juga bisa dalam kehidupan sehari-hari dan tempat lainnya.

    Sementara teater harus dipentaskan di atas panggung saja.

    6. Berbeda Interpretasi

    Dalam pementasan drama, interpretasi kisah yang diperagakan bergantung pada penafsiran audiens.

    Sedangkan dalam teater, interpretasi kisahnya ditentukan oleh penafsiran dari pemain.

    7. Berbeda Cara Menikmati

    Dalam adegan drama, penonton cenderung diajak untuk merasakan kisah yang sedang diperagakan oleh pemain.

    Sementara dalam adegan teater, penonton cenderung hanya menyaksikan serta menikmati kisah yang diperagakan.

    Nah, itulah beberapa perbedaan drama dan teater yang perlu diketahui. Jangan lupa baca artikel lainnya di sastrawacana.id/.

  • Daftar Istilah Dalam Seni Teater

    Daftar Istilah Dalam Seni Teater

    Dalam seni teater, ada beberapa istilah yang biasa digunakan oleh pemeran atau aktor. Istilah-istilah tersebut memiliki arti/makna yang sesuai dengan fungsi dalam pementasan. Nah, apa saja istilah-istilah dalam teater? Berikut diantaranya.

    Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak

    Additive Mixing : Pencampuran warna pada objek yang disinari dari dua atau lebih lampu yang berbeda

    Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan

    Aktor : orang yang melakukan akting

    Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno

    Amplifikasi : Penguatan energi listrik setelah melalui rangkaian elektronik

    Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium

    Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner

    Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara

    Aside : Dialog menyamping, atau suara hati dan pikiran tokoh

    Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan

    Audibility : Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendengaran

    Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium

    Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung

    Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh

    Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu

    Barndoor : Sirip empat sisi yang diletakkan pada lampu dan digunakan untuk mebatasi lebar sinar cahaya

    Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan

    Beats : Satu kesatuan arti terkecil dari dialog

    Belly to Belly : Dua lensa yang dipasang berhadapan dalam sebuah lampu dan jaraknya bisa diatur

    Bifocal : Lampu Bifocal adalah lampu profile standar yang ditambahi dengan shutter tambahan

    Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung

    Boom : Baris lampu yang dipasang secara vertikal

    Border : Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permainan yang digunakan

    Bracket : Pengait untuk memasang lampu pada boom. Disebut pula sebagai boom arm

    Catwalk : Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain

    Clamp : Klem atau pengait untuk memasang lampu pada bar, disebut juga sebagai C-clamp atau Hook Clamp

    Control Balance : Pengaturan tingkat kekerasan suatu sumber suara terhadap sumber suara yang lain

    Control Desk : Disebut juga Remote Control, alat untuk mengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya dari jarak jauh

    Cyc Light : Lampu flood yang dikhususkan untuk menerangi layar belakang (siklorama)

    Denotasi : Arti yang sebenarnya sesuai dengan arti yang terdapat dalam kamus

    Dialog : Percakapan para pemain.

    Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut

    Diffuse : Jenis refleksi cahaya yang memiliki pantulan merata serta panjang sinarnya sama

    Diftong : Kombinasi dua huruf vokal dan diucapkan bersamaan

    Diksi : Latihan mengeja kata dengan suara keras dan jelas

    Dimmer : Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya

    Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan

    Donut : Pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketajaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot

    Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi

    Dramatic Irony : Aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dimana tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri

    Ekstensi : Menambah besarnya sudut antara dua bagian badan

    Eksposisi : Penggambaran awal dari sebuah lakon, berisi tentang perkenalan karakter, dan masalah yang akan digulirkan

    Elastisitas : Tingkat kekenyalan suatu objek sehingga dengan mudah bisa diterapkan atau digunakan

    Ellipsoidal : Jenis reflektor yang memiliki bentuk elips

    Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran

    Ephemeral : Sifat pertunjukan yang bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama

    ERS : Elliposoidal Reflector Spotlight. Lampu spot yang menggunakan reflektor berbentuk elips disebut juga lampu profile atau leko

    ERS Axial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang secara horisontal

    ERS Radial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang miring 45 derajat

    Farce : Seni pertunjukan yang menyerupai dagelan tetapi bukan dagelan yang seperti di Indonesia

    Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu

    Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini

    Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih

    Fleksi (flexion) : Membengkokkan suatu sendi untuk mengurangi sudut antara dua bagian badan

    Fleksibelitas : Daya lentur suatu objek / tingkat kelenturan suatu objek

    Flies : Disebut juga penutup. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya

    Floodligth : Jenis lampu yang sinar cahayanya menyebar serta tidak bisa diatur fokusnya

    Focal Point : Titik temu (pusat) pendar cahaya

    FOH : Front Of House. Bagian depan baris kursi penonton dimana di atasnya terdapat pipa baris lampu

    Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas

    Follow Spot : Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain

    Fore Shadowing : Bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi

    Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat

    Frequency Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum

    Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi

    Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat

    Gestus : Aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh

    Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut

    Globe : Panggung yang tempat duduk penontonnya berkeliling, digunakan dalam pementasan teater jaman Elizabeth di Inggris

    Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya

    Groundrow : Lampu flood yang diletakkan di bawah untuk menerangi aktor atau siklorama dari bawah.

    Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya

    Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.

    Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.

    Insersio : Kearah mana otot itu berjalan atau arah jalannya otot yang bergerak.

    Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur

    Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu

    Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.

    Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran

    Karakter Teatrikal : Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.

    Kolokasi : Asosiasi kata dengan bahasa yang tidak formal, bahasa percakapan sehari-hari pada suatu tempat dan masa tertentu.

    Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya

    Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan

    Komunikan : Penerima komunikasi

    Komunikator : Penyampai kamunikasi

    Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.

    Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.

    Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerah kan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.

    Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita

    Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan

    Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi

    Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.

    Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi

    Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar

    Lever : Bilah yang dapat dinaikkan dan diturunkan yang terdapat pada control desk

    Ligamen : Jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau pembungkus sendi.

    Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton

    Membran : Selaput atau lapisan tipis yang sangat peka terhadap getaran

    Metacarpal : Disebut juga dengan metatarsus atau ossa metatarsalia yaitu tulang pertama dari jari

    Mime : Pertunjukan teater yang menitikberatkan pada seni ekspresi wajah pemain

    Mimetic/mimesis : 
    Peniruan atau meniru sesuatu yang ada

    Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    Mixed : Jenis refleksi cahaya yang hasilnya bercampur antara relfeksi diffuse dan specular

    Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain

    Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman

    Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan

    Orchestra Pit : Tempat para musisi orkestra bermain

    Origio : Tempat otot timbul atau tempat asal otot yang terkuat

    Pageant : Panggung kereta abad Pertengahan yang digunakan untuk mementaskan teater secara berkeliling

    Panoramic : Kesan suara yang terdengar pada telinga kiri atau telinga kanan

    Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain

    PAR : Parabolic Aluminized Reflector. Lampu yang menggunkan reflektor parabola terangkai dalam satu unit dengan lensanya

    Parafrase : Latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, dengan tujuan untuk membuat jelas dialog tersebut

    PC : (1) Planno Convex, jenis lensa yang permukaannya halus. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa tunggal baik lensa Planno Convex atau Pebble Convex

    Pebble Convex : Jenis lensa yang mukanya halus tapi bagian belakangnya bergerigi

    Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).

    Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.

    Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater

    Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida

    Pita magnetic : Pita plastic yang dilapisi oleh serbuk magnet yang digunakan untuk menyimpan getaran listrik

    Planno Convex : Jenis lensa (lih. PC)

    Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu

    Polarity : Kemampuan maksimum dalam menangkap sumber suara

    Practical : Lampu sehari-hari atau lampu rumahan yang digunakan di atas panggung

    Preset : Pengaturan intensitas cahaya pada control desk disaat lampu dalam keadaan mati (tidak dinyalakan)

    Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan

    Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.

    Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita

    Proscenium : Bentuk panggung berbingkai

    Proscenium Arc : Lengkung atau bingkai proscenium

    Resonansi : Bergema atau bergaung

    Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif

    Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran

    Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik

    Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.

    Round Karakter : Karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya

    Scoop : Jenis lampu flood yang menggunakan reflektor ellipsoidal

    Sendi : Hubugan yang terbentuk antara dua tulang.

    Sendratari : Pertunjukan drama yang di tarikan atau gabungan seni drama dan seni tari

    Side Wing : Bagian kanan dan kiri panggung yang tersem bunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil

    Skeneri : Dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan

    Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran

    Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri

    Specular : Jenis refleksi yang memantulkan cahaya seperti aslinya (efek cermin)

    Snoot : Disebut juga Top Hat, piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya

    Spherical : Jenis reflektor yang memiliki bentuk setengah lingkaran

    Spread : Jensi refleksi cahaya yang mengenai objek dengan intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan lebih panjang dari yang lain

    Stand : Pipa untuk memasang lampu yang dapat berdiri sendiri

    Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.

    Suara Nasal : Suara yang dihasilkan oleh rongga hidung karena udara beresonansi.

    Suara Oral : Suara yang dihasilkan oleh mulut

    Subtractive Mixing: Pencampuran warna cahaya yang dihasilkan dari dua filter berbeda

    Surprise : Peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.

    Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.

    Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.

    Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.

    Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.

    Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan

    Thrust : Bentuk panggung yang sepertiga bagiannya menjorok ke depan

    Timbre : Warna suara yang memberi kesan pada kata-kata yang kita ucapkan

    Tirai Besi : Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung, tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.

    Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis

    Trapezium : Tulang yang ada pada antara pergelangan tangan dan ibu jari tangan

    Trap Jungkit : Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.

    Wicara : Cara kita berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon

    Under : (tata suara) Hasil rekaman suara yang sangat lemah

  • 8 Definisi Teater Menurut Para Ahli

    8 Definisi Teater Menurut Para Ahli

    Definisi Teater

    Teater berasal dari bahasa Yunani, “theatereatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan.

    Dalam pengertian yang lebih luas, teater bisa diartikan sebagai pertunjukan yang dilakukan di hadapan orang banyak dalam sebuah ruangan atau gedung.

    Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya anak-anak yang berperan sebagai ayah atau ibu.

    Selain itu, teater juga merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual.

    Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis.

    Definisi Teater Menurut Para Ahli

    Adapun pengertin teater menurut para ahli adalah sebagai berikut.

    1. Harymawan (1993)

    Secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindak tanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress.

    2. Moulton

    Teater adalah kisah hidup yang dilukiskan dalam bentuk gerakan (life presented in action).

    3. Balthazar Vallhagen

    Menurut Balthazar Vallhagen, drama adalah sebuah kesenian yang melukiskan sifat dan watak manusia dengan gerakan.

    4. Budianta, dkk (2002)

    Menurut Budianta, dkk, drama adalah genre sastra dimana penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya percakapan atau dialog diantara para tokoh yang ada.

    5. Ferdinand Brunetierre

    Menurut Ferdinand Brunetierre, sebuah drama harus melahirkan sebuah kehendak dengan action atau gerak.

    6. Tim Matrix Media Literata

    Drama adalah bentuk kisahan yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku (akting) yang dipentaskan.

    7. Wildan

    Drama adalah komposisi berdasarkan beberapa cabang seni, sehingga drama dibagi menjadi dua, yaitu drama dalam bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan.

    8. Anne Civardi

    Drama adalah sebuah kisah yang diceritakan melalui kata-kata dan gerakan.

  • 5 Manfaat Mengikuti Ekskul Teater di Sekolah

    5 Manfaat Mengikuti Ekskul Teater di Sekolah

    Saat masih di bangku sekolah, tentu kamu tidak asing lagi dengan ekstra kulikuler atau yang biasa disebut dengab ekskul, bukan?

    Ya, semua sekolah pasti memiliki program ektra kulikuler yang dijadikan sebagai program tambahan setelah mata pelajaran usai.

    Ada berbagai macam ekstra kulikuler yang disediakan oleh sekolah, diantaranya seperti pramuka, musik, basket, voli, sepak bola, pecinta alam, teater dan masih banyak lainnya.

    Tentu saja, sejumlah ekskul tersebut tidak harus kamu ikuti semuanya, melainkan hanya memilih salah satu yang paling kamu minati dan sesuai dengan kemampuanmu.

    Menelisik lebih dalam, ternyata ada salah satu ekskul yang paling banyak diminati, ialah teater. Kamu pasti tahu apa itu teater, bukan?

    Teater bisa menjadi ajang untuk menunjukkan kebolehanmu dalam berakting atau memainkan peran orang lain.

    Menjadi pemain teater sangatlah seru dan menyenangkan. Selain itu, ternyata ada beberapa manfaat yang bisa kamu peroleh saat menjadi pemain teater.

    Manfaat Ekskul Teater di Sekolah

    Apa saja manfaat tersebut? Berikut penjelasannya.

    1. Menjadi Lebih Terkenal

    Saat ada acara penting di sekolah, biasanya pertunjukan teater sangat diperlukan sebagai hiburan. Selain itu, pertunjukan teater juga kerap diadu dalam lomba antar sekolah, bahkan antar kota atau kabupaten. Tak heran, jika pemain teater sangat populer di Sekolah.

    2. Menjadi Lebih Percaya Diri

    Jika kamu termasuk orang yang kurang percaya diri dan pemalu, ada baiknya kamu mendaftar di ekskul teater. Kenapa? Karena di ekskul teater ini kamu akan dilatih untuk lebih percaya diri tampil di depan umum.

    Mulanya, kamu akan dilatih berdialog dengan dirimu sendiri di depan cermin. Kemudian, mulai berlatih monolog di depan teman-temanmu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan menjadi lebih percaya diri dan tidak akan merasa malu lagi saat harus tampil di depan banyak orang.

    3. Menjadi Lebih Mudah Menghafal

    Dalam sebuah pertunjukan akting atau memainkan peran di dalam sebuah cerita, tentunya kamu harus menghafalkan dialog terlebih dahulu. Kebiasaan menghafal dialog tersebut bisa bermanfaat dalam cara belajarmu di kelas.

    Sebab, saat pelajaran berlangsung, kamu dituntut untuk menghafalkan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Dengan demikian, kamu dapat menghafalnya dengan mudah karena sudah terlatih menghafal dialog.

    4. Punya Banyak Teman

    Di dalam teater, pasti memiliki anggota yang cukup banyak yang berasal dari kelas yang berbeda. Ini adalah sebuah kesempatan untuk mendapatkan teman yang lebih banyak.

    Dengan mengikuti ekskul teater, kamu tidak hanya memiliki teman di kelas saja, melainkan juga bisa mendapatkan teman baru yang berasal dari kelas yang berbada.

    Bahkan, tidak menutup kemungkinan kamu juga bisa mendapatkan teman baru yang berasal dari sekolah lain saat sedang mengadakan ajang lomba pertunjukan teater.

    5. Kegiatan Positif

    Saat sekolah usai, kamu pasti langsung pulang ke rumah atau nongkrong tidak jelas dengan teman-teman. Kegiatan tersebut hanya membuang waktumu dengan percuma.

    Jika kamu mengikuti ekskul, khususnya teater maka kamu akan mendapatkan dampak positif di dalamnya. Selain itu, orang tuamu akan merasa bangga.

    Nah, itulah beberapa manfaat mengikuti ekskul teater di sekolah. Menarik, bukan?

    Author  : Eva
    Editor   : Maulana Affandi

  • Apa itu Teater? Ini Penjelasan Lengkapnya

    Pengertian teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafsiran, penggarapan, penyajian atau pementasan.  Di mana, sebuah teks drama akan ditampilkan ke dalam sebuah karya dalam panggung.

    Teater berasal dari kata theatron yang diturunkan dari kata theaomai (bahasa yunani) yang artinya takjub melihat atau memandang.

    Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis.

    Sedangkan teater dalam arti luas adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak, contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.

    Arti Drama

    Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak  Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

    Arti Teater

    Secara etimologis: Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.

    Dalam arti luas: Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak.

    Dalam arti sempit: Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas.

    Akting yang Baik

    Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak. Dialog yang baik ialah dialog yang terdengar (volume baik), jelas (artikulasi baik), dimengerti (lafal benar), menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah).

    Penjelasan :

    Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar oleh penonton secara jelas. Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata harus terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali.

    Jangan sampai kata-kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih. Lafalkanlah yang benar sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang berlaku. Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah.

  • 8 Tips Bermain Teater untuk Pemula

    Saya Ingin bercerita sedikit tentang naskah drama yang diperagakan yaitu teater. Baiklah, untuk pembuka tulisan ini, saya ingin menjelaskan teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafsiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dari suatu naskah drama.

    Sederhananya, teater adalah penampilan yang disajikan dengan menggunakan naskah drama sebagai tumpuannya.

    Oke, kita sudah membahas secara sederhana mengenai pengertian teater, sekarang saya ingin memberi tips-tips yang pernah saya dapatkan saya berteater.

    Tips-tips ini saya dapatkan dari pelatih teater (senior) yang menurut saya sangat pandai berteater dan sangat pandai memoles akting dari para aktor sehingga pementasannya semakin hidup dan nikmat untuk dinikmati. Berikut tips-tipsnya.

    1. Eksplore Panggung

    Pada suatu pementasan teater, tata panggung itu biasanya sesuai dengan naskah drama yang akan ditampilkan. Jadi penataan panggung sangat berpengaruh untuk kesuksesan karena membantu memperjelas cerita dari naskah tersebut.

    Nah, saat pemain/aktor ada dalam panggung yang sempit maupun luas, dia dapat berpindah-pindah tempat mengisi kekosongan panggung, karena kekosongan panggung akan membuat tidak balance panggung, sehingga penampilan menjadi kurang enak dipandang.

    2. Artikulasi

    Pengucapan dialog saat pementasan teater adalah hal yang gampang, namun yang paling susah adalah menyampaikan ucapan kita ke penonton sehingga penonton menangkap maksud dari ucapan kita. Jadi pengucapan harus dengan artikulasi yang jelas agar penonton faham dengan yang kita ucapkan.

    3. Ekspresi

    Saat pemain/aktor sedang berperan, dia harus pintar-pintar merubah ekspresi, karena akting yang dilakoni bukan monoton, kadang senang, kadang susah, kadang bahagia, kadang cemburu, dan masih banyak yang lainnya.

    Bahkan bahagia saja banyak bagiannya, contoh bahagia saat menang undian berbeda dengan bahagia saat diterima cintanya. Maka dari itu ekspresi adalah hal yang perlu diperhatikan dalam berteater.

    4. Buang Muka

    Dalam hal ini, buang muka dimaksudkan adalah memperlihatkan ekspresi kita kepada penonton, bagaimanapun juga penonton adalah hal yang harus diperhitungkan untuk kali pertama.

    Jadi, berikan suguhan yang memuaskan untuk penonton. Termasuk sering-sering memperlihatkan ekspresi kita saat berakting.

    Tidak boleh dan jangan sekali-sekali memberi bokong kepada penonton (menghadap ke belakang). Usahakan sering-sering membuang muka ke penonton agar penonton tidak bosan dan tidak penasaran dengan ekspresei kita.

    5. Vokal Perut

    Berdialog saat pementasan sangat-sangat menguras tenaga. Apalagi kalau kita melakukan pementasan di gedung yang besar.

    Maka dari itu saya mendapat trik yaitu menggunakan suara perut, karena di dalam gedung, suara perut yang dikeluarkan akan menghasilkan suara yang lebih bulat tidak pecah seperti suara tenggorokan. Jadi gunakan suara perut saat berdialog di panggung teater.

    6. Respon

    Agar suasana panggung tidak kosong dan membosankan, para aktor harus melakukan respon yang baik kepada lawan mainnya. Respon ada berbagai macam, diantaranya adalah respon menggunakan ekspresi, gerakan, dan ucapan. Jadi, tidak ada kekosongan dalam permainan aktor tersebut.

    7. Karakter

    Dulu sewaktu saya berteater, hampir setiap hari saya dan teman-teman harus bermeditasi untuk memasukkan karakter peran dalam tubuh dan membuang jauh-jauh karakter saya sendiri. Jadi seumpama saya menjadi lakon banci, pada saat latihan saya bukanlah diri saya lagi, tapi seorang banci yang benar-benar banci.

    8. Gestur

    Gerak-gerik dan tingkah laku kita saat berakting harus dan harus sesuai dengan peran agar pementasan menjadi lebih hidup dan berwarna. Contoh lagi dengan menggunakan peran banci, saat bergerak, berjalan, duduk, melambai, dan semuanya harus sama dan sesuai dengan banci-banci pada umumnya. Bila perlu lakukan observasi utuk pemantapan karakter.