Tag: UGM

  • Mahasiswa Vokasi UGM Ubah Sampah Menjadi Produk Multifungsi Ramah Lingkungan

    Mahasiswa Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan kreativitasnya dalam menciptakan produk inovatif.

    Kali ini, tim dari Prodi Perjalanan Bisnis Pariwisata berhasil menyulap sampah menjadi produk multifungsi bernama “Uwuh Parahita”.

    Berawal dari keprihatinan mereka terhadap minimnya tempat sampah, sirkulasi udara yang buruk, barang-barang yang tercecer, dan pencahayaan ruangan yang kurang memadai, Fanny Rahma Putri, Mahendra Dwi Nugroho, dan Atifa Wul, terinspirasi untuk menciptakan Uwuh Parahita.

    Produk ini didesain berbentuk pohon yang terbuat dari bekas kaleng biskuit. Keunikan Uwuh Parahita terletak pada fungsinya yang beragam, yaitu:

    • Wadah Sampah: Terdapat dua wadah terpisah untuk sampah organik dan anorganik.
    • Tempat Tanaman: Wadah khusus untuk pot mini, memungkinkan Anda untuk menanam tanaman di dalam ruangan.
    • Tempat Barang: Menyimpan barang-barang kecil agar tidak berantakan.
    • Lampu Tidur: Dilengkapi lampu LED hemat energi (3 watt) untuk pencahayaan malam.

    Lebih menariknya lagi, Uwuh Parahita dibuat dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang mudah ditemukan di sekitar.

    Hal ini membuatnya mudah dibuat di rumah dan ramah lingkungan. Produk ini juga dirancang mudah dibongkar pasang, sehingga memudahkan pembuangan sampah dan fleksibel untuk dikreasikan sesuai kebutuhan.

    Inovasi Uwuh Parahita menjadi bukti bahwa mahasiswa vokasi mampu melahirkan produk-produk bermanfaat dan ramah lingkungan.

    Ke depannya, Fanny dan tim berencana untuk terus mengembangkan Uwuh Parahita agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

    Sumber: Kemdikbud

  • Ahli UGM Beri Peringatan: Hindari Sembelih Hewan Mati untuk Pencegahan Antraks

    Nanung Danar Dono, Dosen Peternakan di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), mengingatkan masyarakat untuk menghindari menyembelih dan mengonsumsi hewan ternak, seperti sapi atau kambing, yang mati akibat penyakit sebagai langkah pencegahan penyebaran antraks.

    “Daging bangkai tidak boleh dikonsumsi karena matinya karena zoonosis bisa menular ke manusia,” ucap Nanung, Selasa, (12/3/2024).

    Ia menekankan pentingnya mengisolasi hewan yang sakit untuk pengobatan hingga benar-benar pulih dan dinyatakan sehat.

    Namun, jika ditemukan hewan ternak yang telah mati dan dicurigai terkena antraks, sebaiknya segera dikubur atau dikremasi di tempat kejadian.

    “Jika tidak ada alat kremasi, maka dikubur saja ditimbun lalu disemen, tidak boleh dibongkar selamanya karena spora sangat awet, antidesinfektan sehingga penting adanya literasi dan edukasi agar kasus seperti ini tidak terulang kembali,” tandasnya.

    Nanung menyarankan agar hewan yang mati karena penyakit tidak dipindahkan ke lokasi lain, karena jika hewan yang mati tersebut mengeluarkan darah, dapat menyebabkan penyebaran spora di sepanjang jalan.

    Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Profesor Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyuni menganggap bahwa kemunculan kembali kasus antraks di Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, disebabkan oleh spora bacillus anthracis yang berasal dari hewan yang disembelih atau dari lingkungan ternak.

    Meskipun begitu, menurutnya penyakit antraks tidak hanya menyebar kepada hewan ternak, tetapi juga dapat menular ke manusia.

    Dia menyarankan agar hewan yang terinfeksi antraks dan lokasi yang menjadi sumber anthrax harus diisolasi, dengan tidak diperkenankan adanya lalu lintas ternak yang masuk atau keluar dari lokasi tersebut.

    Selain melaksanakan tindakan isolasi, peternak juga perlu meningkatkan langkah-langkah biosekuriti dan memberikan pengobatan pada hewan yang sakit, termasuk memberikan tambahan suplemen.

    Menurutnya, hewan yang terinfeksi bakteri antraks dapat diobati karena bakteri ini mudah mati jika diberikan antibiotik, antiseptik, desinfektan, dan pada suhu di atas 54 derajat Celsius selama 30 menit.

    Sementara itu, untuk hewan yang sehat, kata Agnesia Endang, disarankan untuk mendapatkan vaksinasi dua kali dalam setahun.

    Sumber: Antara