Tag: umkm

  • APUNA Banyuwangi Hadirkan Menteri Perdagangan, UMKM Dapat Akses Perluas Pasar Global

    APUNA Banyuwangi Hadirkan Menteri Perdagangan, UMKM Dapat Akses Perluas Pasar Global

    Peluang produk lokal Banyuwangi untuk menembus pasar global semakin terbuka.

    Hal tersebut mengemuka dalam talkshow bertajuk “Membangun Akses Produk Lokal Menjadi Incaran Pasar Global” yang menghadirkan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso di Aula Pelinggihan Tawang Alun, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jumat (28/8).

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Banyuwangi ini mempertemukan Menteri Perdagangan dengan pelaku usaha, komunitas pengusaha, UMKM, serta berbagai penggerak ekonomi kreatif di Banyuwangi.

    Turut mendampingi Menteri Perdagangan, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, serta sejumlah jajaran Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 150 peserta.

    Talkshow berlangsung interaktif. Para pelaku usaha tidak hanya mendapatkan paparan kebijakan, tetapi dapat menyampaikan langsung persoalan yang mereka hadapi dalam mengembangkan dan memasarkan produknya.

    Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari kelayakan produk untuk ekspor, langkah awal memasuki pasar internasional, perizinan, strategi menemukan buyer, hingga pengalaman pelaku usaha yang telah melakukan ekspor tetapi mengalami persoalan karena tertipu agregator.

    Bahkan, peluang produk hasil karya siswa SMK untuk menembus pasar ekspor juga menjadi salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada Menteri Perdagangan.

    Seluruh pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Budi Santoso.

    Penjelasan yang praktis dan membuka peluang tersebut membuat para pelaku usaha semakin antusias untuk mengembangkan produknya.

    Budi Santoso yang akrab disapa Busan menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan memiliki jaringan perwakilan perdagangan di berbagai negara yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha Indonesia untuk membuka akses pasar.

    “Kementerian memiliki Atase lebih dari 46 di berbagai negara yang bertugas untuk mencarikan buyer dan menangani business matching berbagai produk termasuk UMKM. Produk yang ingin diekspor apa dan bisa memilih mau ke negara mana, nantinya akan kami proses sampai menemukan buyer,” ungkap Busan.

    Menurutnya, pelaku usaha tidak perlu hanya berfokus pada bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga perlu memahami pasar yang dituju, meningkatkan kualitas, memenuhi persyaratan dan perizinan, serta membangun strategi pemasaran yang tepat.

    Dari Produk Lokal, Menuju Pasar Global

    Talkshow tersebut semakin menarik karena di lokasi kegiatan juga digelar pameran produk dari berbagai komunitas pengusaha Banyuwangi.

    Beragam produk yang ditampilkan menunjukkan bahwa potensi ekonomi lokal Banyuwangi tidak hanya bertumpu pada komoditas pertanian, tetapi juga berkembang pada sektor pangan olahan, kopi, kerajinan, fesyen, kriya, hingga produk kreatif.

    Sebanyak 22 peserta pameran turut menampilkan produknya, di antaranya Cigaraya Indonesia dengan cerutu daun talas, Alpukat Sofyan, Al-Balad Beans, Sambal Tempong Kemasan, LPNU Banyuwangi, APUNA, Pancoran Craft, Pakarwangi, Kejaya Handicraft, Pawoenkoe (Sinema Indonesia), Pawoenkoe Mevraiw, Kriya Bambu Papring, Iswara, Asosiasi UMAMI, Kopitalisasi, Bakpia Pewe, Karya Tangi, kerajinan bambu, Studer Pucuk Wetan (IWAPI), PT Rayan Smart Kreatif, serta Batik Papring.

    Keberagaman produk tersebut menjadi gambaran bahwa Banyuwangi memiliki banyak produk lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.

    Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan juga memperkenalkan program “Pojok Product Placement Pilihan Busan” sebagai salah satu peluang bagi produk pelaku usaha untuk masuk ke jaringan ritel modern.

    “Tiga bulan sekali produk APUNA dan bapak ibu sekalian bisa didaftarkan ke Pilihan Busan. Kalau lolos, sudah pasti bisa masuk ke seluruh jaringan ritel modern,” jelas Busan.

    Program tersebut disambut antusias oleh para pelaku usaha karena memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai jalur pengembangan pasar produk lokal, tidak hanya menuju konsumen domestik tetapi juga menuju jaringan perdagangan yang lebih luas.

    APUNA Jadi Ruang Kolaborasi Perempuan Muda dalam Ekonomi

    Sambutan Ketua PDNA Banyuwangi (Dok. Sastrawacana/Cici)

    Ketua PDNA Banyuwangi, Roudhotul Jannah, mengatakan bahwa talkshow tersebut tidak hanya menjadi ruang bertemunya pemerintah dengan pelaku usaha, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antarpelaku UMKM di Banyuwangi.

    Menurut Nana, sapaan akrab Roudhotul Jannah, APUNA hadir sebagai wadah bagi perempuan muda Nasyiatul Aisyiyah untuk berdaya dalam bidang ekonomi sekaligus membangun jejaring usaha yang lebih luas.

    “Talkshow ini sekaligus menjadi ajang sinergi dan kolaborasi UMKM untuk bersama-sama meluaskan jejaring usahanya. APUNA adalah wadah perempuan muda Nasyiah untuk berdaya dalam ekonomi,” ungkap Nana.

    Ia menambahkan, berbagai peluang yang disampaikan Menteri Perdagangan akan menjadi bahan tindak lanjut bagi APUNA Banyuwangi, termasuk dengan menghubungkannya melalui Koordinator Wilayah APUNA Jawa Timur.

    “Peluang-peluang ekspor yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan ini bisa difollow up ke Koordinator Wilayah APUNA Jawa Timur,” tambahnya.

    Dari Silaturahmi Menjadi Jejaring Usaha

    Semangat kolaborasi juga terasa dari para peserta. Salah satunya disampaikan oleh PC LPNU Banyuwangi melalui pesan di grup WhatsApp peserta kegiatan.

    “Kami atas nama PC LPNU Banyuwangi juga terima kasih sudah diundang, mudah-mudahan nanti APUNA bisa bersinergi dan kolaborasi dengan kami, matur nuwun.”

    Pesan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pertemuan tersebut tidak berhenti pada forum sehari.

    Lebih dari itu, talkshow menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai komunitas dan membuka kemungkinan kerja sama baru.

    Bagi APUNA Banyuwangi, mempertemukan pelaku usaha dengan pemerintah sekaligus mempertemukan pelaku usaha satu dengan lainnya merupakan bagian penting dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang lebih kuat.

    Produk lokal tidak cukup hanya dikenal di daerah asalnya. Ia perlu diberi jalan untuk tumbuh, menemukan pasar, membangun jejaring, dan memiliki kesempatan untuk bersaing di tingkat global.

    Melalui talkshow bersama Menteri Perdagangan RI ini, APUNA Banyuwangi membawa satu pesan penting: Banyuwangi tidak hanya memiliki produk lokal yang layak dibanggakan, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pasar global. (Zahrotul Janah)

  • Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tetap teguh menjaga tradisi leluhur melalui ritual adat Kebo-Keboan.

    Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, ikhtiar, dan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, serta hasil panen yang melimpah.

    Ketua Lembaga Adat Kebo-Keboan Alas Malang sekaligus Ketua Panitia Kebo-Keboan 2026, Doni Agus Ferdianto, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari sebuah peristiwa pagebluk yang pernah melanda desa pada masa lampau.

    Wabah penyakit saat itu menyebar begitu cepat hingga merenggut banyak nyawa warga.

    “Konon, pada masa itu seseorang yang pagi hari jatuh sakit, sore harinya sudah meninggal. Dalam kondisi tersebut, Buyut Karti melakukan semedi di Watu Loso sebagai ikhtiar memohon kepada Tuhan agar pagebluk segera berakhir,” ujar Doni.

    Dari peristiwa itulah kemudian lahir ritual Kebo-Keboan yang terus dilaksanakan hingga kini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah, diberi keselamatan, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan dan pertanian.

    Kerbau dipilih sebagai simbol utama dalam ritual ini karena memiliki kedekatan yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris.

    Hewan tersebut dikenal kuat, tangguh, dan menjadi sahabat petani dalam mengolah sawah sejak dahulu.

    Selain itu, dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat, Danyang Watu Loso digambarkan sebagai sosok berbadan manusia berkepala kerbau yang dipercaya menjaga wilayah Alas Malang.

    Rangkaian ritual Kebo-Keboan dimulai sejak malam 1 Suro dengan menggelar selametan di Watu Loso, tempat yang diyakini sebagai lokasi Buyut Karti memperoleh petunjuk untuk mengakhiri pagebluk.

    Memasuki H-7, warga bergotong royong mendirikan Gapura Poro Bungkil yang kemudian dihiasi berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.

    Pada H-3, panitia bersama masyarakat mengadakan santunan kepada anak-anak yatim yang diawali dengan pawai obor.

    Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus doa agar seluruh rangkaian ritual berlangsung dengan penuh keberkahan.

    Dua hari menjelang puncak acara, masyarakat kembali bergotong royong menghias gapura menggunakan beragam hasil pertanian, mulai dari padi, jagung, buah-buahan, hingga aneka sayuran yang menjadi hasil unggulan Desa Alas Malang.

    Sehari sebelum prosesi utama, warga mengikuti tasyakuran bersama yang digelar di sepanjang jalan dusun.

    Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika malam harinya, seusai salat Isya, masyarakat menanam berbagai jenis pohon di sepanjang jalan kampung sebagai simbol pelestarian alam dan harapan akan kehidupan yang terus tumbuh.

    Menjelang dini hari, para sesepuh adat melaksanakan ritual peletakan sesaji di empat batu yang dianggap sakral, yakni Watu Loso, Watu Nogo atau Watu Tumpeng, Watu Gajah, dan Watu Karangan.

    Keempat batu tersebut dipercaya telah ada sejak sebelum Desa Alas Malang berdiri dan diyakini menjadi penjaga Dusun Krajan dari berbagai ancaman maupun niat jahat.

    Ritual ini menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan para leluhur agar seluruh rangkaian Kebo-Keboan berjalan dengan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

    Lebih dari sekadar ritual adat, Kebo-Keboan juga menjadi ruang yang memperkuat solidaritas warga. Seluruh masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari membersihkan lingkungan, menghias kampung, menyiapkan perlengkapan ritual, hingga menyambut tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Semangat gotong royong tersebut menjadi nilai penting yang terus diwariskan kepada generasi muda.

    Di sisi lain, penyelenggaraan Kebo-Keboan turut memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

    Ribuan wisatawan yang hadir setiap tahun membawa berkah bagi para pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penjual hasil pertanian, hingga penyedia jasa parkir dan transportasi lokal.

    Perputaran ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan ritual menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga.

    Momentum ini juga menjadi panggung bagi para pelaku seni dan budaya lokal untuk menunjukkan kreativitasnya.

    Kelompok kesenian tradisional, penabuh gamelan, penari, pembuat properti adat, hingga para perajin lokal turut ambil bagian dalam menyukseskan rangkaian acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bagi masyarakat Desa Alas Malang, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual, gotong royong, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

    Melalui Kebo-Keboan, warisan budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempersatukan warga sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa.

  • Mahasiswa UM Sulap Daun Mangga Jadi Teh Herbal Sehat, Warga RW 15 Lowokwaru Antusias Ikuti Pelatihan

    Mahasiswa UM Sulap Daun Mangga Jadi Teh Herbal Sehat, Warga RW 15 Lowokwaru Antusias Ikuti Pelatihan

    Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang dibimbing oleh Dr. Ajeng Putri Pratiwi, M.Pd., sukses menggelar pelatihan produksi teh daun mangga di RW 15 Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang.

    Kegiatan ini menarik perhatian warga karena menghadirkan solusi kesehatan berbasis bahan alami sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif yang menjanjikan.

    Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut diketuai oleh Stevanus Purbadirja dari Departemen Biologi bersama tim mahasiswa lintas program studi Universitas Negeri Malang.

    Tim tersebut terdiri atas Talita Armitya Fahrsya Suhadi dari Departemen Matematika, Jalilatul Hikmah dan Rahel Andini Dwi Sasmita dari Departemen Biologi, serta Louis Giatra dari Departemen Teknik Industri.

    pengabdian masyarakat Mahasiswa Universitas Negeri Malang

    Melalui semangat kolaborasi dan kepedulian sosial, tim mahasiswa menghadirkan pelatihan inovatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat sekaligus pemanfaatan sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

    Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat pun mendapat apresiasi positif dari warga setempat.

    Ketua PKK RW 15, Ibu Iin, menyampaikan apresiasinya saat memberikan sambutan pada Sabtu (10/05).

    “Ini merupakan inovasi baru dan menarik sehingga ibu-ibu semuanya yang hadir bisa mengikuti dan mengimplementasikannya di lingkungan kita,” ujarnya.

    Pelatihan tersebut mengusung konsep pemanfaatan daun mangga sebagai bahan minuman herbal yang kaya antioksidan.

    Selama ini, daun mangga kerap dianggap sebagai limbah yang kurang bernilai.

    Namun, di tangan mahasiswa UM, daun mangga diolah menjadi teh sehat dengan cita rasa khas dan manfaat yang baik bagi tubuh.

    Daun mangga diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, mangiferin, dan polifenol yang dipercaya dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.

    Kandungan tersebut juga berpotensi menjadikan teh daun mangga sebagai alternatif minuman herbal preventif di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat.

    Kegiatan berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari warga RW 15 Lowokwaru.

    Puluhan peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM lokal tampak antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan, mulai dari pemilihan daun mangga berkualitas hingga teknik penyeduhan dan pengemasan produk agar memiliki nilai jual tinggi.

    Tidak sedikit warga yang mengaku baru mengetahui bahwa daun mangga dapat diolah menjadi produk herbal yang menarik dan berpotensi dipasarkan.

    “Saya kira daun mangga hanya sekadar daun biasa, ternyata bisa dijadikan teh. Ini inovasi yang baru dan keren, dan pelatihan ini bermanfaat karena membuka pengetahuan baru bagi warga,” ujar Ibu Ulla, Ketua RT 04/RW 15, dalam wawancara pada Sabtu (10/05).

    Pengabdian masyarakat Mahasiswa Universitas Negeri Malang

    Pendapat serupa juga disampaikan Ketua PKK RW 15 Lowokwaru yang mengapresiasi kreativitas mahasiswa UM dalam menghadirkan program inovatif yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

    “Kegiatan ini sangat positif karena tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama warga RW 15. Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh warga, terlihat dari antusiasme peserta yang hadir, di mana setiap RT memiliki perwakilan untuk mengikuti kegiatan,” terangnya.

    Sementara itu, Stevanus Purbadirja selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata implementasi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui aksi sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    “Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi kreatif yang bermanfaat bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat secara langsung, sesuai dengan program UM saat ini yang harus berdampak dan beraksi nyata,” jelasnya.

    Suasana pelatihan semakin hidup ketika peserta mencoba langsung hasil seduhan teh daun mangga yang telah dibuat bersama. Aroma khas dan rasa unik dari teh tersebut membuat banyak warga tertarik untuk mengembangkan produk secara mandiri.

    Bahkan, beberapa peserta mulai berdiskusi mengenai peluang pemasaran produk melalui media sosial dan kemungkinan menjadikannya sebagai produk unggulan yang dapat dikembangkan di RW 15.

    Program ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.

    Kehadiran mahasiswa UM di tengah masyarakat membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya berperan sebagai pelajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan ide kreatif dan solusi nyata bagi lingkungan sekitar.

  • GME Banyuwangi Gelar Bakti Sosial, Bagikan Paket Sembako ke Kaum Dhuafa dan Driver Ojek Online

    GME Banyuwangi Gelar Bakti Sosial, Bagikan Paket Sembako ke Kaum Dhuafa dan Driver Ojek Online

    Sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat yang membutuhkan, perusahaan Global Media & Entertainment (GME) menggelar kegiatan bakti sosial pada Jumat (26/9/2025), di Home Base GME, Kedai Makmoer, Banyuwangi.

    Koordinator GME Banyuwangi, Ari Wangsa secara langsung memberikan total bantuan sebanyak 30 paket sembako yang secara simbolis diberikan kepada lima penerima dari masyarakat dan driver ojek.

    Dalam kesempatan tersebut, Ari Wangsa menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya bentuk aksi berbagi, tetapi juga memberi contoh serta memotivasi masyarakat agar terus menebar kebaikan.

    GME Banyuwangi

    “Kami sangat berterimakasih kepada seluruh anggota GME dan GME Pusat yang telah memberi bantuan kepada saudara-saudara yang membutuhkan. Semoga bermanfaat bagi penerima dan menjadi inspirasi bagi anggota lain untuk terus peduli,” ujar Ari.

    GME Global merupakan perusahaan yang menyediakan lapangan pekerjaan online melalui platform APK yang berpusat di Wales, Inggris.

    Di Banyuwangi sendiri terdapat kurang lebih 300 karyawan tergabung dalam GME, yang mayoritas merupakan pelaku UMKM.

    Salah satu karyawan yang hadir dalam kegiatan ini adalah Kasiani, pedagang sayur yang baru bergabung menjadi karyawan GME.

    Ia menuturkan jika semenjak bergabung dengan GME, ia mendapatkan ilmu baru yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

    Cerita lain datang dari Ahmad Lutfianto, karyawan yang baru genap sebulan bekerja. Ia menuturkan bahwa selain memperoleh penghasilan, ia juga mendapatkan pengalaman berharga dalam hal kepemimpinan.

    “Selama satu bulan ini saya dapat penghasilan dan pengalaman leadership,” terangnya.

    Sebagai koordinator, Ari tidak hanya bertugas mengorganisasi kegiatan sosial, tetapi juga berperan sebagai mentor.

    GME Banyuwangi berbagi

    “Yuk kita sinergi dan kolaborasi tanpa meninggalkan pekerjaan utama sehari-hari. Bisa kami yang datang ke komunitas kalian, atau komunitas juga bisa hadir ke kedai Makmoer,” tutur koordinator GME APK sekaligus pengusaha rengginang Gyarus dengan nomor 082213280908 yang aktif layanan 24 jam ini.

  • Pasar Murah Kampung Soerangganti Hadirkan UMKM Berdaya dan Warga Bahagia

    Pasar Murah Kampung Soerangganti Hadirkan UMKM Berdaya dan Warga Bahagia

    Antusiasme warga Dusun Lateng, Desa Gladag, sangat tinggi saat Program Pasar Murah Ketahanan Pangan digelar pada Sabtu malam (06/09/2025).

    Program yang diinisiasi oleh Roemah Jasmine ini mengusung tagline “Dari Rakyat, Bareng Rakyat, Untuk Rakyat” dan langsung diserbu pengunjung begitu area dibuka pukul 19.00 WIB.

    Pasar Murah menyediakan berbagai kebutuhan warga, mulai dari produk sandang, pangan, papan, hingga jajanan murah.

    Di antaranya ada pakaian, bahan pokok (sembako), sayuran, buah-buahan, dan aneka produk UMKM. Semua barang dibanderol dengan harga lebih ekonomis dibanding harga pasaran.

    “Belum mulai saja sudah ramai. Begitu dibuka, banyak stand langsung habis diserbu warga,” ujar salah satu panitia sambil tersenyum melihat ramainya pengunjung.

    Pasar Murah Kampung Soerangganti

    Program ini juga memberikan keuntungan tambahan bagi pembeli. Setiap transaksi minimal Rp25.000 akan mendapatkan voucher belanja yang bisa digunakan kembali untuk membeli produk lain, berlaku kelipatan.

    “Belanja murah, dapat barang, masih dapat voucher. Pokoknya untung banget,” ungkap Cici, salah satu warga yang ikut berbelanja.

    Menurut koordinator program, Rita Yuli, tujuan utama Pasar Murah bukan hanya membantu masyarakat, tetapi juga membuka ruang usaha bagi UMKM lokal.

    “Kami ingin pelaku UMKM bisa punya tempat menjual produknya, sementara masyarakat bisa belanja dengan harga ekonomis namun tetap berkualitas,” jelasnya.

    Pasar Murah rencananya akan diadakan rutin setiap hari Sabtu malam. Selain itu, panitia juga membuka donasi dari para dermawan yang ingin menyalurkan bantuan dalam bentuk apapun untuk masyarakat.

    Warga pun menyambut positif keberadaan Pasar Murah ini. “Kalau bisa jangan hanya sekali seminggu, tapi lebih sering. Barangnya segar, murah, dan dekat dari rumah. Sangat membantu warga,” kata salah satu warga Kampung Soerangganti.

    Dengan tingginya animo masyarakat, Pasar Murah Ketahanan Pangan ini diharapkan terus berlanjut sebagai solusi belanja murah, berkualitas, sekaligus wadah pemberdayaan UMKM di wilayah Lateng desa Gladag Rogojampi.

    Penulis: Andi BS

  • Pertemuan Guyub Asosiasi UMKK Sinergi Gotong Royong 45: Optimalisasi Media Sosial untuk Kemajuan Usaha

    Pertemuan Guyub Asosiasi UMKK Sinergi Gotong Royong 45: Optimalisasi Media Sosial untuk Kemajuan Usaha

    sastrawacana.id/ – Asosiasi UMKK (Usaha Mikro Kecil Koperasi) Sinergi Gotong Royong 45 menggelar pertemuan dan pembekalan di teras Masjid Al Hilal 2 Banyuwangi, Minggu, 29 September 2024, sekira pukul 13.00 WIB,

    Dipandu oleh Qurota Ayunin, acara yang berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan ini menghadirkan Maulana Afandi, seorang praktisi digital profesional dan pemilik Penerbit Lintang, sebagai narasumber utama.

    Dafik Ismail, selaku ketua Koperasi Sinergi Gotong Royong 45, menyampaikan laporan perkembangan koperasi dan berbagai aktivitas usaha yang telah dirintis untuk mendukung anggota.

    Ia menegaskan pentingnya gotong royong dalam memperkuat koperasi sebagai wadah pengembangan usaha bagi para pelaku UMKM.

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh ketua Asosiasi UMKK Sinergi Gotong Royong 45, Faizah, pemilik usaha dengan brand Zahrawangi Fashion dan produk kuliner arabian Nasi Mandi.

    Faizah mengimbau agar para anggora asosiasi aktif untuk membagikan berbagai aktivitas dan kegiatan Asosiasi UMKK di media sosialnya masing-masing.

    Selanjutnya, Bung Aguk Darsono, pembina Asosiasi UMKK Sinergi Gotong Royong 45 memberikan wejangan penting bagi seluruh anggota koperasi.

    Ia menekankan bahwa kebersamaan dan kekompakan di antara anggota adalah kunci keberhasilan dalam berjuang dan mengembangkan usaha, baik untuk kepentingan keluarga maupun komunitas.

    Dalam sesi utama, Maulana Afandi memberikan pembekalan tentang cara mengoptimalkan penggunaan media sosial (Medsos) bagi para pelaku usaha.

    Maulana berbagi tips tentang bagaimana membangun citra bisnis di platform digital, serta memanfaatkan akun Medsos seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan WhatsApp untuk memperluas jangkauan pelanggan.

    Andre Waluyo, yang juga pengurus media online Asosiasi UMKK Sinergi Gotong Royong 45, turut mengingatkan para anggota tentang pentingnya setiap pelaku bisnis memiliki “Keyword Bisnis”.

    Menurut Andre, keyword bisnis ini akan memudahkan calon customer dan kolega untuk menemukan profil bisnis dan informasi kontak melalui pencarian online.

    Dengan begitu, akses terhadap kartu nama digital dan profil usaha menjadi lebih mudah dan cepat, memberikan keuntungan bagi perkembangan bisnis di era digital.

    Salah satu peserta, Linda dari Karangrejo yang memiliki usaha Kue Bolen menyampaikan apresiasi terhadap acara ini.

    Ia mengaku mendapatkan banyak wawasan baru tentang strategi pemasaran digital.

    Usaha bolennya yang telah menembus pasar luar kota seperti Malang, Surabaya, dan Jakarta melalui penjualan di grup WhatsApp, kini juga mulai menjajal platform TikTok untuk memperluas jangkauan.

    Dengan pembekalan yang diterimanya, ia berharap penjualan melalui media sosial akan semakin efektif.

    Acara ini tidak hanya memberikan wawasan digital yang penting bagi para pelaku usaha, tetapi juga memperkuat semangat kolaborasi dan gotong royong di antara anggota koperasi.

    Dengan adanya bimbingan terkait penggunaan media sosial dan keyword bisnis, diharapkan usaha para anggota semakin berkembang dan dikenal di pasar yang lebih luas.