Tag: unair

  • Tanam Ribuan Pohon di Hulu Brantas, UNAIR dan 4 PTN-BH Galang Aksi Konservasi Air

    Tanam Ribuan Pohon di Hulu Brantas, UNAIR dan 4 PTN-BH Galang Aksi Konservasi Air

    Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis air bersih dan dampak perubahan iklim, Universitas Airlangga (UNAIR) menggandeng empat Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) di Jawa Timur untuk melakukan aksi konservasi di hulu Sungai Brantas.

    Kegiatan penanaman pohon yang berlangsung pada Sabtu (26/7/2027) di Arboretum Sumber Brantas, Kota Batu, melibatkan Universitas Brawijaya (UB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Universitas Negeri Malang (UM).

    Aksi ini merupakan bentuk nyata pengabdian masyarakat (pengmas) yang diprakarsai UNAIR melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) serta SDGs Center, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Perum Jasa Tirta I, dan PDAM Surya Sembada Kota Surabaya.

    Ketua LPPM UNAIR, Prof. Dr. Gadis Meinar Sari, menyebutkan bahwa penanaman pohon ini adalah langkah awal dari program jangka panjang yang bertujuan menjaga keberlanjutan sumber air di Jawa Timur.

    Menurutnya, Sungai Brantas adalah urat nadi kehidupan masyarakat di wilayah tersebut dan pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara parsial.

    “Jawa Timur masih punya banyak permasalahan yang butuh diselesaikan bersama, salah satunya adalah pengelolaan Sungai Brantas, dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

    Prof. Gadis menekankan bahwa pengabdian masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolis. Kolaborasi ini diharapkan membuka pintu bagi sinergi lintas bidang, mulai dari sosial humaniora, teknologi, ekonomi, hingga kesehatan.

    “Keberhasilan itu tidak bisa kita nikmati jika tidak semua elemen dilibatkan. Sedekah paling besar adalah air,” tambahnya.

    Ia berharap, semangat gotong royong yang muncul dalam aksi ini bisa menggerakkan lebih banyak pihak untuk terlibat dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

    Agung Nugroho, Kepala Divisi di Perum Jasa Tirta I, menjelaskan bahwa Arboretum Sumber Brantas di Bumiaji bukanlah kawasan wisata, melainkan area konservasi yang berfungsi vital dalam menjaga ketersediaan air baku.

    Ia berharap kegiatan penanaman pohon ini akan membantu meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan serta meminimalisasi risiko banjir.

    Dalam jangka panjang, langkah ini akan menjaga kontinuitas aliran air ke hilir. Ia juga membuka peluang bagi kegiatan riset di kawasan arboretum dengan tetap menjaga fungsi konservatifnya.

    “Kawasan ini digunakan khusus untuk kegiatan konservasi dan tidak dibuka untuk umum atau wisata. Harapannya bisa menjaga kawasan arboritum. Jika ada yg mau penelitian disini juga diperbolehkan,” harapnya.

    Kepedulian serupa juga disuarakan oleh Direktur Operasi Perumda Air Minum Surya Sembada Surabaya, Nanang Widyatmoko.

    Ia menegaskan bahwa 93 persen kebutuhan air minum warga Surabaya bersumber dari Sungai Brantas. Karena itu, menjaga hulu sungai merupakan prioritas utama.

    Jika terjadi kerusakan atau gangguan, maka Surabaya bisa lumpuh. Apalagi dengan adanya perubahan iklim, pola hujan berubah, bendungan-bendungan mulai kekurangan stok air, dan kualitas air pun terancam karena limbah,” paparnya.

    Nanang menyambut baik keterlibatan kampus dalam isu-isu strategis seperti ini. Ia berharap, bentuk pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi bisa diarahkan untuk menjawab persoalan riil yang dihadapi penyedia layanan air, terutama di daerah yang kekurangan kapasitas teknis.

    “Air adalah shodaqoh terbaik. Dengan gotong royong, kita bisa memastikan air tetap mengalir untuk semua,” tandasnya.

    Aksi tanam pohon ini merupakan awal dari rangkaian program konservasi terpadu yang akan terus bergulir.

    LPPM dan SDGs Center UNAIR telah menyiapkan rencana lanjutan di wilayah hilir Sungai Brantas yang akan digelar pada bulan September mendatang, berlokasi di Kota Surabaya.

    Program ini menandai babak baru dalam pengabdian masyarakat lintas institusi di Jawa Timur.

    Dengan melibatkan lima PTN-BH sekaligus, kegiatan ini bukan hanya simbol kolaborasi akademik, tetapi juga refleksi kepedulian terhadap masa depan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

    Sumber: Unair

  • UNAIR Raih Peringkat 2 Terbaik di Indonesia, Kado Ulang Tahun ke-70 dengan Prestasi Gemilang

    UNAIR Raih Peringkat 2 Terbaik di Indonesia, Kado Ulang Tahun ke-70 dengan Prestasi Gemilang

    Universitas Airlangga (UNAIR) kembali meraih prestasi yang membanggakan.

    Kali ini, UNAIR berhasil menduduki peringkat kedua sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia menurut Quacquarelli Symonds Asian University Ranking (QS AUR) 2025.

    Pencapaian ini diumumkan secara resmi dalam acara QS Higher Education Summit: Asia Pacific yang digelar di Macau pada Rabu, 6 November 2024.

    Selain meraih posisi kedua terbaik di tingkat nasional, UNAIR juga mencatatkan dirinya di posisi ke-12 di Asia Tenggara dan ke-52 di Asia dengan skor 70.5.

    Dengan peringkat tersebut, UNAIR menunjukkan peningkatan yang signifikan, mengingat sebelumnya pada QS AUR 2024, UNAIR berada pada peringkat ke-15 di Asia Tenggara dan ke-67 di Asia.

    Keberhasilan UNAIR ini tentu tidak terlepas dari penilaian berbagai indikator. Dalam indikator International Student dan International Research Network, UNAIR berhasil meraih peringkat pertama di tingkat nasional.

    Sementara itu, pada indikator Employer Reputation, UNAIR menduduki peringkat kedua terbaik di Indonesia.

    Indikator-indikator ini merupakan tolok ukur utama dalam menilai kualitas dan relevansi pendidikan yang diberikan oleh perguruan tinggi.

    Rektor UNAIR, Prof. Dr. Mohammad Nasih SE MT Ak, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari upaya berkelanjutan UNAIR dalam memperbaiki berbagai aspek, termasuk fasilitas pembelajaran dan penelitian.

    Menurutnya, kualitas laboratorium dan fasilitas riset yang mendukung sangat penting untuk mendukung civitas akademika dalam menghasilkan inovasi dan karya yang berdampak luas.

    “Banyaknya fasilitas riset nanti akan berdampak sangat jelas, academic reputation kita pasti meningkat karena riset sangat diakui. Kalau sarana risetnya berstandar internasional, maka juga akan mendapatkan pengakuan. Termasuk juga joint research dengan mitra luar negeri. Kalau fasilitas kita bagus, pasti mereka juga tertarik,” ujar Prof. Nasih.

    Meskipun demikian, Prof. Nasih menegaskan bahwa peringkat bukanlah tujuan utama bagi UNAIR.

    Bagi dirinya, yang lebih penting adalah dampak nyata yang dihasilkan oleh mahasiswa melalui penelitian, inovasi, serta perbaikan berkelanjutan dalam berbagai aspek pendidikan dan pengajaran.

    “Sekali lagi tujuannya bukan peringkat, tetapi bagaimana penelitian bisa dilakukan sebaik-baiknya. Mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas untuk riset dan berdiskusi dengan baik sehingga muncul inovasi-inovasi baru. Bagi UNAIR yang terpenting adalah selalu ada perbaikan, perbaikan, perbaikan,” tegasnya.

    Kenaikan peringkat UNAIR di tingkat nasional dan Asia ini juga menjadi hadiah istimewa dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-70 yang akan jatuh pada 10 November mendatang.

    Prestasi ini menunjukkan bahwa UNAIR terus berkomitmen untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.