Tag: Viral

  • 5 Fakta Suraj Chavan, Sang Justin Bieber India yang Viral Disebut Pria Tertampan di India!

    5 Fakta Suraj Chavan, Sang Justin Bieber India yang Viral Disebut Pria Tertampan di India!

    sastrawacana.id/ – Nama Suraj Chavan mendadak mengguncang jagat media sosial di awal Februari 2026.

    Pria asal India ini menjadi fenomena global setelah video-videonya viral dan ia dijuluki sebagai “Justin Bieber India”.

    Tak main-main, bahkan banyak netizen yang secara sarkas maupun serius menjulukinya sebagai pria tertampan di India saat ini.

    Penasaran siapa sebenarnya sosok di balik poni lempar yang legendaris ini? Berikut adalah 5 fakta menarik yang wajib kamu tahu!

    1. Viral karena Poni Lempar ala Justin Bieber

    Alasan utama Suraj dijuluki “Justin Bieber India” bukan karena suaranya, melainkan gaya rambutnya.

    Di tahun 2026 ini, tren rambut poni lempar ala Justin Bieber tahun 2010 kembali naik daun gara-gara Suraj.

    Dengan gaya bicara khasnya yang disebut “Zapuk Zupuk”, ia berhasil membangun persona yang sangat unik hingga pengikutnya di Instagram menembus angka 2,9 juta.

    2. Mantan Buruh Harian yang Hidup Susah

    Di balik ketenarannya, Suraj memiliki latar belakang yang sangat menyentuh. Sebelum viral, ia adalah seorang yatim piatu yang bekerja sebagai buruh kasar di desa Modhave.

    Faktanya, ia hanya dibayar sekitar 700-800 Rupee (sekitar Rp130 ribuan) per hari. Kisah from zero to hero inilah yang membuat banyak orang di India sangat mengagumi kegigihannya.

    3. Pemenang Bigg Boss Marathi Musim 5

    Bukan sekadar viral karena meme, Suraj membuktikan popularitasnya dengan memenangkan ajang reality show bergengsi, Bigg Boss Marathi 5 pada akhir 2024.

    Kemenangan ini membawanya membawa pulang hadiah uang tunai sebesar 14,6 Lakh Rupee (sekitar Rp270 juta), sebuah rumah baru, dan voucher hadiah mewah. Ini adalah titik balik yang mengubahnya dari buruh menjadi miliarder.

    4. Disebut “Pria Tertampan di India” (Fakta atau Mitos?)

    Baru-baru ini, jagat internet dihebohkan dengan klaim bahwa Suraj terpilih sebagai pria tertampan di India.

    Namun, kamu perlu teliti, karena gelar ini sebenarnya berawal dari “meme” dan kekaguman fans atas kepercayaan dirinya yang luar biasa.

    Meski bukan gelar resmi dari kontes kecantikan nasional, popularitasnya saat ini memang mengalahkan banyak aktor tampan Bollywood dalam hal jumlah engagement di media sosial.

    5. Sudah Menjadi Bintang Film Resmi

    Karier Suraj tidak berhenti di media sosial saja. Di tahun 2026, ia sudah resmi terjun ke dunia akting profesional.

    Ia membintangi film berjudul Zapuk Zupuk, sebuah drama komedi yang terinspirasi dari jargon terkenalnya.

    Kini, ia bukan lagi sekadar “orang yang mirip Justin Bieber”, melainkan seorang aktor yang diperhitungkan di industri hiburan regional India.

    Nah, itulah 5 fakta mengenai Suraj Chavan yang sedang viral. Kisahnya membuktikan bahwa keunikan diri dan kerja keras bisa membawa siapa saja dari sudut desa menuju panggung dunia.

    Apakah menurut kamu Suraj memang layak disebut pria tertampan di India tahun ini?

  • Arti All Eyes On Rafah, Topik yang Lagi Viral di Media Sosial

    Seruan “All Eyes On Rafah” menggema di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan lainnya.

    Tagar dan gambar dengan pesan ini gencar dibagikan sebagai bentuk kepedulian terhadap tragedi yang terjadi di Rafah, Gaza Selatan.

    Apa Arti All Eyes On Rafah?

    “All Eyes On Rafah” bukan hanya slogan, tapi seruan kemanusiaan untuk mengalihkan perhatian dunia ke Rafah. Ini adalah misi solidaritas untuk membantu rakyat Palestina yang terdampak tragedi di sana.

    Tragedi di Rafah

    Seruan ini muncul setelah tragedi serangan udara di Rafah pada 26 Mei 2024. Rafah, yang selama ini menjadi tempat pengungsian bagi warga Palestina, menjadi tidak aman akibat serangan tersebut.

    Menurut Al Jazeera, serangan udara ini menewaskan 50 orang, termasuk banyak anak-anak. Kekejaman ini memicu kemarahan netizen di seluruh dunia.

    Bentuk Solidaritas Netizen

    Netizen dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Eropa, dan Australia, menunjukkan solidaritas mereka melalui unggahan konten dengan tagar “All Eyes On Rafah”.

    Tujuannya adalah untuk menarik perhatian dunia terhadap situasi di Gaza, khususnya Rafah.

    Seruan ini tidak hanya datang dari individu, tapi juga dari aktivis dan organisasi kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

    Asal Usul “All Eyes On Rafah”

    Menurut Forbes, seruan ini pertama kali dilontarkan oleh Rick Peeperkorn, Direktur Kantor Wilayah Pendudukan Palestina di World Health Organization (WHO) pada Februari 2024.

    Ia mengatakan “All Eyes On Rafah” beberapa hari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana evakuasi ke kota tersebut.

    Netanyahu berencana melancarkan serangan untuk menghancurkan kawasan yang disebut sebagai benteng terakhir kelompok militan Hamas.

    Seruan “All Eyes On Rafah” bertujuan untuk menarik perhatian dunia terhadap 1,4 juta pengungsi yang berlindung di Rafah dari serangan di Gaza.

    Organisasi seperti Save the Children, Oxfam, American for Justice in Palestine Action, Jewish Voice for Peace, dan Palestine Solidarity Campaign kemudian mengulangi seruan tersebut.

    Kini, “All Eyes On Rafah” digunakan dalam aksi demo di berbagai kota, termasuk Paris, London, Belanda, New York, dan Los Angeles.

    Dampak Gerakan “All Eyes On Rafah”

    Lebih dari 195.000 postingan dengan jutaan penayangan telah dibuat dengan tagar #AllEyesOnRafah di TikTok. Topik ini juga menjadi trending di Instagram, dan hampir 100.000 postingan lain telah dibagikan.

    Gerakan ini menunjukkan kekuatan media sosial dalam memobilisasi kepedulian dan solidaritas global terhadap isu-isu kemanusiaan.

    “All Eyes On Rafah” menjadi pengingat bahwa kita tidak boleh berpaling dari tragedi yang terjadi di berbagai belahan dunia.

  • Kumpulan Arti Kode Angka yang Lagi Viral di TikTok

    Bagi pengguna TikTok, tentu kamu pernah melihat postingan atau komentar yang menggunakan angka-angka saja.

    Kendati memiliki arti, tapi nyatanya kode angka tersebut kadang membingungkan, khususnya bagi pengguna baru.

    Biasanya angka tersebut sering digunakan oleh pengguna Tiktok untuk menyampaikan pesan tersembunyi kepada pengguna lain.

    Angka-angka dengan panjang 3 hingga 4 digit ini kerap muncul di berbagai media sosial, namun banyak yang belum mengetahui signifikansi dibalik kombinasi angka tersebut.

    Bagi yang penasaran, cek penjelasan lengkapnya di bawah ini.

    • 910 – Sorry I hurt you (Maaf aku telah menyakitimu)
    • 0563 – Please don’t leave me (Tolong jangan tinggalkan aku)
    • 5801 – Im sorry for loving you (Aku minta maaf karena mencintaimu)
    • 4202 – Let’s end this (Mari kita akhiri ini)
    • 1730 – You made another pain (Kamu menciptakan rasa sakit lagi)
    • 0931 – I’m losing feeling (Aku telah kehilangan perasaan)
    • 9080 – I want you with me (Aku ingin kau bersamaku)
    • 1543 – I still love you (Aku masih mencintaimu)
    • 143 – I love you (Aku cinta kamu)
    • 2201 – Stay happy love (Tetap bahagia ya, cinta)
    • 2789 – I’m tired of life (Aku lelah hidup)
    • 6929 – Thank you, good bye (Terima kasih, selamat tinggal)
    • 1087 – I miss the old us (Aku merindukan kita yang dulu)
    • 0473 – Hug me please (Tolong peluk aku)
    • 5555 – I miss your voice, especially you (Aku merindukan suaramu, terutama kamu)
    • 1007 – Feel me love (Rasakan aku, cinta)
    • 3639 – You changed (kamu berubah)
    • 4284 – Our stay will never end, for now (Masa tinggal kita tidak akan pernah berakhir, untuk saat ini)
    • 107 – Come back (Kembalilah)
    • 607 – I miss you (Aku rindu kamu)
    • 1437 – I love you forever (Aku cinta kamu selamanya)
    • 7537 – I know you don’t like me (Aku tahu kamu tidak menyukaiku)
    • 5391 – So we’re strangers again? (Jadi kita jadi orang asing lagi?)
    • 6302 – Im starting to like you (Aku mulai menyukaimu)
    • 1038 – Can’t stop loving you (Tidak bisa berhenti mencintaimu)
    • 4200 – Losing feelings to you (Kehilangan perasaan padamu)
    • 1463 – I miss the old you (Aku merindukanmu yang dulu)
    • 111 – A
    • 222 – B
    • 333 – C
    • 444 – D
    • 555 – E
    • 666 – F
    • 777 – G
    • 888 – H
    • 999 – I
    • 101 – J
    • 102 – K
    • 103 – L
    • 104 – M
    • 105 – N
    • 106 – O
    • 107 – P
    • 108 – Q
    • 109 – R
    • 1010 – S
    • 1020 – T
    • 1030 – U
    • 1040 – V
    • 1050 – W
    • 1060 – X
    • 1070 – Y
    • 1080 – Z

    Itulah arti kode angka yang saat ini sedang viral di media sosial TikTok.

  • Mengenal Apa Itu SSA 24 Jam yang Sedang Viral di Jember

    Baru-baru ini informasi seputar SSA 24 jam di Jember seliweran di media sosial, seperti Instagram dan Tiktok.

    Salah satu penyebab viralnya SSA 24 jam adalah memicu kontroversi, dimana ada pihak yang setuju dan tidak setuju.

    Apa itu SSA 24 jam?

    SSA 24 jam adalah Sistem Satu Arah selama 24 jam yang diberlakukan pemerintah setempat dalam mengatasi kemacetan lalu lintas dan meningkatkan keselamatan berkendara.

    Dalam hal ini, SSA 24 jam akan diberlakukan di empat ruas jalan kawasan Unej, yaitu Jalan Jawa, Kalimantan, Mastrip, dan Jalan Riau.

    SSA 24 jam Jember masih dalam proses uji coba yang rencananya akan dilakukan selama sebulan.

    Sebelumnya, uji coba ini hanya dilakukan pada jam-jam tertentu, namun sejak Sabtu (28/10/2023), SSA diberlakukan selama 24 jam penuh.

    Jika nanti ternyata didapati SSA 24 jam berhasil mengatasi masalah kemacetan, maka ada potensi akan diterapkan secara permanen di kawasan Kampus Jember tersebut.

    Namun, kendati hasilnya cukup baik dalam kelancaran lalu lintas, tak menutup kemungkinan juga akan ada opsi lain dari pemerintah setempat, melalui Dishub.

    Sebab, saat ini masih dalam tahapan uji coba yang belum diketahui bagaimana keputusan finalnya nanti.

    Dalam tahapan uji coba ini, ada beberapa aturan yang coba diterapkan, seperti posisi parkir sepanjang Jalan Jawa dan marka parkir, tujuannya agar tidak ada lagi yang parkir sembarangan.

    Kemudian, pihak Dishub juga sudah saling berkomunikasi dengan pihak kampus terkait uji coba program baru ini.

    Kendati menuai berbagai kritik, baik secara langsung maupun di media sosial, pihak penyelenggara uji coba SSA 24 jam akan menjadikan kritik tersebut sebagai masukan serta mengucapkan terima kasih kepada semua pihak.

  • Anak Harimau Mati, Alshad Ahmad Dicibir Warganet Hingga Trending di Twitter

    Alshad Ahmad membagikan momen kesedihannya setelah kematian anak harimau kesayangan yang bernama Cenora pada Senin, (24/7/2023).

    Dalam unggahan di Instagram pribadinya, Alshad menulis pesan kesedihan atas kematian Cenora.

    “Selamat istirahat ya sayang, makasih atas kehadiranmu disini yang selalu bikin kita semua bahagia,” tulis Alshad, dikutip okeviral.com dari Instagram @alshadahmad.

    Dalam postingan yang bernuansa hari itu, Alshad membagikan bagaimana kedekatannya dengan Cenora.

    Namun, kabar kematian Cenora menimbulkan beragam reaksi dari netizen.

    Ada yang turut berduka, tak sedikit pula yang justru mengkritik Alshad karena kemarian harimau peliharaannya bukan terjadi kali ini saja.

    “Keseringan dibikin konten sih, mau berapa banyak anak harimau lagi yang mati di tangan lu,” ucap salah seorang netizen di kolom komentar.

    Seperti diketahui, sebelum Cenora, ada harimau peliharaan lainnya yang mati terlebih dahulu.

    Melihat runtutan fenomena tersebut, netizen meminta Alshad untuk lebih memerhatikan kondisi hewan peliharaan karena sering dijadikan konten.

    Di sisi lain, tidak sedikit pula akun centang biru yang turut mengutarakan kesedihannya atas kematian Cenora.

    Kabar ini viral di sosial media hingga akhirnya menjadi trending topik di Twitter hari ini, Selasa, (25/7/2023).

    Sumber: Instagram/alshadahmad

  • Sebelum Corona, Indonesia Pernah Diserang Wabah Pes

    Kemunculan COVID-19 atau yang lebih akrab disebut virus corona memang sangat meresahkan semua orang. Pasalnya, virus yang satu ini tergolong sebagai virus yang cukup mematikan dan penyebarannya sangat mudah.

    Sampai saat ini, sudah puluhan ribu orang yang positif terkena virus corona dari seluruh belahan dunia. Oleh karenanya, hampir semua negara melakukan tindakan-tindakan cepat untuk memutus rantai persebarannya sehingga tak ada yang terinfeksi lagi, termasuk di negara kita tercinta, Indonesia.

    Saat ini Indonesia sedang darurat corona sehingga pemerintah mengimbau agar masyarakat lebih banyak melakukan aktivitas di dalam rumah, alias tidak usah bepergian jika tidak perlu. Selain itu, disarankan pula untuk menjaga kebugaran dengan mengonsumsi makanan sehat serta berolahraga secukupnya.

    Namun, bicara tentang virus atau wabah penyakit, ternyata jauh sebelum isu virus korona ramai dibincangkan, Indonesia sudah pernah dibikin kalang kabut oleh wabah yang bernama wabah pes.

    Wabah Pes di Indonesia

    Ya, wabah pes adalah salah satu jenis pandemi hebat yang terjadi di Indonesia sekitar tahun 1911 silam yang disinyalir ditularkan oleh hama tikus. Tak tanggung-tanggung, wabah ini memakan korban hingga 120.000 orang yang kebanyakan dari daerah Jawa, Khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Wabah mengerikan ini cukup menggemparkan dunia hingga dijuluki sebagai Black Death karena akan membuat tubuh yang terinfeksi akan menghitam, seperti terkena racun.

    Bahkan, wabah mematikan ini berlangsung cukup lama, yakni selama 15 tahun! Karena begitu banyak korban berjatuhan, akhirnya kolonial Belanda berinisiatif untuk menjalankan program bongkar rumah.

    Jadi, rumah yang masuk dalam daftar pembongkaran akan dibongkar mulai atap, dinding anyaman, hingga bagian alas untuk mencari sarang tikus penyebar wabah. Setelah 15 tahun berselang, wabah ini perlahan hilang, namun masih memberikan ingatan yang kelam.

  • 7 Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah KKN Desa Penari

    7 Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah KKN Desa Penari

    Beberapa hari belakangan ini, masyarakat Indonesia sedang dihebohkan dengan kisah KKN Desa Penari.

    Ya, dalam cerita yang diunggah oleh akun twitter @simpleM81378523 itu, dia menceritakan bahwa ada sekelompok Mahasiswa asal kota S yang sedang melakukan pengabdian kepada masyarakat di kota B.

    Namun, pengabdian itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Proker yang sudah dirancang sedemikian rupa tak dapat diselesaikan karena terjadi insiden cukup menyeramkan selama mengabdi di Kota B tersebut. Bahkan, sampai merenggut nyawa.

    Penulis membuat dua cerita yang berbeda sudut pandang. Sudut pandang pertama adalah versi Nur, selanjutnya adalah versi Widya (keduanya adalah anggota KKN di Desa Penari). Walau berbeda sudut pandang, keduanya masih memiliki rentetan cerita yang sama dan menyiratkan unsur mistis yang kuat.

    Tentu saja fenomena yang sedang viral ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Ada yang percaya, ada juga yang menganggap bahwa cerita itu hanyalah khayalan belaka.

    Bahkan, tidak sedikit yang mencoba untuk menguak kebenarannya dengan observasi langsung ke tempat-tempat yang disinyalir menjadi lokasi KKN tersebut.

    Karena begitu hebohnya berita ini, sampai-sampai ada informasi seliweran di media sosial jika kisah KKN di Desa Penari akan diangkat menjadi sebuah film!

    Namun, terlepas dari itu semua, kali ini Sastrawacana akan membahasnya dengan sudut pandang lain, yakni hikmah serta pelajaran yang bisa kita dapat dari cerita seram tersebut.

    Sebab, setiap peristiwa pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik agar dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

    Nah, apa saja pelajaran dan hikmah dari kisah KKN di Desa Penari? Berikut diantaranya:

    1. Patuhi Ucapan Orang Tua

    Dalam cerita KKN Desa Penari, ada sebuah dialog antara tokoh ‘Widya’ dengan orang tuanya. Yang mana orang tua Widya merasa kurang berkenan jika Widya melakukan KKN di Desa yang notabene adalah hutan di wilayah timur.

    Sangking khawatirnya, orang tua Widya juga menanyakan apakah KKN bisa ditunda tahun depan. Namun, Widya bersikeras untuk meyakinkan orang tuanya dengan berbagai alasan.

    Alhasil, walau dengan berat hati, orang tuanya mengizinkan.

    Dari penggalan cerita tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwasanya ucapan orang tua itu sakral. Naluri dan insting orang tua sangat kuat, apalagi yang berususan dengan anaknya.

    Ketika orang tua tidak mengizinkan atas apa yang kita lakukan, maka patuhilah agar tidak terjadi sesuatu yang buruk di kemudian hari.

    2. Jangan Memaksakan Kehendak

    Dalam awal cerita, ada seorang tokoh bernama ‘Ilham’ yang memaksa Pak Prabu agar adiknya dapat KKN di desa angker tersebut.

    Pak Prabu adalah Kepala Desa di sana, jadi dia pasti sangat tahu kondisi dan situasi desanya sehingga menolak secara tegas jika ada Mahasiswa yang ingin mengabdi di sana.

    Namun, di sisi lain Ilham tetap memaksa Pak Prabu dengan berbagai alasan. Hingga pada akhirnya, Pak Prabu dengan berat hati mengizinkan sekelompok Mahasiswa tersebut untuk KKN di desanya.

    Pelajaran yang dapat dipetik adalah agar kita tidak memaksakan kehendak, apalagi sampai memaksa orang lain.

    Sebab, kadang orang lain lebih mengerti daripada kita sehingga jika kita mendapat penolakan, cobalah untuk memahami maksud dari penolakan tersebut. Bukannya malah memaksakan kehendak.

    3. Menjunjung Tinggi Etika dan Norma

    Dalam cerita KKN horor ini, ada beberapa dialog yang menceritakan bahwa Mahasiswa tersebut kerap mengeluarkan kata-kata yang tak pantas sehingga membuat orang lain sedikit tersinggung.

    Ingatlah, Indonesia terdiri dari banyak kultur dan budaya. Tidak semuanya bisa menerima candaan kita. Bahkan, kadang budaya candaan kita bisa dianggap sebuah penghinaan oleh budaya masyarakat di tempat lain.

    Maka dari itu, menjaga perkataan serta menjunjug tinggi etika dan norma adalah hal yang perlu dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja.

    Apalagi kita adalah orang berpendidikan, maka prinsip tersebut harusnya sudah melekat dalam diri.

    4. Menjaga Perilaku

    Dalam penggalan cerita KKN Desa Penari versi Nur, ada sebuah part yang menjelaskan jika salah satu dari anggota KKN melakukan aktivitas yang diluar batas bersama teman sekelompoknya.

    Parahnya lagi, aktivitas diluar nikah tersebut dilakukan dua kali dengan dalih ‘khilaf’. Padahal, apapun alasannya, perbuatan tersebut sangat tidak pantas dilakukan.

    Apalagi status mereka adalah Mahasiswa yang sedang mengabdi kepada masyarakat dan ingin membangun desa serta SDM masyarakat setempat.

    Nur saja merasa geram ketika melihat perilaku temannya. Sebab Nur paham jika hal tersebut memang tidak layak dan tidak boleh dilakukan menurut agama.

    Jadi, menjaga perilaku dari tindakan-tindakan kurang terpuji adalah kewajiban setiap orang, tanpa terkecuali.

    5. Jauhi Syirik

    Jika ditarik benang merahnya, cerita seram ini bermula dari kelakuan syirik anggota KKN yang meminta bantuan makhluk halus untuk dapat mengabulkan permintaannya. Tentu saja ini adalah perbuatan syirik, menyekutukan Tuhan.

    Tiada lain tempat meminta hanyalah kepada Allah S.W.T, Tuhan Yang Maha Esa. Namun yang dilakukan oleh anggota KKN tersebut sudah melampaui batas, meminta kepada makhluk halus atau jin penunggu desa.

    Alih-alih dikabulkan, justru kita akan disesatkan oleh makhluk halus tersebut dengan berbagai tipu dayanya.

    Kita akan menderita jika sampai terseret dalam area syirik. Ingat, jangan turuti nafsu karena bisa menghancurkan keimanan.

    6. Mendengar Kata Hati

    Sebenarnya, sebelum mereka melakukan kegiatan KKN di desa tersebut, ada firasat-firasat yang kurang indah.

    Hanya saja mereka tidak jeli mendengar kata hati. Ingatlah, kata hati adalah sebuah bisikan yang tulus dari dalam diri. Jangan sampai akal mengelabuinya sehingga kata hati menjadi redup sehingga sulit tuk didengar.

    Sering terjadi, kata hati yang tidak digubris membuat orang jatuh ke dalam jurang penyesalan dalam segala urusan, seperti urusan asmara maupun karir.

    Memang benar, mendengarkan kata hati adalah hal yang cukup sulit karena tak terdengar dan tak tampak.

    Tapi pada dasarnya kita semua bisa membaca kata hati asalkan tahu bagaimana cara membedakan antara kata hati dan kata pikiran.

    Untuk mempelajari itu, kalian bisa mendapatkannya secara lengkap melalui buku #CintaPentiumSatu yang sudah tersedia di seluruh toko buku Indonesia.

    Pelajarilah cara membaca kata hati dari sekarang, agar keputusan yang kita ambil tidak membuat kita menyesal di kemudian hari.

    7. Jadilah Lelaki Pemberani

    Jika memang menaruh hati pada perempuan, maka jadilah lelaki pemberani dengan berjuang secara sehat. Cari cara dan atur strategi agar wanita yang kita suka bisa menerima kita.

    Tapi ingat, cara yang digunakan haruslah cara yang sehat, bukan dengan bantuan makhluk halus, apalagi sampai ilmu hitam berupa pelet. Ingatlah, sesuatu yang didapatkan secara cepat, akan berakhir cepat pula.

    Selain itu, tidak akan ada kepuasaan serta kebanggan dalam diri ketika berhasil mendapatkan wanita dengan cara-cara yang tidak terpuji.

    Ada banyak cara bersih untuk memikat hati wanita, jadi kenapa harus menggunakan cara yang kotor?

    Nah, itulah beberapa hikmah serta pelajaran yang dapat dipetik dari kisah mengerikan KKN Desa Penari yang sedang viral saat ini. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di Sastrawacana.

    Penulis: Maulana Affandi (Penulis Buku #CintaPentiumSatu)

    Buku #CintapentiumSatu bisa kalian dapatkan di toko buku atau Gramedia terdekat di kota kalian. Semoga ratusan lembar dalam buku tersebut bisa menjadi inspirasi serta pembelajaran bagi kita semua untuk mengarungi kehidupan yang lebih baik sehingga menggapai kesuksesan dunia dan akhirat.

    Temukan saya di Media Sosial:

  • Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Nur Part 5

    Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Nur Part 5

    Cerita ini bersumber dari cuitan akun twitter @simpleM81378523 yang tengah viral saat ini. Daripada penasaran, yuk simak kisah lengkapnya!

    —————

    Nur menyerah, namun firasat buruknya, semakin terasa

    (ada hal ganjil disini, yang Nur sadari di kemudian hari, orang atau makhluk yang memberi Nur selendang ini, siapa?

    sampai akhir cerita ini belum dipecahkan, bahkan dari saat gw bicara sama mbak Nur, beliau hanya berasumsi, namun tidak berani mengatakan)

    puncaknya, adalah setelah malam panjang itu. disini, petaka yang paling di takutkan oleh Nur, terjawab.

    Nur terbangun ketika subuh, ia tersentak saat mendengar Widya menangis, tangisanya sangat keras sampai Nur terkesiap lalu terbangun dari tidurnya

    saat ia melihat, apa yang membuatnya terbangun, Nur melihat Ayu, dengan mata terbuka, ia mengangah, seperti mau mengatakan sesuatu

    belum berhenti sampai disana, Nur tidak menemukan Widya di tempatnya, hal itu, membuat Nur menjerit sehingga Wahyu dan Anton merangsek masuk dengan wajah khawatir.

    “onok opo Nur? (ada apa Nur?)

    “Widya ilang mas” (Widya hilang mas)

    Wahyu dan Anton terhenyak sesaat, sebelum-

    “Bima yo gak onok nang kamar loh”(Bima juga gak ada di dalam kamar) kata Anton buru-buru,

    sontak, semua mata memandang Ayu, Wahyu terhentak bingung.

    “Ayu kenek opo Nur” (Ayu kenapa Nur)

    “celukno pak Prabu!!” (panggilkan pak Prabu)

    Anton yang mendengarnya langsung pergi.

    “yu, tangi yu!!” (yu ayok bangun yu) namun, Ayu masih sama, ia hanya melihat langit-langit, Nur manah mulutnya agar tertutup, namun, ia terus mengangah, Wahyu yang melihat tidak bisa berbuat apa-apa

    “Cok onok opo seh iki” (asem, ada apa sih ini)

    “celokno warga ojok ndelok tok!”

    Wahyu pun ikut pergi, Nur terus menahan mulut Ayu. sampai Pak prabu datang bersama Anton dan melihatnya.

    “kok isok koyok ngene to nduk” (kok bisa sampai begini sih nak)

    Pak prabu, pergi ke pawon, ia kembali membawa teko air, Nur menahan isi kepala Ayu, dan meminumkanya.

    tiba-tiba, ayu menutup mulutnya, namun, ia masih belum bereaksi, tidak beberapa lama, warga sudah berdatangan bersama Wahyu, saat itu, rumah itu di penuhi warga, tanpa banyak bicara, pak Prabu menyuruh beberapa orang untuk memanggil mbah Buyut.

    dan warga itu pun pergi.

    Nur menjelaskan kronologi kejadian itu, namun, ia meminta pak Prabu tidak menceritakan semua ini kepada warga, Anton dan Wahyu yang mendengarnya seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

    “Asu, kok isok loh” (anj*ng! kok bisa bisanya) Wahyu tampak merah padam mendengarnya.

    pak Prabu pun mengumpulkan warga, meminta mereka semua pergi menyisir setiap penjuru Desa, ia beralaskan, bahwa Bima dan Widya hilang kemarin malam, dan saat ini belum kembali.

    meski warga awalnya bingung, bagaimana bisa, namun mereka semua langsung bergerak, termasuk Wahyu

    Anton pun begitu, ia ikut menyisir ke hilir sampai hulu sungai, sebisa mungkin dengan beberapa warga yang membawa parang dan berbagai barang yang tidak pernah ia pahami.

    Nur terus menangis, melihat kondisi Ayu, membuat ia tidak bisa menahan kesedihan yang sudah memenuhi hatinya

    pak Prabu meminta penjelasan lebih detail, setelah itu, Nur menunjukkan barang yang seharusnya ia berikan kepada pak Prabu saat mendapatkanya.

    tepat ketika membuka kotak itu, pak Prabu yang melihatnya, kaget bukan main, sampai ia tiba-tiba berteriak marah “OLEH TEKAN NDI IKI?!”

    (DAPAT DARIMANA KAMU BENDA INI!!)

    Nur yang kaget, kemudian menjelaskan sisa ceritanya, disana, pak Prabu terlihat frustasi, ia kemudian mengatakan kepada Nur, “nek kancamu gak ketemu, ikhlasno, ben aku sing ngadepi masalah iki” (bila sampai temanmu, tidak ditemukan, ikhlaskan-

    biar aku yang menghadapi sisanya)

    Nur pun bertanya, benda apa itu sebenarnya, namun pak Prabu tidak bicara, ia harus menunggu datangnya mbah Buyut yang akan menceritakan semuanya.

    berjam-jam sudah di lewati namun belum ada kabar satupun dari warga yang kembali, sampai terdengar suara motor mendekat, manakala Nur dan pak Prabu berdiri untuk melihat sesiapa yang datang,

    mbah Buyut mendetak dengan tergopoh-gopoh, seakan mencari sesuatu,

    mbah Buyut mengambil kawaturih, kemudian bertanya siapa yang punya, Nur mendekat, menjelaskan semuanya, ekspresi tenang mbah Buyut, tidak terlihat sama sekali.

    kemudian ia menatap Ayu, helaan nafas berat mbah Buyut keluarkan, kemudian ia, meminta Prabu membuatkan kopi hitam

    mbah Buyut duduk sembari berpikir, banyak pertanyaan yang ia ajukan mulai, sejak kapan ada benda seperti ini disini, lalu bagaimana bisa selendang itu di miliki Ayu,

    Nur menceritakan semuanya,

    saat menyesap kopi itu, mbah Buyut berujar “kancamu, keblubuk angkarah”

    (temanmu terjebak dalam pusaran)

    “trus, yok nopo mbah?” (lalu bagaimana mbah)

    “siji kancamu wes ketemu, tapi sukmane gorong, tenang sek, yo” (satu temanmu sudah ketemu lagi, tapi rohnya belum, sabar ya)

    tidak beberapa lama, kerumunan warga mendekat, Wahyu masuk wajahnya pucat

    seorang warga membopong seseorang.

    ketika Nur melihatnya, ia tidak bisa menghentikan jeritanya, manakala melihat Bima kejang-kejang layaknya seorang yang terkena epilepsi.

    Wahyu, segera memeluknya, menutupi Nur agar tidak melihat Bima yang menjadi seperti itu.

    Mbah buyut kemudian mengatakan, bahwa bila sukma dua orang ini sedang terjebak, namun, ada satu orang yang bukan hanya sukmanya yang hilang atau di sesatkan, melainkan raganya juga ikut disesatkan, ia adalah Widya, orang yang paling di inginkan oleh, Badarawuhi namun, ia meleset

    Mbah buyut menunjukkan kawaturih, yang harusnya memiliki pasangan, benda ini di letakkan di lengan seorang penari, sebagai susuk, entah ada kejadian apa, Badarawuhi menginginkan benda ini ada pada Widya, namun, Nur yang menemukanya, kemudian mengambilnya, membuat benda ini-

    kehilangan pemilik, yang maka artinya, Nur yang memiliki, tapi, Nur di lindungi, itulah alasan kenapa Nur selalu merasakan bahwa badanya terasa berat di jam-jam tertentu, mbah Dok yang melindungi Nur sudah berkelahi hampir dengan setengah penghuni hutan ini.

    setelah itu, pak Prabu meminta agar Ayu dan Bima di tutup oleh kain selendang, di ikat dengan tali kain kafan, membiarkanya seolah-olah mereka sudah tidak bernyawa.

    mbah Buyut, pergi ke kamar, ia akan mencari Widya, menjelma sebagai Anjing hitam dengan ilmu kebatinanya

    pak Prabu menceritakan bahwa memang ada rahasia yang tidak ia katakan dan alasan kenapa ia menolak keras di adakan kegiatan ini sejak awal.

    tepat di samping lereng, ada tapak tilas, tempat penduduk desa ini mengadakan pertunjukkan tari, bukan untuk manusia namun untuk jin hutan

    ia mengatakan, dulu, setiap di adakan tarian itu, untuk menghindari balak (bencana) bagi desa ini, seriring berjalanya waktu, rupanya, mereka yang menari untuk desa ini, akan di tumbalkan, masalahnya, setiap penari haruslah dari perempuan muda yang masih perawan.

    “tapi Ayu pak” kata Nur membantah.

    “itu masalahnya” kata pak Prabu, “asumsi saya, Ayu sejak awal hanya sebagai perantara, ke Widya lewat Bima, namun, Ayu tidak memenuhi tugasnya, akibatnya, Ayu di buatkan jalan pintas, ia di beri selendang hijau itu. tau darimana selendang itu?”

    selendang para penari.

    pak Prabu kemudian duduk, matanya merah padam, “seharusnya saya menolak habis-habisan bila bukan karena dia adik teman saya” “selendang itu, adalah selendang yang keramat, tidak ada lelaki yang bisa menolak selendang itu saat di pakai oleh perempuan”

    “nak Ayu tidak salah, nak Bima pun begitu, saya yang salah, seharusnya saya tolak kalian semua, toh anak-anak kami pun tidak ada yang tinggal disini, tempat ini, bukan untuk anak setengah matang seperti kalian”

    mendengar itu, membuat Nur tidak kuasa melihat Ayu,

    hari semakin petang, ketika Matahari sudah benar-benar tenggelam, terdengar orang berteriak heboh, ia meneriakkan bila Widya sudah ketemu, pun saat itu juga, Mbah Buyut keluar, wajahnya tampak kecewa, sepertinya ia tidak bisa membawa Ayu dan Bima pulang, lebih tepatnya belum

    momen ketika melihat Widya, membuat Nur tidak bisa bicara apa-apa, ia berjalan dengan gaguk, seperti barusaja menghadapi peristiwa yang sangat berat, bahkan, Widya berjalan dengan mata yang kosong, ia melihat Ayu terus menerus, mencoba memahami situasi.

    “Wid, tekan ndi awakmu” (Wid darimana kamu?) tanya Nur,

    “onok opo iki Nur” (ada apa ini Nur) kata Widya, matanya sembab melihat Ayu dan Bima terbujur,

    Nur tidak sanggup menceritakanya, Wahyu kemudian berdiri mengatakan semuanya, Widya menjerit sejadi-jadinya, semua diam.

    selang beberapa saat, mbah Buyut keluar, ia memanggil Widya, menyuruhnya untuk masuk, dan entah apa yang mereka bicarakan.

    Nur masih mencoba membangunkan Ayu, meski hal itu, mustahil bisa dilakukan.

    ketika melihat mbah Buyut keluar, Nur, Wahyu, dan Anton yang baru tiba, ikut masuk ke dapur, ia hanya melihat Widya murung, seperti memikirkan sesuatu.

    Wahyu yang sedari tadi sudah menahan diri, mengatakan bahwa Bima dan ayu sudah kelewatan sehingga mereka juga kena getahnya.

    Malam itu juga, pak Prabu mengumpulkan semua anak yang tersisa, ia mengatakan, sudah menghubungi pihak kampus, pun dengan kakak Ayu, yang sedang dalam perjalanan kesini. esok, mungkin mereka tiba.

    mbah Buyut, menjaga rumah ini, konon, semua lelembut sudah mengepung rumah ini.

    pagi itu, Nur menemui pak Prabu meminta seharusnya ia menahan diri sebelum informan ini keluar, karena sebelumnya, mbah Buyut mengatakan bisa mengembalikan Ayu dan Bima, hanya tinggal menunggu waktu. namun ucapan pak Prabu membuat Nur tidak berkutik.

    “nek pancen isok, yo gak bakal akeh sing wes dadi korban, awakmu eroh patek ireng iku opo, nyoh kui korban sak durunge, nang ndi sak iki, wes gak onok” (kalau memang bisa, ya gak mungkin ada korban, kamu tahu, kenapa ada nisan dengan kain hitam, itu korban sebelum kejadian ini)

    “gak nutup kemungkinan kancamu isok mbalik, tapi kemungkinane cilik, gak usah berharap, mbah Buyut asline wes mblenger, kudu urusan ambek bangsa iku” (gak menutup kemungkinan memang temanmu bisa kembali, tapi, kemungkinanya kecil, mbah Buyut sudah bosan, berurusan dengan mereka”

    siang hari, rombongan orang dari kampuspun dengan beberapa wali datang, bahkan suara membentak dari mas Ilham bisa terdengar dari luar, ada tawar menawar dimana mbah Buyut menjanjikan agar Ayu dan Bima tetap disini, namun pihak keluarga menolak sampai mengancam, ini akan tersebar

    akhir dari perjalanan KKN mereka selesai disini, bukan hanya pak Prabu yang terseret, pihak kampus efeknya lebih besar lagi, sampai harus menjanjikan bahwa masih ada jalan lain mengembalikan mereka.

    KKN mereka, resmi di coret, tak ada hasil apapun selama pra kerja mereka.

    Widya, butuh waktu lama untuk pulih setidaknya itu yang Nur dengar, sementara Nur menjelaskan kronologi kejadian pada Abah dan Umi, orang tua Bima, yang tidak henti-hentinya, mengadakan doa bersama di rumahnya, pukulan keras setiap Nur melihat air mata umi menetes.

    ada kejadian menarik, dimana Nur di ceritakan oleh Umi, semalam sebelum Bima akhirnya meninggal, ia mengetuk pintu kamar, disana ia meminta maaf sama Abah dan Umi, kemudian pamit kembali ke kamar, sembari mengatakan ular-ular, dan di akhiri dengan hembusan nafas terakhirnya

    namun, Nur juga diberitahu Abah, bahwa, apa yg di katakan Umi tempo hari tidak usah di pikirkan, karena Umi menceritakan tentang mimpinya, anaknya Bima masih kejang-kejang dan memang meninggal pada malam kejadian , semua itu mimpi Umi, mungkin itu cara Bima pamit dan memberitahu

    masih mau lanjut apa besok saja, sekarang yang mbak Nur saksikan saat mendampingi Ayu, ia di ajak ke Ng**i yang katanya bisa menyembuhkan beliau.

    sedikit panjang dan gw jadikan 1 thread saja. gimana?

    Maksudnya gw sambung sama thread ini. Biar gak usah nyari thread lagi ya. Gw mau kelarin malam ini semuanya.

    Mas Ilham menghubungi Nur, beliau meminta tolong agar Nur bersedia mendampngi Ayu selama proses penyembuhan, dimana dokter sudah angkat tangan dan mendiagnosa Ayu, lumpuh total yang tidak di ketahui penyebabnya. ia di beritahu oleh temanya, bahwa Nur adalah orang yang tahu semua

    malam itu, Ayu di bawa ke kabupaten Ng**i, di perjalanan, Nur selalu melihat Ayu, matanya di tutup paksa dengan kain, melihatnya kadang membuat Nur merasa Ayu sadar ada dia di sampingnya.

    namun tetap saja nihil, sampailah mereka di rumah orang yang menawarkan bantuan itu

    sesampai disana, Ayu di tidurkan di atas pelepah daun pisang. yang kemudian, di masukkan dalam sebuah keranda, Nur yang melihat itu, mengatakan pada mas Ilham bahwa itu perbuatan tidak benar, namun, mas Ilham menolak. mengatakan mungkin masih bisa, mas Ilham sangat frustasi.

    butuh waktu lama, sampai orang yang membantu tiba tiba, bangun dan mengatakan ia tidak sanggup.

    Ayu, tidak dapat di selamatkan, kecuali, di bawa keluar dari pulau jawa. namun, hal itu, juga mustahil dilakukan.

    “ayu gorong wayahe mati, dadi, keadaane yo bakal koyok ngene sampe wayahe mati” (ayu belum seharusnya meninggal, jadi dia akan terjebak seperti ini sampai waktunya tiba)

    “di bawa saja ke pulau K********N, saya ada saudara disana” kata mas Ilham waktu itu.

    “masalahe arek iki gak oleh cidek segoro, nek cedek segoro, isok di matekno” (masalahnya, anak ini di larang mendekati laut/samudera, bila tetap nekat dia mati)

    “kan isok numpak pesawat” (kan bisa naik pesawat) kata mas Ilham,

    “isok pesawat gak liwat segoro?” (memang bisa pesawatnya gak usah melewati laut)

    setelah darisana itu, Ayu akhirnya di pulangkan, ia ada di rumah itu kurang lebih 3 bulan, sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir juga, setelah orang tua Ayu mengatakan sudah ikhlas, termasuk mas Ilham.

    keikhlasan orang tua Ayu termasuk mencabut gugatan terhadap pihak kampus, dan juga sudah tidak mau menyalahkan siapapun, Ayu di kebumikan di makam keluarga, sembari di doakan, di situ, ibunya mengaku, sering melihat Ayu meneteskan air mata, dan inilah akhir cerita mbak Nur.

    jadi gw bakal tutup Thread ini dengan pesan mbak Nur dan alasanya kenapa ia mau bercerita.

    sejak awal, mbak Nur tidak begitu tertarik dengan unsur seram dalam ceritanya, ia ingin menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya, agar siapapun kita, tetap menjaga tata krama

    ini bukan tentang, hal yang sepele, siapapun kamu, dimanapun kamu berada, sekali lagi, jaga sikap dan prilaku karena sesungguhnya sebagai tamu, selayaknya tetap bersiteguh pada warisan pendahulu kita yang mengutamakan sopan santun terhadap tuan rumah. gw simple_man undur diri.

    mohon maaf atas typo, dan waktu yang kentang ya, sekali lagi, gw ucapkan banyak terimakasih yang sudah mengikuti sejak awal, dengan ini, Thread ini gw tutup selamanya!!

    Sumber: @SimpleM81378523

     

  • Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Nur Part 4

    Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Nur Part 4

    Cerita ini bersumber dari cuitan akun twitter @simpleM81378523 yang tengah viral saat ini. Daripada penasaran, yuk simak kisah lengkapnya!

    —————

    “maksude Nur?” (maksudnya Nur?!) tanya Ayu kaget.

    “Bim, ojok ngomong awakmu!!” (Bim jangan bilang kamu!!)

    “wes wes, ayo mbalik, engkok tak ceritakno kabeh, tulung, ojok ngomong sopo sopo dilek yo Nur” (sudah, ayo kembali dulu, nanti tak ceritakan semua, tolong jangan ngomong ke siapa2 dulu, ya Nur)

    Nur, Ayu dan Bima pergi.

    wajah Bima tegang, seakan-ia di kejar sesuatu, hingga akhirnya ia keluar dari tempat itu, langit sudah gelap gulita, dan Nur, merasa ada yang mengikuti mereka semua.

    setelah sampai di rumah, Nur meminta Bima dan Ayu berkumpul di belakang rumah, sementara Anton menyesap rokok di teras, sedangkan Wahyu dan Widya, belum juga pulang, mereka tidak tahu masalah ini, karena Nur merasa hal ini memang tidak seharusnya di ketahui semua orang.

    “sak iki ceritakno kok iso’ne kanca KKN dewe loh di garap ngene” (sekarang ceritakan, saya mau dengar, kok bisa ya, teman KKN di hajar seperti ini) kata Nur, Ayu masih diam, ia memikirkan ucapan Nur yang tadi, Bima mulai berbicara.

    “khilaf aku Nur” kata Bima, seakan apa yang di ucapkan dari mulutnya terdengar sepele,

    “gak isok nek ngunu, bakal tak gawe rame masalah iki ambek keluargamu, lanang iku kudu wani tanggung jawab ambek perbuatane” (tidak bisa seperti itu, akan ku buat ramai nanti sama keluargamu-

    laki-laki harus berani bertanggung jawab atas perbuatanya)

    Ayu yang sedari tadi diam, kemudian bicara. “Nur, tolong, ojok di gawe rame disek, yo opo engkok reaksine warga, pak prabu, utowo arek2” (Nur, tolong, jangan di buat ramai dulu, gimana coba reaksi semua orang) ucap Ayu

    “aku bakal tanggung jawab Nur, muleh tekan kene, Ayu bakal tak rabi Nur” (aku akan tanggung jawab, Ayu akan saya nikahi habis pulang darisini)

    “goblok ya wong loro iki, dipikir masalah iki mek masalah mu tok tah, gak mikir aku, gak mikir Widya, gak mikir liane, gak mikir jeneng kampusmu, gak mikir keluargamu, gak mikir agamamu, nek ngomong mu mek ngunu, penak yo, kari rabi tok, gak iling opo iku karma yo”

    (goblok ya kalian, di kira ini masalah sepele, gak mikir aku, gak mikir Widya, gak mikir yang lain, gak mikir nama kampusmu, gak mikir keluargamu, kalau memang cuma masalah pernikahan ya enak ya, tapi kalian lupa dengan yang namanya karma tabur tuai)

    Ayu yang mendengar itu perlahan sesenggukan, Nur tahu, ia menangis, namun Bima, ia seperti menyembunyikan sesuatu. ada yang belum ia jelaskan sama sekali.

    Anton tiba-tiba muncul sembari mengatakan, “cah loro iku wes teko, mboh tekan ndi, mosok moleh sampe bengi ngene” (itu loh, dua temanmu sudah datang, entah darimana, masa pulang sampai larut begini)

    “Widya karo wahyu ton?” (Widya sama wahyu ya ton)

    Anton mengangguk. “iyo”

    Nur melihat Widya, wajahnya tampak letih, sperti barusaja mengalami kejadian tidak mengenakan, semua orang sudah menunggu kedatangan dua anak ini, yg berjanji akan membelikan keperluan titipan mereka, namun, dari belakang, Wahyu tampak sangat bersemangat seakan ia membawa sesuatu

    entah karena suasana hati semua orang buruk di ruangan itu, Bima mencoba mencairkan suasana, “loh, kok kaku ngene seh” (kok jadi canggung gini sih) Bima mendekati Widya,

    “awakmu pasti pegel kan,” “istirahat sek Wid” (kamu pasti kecapekan kan, yao istirahat dulu Wid) kata Bima.

    namun, Nur dan ayu, memandang sengit perlakuan Bima, sehingga Widya merasa ada yang salah dengan mereka semua.

    namun, Wahyu yang sedari tadi menggendong isi tasnya, langsung mengambil alih perhatian mereka, dengan nafas menggebu-nggebu, ia bercerita pengalamanya yang baru saja di tolong warga desa tetangga karena motornya mogok, namun, anehnya, semua orang memandang Wahyu dengan sinis

    Bima yang pertama menanggapi ucapan Wahyu.

    “Deso tetangga opo? gak onok maneh deso nang kene?” (desa tetangga apa, gak ada lagi desa disini) kata Bima mengingatkan.

    “halah, ngapusi, eroh teko ndi awakmu?!” (halah, bohong kamu, tahu darimana?) sanggah Wahyu saat itu.

    “aku wes sering nang kota, mbantu warga deso dodolan hasil alam, dadi gor titik aku paham wilayah iki” (aku sudah sering ke kota, bantu warga jual bahan alam disini, jadi ya tau sedikitnya daerah ini)

    “ngapusi koen halah tot” (bohong kamu dasar, sial)

    Nur yang sedari tadi mendengar, membantu Bima, “bener mas wahyu, gak onok deso maneh nang kene,” (bener mas Wahyu, gak ada lagi desa disini.)

    alih-alih setelah mendengar itu, Wahyu semakin tidak terima,ia kemudian memanggil Widya, “Wid duduhno opo sing di kek’i ambek warga sing nang tasmu” (Wid tunjukan oleh-oleh yang di kasih tadi sama warga di dalam tasmu)

    dengan enggan Widya membuka isi tasnya, Wahyu yang sudah tidak sabar segera merebutnya, meraihnya dengan tanganya, namun, ekspresinya berubah manakala ia mengeluarkan barang itu.

    Widya yang melihat benda itu sama kagetnya dengan wahyu, namun Nur yang melihatnya tampak bingung, pun dengan semua orang saat itu, benda seperti apa yang di bungkus dengan pelepah daun pisang seperti itu.

    Nur sempat melihat Wahyu dan Widya bertukar pandang, ia tahu ada yg salah

    saat Wahyu membukanya, kaget, yang ada di dalamnya rupanya adalah kepala monyet terpenggal dengan darah yang masih segar.

    seketika, reaksi semua orang membalikkan wajahnya, termasuk Nur yang segera mengambil kain untuk menutupinya, baunya amis dan membuat seisi ruangan mual

    Wahyu tampak shock, Widya apalagi, Ayu segera membopongnya masuk ke dalam kamar, sementara Bima dan Anton, segera membereskan semua itu.

    Wahyu, ia muntah sejadi-jadinya, semalaman, semua orang termenung dengan berbagai kejadian ganjil, termasuk Nur, dimana Widya mencuri pandang

    Malam setelah Widya dan Ayu melepas penat, Nur terbangun, ia tiba-tiba teringat dengan ucapan Bima dan Ayu yang tanpa sengaja ia curi dengar.

    dengan cekatan dan mengambil resiko, Nur mengambil isi tas Ayu, membawanya menuju ke pawon (dapur) sendirian. ia merasa, benda itu disana

    Nur membongkar semua benda-benda itu, namun, tidak ada yang aneh, toh dia sudah mengeluarkan isi tasnya, sebelum, Nur sadar, masih ada resleting tas yang belum ia buka, tepat ketika Nur membukanya, ia bisa mencium aroma wewangian di dalamnya.

    sebuah selendang hijau milik penari

    tiba-tiba, tangan Nur seperti gemetar hebat, nafasnya menjadi sangat berat, tempat ia berada seakan-akan menjadi sangat dingin

    dan, tabuhan kendang di ikuti alunan gamelan berkumandang, Nur tahu, si penari ada disini,

    apa yang Ayu sebenarnya lakukan

    apa yang Bima sembunyikan?

    tepat saat itu juga, Nur melihat dengan mata kepala sendiri, Widya melangkah masuk ke pawon (dapur) matanya tajam menatap Nur, kaget setengah mati, Nur bertanya pada Widya.

    “nyapo Wid awakmu nang kene?” (ngapain kamu wid, ada disini?)

    namun Widya hanya berujar “ojok di terusno”

    (jangan diteruskan)

    Widya duduk di depan Nur, cara Widya berbicara sangat berbeda, mulai dari suara sampai logat cara menyampaikan pesanya, itu khas jawa sekali yang sampai Nur tidak begitu mengerti. yang Nur tangkap hanya kalimat “salah” “nyawa” “tumbal” itu pun tidak jelas

    selain itu, setiap dia melihat Nur, ia seperti memberikan ekspresi sungkan, sepeti anak muda yang memberi hormat kepada orang tua.

    kalimat terakhir yang Widya ucapkan sebelum kembali ke kamarnya adalah, “kamu bisa pulang dengan selamat, saya yang jamin” tapi dengan logat jawa

    Nur membereskan semuanya saat itu juga, ia mengembalikan tas Ayu pada tempatnya, sempat ia melihat Widya yang tengah tidur, ia mengurungkan niat untuk membangunkanya, esok, ia harus bertemu dengan Bima, Nur yang paling sadar, tempat ini sudah menolak mereka semua.

    sejak insiden itu, Ayu menghindari Nur, terlebih Bima apalagi, meski begitu, tidak ada yang nampak bahwa mereka sedang memiliki urusan, Widya wahyu dan Anton pun, di buat tidak sadar, bahwa ada permasalah internal pada kelompok KKN mereka.

    Nur, bingung, tidak ada yang bisa untuk di ajak berbagi, kecuali. mbah Buyut, namun, ia tidak tahu dimana beliau tinggal, pun Nur sudah mencoba mengelilingi desa, tak di temui sosok lelaki tua itu, sehingga akhirnya, Nur berinisiatif menyelesaikan ini sendiri, ia menemui Bima, sore itu, mengajaknya ke tepi sungai

    “ceritakno sing gak isok mok ceritakne nang ngarep’e Ayu” (ceritakan yang gak bisa kamu ceritakan didepan Ayu)

    Bima tampak menimbang apakah dia harus bicara atau tidak sampai akhirnya ia menyerah dan mengatakanya.

    “aku khilaf Nur” kata Bima,

    “cah iki, pancet ae” (benar2 ya)

    “gak, gak iku. aku pancen khilaf wes ngunu ambek ayu, tapi aku luweh khilaf, wes nyobak-nyobak melet Widya” (bukan, bukan itu, aku memang khilaf sudah melakukan itu sama Ayu, tapi aku lebih khilaf sudah mencoba membuat Widya suka sama aku)

    “maksude?” tanya Nur penasaran.

    “nang nggon sing mok parani, iku onok sing jogo, arek wedok ayu, jeneng’e dawuh” (di tempat yang kamu datangi ada penjaganya, seorang perempuan cantik, namanya dawuh)

    “jin” tanya Ayu,

    “gak. menungso” (tidak. manusia)

    “mosok onok, iku ngunu jin,” (mana ada, itu jin)

    terjadi perdebadan sengit antara Nur dengan Bima, dengan bersikeras Bima mengatakan yang ia temui seorang perempuan warga desa ini. namun, Nur membantah, tidak ada yang tinggal disana, lagipula tempat itu di larang sejak awal.

    Namun, Bima terus menolak sampai tanpa sengaja, menampar Nur, hingga terseok di tepi sungai, Nur pun menghujani Bima dengan batu, seakan-akan kepala Bima sudah tidak beres, sampai akhirnya Bima mengatakan,

    “arek iku, wes ngekek’i aku, Kawaturih kanggo Widya, jarene iku jimat ben aku ambek arek’e di persatuno”

    (perempuan itu, sudah memberiku semacam mahkota putih yang ada di lenganya, yang katanya, itu bisa membuat Widya selalu nempel sama aku)

    Nur yang mendengar itu, semakin tersulut, “goblok yo koen, gorong 4 tahun, wes rusak utekmu, syirik koen Bim”

    (bodoh ternyata kamu ya, belum 4 tahun sudah rusak isi kepalamu, yang kamu lakukan itu menyekutukan Bim)

    “nang ndi barang iku sak iki?” (dimana sekarang barang itu?) tanya Nur,

    “di gowo Ayu, nek jarene, wes ilang” (dibawa oleh Ayu, katanya, sudah hilang)

    “aku gak ngurus Bim, balekno barang gak bener iku, awakmu gak paham ambek kelakuanmu, iku ngunu isok gowo balak”

    (aku tidak perduli, gimana caranya, kembalikan barang itu, kamu gak mengerti, perbuatanmu, bisa mendatangkan malapetaka)

    Nur pergi, sekarang, ia tahu harus kemana, menemui Ayu.

    Nur barusaja bertemu dengan Ayu setelah keluar dari rumah pak Prabu, Nur tidak mengerti apa yang barusaja dia lakukan.

    “lapo koen?” (ngapain kamu)

    Ayu mencoba menahan malu, setiap kali melihat Nur, mata Ayu seperti meratap atas apa yang sudah ia perbuat, dan itu fatal.

    “gak popo Nur, tak cepetno, ben proker’e arek -arek cepet mari, mari iku ayo balik, pokok’e fokus KKN kabeh yo” (gak papa Nur, aku percepat urusanya, biar anak-anak semuanya bisa fokus garap proker mereka, kita juga harus kembali, intinya fokus dulu sama KKN ya)

    “aku pengen ngomong yu, soal” (aku mau ngomong yu, soal) kata Nur yang terhenti melihat Anton mendekat, nafasnya terengah-engah, “Nur, warga sing mbantu, kerasukan kabeh, rusak proker kene iki” (Nur, warga yang bantu proker kita kerasukan, rusak semua proker kita)

    Ayu, Nur dan Anton pergi ke lokasi, waktu itu ramai, dan ketika Nur tiba, seorang pria yang di pegangi oleh warga, tampak melotot melihat Nur, ia menunjuk Nur seakan biang masalah di desa ini, ia menyentak dengan suara berat. “Tamu di ajeni tambah ngelamak koen, mrene koen”

    (Tamu sudah dihormati tambah seenaknya, kesini kamu kesini!!)

    Nur kaget, ia di lindungi warga lain, tidak hanya pria itu, ada satu lagi, yang juga di tahan, sayangnya, pria yang satu lagi, melotot pada pria pertama, seakan ia marah pada warga desa itu. “aku wes janji-

    jogo cah iki, awakmu ra oleh gawe perkara ambek arek iki” (saya sudah berjanji sama seseorang untuk jaga anak ini, kamu tidak boleh membuat masalah sama dia)

    warga yang resah akhirnya membawa Nur ke rumah mereka, berikut Ayu dan Anton, di ikuti yang lain, kecuali, Widya.

    saat Wahyu di konfirmasi, dimana Widya, Wahyu mengatakan Widya sama warga lain melanjutkan prokernya, tidak ada yang tahu mereka ada di salah satu rumah warga,

    namun, ketika langit mulai petang, Nur hilang dari kamarnya, warga yang tahu, panik. terakhir kali, Nur pingsan.

    Nur terbangun dalam keadaan menggunakan mukenah sholat dan ada Widya di sampingnya, namun, wajah Widya tampak tegang, Widya tidak bisa menyembunyikan bahwa ia baru saja mengalami kejadian janggal.

    “ket kapan isok ndelok Nur?” (sejak kapan kamu bisa lihat begituan?)

    Nur yang mendengar itu kaget, sejak kapan Widya tahu dan bertanya soal itu. mereka terjebak dalam suasana canggung. Nur jadi berpikir, bahwa kunci semuanya, mungkin ada pada Widya,

    sejak awal, Widya juga yang paling aneh di tempat ini.

    “aku gak isok ngomong Wid, penjelasane ruwet, tapi, aku wes keroso ngene iki ket mondok,” kata Nur, “Ghaib iku nyata Wid”

    (aku gak bisa jelaskan secara spesifik, tapi, aku sudah merasa begini sejak mondok, yang jelas, ghaib itu nyata Wid)

    “awakmu onok sing jogo ya?” (kamu ada yang jaga ya?) tanya Widya, yang membuat Nur semakin kaget, bingung harus menjelaskanya, ia harus mengingat bahwa sebelum keluar dari pesantren, banyak temanya yang bilang, setiap malam, Nur terbangun dan melafaldzkan doa yang bahkan-

    sangat susah di hafal oleh santri pondok saat itu.

    teman-temanya sampai memanggil guru mereka, agar Nur di ruqiah, namun, guru Nur menolak, beralasan bahwa, selama tidak menganggu keimanan Nur, di biarkan saja, daripada menjadi boomerang untuk Nur, bahkan,

    guru Nur sudah berulang kali menjelaskan bahwa, ia harus tetap mengimankan kepercayaanya, tidak perlu memperdulikan jin model apa yang mengikutinya selama ini.

    si guru memanggil jin itu dengan nama “Mbah dok” karena berwujud wanita tua.

    tanpa Nur sadari, itu adalah kali pertama ia bisa bicara lagi sama Widya setelah lama, ia seolah saling menjauhi satu sama lain, Nur menceritakan semuanya, pengalaman di pondok hingga ia keluar darisana, kecuali, insiden ganjil di tempat ini, Nur masih menyimpanya sendiri.

    karena Nur percaya, Widya punya apa yang ia cari selama ini, meski itu hanya asumsi, namun, ia yakin, Widya memilikinya.

    hingga, kesempatan itu muncul, Nur, melihat kamar, tanpa ada satu orangpun, Ayu dan Widya mengerjakan proker mereka, Nur membuka almari, mengeluarkan isi tas Widya.

    ia membongkar semuanya, mencari hingga ke celah terkecil di tas yang Widya bawa, semua persedian yang ia bawa tak luput dari pencarianya, sampai, Nur akhirnya menemukanya.

    sebuah logam melingkar, dengan bentuk ukiran dari kemuning, bentuknya indah layaknya sebuah perhiasan, tidak hanya itu, di tengahnya, ada batu mulia berwarna hijau, dengan wajah bingung, Nur bergumam sendiran “Kawaturih” itu, bagaimana bisa ada pada Widya.

    melihat itu, Nur sudah hilang kesabaran, ia membongkar isi tas Ayu, mengambil selendang hijaunya, 2 benda itu, Nur simpan pada sebuah kotak kayu yang ia temukan di pawon (dapur) tempat biasa untuk menyimpan bumbu masakan, tidak hanya itu, Nur menutupinya dengan kain putih, yang-

    di dalamnya, ada kitab agamanya. Nur menyembunyikan tepat di bawah meja kamar, tertutup taplak meja. lalu, Nur pergi mencari Ayu,

    setelah menemukan Ayu di tempat proker, Nur menarik Ayu, membawanya menjauh sebelum menampar wajahnya sampai Ayu, tidak bisa bicara apa-apa.

    “gak waras koen yo, barang ngunu mok deleh nang tas’e Widya!! cah edan, kate makakno Widya koen yo, gak cukup ambek masalahmu opo!!” (gak waras kamu ya, barang seperti itu, sengaja di tarus di tas Widya!! orang gila, mau kamu umpankan Widya ya, apa gak cukup sama masalahmu!!)

    “jelasno kok isok-isokne awakmu tego, yo opo penjelasanmu isok nduwe barang-barang gak bener iku?!” (jelaskan kok bisa kamu tega ya, gimana penjelasanmu kok bisa punya barang seperti itu)

    “barang opo to Nur?!” (barang apa sih Nur?) tanya ayu.

    “selendang hijau iku”

    Ayu yang mendengar itu tampak kaget.

    “kok isok awakmu eroh Nur, awakmu kelewatan mbongkar barang pribadine wong liya yo” (kok bisa kamu tahu, kamu itu kelewatan kok bisa bongkar barang milik orang lain)

    “sak iki, melu aku nang pak Prabu, ayok” (sekarang, ikut aku ke pak Prabu)

    Nur menarik Ayu, menyeretnya kuat-kuat, namun Ayu menolak sebelum ia mengatakanya.

    “aku di kongkon ndeleh iku, gawe gantine selendang iku” “selendang sing nggarai Bima gelem mbek aku”

    (aku disuruh naruh benda itu, sebagai pengganti selendang itu, selendang yang bikin Bima mau)

    “sopo sing ngekek’i iku?” (siapa yang ngasih itu?) tanya Nur, namun Ayu menolak mengatakanya.

    “sopo kok!!” (siapa kok!!)

    Ayu tetap menolak, bahkan sampai Nur mengatakan apa perempuan yang juga Bima temui yang menyuruhnya, ekspresi Ayu tampak kaget mendengarnya,

    Ayu mengatakan bahwa ia tidak tahu menahu siapa perempuan itu, dan siapa yang memberinya juga tidak ada hubunganya sama perempuan itu, bahkan sekalipun, Ayu tidak pernah bertemu perempuan yang di katakan Bima sangat cantik itu.

    Lanjut ke part 5

  • Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Nur Part 3

    Cerita Mistis KKN Desa Penari Versi Nur Part 3

    Cerita ini bersumber dari cuitan akun twitter @simpleM81378523 yang tengah viral saat ini. Daripada penasaran, yuk simak kisah lengkapnya!

    —————

    Seekor ular tengah menatapnya, ia mendesis, membuat Nur hanya bisa terpaku melihatnya.

    sisiknya hijau zambrud, meski ukuranya tidak terlalu besar, ular itu cukup membuat Nur ketakutan, dengan tenaga yang tersisa, Nur merangkak menjauhinya.

    masalahnya adalah, setelah itu, muncul orang yang Nur kenal, sosok yang berjalan mendekati Nur, Widya,

    Widya memeluk ular itu, seperti peliharaanya, membiarkan ular itu, melilit lenganya, seakan-akan ular itu adalah temanya.

    melihat itu, Nur tidak tahu harus bicara apa

    karena setelah itu, Nur tersentak dari tidurnya setelah mendengar suara bising dari luar rumah.

    meski masih dalam keadaan shock, Nur segera berlari menuju suara bising itu, rupanya, di luar rumah, ramai orang tengah berkumpul.

    Nur melihat, Wahyu, Ayu, ibu pemilik rumah, Widya

    entah apa yang mereka lakukan, Nur belum mengerti sama sekali.

    yang ia dengar hanya ucapan ibu pemilk rumah.

    “Wes, wes, ayo ndok, melbu ndok, wes bengi” (sudah, sudah, ayo masuk, sudah malam)

    namun, ketika mata Nur dan Widya bertemu, ada tatapan kebingungan disana.

    Wahyu kembali ke posyandu tempat ia menginap, sementara si ibu pemilik rumah, menggandeng Widya masuk ke rumah, hanya tinggal Ayu dan Nur yang ada di luar rumah.

    “onok opo toh yu, kok rame men?”

    (ada apa sih yu, kok berisik sekali?)

    “Wahyu. jarene ndelok Widya nari nang kene. mboh lapo, aku yo kaget pas ndelok, gak onok Widya nang kamar” (Wahyu, bilang, melihat Widya sedang menari disini, entahlah kok bisa, aku juga kaget waktu melihat Widya tidak ada didalam kamar)

    Nur yang mendengar itu, hanya diam, sembari memikirkan mimpinya.

    Widya, hanya itu yang terbesit dalam pikiranya Nur. ia tahu, ada yang janggal dari dirinya, Widya dan tempat ini.

    keesokan hari. sesuai janji yang Nur buat, ia bertemu dengan mbah Buyut dengan pak Prabu, kali ini, Nur di ijinkan masuk ke dalam rumahnya.

    yang mbah Buyut pertama ucapkan adalah “ndok, mambengi ngimpi opo?” (nak, semalam kamu mimpi apa?)

    Nur pun menceritakan semuanya, termasuk insiden saat ia melihat Widya yang di pergoki Wahyu tengah menari di malam buta.

    mbah buyut hanya mengangguk, tidak berbicara apapun, ia hanya berujar, bahwa, yang ingin di ketahui Nur, adalah sosok hitam yang mengikutinya.

    Malam itu juga, pak Prabu, mbah Buyut, dan Nur pergi ke sebuah batu, tempat pertama kali Nur melihat sosok hitam itu.

    disana, pak Prabu, menggorok seekor ayam, dimana darahnya di tab di sebuah wadah, sebelum menyiramkanya di batu itu.

    “ndok, awakmu percoyo, nek gok alas iki, onok deso maneh, sing jenenge Deso Brosoto” (nak, kamu percaya, di hutan ini, ada desa lain yang namanya desa halus)

    Nur mengangguk, ia percaya.

    Mbah Buyut tersenyum, “sing bakal mok delok iki, siji tekan atusan ewu wargane deso iku”

    (yang akan kamu lihat sebentar lagi, itu satu dari ratusan ribu penghuni dari desa tersebut)

    Nur terdiam mendengarnya, dan benar saja, ia bisa meihat makhluk hitam itu, tengah menjilati batu yang baru di guyur darah ayam kampung itu.

    Makhluk itu, hanya menjilati darah itu, kemudian, pak Prabu mengatakanya.

    “awakmu sadar utowo gak, asline, awakmu gowo barang alus sing di anggap tamu nang deso iki, coro alus’e ngunu yo ndok” (kamu sadar atau tidak, sebenarnya, membawa tamu ke desa ini, cara gampangnya gitu)

    “tamu sing mok gowo, iku ngunu seneng ngejak geger ambeh warga deso iki” (tamu yang kamu bawa itu, suka sekali membuat masalah di desa ini)

    “masalahe, sing mok gowo iku wes di kunci nang njero Sukmo’mu, nek di jopok, awakmu isok mati” (masalahnya, barang itu sudah terikat di-

    sukma kamu, bila di ambil, bisa mati)

    “aku wes ngerembukno karo mbah Buyut, nek barangmu gak usah di jopok, tapi, di culno, selama awakmu masih onok nang kene, barangmu kepisah ambek awakmu”

    (aku sudah berunding sama mbah Buyut, bila apa yang ada dalam diri kamu, gak usah-

    diambil, tapi di lepaskan saja, selama kamu masih disini, dia tidak akan pergi jauh)

    “barang nopo to mbah?” (barang seperti apa?)

    Mbah Buyut mendekati Nur, sebelum, menarik ubun-ubunya, kemudian melemparkanya ke batu itu.

    setelah itu, Nur, tidak bisa melihat makhluk hitam itu lagi.

    “wes mari ndok, sak iki, awakmu isok fokus garap tugasmu, gak bakal onok sing nganggu maneh” (sudah selesai nak, sekarang, kamu bisa fokus garap tugasmu, gak akan ada yang ganggu kamu lagi)

    Siang itu, Nur dan Anton, tengah mengerjakan proker mereka bersama warga desa, ketika hari sudah siang, ia tanpa sengaja melihat Widya dan wahyu, serta pak Prabu dan Ayu tengah mengendarai motor, mereka pergi meninggalkan desa, entah kemana.

    “Nur, kancamu iku loh kok aneh seh” (Nur, temanmu itu kok aneh sih) tiba-tiba, Anton mengatakan itu

    “aneh? sopo?” (aneh, siapa?)

    “sopo maneh, kancamu, Bima” (siapa lagi, temanmu, si Bima)

    “aneh yo opo?” (aneh bagaimana?)

    “aku gelek ndelok cah kui ngomong dewe, ngguya-ngguyu dewe nang kamar, trus, sepurane yo Nur, aku tau ndelok arek’ Onani” (aku sering melihat anak itu bicara sendiri, tersenyam-senyum di kamar, bahkan, aku pernah melihatnya, mohon maaf ya Nur, anak itu Onani dalam kamar)

    Nur yang mendengar itu tidak bereaksi apapun, hanya berucap”halah, gak mungkin lah” seakan apa yang dikatakan Anton hanya gurauan.

    “temen? sumpah!!” (serius? beneran!!)

    “ambek, ojok ngomong sopo-sopo yo, temen yo, tak kandani?” (sama, tapi janji jangan bilang siapa-siapa ya)

    “kancamu kui, gelek gowoh muleh sesajen, trus, di deleh nang nisor bayang’e,” (temanmu itu, sering membawa pulang sesajen, trus dia menaruh benda itu di bawah ranjang)

    Nur masih mencoba menahan diri, ia masih tidak bereaksi mendengar Bima di tuduh seperti itu oleh Anton.

    namun, seketika emosi Nur tak terbendung saat Anton mengatakan itu.

    “trus, nang ndukur Sesajen iku, onok fotone kancamu, Widya, opo, Bima kate melet Widya yo” (trus, di atas sesajen itu, aku menemukan foto temanmu, Widya, apa, Bima mau pelet si Widya ya)

    “awakmu gor di jogo yo lambene, ojok maen fitnah yo” (kamu itu, tolong di jaga mulutnya, jangan maen fitnah seperti ini)

    “nek awakmu gak percoyo, ayok tak jak nang kamare, ben awakmu ndelok, nek aku gak mbujuk” (kamu kalau gak percaya ayo sini ikut, tak tunjukkan kalau aku-

    tidak pernah berbohong)

    mendengar Anton menantang seperti itu, saat itu juga, Nur mengikuti Anton yang tengah berjalan menuju tempat mereka menginap.

    seketika Nur tidak bisa berbicara apa-apa saat melihat itu di depan mata kepalanya sendiri, seperti Nur ingin menghantam kepala Bima saat itu juga. ia tidak pernah tahu, Bima segila ini.

    teman sepondok pesantrenya jadi seperti ini.

    “aku wani ngajak awakmu awan ngene soale aku apa nek ngene iki, Bima nang kebon kaspe ambek Ayu, nggarap proker’e, gak masalah opo-opo, tapi, asline aku wedi yu, ben bengi, aku krungu suoro arek wedok nang kene”

    (alasan kenapa aku berani ngajak kamu kesini karena aku tahu, si Bima dan Ayu pasti sekarang garap prokernya di kebun ubi, bukan masalah apa-apa sih, tapi sebenarnya aku takut, setiap malam, aku dengar suara perempuan disini)

    ucapan Anton yang terakhir, membuat Ayu tidak dapat bicara lagi, saat ia, termenung sendiri, entah kenapa, insting Nur, mengatakan ada yang di sembunyikan oleh temanya.

    “sopo sing nang kamar ambek Bima?” (siapa yang ada dikamar sama Bima?)

    “yo iku masalahne” (itu masalahnya)

    “ben tak enteni cah iku metu, gak onok sing metu takan kamare” (setiap tak tungguin, tidak ada yang keluar dari kamarnya)

    Nur, tiba-tiba mendekati almari, ia merasa mendengar sesuatu disana. tepat ketika, almari itu terbuka, Nur dan Anton tersentak kaget saat melihat, ada ular di dalamnya.

    Ular itu berwarna hijau, kemudian lenyap setelah melewati jendela posyandu.

    Anton dan Nur hanya saling menatap satu sama lain, tidak ada hal lagi yang harus mereka bicarakan.

    semenjak saat itu, Nur selalu mengawasi Bima, bahkan ketika akhirnya pak Prabu tiba-tiba mengatakan bahwa mereka semua akan tinggal satu atap, meski terpisah dengan sekat. dari situ juga, Nur jadi lebih tahu, Bima seringkali mengawasi Widya tanpa sepengetahuan siapapun

    yang paling tidak bisa Nur lupakan adalah, saat ia bertanya perilah kenapa ia jarang melihat Bima sholat lagi. Bima selalu berdalih, tidak ada alasan kenapa ia harus mengatakan pada orang saat ia beribadah.

    meski Bima selalu bisa membalik pertanyaan Nur, ia tahu, Bima berbohong

    puncaknya, ketika itu, sore hari, Nur barusaja selesai sholat asar di dalam kamar, tiba-tiba, ia mendengar suara bising dari samping kamar, Nur pun beranjak, mencari sumber suara.

    manakala ketika ia mencari, ia melihat Bima, sedang menabur sesuatu di tempat dimana Widya

    biasa duduk.

    Nur, yang selalu membersihkan bunga-bungaan itu. aneh, namun kelakukan Bima semakin membuat Nur penasaran.

    namun, masalah tidak hanya berhenti di Bima saja, melainkan sahabatnya Widya.

    setelah maghrib, Nur pergi ke dapur untuk minum, saat, ia melihat Widya-

    menatapnya.

    wajahnya kaget dan bingung melihat Nur, “lapo Wid?” tanya Nur yang juga kaget dan bingung.

    mata mereka saling bertemu, namun, hanya untuk saling mengamati satu sama lain.

    ketika Nur mendekati Widya, tiba-tiba Widya berlari ke kamar, lalu kembali menemui Nur, matanya tampak seperti barusaja melihat setan.

    “onok opo toh asline?” (ada apa sih sebenarnya?) tanya Nur.

    Nur melihat tangan Widya sampai gemetaran,

    Nur tidak tahu, kenapa Widya menjadi seperti ini, sampai pertanyaan Ayu, membuat Nur terhenyak dan menyadari anak-anak semua berkumpul disana.

    “ramene, onok opo toh” (ramai sekali, ada apa sih) tanya Ayu.

    “gak eroh, cah iki, di jak ngomong ket mau, meneng tok” (tidak tahu, anak ini, di ajak ngomong diam saja daritadi)

    “lapo Wid?” (kenapa Wid?) tanya Wahyu yang mendekati.

    “tanganmu kok sampe gemetaran ngene, onok opo seh asline?” (tanganmu kok sampai gemetar begini, ada apa?)

    kata Anton tidak kalah penasaran.

    “Nur jupukno ngombe kunu loh, kok tambah meneng ae” (Nur ambilkan air minum gitu loh, kok malah diam saja)

    kaget mendengar teguran Anton, Nur lalu mengambil teko air, dan memberikanya pada Widya, disini hal mengerikan itu terjadi..

    ketika Widya meneguk air dari teko yang sama dengan teko yang Nur minum tadi, tiba-tiba Widya berhenti meneguknya, membiarkan air itu berhenti di dalam mulutnya, lantas, Widya kemudian memasukkan jemarinya ke dalam mulut, dan darisana, keluar berhelai-helai rambut hitam panjang.

    Nur dan yang lainya terperangah manakala Widya menarik sulur rambut itu dengan tanganya, tidak ada yang bisa berkomentar,

    lalu, Widya memeriksa isi teko, disana, semua orang melihat, didalamnya, ada segumpal rambut hitam panjang didalamnya.

    insiden itu membuat Widya memuntahkan isi perutnya, di tengah ketegangan itu, Anton tiba-tiba berucap “Wid, awakmu di incer ya, nek jare mbahku, lek onok rambut gak koro metu, iku nek gak di santet yo di incer demit”

    (Wid, ada yang ngincar kamu ya, kalau kata kakekku, bila tiba- keluar rambut entah darimana, biasanya kalau tidak di santet ya di incar setan)

    ucapan Anton, membuat suasana semakin tidak kondusif, ditengah kepanikan itu, tiba-tiba Nur, teringat dengan sosok penari yg ia lihat

    “Wid, opo penari iku jek ngetutno awakmu, soale ket wingi, aku gorong ndelok nang mburimu maneh” (Wid, apa penari itu masih mengikuti kamu, soalnya dari kemarin, aku belum melihatnya lagi) ucapan spontan Nur, membuat semua orang mengerutkan dahi, sehingga Nur akhirnya diam.

    setelah kejadian itu, Nur merasa bersalah, sehingga ia mencoba menjauhi Widya, disini, tanpa sengaja, Nur mencuri dengar suara seseorang yang tengah berteriak satu sama lain

    Nur terdiam untuk mendengarkan

    rupanya, suara itu berasal dari Ayu dan Bima,

    untuk apa mereka berkelahi

    ada satu kalimat yang paling di ingat oleh Nur, adalah, kalimat ketika Bima mengatakan.

    “nang ndi Kawaturih sing tak kek’no awakmu, aku kan ngongkon awakmu ngekekno nang Widya seh!!! kok arek’e gorong nerimo iku!!”

    “dimana mahkota putih yang aku serahkan sama kamu, aku kan sudah nyuruh kamu memberikanya kepada Widya!! kok dia belum nerima benda itu!!”

    Nur tidak memahami maksud mahkota putih itu, namun, Nur mengerti, ada sesuatu, diantara mereka.

    semenjak kejadian itu. Nur merasa, firasatnya semakin buruk, di mulai dengan suara berbisik dari warga.

    banyak warga yang mengeluhkan bahwa proker Ayu dan Bima adalah proker yang paling banyak di tentang, namun Nur belum paham alasan kenapa di tentang.

    sampai Anton memberitahu.

    “Bima, kancamu kui, kate gawe rumah bibit, nang nduwor Tapak tilas, yo jelas di tentang, wong enggon iku keramat” (temanmu si Bima, dia mau buat rumah bibit, di jalan tapak tilas, tentu saja banyak yang gak terima, itu tempat di keramatkan)

    Nur masih belum mengerti maksud Anton.

    “tapak tilas, nggon opo iku, kok sampe di larang, kan bagus proker’e gawe kemajuan desa iki” (Tapak tilas itu tempat apa, kok sampai di larang, kan bagus proker mereka untuk kemajuan desa ini) ucap Nur,

    “yo aku gak eroh, wong, di larang kok” (ya aku mana tau, pokoknya di larang)

    “nang ndi seh, nggon iku, kok aku gak eroh, awakmu isok ngeterno aku gak?” (dimana sih tempatnya, kok aku gak tau, kamu bisa antarkan aku kesana) ucap Nur penasaran

    “Lha matamu, gendeng’a wong pak Prabu ae mewanti ojok sampe melbu kunu, iku ngunu langsung alas”

    (lha, matamu, gila aja, pak Prabu sendiri melarang masuk kesana, itu tempat langsung ke hutan belantara)

    namun, Nur masih penasaran, sehingga ia tetap bersikeras mau kesana, jadi ia bertanya pada Anton meski dengan mengatakan bahwa ia bertanya untuk menghindari tempat itu.

    Anton, setuju. ia memberitahu ancer (letak) tempat itu berada, yang ternyata adalah lereng bukit dengan satu jalan setapak ke atas, di sampingnya, memang adalah perkebunan ubi tempat Bima dan Ayu melaksakan proker, namun, sore itu, 2 anak itu tidak ada disana. entah kemana.

    setelah selesai memberitahu, Anton mengajak Nur pergi darisana, namun, Nur mengatakan, sore ini ada janji temu dengan pak Prabu, jadi jalan mereka akan berpisah disini. meski awalnya Anton curiga, namun akhirnya ia percaya dan pergi.

    setelah Anton pergi, Nur menatap tempat itu

    ia menatap lama, gapura kecil, sama seperti yang lain, ada sesajen disana, tidak hanya itu, gapura itu di ikat dengan kain merah dan hitam, yang menandakan bahwa tempat itu sangat di larang, namun, insting rasa penasaranya sudah tidak tertahankan lagi, seperti memanggil.

    jalanya menanjak dengan sulur akar dan pohon besar disana-sini, butuh perjuangan untuk naik, namun anehnya, jalan setapak ini seperti sengaja di buat untuk satu orang, sehingga jalurnya mudah untuk di telusuri, menyerupai lorong panjang dengan pemandangan alam terbuka.

    Nur menyusuri tempat itu, langit sudah berwarna orange, menandakan hanya tinggal beberapa jam lagi, petang akan datang.

    meski tidak tahu apa yang Nur lakukan disini, namun perasaanya seolah terus menerus mendesaknya untuk melihat ujung jalan setapak ini, kemana ia membawanya.

    angin berhembus kencang, dan tiap hembusanya, membawa Nur semakin jauh masuk ke dalam, ia tidak akan bisa keluar dari jalan setapak karena rimbunya semak belukar dengan duri tajam yang bisa menyayat kulit dan kakinya.

    namun, ia semakin curiga, semakin masuk, sesuatu ada disana

    tetapi, ia harus kecewa, ketika di ujung jalan, bukan jalan lain yang ia lihat, namun, semak belukar dengan pohon besar menghadang Nur, di bawahnya di tumbuhi tanaman beluntas yang rimbun, jalan ini, tidak dapat di lewati lagi.

    lalu, kenapa tempat ini seolah di keramatkan.

    apa yang membuat tempat ini begitu keramat bila hanya sebuah jalan satu arah seperti ini.

    langit sudah mulai petang, Nur bersiap akan kembali, tetapi, langkahnya terhenti saat ia merasa ada hembusan angin dari semak beluntas di depanya, ia pun, menyisir semak itu, sampai..

    Nur melihat sebuah undakan batu yang di susun miring, ia tidak tahu, rupanya ia berdiri di tepi lereng bukit, meski awalnya ragu, Nur akhirnya melangkah turun, menjajak kaki dari batu ke batu sembari berpegang kuat pada sulur akar di lereng, ia sampai di bawah dengan selamat

    seperti dugaanya, ada tempat tak terjamah di desa ini, manakala Nur melihat dengan jelas, sanggar atau bangunan yang lebih terlihat seperti balai sebuah desa, namun, kenapa tempat ini tidak terawat.

    Nur berkali-kali melihat langit, hari semakin gelap, namun, ia justru mendekat

    layaknya sebuah tanah lapang dengan bangunan atap yang bergaya balai desa khas atap jawa, Nur mengamati tempat itu setengah begidik.

    selain kotor dan tak terurus, tidak ada apapun disini, kecuali, sisi ujung dengan banyak gamelan tua tak tersentuh sama sekali.

    butuh waktu lama untuk Nur mengamati tempat ini sampai ia mengambil kesimpulan, tempat ini sengaja di tinggalkan begitu saja, kenapa?

    ia menyentuh alat musik kendang, mengusapnya, dan semakin yakin, tempat ini sudah sangat lama di tinggalkan.

    setiap Nur menyentuh alat-alat itu, ia merasa seseorang seperti memainkanya, ada sentuhan kidung di telinganya. Nur sendirian, namun, ia merasa, ia berdiri di tengah keramaian.

    kegelapan, sudah menyelimuti tempat itu, langit sudah membiru, namun. Nur merasa tugasnya belum selsai

    sampai, Nur tersentak oleh sebuah suara Familiar yang memanggil namanya,

    ketika Nur berbalik menatap sesiapa yang baru saja memanggilnya, Nur mematung melihat Ayu, berdiri dengan muka tercengang, dari belakang, muncul Bima, tidak kalah tercengang

    suasana menjadi sangat canggung

    “yu, Bim? kok nang kene?” (yu, bim, kok kalian ada disini?)

    Ayu dan Bima hanya mematung, tidak menjawab pertanyaan Nur sama sekali, hal itu, membuat Nur mendekati mereka, melewatinya dan kemudian ia melihat ada sebuah gubuk di belakang bangunan ini.

    Nur berbalik, ia kecewa

    “Bim, abah karo umi nek eroh kelakukanmu yo opo yo, sebagai konco, aku gak nyongko loh Bim” (Bim, Abah sama Umi kalau tahu perbuatanmu gimana ya, sebagai temamu lama, aku tidak menyangka hal ini sama sekali)

    Bima hanya diam, Ayu, apalagi.

    “Nur, tolong” ucap Ayu, menyentuh lengan Nur,

    “aku gak ngomong mbek koen yu, aku ngomong karo Bima” (aku gak bicara sama kamu yu, aku mau bicara sama Bima)

    tatapan Nur membuat Ayu beringsut mundur, Bima masih diam, sebelum Nur akhirnya menggampar tepat di pipinya Bima.

    “wes ping piro?” (sudah berapa kali?) tanya Nur.

    “pindo’ne” (kedua kalinya)

    Nur tidak tahu harus berucap apa, “sek ta lah, opo sing jare Anton nek krungu suara cah wadon gok kamarmu iku koen ambek Ayu!!” (tunggu, ini artinya, apa yang dikatakan Anton soal dia dengar suara perempuan di kamarmu itu kamu sama ayu!!)

    namun, Bima menatap wajah Nur dengan kaget, tidak hanya itu, Ayu juga terperangah tidak percaya, kemudian menatap Bima dengan sengit, seakan Nur salah bicara.

    Lanjut ke part 4