Tag: wisata banyuwangi

  • Ribuan Warga Padati Tradisi Keboan Aliyan, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Banyuwangi

    Ribuan Warga Padati Tradisi Keboan Aliyan, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Banyuwangi

    Ribuan warga dari berbagai daerah memadati Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (21/6).

    Mereka hadir untuk menyaksikan puncak ritual adat Keboan Aliyan, sebuah tradisi tahunan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus ruang silaturahmi bagi masyarakat setempat.

    Sejak pukul 05.00 WIB, suasana desa sudah disibukkan dengan gotong royong warga yang menyiapkan perlengkapan ritual, mulai dari pemasangan umbul-umbul, janur kuning, hingga hiasan daun kolang-kaling.

    Bagi masyarakat Aliyan, kelengkapan prosesi ini bersifat sakral dan tidak boleh ada yang terlewat.

    Tokoh adat Sukodono, Sugiono, menjelaskan bahwa tradisi ini diperkirakan sudah mengakar sejak era 1960-an berdasarkan cerita para sesepuh.

    “Tradisi ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah tanah subur dan hasil panen yang melimpah. Karena itu, sampai sekarang tetap kami jaga,” ujar Sugiono.

    Ketua Panitia Keboan Aliyan 2026, Rony Sanjaya, memaparkan bahwa ritual ini melibatkan dua kelompok besar yang secara historis tidak pernah digabungkan dalam satu prosesi karena perbedaan jalur silsilah leluhur:

    • Keboan Aliyan Timur: Meliputi Dusun Cempokosari, Krajan, Bolot, dan Timurrejo.
    • Keboan Aliyan Barat: Meliputi Dusun Sukodono, Kedawung, dan Damrejo.

    Rony menambahkan, antusiasme tahun ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.

    “Jumlah peserta yang memerankan keboan (kerbau manusia) melonjak hingga ratusan orang. Ini indikator kuat bahwa kecintaan generasi saat ini terhadap tradisi leluhur masih sangat tinggi,” kata Rony.

    Rangkaian acara sejatinya telah bergulir sejak Jumat (19/6) yang dibuka dengan sterilisasi lapangan dan pertunjukan musik etnik WEC.

    Pada Sabtu (20/6), warga menggelar tradisi Sonjo Bareng melalui ritual Songo Pangrekso Sengkolo, di mana warga menyalakan obor (oncor) di sepanjang jalan desa dan menggelar doa bersama.

    Adapun pada puncak acara yang berlangsung Minggu (21/6), lapangan desa dimeriahkan oleh berbagai atraksi seni, antara lain:

    • Tari Puja Santri & Tari Barong Jodog
    • Penampilan Keboan Aliyan Timur & Barat
    • Pertunjukan Barong Kumbo
    • Ritual Kebo-bider Bumi (arak-arak keliling desa)
    • Doa Penutup

    Acara ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pariwisata, Forkopimka, serta para pegiat budaya dan duta wisata.

    Kepala Desa Aliyan, Agus Nurbani Yusuf, mengapresiasi kerja keras seluruh pihak dan berharap ritual ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan tuntunan untuk menjaga nilai gotong royong dan kelestarian alam.

    Harapan senada disampaikan oleh Mbah Adim, salah satu peserta keboan tertua dari Sukodono. Ia berharap generasi muda terus merawat warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman.

    Di sisi lain, tingginya animo penonton membawa dampak positif bagi sektor ekonomi mikro. Para pedagang kaki lima dan asongan meraup berkah dari gelaran ini.

    “Alhamdulillah, setiap tahun selalu ramai. Warga Aliyan juga sangat ramah dan terbuka kepada kami para pedagang,” ungkap Cak Sodik, seorang pedagang es keliling asal Pakis yang mengaku sudah bersiap di lokasi sejak usai salat Subuh.

    Bagi pengunjung seperti Heny (warga Pakistaji) dan Suparto (warga Tegalwero), Keboan Aliyan telah bertransformasi menjadi momentum pengikat sosial.

    Selain menjadi destinasi wisata budaya yang menjanjikan di Banyuwangi, tradisi ini terbukti ampuh menyatukan masyarakat di tengah modernisasi.

  • Banyuwangi Siagakan 48 Masjid Ramah Pemudik di Berbagai Titik Strategis

    Banyuwangi Siagakan 48 Masjid Ramah Pemudik di Berbagai Titik Strategis

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Dewan Masjid Indonesia (DMI) Banyuwangi, serta didukung Baznas Banyuwangi menyiapkan 48 masjid di berbagai titik.

    Program ini ditujukan untuk memudahkan para pemudik selama arus mudik dan balik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.

    “Dengan adanya masjid ramah pemudik, kami berharap para pemudik dapat merasa nyaman dan aman selama perjalanan,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat launching program di Masjid Al Huda, Kelurahan Bulusan yang berbatasan dengan Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Selasa (16/3/26).

    Masjid yang terlibat dala program ini akan dibuka selama 24 jam dan dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari area istirahat, tempat ibadah, toilet bersih, serta pengamanan di lingkungan masjid dan area parkir.

    Selain itu, tersedia juga layanan kesehatan yang didukung puskesmas, fasilitas pijat gratis di beberapa titik, serta penyediaan air minum, kopi, teh, makanan ringan gratis hingga menu berbuka.

    Ipuk menambahkan, masjid memiliki peran penting sebagai pusat peradaban, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

    Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan kajian dan diskusi berbagai persoalan kehidupan.

    bupati banyuwangi ipuk

    “Masjid memang pusat peradaban sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW, masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas seperti untuk mengkaji dan diskusi ragam topik kehidupan,” ujar Bupati Ipuk Fiestiandani yang didampingi Ketua Baznas Drs. Dwi Yanto, M. Pd.

    Sementara itu, Kepala Kemenag Banyuwangi, Drs. H. Chaeroni Hidayat, MM, menyampaikan bahwa Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Jawa Timur dengan jumlah masjid ramah pemudik terbanyak. Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, Baznas, dan DMI.

    “Kami berterima kasih atas kolaborasi yang baik antara pemkab, Baznas, dan DMI dan semua yang terlibat, semoga jadi ladang amal saleh kita semua,” ujarnya.

    Peluncuran program ini juga diisi dengan kegiatan sosial, seperti santunan kepada anak yatim, pemberian sembako kepada lansia dhuafa, serta penyerahan bantuan peralatan kepada masjid yang tergabung dalam program.

    Selain itu, diberikan pula dukungan kepada Yayasan Aura Lentera yang mengoordinasikan pemijat tunanetra dan difabel lainnya.

  • Green Island Banyuwangi, Mini Raja Ampat di Ujung Timur Pulau Jawa

    Green Island Banyuwangi, Mini Raja Ampat di Ujung Timur Pulau Jawa

    Green Island adalah salah satu destinasi wisata alam paling menarik di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang belakangan viral dan semakin dikenal wisatawan lokal maupun luar daerah.

    Terletak di perairan Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, pulau kecil ini menawarkan lanskap laut, pantai, dan vegetasi hijau yang memukau layaknya gambaran “Raja Ampat versi Jawa”.

    Selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026, Green Island dan kawasan wisata sekitarnya mengalami lonjakan kunjungan yang signifikan, para wisatawan datang untuk menikmati keindahan alam yang masih asri ini.

    Pesona Alam yang Mempesona

    Green Island dikenal dengan air lautnya yang jernih bergradasi dari biru muda, toska hingga biru tua, berpadu dengan pasir putih dan vegetasi hijau tropis yang alami.

    Pemandangan ini menjadikan pulau kecil ini sebagai lokasi ideal untuk kegiatan fotografi, snorkeling, atau sekadar bersantai menikmati panorama laut Nusantara yang tenang.

    Panorama di atas bukit Green Island sangat populer di kalangan wisatawan karena dari sana terlihat gugusan pulau-pulau kecil dan laut lepas yang luas, memberikan pengalaman visual serupa dengan destinasi wisata eksotis lainnya di Indonesia.

    Lokasi dan Cara Menuju Green Island

    Green Island secara administratif terletak di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

    Jaraknya sekitar 75 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi dengan waktu tempuh kurang lebih 2 hingga 2,5 jam perjalanan darat.

    Rute Perjalanan:

    • Transportasi Darat: Menuju Pantai Mustika Pancer menggunakan kendaraan pribadi atau sewa.
    • Penyeberangan Laut: Dari dermaga Pantai Mustika, harus menyewa perahu nelayan setempat. Perjalanan laut hanya memakan waktu sekitar 15–20 menit saja.

    Daya Tarik Green Island Banyuwangi

    Apa yang membuat Green Island begitu istimewa dibandingkan pantai lainnya di Banyuwangi?

    • View “Mini Raja Ampat”: Dari puncak bukit Green Island, pengunjung akan melihat gugusan pulau karang kecil yang dikelilingi gradasi air laut berwarna biru toska dan hijau jernih.
    • Spot T yang Estetik: Terdapat formasi batuan karang unik berbentuk huruf “T” yang menjadi latar foto favorit wisatawan karena menghadap langsung ke Samudera Hindia.
    • Pasir Putih dan Air Jernih: Pantai di pulau ini memiliki pasir putih yang sangat halus dengan ombak yang cenderung tenang, cocok untuk berenang atau sekadar bermain air.
    • Trekking Ringan: Untuk mendapatkan pemandangan terbaik, perlu mendaki anak tangga selama kurang lebih 10–15 menit menuju puncak pulau.

    Pengelolaan & Konservasi

    Sampai saat ini, Green Island masih dikelola secara informal oleh komunitas lokal di sekitar Pantai Rajegwesi dan Mustika.

    Belum banyak fasilitas wisata modern seperti resto di lokasi ini, karena fokus utama adalah mempertahankan kondisi alam pulau yang masih alami dan asri.

    Pengunjung juga diimbau untuk tidak meninggalkan sampah, menjaga ekosistem laut, serta menghormati habitat alami pulau demi kelestarian lingkungan jangka panjang.

    Tips Berkunjung ke Green Island

    Karena Green Island adalah pulau tak berpenghuni dengan fasilitas yang sangat minim, perhatikan hal berikut:

    • Waktu Terbaik: Datanglah pagi hari (Pukul 07.00 – 11.00 WIB) saat warna air laut sedang cerah-cerahnya dan ombak cenderung tenang.
    • Bawa Bekal Sendiri: Tidak ada resto atau penjual makanan di pulau. Pastikan membawa air minum dan camilan dari daratan.
    • Gunakan Alas Kaki yang Tepat: Gunakan sandal gunung atau sepatu air karena jalur trekking dan karang di tepi pantai cukup tajam.
    • Bawa Pulang Sampah: Bantu jaga keasrian pulau dengan tidak meninggalkan sampah apa pun di lokasi.

    Informasi Tiket dan Biaya Terbaru

    Harga tiket masuk ke kawasan ini sangat terjangkau, namun biaya utama terletak pada sewa kapal penyeberangan.

    • Tiket Masuk: berkisar antara Rp10.000 – Rp25.000.
    • Sewa Perahu: Berkisar antara Rp250.000 – Rp350.000 per perahu (kapasitas 5–6 orang). Sangat disarankan untuk datang berkelompok agar biaya lebih ringan.
    • Paket Open Trip: Banyak agen wisata menawarkan paket one-day trip mulai dari Rp150.000 – Rp250.000 per orang, sudah termasuk perahu dan pemandu.
  • CFD Banyuwangi Hadirkan Harmoni Antara Wisata, UMKM, dan Budaya Lokal

    CFD Banyuwangi Hadirkan Harmoni Antara Wisata, UMKM, dan Budaya Lokal

    Program Car Free Day (CFD) di Banyuwangi mengalami dinamika yang memberi warna baru bagi UMKM.

    Awalnya CFD berlangsung di Jalan Jendral Ahmad Yani, kemudian bergeser ke RTH Blambangan, lalu muncul gagasan Banyuwangi Creative Market (BCM) yang sempat bertahan sebelum pandemi.

    Kini, atas kebijakan revitalisasi RTH Blambangan, CFD dikembalikan ke Jalan Jendral Ahmad Yani meski hanya sepanjang sekitar 345 meter

    Surat dari Asisten Pemerintah Kabupaten mengatur agar BCM menjadi prioritas relokasi, namun hanya sebagian pelaku usaha yang bersedia pindah karena menunggu regulasi yang lebih jelas.

    CFD Banyuwangi

    Sejumlah pedagang mengungkapkan harapan agar pemerintah memberi komitmen jangka panjang.

    Fendi Felani yang berjualan madu, misalnya, berharap regulasi lebih transparan. Meski begitu, ia tetap senang dengan adanya dua lokasi CFD karena bisa memberi kesempatan baru bagi UMKM yang antre di BCM.

    “Belum ada pihak dari manapun yang memberikan informasi secara utuh, jelas regulasi, aspek ekonomi dan berkomitmen jangka panjang kepada saya mengenai masalah ini. Kalau bagi saya pribadi, saya manut pemerintah asal jelas dan bisa berkomitmen,” ungkap Fendi Felani.

    Pedagang lain, Sonhaji yang menjual tahu petis, menekankan pentingnya membuka ruang UMKM di mana pun tanpa ada penggusuran. Perihal rezeki, ia meyakini jika itu urusan Tuhan Yang Maha Esa.

    “Soal rejeki, dimana kita ikhtiar itu urusan Yang Maha Kaya,” paparnya.

    Sementara itu, Ulfiatuzzahroh pemilik Alfina Bakery yang menjajakan roti dan kopi merasa bersyukur bisa berjualan di wilayah tempat tinggalnya sehingga bisa memperluas jaringan pelanggan sekaligus memperkuat solidaritas sesama pelaku UMKM.

    Bagi yang ingin memesan produk kue di Alfina Bakery, bisa langsung menghubungi nomor 081333924441 atau 081249962400.

    “Kami produksi aneka kue premium dengan bahan kualitas. Ada bloeder dan tawar gandum buat yang diet. Yang biasa pesan lewat medsos, bisa ketemu koki dan pembeli,” ungkapnya sembari berdiri ditopang kruk usai kecelakaan kerja saat jadi pemateri untuk konsumen Signora di Genteng.

    Di samping pelaku UMKM, yang digilir Dispendik antara lain ada karate SMPN 1 serta gerakan perpaduan pramuka, PMR, UKS, pecinta lingkungan dan literasi jurnalistik SMPN 3 Banyuwangi.

    Suasana CFD juga makin meriah dengan kegiatan jalan sehat, lomba anak-anak, pertunjukan seni, hingga layanan publik dari berbagai instansi seperti Dispenduk, Dispora, dan Perpustakaan Daerah.

    Sekolah-sekolah pun turut berpartisipasi, seperti karate SMPN 1 serta gerakan perpaduan pramuka, PMR, UKS, pecinta lingkungan, serta komunitas literasi jurnalistik SMPN 3 Banyuwangi.

    Di sisi lain, pegiat Rumah Kebangsaan dan sejumlah tokoh masyarakat seperti Hakim Sa’id, SH, Syech H Ikrom Hasan, Andi Purnama dan Akademisi Herman juga memanfaatkan CFD sebagai ruang diskusi publik.

    CFD di Banyuwangi

    “Aktivitas dagang dan sosialisasi hal positif nong kene wae!” ungkap Hakim Sa’id

    Sementara itu, Ketua Komunitas Gotongroyong’45, Aguk Wahyu Nuryadi, berharap semua pihak termasuk DPRD yang sudah memfasilitasi RDP bisa menyalurkan aspirasi dengan damai dan penuh kekeluargaan.

    Ia menegaskan pentingnya regulasi CFD yang jelas sesuai arahan pemerintah pusat agar tidak terjadi salah tafsir, sekaligus mengajak semua pihak untuk memanfaatkan kearifan lokal dalam penamaan dan konsep kegiatan.

    “Bupati perlu tegaskan regulasi CFD sesuai arahan pemerintah pusat mendukung tatanan Kabupaten Sehat. Jadi ndak keblinger inovatif hingga muncul istilah community & Food Day ataupun CFD Blambangan yang jadi Banyuwangi Creative Market. Kalau bisa pakai kearifan lokal dengan bahasa daerah seperti Osing atau Jawa seperti yang ada di kampung dan deso,” ungkap aktivis yang tergabung di Forum Banyuwangi Sehat dan Forum Pembauran Kebangsaan ini.

    Harapannya CFD tetap menjadi ruang yang membawa berkah bagi UMKM, mempererat persaudaraan, dan menjaga Banyuwangi tetap harum sebagai daerah yang penuh welas asih dan harmoni.

    Penulis: Bung Aguk/AM