Semenjak mewabahnya pandemi COVID-19 atau corona pada awal tahun 2020 lalu, pemerintah menerapkan kebijakan social distancing untuk segenap warganya, termasuk para siswa. Saat ini, siswa diarahkan untuk belajar dari rumah dengan mengandalkan teknologi dan internet.

Tentu saja hal ini bisa dilakukan oleh siswa yang hidup di kota karena semua sarana terfasilitasi, mulai dari gadget sampai internet kecepatan tinggi. Lantas, apa kabar dengan wilayah terpencil di Indonesia?

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau lebih dari 17 ribu dan luas wilayah mencapai 1,904,569 km (dikutip dari Wikipedia). Pertanyaannya, apakah teknologi dan internet sudah mampu menjangkau seluruh kawasan Indonesia yang sangat besar ini?

Baca juga: Siswa Mulai Bosan Belajar dari Rumah, Apa Solusinya?

Dilansir dari laman IDNTimes, hampir 54 persen dari 608.000 murid di Bumi Cenderawasih ini hanya bisa gigit jari ketika para siswa di perkotaan melakukan pembelajaran via online. Hal ini terjadi karena sebagian wilayah terpencil di Papua masih belum tersedia internet. Bahkan, mirisnya lagi, listrik pun belum masuk.

Seorang guru honorer di pedalaman Papua, tepatnya di daerah Kabupaten Lanny Jaya menulis surat terbuka kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Berikut isi surat itu.

Selamat sore, bapak menteri. Semoga sehat-sehat ya? Selalu dalam perlindungan-Nya. Sebelum surat ini saya lanjutkan, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Sa pu nama, Maruntung Sihombing, seorang guru honorer di pedalaman Papua, tepatnya di Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua.

Saya sudah menjadi guru di Papua sejak tahun 2013 hingga sekarang. Sedikit banyak potret tentang pendidikan di Papua, saya sudah tahu. Suka duka mengabdi di pedalaman, saya su rasakan juga bapak.

Namun setelah baca bahwa bapak ‘shock’ mendengar adanya sekolah yang belum ada listrik dan sinyal, jadi pengen rasanya saya menceritakan kondisi tempat pengabdian saya di Papua.

Yang saya tidak habis pikir lagi, kok bisa-bisanya bapak tidak tahu persoalan itu. Bukankah setelah menjadi menteri harusnya bapak bisa memetakan persoalan pendidikan dari Sabang sampai Merauke? Terutama kitong yang ada di Timur Indonesia ini.

Oke, mungkin bapak masih baru menjadi menteri, tapi kan bisa bapak tanya dari bawahan toh? Atau -jangan-jangan mereka hanya melapor yang mulus-mulus saja ke bapak ya, yang penting bapak senang ya? Padahal ini bukan persoalan baru loh Pak. Sudah persoalan lama yang semua orang sudah sama-sama tahu. Masalahnya, persoalan ini seperti didiamkan selama ini tanpa ada penyelesaian yang konkrit.

Bapak tahu tidak, sejak tahun 2013 hingga sekarang, saya sudah terbiasa hidup tanpa listrik dan jaringan. Bahkan di rumah saya, kita hanya mendapat penerangan dari sinar matahari semata. Itupun kalau mataharinya bisa bersinar baik setiap hari Pak, kalau tidak, kita hanya mengandalkan lampu senter yang dihape atau pake lilin saja. Demikian juga di sekolah saya.

Lalu, apa kami menjadi tidak betah mengajar dan tidak bersyukur karena itu? Tidak. Sama sekali tidak. Mungkin kalau saya tidak bersyukur, jauh-jauh hari saya mungkin sudah hijrah ke kota yang fasilitasnya lebih lengkap dan baik.

Bahkan sangkin bersyukurnya, kami bahkan kerap tidak ingat kalau kami hidup tanpa listrik dan jaringan Pak. Kami memang punya jaringan yang saat ini saya pergunakan bapak, tapi bapak tahu tidak, jaringan towernya hanya mengandalkan genset yang jika solarnya habis, maka sinyalnyapun turut hilang.

Padahal sejujurnya, setelah saya tahu bapak dilantik menjadi menteri pendidikan di waktu silam, hati saya senang sekali karena baru kali ini menteri pendidikan diisi generasi milenial. Pasti akan banyak terobosan pikirku dalam hati. Namun sejak kemarin, saya menjadi ragu dan seperti kehilangan harapan. Apalagi setelah Corona melanda bangsa dan negar kita, termasuk kami di Papua, pendidikan kami seperti diluluhlantakkan.

Pendidikan terpencil di Papua seperti ‘mati suri’. Dan saya yakin daerah-daerah terpencil seperti kami juga pasti merasakan seperti yang kami rasakan. Bayangkan Pak hampir 54 persen di Papua dari 608.000 murid tidak menerapkan belajar daring seperti layaknya di perkotaan. Ini memang tanggung jawab kita semua, terlebih kami guru yang ada di Papua. Namun kami di daerah terpencil betul-betul sangat-sangat terbebani dengan kondisi ini.

Bagaimana kami belajar dari layar televise sedangkan listrik saja kami tidak punya? Bagaimana anak-anak kami bisa belajar daring sementara hape saja mereka jarang yang punya?Apalagi kalau belajar dirumah ini diperpanjang hingga Desember, maka sangat disayangkan, anak-anak kami akan semakin tertinggal dengan ketertinggalannya.

Ah, sudahlah Pak menteri. Rasanya kami di daerah terpencil akan tetap dibelakang saja. Kami sudah pasrah kok dengan keadaan ini. Kami sudah terlalu biasa dengan kondisi miris ini. Doa saya sederhana saja, semoga pandemi ini segera berakhir agar saya bisa berjumpa dengan murid-muridku.

Salam pendidikan Pak Menteri
Dari gurumu yang akan selalu mengabdi untuk bangsa dan negara ini.

Maruntung Sihombing
Guru di Papua