Semenjak diwajibkannya menggunakan masker kain sebagai upaya memutus rantai penyebaran COVID-19 atau corona, begitu banyak masker non medis bermunculan. Salah satu yang cukup populer adalah masker scuba. Selain dianggap nyaman saat digunakan, harganya pun cukup terjangkau.

Tapi, seiring maraknya masker scuba beredar di masyarakat, muncul juga isu tentang buruknya kualitas masker scuba untuk menyaring partikulat seperti virus ataupun bakteri. Oleh karenanya, semenjak keraguan itu muncul, banyak yang mencoba membuktikannya dengan beberapa cara dan teori.

Baca juga: Takut Corona, Pasangan ini Menikah dengan Cara Drive Thru

Namun, yang paling viral adalah dengan cara menggunakan masker scuba kemudian meniup korek api. Jika api sampai padam, meka meyakini bahwa kualias masker tidak cukup baik. Alhasil, cara ini ramai dibahas dan dipraktikan di media sosial.

Mengetahui fenomena ini, Peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir mengatakan tes tiup api hanyalah indikator awal pengujian kualitas masker.

Sebab, pada dasarnya ada beberapa tahapan untuk menguji kualitas masker, di antaranya:

  1. Uji filtrasi bakteri
  2. Uji partikulat
  3. Uji aliran udara

“Itu hanya indikator awal saja sebab untuk mengecek filter ada syaratnya seberapa bisa dia menahan bakteri kemudian berapa partikulat yang bisa ditahan,” katanya, yang dikutip dari laman Detik.com

Menurutnya saat melihat tes masker dengan api adalah sebuah hal wajah sebab masker scuba saat digunakan akan meregang karena bahannya lentur sehingga pori-pori membesar dan menyebabkan aliran udara semakin besar.