Dalam bidang keilmuan sastra dan budaya, hal magis dan sakral adalah sub bahasan yang renyah untuk dikaji. Dikatakan demikian karena manusia selalu hidup berdampingan dengan berbagai macam aspek kehidupan, tak terkecuali kemagisan itu sendiri. Walau, unsur tersebut tak diakui keabsahannya karena tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Padahal, jika ditelisik dari sudut pandang berbeda, hal magis itu sebenarnya sudah merasuk dan berbaur menjadi satu dengan alam. Lantas, alam sendiri diisi oleh berbagai macam makhluk, termasuk manusia. Sehingga secara garis besar bisa dikatakan jika alam adalah tempat berkumpulnya makhluk hidup yang senantiasa dibalut unsur magis di dalamnya.

Memang terkesan aneh, tapi itulah faktanya. Fenomena magis dan sakral masih melekat dan tidak bisa hilang, walau tergerus zaman. Sebab, itu adalah salah satu peninggalan budaya yang semestinya harus tetap ada hingga peradaban usai.

Ditarik satu contoh, sebuah pulau kecil yang letaknya di bagian Indonesia tengah sangat kental akan budaya, sastra, dan adatnya. Ya, pulau itu sering disebut sebagai Pulau Seribu Pura. Walau setiap hari selalu berdatangan bahasa baru, budaya baru, serta gaya hidup baru, nyatanya unsur sakral dan magis tersebut masih terjaga dengan apik dan indah.

Muncul pertanyaan baru, apakah unsur magis tersebut ada kemungkinan untuk musnah?

Kembali lagi pada hakikat kehidupan. Selagi masih ada kesempatan unsur magis itu bersatu dengan alam, tidak ada kata musnah. Begitu pula akan kesadaran manusia, bagaimana otak berpikir liar tentang manfaat dari berbaur dengan alam. Selagi masih ada kesadaran, serta bidang keilmuan yang mengkaji tentang riwayat zaman, magis itu tidak akan pernah hilang.

Justru, unsur magis akan menjadi sebuah simbol identitas sebuah Bangsa yang mungkin tidak tersedia pada kompetitor lainnya. Bukankah itu baik? Apapun yang tidak ada pesaing, bukankah semakin naik harganya?

Kembali lagi pada sebuah rekayasa kehidupan yang mengharuskan manusia untuk terus berpikir dan belajar. Semakin banyak ilmu yang diemban, semakin liar pula pola pikirnya. Tentu saja hal itu bagus karena ilmu bisa menyadarkan manusia bahwa ada hal yang perlu dilestarikan dan hal yang perlu dimanfaatkan.

Penulis : Maulana Affandi