SASTRAWACANA.id – Pernahkah kamu merasa lelah melihat setiap produk di media sosial disebut “bagus banget” atau “wajib punya”?
Di awal tahun 2026 ini, muncul sebuah gerakan balik yang disebut De-influencing.
Berbeda dengan influencer pada umumnya yang membujukmu untuk membeli, para de-influencer justru blak-blakan memberitahu produk apa saja yang sebenarnya tidak layak dibeli (overrated).
Fenomena ini viral karena netizen mulai merasa “gerah” dengan promosi barang yang tidak jujur.
Berikut adalah 5 fakta menarik mengenai tren de-influencing yang perlu kamu ketahui agar tetap cerdas dalam berbelanja.
Baca juga: 5 Ide Side Hustle Berbasis AI Terbaik 2026: Cara Cerdas Cari Cuan Tambahan Hanya dari Rumah!
1. Kejujuran sebagai Mata Uang Baru
Fakta pertama, tren ini muncul karena adanya krisis kepercayaan. Di tahun 2026, teknologi AI sudah bisa membuat ulasan produk yang tampak sangat nyata padahal palsu.
Akibatnya, netizen lebih menghargai kreator konten yang berani berkata jujur meski harus menjelekkan sebuah brand besar. Kejujuran kini menjadi nilai jual yang lebih mahal daripada sekadar video estetik.
2. Melawan Budaya Konsumerisme Berlebihan
Gerakan de-influencing bukan hanya soal ulasan buruk, tapi juga upaya melawan budaya boros. Para kreator seringkali mengingatkan audiensnya dengan kalimat seperti: “Kamu nggak butuh botol minum harga jutaan ini, botol lamamu masih bagus.” Ini adalah langkah nyata untuk mengajak masyarakat lebih sadar lingkungan dan menjaga kesehatan finansial mereka.
3. Brand Besar Mulai Ketar-ketir
Faktanya, banyak brand kosmetik dan gadget ternama yang mulai mengubah strategi pemasaran mereka gara-gara tren ini.
Mereka tidak lagi bisa sekadar membayar artis untuk bilang “bagus”, karena jika produknya memang buruk, para de-influencer akan langsung membongkarnya di TikTok atau Instagram, yang dampaknya bisa menurunkan angka penjualan secara drastis dalam hitungan jam.
4. Fokus pada Produk Alternatif yang Lebih Murah (Dupe)
Selain melarang belanja, para de-influencer biasanya memberikan solusi cerdas.
Mereka sering membandingkan produk high-end yang mahal dengan produk lokal atau merek lain yang kualitasnya sama namun harganya jauh lebih terjangkau.
Bagi kamu yang sedang berhemat di tahun 2026, tren ini tentu sangat membantu untuk menemukan produk terbaik dengan harga miring.
5. Menciptakan Komunitas Konsumen yang Kritis
Dampak paling positif dari tren ini adalah terbentuknya komunitas konsumen yang lebih kritis. Netizen kini tidak lagi mudah tergiur oleh bungkus yang cantik atau iklan yang viral.
Mereka lebih sering mencari ulasan mendalam dan membandingkan fakta sebelum memutuskan untuk menekan tombol checkout.
Nah, itulah 5 fakta mengenai fenomena de-influencing yang sedang viral di tahun 2026. Gerakan ini mengingatkan kita bahwa kontrol atas dompet dan gaya hidup tetap ada di tangan kita sendiri, bukan di tangan iklan.
Bagaimana menurut kamu, apakah kamu pernah merasa terjebak membeli barang tidak berguna karena pengaruh media sosial?









