Sublimasi adalah proses perubahan wujud benda dari padat langsung menjadi gas tanpa melewati fase cair.

Artinya, sebuah zat dapat menghilang dari bentuk padatnya dan berubah menjadi uap, seolah-olah “menghilang” begitu saja tanpa mencair terlebih dahulu.

Perubahan ini terjadi karena molekul-molekul dalam benda padat memiliki energi yang cukup untuk lepas langsung dari struktur padatnya dan memasuki fase gas.

Pada tingkat molekuler, sublimasi terjadi ketika molekul-molekul pada permukaan benda padat mulai bergetar semakin cepat akibat penyerapan energi panas.

Ketika energi yang diterima cukup besar untuk mengatasi gaya tarik-menarik antarmolekul dalam keadaan padat, molekul-molekul tersebut terlepas satu per satu dan langsung berpindah ke fase gas.

Semuanya tidak melewati fase cair karena kondisi suhu dan tekanan tidak memungkinkan zat berada dalam bentuk cair.

Proses ini bersifat endotermik, artinya memerlukan atau menyerap energi panas dari lingkungan. Ketika molekul padat berubah menjadi gas, benda tersebut akan menyerap panas dari sekelilingnya, sehingga benda dapat terasa lebih dingin.

Dalam kondisi normal, benda yang mengalami sublimasi cenderung tampak mengecil atau menipis seiring waktu, karena jumlah molekul padatnya semakin berkurang.

Sublimasi biasanya terjadi pada suhu dan tekanan di bawah titik tripel suatu zat, yaitu titik dalam diagram fase ketika zat dapat berada dalam tiga fase sekaligus: padat, cair, dan gas.

Jika tekanan berada di bawah titik tripel, maka fase cair tidak dapat terbentuk, sehingga benda padat yang menerima energi cukup hanya memiliki dua pilihan: tetap padat, atau berubah langsung menjadi gas. Oleh sebab itu, sublimasi sangat terkait dengan kondisi termodinamika tertentu.

Menariknya, istilah sublimasi terkadang juga digunakan untuk menyebut dua proses sekaligus: perubahan dari padat ke gas (sublimasi) dan perubahan kembali dari gas ke padat (deposisi).

Deposisi dapat dilihat saat embun beku atau frost terbentuk, ketika uap air langsung berubah menjadi kristal es tanpa menjadi cair terlebih dahulu.

Salah satu contoh sublimasi yang mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari adalah es batu. Ketika es dibiarkan di ruang terbuka dalam waktu lama, ia akan mengecil meskipun suhu lingkungan masih di bawah titik leburnya.

Ini karena es secara perlahan melepaskan molekul-molekul air ke udara dalam bentuk uap. Contoh lainnya adalah kapur barus (kamper) atau mothballs yang semakin habis tanpa mencair, serta dry ice (es kering) yang berubah menjadi gas karbon dioksida ketika dibiarkan terbuka.

Dengan memahami sublimasi, kita dapat melihat bahwa banyak benda di sekitar kita mengalami perubahan wujud yang tidak selalu tampak oleh mata, namun mengikuti prinsip-prinsip fisika yang teratur dan dapat dijelaskan.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.