Pengertian Fonem
Fonem adalah satuan bunyi terkecil dalam bahasa yang memiliki fungsi membedakan makna kata.
Fonem bukan sekadar bunyi, tetapi bunyi yang secara sistematis dianggap berbeda oleh penutur bahasa untuk menandai perbedaan arti.
Misalnya, dalam bahasa Indonesia bunyi /p/ dan /b/ membedakan kata padi dan badi. Meskipun secara fisik bunyi tersebut mungkin mirip, perbedaan fonemik ini penting karena mengubah makna kata.
Fonem menjadi dasar dalam analisis fonologi karena menentukan bagaimana bunyi disusun dan berinteraksi dalam suatu bahasa.
Perubahan Fonem
Dalam proses penggunaan bahasa sehari-hari, fonem tidak selalu tetap dan dapat mengalami perubahan akibat berbagai faktor, baik karena pengaruh lingkungan fonetik, kemudahan pengucapan, maupun adaptasi bahasa dari kata pinjaman.
Perubahan-perubahan ini tidak hanya memengaruhi bunyi, tetapi juga fungsi fonem dalam membedakan makna, sehingga muncul fenomena-fenomena linguistik tertentu yang menarik untuk dipelajari. Berikut ini beberapa jenis perubahan fonem beserta penjelasannya.
1. Asimilasi
Yang dimaksud dengan asimilasi yaitu pristiwa perubahan bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinnya.
Contoh asimilasi:
Sabtu dalam bahasa Indonesia lazim disebutkan [saptu], di mana terlihat [b] berubah menjadi [p] karena pengaruh [t].
2. Disimilasi
Yang dimaksuk disimilasi yaitu peristiwa perubahan bunyi yang menyababkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.
Contoh disimilasi:
Citra yang berubah menjadi kata cipta dan cinta, kita lihat bunyi [tt] pada kata citta berubah menjadi bunyi [pt] pada kata cipta dan berubah menjadi bunyi [nt] pada kata cinta
3. Netralisasi
Yang dimaksud dengan netralisasi yaitu pristiwa perubahan bunyi yang menyebabkan batalnya fungsi fonemik sebagai pembeda makna.
Contoh netralisasi :
Bunyi [lembab] dan [lembap], pada hakekatnya bunyi ini memiliki makna yang sama. Kita lihat /b/ dan /p/ di sini kehilangan fungsinya sebagai pembeda makna.
4. Akrifonem
Yang dimaksud dengan akrifonem yaitu satuan terkecil dalam kosakata yeng menetralisasikan oposisi antara ciri-ciri makna beberapa leksem.
Contoh akrifonem :
Kata Jawab yang diucapkan /jawap/ atau diucapkan /jawab/, tetapi bila diberi akhiran –an bentuknya menjadi jawaban. Jadi, di sini ada /B/ yang realisasinya bisa menjadi /p/ atau /b/.
5. Metatesis
Yang dimaksud dengan metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang berada dalam satu kata dalam bentuk lain dari fonem yang sama.
Contoh metatesis :
Pada kata batu, fonem /b/, /a/, /t/, dan /u/ dapat berubah menjadi bentuk kata lain, seperti : buta, tuba, dan tabu.
6. Epentesis
Yang dimaksud dengan epentesis yaitu penambahan huruf dalam satu kata terutama kata pinjaman tanpa mengubah arti untuk menyesuaikan pola fonologis bahasa peminjam.
Contoh epentesis :
Kata kampak, kita lihat bunyi [m] disisipkan ditengah kata kapak. Contoh lainnya pada jumblah, bunyi [b] disisipkan di tengah kata jumlah.









