Pengertian Drama

Sastrawacana – Secara bahasa, Drama berasal dari bahasa Yunani, yaitu Draomai yang berarti ‘berbuat’ atau ‘beraksi’ dan ‘bertindak’. Dan Drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah.

Dalam arti luas, drama bisa dikatakan sebagai bentuk seni yang menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan perilaku, tindakan, serta emosi melalui akting dan dialog berdasarkan naskah.

Budianta, dkk (2002:95) berpendapat bahwa drama merupakan sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada.

Pendapat ini hampir sama dengan pendapat bahwa drama merupakan karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog (Sudjiman, 1990 dalam Siswanto, 2008:163).

Baca juga: Pengertian Karya Fiksi Menurut Para Ahli dalam Dunia Sastra

Jenis-Jenis Drama

Drama dapat dibedakan beberapa jenis berdasarkan bentuk dan isi ceritanya, yaitu sebagai berikut:

  • Opera: drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik.
  • Tragedi: drama yang penuh dengan kesedihan
  • Komedi: drama penggeli hati yang penuh dengan kelucuan.
  • Tragekomedi: perpaduan antara drama tragedi dan komedi.
  • Farce: drama yang menyerupai dagelan, tetapi tidak sepenuhnya dagelan.
  • Tablo: jenis drama yang mengutamakan gerak, para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan.
  • Melodrama: drama yang dialognya diucapkan dengan diiringi melodi/musik.
  • Sendratari: gabungan antara seni drama dan seni tari.

Baca juga5 Manfaat Mengikuti Ekskul Teater di Sekolah

Unsur Intrinsik Drama

1. Tema

Inti atau ide pokok yang mendasari jalan cerita dalam naskah drama. Contoh: Drama berjudul “Opera Kecoa”, maka temanya adalah tentang Sosial atau Politik.

2. Dialog / Teks

Dialog adalah percakapan dalam drama yang merupakan unsur penting. Sebab, dengan adanya dialog atau percakapan, maka drama dapat dilakoni secara verbal. Dialog dalam drama dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Prolog, yaitu kata-kata pendahuluan atau pembuka dalam drama.
  • Epilog, yaitu kata-kata penutup atau kata-kata akhir dalam drama.
  • Monolog, yaitu percakapan yang dilakukan sendiri.

3. Watak atau Penokohan

Yaitu sifat-sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh para pemeran drama. Watak/penokohan dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Protagonis, tokoh utama yang biasanya berperilaku baik.
  • Antagonis, penentang tokoh utama yang biasanya bersifat jahat.
  • Tritagonis, tokoh yang perannya hanya sebagai pembantu atau sampingan.

4. Plot/Alur

Sebuah urutan atau jalan cerita. Struktur alur cerita dalam drama adalah sebagai berikut:

  • Tahap perkenalan, yaitu perkenalan tokoh, menjelaskan tentang peristiwa yang akan terjadi.
  • Tahap konflik awal, yaitu mulai munculnya konflik atau masalah yang terjadi antara para tokoh.
  • Tahap komplikasi, yaitu konflik yang dimunculkan menjadi lebih serius.
  • Tahap klimaks, yaitu konflik yang datang mencapai titik kulminasi atau mencapai puncak tegangnya.
  • Tahap antiklimaks, yaitu konflik yang tegang tadi mulai menurun dan mereda.
  • Tahap penyelesaian, yaitu tahap terakhir yang menandakan konflik telah selesai.

Unsur Ekstrinsik Drama

Adapun unsur ekstrinsik dari drama adalah sebagai berikut:

  • Pimpinan produksi yang bertanggung jawab atas kelangsungan pentas drama
  • Sutradara
  • Tim Kreatif
  • Make up
  • Tata Busana / Kostum
  • Sound system
  • Konsumsi
  • Organisasi pendukung lainnya dalam pementasan suatu drama

Baca juga: Mengenal Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Karya Sastra

Jenis-Jenis Apresiasi Drama

1. Apresiasi langsung

Berhadapan atau interaksi secara langsung dengan karya sastra drama baik dalam bentuk teks tertulis maupun dalam bentuk pementasan.

2. Apresiasi drama tidak langsung

Ketika belajar teori drama, sejarah drama, kritik drama. Baik dalam sekolah, kuliah maupun belajar sendiri melalui buku maupun surat kabar dan majalah sastra.

Baca juga: Pengertian dan Sejarah Perkembangan Pantomim

Tingkatan Apresiasi Drama

Disick (dalam Herman J. Waluyo, 2002: 45) menyebutkan bahwa apresiasi berhubungan dengan sikap dan nilai. Beliau juga menyebutkan adanya empat tingkatan apresiasi, yaitu sebagai berikut:

1. Tingkat menggemari

Seseorang yang baru sampai pada tingkat menggemari, keterlibatan batinnya belum kuat. Dia baru terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan drama. Jika ada drama dia akan senang membaca. Jika ada acara pembacaan drama, secara langsung atau berupa siaran tunda di televisi, ia akan menyediakan waktu untuk menontonnya.

2. Tingkat menikmati

Keterlibatan batin pembaca terhadap drama sudah semakin mendalam. Pemirsa akan ikut sedih, terharu, bahagia, dan sebagainya ketika melihat drama mampu menikmati keindahan yang ada dalam drama itu secara kritis.

3. Tingkat mereaksi

Sikap kritis terhadap drama lebih menonjol karena ia telah mampu menafsirkan dan mampu menilai baik-buruknya sebuah drama. Penafsiran drama mampu menyatakan pemahaman drama dan menunjukkan di mana letak pemahaman tersebut. Demikian juga, jika seseorang dalam mengapresiasi dapat menyatakan kekurangan suatu drama, orang tersebut akan mampu menunjukkan di mana letak kekurangan tersebut.

4. Tingkat produktif

Apresiator drama mampu menghasilkan, mengkritik, dan membuat resensi terhadap sebuah drama secara tertulis. Dengan kata lain, ada produk yang dihasilkan oleh seseorang yang berkaitan dengan drama.

Baca juga: Tips Melatih Pantomim Untuk Anak Kecil

Cara mengapresiasi Sastra

1. Apresiasi Sastra Secara Reseptif

Dalam apresiasi sastra, drama dapat diapresiasikan secara reseptif. Apresiasi drama secara reseptif dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama

2. Apresiasi Sastra Secara Produktif

Dalam apresiasi sastra, drama dapat diapresiasikan secara produktif. Apresiasi drama secara produktif dapat dilakukan dengan cara membuat naskah drama.