Dalam kekayaan bahasa Indonesia, banyak ungkapan yang terdengar unik dan kadang menggelitik, salah satunya adalah “siang bolong”.
Meskipun terdengar seperti frasa biasa, ungkapan ini memiliki lapisan makna yang menarik jika ditelaah lebih dalam, baik secara harfiah maupun kiasan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “siang bolong” didefinisikan sebagai:
siang hari yang sangat panas dan terik, biasanya ditandai dengan sinar matahari yang menyengat dan hampir tidak ada angin berhembus.
Namun, dalam banyak konteks, ungkapan ini juga digunakan secara kiasan untuk menggambarkan suatu kejadian yang tidak terduga atau tidak wajar yang terjadi di tengah suasana terang dan normal.
Oleh karena itu, “siang bolong” seringkali dipakai dalam kalimat-kalimat ekspresif yang mencerminkan kontras antara suasana damai dengan peristiwa mengejutkan.
Secara harfiah, “siang bolong” merujuk pada waktu siang yang sangat panas, biasanya antara pukul 12.00 hingga 14.00, ketika matahari berada tepat di atas kepala.
Dalam suasana ini, bayangan benda menjadi pendek, udara cenderung kering, dan aktivitas luar ruangan terasa menyiksa.
Contoh dalam kalimat:
- Ia tetap berjalan kaki ke pasar meski matahari bersinar terik di siang bolong.
- Petani itu tetap bekerja di ladang, meskipun siang bolong menyengat kulitnya.
Ungkapan ini digunakan untuk menegaskan betapa panasnya cuaca saat itu, yang menggambarkan ketangguhan atau situasi ekstrem.
Di luar makna literalnya, “siang bolong” juga menjadi idiom dalam bahasa Indonesia.
Dalam penggunaannya secara kiasan, ungkapan ini merujuk pada kejadian yang mengejutkan, tidak masuk akal, atau melanggar kebiasaan, terutama jika terjadi pada waktu atau tempat yang tampaknya biasa-biasa saja.
Contoh kalimat kiasan:
- Ia kedapatan mencuri motor orang di siang bolong, saat banyak orang berlalu-lalang.
embunuhan itu terjadi di siang bolong, membuat warga sekitar tak habis pikir.
Dalam konteks ini, “siang bolong” dipakai untuk menyoroti kontras antara kondisi terang-benderang (yang biasanya aman) dengan peristiwa yang mencolok atau mencurigakan.
Itulah sebabnya, dalam laporan berita kriminal atau cerita sastra, ungkapan ini sering digunakan untuk memberi kesan dramatik dan mengejutkan.
Dalam karya sastra dan jurnalistik, “siang bolong” kerap dipilih untuk menciptakan efek kontras suasana. Sebagai contoh, penulis bisa menulis:
- Di siang bolong yang damai itu, terdengar suara letusan yang menggetarkan kampung.
Ungkapan ini membuat pembaca merasakan bahwa ada sesuatu yang janggal—bahwa sebuah peristiwa tragis atau ganjil telah merusak ketenangan siang hari.
Jadi, “Siang bolong” menurut kamus adalah siang hari yang panas dan terik, namun dalam praktik bahasa Indonesia, ia juga mengandung makna kiasan yang menggambarkan sesuatu yang mencolok, mengejutkan, atau tidak wajar terjadi di tengah keadaan terang dan ramai.









