Kategori: Bahasa Jawa

  • Pengertian Tembung Tanduk, Jenis, dan Contohnya

    Pengertian Tembung Tanduk, Jenis, dan Contohnya

    Pengertian Tembung Tanduk

    Tembung tanduk yaiku tembung kang oleh ater-ater hanuswara. 

    Artinya, tembung tanduk adalah jenis tembung yang mendapat awalan hanuswara, yaitu awalan yang menciptakan suara dengung seperti ng-, m-, ny-, dan n-.

    Sehingga, ketika sebuah tembung mendapat awalan ng-, m-, ny-, dan n- , maka tembung tersebut akan menjadi ukara tanduk (kalimat aktif).

    Ukara tanduk (kalimat aktif) yaitu kalimat dimana wasesa-nya berbentuk tembung kriya tanduk (kata kerja aktif) (Sasangka, 2008:189).

    Ciri-ciri ukara tanduk yaitu wasesa-nya menggunakan imbuhan aterater anuswara (m-, n-, ng- dan ny-) dengan panambang –i atau –ake. Perhatikan contoh ukara tanduk sebagai berikut

    Tembung kriya tanduk (kata kerja aktif) yaitu tembung kriya yang jejer (subjek) menjadi pelaku (Sasangka, 2008:119).

    Tembung kriya tanduk diberi imbuhan ater-ater anuswara (N) yaitu m-, n-, ng- dan ny-. Tembung kriya tanduk dibagi menjadi dua yaitu kriya tanduk mawa lesan dan tanpa lesan.

    Sasangka (2008:120) mengatakan ciri-ciri tembung kriya tanduk mawa lesan yaitu tembung kriya yang menggunakakan ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny-), ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny-) dan panambang -i atau panambang – ake.

    Contoh kata kerja yang menggunakan ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny-) yaitu mangan, nulis, ngarang, ngaji dan sebagainya.

    Contoh kata kerja yang menggunakan ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny-) dan panambang -i atau panambang –ake yaitu mbalangi, nunggoni, ngajeni, nyurungi, dan sebagainya.

    Tembung kriya tanduk tanpa lesan (kata kerja intransitif) yaitu tembung kriya yang tidak membutuhkan kata lain dibelakang atau lesan (objek).

    Sasangka (2008:121) mengatakan ciri-ciri tembung kriya tanduk mawa lesan yaitu tembung kriya yang menggunakan ater-ater anuswara (m-, n-, ng-, dan ny- ), maN- dan mer-.

    Contoh kata kerja tersebut, yaitu mbledhos, nangis, ngetan, nyamar dan sebagainya.

    Jenis Tembung Tanduk dan Contohnya

    Tembung tanduk dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

    1. Tembung tanduk kriya wantah

    Yaiku tembung sing ora oleh panambang.

    Contoh: Maju, Ngadeg, Ngombe, Ndeleh, Ngadeg.

    2. Tembung tanduk i-kriya

    Yaiku tembung tanduk sing oleh panambang i.

    Contoh: Nulungi, Nyaponi, Nyangoni, Menthungi.

    3. Tembung tanduk ke-Kriya

    Yaiku tembung tanduk sing oleh panambang ke atau ake.

    Contoh: Ngalungake, Nyelehake, Mbalangake, Ngalungake.

  • Sanepa: Pengertian, Sejarah, Karakteristik, dan Contohnya

    Sanepa: Pengertian, Sejarah, Karakteristik, dan Contohnya

    Pengertian Sanepa

    Sanepa merupakan ungkapan atau peribahasa dalam bahasa Jawa yang digunakan untuk menyindir atau menghina seseorang secara halus dengan kalimat yang bertolak belakang maknanya.

    Sanepa juga sering diistilahkan sebagai kalimat yang dilebih-lebihkan atau majas sindiran sinisme karena menggunakan kalimat yang bertolak belakang dari makna sesungguhnya.

    Mudahnya, sanepa merupakan salah satu gaya bahasa dalam bahasa Jawa yang berfungsi sebagai penyindiran atau sindiran halus terhadap seseorang atau suatu keadaan.

    Biasanya Sanepa digunakan dengan menggunakan frasa-frasa yang memiliki konotasi negatif atau merendahkan.

    Baca juga: Kumpulan Parikan Jowo Lucu [Pantun Jawa Lucu]

    Sejarah Sanepa

    Sejarah sanepa sendiri masih sulit untuk dilacak secara pasti, namun penggunaannya telah dipraktikkan selama berabad-abad di masyarakat Jawa.

    Beberapa sumber menyebutkan bahwa penggunaan sanepa sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Kuno, yakni pada abad ke-8 hingga abad ke-10 yang terkenal dengan kejayaannya di bidang seni dan budaya.

    Dalam babad-babad Jawa, seperti Babad Tanah Jawi dan Babad Mataram, terdapat beberapa contoh penggunaan sanepa dalam karya sastra tersebut.

    Selain itu, penggunaan sanepa juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.

    Hal ini menunjukkan bahwa sanepa telah menjadi bagian dari kebudayaan Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Meskipun demikian, penggunaan sanepa juga dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak digunakan dengan bijak.

    Oleh karena itu, perlu adanya penggunaan sanepa dengan etika dan kesadaran dalam mempertahankan dan memperkaya budaya Jawa yang indah dan beradab.

    Baca juga: 10 Contoh Ukara Andharan dan Artinya

    Karakteristik Sanepa

    Karakteristik dari sanepa adalah menggunakan kata-kata yang memiliki makna ambigu, sehingga bisa memiliki arti yang sama-sama merendahkan, namun terlihat sebagai pujian di permukaan.

    Sanepa juga sering menggunakan kosakata lokal atau istilah-istilah khas bahasa Jawa, sehingga memerlukan pemahaman yang mendalam tentang budaya dan bahasa Jawa untuk memahaminya dengan benar.

    Meskipun memiliki unsur sindiran, Sanepa juga dapat digunakan sebagai bentuk hiburan atau humor dalam komunikasi sehari-hari

    Meski terkadang disalahgunakan untuk menyakiti perasaan orang lain, sanepa juga bisa digunakan dengan bijak untuk menyampaikan pesan yang tajam namun halus.

    Contoh Sanepa Jawa

    Agar lebih jelas, simak beberapa contoh sanepa Jawa berikut ini.

    1. Ambune Arum Jamban (baunya aroma selokan)

    Kalimat di atas terdengar seperti sebuah pujian, tapi sebenarnya bermaksud untuk menyindir bahwa tempat tersebut memiliki aroma yang tak sedap.

    2. Banyune bening peceren (airnya jernih got)

    Kalimat tersebut seolah-olah memuji airnya jernih, padahal bermaksud menyindir bahwa airnya kotor seperti got.

    3. Kulite ireng mori (kulitnya putih sekali)

    Kalimat di atas terdengar seperti menghina seseorang berkulit hitam, tapi sebenarnya maksud dari tembung sanepa tersebut adalah kulitnya putih sekali.

    4. Awake Kuru Semangka (badannya kurus seperti semangka)

    Maksud tembung sanepa Jawa di atas adalah tubuhnya kurus atau hampir habis.

    5. Playune banther bekecot (larinya kencang bekecot)

    Sekencang-kencang larinya bekecot, tentu tetap lambat. Itulah maksud dari kalimat sanepa di atas.

    6. Eseme pait madu (senyumnya sepahit madu)

    Sepahit-pahitnya madu, tetap manis. Makna dari kalimat di atas adalah memuji seseorang jika senyumannya semanis madu.

    7. Kawruhe jeru tapak teri (pengetahuannya dalam seperti telapak teri)

    Maksud dari contoh tembung sanepa Jawa di atas adalah pengetahuannya sangat sedikit, meski tertera kata “dalam” yang maksudnya untuk menyindir.

    8. Pakulitane kuning silit kwali (kulitnya kuning seperti bokong kwali)

    Meskipun menyebut kata kuning, tapi maksud dari kalimat di atas adalah menyindir seseorang jika kulitnya hitam seperti bokong kwali.

    9. Pikirane Landhep Dhengkul (pikirannya tajam seperti dengkul)

    Contoh sanepa di atas maksudnya menghina seseorang yang berpikirnya dangkal.

    10. Suwe mijet wohing ranti (lama seperti memijit buah ranti)

    Maksud dari sanepa di atas adalah cepat sekali atau sangat sebentar.

  • 10 Contoh Ukara Andharan dan Artinya

    Ukara andharan (ukara citra) yaitu ukara kang ngandharake sawijining kedadeyan utawa prekara marang wong sing diajak guneman, bab sing digunem upamane: nyritakake bab-bab kang mentas, dirungu, diwaca, dideleng, rinasa, menehi wawasan, pitutur, nirokake gunem lan liya-liyane.

    Ukara andharan adalah kalimat bahasa Jawa yang isinya mengabarkan suatu hal atau mengabarkan suatu peristiwa.

    Singkatnya, ukara andharan adalah kalimat berita yang ditulis dalam bahasa Jawa.

    Berikut ini adalah beberapa contoh ukara andharan dan artinya.

    1. Rini dolanan boneka ing kamar. (Rini main boneka di kamar)

    2. Wahyu dolanan bal-balan ing lapangan. (Wahyu main bola di lapangan)

    3. Wingi ana kebakaran ing kantor camat. (Kemarin ada kebakaran di kantor camat)

    4. Wingi isuk sepedhahe Rika dicolong maling. (Kemarin pagi sepedanya Rika dicuri maling)

    5. Mambengi Rudi tibo ing jedhing. (Semalam Rudi jatuh di kamar mandi)

    6. Ono kebakaran hutan ing Sulawesi. (Ada kebakaran hutan di Sulawesi)

    7. Pak Dhe Dani tumbas kain telung meter. (Pak de Dani beli kain lima meter)

    8. Aku melu lomba melayu ing Bali. (Aku ikut lomba lari di Bali)

    9. Aku lagi ngumbahi klambine bapakku. (aku sedang mencuci baju ayahku)

    10. Bapak lagi ngombe teh anget. (Ayah sedang minum teh hangat)

  • Kumpulan Parikan Jowo Lucu [Pantun Jawa Lucu]

    Parikan atau kidungan adalah salah satu bagian dalam kesenian tradisional ludruk.

    Dalam Bahasa Indonesia, parikan dikenal dengan pantun. Isi dari parikan berbagai macam, namun umumnya digunakan sebagai bahan merayu dan candaan yang sifatnya menghibur.

    Agar lebih jelas, berikut adalah beberapa parikan jowo:

    Sambel trasi wadahe besek.
    Awake seksi irunge pesek.

    Sepet sepet, sawone mentah.
    Diempet empet selak ora betah.

    Ono kodok ketatap koco,
    Yen wes mbadok lali karo konco.

    Tawon ngentup siseh gulu,
    Pejabat korup ojo ditiru.

    Kembang Suket Mekare Sore
    Ndasku Mumet MikirnE Kowe

    sambel trasi sambel terong,
    awake seksi bathuke nonong.

    gulo jowo gulo batu,
    aku kangen koe cah ayu.

    Iwak teri dipangan lele,
    Bengi iki aku kangen kowe.

    Pring gading jiblok gapuk
    Ojo njengking ndak ditubruk

    Tuku sate lodeh, dipangan karo tempe akeh
    Pede yo oleh, nanging yo ojo karo ndobleh

    Nomes kates
    Dibumbuni mrico
    Awan mbengi mbrebes
    Seng di enteni ra kroso

    Marot klopo marot telo,
    Arep digawe lemet,
    Seng di kangeni ra kroso-kroso,
    Ko rasane atiku kepenyet-penyet

    Jenang abang
    Di wei tonggo
    Awak mriang
    Seng dikangeni ra teko.

    Udan e ngrecih
    Langit e peteng
    Kroso sedih
    Ra mok telpon rong rendeng.

    Banyu adem
    Diwadai cingker
    Kangen nganti mendem
    Seng dikangeni ra miker.

    Danau jeru laut yo jeru
    Pesti akeh iwak lele
    Awak kuru kurang turu
    Tibae mikerne koe.

    Klambi biru
    Bolong lengene
    Raiso turu
    Bengong eleng koe.

    Pasar wage pasar legi
    Akeh wong bakol kaen
    Sugeh riyadi Idul Fitri
    Lepate nipon laer lan baten.

    Marot klopo
    Go nglodeh waloh
    Rasane tersikso
    Tekamu mok nek butoh.

    Miri tambah mrico
    Di ulek dadi siji
    Ati tambah nlongso
    Seng dicelok moh nyauri.

    Isuk-isuk grimes
    Srengengene kemulan pedot
    Ati remuk moto nanges
    Seng di jak rabi malah mrengot.

    Godong waru
    Go bungkus jae
    Ra turu-turu
    Miker koe.

    Musem panas
    Segorone cedtek
    Wes ikhlas
    Mergo sabarku entek.

    Kembang melati
    Mekrok mok papat
    Koe nandi
    Ngabari kok ra sempat

    Kembang mawar
    Sedompol songo
    Opo aku kurang sabar
    Ko koe iso tego.

    Panas-panas mangan onde-onde
    Ngombe ne segelas es
    Maaaaaaaasss aku kangen koe
    Mripatku ra iso ngempet mbrebes.

    Sayor waloh
    Masake pas suboh-suboh
    Atiku perih-perih aboh
    Seng ta enteni wolong taon tibae mok ngejak selingkoh.

    Enek tabeb enak kiyai
    Biasane iso nambani loro
    Jane isek urep opo wes mati
    Ko di enteni ora moro-moro.

    Godok telo di ge ngancani kopi
    Mbrebes pirang2 dino
    Kangen ra mok tambani

    Iwak kali
    Go lawoh sego
    Penak rabi
    Seng ra gelem doso.

    Awan-awan
    Ngemil krupok mlinjo
    Ngenteni sampean
    Nganti mok bojo..

    Botok lamtoro
    Kulupe godong kates
    Kangen ki loro
    Awan mbengi mbrebes…

    Direwangi buroh
    Ge nyukupi butoh
    Ati wes kependem iloh
    Seng dikangeni etok-etok ga weroh.

    Peyek dele
    Di bumbuni mrico
    Aku kangen koe
    Ko bengi moro o yo.

    Duit saitik disimpen
    Wes akeh ge tuku
    Nylekit rasane kangen
    Marine nek dadi bojomu.

    Duit saitik disimpen
    Wes akeh ge tuku
    Nylekit rasane kangen
    Marine nek dadi bojomu.

    Kates mateng
    Di belah limo
    Kangen wes ngendeng
    Koe ra moro…

    Godong jagong
    Dipangan sapi
    Atiku mendung
    Ora mok parani…

    Kates telu
    Dipangan manok sriti
    Mbrebes terus mripatku
    Janji marai ra mok tepati.

    Iwak ati waleh
    Ganti rempelo
    Atiku remuk dadi akeh
    Koe ta enteni ra teko

    Pitik jago ra duwe cucuk
    Golek bojo kok mung modhal manuk

    Entut mambu marahi ribut
    Kadung mlebu nanggung yen arep ndudud

    Budal ngetan tuku klopo, ora lali tuku uyah
    Golek bojo sing iso dijak urip soro, sakwayah2 iso dikon tandur nag sawah

    Jajan sekoteng no prapatan karang ayu
    Opo artine gantheng nek ora payu-payu

    Walang kekek nemplok neng pager
    Lanangan tuek kok diuber-uber

    Suwe ora jamu, jamu godhong suket
    Suwe ora nyawang rupamu, nyawang pisan malah mumet

    Klambi biru nang nduwur klasa
    Yen bapak ibumu ra setuju, aku isa apa?

    Ono badak ditumpak’i lowo
    Ilatku cendak tapi manukku dowo

    Wajik klethik gulo jowo
    Yen ra kuat ojo ngoyo

    Suwe ora mangan ketan
    ketane digoreng sangan
    Suwe ora ketemu mantan
    ketemu pisan aweh undangan

    Sega liwet lawuhe jlantah
    sega rawon kurang uyah
    Ampun tanglet kapan nikah
    pacar mawon kulo dereng gadah

    Dolan Semarang
    pas tanggal limolas
    Wis kadung sayang
    Blas ora digagas