Kategori: Lifestyle

  • Menikah atau Karir? Polemik yang Tiada Akhir

    Bagi setiap insan yang sudah menginjak usia dewasa, tentunya mulai terbesit keinginan untuk memiliki bahtera kehidupan sendiri, yakni keluarga yang dimulai dengan pernikahan.

    Namun, menikah bukanlah suatu hal yang mudah bagi kaum muda. Ada begitu banyak pertimbangan serta polemik yang bisa mengurungkan niat mereka untuk menikah. Padahal usia sudah cukup matang, hanya saja nyali belum menunjukkan taringnya.

    Itulah fakta yang terjadi pada jaman yang semakin maju ini. Alasan umum orang enggan untuk menikah di usia yang tepat adalah faktor ekonomi. Mereka berdalih ingin meniti karir terlebih dahulu, baru menikah setelah karir yang diimpikan menjadi kenyataan.

    Perlu diingat, segala sesuatu memiliki parameter dan tolak ukur sendiri, termasuk dalam hal pernikahan. Sebagai insan yang bijaksana, sudah sepatutnya setiap manusia mengetahui parameter dan targetnya untuk menikah.

    Adapula yang ingin menikmati masa muda lebih lama lagi sehingga memilih untuk menunda pernikahan. Dengan begitu, muncullah sebuah pertanyaan, apakah dengan menikah, masa muda kita akan hilang? Atau harapan pada karir begitu saja hangus tertiup kabut kelam?

    Tidak! Sebenarnya, hal mendasar yang perlu disadari oleh setiap manusia tentang pernikahan ialah “KESIAPAN”. Ya, kesiapan adalah jawaban yang paling kompleks untuk mewakili kegelisahan yang dirasa.

    Karir baik tidak menjamin terwujudnya pernikahan yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, usia matang belum tentu menjadikan pernikahan lebih nikmat. Justru jika terlalu matang, maka semakin cepat membusuk pula cita rasa itu.

    Usia berapapun dan materi seberapapun tidak bisa menjadi patokan dalam menentukan waktu pernikahan. Namun, dengan kesiapan, maka semua akan terasa nikmat karena tidak ada beban yang menjadi momok kehidupan.

    Kembali ke hakekatnya, bahwa rezeki manusia telah diatur oleh-Nya. Sangat tidak sopan jika kita merasa takut akan kekurangan. Sebab, merasa takut kekurangan adalah sebuah bentuk dari ketidaksyukuran kita terhadap ketentuan-Nya. Jadi, jangan menggunakan materi atau usia sebagai parameter, tapi menikahlah selagi kita “SIAP”.

  • Ingin Menulis Novel Remaja? Perhatikan Hal Penting ini!

    Dunia literasi memang tidak akan ada habisnya. Pada setiap masa pasti bermunculan penulis-penulis berbakat yang siap menciptakan sebuah karya Sastra.

    Karya-karya Sastra tersebut tentunya memiliki kategori yang berbeda. Namun, secara umum karya Sastra dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu fiksi dan nonfiksi.

    Contoh karya nonfiksi adalah pengembangan diri, how to, motivasi, dan sejenisnya. Sedangkan contoh karya fiksi adalah puisi, cerpen, novel, roman. Walau berbeda tapi kedua jenis karya Sastra tersebut haruslah memiliki konsep yang tidak menyesatkan pembaca.

    Oleh karena itu, perlu adanya sebuah penelitian saat hendak menulis karya Sastra yang nantinya akan mengedukasi orang banyak.

    Belakangan ini, buku bacaan yang sedang laris di Indonesia adalah novel. Novel sendiri memiliki arti sebuah karangan prosa yang menceritakan kehidupan seseorang lengkap dengan watak, alur, konflik, dan penyelesaian.

    Novel adalah sebuah karangan kompleks yang teridiri dari ratusan halaman. Walau terkesan membosankan karena harus membaca ratusan halaman, nyatanya kedudukan Novel tidak bisa dijatuhkan. Tetap laris dan tetap dinikmati oleh kaula muda maupun dewasa.

    Dikutip dari beberapa sumber, bahwasanya penikmat novel di Indonesia mayoritas adalah perempuan. Maka dari itu, sebagai penulis Novel haruslah jeli melihat fenomena tersebut.

    Jika mayoritas pembaca Novel adalah perempuan, maka penulis hendaknya mengarang sebuah tokoh laki-laki dengan karakter yang kuat. Karena tokoh laki-laki dalam Novel adalah tokoh yang paling diperhatikan oleh setiap pembaca perempuan.

    Semakin mampu menguatkan tokoh dan karakter laki-laki dalam karangannya, semakin pula membuat para pembaca terhipnotis dengan isi karangan tersebut.

    Tentunya, mereka (perempuan) akan merekomendasikan Novel tersebut ke rekan sehobinya. Semakin sering direkomendasikan, semakin banyak pula Novel tersebut terjual. Sehingga memberikan benefit bagi penulis (materi maupun nama).

    Jadi, saat menulis sebuah Novel hendaknya memperhatikan tokoh laki-laki dan menguatkan karakternya hingga para pembaca merasa terpuaskan dengan adanya tokoh tersebut. Tidak sampai disitu saja, unsur-unsur lainnya juga harus diperhatikan seperti alur, latar, konflik, dan penyelesaian.

    Penulis : Maulana Affandi

  • Copywriter: Penyihir Kata? Simak Penjelasannya!

    Mungkin telinga kita sudah tidak asing lagi mendengar istilah Copywriter. Namun, tidak semua orang paham mengenai makna dan manfaatnya.

    ntuk memberi pemahaman kepada klahayak ramai, maka artikel kali ini akan membahas secara sederhana mengenai arti dari Copywriter dan apa saja manfaatnya.

    Sebelum masuk pada pembahasan Copywriter, kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwasanya Copywriter merupakan sebuah profesi yang dikategorikan sebagai marketing.

    Namun, bukan marketing seperti umumnya (tradisional), tetapi marketing yang bergerak di dunia online atau yang lebih akrab disebut Digital Marketing.

    Apakah berbeda?

    Fungsi Digital Marketing dan marketing tradisional pada umumnya sama! Mereka sama-sama mengenalkan produk, memasarkan, mencari konsumen, dan tujuan akhir adalah menjual. Namun, ruang lingkupnya yang berbeda.

    Jika marketing tradisional hanya dapat mencakup daerah tertentu dari segi pasarnya, maka Digital Marketing mampu menjaring pasar yang lebih luas (tentunya di dunia online) dengan beberapa cara dan strategi.

    Kembali ke pembahasan utama mengenai Copywriter. Sekarang kita sudah mengetahui seorang Copywriter tidak lain adalah sebuah profesi marketing di dunia online.

    Jadi, sebagai seorang Copywriter harus pandai menela’ah trend online dan juga harus aktif berselancar di dunia internet.

    Sebab, dari trend-trend yang sekarang sedang digandrungi, seorang Digital Marketing dapat masuk dan menyelinap ke dalam trend tersebut untuk menjaring pasar yang lebih luas.

    Selain itu, profesi Copywriter harus pandai bermain kata dan bahasa, karena kalimat-kalimat yang digunakan pada naskah yang ditulis harus dan wajib bersifat persuasif, yaitu mengajak dan mempengaruhi pembaca (calon pembeli).

    Sederhananya, mengerti tentang SEO Friendly. Banyak yang mengatakan bahwa Copywriter merupakan penyihir kata,, karena memang seperti itu faktanya. Merubah kalimat biasa, menjadi kalimat yang persuasif dan mengajak.

    Seorang Copywriter harus pandai melihat dan membidik pasar yang akan dituju. Karena jika salah sasaran, semua akan sia-sia. Tulisan yang sudah tirangkai sebaik mungkin juga tidak ada artinya lagi karena salah sasaran.

    Contoh saat akan menjual kosmetik kecantikan, maka pasar yang dituju adalah perempuan. Tidak sampai disitu, tidak semua perempuan memerlukan kosmetik kecantikan. Jadi, jawabannya adalah target pasar adalah perempuan kisaran usia 16-40 tahun.

    Setelah mengetahui target dan pasar yang dituju, barulah kata demi kata disihir menjadi sebuah kalimat yang sangat indah dan sifatnya persuatif.

    Jadi, jangan heran jika banyak orang yang awalnya enggan lantas berubah pikiran dan bernafsu ingin membeli sebuah produk karena telah membaca caption atau kalimat sihir dari seorang Copywriter. Begitulah penjelasan singkat mengenai Copywriter sang penyihir kata. Semoga artikel ini bermanfaat.

    Penulis   : Maulana Affandi

  • Lulusan Sastra, Mau Kerja Apa?

    Patut diakui, tidak semua jurusan di bangku perkuliahan selalu mendapat pandangan baik bagi sebagian orang dalam mengejar karirnya nanti.

    Seolah dukun, mereka yang tidak mengerti apa-apa kerap mempertanyakan hal yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan.

    Terlebih pada Mahasiswa yang berada pada jurusan yang tidak umum dan jarang diminati, seperti Sastra.

    Banyak orang sering bertanya “Kamu kuliah jurusan Sastra, mau jadi apa?”

    Begitulah kira-kira pertanyaan menyesatkan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak paham esensi Sastra.

    Setiap orang memiliki hak dan tanggungjawab atas mimpinya sendiri. Begitu pula Mahasiswa.

    Setiap Mahasiswa selalu memiliki angan dan cita-cita saat yang sangat tinggi.

    Jadi, jika pertanyaan aneh tersebut sering dilontarkan, secara tidak langsung akan melumpuhkan angan yang telah dirajut setinggi mungkin.

    Mungkin menurut sebagian orang, prospek dari Sastra hanyalah berkutat pada penulisan. Memang benar, itu dasarnya.

    Akan tetapi, ada hal di dalam Sastra yang jarang diketahui oleh orang di luar sana.

    Anak Sastra cenderung memiliki kemampuan tata bahasa dan verbal yang baik.

    Selain itu, anak Sastra juga memiliki tingkat sensitivitas tinggi pada bunyi atau tatanan bahasa.

    Cakap berbahasa dan memiliki kemampuan jitu dalam menangkap maksud omongan orang lain. Ingat, kecerdasan orang bisa dinilai dari cara bicaranya.

    Kalau anak Sastra mampu mengatur pola kalimat yang diucapkannya, itu sudah menandakan tingkat kecerdasan anak Sastra yang tidak perlu diragukan lagi.

    “Ujung-ujungnya jadi penulis, mau makan apa?”

    Kadang juga celetukkan tersebut keluar dari bibir orang yang merasa dia lebih hebat dibandingkan anak Sastra.

    Perlu diketahui, J.K Rowling sempat dinobatkan menjadi wanita terkaya karena tulisannya.

    Tidak hanya dia, banyak penulis dalam maupun luar negeri yang bisa mensejahterakan hidupnya dalam urusan financial.

    Dan, satu hal lagi yang paling penting dan jarang disadari oleh banyak orang.

    Penulis adalah pekerjaan mulia, sebab dengan menulis berarti orang tersebut sudah ikut berkontribusi dalam peradaban untuk merubah pola pikir manusia.

    Pada dasarnya, karya tulis merupakan sebuah senjata termahal dalam dunia pendidikan.

    Sehingga banyak orang yang mengatakan jika buku adalah jendela dunia. Lantas siapa yang menciptakan buku jika bukan penulis?

    Bayangkan saja, jika penulis mampu merubah pola pikir jutaan orang dengan karyanya, apakah hal tersebut sia-sia?Tentu saja tidak!

    Dan, apa yang bisa dikenang dari manusia saat sudah tiada? Satu-satunya jawaban adalah karya.

    Selain menjadi penulis buku, masih banyak progress baik bagi Mahasiswa Sastra dalam mencapai karirnya.

    Seperti CopyWriter, Jurnalis, Psikologi, Digital Marketing, Editor, Lembaga Pendidikan, Sutradara, Blogger, Aktor, Penyunting Naskah, Penulis Skenario, Dubes, dan masih banyak yang lainnya.

    Jadi, jangan sampai semangat yang telah membara redup begitu saja karena ucapan-ucapan tidak sehat dari orang-orang yang tidak mengerti esensi Sastra.

    Author : Maulana Affandi

  • Terkuak, Alasan Mengapa Dilarang Bersiul di Malam Hari

    Terkuak, Alasan Mengapa Dilarang Bersiul di Malam Hari

    Mitos Dilarang Bersiul di Malam Hari

    Mungkin kita semua sudah tidak asing lagi dengan yang namanya mitos.

    Mitos merupakan sebuah penafsiran manusia yang disangkutkan dengan kejadian yang pernah terjadi.

    Biasanya pengguna dan pemercaya mitos adalah orang-orang tua sebelum era teknologi dimulai.

    Begitu banyak mitos yang beredar dan berbeda pada setiap daerahnya. Salah satunya adalah dilarang bersiul di malam hari dengan alasan tertentu.

    Saat ditanya mengapa tidak boleh bersiul di malam hari, maka akan muncullah jawaban-jawaban yang tidak bisa diilmiahkan, seperti hilang rezeki, muncul penyakit, dan hal buruk lainnya.

    Namun, memasuki dunia digital yang serba modern saat ini, tidak sedikit orang yang menyepelekan mitos tersebut karena dianggap tidak rasional.

    Manusia pada era teknologi lebih mempercayai apapun yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

    Lantas, mengapa orang dahulu melarang bersiul di malam hari?

    Pada konsep Sastra, hal tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah penelitian Folklore.

    Folkore merupakan bagian dari kebudayaan yang disebarkan atau diwariskan secara tradisional baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai isyarat atau alat bantu pengingat.

    Sehingga jika dibedah dengan teori, maka mitos-mitos tersebut berkaitan dengan kehidupan manusia.

    Ada benarnya jika orang dahulu melarang bersiul di malam hari, sebab dapat mengganggu istirahat sehingga esok hari tidak dapat bekerja dan tidak mendapatkan uang seperti biasanya.

    Lantas, angin malam adalah angin yang paling membahayakan bagi kesehatan manusia.

    Jadi, dengan bersiul, sama saja memberi kesempatan dan ruang masuk ke dalam tubuh yang menjadikan kesehatan menurun.

    Begitulah sebenarnya yang terjadi, hanya saja budaya dan tradisi pada zaman dahulu tidak bisa dibenarkan secara ilmiah karena belum ada peradaban modern kala itu.

    Mempercayai mitos adalah hak setiap orang, tapi menjaga budaya, adat, dan tradisi adalah tugas dan kewajiban setiap orang.

    Penulis : Maulana Affandi

  • Riset: Patah Hati Menyebabkan Kematian, Kok Bisa?

    Patah hati merupakan sebuah hal umum dan lumrah. Setiap orang pasti pernah merasakannya. Kalian juga pasti pernah patah hati bukan?

    Yang jadi bermasalah, jika orang-orang yang patah hati tersebut susah untuk move on atau bahkan tidak bisa sama sekali mengobati laranya.

    Karena sebuah riset terbaru mengatakan jika patah hati terlalu lama bisa menyebabkan kematian.

    Dalam dunia medis, sindrom patah hati bisa juga disebut sebagai sindrom Takotsubo.

    Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh jurnal American Society of Echocardiography dengan mengikutsertakan 52 pasien dalam risetnya.

    Hasil riset tersebut mengatakan bahwa sindrom Takotsubo sama berbahaya dengan gejala serangan jantung!

    Dikutip dari Huffington Post (9/7/2017) bahwa setidaknya ada 3.000 orang pertahun di Inggris mengalami sindrom yang berbahaya ini.

    Makanya, kalau kalian sedang patah hati, yuk buruan move on supaya tidak terjangkit sindrom Takotsubo.

    Karena dikatakan kalau patah hati berefek pada tidak stabilnya pemompaan jantung.

    Jika pemompaan jantung sudah tidak stabil lagi, maka gejala serangan jantung dan penyakit lain akan menghantui. Bahaya kan?

    Sumber : Google, Huffington Pos

  • Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Para Nelayan

    Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Para Nelayan

    Setiap daerah atau wilayah pasti mempunyai adat, tradisi, dan budaya masing-masing. Keberagaman tersebut merupakan salah satu faktor yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

    Seperti keberagaman tradisi yang terdapat di kota paling ujung timur pulau Jawa, yaitu Banyuwangi.

    Kota Gandrung ini memang terkenal dengan unsur magisnya, sehingga tak jarang jika tradisi yang ada selalu berkaitan dan berhubungan dengan nilai magis dan sakral, seperti tradisi “Petik Laut”.

    Petik Laut adalah sebuah upacara adat atau ritual yang dilangsungkan oleh warga Banyuwangi, khususnya daerah atau pemukiman pesisir (pantai).

    Tujuannya adalah sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah, rezeki, dan keselamatan yang telah diberikan.

    Ritual ini dilakukan oleh para nelayan yang bermukim di daerah Muncar sebab daerah tersebut dihuni oleh mayoritas nelayan.

    Ritual yang digelar setahun sekali ini umumnya dilaksanakan pada bulan Purnama, tepatnya setiap Bulan Muharam atau yang lebih akrab dikenal Bulan Syuro.

    Ritual ini dipimpin oleh sesepuh adat yang berasal dari Madura karena asal muasal dari ritual ini berasal dari warga Madura yang menetap di Muncar.

    Hal tersebut ditandai dengan kelengkapan ornamen saat ritual yakni dengan mengenakan pakaian adat Madura, yaitu “Baju Sakera”.

    Dalam pelaksanaannya, para nelayan menyiapkan sesaji yang terdiri dari: kepala kambing kendit, aneka kue sebanyak 44 macam, buah-buahan, pancing emas, candu, tumpeng, ayam jantan, dan berbagai sesaji lainnya.

    Sesajian tersebut disusun serapi mungkin dan diletakkan pada kapal yang telah dihias dengan indah. Kemudian kapal tersebut bergerak ke tengah samudera dengan diiringi oleh puluhan kapal lain yang telah dihias juga.

    Selanjutnya kapal akan berhenti pada arus yang tenang di tengah lautan serta menenggelamkan sesaji yang telah dipersiapkan tersebut.

    Saat itu pula, terdengar teriakan ucap syukur dari para nelayan menggema di hingga ke tepi laut.

    Uniknya, saat sesaji tersebut telah ditenggelamkan, para nelayan malah menceburkan diri untuk merebutkan sesaji tersebut. Hingga akhirnya acara ini ditutup dengan doa.

    Sebenarnya serangkaian acara pada Petik Laut merupakan sebuah simbol rasa syukur para nelayan atas berkah yang diberikan oleh Tuhan.

    Diharapkan dengan meningkatkan rasa syukur, maka penghasilan dan jumlah tangkapan ikan akan bertambah setiap harinya.

    Perlu diketahui, ritual Petik Laut tidak hanya dilangsungkan di Muncar saja tapi banyak daerah lain yang juga melangsungkannya, seperti Grajagan dan Bulusan.

    Penulis : Eva
    Editor : Maulana Affandi

  • 4 Manfaat Dongeng untuk Pertumbuhan Anak

    Sastrawacana – Pasti kita semua mengetahui bagaimana tradisi orang tua yang berdongeng saat menemani anaknya tidur.

    Dongeng dengan berbagai tema cerita selalu dilantukan oleh orang tua setiap harinya. Entah darimana awal mula tradisi tersebut berlaku.

    Namun, setiap anak akan merasakan kenyamanan yang tak terhingga saat mendengar ibunya berdongeng sehingga anak tersebut dapat memejamkan mata tanpa beban hingga akhirnya tertidur pulas.

    Beda halnya dengan zaman sekarang, orang tua sudah tidak lagi berdongeng untuk menemani tidur anaknya, tapi melalui hal-hal lain, anggap saja gadget.

    Orang tua sekarang lebih memikirkan hal yang simpel, yaitu dengan memberikan gadget agar anaknya bisa melihat video dongeng daripada harus lelah berdongeng secara langsung.

    Manfaat Dongeng untuk Anak

    Padahal, berbagai manfaat baik bisa didapatkan dengan keikhlasan orang tua khususnya ibu saat membacakan dongeng untuk anaknya. Nah, apa saja manfaat dongeng? Berikut diantaranya:

    1. Kedekatan Emosional

    Dengan melantunkan dongeng menjelang tidur, ibu selalu mengelus-elus anaknya dengan perasaan penuh cinta. Dengan merasa dicintai seperti itu, anak akan merasa lebih nyaman dalam kehangatan kasih seorang ibu.

    Tentunya hal tersebut akan menciptakan sebuah kedekatan emosional yang tidak bisa dibeli dengan materi, berapapun jumlahnya. Seorang ibu akan lebih mengerti anak dan begitu juga sebaliknya, anak akan sangat menyayangi ibunya karena memberikan perhatian yang luar biasa.

    Jadi, kenapa takut lelah berdongeng jika hal tersebut dapat menciptakan keharmonisan emosional antara ibu dan anak?

    2. Mengajarkan Perilaku Baik

    Pengarang dongeng tidak akan memberikan cerita-cerita yang tidak mendidik pada anak. Sebab, penikmat dongeng adalah anak yang berada pada usia pertumbuhan.

    Jadi, apapun yang dikonsumsi oleh otak anak pada usia masih belia tersebut akan mempengaruhi etika dan sikapnya kelak.

    Dalam cerita dongeng, selalu menceritakan hal-hal yang baik dan dipenuhi dengan pesan terpuji. Maka, semakin kita memberikan cerita-cerita baik kepada anak, maka akan baik pula pola pikir dan etikanya.

    3. Menjauhkan Dari Hal Negatif

    Seperti yang sudah kita ketahui saat ini, orang tua lebih mempercayakan gadget untuk anaknya karena dianggap lebih simple dan agar anaknya mengerti tentang teknologi.

    Padahal, tidak setiap anak dapat dibekali gadget. Walau baik untuk mengenal teknologi, tapi diperlukan waktu yang tepat untuk mengenalkan gadget kepada anak.

    Dalam masa pertumbuhan, alangkah baiknya untuk tidak membekali sang buah hati dengan gadget karena itu tidak perlu.

    Bayangkan bagaimana sang buah hati mengakses hal yang tidak patut diakses tanpa sepengetahuan orang tua. Anggap saja konten pornografi atau tindak kekerasan fisik. Bukan malah membentuk pola pikir menjadi lebih baik, malah membuat anak semakin liar. Dalam hal ini, peran orang tua sangat penting.

    Perlu adanya pendekatan secara langsung, salah satunya dengan berdongeng sebelum anak tertidur. Sembari berdongeng, orang tua bisa menyelipkan pesan-pesan baik untuk anaknya. Hal tersebut lebih baik daripada memberikan gadget pada usia belia.

    4. Meruncingkan Imajinasi dan Daya Ingat Anak

    Dalam melantunkan dongeng, orang tua hanyalah membacakan tulisan tanpa memperlihatkan visual kepada anak.

    Tentunya anak akan membayangkan sendiri bagaimana visual dari dongeng yang sedang diceritakan tersebut. Dengan begitu, imajinasi seorang anak akan semakin terasah setiap harinya.

    Dengan imajinasi yang tinggi, maka kecerdasan dan daya ingat anak akan semakin tajam. Bayangkan saja, jika setiap hari orang tua menceritakan dongeng dengan tema berbeda, maka setiap hari imajinasi sang anak juga akan terus bekerja.

    Hal tersebut baik untuk meningkatkan kinerja otak anak sehingga saat ia tumbuh dewasa maka ia akan menjadi seseorang yang berkepribadian baik.

  • Move On dengan Menulis – Tutup Luka itu Sebelum Mati Rasa

    Setiap manusia pasti memiliki hasrat dan keinginan untuk memiliki sebuah hubungan yang harmonis dan penuh dengan cinta. Saling menyayangi dan saling memberi topangan saat dibutuhkan. Saling mendengarkan saat ada sebuah rangkaian kata yang dilantunkan. Saling memijak saat kaki tak mampu lagi beranjak.

    Tapi, kadang harapan dan angan tersebut sirna. Kebahagiaan yang didambakan berujung kesedihan dan penderitaan.

    Ditinggal oleh kekasih memang menyayat hati dan meninggalkan luka yang cukup dalam. Luka tersebut tentunya sangat susah untuk ditambal. Jangankan untuk sembuh, menghilangkan nyeri karena kontraksinya saja terasa sangat sulit. Sehingga muncul pikiran-pikiran yang tidak rasional demi menghilangkan rasa nyeri tersebut.

    Sudah menjadi rahasia umum, saat mengalami putus cinta kebanyakan orang melakukan hal yang bisa mengobati luka namun sifatnya hanya sementara. Mencari kebahagiaan yang semu dan tidak ada kejelasan apakah kebahagiaan tersebut dapat membalut luka tersebut.

    Sebab, luka di dalam hati adalah luka yang serius dan tidak bisa disepelekan. Ingat, tidak bisa disepelekan. Jadi, jangan melakukan hal yang tidak masuk akal hanya untuk melupakan rasa sakit pada luka itu sedangkan luka dalam itu belumlah sembuh total.

    Menulislah. Ya, menulis. Mungkin kisah dan keluh kesah yang dirasakan mampu tertuang dalam rajutan kata. Melampiaskan ke goresan yang tak menambah luka.

    Ungkapkan segala isi hati kepada buku yang siap menjaga rahasia tentang cerita dan kronologi terjadinya luka tersebut. Setelah semua kegundahan dalam hati mampu tertuang kepada penjaga amanat terbaik yaitu buku, maka rasa nyeri pada luka itu akan sedikit menghilang.

    Saat rasa nyeri tersebut mulai menghilang, langkah terakhir adalah dengan menambal luka itu dan menunggu seseorang yang siap memberi perban sebagai pelindung agar luka tersebut tidak semakin parah karena gangguan-gangguan luar.

    Menunggu? Tidak! Seseorang pembawa perban tidak akan datang jika tidak dicari. Semakin lama menunggu, luka itu akan semakin membusuk sehingga bisa mati rasa. Pilihannya, membiarkan luka itu tetap ada atau membusukkan luka itu sehingga mati rasa? Tentu tidak keduanya.

    Pilihan yang tepat adalah mencoba memperbaiki diri dengan membuang segala keburukan ke dalam buku dengan tulisan. Saat semua keburukan sudah dituangkan ke dalam buku, tutup buku itu rapat-rapat agar aromanya tidak terendus selagi luka belum terobati.

    Lantas, carilah orang yang siap memberi perban untuk mengobati luka tersebut. Jangan biarkan luka itu terus berkembang sehingga membuat mati rasa.

    Penulis : Maulana Affandi

  • Apa itu Teater? Ini Penjelasan Lengkapnya

    Pengertian teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafsiran, penggarapan, penyajian atau pementasan.  Di mana, sebuah teks drama akan ditampilkan ke dalam sebuah karya dalam panggung.

    Teater berasal dari kata theatron yang diturunkan dari kata theaomai (bahasa yunani) yang artinya takjub melihat atau memandang.

    Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis.

    Sedangkan teater dalam arti luas adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak, contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.

    Arti Drama

    Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak  Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

    Arti Teater

    Secara etimologis: Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.

    Dalam arti luas: Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak.

    Dalam arti sempit: Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas.

    Akting yang Baik

    Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak. Dialog yang baik ialah dialog yang terdengar (volume baik), jelas (artikulasi baik), dimengerti (lafal benar), menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah).

    Penjelasan :

    Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar oleh penonton secara jelas. Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata harus terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali.

    Jangan sampai kata-kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih. Lafalkanlah yang benar sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang berlaku. Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah.