Kategori: Pendidikan

  • Pengertian Majas Pleonasme, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Majas Pleonasme, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Majas Pleonasme

    Majas Pleonasme adalah gaya bahasa yang menggunakan dua kata dengan makna serupa dalam sebuah kalimat.

    Sehingga, salah satu kata tersebut sebetulnya dianggap tidak perlu dan bisa dihilangkan atau tidak perlu digunakan.

    Sebab, ketika salah satu kata dihilangkan, maka tidak akan mengubah makna dari kalimat yang disampaikan.

    Sementara menurut KBBI, pleonasme adalah pemakaian kata-kata yang lebih daripada yang diperlukan, misalnya dalam kalimat kita harus dan wajib saling menghormati.

    Fungsi Majas Pleonasme

    Penggunaan kata-kata yang bermakna sama bisa dibilang tidak efektif, namun hal ini dilakukan untuk penegasan agar orang lain lebih mengerti kalimat yang disampaikan.

    ThoughtCo. (2017) mengungkapkan jika majas pleonasme digunakan untuk mempertegas sebuah ide atau gambaran.

    Christian Lehmann (2005) juga menyampaikan tentang majas pleonasme, jika pengulangan atau redundansi dapat meningkatkan pemahaman terhadap informasi yang disampaikan.

    Ciri-Ciri Majas Pleonasme

    Adapun ciri-ciri majas pleonasme antara lain.

    • Mengandung dua kata yang sama maknanya dalam satu kalimat.
    • Mengandung pengulangan kata dalam bentuk jamak.
    • Sifatnya berlebihan karena menjelaskan kata yang sudah jelas maknanya.
    • Kalimat menjadi tidak efektif.

    Contoh Majas Pleonasme

    Agar lebih jelas, berikut adalah contoh majas pleonasme.

    1. Waktunya makan, ayo segera turun ke bawah!

    2. Siapa yang bisa jawab, angkat tangan ke atas!

    3. Rani memajukan mobilnya ke depan supaya tidak menghalangi pintu.

    4. Kucing itu jalan mundur ke belakang karena takut.

    5. Kebakaran terjadi di rusun, semua penghuni bergegas turun ke bawah.

    6. Ayo masuk ke dalam, rapat segera dimulai!

    7. Kamu harus wajib menjadi juara kelas!

    8. Sejak dari kecil, ia memang pintar.

    9. Mari kita belajar agar supaya masa depan cerah.

    10. Rina suka usil memasukkan garam asin ke masakan ibunya.

    11. Semut itu suka gula manis yang berserakan di dapur.

    12. Dia rela kerja jadi kuli demi untuk menafkahi keluarga.

  • Pengertian Majas Alusio, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Pengertian Majas Alusio, Ciri-Ciri dan Contohnya

    Majas alusio adalah salah satu jenis majas perumpamaan yang digunakan untuk menyerupakan suatu peristiwa, keadaan, tokoh, atau tempat di masa lalu dengan peristiwa yang terjadi pada masa sekarang.

    Kesamaan yang terdapat antara dua peristiwa ini membuat pembaca lebih mudah memahami maksud atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

    Secara umum, majas alusio bekerja dengan merujuk secara tidak langsung pada hal-hal yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, seperti tokoh terkenal, legenda, peristiwa bersejarah, atau budaya populer.

    Dengan demikian, majas ini memberikan perumpamaan yang akrab dan relevan, sehingga teks menjadi lebih hidup dan menarik untuk dibaca.

    Tujuan utama majas alusio adalah membantu pembaca memahami konteks atau maksud dari sebuah kalimat dengan menggunakan perbandingan yang sudah dikenal.

    Dengan cara ini, penulis tidak perlu menjelaskan secara panjang lebar karena pembaca akan langsung menangkap makna dari perumpamaan tersebut.

    Ciri-ciri Majas Alusio

    Majas alusio memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari majas lain. Adapun ciri-cirinya antara lain:

    • Menggunakan kalimat perumpamaan yang berkaitan dengan peristiwa di masa lalu atau kejadian yang sudah terkenal.
    • Memakai peribahasa atau ungkapan yang dapat mempermudah pembaca memahami maksud dari kalimat tersebut.
    • Mengacu pada tokoh, legenda, peristiwa penting, atau hal-hal yang dikenal luas sehingga pembaca dapat mengenalinya dengan mudah.
    • Kadang menggunakan peribahasa atau ungkapan yang tidak lengkap, namun maknanya tetap dapat ditangkap melalui konteks dan pengetahuan umum pembaca.

    Contoh Majas Alusio

    Berikut beberapa contoh majas alusio yang umum digunakan dalam kalimat sehari-hari atau karya sastra:

    “Kau dan kakakmu bertengkar terus seperti Tom dan Jerry.”

    “Jangan melawan orang tua kalau tidak mau seperti Malin Kundang.”

    “Kisah cinta mereka seperti Romeo dan Juliet.”

    “Meski tinggal di kampung, tapi cita-citanya seperti Laskar Pelangi.”

    “Kehidupan keluarga Pak Lurah seperti Keluarga Cemara.”

    “Suaramu merdu sekali seperti Mariah Carey.”

    “Ombak laut yang naik ke daratan mengingatkanku pada Tsunami Aceh.”

    “Ilmu agamamu sudah seperti ulama, meski masih berumur 10 tahun.”

    “Peristiwa semalam mengingatkan Tragedi Bali 2001.”

    “Pak Polisi di desaku sering disebut Superman.”

    “Kamu adalah tulang rusukku yang hilang.”

    “Ucapanmu seperti Pinokio.”

    “Kamu romantis dan pandai gombal seperti Dilan.”

    “Pukulanmu keras, mengingatkanku pada Muhammad Ali.”

    “Sikap dan kemandirianmu seperti R.A Kartini.”

    Dari contoh-contoh tersebut terlihat bahwa majas alusio mempermudah penyampaian pesan dengan merujuk pada hal-hal yang telah dikenal banyak orang, sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih hidup, jelas, dan mudah diingat.

  • 9 Pengertian Definisi Formal Menurut Para Ahli

    9 Pengertian Definisi Formal Menurut Para Ahli

    Setiap individu di dunia ini pasti memiliki hubungan yang erat dengan pendidikan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Namun, ketika kita berbicara tentang pendidikan formal, makna dan tujuannya sering kali membutuhkan penjelasan yang lebih dalam agar tidak disalahpahami.

    Pendidikan formal bukan sekadar proses belajar di bangku sekolah, melainkan suatu jalur terstruktur yang disusun secara sistematis untuk membentuk kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik dalam lingkup yang berjenjang dan terorganisir.

    Di balik bentuk dan sistemnya yang teratur, pendidikan formal juga menyimpan filosofi dan landasan yang kuat dalam membangun peradaban dan mencetak generasi yang siap menghadapi kehidupan bermasyarakat.

    Pengertian Definisi Formal Menurut Para Ahli

    Untuk memahami konsep ini secara lebih mendalam, penting untuk menelusuri beragam definisi dari para ahli yang telah banyak memberi sumbangsih dalam dunia pendidikan.

    Dengan mengenali perspektif mereka, kita dapat memahami bahwa pendidikan formal bukanlah hal yang sempit, melainkan jembatan penting menuju perkembangan diri dan kemajuan sosial.

    1. Axin (Suprijanto, 2009: 6)

    Mendefinisikan pendidikan formal adalah kegiatan belajar yang disengaja, baik oleh warga belajar maupun pembelajarannya di dalam suatu latar yang distruktur sekolah.

    2. Menurut Faisal (Suprijanto, 2009: 6)

    Berpendapat bahwa pendidikan formal adalah pendidikan sistem persekolahaan.

    3. Trommsdorff dan Dassen (2001)

    Pendidikan formal ialah model pendidikan yang mengikuti tren ‘model barat’, terdiri dari instruksi sistematis dalam pengetahuan dan juga keterampilan ‘universal’, yang disediakan pada waktu serta tempat yang sudah diatur sebelumnya oleh para ahlinya.

    4. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

    Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi.

    5. KBBI

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pendidikan Formal adalah segenap bentuk pendidikan atau pelatihan yang diberikan  secara terorganisasi dan berjenjang, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus.

    6. Menurut Dr. Nanang Fattah

    Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat mereka lahir.

    7. Faud Ihsan, 2010

    Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengn nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.

    8. Notoatmojdo, 2003

    Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.

    9. Mudyaharjo, 2008

    Pendidikan adalah usaha dasar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.

  • Apa Saja Mata Kuliah Jurusan Sastra Indonesia?

    Apa Saja Mata Kuliah Jurusan Sastra Indonesia?

    Apakah kamu pernah berpikir untuk melanjutkan kuliah di jurusan Sastra Indonesia?
    Jurusan ini sering dianggap sebagai pilihan yang hanya cocok untuk mereka yang suka membaca dan menulis.

    Namun, sebenarnya jurusan Sastra Indonesia jauh lebih luas daripada sekadar hobi menulis cerpen atau puisi.

    Saat kamu memutuskan masuk ke jurusan ini, kamu akan berhadapan dengan berbagai mata kuliah yang bukan hanya melatih kemampuan menulis, tetapi juga menajamkan kepekaan berpikir, memperkaya wawasan budaya, serta membuka banyak peluang karier di masa depan.

    Di jurusan Sastra Indonesia, kamu akan belajar tentang prosa, novel, puisi, drama, hingga kritik sastra. Dari pembelajaran itu, kamu tidak hanya diajarkan bagaimana menulis karya sastra yang indah, tetapi juga bagaimana memahami makna di balik teks.

    Karena sejatinya karya sastra bukanlah sekadar kumpulan kata, melainkan cerminan nilai, pengalaman, dan budaya yang hidup di masyarakat. Itulah mengapa karya yang baik tidak bisa dibuat secara asal, melainkan harus tunduk pada aturan bahasa dan sarat makna.

    Selain itu, sebagian besar kampus juga menawarkan konsentrasi yang bisa kamu pilih, walaupun tidak semua universitas menerapkannya.

    Umumnya, ada dua konsentrasi utama yaitu Sastra dan Linguistik. Jika kamu memilih Sastra, maka fokusmu akan lebih banyak pada kajian karya sastra seperti prosa, puisi, drama, serta teori sastra.

    Di sisi lain, jika kamu memilih Linguistik, kamu akan mendalami ilmu tentang bahasa itu sendiri, mulai dari tata bunyi (fonologi), struktur kata (morfologi), struktur kalimat (sintaksis), hingga analisis makna (semantik) dan konteks bahasa (pragmatik).

    Mata kuliah yang diajarkan di jurusan Sastra Indonesia juga sangat beragam. Ada Linguistik, Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik, hingga mata kuliah khusus seperti Linguistik Forensik, Neurolinguistik, dan Psikolinguistik.

    Kamu juga akan menemukan mata kuliah budaya seperti Antropologi Budaya, Kajian Sastra Lisan, Kajian Sastra Anak, hingga Kajian Sastra Bandingan. Bahkan, ada juga mata kuliah praktis yang menunjang karier, seperti Jurnalistik, Manajemen Publikasi, Penulisan Kreatif, dan Teater.

    Tidak hanya itu, jurusan ini juga menuntut mahasiswa untuk banyak membaca dan menganalisis karya, mulai dari karya sastra klasik hingga modern. Dengan begitu, kemampuan kritis, analitis, sekaligus kreatif akan terus terasah.

    Kamu pun akan belajar memahami bagaimana bahasa berkembang dari masa ke masa, termasuk bahasa kuno seperti Jawa Kuno atau Sansekerta.

    Dengan semua pengalaman tersebut, lulusan Sastra Indonesia tidak hanya siap menjadi penulis, sastrawan, atau pengajar. Banyak juga yang berkarier sebagai editor, peneliti, wartawan, penerjemah, bahkan content creator di era digital saat ini.

    Jadi, jika kamu merasa memiliki ketertarikan besar pada bahasa dan budaya, jurusan ini bisa menjadi pilihan yang sangat tepat untuk masa depanmu.

  • 10 Pengertian Multikulturalisme Menurut Para Ahli

    10 Pengertian Multikulturalisme Menurut Para Ahli

    Multikulturalisme merupakan konsep yang sangat relevan dalam kehidupan masyarakat modern yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis, budaya, agama, dan nilai-nilai sosial.

    Istilah ini tidak hanya mencerminkan keberagaman, tetapi juga mencakup sikap, pandangan, dan kebijakan yang menekankan pentingnya penerimaan dan penghargaan terhadap perbedaan.

    Dalam konteks keindonesiaan maupun global, multikulturalisme menjadi dasar penting untuk membangun keharmonisan sosial dan toleransi antargolongan.

    Pengertian Multikulturalisme Menurut Para Ahli

    Para ahli dari berbagai bidang telah mengemukakan definisi tentang multikulturalisme, yang memperkaya pemahaman kita terhadap konsep ini.

    Berikut ini adalah beberapa pengertian multikulturalisme menurut para ahli.

    1. Roald (2009)

    Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan tentang ragam kehidupan di dunia, atau kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan tentang adanya keragaman, kebhinekaan, pluralitas, sebagai realitas utama dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem sosial-budaya, dan politik yang mereka anut.

    2. Lawrence Blum, dikutip Lubis (2006:174)

    Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain.

    3. A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar

    Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut.

    4. Azyumardi Azra (2007)

    Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik.

    5. Parsudi Suparlan (2002)

    Akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia.

    6. Cholil (2008:7)

    Multikulturalisme merupakan kepercayaan yang menyatakan bahwa kelompokkelompok etnik atau budaya (ethnic and cultural groups) dapat hidup berdampingan secara damai yang ditandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya lain.

    7. Clifford Geertz

    Masyarakat Multikultural ialah suatu masyarakat yang terbagi ke dalam subsistem yang lebih kurang dapat berdiri dan masing-masing dari subsistem tersebut akan terikat oleh ikatan primordial.

    8. KBBI

    Gejala pada seseorang atau suatu masyarakat yang ditandai oleh kebiasaan menggunakan lebih dari satu kebudayaan.

    9. Nasikun

    Menurut Nasikun, multikulturalisme merupakan suatu kondisi masyarakat yang berisfat majemuk yang secara struktur memiliki sub-sub kebudayaan yang ditandai dengan kurang berkembangya sistem nilai, sehingga menimbulkan munculnya beragam konflik sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat.

    10. Bhikhu Parekh

    Multikultural merupakan kesepakatan yang telah dibuat oleh masyarakat yang didasari oleh rasa kesatuan dengan mengesampingkan perbedaan seperti perbedaan agama, etnis, politik, budaya, dan perbedaan lainnya.

  • Pengertian Multikulturalisme Menurut Para Ahli dan Contohnya

    Pengertian Multikulturalisme Menurut Para Ahli dan Contohnya

    Pengertian multikulturalisme

    Multikulturalisme adalah sebuah pandangan atau ideologi yang mengaku dan mengagungkan perbedaan dimana ketika semua kelompok budaya dan ras mendapat hak dan kewajiban yang setara di dalam kehidupan bermasyarakat.

    Menurut bahasa, multikulturalisme berasal dari kata “multi” dan “kultural” yang secara etimologi dapat diartikan sebagai “keragaman budaya”.

    Pandangan multikulturalisme atau keberagaman budaya bermanfaat untuk menciptakan dan menjaga budaya-budaya yang berbeda dalam suatu masyarakat.

    Keragaman ras, etnis, dan agama menjadi karakteristik tersendiri yang disebabkan oleh banyak faktor, seperti:

    • Geografis
    • Pernikahan campur budaya
    • Masuknya budaya asing
    • Iklim yang berbeda
    • Perbedaan sistem religi
    • Asal-usul berlainan

    Pengertian Multikulturalisme Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian multikulturalisme menurut para ahli:

    1. Roald (2009)

    Pengertian ultikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan tentang ragam kehidupan di dunia, atau kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan tentang adanya keragaman, kebhinekaan, pluralitas, sebagai realitas utama dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem sosial-budaya, dan politik yang mereka anut.

    2. Lawrence Blum, dikutip Lubis (2006:174)

    Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain.

    3. A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar

    Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut.

    4. Azyumardi Azra (2007)

    Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.

    Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik.

    5. Parsudi Suparlan (2002)

    Akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia.

    6. Cholil (2008:7)

    Multikulturalisme merupakan kepercayaan yang menyatakan bahwa kelompokkelompok etnik atau budaya (ethnic and cultural groups) dapat hidup berdampingan secara damai yang ditandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya lain.

    7. Clifford Geertz

    Masyarakat Multikultural ialah suatu masyarakat yang terbagi ke dalam subsistem yang lebih kurang dapat berdiri dan masing-masing dari subsistem tersebut akan terikat oleh ikatan primordial.

    8. KBBI

    Gejala pada seseorang atau suatu masyarakat yang ditandai oleh kebiasaan menggunakan lebih dari satu kebudayaan.

    9. Nasikun

    Menurut Nasikun, multikulturalisme merupakan suatu kondisi masyarakat yang berisfat majemuk yang secara struktur memiliki sub-sub kebudayaan yang ditandai dengan kurang berkembangya sistem nilai, sehingga menimbulkan munculnya beragam konflik sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat.

    10. Bhikhu Parekh

    Multikultural merupakan kesepakatan yang telah dibuat oleh masyarakat yang didasari oleh rasa kesatuan dengan mengesampingkan perbedaan seperti perbedaan agama, etnis, politik, budaya, dan perbedaan lainnya.

    Contoh Multikulturalisme

    Berikut ini adalah beberapa contoh multikulturalisme:

    • Saling menghormati antar umat beragama.
    • Menghargari pendapat serta prinsip hidup orang lain.
    • Tidak menjelek-jelekan budaya atau suku tertentu.
    • Saling tolong-menolong dalam kehidupan masyarakat tanpa melihat latar belakang suku dan budaya.
    • Semua orang mendapat hak yang sama dalam hal apapun.
    • Toleransi hidup beragama dalam masyarakat
  • Prinsip Relevansi Adalah? Berikut Penjelasan Menurut Ahli

    Prinsip Relevansi Adalah? Berikut Penjelasan Menurut Ahli

    Pengertian Prinsip Relevansi

    Prinsip relevansi adalah prinsip kesesuaian atau kecocokan, dimana sesuatu saling berkaitan dan berhubungan.

    Dalam pendidikan, prinsip relevansi adalah sistem pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan zaman sehingga siswa mendapat bekal wawasan yang berguna untuk bekal kehidupan.

    Menurut Sukmadinata (2007), prinsip relevansi terdiri dari dua jenis, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal.

    Relevansi internal

    Relevansi internal dalah adanya kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum seperti tujuan, isi, proses penyampaian dan evaluasi, atau dengan kata lain relevansi internal menyangkut keterpaduan komponen-komponen dalam kurikulum.

    Relevansi eksternal

    Sedangkan relevansi eksternal adalah kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan dalam masyarakat.

    Relevansi Menurut Para Ahli

    Berikut ini adalah beberapa pengertian relevansi menurut para ahli.

    1. Menurut Burhan Nurgiyantoro (1998: 50)

    Sementara dalam dunia pendidikan, Burhan Nurgiyantoro (1998:50) mengartikan prinsip relevansi sebagai berikut:

    Adanya kesatuan antara hasil pendidikan (lingkungan sekolah) dengan tuntutan kehidupan yang ada di masyarakat. Sehingga sistem pendidikan dapat dikatakan relevan jika lulusan yang dihasilkan suatu lembaga pendidikan berguna bagi kehidupan.

    Begitupun sebaliknya, jika kompetensi lulusan suatu lembaga pendidikan kurang fungsional bagi keperluan kehidupan, berarti sistem pendidikan yang dijalankan kurang relevan dengan tuntutan kehidupan.”

    2. Menurut Nurgiyantoro (1998:51)

    Relevansi pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi.

    Pertama,  relevansi pendidikan dengan lingkungan peserta didik atau masyarakat setempat
    Kedua, relevansi pendidikan kaitannya dengan tuntutan pekerjaan.
    Ketiga, relevansi pendidikan kaitannya dengan perkembangan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.

    3. Subandijah (1993; 48).

    Relevansi adalah kesesuaian dan keserasian pendidikan dengan tuntutan masyarakat.

    4. Menurut Suharto dan Tata Iryanto

    Relevansi adalah kesesuaian sesuatu yang diinginkan, Sedang menurut Poerwadarminta bahwa relevansi adalah kesesuaian keberadaan sesuatu pada tempatnya atau yang diinginkan.

    5. Menurut Ali (2009)

    Pengertian relevansi pendidikan adalah kesesuaian antara kemampuan atau sekill yang diperoleh melalui jenjang pendidikan dengan kebutuhan pekerjaan.

    6. Menurut Poerwadarminta

    Pengertian relevansi adalah kesesuaian keberadaan sesuatu atau gaya kepemimpinan yang diinginkan oleh suatu kelompok.

    7. Menurut Ainon Mohd

    Relevansi adalah kaitan atau hubungan erat terkait pokok masalah yang sedang dihadapi. Relevansi merupakan pengembangan dari kata relevan. Secara bahasa relevansi memiliki arti keterkaitan, hubungan atau kecocokan.

    Sedangkan secara istilah, relevansi adalah sesuatu yang mempunyai kecocokan atau saling berhubungan. Pada intinya relevansi adalah keterkaitan hubungan atau kecocokan, begitu juga menurut KBBI yaitu saling berhubungan dan berkaitan.

    8. Menurut Green (1995:16)

    Relevansi adalah suatu sifat yang terdapat pada dokumen  yang bisa membantu pengarang dalam memecahkan kebutuhan informasi.

    9. Menurut Joan M. Reitz

    Menurut Joan M. Reitz, relevan adalah sebuah informasi dalam pencarian pada koleksi perpustakaan seperti data bibliografi, yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

  • Makna Gramatikal Adalah? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Makna Gramatikal Adalah? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Dalam tata bahasa Indonesia, makna kata tidak selalu tetap. Ada kalanya sebuah kata mengalami perubahan makna karena proses gramatikal. Perubahan ini dikenal dengan istilah makna gramatikal.

    Apa Itu Makna Gramatikal?

    Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat dari proses gramatika, seperti pengimbuhan (afiksasi), pengulangan (reduplikasi), dan pemajemukan.

    Artinya, kata dasar dapat mengalami perubahan makna ketika mendapatkan imbuhan, diulang, atau digabungkan dengan kata lain.

    Makna gramatikal bersifat kontekstual dan sangat bergantung pada penggunaan dalam kalimat serta aturan tata bahasa yang berlaku.

    Berbeda dengan makna leksikal yang melekat pada kata dasar, makna gramatikal tidak bisa dipahami secara lepas. Ia harus dilihat dalam konteks pemakaian kalimat dan struktur kebahasaan.

    Pemahaman terhadap makna gramatikal sangat penting, terutama dalam dunia pendidikan, jurnalistik, penerjemahan, maupun komunikasi sehari-hari.

    Dengan memahami makna gramatikal, seseorang dapat:

    • Menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi
    • Menyusun kalimat yang lebih efektif dan logis
    • Menangkap makna tersirat dari sebuah kata atau ungkapan berdasarkan konteksnya
    • Mengembangkan keterampilan menulis dan berbicara yang lebih baik

    Dalam praktiknya, makna gramatikal sering digunakan dalam karya sastra, iklan, atau percakapan informal, yang membutuhkan pemahaman konteks secara mendalam.

    Contoh Makna Gramatikal dalam Kalimat

    1. Kata Dasar: Minum

    Minuman: Polisi menyita beberapa peti minuman keras dari dalam toko itu.
    (Minuman = hasil dari aktivitas minum)

    Minum-minum: Pagi, siang, malam, kerjanya hanya duduk dan minum-minum saja.
    (Minum-minum = kegiatan santai, bisa berkonotasi negatif jika berlebihan)

    Peminum: Seluruh orang di kampung ini tahu, kalau ia seorang peminum.
    (Peminum = orang yang terbiasa atau sering minum, biasanya minuman keras)

    2. Kata Dasar: Rumah

    Rumah dinas: Sejak terpilih menjadi bupati di kota lain, kini ia tinggal di rumah dinas.
    (Rumah dinas = rumah milik pemerintah yang dipakai oleh pejabat)

    Rumah duka: Setiap hari rumah duka itu tidak pernah sepi pengunjung.
    (Rumah duka = tempat untuk menyemayamkan jenazah sebelum pemakaman)

    Merumahkan: Beberapa bulan terakhir ini perusahaan telah merumahkan puluhan karyawannya.
    (Merumahkan = memberhentikan sementara dari pekerjaan)

    Perumahan: Pemerintah tengah gencar membangun perumahan untuk kalangan menengah ke bawah.
    (Perumahan = kompleks atau kawasan tempat tinggal)

    Kesimpulan

    Makna gramatikal menunjukkan bahwa sebuah kata bisa berubah makna tergantung pada proses bahasa yang dialaminya.

    Proses ini menciptakan makna baru yang tidak selalu bisa ditebak hanya dari kata dasar. Oleh karena itu, memahami makna gramatikal sangat penting untuk meningkatkan pemahaman berbahasa secara tepat dan kontekstual.

  • Apa yang Dimaksud dengan Konflik Komunal?

    Apa yang Dimaksud dengan Konflik Komunal?

    Konflik komunal adalah salah satu bentuk konflik sosial yang terjadi antar kelompok warga negara dan biasanya melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.

    Konflik ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh berbagai faktor yang kompleks, seperti masalah ekonomi, ketidakadilan politik, kesenjangan sosial, serta perbedaan budaya yang menimbulkan gesekan.

    Dalam banyak kasus, konflik komunal lahir dari akumulasi persoalan yang tidak terselesaikan secara baik, kemudian memuncak menjadi benturan terbuka antar kelompok.

    Dampak konflik komunal sangat merugikan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Kerugian nyata dapat berupa jatuhnya korban jiwa, rusaknya rumah dan fasilitas umum, hingga hilangnya mata pencaharian warga yang terdampak.

    Lebih jauh lagi, konflik komunal mampu mengganggu stabilitas sosial dan keamanan, bahkan menurunkan kualitas kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

    Sistem perekonomian yang semula berjalan lancar dapat terganggu, iklim usaha menjadi tidak kondusif, dan arus investasi pun terhambat.

    Jika berlangsung terus-menerus tanpa penyelesaian yang tepat, konflik semacam ini bisa mengancam persatuan bangsa serta memunculkan disintegrasi sosial.

    Sebelum konflik pecah, biasanya ada tanda-tanda dan persiapan dari masing-masing kelompok yang sudah terorganisir.

    Hal ini bisa berupa pengumpulan massa, penyebaran isu provokatif, hingga penggalangan kekuatan untuk menghadapi kelompok lain.

    Dengan kata lain, konflik komunal tidak serta-merta muncul secara spontan, melainkan melalui proses panjang yang dipicu oleh akumulasi persoalan yang tidak segera ditangani.

    Menurut Hugh Miall (2002:65), konflik merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari perubahan sosial. Ia menegaskan bahwa konflik adalah bagian dari dinamika masyarakat yang tidak mungkin dihindarkan, karena selalu ada heterogenitas kepentingan, perbedaan nilai, serta keyakinan di dalamnya.

    Konflik muncul sebagai ekspresi dari formasi baru yang lahir akibat perubahan sosial, namun berbenturan dengan hambatan atau nilai lama yang diwariskan.

    Dengan kata lain, konflik merupakan cerminan dari ketidakserasian dalam proses adaptasi masyarakat terhadap perubahan.

    Penyebab Konflik Komunal

    Ada banyak faktor yang dapat memicu terjadinya konflik komunal, dan biasanya bukan hanya satu penyebab tunggal melainkan gabungan dari beberapa faktor yang saling terkait. Di antaranya adalah:

    1. Perbedaan pemikiran antar individu yang kemudian meluas menjadi perbedaan sikap kelompok.

    2. Ketidakselarasan visi dan misi antar golongan sehingga menimbulkan persaingan yang tidak sehat.

    3. Perbedaan kepentingan yang tajam antar kelompok, misalnya dalam hal ekonomi, politik, atau penguasaan sumber daya.

    4. Keretakan hubungan antar kelompok yang sudah lama terjalin, sehingga memudahkan timbulnya kecurigaan.

    5. Kesalahpahaman yang tidak segera diluruskan hingga menimbulkan prasangka negatif.

    6. Perbedaan kebudayaan yang sulit dipertemukan dan menimbulkan jarak antar kelompok masyarakat.

    7. Perubahan nilai-nilai sosial di masyarakat yang menimbulkan perbedaan cara pandang generasi tua dan muda.

    8. Fitnah atau provokasi yang diarahkan kepada kelompok tertentu sehingga memicu kemarahan massal.

    Jika faktor-faktor tersebut dibiarkan tanpa ada upaya pencegahan dan penyelesaian yang adil, maka konflik komunal sangat mungkin berkembang menjadi kekerasan yang lebih luas.

    Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk membangun komunikasi, menumbuhkan sikap toleransi, serta menciptakan mekanisme penyelesaian sengketa yang tepat agar potensi konflik bisa diminimalisir sejak awal.

  • Contoh wujud bela negara secara non fisik di lingkungan masyarakat

    Wujud bela negara secara non fisik tidak dilakukan dengan angkat senjata seperti yang dilakukan oleh para pahlawan.

    Bela negara adalah adalah sikap dan perilaku seluruh rakyat Indonesia sebagai bentuk kecintaan terhadap negara demi menjaga keutuhan serta kedaulatan bangsa.

    Dalam hal ini, negara pun mengatur kewajiban membela negara bagi seluruh rakyat yang tertera pada UUD Pasal 27 ayat 3 yang berbunyi:

    “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.”

    Dapat dimaknai bahwa setiap warga memiliki tanggungjawab membela negara sesuai dengan kemampuan dan profesinya masing-masing.

    Sehingga setiap warga tidak harus angkat senjata ataupun melakukan bela negara secara fisik, tapi juga bisa secara non fisik.

    Wujud bela negara secara non fisik di lingkungan masyarakat bisa berupa:

    • Menjunjung tinggi toleransi dalam kehidupan masyarakat.
    • Menciptakan suasana rukun dan damai dalam lingkungan masyarakat.
    • Mematuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat.
    • Memiliki rasa empat kepada orang lain.
    • Tenggang rasa dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
    • Adil dan bijaksana.
    • Menumbuhkan rasa kasih dan persaudaraan agar tidak terjadi perpecahan.
    • Menanamkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara.
    • Membentuk perilaku positif, seperti jujur, disiplin, dan arif.
    • Menaati seluruh aturan yang telah ditetapkan oleh negara.
    • Membayar pajak.

    Jadi, bela negara tidak hanya harus berupa fisik, tapi juga bisa dilakukan dengan non fisik sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing.

    Semisal seseorang ahli dalam dunia digital, maka menyebarkan informasi yang bermanfaat adalah salah satu bentuk bela negara secara non fisik.

    Sebab informasi yang disebar dapat menjadi tambahan pengetahuan serta wawasan bagi generasi penerus bangsa.