Kategori: Sastra

  • Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember

    Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember

    Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember
    Oleh : Syafaat
    (Pendamping Kafilah Kab. Banyuwangi)

    Langit malam itu seakan menuliskan ayat-ayat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

    Sejak awal saya tidak mengira bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an provinsi Jawa Timur ke XXXI bisa dihadirkan dengan cara seperti itu, dengan cahaya-cahaya yang menari di udara, dengan huruf-huruf yang seolah jatuh dari langit, dengan kalimat yang tidak bersuara tapi justru lebih dalam menembus hati.

    Bagi sebagian orang mungkin itu hanya atraksi teknologi, hanya permainan lampu dari ratusan drone yang dikendalikan komputer.

    Namun bagi saya, itu adalah tanda, itu adalah isyarat, itu adalah ayat yang lain. Ayat yang tidak ditulis dengan tinta, tidak dibacakan dengan suara, melainkan dilukiskan dengan cahaya, dipamerkan di langit, dan ditinggalkan di hati.

    Malam itu saya belajar sesuatu: bahwa firman Tuhan tidak pernah bisa dibatasi. Mushaf adalah rumahnya, tilawah adalah suaranya, hafalan adalah bentengnya, tetapi hakikat firman Tuhan selalu mencari jalan untuk mendekati manusia.

    Kadang ia hadir dalam lantunan anak kecil yang terbata, kadang dalam suara tua yang parau, kadang dalam doa lirih seorang ibu yang memeluk anaknya, dan malam itu firman itu hadir dalam cahaya, menari di langit Jember.

    Saya tahu, cinta kepada kitab suci bukan sekadar hafalan. Hafalan bisa hilang, bisa terlupa, bisa salah urutan. Tetapi cinta yang menempel di dada tidak akan hilang, ia akan terus menyala bahkan ketika lidah tidak mampu melafalkan lagi.

    Ketika saya melihat anak-anak kafilah yang saya dampingi tertidur di kursi belakang mobil dalam perjalanan pulang, saya merasa seakan Tuhan sedang membisikkan sesuatu: bahwa tugas saya bukan hanya mengantar mereka ikut lomba, bukan hanya memastikan mereka tampil baik di hadapan dewan hakim, tetapi mengantar mereka berjalan di jalan panjang cinta kepada Al-Qur’an.

    Tilawah bisa dilombakan, tajwid bisa dinilai, suara bisa diperingkat, tetapi cinta tidak bisa diberi angka. Cinta hanya bisa ditumbuhkan, dirawat, dipelihara dengan doa dan kasih. Dan cinta itu yang harus menjadi bekal anak-anak ini, bukan hanya piala yang bisa berdebu di lemari.

    Saya teringat pada sebuah kisah lama tentang seorang sufi. Ia tidak pandai membaca Al-Qur’an. Ia hanya bisa mengulang satu ayat, dengan suara yang parau, dengan bacaan yang tidak sempurna.

    Orang-orang menertawakannya, mencibirnya, menganggapnya tak pantas. Tetapi dalam mimpinya, sufi itu mendengar suara Tuhan yang mengatakan: “Aku lebih menyukai satu ayatmu yang penuh cinta daripada seribu ayat yang dibaca tanpa hati.” Malam itu saya merasa seperti sufi itu.

    Tidak ada suara, tidak ada tartil, hanya cahaya drone yang menulis huruf-huruf di langit.

    Tetapi justru dari situ hati saya tersentuh, lebih dalam daripada sekadar mendengar suara qari yang merdu. Dan saya sadar, inilah hakikat cinta religius. Ia tidak butuh alasan panjang, tidak butuh penjelasan rumit.

    Cinta religius adalah ketika hati bergetar hanya karena mendengar satu ayat, atau melihat satu cahaya, atau merasakan satu sentuhan.

    Cinta religius adalah ketika seseorang berwudhu bukan karena ingin shalat, tetapi karena ia ingin wajahnya segar ketika menghadap Tuhan.

    Cinta religius adalah ketika seseorang menangis bukan karena sedang susah, tetapi karena ayat yang dibacanya tiba-tiba terasa seperti surat pribadi dari Tuhan yang ditujukan hanya untuknya.

    Malam MTQ ke XXXI itu memang penuh keramaian, penuh musik, penuh parade. Tetapi yang tinggal di hati saya bukanlah gemerlapnya panggung, bukan pula suara pidato pejabat, melainkan saat-saat langit terbuka dan menuliskan huruf-huruf bercahaya.

    Saya yakin, bagi setiap orang yang menengadah malam itu, ada doa yang diam-diam terpanjat. Ada rasa yang sulit dijelaskan, rasa bahwa kita sedang dilihat oleh sesuatu yang lebih besar, rasa bahwa firman Tuhan selalu menemukan cara untuk turun ke bumi.

    Saya teringat pada ibu saya, yang setiap malam membaca surat Yasin dengan suara lirih. Tidak pernah tartil sempurna, tidak pernah dengan suara merdu.

    Tetapi dari bibirnya saya belajar, bahwa membaca Al-Qur’an bukan untuk dipuji, bukan untuk didengar orang, melainkan untuk membuat hati lebih tenang.

    Cinta ibu kepada Al-Qur’an bukan hafalan yang panjang, melainkan kebiasaan sederhana yang dilakukan tanpa henti. Dari situlah saya tahu, bahwa cinta kepada kitab suci adalah soal kesetiaan, bukan soal kemampuan.

    Kesetiaan membuka mushaf, kesetiaan melafalkan ayat, kesetiaan mendengarkan bacaan orang lain, kesetiaan menundukkan hati ketika ayat dibacakan.

    Dan kesetiaan itulah yang kadang hilang dalam kehidupan modern kita. Kita mudah terpesona pada lomba besar, pada suara merdu, pada panggung yang megah, tetapi lupa pada mushaf kecil yang sepi di pojok rumah.

    Kita sibuk mengejar juara, tetapi lupa membisikkan doa untuk anak-anak yang belajar terbata. Kita bangga dengan hafalan ribuan ayat, tetapi lupa menumbuhkan cinta yang sederhana.

    Padahal, tanpa cinta, hafalan akan kering. Tanpa cinta, tilawah hanya akan jadi nyanyian indah tanpa makna.

    Tanpa cinta, MTQ hanya akan jadi pesta besar yang segera terlupakan. Cinta adalah inti dari semua ibadah. Ketika seseorang shalat tanpa cinta, ia hanya akan menghitung gerakan.

    Ketika seseorang berzikir tanpa cinta, ia hanya akan mengulang kata-kata. Tetapi ketika cinta hadir, shalat akan menjadi pertemuan, zikir akan menjadi percakapan, doa akan menjadi bisikan yang hangat. Dan malam itu, cinta hadir dalam bentuk cahaya.

    Saya tidak tahu apakah bupati muda yang berjanji akan menghadirkan pembukaan istimewa menyadari hal itu.

    Mungkin baginya itu hanya strategi pencitraan, hanya cara untuk menunjukkan kebesaran acara. Tetapi bagi saya, justru di balik permainan cahaya itulah Tuhan menurunkan pelajaran.

    Bahwa firman-Nya tidak hanya terbatas pada lembaran, bahwa cinta bisa datang dari arah yang tak disangka-sangka.

    Bahkan dari drone yang dingin dan tanpa perasaan. Bukankah Tuhan memang sering menghadirkan kasih-Nya lewat jalan yang aneh, lewat kejadian yang sederhana, lewat orang-orang yang tidak kita kira?

    Cinta religius juga sering datang dengan cara seperti itu. Kita tidak selalu jatuh cinta pada orang yang dekat. Kadang kita jatuh cinta pada seseorang yang hanya kita temui sekali. Kadang kita merasakan kedekatan spiritual dengan seseorang yang bahkan tidak kita kenal namanya. Dan dalam cinta religius, kita sadar bahwa rasa itu hanyalah pantulan dari cinta yang lebih besar: cinta Tuhan kepada makhluk-Nya.

    Saya teringat sebuah kisah tentang Rabi’ah al-Adawiyah, seorang perempuan sufi besar. Ia pernah berdoa: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, jauhkan aku darinya.

    Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Kau haramkan aku dari keindahan-Mu.” Doa itu selalu membuat saya terdiam. Sebab di dalamnya ada keberanian untuk menyingkirkan semua imbalan, semua ketakutan, semua hitungan, dan hanya menyisakan cinta.

    Bukankah itulah yang seharusnya menjadi inti dari MTQ, dari tilawah, dari hafalan, dari doa-doa yang kita panjatkan? Bahwa kita membaca bukan untuk lomba, bukan untuk juara, bukan untuk hadiah.

    Kita membaca karena cinta. Kita melafalkan karena cinta. Kita mengulang ayat-ayat itu karena cinta. Dan cinta itulah yang akan menuntun kita, meski suara kita parau, meski hafalan kita terbata, meski tartil kita tidak sempurna.

    Ketika saya menuliskan ini, cahaya drone malam itu masih terbayang jelas di kepala saya. Huruf-huruf bercahaya itu masih menempel di hati saya. Mereka telah padam di langit, tetapi mereka masih menyala di dada saya. Dan mungkin memang begitu cara Tuhan bekerja: cahaya di langit hanya sebentar, tetapi cahaya di hati bisa bertahan lama, bahkan seumur hidup.

    Saya membayangkan suatu hari nanti, anak-anak kafilah yang saya dampingi akan mengenang malam itu. Bukan karena megahnya panggung, bukan karena panjangnya pidato, tetapi karena mereka pernah menengadah dan melihat langit menulis ayat dengan cahaya.

    Dan mungkin dari kenangan itu, cinta mereka kepada Al-Qur’an akan tumbuh. Cinta yang sederhana, cinta yang tidak mencari juara, cinta yang tidak membutuhkan hadiah, tetapi cinta yang membuat mereka ingin terus membaca, terus mendekat, terus menundukkan hati.

    Pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah ketika nama mereka diumumkan sebagai juara. Kemenangan sejati adalah ketika mereka tetap membuka mushaf meski tidak ada yang menilai, ketika mereka tetap melafalkan ayat meski tidak ada yang mendengarkan, ketika mereka tetap berdoa meski tidak ada yang mengaminkan. Kemenangan sejati adalah ketika mereka bisa meraih rida Tuhan melalui cinta yang tulus.

    Dan saya percaya, doa yang lahir dari cinta tidak akan pernah padam. Ia akan terus menyala, bahkan setelah semua lampu stadion dipadamkan, bahkan setelah semua orang pulang, bahkan setelah semua lomba selesai. Doa itu akan tetap ada, menempel di hati, berjalan bersama kehidupan, menyinari jalan yang panjang.

    Doanya sederhana: jangan berhenti membaca, meski tak bersuara. Jangan berhenti mencari, meski hanya lewat cahaya. Jangan berhenti mencinta, meski sebentar saja. Dan saya tahu, doa itu akan terus menyala, bahkan setelah tulisan ini selesai.

  • Rumah Besar Kita Sedang Berlayar

    Rumah Besar Kita Sedang Berlayar

    Rumah Besar Kita Sedang Berlayar – Syafaat

    Negeri ini bukan sekadar tanah, bukan sekadar udara dan batu, tapi ia adalah kekasih yang bernapas, yang menangis dalam senja dan tersenyum di fajar. Ia lahir dari darah yang meresap ke bumi, dari keringat yang menempel di batu-batu, dari rintihan sunyi yang dipanjatkan dalam doa.

    Para pendahulu kita mencintainya dengan pengorbanan yang tak masuk akal: senjata seadanya, perut keroncongan, tubuh ringkih, tapi hati mereka membara, tekad mereka lebih keras dari baja.

    Dari penderitaan dan cinta itu, lahirlah rumah bernama Indonesia, sebuah hati yang kita jaga bersama, yang kita rawat dengan harapan dan doa yang tak pernah padam.

    Rumah itu berdiri di atas kesepakatan bersama, cinta yang disepakati semua hati. Bahasa kita satu, nasib kita satu, perbedaan bukan alasan untuk terpisah.

    Suku-suku yang ratusan jumlahnya, budaya yang bertubrukan di perempatan sejarah, keyakinan yang kadang berbeda bahkan bertolak belakang, semuanya dipayungi oleh satu kata yang lebih besar daripada ego: Indonesia.

    Di rumah itu, setiap suara adalah bisikan cinta, setiap langkah adalah tarian hati, setiap tangan yang terulur bukan untuk diri sendiri semata, tetapi untuk menahan dinding tetap tegak, agar atap tak roboh, agar jiwa rumah tetap hangat.

    Rumah ini bukan sekadar bangunan, tapi tubuh kekasih yang kita peluk bersama, yang kita sayangi, yang setiap retaknya terasa seperti luka di hati kita sendiri.

    Perbedaan diolah menjadi harmoni rapuh namun indah, seperti sungai yang mengalir di antara batu-batu berwarna, menyatu tanpa kehilangan bentuk masing-masing.

    Bahasa yang satu bukan sekadar kata, tetapi rindu yang diamini bersama; nasib yang satu bukan sekadar nasib individu, tetapi nasib kolektif yang menuntut pengorbanan, perhatian, dan kesadaran bahwa runtuhnya satu bagian akan menimpa seluruh rumah.

    Rumah ini menuntut kesabaran, keberanian mengakui kesalahan, kebijaksanaan menahan amarah, kasih untuk menambal setiap retak dengan kelembutan.

    Indonesia bukan sekadar nama, bukan sekadar tanah dan air, melainkan kekasih yang jiwa-jiwanya kita rawat bersama, sejarahnya menjadi doa panjang, harapannya cahaya yang tak pernah padam meski badai terus datang.

    Tetapi rumah ini, betapapun megah, tak pernah selesai sekali jadi. Selalu ada genteng yang rembes ketika hujan, dinding yang merekah dimakan waktu, kayu yang lapuk bila penghuninya hanya sibuk menolong diri sendiri.

    Menjaga rumah ini adalah menjaga hati kita sendiri; keruntuhannya adalah patah hati kita, keutuhannya adalah kebahagiaan yang kita bagi bersama.

    Pada malam sunyi, ketika lampu padam dan jangkrik bernyanyi, terbayang kekasih bernama Indonesia, dibangun dengan tergesa sekaligus cinta yang membara. Tiangnya kokoh namun belum dipoles, dinding menjulang tapi kasar, atap tegak meski banyak genteng belum rapat.

    Tergesa itu bukan semata ingin berteduh, tetapi karena luka yang ingin segera diobati dengan persatuan, karena hati yang ingin segera dimiliki bersama. Rumah itu dibangun dari bahan seadanya tapi dengan doa yang tak putus, bata rapuh diperkuat harapan, kayu basah dipanaskan semangat.

    Ia berdiri bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi sebagai pernyataan: bangsa ini memilih mencintai bersama, meski fondasinya belum sempurna, retakan kecil selalu muncul, dan hanya dengan kesabaran serta ketulusan rumah itu bisa bertahan.

    Hari-hari berlalu. Rumah itu semakin ramai. Anak-anak lahir, cucu-cucu tumbuh. Ada yang rajin membersihkan, ada yang menumpang tidur. Ada yang menyumbang bata, ada yang mencuri kayu.

    Rumah besar itu mulai retak. Retakan kecil, awalnya bisa ditambal tipis, lama-lama dibiarkan. Kita terlalu sibuk. Terlalu lelah. Terlalu mementingkan diri sendiri.

    Kadang negeri ini bukan rumah, tapi perahu yang berlayar di samudra luas, laut yang tak pernah tenang, sesekali hanya beriak kecil, tiba-tiba badai menghadang.

    Perahu itu bernama Indonesia. Kapal-kapal megah berlayar di sekitarnya, dengan layar menjulang, mesin modern, nahkoda terdidik.

    Sedangkan perahu kita sederhana: kayu sederhana, layar tambal dari kain lusuh, tali kadang putus, kemudi retak.

    Namun dengan perahu rapuh inilah pelayaran ditempuh, badai ditantang, gelombang dihadapi, keselamatan tercapai bukan karena keelokan kapal, tapi karena kebersamaan penumpang, doa yang dipanjatkan, dan keyakinan akan arah tujuan.

    Sejarah menuliskan, perahu bernama Indonesia ini pernah oleng, nyaris karam. Namun selalu muncul tangan-tangan yang menambal celah dengan kesetiaan, bahu-bahu yang memikul beban dengan keikhlasan. Badai tidak pernah pergi, ombak terus silih berganti, tapi perahu itu tetap bertahan.

    Rahasianya: keyakinan dan cinta yang melingkupi setiap penumpang. Perahu tetap berlayar meski retak, dengan cahaya harapan yang tak pernah padam.

    Masalah muncul bukan dari laut, bukan dari badai, tetapi dari kita yang ada di dalam perahu. Kita sibuk bertikai, berebut kemudi, tarik layar, saling menyalahkan. Ketika retakan muncul, tak ada yang menambalnya.

    Kita terlalu sibuk membuktikan siapa yang lebih pantas menjadi nahkoda, padahal kekasih ini menangis pelan di setiap retak yang kita abaikan.

    Di era digital, perpecahan tumbuh cepat. Media sosial menjadi pasar riuh sekaligus arena yang menelanjangi manusia. Ada anak muda yang bunuh diri karena dibuli komentar, ada yang diperas karena rekamannya tersebar

    Dunia maya, awalnya jendela kebebasan, berubah menjadi ruang penyiksaan. Retakan perahu hari ini bukan hanya politik dan ekonomi, tapi juga dari sikap kita: jari-jari yang mengetik terlalu cepat, mulut yang ringan menghina, hati yang tipis empati.

    Kita tidak ingin hanya meratap. Retakan bisa ditambal. Rumah bisa diperbaiki, perahu dikuatkan kembali.

    Caranya sederhana tapi tidak mudah: dengan kebersamaan, dengan cinta yang tulus. Ambil semen kesadaran, pasir kesabaran, air pengertian, lalu tambal dinding rumah kita.

    Jika perahu bocor, ambil papan persaudaraan, paku dengan tekad bersama, ikat dengan cinta, ia akan kuat kembali. Menambal retakan bukan pekerjaan satu orang. Semua harus bergerak. Semua harus turun tangan.

    Bayangkan Indonesia sebagai kekasih yang kita cintai dengan seluruh jiwa. Kekasih yang menangis ketika retakan muncul, tersenyum ketika tangan kita menambal, yang berdebar ketika kita mengingatnya.

    Kekasih yang kita peluk dalam doa panjang, yang dulu dicintai para pejuang ketika darah menetes di tanah, yang dibisikkan para ibu ketika melepas anak berperang. Kekasih ini, yang kita warisi, belum selesai kita cintai, tapi terus kita jaga.

    Indonesia adalah perahu itu, rumah itu, kekasih itu. Mungkin tak sebesar kapal modern, tapi punya cerita panjang, daya tahan, dan jiwa yang tak mudah karam. Musuh sejati bukan sesama awak, tetapi badai, ombak, dan bajak laut di luar sana.

    Perahu ini, bagaimanapun keadaannya, adalah rumah kita. Rumah, betapapun rapuh, selalu layak kita jaga bersama. Jangan biarkan ia runtuh hanya karena kita sibuk mengeluhkan retakan kecil tapi enggan menambalnya. Rumah ini milik kita semua. Perahu ini milik kita semua. Negeri ini milik kita semua.

    Dan pada akhirnya, sebagaimana doa dan cinta yang tidak pernah putus, kita hanya bisa berserah, berharap perahu ini, betapapun retak, tetap membawa kita berlayar hingga sampai ke pantai tujuan, dengan kekasih di hati yang selalu menuntun, dengan cinta yang tak pernah surut, dan dengan harapan yang menyalakan lampu di gelapnya samudra.

    Penulis: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

  • 7 Rekomendasi Buku Investasi Versi Miliarder yang Bikin Kamu Cepat Kaya

    7 Rekomendasi Buku Investasi Versi Miliarder yang Bikin Kamu Cepat Kaya

    Investasi kini bukan lagi perkara eksklusif milik segelintir orang berduit.

    Dalam dunia yang makin terkoneksi dan terbuka, siapa pun bisa mulai menanam modal dan membangun aset asal tahu caranya.

    Mulai dari pelajar yang ingin memahami literasi keuangan, pekerja kantoran yang ingin menyiapkan masa depan, hingga pelaku usaha yang ingin memutar keuntungan, semua punya peluang yang sama.

    Namun sebelum menaruh dana di saham, obligasi, atau instrumen lainnya, memahami dasarnya adalah keharusan. Dan salah satu cara terbaik untuk belajar adalah melalui buku.

    Buku menawarkan pengetahuan yang tak lekang waktu, lebih dalam daripada konten singkat di internet dan sering ditulis langsung oleh para praktisi yang sudah menempuh jalan panjang di dunia investasi.

    Para tokoh sukses seperti Warren Buffett, Elon Musk, Ray Dalio, hingga Charlie Munger mengaku bahwa kebiasaan membaca buku-lah yang membentuk cara mereka berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan keuangan.

    Rekomendasi Buku Untuk Belajar Investasi

    Berikut ini tujuh buku terbaik yang wajib dibaca siapa saja yang ingin serius membangun karier sebagai investor.

    1. The Intelligent Investor – Benjamin Graham

    Disebut sebagai kitab suci oleh banyak investor senior, buku ini adalah fondasi dari filosofi investasi nilai. Benjamin Graham, penulisnya, adalah mentor langsung Warren Buffett.

    Ia menekankan pentingnya membeli saham di bawah nilai intrinsik sebagai bentuk investasi yang cerdas dan disiplin.

    “The Intelligent Investor” bukan buku yang menjanjikan cara cepat menjadi kaya. Sebaliknya, buku ini mengajarkan kesabaran, logika, dan ketenangan dalam menghadapi fluktuasi pasar.

    Lebih dari sekadar teori, buku ini membantu membentuk mentalitas tahan uji bagi siapa pun yang serius ingin membangun portofolio jangka panjang.

    2. Common Stocks and Uncommon Profits – Philip Fisher

    Philip Fisher membawa perspektif berbeda yang fokus pada potensi pertumbuhan perusahaan.

    Buku ini memperkenalkan pendekatan investigatif dalam memilih saham yang dikenal dengan metode “scuttlebutt” yaitu mencari informasi dari berbagai pihak terkait perusahaan sebelum membeli sahamnya.

    Warren Buffett sendiri menggabungkan ajaran Graham dan Fisher dalam strategi investasinya.

    Buku ini memberikan panduan mendalam bagi siapa pun yang ingin memahami karakteristik perusahaan hebat, termasuk cara melihat manajemen yang kompeten dan inovatif.

    Tidak sekadar menganalisis angka, Fisher mengajak pembaca menyelami jiwa bisnis dari dalam.

    3. One Up on Wall Street – Peter Lynch

    Peter Lynch dikenal luas sebagai manajer investasi legendaris yang mengelola Fidelity Magellan Fund.

    Dalam buku ini, ia menyampaikan satu pesan sederhana namun kuat: berinvestasilah pada apa yang dikenal dan dipahami.

    Menurut Lynch, investor ritel memiliki keunggulan karena bisa mengenali tren sebelum para analis profesional.

    Ia memberi contoh nyata tentang bagaimana pengetahuan sehari-hari bisa menjadi alat investasi yang sangat ampuh.

    Gaya penulisan Lynch yang ringan dan penuh humor membuat buku ini sangat mudah dicerna oleh siapa saja, bahkan yang baru memulai dunia investasi.

    4. Principles: Life and Work – Ray Dalio

    Ray Dalio bukan hanya investor ulung, tapi juga pemikir yang mendalam.

    Dalam buku “Principles”, ia membagikan prinsip-prinsip hidup dan kerja yang membentuk kesuksesannya sebagai pendiri Bridgewater Associates, salah satu hedge fund terbesar di dunia.

    Dalio menekankan pentingnya berpikir sistematis, terbuka pada kebenaran, serta berani mengambil keputusan berdasarkan data dan logika.

    Dalam konteks investasi, ia juga menjelaskan bagaimana memahami siklus ekonomi dan pentingnya diversifikasi portofolio.

    Buku ini bukan hanya panduan keuangan, tapi juga pelajaran hidup yang membentuk karakter pengambil keputusan.

    5. The Psychology of Money – Morgan Housel

    Tidak semua keputusan keuangan dibuat berdasarkan logika. Di sinilah Morgan Housel menempatkan fokusnya.

    Buku ini mengeksplorasi bagaimana emosi, latar belakang, dan pengalaman pribadi memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan keuangan.

    Melalui cerita-cerita pendek yang penuh makna, Housel mengajak pembaca merenungi hubungan emosional kita dengan uang.

    Ia membongkar mitos bahwa sukses finansial selalu berasal dari kecerdasan teknis, dan menunjukkan bahwa disiplin, konsistensi, dan pemahaman terhadap diri sendiri jauh lebih penting.

    Buku ini menyentuh sisi kemanusiaan dalam dunia investasi yang sering kali terlalu dingin dan teknis.

    6. Poor Charlie’s Almanack – Charlie Munger

    Charlie Munger, mitra setia Warren Buffett, terkenal karena pendekatan multidisiplinnya.

    “Poor Charlie’s Almanack” adalah kumpulan pemikiran, pidato, dan esai Munger yang memberikan wawasan luas tentang cara berpikir dalam investasi dan kehidupan secara umum.

    Buku ini menekankan pentingnya “mental models”, kerangka berpikir yang diambil dari berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, matematika, dan ekonomi.

    Bagi Munger, investor hebat bukan hanya mereka yang jago angka, tapi juga yang mampu memahami dunia secara menyeluruh.

    Buku ini bukan hanya panduan investasi, tapi juga latihan berpikir kritis yang sangat berharga.

    7. The Little Book That Still Beats the Market – Joel Greenblatt

    Terakhir, ada buku yang cocok untuk siapa pun yang ingin memulai investasi dengan langkah praktis.

    Joel Greenblatt, melalui pendekatan “Magic Formula Investing”, memperkenalkan strategi sederhana namun efektif untuk menemukan perusahaan berkualitas dengan harga menarik.

    Gaya penulisannya ringan dan penuh humor, cocok untuk pembaca dari semua latar belakang.

    Meski sederhana, formula yang ditawarkan Greenblatt memiliki dasar logika dan statistik yang kuat.

    Buku ini menjadi semacam jembatan antara teori dan praktik, membuatnya cocok dibaca sebelum benar-benar terjun ke pasar saham.

    Itulah beberapa rekomendasi buku untuk belajar investasi. Ingat, tujuh buku di atas bukan hanya kumpulan teori keuangan.

    Masing-masing mengandung filosofi dan cara pandang yang membentuk karakter sebagai investor sejati, yaitu sabar, disiplin, rasional, dan terbuka pada pembelajaran seumur hidup.

    Buku-buku ini tak hanya ditulis oleh tokoh besar, tetapi juga menjadi bagian dari proses panjang mereka dalam memahami dunia dan mengelola risiko.

    Membaca buku bukanlah jalan pintas menuju kekayaan, tapi ia adalah jalan terang menuju kebijaksanaan finansial.

    Seperti yang diyakini oleh para miliarder dunia, investasi terbaik adalah investasi pada diri sendiri. Dan membaca adalah salah satu bentuk terbaik dari investasi itu.

  • Meriahkan Hari Anak Nasional, TBM Al-Djawahir Gelar Lomba Puitisasi Alquran, Bercerita, dan Mewarnai Se-Kabupaten Banyuwangi

    Meriahkan Hari Anak Nasional, TBM Al-Djawahir Gelar Lomba Puitisasi Alquran, Bercerita, dan Mewarnai Se-Kabupaten Banyuwangi

    Memaknai setahun berdirinya Taman Baca Masyarakat (TBM) Al-Djawahir sekaligus menyambut Hari Anak Nasional, digelar serangkaian lomba kreatif dan literatif yang meliputi puitisasi Alquran, bercerita, serta menggambar dan mewarnai pada Ahad (20/7/2025) di kawasan kompleks TBM Al-Djawahir, Gambiran, Banyuwangi.

    Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas komunitas yang melibatkan TBM Al-Djawahir, Mak'E Mart, Posyandu Desa, komunitas Gotong Royong 45, Sanggar Merah Putih'45, Jaringan Rumah Kita Banyuwangi (JRKBB), media literasi sastrawacana.id/, media online jurnalnews, event organizer Senyum Agmadina, serta komunitas-komunitas literasi lainnya di Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam sambutan pembukaan, Djawahir selaku pendiri TBM Al-Djawahir menyampaikan sejarah singkat berdirinya taman baca tersebut.

    Sambutan Pendiri TBM Al Djawahir

    Ia menuturkan bahwa TBM ini lahir dari semangat menyediakan ruang alternatif belajar bagi masyarakat, khususnya anak-anak di wilayah Gambiran dan sekitarnya, agar lebih dekat dengan budaya membaca.

    Pengalaman beliau saat di perpustakaan sekolah membekas untuk diteruskan iqro’ membaca ke anak cucu.

    Ketua panitia, Dafik Ismail, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini perdana yang juga sebagai tasyakuran mendapatkan hibah 1000 buku dari Perpustakaan Nasional berikut rak bukunya.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dari berbagai wilayah di Banyuwangi yang telah ikut berpartisipasi, serta kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini seperti Perpustakaan Nasional, Enggal Modified beserta pegiat literasi dan seniman yang jadi juri serta media partner. Semoga kegiatan ini bisa menjadi semangat bersama dalam membumikan literasi di kalangan generasi muda,” ujar aktivis dakwah dalam naungan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini.

    Sambutan juga diberikan oleh Yeti Chotimah yang turut menyemarakkan acara dengan membagikan sejumlah buku hasil karyanya sebagai hadiah bagi para pemenang lomba.

    Kehadiran hadiah buku ini diharapkan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta untuk terus berkarya dan mencintai literasi. Antara lain buku Sejarah seni budaya, bathokan, cerpen bisikan manis serta yang baru diluncurkan Penerbit Erlangga Jakarta, yakni cerita rakyat maupun adat tradisi Banyuwangi seperti Keboan, Puter Kayun dan Mantu Kucing. Rencana akan terbit 11 judul buku.

    Rangkaian lomba untuk kategori puitisasi Alquran dan bercerita, pelaksanaan lomba dilakukan dalam dua tahap, yaitu seleksi video secara daring dan penampilan langsung di lokasi acara bagi tiga finalis terpilih di masing-masing kategori.

    juri lomba puitisasi alquran
    juri lomba puitisasi alquran (Dok. Fathma/Syifa)

    Dewan juri lomba puitisasi dan bercerita terdiri dari tiga tokoh literasi dan seni yang berpengalaman, yakni Maulana Affandi (penulis dan pemimpin redaksi Penerbit Lintang) sebagai ketua juri, Syaiful Anwar (guru SMK Muhammadiyah 1 Genteng sekaligus penulis aktif ), dan R. Ayu Pudjiati (seniman teater asal Madura).

    Ketiganya tak hanya menilai, tetapi juga memberikan masukan langsung kepada peserta yang tampil di panggung.

    Mereka menyoroti pentingnya penguasaan panggung, ekspresi wajah, gestur, hingga pemilihan diksi yang tepat agar pesan cerita atau puisi tersampaikan secara kuat dan menyentuh.

    Dalam penjelasannya, Maulana Affandi menyampaikan bahwa seluruh peserta yang tampil langsung di lokasi adalah anak-anak terbaik yang telah lolos proses seleksi ketat dari seluruh peserta yang mengirim video.

    “Anak-anak yang hadir di panggung ini adalah mereka yang terpilih, bukan sembarang peserta. Maka dari itu, orang tua patut berbangga karena putra-putrinya menunjukkan kualitas dan semangat yang luar biasa,” ujarnya dengan semangat.

    Syaiful Anwar juga menegaskan bahwa proses ini diibaratkan sebagai menjajaki anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai puncak.

    “Jadi, anggap saja perlombaan seperti ini sebagai proses anak menaiki anak tangga yang pada waktunya akan sampai di puncak,” jelasnya.

    Sementara itu, lomba menggambar dan mewarnai diperuntukkan bagi siswa TK dan SD, dan diikuti oleh puluhan peserta dari seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.

    Suasana lomba tampak semarak karena para peserta datang bersama orang tua yang setia mendampingi.

    Sorak semangat, tawa anak-anak, serta dukungan dari para pendamping menambah hangat suasana kegiatan.

    Dewan juri untuk lomba mewarnai dan menggambar juga menghadirkan para praktisi seni dan pendidikan.

    lomba mewarnai dan menggambar
    lomba mewarnai dan menggambar (Dok. Fathma/Syifa)

    Ketua juri adalah Muhammad Taufik, S.Sn yang biasa dipanggil Oklek guru kesenian di SMP Muhammadiyah 1 (Muhi) Genteng.

    Ia didampingi oleh dua juri lainnya, yakni Indriana Laily dan Qurrota Ninin yang juga aktif dalam kegiatan seni dan pengembangan kreativitas anak.

    Dalam proses penilaian, Oklek tak lupa berpesan kepada segenap orang tua yang hadir agar terus mendampingi anak-anaknya untuk mengasah bakat seni yang dimiliki.

    “Anak-anak di sini sudah memiliki bakat seni yang luar biasa, jadi hendaknya didampingi terus, kalau bisa dihadirkan guru seni untuk mengasah bakatnya,” papar Oklek.

    Di akhir acara, para pemenang dari tiap kategori diumumkan dan diberikan penghargaan, berupa trofi, piagam, serta hadiah menarik.

    Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara para pemenang dan dewan juri sebagai penanda kebersamaan dan semangat literasi yang terus tumbuh di tengah masyarakat Banyuwangi.

  • Merawat Rasa Lewat Kata, Webinar Literasi Bahasa Indonesia dan Using Siap Lahirkan Generasi Penulis Baru

    Merawat Rasa Lewat Kata, Webinar Literasi Bahasa Indonesia dan Using Siap Lahirkan Generasi Penulis Baru

    Sebuah webinar literasi bertajuk Pelatihan Menulis Puisi dan Pentigraf Berbahasa Indonesia dan Using sukses diselenggarakan pada Jumat, 18 Juli 2025.

    Acara ini merupakan kolaborasi antara Penerbit Lintang Banyuwangi, media online sastrawacana.id/, dan komunitas literasi Kopiwangi.

    Kegiatan ini diikuti oleh 75 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, hingga praktisi literasi.

    Mereka berkumpul secara daring untuk memperdalam wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan menulis sastra, khususnya puisi dan pentigraf, dalam dua bahasa: Indonesia dan Using.

    Webinar dipandu oleh Yeti Chotimah, seorang pendidik sekaligus penulis produktif yang telah menerbitkan sejumlah buku, termasuk yang bertema kebudayaan Banyuwangi.

    Jalannya acara semakin dinamis berkat kehadiran Qurrota Ninin sebagai pembawa acara, yang telah berpengalaman dalam berbagai kegiatan literasi dan kebudayaan.

    Tiga narasumber utama dihadirkan dalam webinar ini. Pertama, Maulana Affandi, penulis sekaligus pemimpin redaksi Penerbit Lintang.

    Kedua, Andi Budi Setiawan, penulis buku dan editor sastrawacana.id/ yang juga dikenal dengan nama pena Penapanuluh.

    Ketiga, Heri Iskandar dengan nama panggung Dzakawangi, pencipta lagu serta pemerhati bahasa Using yang aktif dalam pelestarian budaya lokal.

    Dalam pemaparannya, Maulana Affandi mengingatkan para peserta akan pentingnya warisan intelektual melalui karya tulis.

    Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan ide, melainkan bentuk tanggung jawab pada generasi mendatang. Ia juga menegaskan jika penulis itu tak akan pernah mati karena pemikirannya selalu abadi.

    "Fisik kita akan lenyap suatu hari nanti, tapi pemikiran kita harus tetap hidup dan abadi di dalam buku. Maka, warisan terbaik adalah buku yang membuat kita akan dikenang oleh generasi selanjutnya," paparnya.

    Pemateri kedua, Andi Budi Setiawan yang telah menelurkan beberapa karya turut memberikan panduan teknis dalam menulis puisi dan pentigraf yang ideal.

    Salah satu poin yang ditegaskan adalah perihal pemilihan diksi yang harus dilakukan secara mendalam agar menghasilkan karya yang kuat dan penuh makna.

    "Diksi yang tepat akan menghidupkan puisi, bukan sekadar menghiasinya. Sebab, puisi itu perlu rasa yang dapat hadir dari pemilihan kata.”

    Kemudian, penulis buku Algoritma Cinta ini juga memberi tips kepada peserta untuk menggali inspirasi dari pengalaman pribadi dan suasana sekitar.

    Sementara itu, Heri Iskandar memberikan perspektif berbeda dengan menekankan pentingnya menulis dalam bahasa Using.

    Ia mencontohkan beberapa puisi karyanya dalam bahasa Using yang kemudian dijadikan lagu dan telah dikenal luas oleh masyarakat.

    “Saya mengajak generasi muda untuk bangga berbahasa Using. Jangan malu, karena jika kita tidak memakai bahasa ini, maka perlahan akan hilang dari kehidupan kita.”

    Webinar ini juga diwarnai sesi diskusi yang aktif. Salah satu peserta, Halili, S.HI, Kepala MTs Nurul Huda Blimbingsari, menyampaikan pertanyaan seputar cara menjaga konsistensi dalam menulis, terutama saat kehabisan ide.

    Heri Iskandar menjawab lugas, “Yang membuat tulisan tidak selesai biasanya rasa malas. Karena itu, semangat menulis harus dijaga. Jangan menunda-nunda, karena semakin ditunda, semakin berat untuk memulai kembali.”

    Sebagai penutup, panitia memberikan buah tangan berupa beberapa buku bagi peserta yang aktif dan berani berbicara tentang mimpinya menjadi penulis.

    Selain itu, disampaikan pula bahwa webinar ini akan berlanjut ke sesi kedua. Nantinya, para peserta akan diajak untuk menulis dan berkolaborasi dalam sebuah buku antologi yang rencananya akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa pada Oktober 2025.

    Webinar ini bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi menjadi ruang temu yang memperkuat semangat literasi, melestarikan bahasa daerah, dan menumbuhkan kesadaran untuk berkarya sebagai bagian dari warisan budaya.

  • How to Win Friends & Influence People Bahasa Indonesia

    How to Win Friends & Influence People Bahasa Indonesia

    How to Win Friends & Influence People in the Digital Age adalah versi modern dari buku pengembangan diri klasik karya Dale Carnegie yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1936.

    Dengan penjualan lebih dari 30 juta eksemplar di seluruh dunia, buku ini telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu buku terlaris sepanjang masa.

    Keberhasilannya tidak hanya terbatas pada angka penjualan, tetapi juga menjadikannya salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah literatur Amerika.

    Dalam tahun pertama penerbitannya, buku ini bahkan dicetak ulang sebanyak 17 kali, dan dalam tiga bulan pertama saja berhasil terjual hingga 250.000 eksemplar, sebuah pencapaian yang luar biasa untuk masanya.

    Dalam edisi digital age ini, Carnegie dan tim penyusun mengadaptasi prinsip-prinsip klasiknya agar relevan dengan tantangan komunikasi modern, khususnya di era media sosial dan interaksi daring.

    Buku ini memberikan panduan praktis untuk membangun hubungan positif dan memengaruhi orang lain dengan cara yang tulus, santun, dan bijaksana.

    Prinsip-prinsip penting seperti menghindari kritik, memberikan apresiasi yang jujur, menunjukkan minat tulus terhadap orang lain, serta membangun kepercayaan melalui empati tetap menjadi fondasi utama.

    Carnegie juga menekankan pentingnya etika komunikasi digital: bagaimana menjaga reputasi, menghindari konflik publik, dan menanggapi kritik dengan bijak di platform digital.

    Buku ini membekali pembaca dengan strategi efektif untuk membimbing perubahan perilaku orang lain tanpa memaksa, serta memberikan inspirasi untuk menjadi komunikator yang lebih baik di lingkungan sosial dan profesional.

    Dengan gaya penulisan yang ringan dan penuh ilustrasi nyata, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja—pelajar, karyawan, pemimpin, hingga content creator yang ingin membangun pengaruh tanpa harus mendominasi.

    Meski beberapa pihak menilai pendekatannya terlalu sederhana atau berisiko dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, pesan utama Carnegie tetap kuat: hubungan yang sukses dibangun di atas dasar empati, penghargaan, dan komunikasi yang tulus.

    Tak heran jika karya ini terus relevan dan menjadi referensi utama dalam dunia pengembangan diri hingga saat ini.

    Mau baca bukunya? Klik di sini.

  • Bukan dari Sekolah, Ternyata Kunci Sukses Elon Musk Belajar dari Buku Ini

    Bukan dari Sekolah, Ternyata Kunci Sukses Elon Musk Belajar dari Buku Ini

    Elon Musk bukan hanya dikenal sebagai pengusaha teknologi visioner di balik Tesla, SpaceX, Neuralink, dan X (Twitter), tapi juga sebagai seorang kutu buku yang menyerap ilmu dari berbagai bidang.

    Salah satu rahasia di balik ide-ide briliannya adalah kebiasaan membaca buku sejak kecil.

    Bahkan, dalam berbagai wawancara, Elon Musk menyebut bahwa dirinya “membangun diri” melalui buku-buku yang ia baca.

    Berikut lima buku penting yang membentuk cara berpikir Elon Musk dan bisa jadi inspirasi berharga buat kamu yang ingin menciptakan terobosan besar dalam hidup maupun karier.

    1. The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy – Douglas Adams

    The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy
    The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy (pangobooks)

    Bagi Elon Musk, buku ini lebih dari sekadar hiburan fiksi ilmiah.

    Karya Douglas Adams yang sarat humor dan ironi ini memberinya pandangan hidup yang unik, yaitu hidup tak selalu harus dipandang terlalu serius dan kadang logika manusia tidak selalu menghasilkan kebenaran mutlak.

    Dengan narasi yang absurd dan penuh kejutan, buku ini mengajarkan tentang pentingnya rasa ingin tahu, keberanian mengeksplorasi hal yang belum diketahui, serta cara berpikir yang tidak kaku.

    Filosofi “jangan panik” yang diangkat dalam cerita menjadi salah satu prinsip hidup Elon Musk ketika menghadapi tekanan luar biasa di dunia bisnis dan teknologi.

    Mau baca bukunya? Klik di Sini.

    2. Structures: Or Why Things Don’t Fall Down – J. E. Gordon

    Structures Or Why Things Don’t Fall Down
    Structures: Or Why Things Don’t Fall Down (reprage)

    Buku ini dianggap sebagai “kitab wajib” bagi mereka yang ingin memahami prinsip dasar rekayasa teknik secara sederhana.

    J. E. Gordon menyampaikan konsep-konsep rumit tentang struktur bangunan, tekanan, dan ketahanan material dalam bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca awam.

    Bagi Elon Musk, buku ini membantu membangun pemahaman mendalam tentang bagaimana dunia fisik bekerja.

    Pengetahuan dari buku itu pula yang sangat berguna saat ia membangun roket di SpaceX atau merancang kendaraan listrik di Tesla.

    Ia menyebut buku ini sebagai pengantar sempurna untuk siapa saja yang ingin masuk ke dunia rekayasa tanpa latar belakang akademis formal di bidang tersebut.

    Mau baca bukunya? Klik di sini.

    3. Benjamin Franklin: An American Life – Walter Isaacson

    Benjamin Franklin An American Life
    Benjamin Franklin An American Life (medium)

    Biografi ini menceritakan kehidupan Benjamin Franklin, tokoh multi-talenta yang dikenal sebagai penemu, penulis, diplomat, dan pelopor dalam banyak bidang.

    Elon Musk terinspirasi oleh kemampuan Franklin untuk menjalani kehidupan lintas disiplin, serta tekad dan kecerdasannya dalam menciptakan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

    Franklin tidak hanya berkontribusi secara ilmiah dan politik, tetapi juga aktif dalam membentuk budaya dan nilai-nilai masyarakat Amerika kala itu.

    Elon Musk mengidentifikasi dirinya dengan semangat itu, kemudian menciptakan teknologi bukan hanya demi bisnis, tapi demi memajukan peradaban manusia.

    Mau baca bukunya? Klik di sini.

    4. Zero to One – Peter Thiel

    Zero to One
    Zero to One (linkedin)

    Ditulis oleh salah satu pendiri PayPal sekaligus mantan rekan bisnis Elon Musk, buku ini membahas filosofi membangun startup yang benar-benar baru dan revolusioner.

    Zero to One menekankan pentingnya menciptakan sesuatu yang orisinal, bukan sekadar meniru.

    Elon Musk merasa sangat selaras dengan gagasan dalam buku ini.

    Ia selalu berusaha menciptakan solusi “dari nol menjadi satu” seperti kendaraan listrik massal yang bisa bersaing dengan mobil bensin atau roket yang bisa digunakan ulang.

    Bagi siapa saja yang ingin membangun masa depan dan tidak sekadar mengikuti arus, buku ini sangat penting untuk dibaca dan dipahami secara mendalam.

    Baca bukunya secara gratis klik di sini.

    5. Einstein: His Life and Universe – Walter Isaacson

    Einstein His Life and Universe
    Einstein: His Life and Universe (eBay)

    Buku ini mengupas sisi personal dan profesional dari ilmuwan legendaris, Albert Einstein.

    Tidak hanya menyoroti pencapaian ilmiahnya, biografi ini juga menggali bagaimana pemikiran, spiritualitas, dan sikap Einstein terhadap kemanusiaan memengaruhi hidupnya.

    Bagi Musk, Einstein adalah sosok yang bukan hanya jenius, tapi juga berani berpikir beda dan menentang arus pemikiran yang sudah mapan.

    Buku ini memperlihatkan bahwa inovasi sejati lahir dari keingintahuan mendalam dan keteguhan dalam mempertahankan ide, bahkan ketika banyak orang meragukannya.

    Elon Musk sering menjadikan Einstein sebagai inspirasi utama dalam mengejar hal-hal besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

    Mau baca bukunya secara gratis? Klik di sini.

    Nah, itulah beberapa buku favorit Elon Musk yang menghubungkan dunia imajinasi, teknik, sejarah, dan pemikiran besar dalam peradaban manusia.

  • Program Literasi Desa Segera Dimulai, PLT Camat Rogojampi Dukung Setiap Desa Mengabadikan Sejarah dan Potensinya

    Program Literasi Desa Segera Dimulai, PLT Camat Rogojampi Dukung Setiap Desa Mengabadikan Sejarah dan Potensinya

    Pemerintah Kecamatan Rogojampi terus menunjukkan komitmen serius dalam mendorong budaya literasi serta pelestarian warisan lokal melalui peluncuran program bertajuk Literasi Desa.

    Program ini dilaksanakan atas kerja sama dengan Penerbit Lintang Banyuwangi dan media literasi online sastrawacana.id/, serta melibatkan para pegiat literasi dan budayawan.

    Program Literasi Desa dirancang untuk mendorong setiap desa di wilayah Kecamatan Rogojampi menuliskan sejarah, kebudayaan, tradisi, tokoh penting, serta potensi yang dimiliki desanya.

    Karya-karya tersebut nantinya akan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku antologi, yang tidak hanya menjadi dokumentasi penting, tetapi juga sumber inspirasi dan referensi bagi generasi muda dan masyarakat luas.

    PLT Camat Rogojampi, Edy Basuki, SE, memberikan dukungan penuh terhadap program ini dan menyambut antusias partisipasi desa-desa yang akan terlibat dalam penulisan.

    “Program ini merupakan inovasi untuk meningkatkan literasi yang ada di Kecamatan Rogojampi. Dengan ini, diharapkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih mengenal desanya sendiri,” kata Edy.

    Menurutnya, banyak potensi dan kekayaan budaya yang selama ini belum terdokumentasikan secara layak, sehingga rentan terlupakan.

    Ia menegaskan bahwa dokumentasi dalam bentuk karya tulis merupakan bentuk pelestarian yang efektif dan abadi.

    “Jika tidak diabadikan dalam sebuah karya, setiap potensi desa akan terkikis seiring waktu. Kita punya kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa, dan itu harus diwariskan dalam bentuk yang bisa dibaca dan dipelajari sepanjang zaman,” tegasnya.

    Program Literasi Desa
    Program Literasi Desa (Dok. sastrawacana.id/)

    Sebagai contoh, Desa Kedaleman yang berada di wilayah Kecamatan Rogojampi dikenal memiliki beragam tradisi lokal yang khas dan menarik, seperti Ider Bumi, sebuah tradisi spiritual yang dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan desa, serta Pencak Obor, pertunjukan seni bela diri yang dilakukan dengan nyala obor sebagai simbol semangat dan keberanian.

    Tradisi-tradisi semacam ini merupakan warisan leluhur yang sarat makna dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat desa.

    Namun, tanpa dokumentasi tertulis, nilai-nilai tersebut bisa saja hilang ditelan zaman, terlebih saat ini sudah memasuki era digital yang sangat padat informasi.

    Dengan hadirnya program Literasi Desa, sejarah dan kekayaan budaya desa-desa akan terkuak dan tersaji dalam buku yang dapat dibaca oleh siapa saja, termasuk oleh generasi mendatang yang mungkin sudah tidak mengalami langsung masa-masa kejayaan tradisi tersebut.

    Buku ini diharapkan menjadi rujukan penting, semacam ensiklopedia desa yang berisi kisah otentik tentang bagaimana sebuah komunitas tumbuh, berkembang, dan hidup dalam bingkai nilai-nilai lokalnya.

    Kecamatan Rogojampi juga telah terlebih dahulu menunjukkan komitmennya terhadap gerakan literasi dengan membentuk sudut baca atau perpustakaan desa di setiap balai desa.

    Berkat inisiatif ini, Kecamatan Rogojampi berhasil meraihJuara Harapan dalam lomba perpustakaan tingkat kabupaten, membuktikan bahwa upaya literasi di kawasan ini bukan hanya slogan semata.

    Untuk mendukung implementasi program Literasi Desa, Kecamatan Rogojampi merangkul beberapa tokoh serta pegiat literasi di Banyuwangi, seperti Aguk Wahyu Nuryadi (budayawan yang juga pengurus Forum Banyuwangi Sehat), Maulana Affandi (pemimpin Redaksi Penerbit Lintang dan media online sastrawacana.id/), Yeti Chotimah (penulis sekaligus pemerhati budaya), Andi Budi Setiawan (sastrawan sekaligus ketua Kopiwangi), serta Heri Iskandar (penulis puisi dan pencipta lagu).

    Semuanya akan menjadi pendamping desa dalam proses penulisan, dari pembekalan teknis, penyusunan naskah, hingga kurasi isi sebelum diterbitkan.

    Aguk Wahyu Nuryadi yang akrab disapa Bung Aguk selaku koordinator tim menyambut baik program ini dan mengungkapkan optimismenya bahwa masyarakat desa mampu menghasilkan karya yang berkualitas.

    “Kami siap mendampingi desa-desa untuk menggali dan merangkai potensi lokal mereka dalam bentuk tulisan. Program ini luar biasa karena bukan hanya bicara literasi, tetapi juga tentang pelestarian budaya dan sejarah yang selama ini tersembunyi,” ucap Bung Aguk.

    Sementara itu, Maulana Affandi menekankan pentingnya menjadikan setiap desa sebagai subjek sejarahnya sendiri.

    “Kami percaya bahwa setiap desa punya kisah. Ada narasi lokal yang layak ditulis, ada potensi yang perlu dipetakan, dan ada sejarah yang perlu diangkat ke permukaan. Melalui program ini, kami ingin membantu desa menyuarakan identitasnya sendiri,” ujar Affandi.

    Dalam waktu dekat, Kecamatan Rogojampi akan mengundang seluruh kepala desa dan sekretaris desa untuk menghadiri pertemuan awal sebagai langkah pembuka.

    Pertemuan ini akan menjadi ajang perkenalan, pengarahan, dan penyusunan strategi pendampingan literasi desa yang sistematis dan terukur.

    Program ini bukan hanya soal menulis, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif bahwa desa adalah pusat pengetahuan yang autentik.

    Ketika desa mampu menarasikan dirinya sendiri, maka pembangunan berbasis identitas lokal akan semakin kuat dan berkelanjutan.

    Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pegiat literasi, dan masyarakat, Literasi Desa diharapkan menjadi model inspiratif bagi kecamatan lain di Banyuwangi, bahkan di Indonesia dalam menanamkan budaya menulis dan mencintai sejarah sendiri.

  • DKB Gelar Forum Sastra di Banyuwangi, Bahas Peran Sastra sebagai Cermin Jiwa dan Alat Tafsir Zaman

    DKB Gelar Forum Sastra di Banyuwangi, Bahas Peran Sastra sebagai Cermin Jiwa dan Alat Tafsir Zaman

    Dewan Kesenian Blambangan (DKB) menggelar forum diskusi sastra bertajuk “Sastra sebagai Arsip Jiwa” pada Kamis malam, 29 Mei 2025, bertempat di Palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

    Acara ini menghadirkan narasumber utama Dr. Tengsoe Tjahjono, seorang akademisi Universitas Brawijaya Malang sekaligus penyair dengan jejak panjang dalam dunia literasi Indonesia.

    Dalam forum tersebut, Dr. Tengsoe membuka refleksi dengan pernyataan filosofis, “Dunia itu obah, dunia itu berubah.”

    Ungkapan tersebut bukan sekadar pembuka, melainkan titik tolak untuk menjelaskan bagaimana sastra berfungsi lebih dari sekadar pencatat realitas.

    Ia mengemukakan bahwa karya sastra memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali kenyataan melalui perenungan estetis dan pemaknaan ulang oleh subjek kreatif.

    Diskusi yang dimoderatori oleh Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, berlangsung dalam suasana terbuka dan kontemplatif.

    Hadir dalam forum tersebut berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap dunia literasi dan kebudayaan, antara lain para sastrawan, akademisi, guru, mahasiswa, seniman, dan pegiat komunitas literasi.

    Menurut Dr. Tengsoe, sastra merupakan aktivitas interpretatif yang menembus batas-batas logika dan data objektif. Ia menyatakan, “Di tangan ilmuwan, A adalah A. Tapi di tangan penyair, A bisa menjadi A plus.”

    Ungkapan ini menggambarkan fleksibilitas semiotik dalam karya sastra, di mana simbol, metafora, dan bahasa figuratif digunakan untuk menafsirkan dunia secara lebih dalam dan kompleks.

    Dalam paparannya, Tengsoe menolak dikotomi lama yang memisahkan antara kehidupan praktis dan kesusastraan.

    Ia menekankan bahwa menjadi sastrawan tidak identik dengan kehidupan yang terpinggirkan secara ekonomi.

    “Faktanya, banyak sastrawan yang bisa keliling dunia karena puisi yang mereka tulis,” ujarnya.

    Dengan demikian, sastra memiliki dimensi ekonomi, sosial, sekaligus spiritual yang relevan dengan perkembangan zaman.

    Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan dalam akses kesusastraan. Sastra tidak boleh eksklusif hanya bagi kalangan intelektual.

    “Nelayan pun bisa menulis. Petani juga. Kita semua punya pengalaman hidup yang layak dirangkai,” ungkapnya.

    Ia memperkenalkan istilah “arsip jiwa” sebagai konseptualisasi sastra sebagai sarana menyimpan, menata ulang, dan menyuarakan pengalaman manusia secara otentik.

    Salah satu sorotan dalam diskusi adalah pembahasan tentang antologi puisi Jenggirat, karya Tengsoe yang ditulis dengan latar dan napas Banyuwangi.

    Ia menyebut tanah kelahirannya tidak hanya sebagai latar geografis, tetapi sebagai ruang batin yang membentuk kesadaran dan estetika puisinya.

    Dalam sesi tanya-jawab, isu tentang kecerdasan buatan (AI) mengemuka.

    Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan AI menggantikan peran penyair, Dr. Tengsoe menjawab dengan nada santai namun tajam: “AI itu cerdas, tapi tidak bisa nakal. Justru kenakalan itu yang melahirkan puisi.”

    Ia menjelaskan bahwa puisi lahir dari kegelisahan dan ketidakteraturan batin manusia, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma yang rigid dan kalkulatif.

    Ia juga mengingatkan bahwa puisi bukan sekadar bentuk teknis, melainkan memiliki daya resonansi emosional.

    “Orang yang menulis tapi tidak membaca akan tampak dari puisinya,” paparnya, menekankan pentingnya intertekstualitas dan pengalaman membaca dalam proses kreatif kepenyairan.

    Diskusi ini turut diwarnai oleh respons-respons dari tokoh kebudayaan Banyuwangi. Ketua DKB, Hasan Basri, menyuarakan keprihatinannya terhadap kecenderungan pelombaan puisi di lingkungan pendidikan yang lebih menekankan aspek kompetitif daripada ekspresif.

    Hasan menambahkan bahwa DKB tengah merancang pendekatan kuratorial baru dalam menilai karya sastra, yakni melalui dimensi kedalaman ekspresi dan kejujuran estetis, bukan semata-mata teknik dan kepatuhan formal.

    Sementara itu, dari komunitas Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, Hakim Said menambahkan dimensi reflektif dengan pendekatan humor dan filosofi.

    Ia mengemukakan bahwa keberanian berimajinasi merupakan dasar dari lahirnya karya sastra.

    “Kalau imajinasi itu hidup, maka bisa jadi kenyataan,” ujarnya.

    Ia menyatakan kesiapan Rumah Kebangsaan untuk mendukung ekosistem sastra Banyuwangi agar lebih menyentuh masyarakat luas.

    Forum diskusi tersebut berlangsung dinamis. Beberapa peserta menyampaikan pendapat dan berbagi pengalaman tentang proses kreatif yang muncul dari keseharian, termasuk bagaimana obrolan warung kopi dan tontonan televisi dapat menjadi sumber narasi literer jika dilihat melalui kesadaran estetik.

    Menutup forum, Dr. Tengsoe menyampaikan sebuah pernyataan penting tentang syarat fundamental menjadi penulis: “Menjadi penulis adalah menjadi pembaca yang baik. Membaca buku, membaca peristiwa, atau membaca manusia.”

    Ia menggarisbawahi bahwa karya sastra lahir dari interaksi reflektif antara penulis dan dunia di sekitarnya.

    Sebagai penutup, beberapa peserta membacakan puisi mereka dalam suasana sederhana namun intim.

    Tidak ada mikrofon canggih atau panggung formal, namun kehadiran kata-kata dan semangat kolektif menjadikan malam tersebut sebagai ruang pertukaran intelektual dan ekspresi estetis yang otentik.

    DKB menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari ritual intelektual dan kultural yang berkelanjutan.

    Sastra, sebagaimana ditegaskan oleh para peserta, bukan hanya tentang menulis, tetapi tentang memberi nyawa pada realitas melalui bahasa.

  • Puisi-Puisi Gimien Artekjursi, Sang Penyair dari Tanah Imajinasi

    Puisi-Puisi Gimien Artekjursi, Sang Penyair dari Tanah Imajinasi

    STASIUN ROGOJAMPI

    (Suatu Malam di Bulan September)

     

    setelah kereta terakhir berangkat

    loket ditutup, sinyal pun dilipat

    rel-rel membujur makin kaku

    dan peron lengang

    berselimut dingin angin malam akhir september

     

    di ruang tunggu

    tinggal nyala lampu menghidupkan malam

    bersama bangku-bangku yang tertidur tanpa mimpi

     

    (di jalanan

    seperti biasa: semua serba diburu

    waktu tak pernah mau menunggu

    sampai habis suara di kerongkonganmu memanggil

    larimu tertinggal jauh

    dikejar bayang-bayang remang lampu jalanan)

     

    dan stasiun masih setia menunggu

    (walau tanpa rindu)

    apapun yang datang

    untuk berangkat

    menuju stasiun-stasiun selanjutnya

    yang juga senantiasa menunggu kedatangan apapun

    yang baru

    walau tanpa rindu

     

    Kumendung, September-Oktober 2023

    *Stasiun Rogojampi merupakan stasiun kereta api kelas I. Terletak di Rogojampi, Banyuwangi. Termasuk dalam Daerah Operasi IX Jember. (Google)

     

    STASIUN KALIWUNGU (RIWAYATMU KINI)

    hanya melintas

    tak ada lagi yang singgah di sini untuk melepas lelah

    kalaupun singgah sekedar menunggu kesempatan lewat

    loket, peron dan bangku-bangku

    tak lagi menunggu apapun

    meski penjaga senantiasa melambai

    menyambut setiap yang melintas

     

    tapi rel-rel tak lepas setia

    membujur di seluruh jalur

    juga tanda-tanda tak henti menunjuk arah dan peringatan

    seiring putaran waktu

     

    lambaian penjaga mencoba mengingatkan:

    pernah banyak kenangan, dulu

    berpuluh musim lalu!

     

    tapi masihkah ada yang mau mengenang

    kenangan dan masa lalu itu?

    atau sekedar melihat batas nama

    dan terburu-buru segera menjauh untuk melupakan semua?

     

    lengking peluit penjaga stasiun menegaskan berkali-kali:

    kereta lewat dan menjauh dari stasiun ini

    hanya melintas membawa gemuruhnya sendiri

     

    sampai waktu mengubahnya

    :hilang atau berganti

     

    Kaliwungu, 24 November 2023

    *Stasiun Kaliwungu adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Krajan Kulon, Kaliwungu, Kendal; termasuk ke dalam Daerah Operasi IV Semarang. Tidak ada kereta api yang berhenti di sini, kecuali ada penyusulan antar kereta api. (Google)

     

    STASIUN SUMBERWADUNG (NASIBMU KINI)

     

    tak ada lagi keriuhan:

    perempuan-perempuan menggendong dagangan

    laki-laki bersarung kumuh menggerutu

    anak-anak berseragam sekolah terburu-buru

    :tak ada

     

    hanya penjaga stasiun bertopi merah

    sekali waktu siaga

    dengan tongkat sinyalnya

    menghormat pada kereta melaju

    setelah semua tanda dari jurusan yang akan dilintasi

    dipastikan siap

     

    setelah bertahun-tahun menimbun peristiwa

    hanya sebagian kenangan tersisa

    dalam ingatan mereka

    yang pernah hadir di stasiun itu

     

    di tengah waktu terus berlalu

    zaman berubah

    satu persatu harus ada yang tersisih

    digantikan atau dibuang

    diingat atau dilupakan

     

    tak ada lagi keriuhan di stasiun itu

    selain dalam kenangan

     

    Kumendung, 17 Oktober 2024

    *Stasiun Sumberwadung merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil. Terletak di Tulungrejo, Glenmore, Banyuwangi. Sebelumnya stasiun ini menjadi penghentian semua kereta api penumpang dari dan menuju Banyuwangi. Per 10 Februari 2021 hanya KA Tawang Alun yang berhenti di stasiun ini. Kemudian sejak 1 Juni 2023 layanan penumpang di stasiun ini dihapus sama sekali. Sehingga tak ada lagi kereta api yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persilangan dan penyusulan antar kereta api.(Google)

     

    KALIBARU, DI SALAH SATU SUDUTMU AKU PERNAH TINGGAL

     

    kalibaru

    di salah satu sudutmu kenangan itu tertinggal

    menggigil berselimut dingin dan malam yang membekukan

    dan selalu

    tiap kali melintas di jalanmu

    serasa aku terbenam ke masa lalu itu

    yang tak pernah ingin kuulang

    meski ada yang tak mungkin kubuang

    apalagi dilupakan

     

    dan seperti biasa

    dari stasiun

    kereta yang selalu berangkat

    dengan gerbong penuh mimpi yang itu-itu juga

    lengking peluitnya

    masih menembus terowongan mrawan dan garahan

    menggema sampai di perkebunan coklat, karet dan kopi

    tersangkut di runcing daun-daun pinus

    makin mengingatkanku pada suatu yang hilang

    tertimbun waktu

     

    dan di salah satu sudutmu serasa aku masih berdiam

    dengan mimpi dan secuil angan-angan

     

    selain kenangan

    apa yang kita cari ketika kembali ke masa lalu?

    harapan?

    ilusi?

    kesia-sian?

     

    –jangan menangis

    aku tak punya sapu tangan yang lembut

    untuk mengusap air matamu

     

    Kumendung, 2023-2024

    *Kalibaru adalah kota kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang berbatasan dengan Kabupaten Jember.

     

    STASIUN

    (SEBUAH AMSAL)

     

    di stasiun itu menunggu

    di bangku-bangku

    menunggu sebuah perjalanan

    diberangkatkan

    ke berbagai tujuan

     

    awal atau akhir

    tidaklah pasti

    suatu yang awal

    bisa jadi akhir

    bila tak lagi berlanjut

    dan yang akhir

    bisa jadi awal

    ketika terus melaju

     

    ketika akhirnya berhenti

    itu yang pasti

     

    di stasiun itu

    semua berawal

    lalu kembali singgah

    atau sekedar lewat

    bisa juga berakhir

    (tergantung takdir)

     

    Kumendung, 19 Juli 2024

     

    PERJALANAN

    (SEBUAH TANYA)

     

    apakah yang ada setelah perjalanan panjang?

    stasiun tempat berhenti

    stasiun tempat mulai

    dan burung-burung menggaris-bawahi tiap tanda

     

    yang tercecer mungkin terlupakan

    pada tiap tingkungan, pada tiap tanjakan

    pada stasiun-stasiun antara stasiun

    yang membeku, yang terkubur di bawah debu

    bahkan yang tak tahu lagi arah

     

    lantas apa yang sisa setelah perjalanan?

    jejak, kenangan, sebuah kesia-siaan?

    :stasiun-stasiun kosong

    tangis mengering

    cinta tak berkesampaian

     

    hanya matahari yang jelas masih bersinar

    bertahan entah sampai kapan

    (pengembara keburu lelap sebelum menemukan cinta)

     

    Biodata Gimien Artekjursi

    • Lahir: 03 Agustus 1963. Tinggal di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur
    • Puisi-puisi tampil di media cetak dan online di Indonesia dan pada beberapa antologi bersama.
    • Juara Lomba Cipta Puisi Sanggar Minum Kopi Bali (1989)
    • Juara Negeri Kertas com (2022)
    • Juara TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia) (2023)
    • Nominasi Anugerah Sastra Apajake (2023)