Kategori: Sastra

  • Lomba Baca Puisi Porseni MI Kecamatan Rogojampi 2025, Para Peserta Tampil Penuh Penghayatan dan Pesona

    Lomba Baca Puisi Porseni MI Kecamatan Rogojampi 2025, Para Peserta Tampil Penuh Penghayatan dan Pesona

    Pekan Olahraga dan Seni Madrasah Ibtidaiyah (Porseni MI) tingkat Kecamatan Rogojampi resmi digelar di Madrasah Ibtidaiyah Pengatigan pada Rabu (19/02/2025).

    Acara ini diikuti oleh berbagai madrasah ibtidaiyah dari seluruh kecamatan, yang mengirimkan siswa-siswinya untuk berkompetisi dalam berbagai cabang olahraga dan seni.

    Porseni MI ini bukan hanya menjadi ajang unjuk bakat, tetapi juga sebagai sarana mempererat persaudaraan dan membangun karakter siswa sejak dini.

    Ajang tahunan ini dibuka oleh pengawas, Muhammad Syairofi, yang dalam sambutannya berhasil menggugah semangat para peserta Porseni.

    Dari sekian banyak cabang yang dilombakan, ada satu kompetisi yang cukup menyedot perhatian, yaitu lomba baca puisi yang terbagi atas kategori putra dan putri.

    Lomba diawali dengan pembacaan aturan, teknis, serta pengenalan para dewan juri yang dilakukan oleh koordinator lomba.

    Adapun dalam lomba ini, panitia penyelenggara menghadirkan tiga juri kompeten di bidangnya, yaitu Dwi Ilmawati dari MI Miftahul Ulum Mangir; Diah Galuh K dari MI Kedaleman, serta Maulana Affandi, S.S, direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus pemimpin redaksi media literasi sastrawacana.id/.

    Kehadiran para juri dari pegiat sastra ini memberikan nilai lebih karena peserta tidak hanya dinilai secara teknis tetapi juga diberikan wawasan mengenai seni membaca puisi yang lebih dalam.

    Beberapa peserta yang mengikuti lomba puisi tampak bersemangat dengan aksi panggung yang memukau.

    Mereka tidak hanya membacakan puisi, tetapi juga menampilkan ekspresi dan gestur yang mendukung isi puisi yang mereka bawakan.

    Setelah semua unjuk gigi, Maulana Affandi sebagai perwakilan juri memberi apresiasi dan sedikit pengetahuan kepada para peserta.

    Beberapa pesan disampaikan, termasuk agar memperhatikan tempo dan intonasi. Menurutnya, puisi bukan ajang untuk adu suara, tapi bagaimana isi dari bacaan itu sampai ke penonton atau pendengar.

    "Pembacaan puisi yang baik bukan hanya soal vokal saja, tetapi juga bagaimana penyampaian makna kepada pendengar," katanya.

    Kemudian, ia juga menambahkan jika ajang ini menjadi bukti bahwa anak-anak madrasah memiliki potensi besar dalam dunia seni, khususnya sastra.

    Juri lainnya, Dwi Ilmawati, mengungkapkan bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan kualitas peserta dalam bidang puisi, terutama dalam hal penghayatan.

    "Setiap tahun sangat terlihat peningkatannya. Anak-anak yang mengikuti lomba puisi tahun ini semakin kreatif dan baik penampilannya. Momen ini bisa dijadikan contoh serta inspirasi bagi siswa lainnya yang ingin mengikuti lomba puisi di event lainnya," ujarnya.

    Sementara itu, juri lainnya, Diah Galuh K, memberikan apresiasi terhadap penampilan peserta yang dinilainya menarik dan penuh usaha.

    Namun, ia juga mencatat beberapa kendala yang masih perlu diperbaiki oleh peserta, seperti rasa percaya diri yang kurang serta beberapa peserta yang terburu-buru dalam membacakan puisi.

    "Ada yang kurang percaya diri, tapi secara keseluruhan sudah bagus. Beberapa peserta sempat mengalami kesulitan karena terburu-buru. Harapannya, bakat dan kepercayaan diri mereka bisa terus dikembangkan dan tidak mudah putus asa," tuturnya.

    Porseni MI Kecamatan Rogojampi tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun semangat kebersamaan, sportivitas, serta kreativitas siswa madrasah ibtidaiyah.

    Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan acara ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi dunia pendidikan, khususnya di tingkat madrasah ibtidaiyah.

  • Peluncuran E-Book Memoar Sang Veteran Karya IGB Sudharma, Jejak Seorang Pejuang yang Diabadikan dalam Rajutan Kata

    Peluncuran E-Book Memoar Sang Veteran Karya IGB Sudharma, Jejak Seorang Pejuang yang Diabadikan dalam Rajutan Kata

    Setiap manusia memiliki rencana, namun hanya Tuhan yang menentukan jodoh, rezeki, dan umur.

    Seperti pepatah mengatakan, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang,” maka IGB Sudharma ingin namanya tetap abadi dengan meninggalkan karya berupa buku.

    Buku ini merupakan kumpulan kisah nyata pengalaman hidupnya sebagai Veteran Pembela, Pahlawan Seroja yang terlibat dalam Perang Timor Timur tahun 1975-1976 saat masih berusia 20 tahun sebagai anggota Brimob.

    Peluncuran buku “Memoar Sang Veteran” yang berisi kumpulan puisi dan cerpen berlatar sejarah gejolak Timor Timur saat ingin memisahkan diri dari NKRI, awalnya direncanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2024 atau Hari Jadi Banyuwangi 18 Desember 2024 di Villa Bahari Kemiren milik anaknya.

    Namun, karena kondisi kesehatan IGB Sudharma serta berbagai kendala teknis, proses penyelesaian naskah baru rampung pada awal Desember 2024.

    Penerbit Lintang Banyuwangi bergerak cepat dalam proses tata letak dan desain. Sayangnya, penerbitan ISBN tertunda akibat antrean akhir tahun, sehingga buku baru bisa dicetak pada awal Februari 2025.

    “Kami seakan berpacu dengan waktu. Penulis ingin melihat bukunya terbit. Saat kami menyerahkan buku, yang menerima adalah istrinya karena saat itu IGB Sudharma sedang dalam perawatan intensif di ICU RSI Fatimah,” ungkap Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang.

    Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk peluncuran fisik, dipilih alternatif Plan B, yaitu peluncuran e-book sekaligus bedah karya di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Banyuwangi.

    Namun, ketika kesehatan IGB Sudharma semakin menurun, Plan C ditetapkan: peluncuran e-book tanpa diskusi bedah buku.

    Rencananya, acara akan digelar setelah kontrol kesehatan pada Selasa, 18 Februari 2025, namun kembali tertunda hingga akhirnya bisa dilaksanakan pada Kamis, 20 Februari 2025.

    “Alhamdulillah, akhirnya buku ini bisa diluncurkan dalam keadaan saya masih diberikan umur. Saat di ICU, buku ini diperlihatkan kepada saya dan itu menjadi obat kuat untuk terus berkarya. Bahkan, saya sudah menyiapkan buku kedua yang akan menceritakan perjalanan saya masuk kepolisian, bertugas di Brimob, dikirim ke Kupang, lanjut ke Atambua, hingga pensiun,” ujar IGB Sudharma yang juga menjabat sebagai Anggota Dewan Paripurna Macab Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Banyuwangi dan Dewan Pembina Sanggar Merah Putih ’45.

    IGB Sudharma yang ditinggal istrinya, Ning Nuroniyah saat pandemi COVID-19 dan kini bersanding dengan Siti Alifah, mempersembahkan buku ini untuk ibu, kedua istrinya, serta generasi penerus agar tetap mencintai tanah air dengan jiwa, semangat, dan nilai juang ’45.

    Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya telah melewati berbagai pengalaman hidup, mulai dari pertempuran di Timor Timur, bentrokan dengan preman, isolasi pandemi, hingga tiga hari di ICU.

    “Dalam setiap doa setelah salat, saya selalu beristighfar dan meminta agar segala bentuk ilmu kekebalan yang tidak sesuai syariat dapat dilepaskan, sehingga saya kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan fitrah,” tuturnya.

    Ia juga mengaku telah melakukan ruqyah dan berbagai ikhtiar untuk melepaskan khodam dari guru-gurunya yang kini telah tiada.

    Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Drs. Zen Kastolani, M.Si., didampingi Pustakawan Ahli Madya Hj. Fitrin Kuntartini, S.Sos., dan H. Yusup Khoiri, S.STP., memberikan apresiasi atas buku ini.

    “Kami berterima kasih kepada penulis yang telah menuangkan pengalaman hidup dan spiritualnya dalam buku yang kini bisa diakses masyarakat melalui jaringan internet. Semoga ini menjadi amal jariyah dan kami menantikan karya berikutnya,” ujar Zen Kastolani.

    Sementara itu, Yusup Khoiri menjelaskan bahwa melalui program PUSAKA, semua tulisan tentang Banyuwangi—baik dari warga lokal maupun orang luar—bisa dipublikasikan lebih luas.

    Dengan begitu, buku “Memoar Sang Veteran” juga bisa dibaca lebih banyak orang dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk memahami sejarah serta semangat perjuangan.

  • Bedah Buku ‘Hebat Bersama Umat’ di Banyuwangi, Membangun Toleransi Lewat Literasi

    Bedah Buku ‘Hebat Bersama Umat’ di Banyuwangi, Membangun Toleransi Lewat Literasi

    Komunitas Lentera Sastra Banyuwangi mengadakan bedah buku berjudul ‘Hebat Bersama Umat’ di Hall Room Hotel Tanjung Asri, pada Selasa (17/12/2024) yang dihadiri oleh berbagai tokoh penting serta para pegiat sastra di Banyuwangi.

    Beberapa tokoh yang hadir antara lain Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB) Hasan Basri, Muttafaqurrohmah dari Untag Banyuwangi, Aekanu Haryono dari Killing Osing, Hakim Said selaku Founder Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi, sastrawan Fatah Yasin Noer, seniman budayawan Ki Pramoe Sakti, serta para kepala madrasah.

    Bedah buku yang dipandu oleh dosen UIMSYA Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., ini bertujuan untuk membangun semangat literasi sekaligus mengapresiasi karya sastra bertema moderasi beragama.

    Dalam diskusi tersebut, terdapat empat narasumber utama yang dihadirkan, yaitu Chaironi Hidayat (Kepala Kemenag Banyuwangi), Drs. Zen Kostolani, M.Si. (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan), Samsudin Adlawi (Direktur Radar Banyuwangi), dan Syafaat, S.H., M.H.I. (Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi).

    Chaironi Hidayat membuka sesi diskusi dengan menekankan betapa pentingnya literasi sebagai ukuran kemajuan peradaban.

    Menurutnya, budaya literasi yang tinggi menjadi salah satu indikator kualitas peradaban suatu bangsa.

    “Namun, tingginya literasi saja tidak cukup jika peradaban masih menyimpan berbagai kekurangan. Sastra mampu melampaui batas bahasa teknis dan menyentuh sisi emosional manusia,” ujarnya sambil mengapresiasi buku ‘Hebat Bersama Umat’ sebagai karya penuh makna yang menyuarakan moderasi beragama.

    Drs. Zen Kostolani dalam kesempatan itu juga menyampaikan bahwa menulis puisi memerlukan kepekaan dan latihan yang terus-menerus.

    Menulis puisi terlihat sulit, tetapi jika dilakukan dengan tekad kuat, siapa pun bisa melakukannya,” tuturnya.

    Zen juga menjelaskan peran Dinas Perpustakaan dalam mendukung penulis lokal, salah satunya dengan mengurus ISBN untuk memfasilitasi promosi karya-karya mereka ke tingkat nasional.

    Samsudin Adlawi dalam sesi berikutnya membahas tentang teknik serta esensi puisi yang terdapat dalam buku ini.

    Ia menegaskan bahwa keindahan puisi terletak pada kemampuannya untuk menyentuh hati pembaca, bukan hanya pada keindahan diksi semata.

    “Puisi tidak perlu dipaksakan indah. Jika berhasil menyentuh hati, puisi akan indah dengan sendirinya,” terangnya.

    Syafaat, Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, menjelaskan bahwa buku ‘Hebat Bersama Umat’ disusun melalui proses yang melibatkan 79 penulis selama satu tahun.

    Tema moderasi beragama yang diangkat dalam buku ini ternyata cukup menantang untuk dituangkan dalam bentuk puisi.

    “Namun, ini menjadi kontribusi nyata kami dalam menyebarkan pesan perdamaian melalui karya sastra,” terang Syafaat.

    Acara ini mendapatkan apresiasi tinggi dari peserta, salah satunya dari Abdul Aziz, Kepala KUA Kecamatan Banyuwangi.

    “Buku ini membuka wawasan tentang pentingnya menyampaikan pesan melalui karya sastra,” katanya.

    Hal senada juga disampaikan oleh Junaidi, guru di MTsN 11 Banyuwangi yang berharap kegiatan serupa bisa digelar secara rutin di masa depan untuk memajukan budaya literasi.

    Melalui acara ini, diharapkan semangat literasi di Banyuwangi akan terus berkembang, dan karya-karya sastra lokal dapat menjadi sarana yang efektif untuk membangun toleransi serta menciptakan keharmonisan di masyarakat. (Syaf)

  • Rumah Ilalang Karya Andi Budi Setiawan

    Rumah Ilalang Karya Andi Budi Setiawan

    “Rumah Ilalang” merupakan metafora yang melambangkan tempat berkumpulnya ilalang-ilalang, meskipun terlihat sederhana, namun memiliki keindahan dan keistimewaan tersendiri.

    Ilalang, rimbun serta bunganya yang halus, menjadi pengingat bahwa keindahan sering kali muncul dari hal-hal yang sederhana, namun memiliki makna yang mendalam.

    Begitu pula puisi-puisi dalam buku ini, yang bila dirangkai bersama-sama, menciptakan harmoni keindahan yang menyentuh rasa.

    Rimbun Kata Teduhkan Rasa, sebuah frasa yang menjadi jiwa buku ini, lahir dari harapan bahwa setiap puisi yang tertuang mampu memberikan keteduhan dan kenyamanan bagi siapa saja yang membacanya.

    Puisi-puisi ini adalah refleksi dari berbagai rasa: bahagia, duka, rindu, dan syukur. Puisi-puisi ini ditulis dengan harapan dapat menyapa hati pembaca, menggugah kenangan, dan menghadirkan kedamaian.

    Buku ini penulis persembahkan teruntuk almarhum ayahanda tercinta, sosok yang menjadi teladan dalam mencintai dunia literasi.

    Lewat kecintaannya dalam membaca dan menulis, menanamkan benih-benih semangat dan konsistensi sehingga karya ketiga dengan judul “Rumah Ilalang – Rimbun Kata Teduhkan Rasa” ini bisa terbit.

    Dalam perjalanan menulis buku ini, penulis menyadari bahwa puisi adalah cara terbaik untuk merekam jejak perasaan.

    Seperti halnya ilalang yang tumbuh liar di tanah yang luas, puisi-puisi ini lahir dari berbagai sudut pandang serta pengalaman.

    Mereka adalah teman di saat sunyi, penghibur di kala sedih, dan penanda syukur di saat bahagia.

    Semoga buku ini menjadi rimbunan kata yang mampu meneduhkan rasa, seperti rindang ilalang di bawah sinar senja.

    Selamat membaca, dan semoga Anda menemukan keteduhan dan inspirasi dalam setiap bait yang tertuang.

    Salam hangat,

    Andi Budi Setiawan

  • Hasan Ali ‘Neko’ Nong Peluncuran Puisi Basa Using Suwidak Siji Karya Jaenuri NZ

    Hasan Ali ‘Neko’ Nong Peluncuran Puisi Basa Using Suwidak Siji Karya Jaenuri NZ

    Kumpulan 61 undharasa Using kanggo nyuguhaken sugihe budaya karya Drs. Ir. Jaenuri NZ, M.Pd Meluncur dino Ahad, 8 Desember 2024 ning LKP ambi TBM ELIT Lemahbang Dewo Rogojampi.

    Undharasa iki kanggo kado rabine hang diwelasi hang wis purnatugas dadi guru ring SMPN 2 Rogojampi setaun sabene: Dra. Yayuk Werdi Arini, MM hang umure 61 ambi kanggo kutha kelahiran hang wis ke-253 taun sakmarine Perang Puputan Bayu 18 Desember 1771.

    Buku Suwidak Siji (61) iki kumpulan ghurit hang ping 2 sakmarine taun sabene temane telulikur (23) mergo jumlah puisi 23 lan makna niat hajate.

    “Dongakno kesat terus nggawe puisi 99 Asmaul Husna dadi taun ngarep kene kumpul maning.Wis ana modal 23 puisi awal hang durung ISBN mung wis nyebar gratis nong 200 an SD/MI!” Jare penggowes onthel lan petani bonsai iki.

    Budayawan Aekanu Haryono seneng nyang kancane iku hang padha pinter Basa Inggris ambi miloni nerbitaken buku kanggo amal jariyah nyang generasi bangsa.

    “Selamat, prof Nuri spesial puisi bahasa dhaerah using hang saktemene kanggo tanah kelahiran!” Jare pendongeng wayang jajang hang seneng berudeng, kaos lukis gandrung ambi sarungan batik iki hang nyelipaken lagu nasional tepak cerita ring ngarepe lalare. Iyane uga siap sosialisasi karya bukune ring sekolah ambi sanggar sanggar seni.

    Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Drs. Hasan Basri tambah apresiasi seru nyang Kang Nuri hang melaku ring dalan hang bener ngeluri karyane nong dalan uripe hang endah nong keluarga, agama uga nulihi sak ubenge kauripan kuno nyang anak putu ambi generasi ring rejane jaman.

    “Kadhung gedigi isun iling ruwahe Hasan Ali hang sabar telaten muputi kosa kata hang suwi kependem!” jare guru agama SMPN 1 iki  ambi suaro mesesegen lan banyu moto ngoco.

    Acara hang diselingi maca puisi, pidato lan ngewer soko murid SMPN 3 Rogojampi hang prestasi nong Festival Sastra Using Dispendik iku, digongi sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taufik Rohman, M.Si hang ngarep klendi karya sewidak siji iso gadhuk nong murid lan biso diakses ikawangi lewat e-book.Selamat lan kesuwun nambah nilai ana karya tulis hang langka iki!” jare wong Alas Malang Singojuruh iki ambi nompo buku bareng 45 undangan liyane.

    Undangan antara lain pencipta lagu,penyiar radio komunitas, wartawan, Youtuber Eko Ndut, seniman, pawang, guru, EO lan pegiat literasi.

    Marek gesah apresiasi soko hang hadir, penulis jawab,

    “Pastine buku terbitan Ide Bangsa Yogyakarta hang ISBN: 978-623-89159-6-5, sak durunge isun koreksi ambi kamus bahasa using Hasan Ali hang dadi cekelane mulok. Hang teka ulih buku  ambi madhang ngombe khas bumi belambangan.Hang hing teka monggo gandakno dewek.Hun papag tekan ndiko dulur lan bisa tahun ngarep lomba maca undharasa karya isun trophy souvenir ELIT Kiling Osing!” angene.

    Pemandu gesah Bung Aguk Darsono ugo pimpin dungo kirim Al Fatehah kanggo tuan rumah mugo kian samawa berkah keluargane lan ikhlase dulur kirim dungo kanggo arwahe Hasan Ali, Hasnan Singodimayan, AK Armaya, Andang CY, Bashir Nurdian, Sutejo Hadi, Sayun, Suoinah, Indra Gunawan lan pahlawan seniman budayawan Belambangan liyane: Al Fatehah!

  • Bangun Komunitas Hang Kuat Lan Ikhlas

    Bangun Komunitas Hang Kuat Lan Ikhlas

    Banyuwangi – Sawijining lokakarya kang nginspirasi dianakake dening KOPAT (Komunitas Osing Peduli Adat Tradisi), hang nyorot pentinge peran perkumpulan lan yayasan ugo komunitas nong masyarakat.

    Acara hang ditekani macem-macem komunitas nong Banyuwangi iki koyoto RAPI 01, GBOT, BOB, Komunitas peduli difabel Aura Lentera, Perkumpulan Komunitas Gotongroyong45, Kolase, DKB, Omahsium ugo media peduli seni budaya Jurnalnews ngadiraken narasumber kang nginspirasi, Ir. Wowok Meirianto, M.T. lan Dr. Aqua Dwipayana, nong Waroeng Kemarang, Jumat (22/11/24).

    Dikawiti tampilan tari Gandrung hang  Istimewahe kerana hang nari lan panjake teko para pegawai waroeng hang wis ulih sertifikat sehat lan sadar pajak Iki.

    Ketua KOPAT Wowok Meirianto, nguweni pangertian hang jeru babagan perbédan antarane perkumpulan lan yayasan.

    Iyane nyeritakaken pentingie peran anggota nong sawijining perkumpulan cara mbangun komunitas hang ulet lan kreatif plus milu aturan negara yoiku duwe akte pendirian AHU Menkumham lewat notaris lan kulonuwun nong Bakesbangpol lewat RT sulung ugo keterangan domisili kepala desa.

    Penulis buku best seller The Power of Silaturahmi Dr. Aqua Dwipayana, motivator hang misuwur, nguweni motivasi pangalaman pribadi kelenddhi kesaktiyane silaturahmi lan kerjasama nong njeroni mbangun komunitas.

    Iyane ugo maparaken lima prinsip urip kang biso digawe ugeman mbagun organisasi. Yoiku; ngèti, sabar, syukur, ikhlas, lan andhap asor.

    Salah sijine fokus wigati hang  efektif, saling ngurmati, lan mikir positif ning njeroni komunitas.

    Saliyani kalawirani ugo nyeritakaken pentinge kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, lan kerja tuntas. Supoyo biso nggayuh tujuan bebarengan.

    Sesi pitakonan lan jawaban hang kalaksanakaken kanthi antusias nuduhake semangat para peserta kang kepengin ngebangno babagan pangelolaan komunitas. Ana hang takon strategi, ide, legalitas lan ngelanggengaken komunitas. 

    Acara ditutup pas jam 21.45 di akhiri Kang  Teguh Eko Rahadi Kades Tamansuruh nguweni kenang kenangan batik gajah Oling ugo soben-soben kesuwun gelem silaturahmi ugo gesah nong 100 uwong hang daftar sulung Iki.

    Aqua nyenengno kabeh diterusaken potrek bareng.

    “Pengalaman plus jiwa religiusnya serta video inspiratif nya menggugah peduli sosial kita dan terus bersyukur Ambi hing lali bahagia!” ungkap Mbok Yeti Chotimah, Ketua MGMP Bahasa Using SMP ambi njaluk tandatangan nong buku anyar tentang jebeng thulike Aqua: Alira & Avero.

  • Olimpiade Literasi KOPIWANGI 2024 Sukses Digelar, Antusias Pelajar Banyuwangi pada Literasi Kian Meningkat

    Olimpiade Literasi KOPIWANGI 2024 Sukses Digelar, Antusias Pelajar Banyuwangi pada Literasi Kian Meningkat

    Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia, Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) menggelar Olimpiade Literasi Baca Puisi dan Bercerita, Minggu (27/10/2024).

    Event ini menjadi ajang istimewa bagi para pelajar untuk mengeksplorasi kemampuan literasi dalam atmosfer yang penuh semangat dan apresiasi terhadap karya sastra.

    Program Olimpiade ini adalah implementasi dari salah satu program unggulan KOPIWANGI yang bertujuan mengembangkan keterampilan literasi bagi anggotanya maupun peserta didik di seluruh Banyuwangi.

    KOPIWANGI sebagai komunitas literasi terus mengedepankan tiga program utama, antara lain:

    1. Pelatihan, pendampingan sampai penerbitan karya untuk anggota KOPIWANGI maupun peserta didik.

    2. Mengadakan event literasi baik via daring atau pun luring diantaranya lomba cipta puisi, lomba menulis esai, lomba baca puisi, bercerita sampai menulis buku bersama.

    3. Program pemberdayaan untuk anggota KOPIWANGI maupun peserta didik.

    Olimpiade Baca Puisi dan Bercerita ini merupakan bagian dari program literasi KOPIWANGI yang kedua, yakni penyelenggaraan berbagai kompetisi literasi.

    Ratusan Peserta Antusias dari Berbagai Sekolah

    Olimpiade Literasi ini diikuti oleh 123 peserta dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA di Banyuwangi.

    Dalam kategori lomba Baca Puisi, tercatat 91 peserta dengan rincian 42 dari SD/MI, 33 dari SMP/MTs, dan 16 dari SMA/SMK/MA.

    Sedangkan lomba Bercerita diikuti oleh 32 peserta yang terdiri dari 14 peserta SD/MI, 9 peserta SMP/MTs, dan 9 peserta SMA/SMK/MA.

    Setiap kategori mempertandingkan kemampuan peserta dalam menyampaikan makna puisi dan cerita dengan ekspresi dan emosi yang kuat.

    Ajang ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi pelajar untuk mengasah bakat dalam bidang literasi sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap sastra Indonesia.

    Adapun dewa juri yang terlibat dalam Olimpiade Literasi Baca Puisi & Bercerita diantaranya H. Abdullah Fauzi penulis sastra asal Banyuwangi, Maulana Affandi direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus pimred dari media sastrawacana.id/ dan Tawangalun.com, dan kak Putri Nurul Azizah yang merupakan penulis Balai Besar Bahasa Provinsi Jawa Timur.

    Daftar Pemenang Olimpiade Literasi Baca Puisi dan Bercerita

    Berikut adalah daftar para juara dalam masing-masing kategori:

    Lomba Baca Puisi Jenjang SD/MI

    Juara 1: Sakura Nohana P

    Juara 2: RR Qyara Arkana P

    Juara 3: Avilla Fikratus P.Y

    Juara Harapan 1: Syifa Aulia

    Juara Harapan 2: Atika Zahra R

    Juara Harapan 3: Daffa Adiba Y

    Lomba Baca Puisi Jenjang SMP/MTs

    Juara 1: Sirojun Nawafil

    Juara 2: Sofhiatur Rizkia P

    Juara 3: Andri Maulana

    Juara Harapan 1: Ilham

    Juara Harapan 2: Rafa Tabina P

    Juara Harapan 3: Isma Ayu Arifin

    Lomba Baca Puisi Jenjang SMA/SMK/MA

    Juara 1: Ana Hurin M J

    Juara 2: Dewi Puspita

    Juara 3: Queen Fatimatus Zahra

    Juara Harapan 1: Novi Fitriatul M

    Juara Harapan 2: M. Rizky Yulleo

    Juara Harapan 3: Akmal Deban

    Lomba Bercerita Jenjang SD/MI

    Juara 1: Avila Fikratus Putri Y

    Juara 2: Muhammad Hafis Mahardika

    Juara 3: Alya Ayu Putri Sasaki

    Juara Harapan 1: Jophian Abid Aqila Pranaja

    Juara Harapan 2: Atika Zahra Ratifa

    Juara Harapan 3: Marsya Adelia Vanda

    Lomba Bercerita Jenjang SMP/MTs

    Juara 1: Siska Anindita

    Juara 2: Hudansyah Ahmad Madhani

    Juara 3: Friska Bahtiar R

    Juara Harapan 1: Melan Agustian Ramadhani

    Juara Harapan 2: Ivana Prita Nabila

    Juara Harapan 3: Dina Ayudyah Putri Wahyudi

    Lomba Bercerita Jenjang SMA/SMK/MA

    Juara 1: Nur Alyuni Citra

    Juara 2: Gita Maharani

    Juara 3: Virdiana Agustina

    Juara Harapan 1: Irma Wildani Silvia

    Juara Harapan 2: Mareta Maulida Putri

    Juara Harapan 3: Risma Nur Aini Reza

    Kehadiran Maestro Sastra D. Zawawi Imron

    D. Zawawi Imron di Olimpiadi Literasi KOPIWANGI
    D. Zawawi Imron di Olimpiadi Literasi KOPIWANGI

    Momen istimewa dalam Olimpiade Literasi ini adalah hadirnya maestro sastra nasional, D. Zawawi Imron, yang dikenal dengan julukan “Celurit Emas”.

    Meskipun memiliki agenda padat di Banyuwangi, D. Zawawi menyempatkan hadir untuk memberikan motivasi kepada peserta olimpiade.

    Dengan senyum penuh ketulusan, beliau duduk bersama para peserta dan guru pendamping, menyampaikan nasihat dan inspirasi bagi generasi muda yang memiliki minat di dunia literasi.

    Sebagai bentuk penghargaan dan kecintaannya terhadap literasi, D. Zawawi juga membacakan puisi berjudul “Ibu”, yang menggetarkan hati dan membuat para hadirin terpukau.

    Dalam suasana yang penuh kehangatan, beliau mengakhiri sesi dengan sebuah pantun perpisahan yang disambut tepuk tangan meriah dari para peserta dan guru.

    Olimpiade Literasi sebagai Agenda Tahunan

    Selain menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan minat baca puisi dan bercerita, olimpiade ini juga bertujuan untuk mempererat komunitas literasi di Banyuwangi.

    Dengan dukungan dari berbagai pihak, KOPIWANGI berharap Olimpiade Literasi ini dapat diselenggarakan setiap tahun sebagai agenda rutin.

    Hal ini diharapkan akan menjadi langkah nyata dalam memperkuat budaya literasi, serta memberikan kesempatan bagi anggota komunitas literasi untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

  • Penyair Goes to School di MTsN 10 Banyuwangi Hidupkan Semangat Sastra di Hati Pelajar

    Penyair Goes to School di MTsN 10 Banyuwangi Hidupkan Semangat Sastra di Hati Pelajar

    Kegiatan Penyair Goes to School dalam rangka Jambore Sastra Asia Tenggara berlangsung meriah di Aula MTsN 10 Banyuwangi pada Jumat, 25 Oktober 2024.

    Acara ini mengundang perhatian banyak pihak, khususnya para siswa yang hadir dengan antusias.

    Dua narasumber utama yang turut hadir dan berbagi ilmu dalam acara tersebut adalah Siswanto, S.Pd., M.A., dan Aekanu Haryono.

    Sebagai informasi, Siswanto, S.Pd., M.A., adalah seorang penyair asal Sumenep yang kini juga mengajar di Universitas Jember.

    Sementara Aekanu Haryono adalah Ketua Komunitas Killing Osing Banyuwangi serta anggota Majelis Kehormatan Dewan Kesenian Belambangan.

    Dalam kesempatan ini, Siswanto memberikan materi tentang teknik menulis sastra.

    Dengan gaya penyampaian yang inspiratif, ia mengajak para siswa untuk lebih mendalami dunia kepenulisan sastra, baik dari segi kreativitas maupun teknik.

    Siswanto menyampaikan berbagai tips penting tentang bagaimana memulai dan mengembangkan karya sastra yang berkualitas.

    “Saya kagum dengan kecepatan siswa MTsN 10 Banyuwangi dalam menyerap teknik menulis puisi yang berakar pada kearifan lokal Banyuwangi. Siswa di sini mumpuni dalam keterampilan menulisnya, dan kami terkejut dengan kualitas puisi-puisi yang mereka sajikan. Potensi ini harus terus dijaga dan dikembangkan agar semakin baik,” ungkap Siswanto, yang merupakan alumni FKIP Universitas Jember dan Universitas Gadjah Mada.

    Di sisi lain, Aekanu Haryono, seorang pemandu wisata terkenal di Banyuwangi, berbagi wawasan mengenai pentingnya sastra dan budaya lokal dalam membentuk identitas bangsa.

    Karya-karya Aekanu, seperti bukunya yang berjudul Sri Tanjung Hidup Lagi, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, menandakan tingginya apresiasi terhadap sastra lokal di tingkat internasional.

    Aekanu menekankan bahwa menulis karya sastra yang berakar pada tradisi dan kearifan lokal adalah cara untuk menjaga identitas budaya bangsa.

    Kepala MTsN 10 Banyuwangi, Sugeng Maryono, S.Pd., M.M., menyampaikan rasa terima kasih kepada para penyair dan pihak penyelenggara.

    “Kami sangat berterima kasih, MTsN 10 Banyuwangi terpilih menjadi salah satu lokasi kegiatan Penyair Goes to School. Semoga kegiatan ini memberikan motivasi dan inspirasi bagi anak-anak untuk mengenal lebih dalam dunia sastra dan menulis,” ungkapnya.

    Para siswa sangat antusias dengan kesempatan berdialog langsung bersama kedua penyair tersebut.

    Acara ini diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk semakin mencintai sastra, baik sebagai wujud kebudayaan maupun sebagai sarana pengembangan diri.

    Sebagai tuan rumah, MTsN 10 Banyuwangi menampilkan berbagai pertunjukan seni sebagai bentuk penyambutan, termasuk tari, pembacaan puisi, dan Lomba Keterampilan Baris-Berbaris (LKBB) yang sebelumnya meraih juara dalam kegiatan Dispora dan Radar Banyuwangi.

    Setelah acara, para tamu diajak menikmati hidangan ikan bakar di pantai Blimbingsari.

    Salah satu narasumber, yang kerap mengantar misi seni budaya Banyuwangi ke seluruh Nusantara dan mancanegara, menyatakan kekagumannya.

    “Kami ini tukang potret, tapi karena terpukau dan menikmati penyambutan dari warga pendidikan MTsN 10, kami bahkan lupa mengambil gambar, apalagi video!” ujarnya.

    Acara Penyair Goes to School ini tidak hanya memberikan pengalaman berharga bagi para siswa, tetapi juga mempererat hubungan antara pelajar, seniman, dan masyarakat yang peduli pada kemajuan sastra di Banyuwangi.

  • 11 Tokoh Sastra Dunia yang Menginspirasi Perkembangan Sastra Modern

    11 Tokoh Sastra Dunia yang Menginspirasi Perkembangan Sastra Modern

    Sastra dunia adalah harta karun yang penuh dengan kisah, emosi, dan kebijaksanaan dari berbagai budaya.

    Dari zaman klasik hingga modern, tokoh-tokoh sastra memberi pengaruh besar yang melampaui batas waktu dan geografis.

    Mereka tidak hanya menciptakan karya-karya terkenal, tetapi juga memberikan inspirasi dan wawasan yang relevan hingga hari ini.

    Dari puisi yang penuh makna hingga novel yang menggugah pemikiran, para penulis ini meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi pembaca di seluruh dunia.

    Nah, buat kamu yang ingin belajar sastra, berikut ini adalah nama dari para tokoh sastra dunia yang menjadi inspirasi bagi sastrawan generasi selanjutnya.

    Tokoh Sastra Dunia Abad Pertengahan – Abad Pencerahan

    Pada periode Abad Pertengahan hingga Abad Pencerahan, dunia sastra mengalami perkembangan yang signifikan.

    Masa ini menyaksikan lahirnya karya-karya yang tidak hanya mempengaruhi pemikiran zaman itu, tetapi juga membentuk fondasi bagi literatur modern.

    Para tokoh sastra dari periode ini dikenal dengan karya-karya mereka yang menggugah imajinasi, menantang norma-norma sosial, dan mendorong batasan intelektual.

    1. Geoffrey Chaucer (1343-1400)

    Geoffrey Chaucer dikenal sebagai “Bapak Sastra Inggris” karena peran pentingnya dalam mengembangkan bahasa Inggris sebagai medium sastra.

    The Canterbury Tales, karya monumentalnya, yakni kumpulan cerita yang disampaikan oleh sekelompok peziarah.

    Setiap cerita dalam karya ini membawa satir sosial yang tajam, mencerminkan kondisi masyarakat Inggris pada masa itu.

    2. William Shakespeare (1564-1616)

    William Shakespeare
    William Shakespeare (engoo)

    William Shakespeare adalah salah satu tokoh sastra yang paling terkenal di dunia. Karyanya mencakup berbagai genre, termasuk drama, puisi, dan tragedi.

    Shakespeare dikenal dengan kemampuannya menggambarkan karakter dan emosi manusia dengan mendalam. Tema cinta, ambisi, dan moralitas dalam karyanya tetap relevan hingga saat ini, menjadikannya ikon dalam dunia sastra.

    Karya William Shakespeare yang cukup terkenal diantaranya Hamlet, Romeo and Juliet, Macbeth

    3. Miguel de Cervantes (1547-1616)

    Miguel de Cervantes
    Miguel de Cervantes (theneweuropean)

    Miguel de Cervantes adalah penulis Spanyol yang terkenal dengan karyanya Don Quixote, yang dianggap sebagai novel modern pertama.

    Karya ini adalah satire yang menggambarkan petualangan seorang pria yang terobsesi dengan ide-ide kesatria.

    Don Quixote mengeksplorasi tema ilusi versus realitas dan kritik sosial terhadap masyarakat Spanyol pada zamannya.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 19

    Abad ke-19 merupakan era emas bagi dunia sastra, di mana sejumlah penulis besar muncul dengan karya-karya yang revolusioner dan mendalam.

    Pada masa ini, sastra menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan perubahan sosial, menggali kompleksitas manusia, dan mengekspresikan keindahan serta tragedi kehidupan.

    Berikut adalah beberapa tokoh sastra dunia dari abad ke-19 yang karyanya terus menginspirasi hingga saat ini.

    4. Leo Tolstoy (1828-1910)

    Leo Tolstoy
    Leo Tolstoy (piramida)

    Leo Tolstoy adalah penulis Rusia yang karyanya dianggap sebagai puncak sastra realisme. War and Peace adalah epik sejarah yang menggambarkan kehidupan masyarakat Rusia selama invasi Napoleon.

    Anna Karenina mengeksplorasi tema cinta, keluarga, dan moralitas. Tolstoy memiliki kemampuan luar biasa dalam menggambarkan kompleksitas karakter manusia dan kehidupan sosial.

    5. Charles Dickens (1812-1870)

    Charles Dickens
    Charles Dickens (oboolo)

    Charles Dickens adalah salah satu penulis Inggris yang paling produktif dan berpengaruh. Karyanya sering mengangkat isu sosial, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan eksploitasi anak.

    Dickens dikenal dengan karakter-karakter yang kuat dan alur cerita yang penuh dengan emosi dan kritik sosial.

    Beberapa karya Charles Dickens yang terkenal diantaranya A Tale of Two Cities, Great Expectations, Oliver Twist

    6. Emily Brontë (1818-1848)

    Emily Brontë
    Emily Brontë (thefamouspeople)

    Emily Brontë adalah penulis Inggris yang dikenal dengan satu-satunya novelnya, Wuthering Heights.

    Karya ini merupakan eksplorasi intens tentang cinta, pembalasan, dan kehancuran diri dalam lingkungan yang keras.

    Wuthering Heights dianggap sebagai salah satu karya sastra paling unik dan menantang dalam literatur Inggris, dengan narasi yang inovatif dan kompleks.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 20

    Abad ke-20 menandai periode penting dalam dunia sastra, di mana para penulis bereksperimen dengan gaya, tema, dan teknik baru untuk mencerminkan kompleksitas zaman yang penuh perubahan.

    Era ini dipenuhi dengan peristiwa besar seperti perang dunia, revolusi, dan transformasi sosial yang mempengaruhi karya sastra secara mendalam.

    Para tokoh sastra dari abad ke-20 tidak hanya menangkap esensi zaman mereka, tetapi juga mempengaruhi cara kita memahami dunia dan diri kita sendiri.

    Mari kita mengenal lebih jauh para tokoh sastra dunia dari abad ke-20 yang meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam sejarah literatur.

    7. Franz Kafka (1883-1924)

    Franz Kafka
    Franz Kafka (deutschland)

    Franz Kafka adalah penulis Ceko yang karya-karyanya terkenal dengan nuansa absurditas dan alienasi.

    Istilah “Kafkaesque” digunakan untuk menggambarkan situasi yang aneh dan tidak masuk akal seperti yang digambarkan dalam karya-karyanya.

    The Metamorphosis dan The Trial mengeksplorasi tema identitas, birokrasi, dan ketidakberdayaan individu dalam menghadapi kekuatan besar.

    8. James Joyce (1882-1941)

    James Joyce
    James Joyce (catholicregister)

    James Joyce adalah salah satu tokoh utama dalam gerakan modernisme sastra.

    Karyanya Ulysses dianggap sebagai salah satu novel terpenting dalam sastra Inggris abad ke-20. Joyce dikenal dengan eksperimen dalam struktur naratif dan penggunaan bahasa.

    Karyanya penuh dengan alusi budaya, menjadikannya tantangan sekaligus keindahan untuk dibaca.

    9. Gabriel García Márquez (1927-2014)

    Gabriel García Márquez
    Gabriel García Márquez (humanidades)

    Gabriel García Márquez adalah penulis Kolombia yang menjadi pelopor gerakan realisme magis.

    One Hundred Years of Solitude adalah novel epik yang menggambarkan kehidupan keluarga Buendía selama beberapa generasi, di mana realitas dan fantasi bercampur dengan harmonis.

    Karya-karyanya sering menggambarkan kehidupan di Amerika Latin dengan campuran mitos dan realitas, yang menciptakan narasi yang kaya dan penuh warna.

    Beberapa karya Gabriel García Márquez yang terkenal diantaranya One Hundred Years of Solitude, Love in the Time of Cholera.

    Tokoh Sastra Dunia dari Abad 21

    Abad ke-21 membawa dunia sastra ke dalam era baru yang ditandai dengan globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial yang cepat.

    Para penulis dari masa ini menghadapi tantangan dan peluang yang unik, menciptakan karya-karya yang mencerminkan kompleksitas dunia modern.

    Dengan gaya yang beragam dan tema yang mencakup berbagai aspek kehidupan kontemporer, para tokoh sastra abad ke-21 terus mendorong batasan kreativitas dan menghubungkan kita dengan berbagai realitas yang ada di seluruh dunia.

    10. Haruki Murakami

    Haruki Murakami adalah penulis Jepang yang karya-karyanya dipengaruhi oleh budaya pop Barat dan elemen surealisme.

    Tema-tema seperti kesepian, realitas alternatif, dan pencarian jati diri sering muncul dalam novelnya.

    Murakami dikenal dengan gaya naratif yang halus dan atmosfer yang melankolis, yang membuat karyanya menjadi favorit di kalangan pembaca global.

    Beberapa karyanya yang terkenal seperti Kafka on the Shore, Norwegian Wood.

    11. Chimamanda Ngozi Adichie

    Chimamanda Ngozi Adichie adalah penulis Nigeria yang karya-karyanya membahas isu-isu identitas, feminisme, dan postkolonialisme.

    Half of a Yellow Sun menggambarkan Perang Saudara Nigeria, sementara Americanah mengeksplorasi pengalaman imigran Afrika di Amerika.

    Adichie adalah suara penting dalam sastra kontemporer yang memberikan perspektif baru tentang Afrika dan peran wanita dalam masyarakat.

    Pengaruh Tokoh Sastra Dunia Terhadap Sastra Modern

    Pengaruh tokoh sastra dunia tidak hanya terasa pada masanya, tetapi juga membentuk landasan bagi perkembangan sastra modern.

    Melalui karya-karya mereka yang inovatif dan pemikiran yang mendalam, para penulis besar ini telah menginspirasi generasi penulis berikutnya untuk mengeksplorasi tema baru, bereksperimen dengan gaya penulisan, dan menantang konvensi yang ada.

    Dari narasi eksistensial hingga kritik sosial, warisan mereka terus mempengaruhi cara kita menulis dan memahami sastra hari ini.

    Peninggalan Sastra dan Inspirasi

    Tokoh-tokoh sastra ini tidak hanya menghasilkan karya-karya yang hebat, tetapi juga memberikan inspirasi yang mendalam bagi penulis-penulis generasi berikutnya.

    Mereka membentuk dasar-dasar sastra modern, menciptakan gaya dan tema yang masih diadopsi dan dikembangkan hingga hari ini.

    Pengaruh mereka terlihat jelas dalam berbagai bentuk sastra kontemporer, dari novel hingga drama dan puisi.

  • Memoar Veteran IGB. Sudharma Tertata Rapi dalam Rajutan Diksi

    Pengantar

    Ketika Senja Tak Menutup Fatamorgana
    Maulana Affandi

    Seutas kata terlahir dari kisah nyata, semua yang telah dipersembahkan untuk negeri tercinta bukan cuma omong belaka.

    Kendati senja menanti, gejolak fatamorgana jiwa terus berevolusi yang akhirnya berubah jadi inspirasi.

    Itulah I.G.B. Sudharma. Bolehkah kusebut ia pahlawan? Jasa dan pengabdiannya melekat dalam cerita semesta.

    Realitanya, usia ibarat bom yang akan meledak pada waktunya. Namun, bagi Sudharma, usia tak ubahnya hanya sebuah angka.

    Dalam perjalanan waktu menuju angka baru, selalu ada hal baru yang Sudharma lakukan untuk menyelami betapa pentingnya memaknai kehidupan.

    Semua kenangan indahnya tertata rapi dalam rajutan diksi. Memoar yang bisa memberi inspirasi untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi.

    Perjalanan asmara yang dicipta pun turut membakar naluri setiap insan yang memiliki hati nurani.

    Teringat ucapan Benjamin Franklin, seorang negarawan Amerika (1706 – 1790):

    “Orang-orang yang bisa mencintai secara mendalam, tidak akan pernah tua. Mungkin mereka meninggal dalam usia tua, tapi jiwa mereka tetap muda.”

    Bisa dibilang, kecintaan Sudharma kepada negara dan keluarga membuat jiwanya selalu muda.

    Tersadar, kisah yang dibagikan oleh Sudharma mampu menusuk relung, membangkitkan semangat dan kekuatan cinta yang nyaris pudar.

    Pada akhirnya, Sudharma melalui karyanya mengingatkan bahwa bukan apa hasil yang telah kita torehkan, tapi bagaimana kita mendapatkan hasil tersebut.

    Dari sini kisah itu dimulai…

    Maulana Affandi, 27/7/2024.

    Biodata IGB. Sudharma

    • Nama Lengkap: I.G.B. Sudharma
    • Awal Karier: Tahun 69/70, Pusdik BRIMOB WATUKOSEK JATIM
    • Istri: Siti Nuroniyah (Alm)
    • Masuk Timtim: Tahun 1975
    • Hobi: Jiutinsido
    • Saat ini: Dewan Pertimbangan Veteran Banyuwangi

    Merajut Asa Menggapai Cita

    Setelah setahun aku menikah dan bertugas di Kesatuan Brimob Kompi 34/BS Timor Kupang, aku mengajukan pindah ke Denpasar Bali bersama Rofik Jaelani.

    Kendati demikian, aku tetap melatih anggota keprajuritan dalam taktik dan teknik pertempuran (Pertahanan dan Penyerangan) Perang Kota sesuai dengan perintah Dan Kompi, sambil menunggu SK Pindah keluar.

    Hal ini dilakukan setiap hari Rabu dan Kamis untuk menjaga dan mengasah naluri tempur mereka agar tetap terampil serta bertanggung jawab sebagai prajurit petarung. Dalam hal ini aku dibantu oleh Kopda Rianto.

    Sore harinya, aku menghilangkan penat dengan meluangkan waktuku dengan mengajak Istriku dan adik angkatku ke pantai Gembira Loka yang berada di depan asrama.

    Kami menggelar karpet di bawah pohon ketapang yang cukup rindang sambil memandang ke laut lepas. Kadek Urip membuat perapian dari ranting kayu kering untuk mengusir nyamuk dan penghangat badan.

    Senja mulai naik, sang surya mulai masuk ke peraduannya meninggalkan cahaya merah kemilau, membias pada air laut, bagai mutu manikam yang terhampar di permadani biru.

    Gemercik air laut yang terempas di pantai, diiringi nyanyian serangga malam bagaikan nyanyian surgawi yang dilantunkan oleh para dewa dewi.

    Anganku melayang jauh menembus batas imajinasi, betapa indah lukisan alam, ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Aku mendesah dalam hati.

    “Ternyata pantai Gembira Loka mempunyai keindahan tersendiri yang tak banyak orang tahu dan pantai ini akan aku tinggalkan bila SK keluar.”

    Saat aku tenggelam dalam lamunan, aku dikejutkan dengan pertanyaan istriku tercinta “Mas, sampean apa tidak capek dan jenuh dengan rutinitas seperti itu?” tanyanya.

    “Ya pasti capek lah, Sayang,” jawabku, sambil mencium pipinya yang merah merona.

    “Semua itu sudah tanggung jawabku untuk mendidik mereka menjadi prajurit yang aandal di setiap medan, maupun bergerak cepat dan senyap, bernyali besar dan tak gampang menyerah di situasi sesulit apapun. Karena menyerah merupakan keputusan terburuk bagi seorang prajurit. Untuk itulah aku melatih, memotivasi dan mendoktrin mereka untuk menjadi prajurit petarung yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi,” jawabku.

    “Waduh! Berat juga jadi prajurit ya, Mas,” sahut istriku menanggapi.

    “Kenapa? Sampean menyesal menjadi istri seorang Prajurit Brimob?” kataku meledeknya.

    Dia pun menjawab dengan bersungut, “Siapa yang menyesal, Mas?

    Hanya orang bodoh yang menyesal menikahi suami yang gagah, tampan, bertanggung jawab dan sangat menyayangi Istrinya,” ucapnya sambil mencubit pinggangku.

    Setelah suasana mulai tenang, istriku berkata “Mas, aku ada ide.”

    “Ide apa?” tanyaku padanya

    “Gini, Mas, gimana kalau hari Minggu kita buat rekreasi untuk anggota remaja dan bujangan di pantai ini?”

    “Caranya gimana?” tanyaku

    “Gampang, Mas,” jawab istriku.

    Lalu dia melanjutkan, “Kita buat yang murah meriah saja. Besok aku beli tahu dan tempe di Pak Topo, Mas beli tulangan sapi dan dua ikat daging se’e, tomat, lombok dan terasi. Akan aku buat sambal goreng tahu tempe dan sayur sop, serta sambal tomat dan jangan lupa beberapa ikat serai dan jahe untuk membuat minuman sehat.”

    “Wah.. Cerdas juga istriku ini,” ucapku memujinya, namun aku bertanya setelahnya, “Lah, terus nasinya gimana?”

    “Suruh bawa sendiri saja, Mas, jadi kita tidak terlalu capek untuk menyiapkannya,” jawabnya dengan mata berbinar.

    Keesokan harinya, aku membicarakan ide istriku pada Rianto dan Nahrawi. Mereka sangat mendukung dan berjanji akan membantu sepenuhnya.

    Hal ini juga mereka umumkan pada anak remaja, khususnya yang lepas jaga atau on call.

    Minggu pagi Rianto dan Nahrawi beserta istri masing-masing datang ke rumah untuk mengambil sambal goreng yang telah matang serta membawa dandang besar untuk membuat minuman sehat.

    Sedangkan Kadek Urip telah lebih dulu membawa karpet dan air bersih ke lokasi tempat rekreasi.

    Jam 08.15 WITA semua masakan telah siap termasuk minuman sehat racikan Istriku yang terdiri dari sereh, jahe dan daun salam serta gula merah.

    Anggota Brimob lainnya pun beramai-ramai datang ke lokasi dengan membawa serantang nasi dan mug komando tempat air minum.

    Setelah itu mereka membuka dan menyusun rantang dan barang masing-masing.

    Mereka pun mulai bermain sesuai hobi, ada yang bermain voli dengan bola plastik, ada juga yang mandi di pantai.

    Semua ini berlangsung hingga jam 11.00 siang, lalu ibu Nahrawi dan ibu Rianto sibuk membagi lauk dan sayur kepada anggota masing-masing.

    Jam 11.30 semuanya berakhir dengan penuh suka cita, mereka semua berharap agar hal ini bisa terulang setiap minggu atau dua minggu sekali.

    Pada hari Senin setelah apel pagi, aku diperintahkan piket untuk menghadap Dan Kii ke rumahnya bersama istri pada jam 18.00 WITA, aku mengatakan “Siap”.

    Pada pada jam 18.00 WITA aku dan Istriku menuju rumah Dan Kii untuk memenuhi perintahnya.

    Setiba di rumahnya, kami telah ditunggu dan disambut oleh Dan Kii dan Istrinya. Kami pun dipersilakan duduk di ruang tamu dan disuguhi teh panas dan ubi rebus.

    Dan Kii pun menanyakan perihal rekreasi pada hari Minggu kemarin.

    Aku pun mengatakan bahwa “Itu adalah ide Istri saya, selebihnya biarlah istri saya yang menjelaskan”.

    Lalu, istriku pun menjelaskan dengan rinci, bahwa dengan biaya yang minim cukup untuk menghilangkan penat setelah seharian berlatih. Kegiatan ini dibantu oleh Bapak Rianto dan Bapak Nahrawi dengan Ibu.

    Dan Kii sangat mengapresiasi kegiatan ini, setelah cukup lama berbincang kami pun pamit pulang.

    Setiba kami di barak, Tamtama Remaja pun sedang menunggu kedatangan kami untuk menanyakan perihal panggilan Dan Kii yang kami jawab bahwa Dan Kii merespon baik kegiatan kita, disambut dengan suka cita oleh mereka.

    Setelah mereka puas dengan keterangan kami, mereka pun kembali ke Barak Bujang.

    Keesokan harinya setelah apel pagi sebelum latihan DAKHURA aku menceritakan respons positif Dan Kii dan kami pun merancang kegiatan Minggu depan dengan sayur asem dan ikan kucing (lemuru),

    Namun, rencana tersebut tidak terwujud karena bersamaan dengan SK kami yang keluar.

    Rofiq dan Jailani berangkat terlebih dahulu dengan kapal Belaberto. Sedangkan aku sendiri masih menunggu kelulusan adik angkatku dari SMA Pensia Kupang.

    Kesempatan tersebut aku gunakan untuk membeli kayu cendana untuk aku jual di Bali, sedang minyak cendana asli aku diberi oleh Tamtama yang suku Batak asli.

    Setelah lima hari aku menunggu Surat Tanda Kelulusan atau Ijazah, Kadek Urip keluar dan kami pun melaksanakan persiapan untuk berangkat ke Bali.

    Sehari sebelum berangkat ke Bali, diadakan acara perpisahan di aula Kesatuan Brimob 34/BS.

    Pada kesempatan itu, Komandan Kompi mengucapkan terima kasih atas kerja kerasku dalam memajukan Kompi 34/BS Kupang.

    Saya sendiri mengucapkan terima kasih kepada Dan-ku dan seluruh anggota Kompi 34/BS terutama Densus Alap-Alap yang telah bahu-membahu melaksanakan tugas di Timor-timur tahun 1975.

    Keesokan harinya, Kami berangkat ke pelabuhan Tenau dengan diantarkan oleh rekan satu angkatan dan Tamtama Remaja.

    Setiba di Tenau barang-barangku diangkat oleh Tamtama Remaja termasuk kayu cendana 2 potong yang kumasukkan ke dalam blesak panjang masing-masing 50kg.

    Setelah itu kami masuk ke atas kapal diiringi isak tangis dari rekan-rekan yang kusayang, membuat suasana menjadi haru biru.

    Jam 11.00 siang Kapal berangkat meninggalkan pelabuhan Tenau Kupang. Aku Tak kuasa meneteskan air mata mengingat kota ini telah membesarkan aku dalam setiap tugas suka dan duka.

    Melihat aku menangis, istriku mengusap air mataku dengan sapu tangannya, sambil berkata “Sampean sedih ya, Mas?”

    “Iya sayang,” jawabku, lalu melanjutkan, “Betapa tidak, 10 tahun aku bertugas di sini dengan segala keterbatasan, namun aku bisa melewatinya dengan baik.”

    Istriku mengusap-usap pundakku berusaha menenangkan perasaanku.

    Sehari semalam kapal berlayar, hingga singgah di Flores, kami pun turun untuk membeli pisang Belangga yang sudah terkenal di Ende.

    Keesokan harinya kapal pun berangkat Kembali menuju Surabaya.

    Lima hari kami terapung di tengah laut, namun semua berjalan lancar-lancar saja kendati istriku sempat pusing karena masuk angin.

    Aku sempat berkata “Nah, apa kataku kemarin? Aku suruh sampean naik pesawat Merpati biar dijemput di Denpasar oleh Mas Putu atau Mas Tejo, tapi Sampean tidak mau.”

    Istriku menjawab dengan tegas “Mas aku sudah katakan ke sampean, Mas pergi kemanapun aku akan selalu ada di sampingmu. Aku sangat percaya padamu, Mas akan dapat melindungiku dengan baik.”

    Jawaban istriku membuatku tersenyum, begitulah dia. Tidak mau sedetikpun jauh denganku. Bagaimana bisa dia begitu tangguh untuk ikut denganku bertugas di Timor Timur.

    Kapal akhirnya merapat di pelabuhan Gudang Garam, aku bergegas turun bersama istriku dan Kadek sambil membawa koper, sedang kayu cendana memakai jasa buruh angkut.

    Setelah mencarter kendaraan pick up untuk mengangkat kayu cendana kami menuju kantor ekspedisi untuk mengekspedisi kayu cendana.

    Malam harinya kami naik bis malam Cakrawala menuju Denpasar, Bali. Tiba di Denpasar kami menginap di losmen Blantara belakang Terminal Suci.

    Keesokan harinya slepas sarapan kami menuju kantor ekspedisi di Jalan Gajah Mada. Ternyata di sana banyak orang-orang calon pembeli kayu cendana.

    Setelah tawar-menawar,  kayu cendanaku terjual Rp125.000 perkilo. Kami pun kembali ke losmen untuk beristirahat.

    Keesokan harinya Kadek Urip pulang ke Bukit Jangkruk untuk menemui orang tuanya dan aku sendiri menghadap Dan Sat Brimob di Kremeng, dan ditempatkan di Bintara Operasi Satbrimob Denpasar dan mendapat cuti selama tiga hari.

    Kesempatan ini aku gunakan untuk pulang ke Banyuwangi mengunjungi mertua dan kakak serta adik-adikku. Aku juga tidak lupa sowan ke makam kedua orang tuaku.

    Dua hari aku di Banyuwangi akhirnya kembali ke kesatuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari.

    Setelah hampir tiga bulan aku bertugas, aku coba peruntungan untuk melamar pekerjaan di Diskotik.

    Dengan kemampuan bela diri dan sedikit bahasa Inggris yang kumiliki, beberapa kali aku diuji coba.

    Namun, semua dapat kuatasi dan akhirnya aku diterima dengan gaji Rp250.000 per bulan, di Diskotik Number One wilayah Sanur.

    Hari pertama aku bekerja lancar-lancar saja, namun setelah seminggu tragedi pun terjadi ketika gerombolan berjumlah kurang lebih 7 orang dan memaksa masuk secara gratis.

    Aku menghadang mereka dan menyuruh mereka untuk membeli karcis masuk sesuai jumlah mereka namun mereka tidak menurut dan malah memegang kerah bajuku.

    Aku tetap tenang sembari tetap menyuruh mereka mengikuti aturan yang ada, namun aku melihat ada tangan yang ingin memukulku.

    Secara refleks tangan kananku melayang ke jidatnya sehingga ia terjatuh pingsan, rekan-rekannya yang lain berhamburan kabur.

    Setelah polisi Polsek Sanur datang, yang bersangkutan kuserahkan pada mereka. Setelah mengambil keterangan dariku, mereka mengijinkanku pulang.

    Beberapa hari kemudian pemilik Diskotik kawasan Sanur, Bali Queen, Trappozone, Hotel Palm Beach, Kuta Beach datang melamarku untuk bekerja di perusahaan masing-masing namun pada saat itu aku sudah bekerja di Number One.

    Aku dipanggil ke kantor Pak Singgih. Di sana langsung menaikkan gaji menjadi Rp500.000 dan merangkap jabatan sebagai penasehat umum.

    Aku juga bekerja di Trappozone dan Hotel Palm Beach dengan syarat tidak terikat waktu untuk masuk kerja.

    Dari situlah kehidupanku mulai meningkat, bisa membeli sepeda motor untukku dan membeli Mobil Daihatsu 1000 untuk bekerja malam.

    Setelah delapan bulan aku bekerja di hotel dan diskotik, aku diminta kerja di Lamtoro Gung Milik Mbak Tutut di bawah pimpinan Pak Joyo dan Pak Riki yang masing-masing berkantor di Renon, Jalan Durian, Denpasar.

    Aku mulai hidup berkecukupan sehingga lupa daratan dan mulai main judi sabung ayam (Ayam Tajen) atau adu bangkok.

    Di lingkungan adu Bangkok, aku di daulat menjadi pelindung suku Jawa-Madura di Denpasar dan Tabanan.

    Saat itu aku tak pernah ingat dan mensyukuri nikmat Allah Sekalipun. Aku hanya hidup berfoya-foya dengan kelompok penjudi saja.

    Saat aku mengikuti ujian masuk Secapa aku malah lulus nomor 2 dari peserta seluruh Bali.

    Namun ketika 10 hari sebelum keberangkatan, aku diajak Letda Suware Intel dan Serse Polda Bali untuk menangkap seorang dukun palsu di daerah Karangasem.

    Istriku sudah melarang aku untuk ikut, tapi rasa setia kawan mengalahkan itu semua.

    Aku ikut bersama mereka saat penangkapan berlangsung. Di TKP, pihak bersangkutan mengadakan perlawanan sehingga secara refleks kepalan tangan kananku melayang ke mukanya dia pun terpental ke tembok.

    Bali pun Geger saat itu, aku diproses tingkat Polda Bali. Namun mengingat jasa-jasaku sangat besar pada Polri, aku diperintah keluar Bali, batal ikut sekolah Secapa, sehingga terdampar di Banyuwangi dan dibantu pengurusan pensiunan dini ku oleh Ibu Hajah Kertono.

    Demikianlah kisah hidupku ini kubuat agar menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia, kemudian jangan lupa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla saat kita kelimpahan Rizki dan bersedekah kepada Dhuafa.

    IGB. Sudharma, Banyuwangi, 10 Mei 2024.

    Puisi IGB. Sudharma

    DALAM LINDUNGAN ILAHI

    Bersama Allah di Masjid Suci
    Senja membias langit kemerahan
    Saat jama’ah sholat dan mengaji
    Tenang damai di dalam iman

    Bersama Allah menembus lubuk malam
    Melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an
    Khusyuk larut di dalam kalam
    Hilang sirna semua kegalauan

    Bersama Allah melawan cahaya kegelapan
    Melangkah pasti dalam lindungan
    Tiada sedikitpun hati dalam keraguan
    Di jalan Allah Yang Maha Suci dan penuh kenikmatan

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

    MELATI KENANGAN

    Saat beta remaja belia
    Hati selalu berbunga-bunga
    Indah ceria penuh aroma cinta
    Semerbak merasuk dada sukma

    Oh Tuhan pencipta alam semesta
    Biar masa remaja beta bergejolak di dada
    Membahana menembus angkasa
    Menggapai cinta merenggut asmara

    Kini masa remaja beta telah sirna
    Ditelan waktu, dimakan usia
    Tinggal kenangan yang tersisa
    Tersimpan erat di relung dada

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

    HARAPAN

    Lama ku idamkan
    Kedamaian dan kesejukan
    Dalam Berbangsa dan Bernegara
    Di Persada Nusantara Indonesia

    Namun apa yang terjadi?
    Semua hanya impian
    Sesama Islam pecah pertikaian
    Rakyat jadi bingung dan tertekan
    Agama dijadikan mainan dan tendensi

    Cukup di sini semua jalan
    Berhenti jangan diteruskan
    Agar rakyat pulih
    Bangsa dan Negara kembali aman

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

    NYANYIAN MALAM

    Di malam sunyi
    Semilir angin dingin
    Menerpa daun liuk menari
    Gemulai berayun-ayun

    Nyanyian serangga malam
    Menghentak merdu memecah sepi
    Malam semakin kelam
    Tenggelam dalam hening sunyi

    Aku termenung sendiri
    Menerawang jauh kegelapan malam
    Terperangkap nyanyian sunyi
    Merasuk kalbu yang paling dalam

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma

    HUKUM ALAM

    Ada dari tiada
    Tiada pun karena ada
    Hukum alam semesta
    Dikendalikan oleh Sang Pencipta

    Karenanya wahai manusia
    Harta, tahta dan wanita
    semua bersifat fana
    Amal Ibadah bersifat baka
    Yang mana anda suka?

    Syurga Neraka nyata adanya
    Tersirat dalam ajaran agama
    Karena baginya yang percaya
    Syukur pada yang Esa

    Banyuwangi, 10 Mei 2024
    IGB. Sudharma