Blog

  • Banyuwangi Perkuat Potensi Bahari Berbasis Konservasi dan Ekonomi Masyarakat

    Banyuwangi Perkuat Potensi Bahari Berbasis Konservasi dan Ekonomi Masyarakat

    Pengelolaan potensi bahari berbasis masyarakat di Banyuwangi mendapat perhatian dalam forum internasional ASEAN-ID Blue.

    Sejumlah delegasi yang mengikuti forum tersebut melihat langsung praktik pengembangan ekonomi biru melalui pengelolaan kawasan konservasi, pemberdayaan nelayan, hingga hilirisasi hasil perikanan.

    ASEAN-ID Blue merupakan forum yang mempertemukan negara-negara ASEAN, negara East Asia Summit (EAS), dan anggota Pacific Islands Forum (PIF) untuk berbagi pengalaman pengembangan ekonomi biru. Forum tersebut digelar di Banyuwangi pada 16–19 Juli 2026.

    Dalam rangkaian kegiatan, para delegasi tidak hanya mengikuti forum dialog, tetapi juga melakukan studi praktik baik pengelolaan potensi bahari di sejumlah lokasi.

    Mereka mengunjungi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng dan Bangsring Underwater untuk melihat langsung keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan sektor kelautan dan perikanan.

    “Kami berterima kasih atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan Kemenlu pada Banyuwangi. Forum ini telah menjadi wadah strategis bagi Banyuwangi mendapatkan wawasan baru dan pengalaman yang berharga tentang pelaksanaan ekonomi biru dari berbagai negara,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Rabu (22/7/2026).

    Di Koperasi Nelayan Merah Putih Lateng, delegasi mempelajari pengembangan hilirisasi perikanan berbasis pariwisata.

    Hasil tangkapan nelayan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk kuliner bernilai tambah sehingga memberikan peluang ekonomi lebih besar bagi masyarakat.

    “Babak baru ekonomi biru ASEAN akan semakin ditentukan oleh tempat-tempat seperti Banyuwangi. Dimana koperasi nelayan, UMKM, dan kelompok konservasi menerjemahkan komitmen besar antar negara menjadi perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari,” ujar Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri RI, Zelda Wulan Kartika.

    Sementara itu, Bangsring Underwater menjadi contoh pengelolaan potensi laut yang bertumpu pada perubahan perilaku masyarakat, konservasi, dan pengembangan ekowisata.

    Kawasan perairan Desa Bangsring sebelumnya mengalami kerusakan akibat praktik penangkapan ikan menggunakan bom dan potasium.

    Kondisi tersebut berdampak pada rusaknya ekosistem terumbu karang dan menurunnya hasil tangkapan nelayan.

    Perubahan mulai dilakukan oleh kelompok nelayan Samudra Bhakti. Para nelayan menghentikan penggunaan alat tangkap yang merusak, kemudian mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan laut.

    Pada 2012, kelompok tersebut secara resmi mendeklarasikan kawasan perairan Bangsring sebagai area konservasi.

    “Kami melakukan edukasi perubahan mindset, mengajak nelayan untuk melakukan konservasi dan mendorong ekonomi warga lewat ekowisata,” ujar Ketua Samudra Bhakti Ikhwan Arief.

    Upaya tersebut kemudian berkembang menjadi model ekowisata berbasis konservasi. Bangsring Underwater kini menawarkan aktivitas seperti snorkeling di kawasan terumbu karang hasil transplantasi, pengamatan biota laut, hingga edukasi konservasi melalui rumah apung.

    Pengembangan tersebut juga diperluas melalui pembinaan komunitas nelayan. Saat ini, Samudra Bhakti membina 51 kelompok nelayan dengan anggota hingga 2.000 orang di berbagai wilayah Indonesia.

    “Saat ini kami juga membina 51 kelompok nelayan dengan anggota hingga 2000 orang di seluruh Indonesia. Sebanyak 72 persennya telah mereplikasi konsep konservasi dan ekowisata yang dijalankan di Bangsring,” ujarnya.

    Para delegasi ASEAN-ID Blue juga mengikuti aktivitas “Coral Adoption” dengan melakukan penanaman terumbu karang.

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas dan memulihkan ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi Bangsring.

    Director of Sectoral Development, ASEAN Secretariat Dr. Kanchana Wanichkorn mengapresiasi transformasi kawasan tersebut yang menempatkan masyarakat nelayan sebagai aktor utama.

    “Saya sangat ingin melihat praktik terbaik di Banyuwangi ini bisa diterapkan dalam skala besar. Sekretariat ASEAN akan mendukung dan membantu mempertemukan pihak-pihak yang tertarik, dan semoga kita dapat meningkatkan skala praktik-praktik hebat ini ke seluruh negara lainnya di ASEAN.” Ujarnya.

    Melalui pengelolaan berbasis masyarakat tersebut, potensi bahari Banyuwangi dikembangkan tidak hanya untuk menjaga kelestarian ekosistem laut, tetapi juga membuka sumber penghidupan baru bagi masyarakat pesisir melalui konservasi, perikanan, hilirisasi, dan ekowisata. (*)

  • Banyuwangi Perkuat Potensi Wisata Desa Kemiren Menuju Best Tourism Village UN Tourism

    Banyuwangi Perkuat Potensi Wisata Desa Kemiren Menuju Best Tourism Village UN Tourism

    Banyuwangi terus memperkuat potensi wisata berbasis desa dan budaya melalui pengembangan Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah.

    Penguatan tersebut mendapat dukungan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui pendampingan khusus agar Kemiren mampu meningkatkan tata kelola dan memenuhi standar pariwisata internasional.

    Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengunjungi Desa Wisata Kemiren dalam rangkaian kunjungan kerja selama dua hari di Banyuwangi, Sabtu-Minggu (25-26/7/2026).

    Dalam kunjungan tersebut, Menpar mendorong Kemiren untuk meraih predikat Best Tourism Village dari United Nations Tourism (UN Tourism), badan pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    Desa Kemiren sebelumnya terpilih dalam Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 yang digagas UN Tourism.

    Program tersebut memberikan kesempatan bagi desa wisata yang dinilai memiliki potensi untuk memperkuat tata kelola serta meningkatkan kualitas pengelolaan agar memenuhi standar internasional.

    “Semoga setelah mendapat pendampingan, Desa Kemiren bisa meraih predikat Best Tourism Village,” ujar Menpar saat menyusuri kawasan rumah adat Osing Kemiren.

    Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat potensi budaya dan pariwisata Kemiren agar semakin siap menjadi destinasi yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

    Didampingi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Menpar berjalan kaki menyusuri lingkungan desa sekaligus berinteraksi dengan masyarakat. Ia melihat langsung aktivitas warga yang masih menjaga berbagai tradisi dan budaya Osing.

    “Warga di sini sangat kreatif dalam mempertahankan tradisi mereka,” puji Menpar.

    Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Sanggar Genjah Arim. Di lokasi tersebut, Menpar menikmati berbagai sajian tradisional Banyuwangi, mulai dari kue cucur, kopi Osing, rujak soto, hingga pecel pitik yang merupakan olahan ayam kampung panggang dengan kelapa parut dan bumbu khas masyarakat Osing.

    “Ini pertama kali saya makan rujak soto. Enak,” kata dia sambil mengacungkan jempol jarinya.

    “Kalau kue cucur, saya sudah biasa makan, tapi yang di sini luar biasa,” imbuhnya.

    Menpar juga ikut mencoba sejumlah aktivitas tradisional masyarakat Kemiren, seperti menyangrai kopi menggunakan tungku dan penggorengan dari tanah liat serta membuat kue cucur bersama warga.

    “Saya terkesan dengan suasana di sini. Kehangatan masyarakat Banyuwangi, budayanya, makanannya, desanya. Tadi sudah kami bahas bagaimana agar bisa meningkatkan pariwisata di Banyuwangi,” ujar Menpar.

    Potensi komoditas lokal juga menjadi bagian dari daya tarik wisata Kemiren. Menpar mencicipi berbagai jenis kopi asli Banyuwangi sekaligus menyaksikan pertunjukan seni tari Gandrung dan Barong Osing di Sanggar Genjah Arum.

    “Saya sudah mencicipi kopi arabika, liberika, dan kopi yang bisa bikin ngantuk. Enak. Saya sangat mendukung penuh industri kopi, termasuk dari Banyuwangi. Saya biasanya kalau ke luar negeri selalu bawa kopi untuk gift sebagai upaya mempromosikan kopi lokal,” ujarnya.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasi atas pendampingan Kemenpar terhadap Desa Wisata Adat Osing Kemiren.

    Menurutnya, penguatan tata kelola perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya yang menjadi kekuatan utama desa.

    “Kemiren punya kekuatan budaya dan tradisi yang sangat khas. Kami berharap melalui pendampingan ini, Kemiren semakin siap menerima wisatawan dari berbagai negara, tanpa kehilangan jati diri dan karakter budaya Osing yang selama ini menjadi daya tariknya,” tutur Ipuk. (*)

  • Banyuwangi Perkuat Potensi Pesisir melalui Restorasi Ekosistem Berkelanjutan

    Banyuwangi Perkuat Potensi Pesisir melalui Restorasi Ekosistem Berkelanjutan

    Memiliki garis pantai sepanjang 175,8 kilometer, Banyuwangi terus memperkuat upaya menjaga sekaligus mengembangkan potensi sumber daya pesisir secara berkelanjutan.

    Salah satunya melalui peluncuran Coastal Resilience Initiatives, sebuah program kolaboratif untuk memulihkan ekosistem pesisir dan meningkatkan ketangguhan kawasan pantai.

    Program tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat.

    Peluncuran Coastal Resilience Initiatives berlangsung di Pusat Latihan Pertempuran Marinir (Puslatpurmar) 7 Lampon, kawasan Pantai Lampon, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Senin (27/7/2026).

    Direktur Pembinaan Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Amehr Hakim mengatakan program tersebut sejalan dengan kebijakan ekonomi biru yang dikembangkan KKP.

    “Ada lima pilar di dalamnya. Mulai memperluas kawasan konservasi, penangkapan ikan terukur, budidaya berkelanjutan, pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta laut bebas dari sampah,” kata Amehr.

    Peluncuran tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, jajaran direksi PT BSI dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), perwakilan Pemprov Jawa Timur, tokoh masyarakat Lampon, akademisi, serta jajaran Forkopimda Banyuwangi.

    Menurut Amehr, Coastal Resilience Initiatives tidak hanya ditujukan untuk Banyuwangi, tetapi berpotensi menjadi model pengelolaan kawasan pesisir yang dapat dikembangkan di daerah lain.

    “Kita harapkan selain Banyuwangi, bisa kita lebarkan lagi ke pesisir utara dan selatan Jawa Timur,” sambung dia.

    Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan pengelolaan potensi laut secara berkelanjutan telah menjadi bagian dari upaya daerah dengan melibatkan masyarakat.

    Menurutnya, kolaborasi lintas pihak diperlukan agar pemanfaatan sumber daya pesisir dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

    “Dengan kolaborasi banyak pihak, mulai perusahaan seperti PT BSI dan ditambah dukungan dari Kementerian KKP. Kami percaya kelestarian ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” kata Wabup.

    Penguatan pengelolaan pesisir juga menjadi bagian dari upaya Banyuwangi mengembangkan ekonomi biru.

    Pada pertengahan Juli 2026, negara-negara ASEAN dan Pasifik melalui ASEAN-ID Blue datang ke Banyuwangi untuk berbagi pengalaman mengenai pengembangan ekonomi biru.

    Direktur Utama PT BSI Adi Adriansyah Sjoekri menjelaskan Coastal Resilience Initiatives dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun ketangguhan kawasan pesisir.

    Program tersebut menggabungkan upaya konservasi lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

    Program ini mencakup enam inisiatif utama, yakni penanaman mangrove, pelestarian hutan pantai, transplantasi terumbu karang, pengembangan ekowisata, peningkatan pendapatan nelayan, serta penguatan kelembagaan nelayan agar semakin mandiri.

    “Sehingga fokusnya bukan hanya pada peningkatan kualitas lingkungan, namun juga peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir,” tegas Adi.

    Dalam pelaksanaannya, PT BSI menargetkan pemulihan lebih dari 60 hektare terumbu karang, rehabilitasi 200 hektare mangrove, serta pemulihan 17,5 hektare hutan pantai.

    Langkah awal program telah dilakukan saat peluncuran melalui penanaman puluhan bibit cemara di kawasan bibir Pantai Lampon.

    Upaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian restorasi untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus memperkuat manfaat sumber daya laut bagi masyarakat Banyuwangi. (*)

  • Banyuwangi Jadi Rujukan Pengelolaan Sampah Sirkular di Asia Pasifik

    Banyuwangi Jadi Rujukan Pengelolaan Sampah Sirkular di Asia Pasifik

    Keberhasilan Banyuwangi membangun sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular kembali mendapat perhatian internasional.

    Sebanyak 17 delegasi Nestle Asia Pasifik datang ke Banyuwangi untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

    Rombongan tersebut diterima di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Selasa (18/8/2026). Delegasi berasal dari sejumlah negara Asia Tenggara, di antaranya Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

    Sustainability Delivery Manager Nestle Zone Asia Oceania and Africa, Katarzyna Grzybowska, mengatakan Banyuwangi dipilih karena memiliki sistem pengelolaan sampah yang dinilai berjalan dengan baik dan melibatkan berbagai pihak.

    “Kami ingin belajar bagaimana Banyuwangi membangun sistem pengelolaan sampah. Khususnya program Banyuwangi Hijau yang mengelola sampah secara sirkular,” kata Sustainability Delivery Manager Nestle Zone Asia Oceania and Africa, Katarzyna Grzybowska, di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Selasa (18/8/2026).

    Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Nestle memperkuat penerapan EPR (extended producer responsibility), khususnya dalam pengelolaan sampah yang berasal dari kemasan produk.

    “Kami berkomitmen ikut bertanggung jawab mengurus sampah dari kemasan produk yang kami jual. Maka kami terus mencari best practices pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, yang nantinya bisa dijadikan blueprint (cetak biru) untuk dikembangkan di wilayah lain di Asia Tenggara yang menjadi pasar kami,” ujar Bowska.

    Menurut Bowska, salah satu hal yang menarik dari sistem Banyuwangi adalah keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam satu ekosistem pengelolaan sampah. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga terlibat dalam proses pengumpulan, pemilahan, hingga daur ulang.

    “Kami pilih Banyuwangi karena kami melihat sistem di sini berjalan sangat baik. Mulai pemerintah, masyarakat, hingga sektor bisnis ikut berkontribusi. Masyarakat dilibatkan mulai proses pengumpulan, pemilahan, hingga daur ulang, sehingga mereka bisa mendapatkan nilai ekonomi dari sampah tersebut,” imbuhnya.

    Untuk melihat penerapannya secara langsung, rombongan Nestle juga mengunjungi TPS 3R di Desa Balak, Kecamatan Songgon.

    Di lokasi tersebut, delegasi melihat bagaimana pengelolaan sampah dirancang sebagai satu rangkaian layanan yang saling terhubung.

    Proses tersebut mencakup pengumpulan sampah dari rumah tangga, pengangkutan, pemilahan, pengolahan di TPS/TPS3R, hingga penanganan residu yang kemudian diarahkan ke tempat pemrosesan akhir. Delegasi juga berdiskusi mengenai sistem pengelolaan persampahan bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemkab Banyuwangi.

    Pengembangan sistem pengelolaan sampah sirkular di Banyuwangi telah berlangsung sejak 2017 melalui Project STOP dengan pembangunan TPS3R Tembokrejo, Muncar.

    Program tersebut kemudian dilanjutkan melalui Banyuwangi Hijau Fase 1 dengan pembangunan TPS3R Balak di Kecamatan Songgon. Kedua program tersebut mendapat dukungan Pemerintah Norwegia.

    Banyuwangi kemudian melanjutkan pengembangan infrastruktur persampahan melalui Banyuwangi Hijau Fase 2 dengan pembangunan TPS3R Karetan di Kecamatan Purwoharjo yang mendapat dukungan Pemerintah Austria dan masih dalam tahap pembangunan.

    Selanjutnya, Banyuwangi Hijau Fase 3 mendapat dukungan Clean Rivers dari Uni Emirat Arab (UEA) melalui pembangunan TPS3R Kertosari.

    Selain itu, pengembangan sistem persampahan Banyuwangi juga akan diperkuat dengan pembangunan TPS3R Wongsorejo yang didanai Kementerian Pekerjaan Umum RI. (*)

  • Banyuwangi Perkuat Potensi SDM Muda Lewat Akses Pendidikan Internasional

    Banyuwangi Perkuat Potensi SDM Muda Lewat Akses Pendidikan Internasional

    Banyuwangi terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) muda dengan memperluas akses pelajar dan mahasiswa terhadap informasi serta peluang pendidikan internasional.

    Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Blambangan Internasional Education Festival (BINEF) 2026.

    BINEF 2026 digelar pada 12–13 Agustus 2026 di Kampus Poliwangi dan diikuti lebih dari 100 pelajar serta mahasiswa dari berbagai wilayah di Banyuwangi.

    Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda daerah untuk mengenal lebih jauh kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri sekaligus membangun jaringan dengan diaspora Indonesia.

    Kegiatan dibuka Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Rabu (12/8/2026). Sejumlah putra-putri Indonesia yang memiliki pengalaman pendidikan internasional turut hadir sebagai narasumber, di antaranya Syaeful Mujab, penerima beasiswa LPDP untuk studi S2 di London School of Economics and Political Science, Inggris; Hardika Dwi Hermawan, penerima beasiswa LPDP yang menempuh Master of Science di Hong Kong University sekaligus pendiri Desamind; serta Achmad Roghib Mabrur yang kini menjalani pendidikan doktoral di National Chung Hsing University, Taiwan.

    BINEF 2026 mengangkat tema “Establishing Banyuwangi Student Connectivity to Prepare Superior Human Resources for Indonesia’s Future”.

    Program ini diarahkan untuk memperluas wawasan generasi muda mengenai studi luar negeri, memperkuat konektivitas diaspora, sekaligus mempersiapkan SDM Banyuwangi agar mampu berkompetisi di tingkat global.

    Dalam kesempatan tersebut, Bupati Ipuk menekankan pentingnya penguasaan teknologi, kecerdasan digital, serta kemampuan membangun jejaring internasional sebagai bagian dari persiapan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja.

    “Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan dan transisi energi, telah mengubah kebutuhan tenaga kerja secara drastis. Karenanya generasi muda harus memiliki penguasaan dan kemampuan dibidang ini sebagai bekal menghadapi masa depan. Dan yang penting berjejaring untuk mendapatkan peluang yang lebih luas,” ujar Ipuk.

    Ipuk juga mengingatkan bahwa perubahan kebutuhan dunia kerja membuat pendidikan perlu menyiapkan generasi muda bukan hanya untuk profesi yang tersedia saat ini, tetapi juga pekerjaan baru yang akan muncul di masa mendatang.

    Hal tersebut merujuk laporan World Economic Forum Future of Jobs 2025 yang memperkirakan 170 juta pekerjaan baru akan tercipta hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan berpotensi tergantikan.

    Kehadiran para penerima beasiswa dalam BINEF menjadi bagian dari upaya menghadirkan contoh nyata bahwa kesempatan menempuh pendidikan di kampus dunia dapat diraih oleh generasi muda dari daerah.

    Syaeful Mujab membagikan pengalamannya sekaligus mendorong pelajar dan mahasiswa Banyuwangi untuk tidak membatasi cita-cita hanya karena berasal dari daerah.

    “Jangan berkecil hati meskipun kita berasal dari daerah. Siapapun dari kita bisa mempunyai mimpi besar dengan berusaha untuk mencapainya. Persiapkan diri dengan baik insyaallah kita bisa mencapai mimpi itu,” ujar Mujab yang juga dikenal publik sebagai politikus muda dan menjadi Calon Wakil Bupati Tegal termuda pada 2024 di usia 28 tahun.

    Menurutnya, kemampuan berbahasa menjadi salah satu modal penting untuk memperluas akses generasi muda terhadap lingkungan pendidikan dan jejaring internasional.

    “Dengan bahasa membuka kesempatan untuk untuk sekolah, ikut konferensi hingga membangun jejaring internasional. Manfaatkan media sosial untuk mencari informasi beasiswa dan pertemanan global,” ungkapnya.

    Tidak hanya memberikan informasi, BINEF 2026 juga menghadirkan dukungan lanjutan bagi peserta.

    Ketua Penyelenggara BINEF 2026 Ahmad Roghib Mabrur mengatakan peserta memperoleh fasilitas bimbingan bahasa Inggris secara gratis selama satu tahun serta kesempatan mengikuti pre-test IELTS.

    “Karena bahasa inggris jadi kunci untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri. Mereka juga dapat bimbingan mentoring gratis setahun untuk coaching tips n trip mendapatkan beasaiswa di kampus internasional,” pungkasnya.

    Melalui kegiatan tersebut, pengembangan potensi SDM muda Banyuwangi diarahkan tidak hanya pada peningkatan kompetensi akademik, tetapi juga penguasaan teknologi, bahasa asing, dan jejaring global sebagai modal untuk meningkatkan daya saing generasi daerah.

  • Program Gesah Bareng Ambi Bupati, Warga Bisa Curhat Langsung dan Cari Solusi Bersama

    Program Gesah Bareng Ambi Bupati, Warga Bisa Curhat Langsung dan Cari Solusi Bersama

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani membuka ruang komunikasi langsung dengan masyarakat melalui program “Gesah Bareng Ambi Bupati”.

    Forum ini dirancang sebagai tempat warga menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sekaligus berdiskusi bersama pemerintah untuk mencari jalan keluar.

    Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap dua pekan. Masyarakat dapat datang dan menyampaikan keluhan maupun aspirasi secara langsung kepada Bupati Ipuk tanpa harus melewati proses birokrasi yang panjang.

    Menurut Bupati Ipuk, forum tersebut merupakan salah satu upaya mendekatkan pemerintah dengan masyarakat.

    Dengan bertemu langsung, pemerintah dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai persoalan yang terjadi di lapangan sekaligus menentukan langkah penanganannya.

    “Lewat Gesah Bareng Ambi Bupati, kami ingin warga bisa menyampaikan langsung apa yang menjadi persoalannya. Jadi tidak hanya mendengar dari laporan, tetapi kami bisa berdiskusi langsung dan mencari jalan keluarnya bersama,” ujar Bupati.

    Dialog secara langsung juga dinilai dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat. Setiap persoalan yang disampaikan akan dipetakan dan dikoordinasikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjutinya.

    “Jadi tidak hanya menampung persoalan warga, namun forum ini juga sarana bagi kami untuk mendapatkan masukan dari warga agar kebijakan kami lebih pas dengan kebutuhan warga,” kata Ipuk.

    “Harapannya, warga pulang dari forum ini tidak hanya membawa jawaban, tetapi juga kepastian siapa yang akan menindaklanjuti dan bagaimana prosesnya. Pemerintah juga mendapatkan masukan langsung untuk memperbaiki pelayanan,” imbuhnya.

    Pada pelaksanaan perdana, forum Gesah Bareng Ambi Bupati membahas sektor pertanian. Sejumlah warga menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, mulai dari kebutuhan sarana produksi, irigasi, akses pupuk, hingga pemasaran hasil hortikultura.

    Bagi warga, forum tersebut dinilai memberikan ruang untuk menyampaikan persoalan secara langsung kepada pemimpin daerah. Fitri, warga Kampung Melayu, mengaku terbantu dengan adanya forum tersebut.

    “Saya kira, masyarakat ini perlu didengar. Apa yang menjadi keluh kesahnya bisa diketahui oleh pemimpinnya. Saya yakin Ibu Bupati pasti akan mencarikan solusi yang terbaik,” ungkapnya.

    Hal serupa disampaikan Sodiq, warga Kalibaru, yang hadir untuk menyampaikan aspirasi para petani kopi. Ia mengapresiasi kesempatan untuk berdialog langsung dengan pemerintah daerah.

    “Alhamdulillah, kami bisa menyampaikan secara langsung aspirasi kami. Ditanggapi dengan baik. Semoga segera dapat diwujudkan,” jelasnya.

    Pemkab Banyuwangi berencana melanjutkan program Gesah Bareng Ambi Bupati secara berkala dengan mengangkat berbagai tema yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

    “Silakan datang dan sampaikan apa yang menjadi masalah. Kita gesah bareng, kita cari solusinya bareng-bareng,” kata Wakil Bupati Mujiono. (*)

  • Dukung 8 Prioritas Presiden Prabowo 2027, Bupati Ipuk Sebut Selaras dengan Pembangunan Banyuwangi

    Dukung 8 Prioritas Presiden Prabowo 2027, Bupati Ipuk Sebut Selaras dengan Pembangunan Banyuwangi

    Presiden Prabowo Subianto menyampaikan delapan prioritas pembangunan yang akan menjadi fokus pemerintah pada 2027.

    Agenda tersebut meliputi kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur, perumahan serta ketahanan terhadap bencana, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, hingga percepatan penurunan kemiskinan.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai sejumlah agenda prioritas pemerintah pusat tersebut memiliki keterkaitan dengan berbagai program pembangunan yang telah dijalankan di Banyuwangi.

    “Delapan program tersebut selaras dengan agenda pembangunan daerah yang selama ini dijalankan Banyuwangi. Dengan adanya keselarasan antara kebijakan nasional dan program daerah, dengan demikian manfaat pembangunan akan semakin dirasakan masyarakat.” kata Bupati Ipuk, Sabtu (15/8).

    Delapan prioritas tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan terkait RAPBN 2027 di Gedung MPR RI, Jumat (14/8).

    Bupati Ipuk menyaksikan pidato tersebut secara langsung dari Gedung DPRD Banyuwangi.

    Kegiatan itu juga dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana beserta wakil dan anggota DPRD, Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Wishnu Krestiawan, perwakilan Forkopimda, serta jajaran OPD Banyuwangi.

    Untuk sektor pangan, Banyuwangi telah menjalankan sejumlah kebijakan guna mempertahankan produktivitas pertanian.

    Salah satunya melalui regulasi yang membatasi alih fungsi lahan sawah produktif menjadi bangunan permanen.

    Kebijakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung target swasembada pangan nasional.

    Banyuwangi selama ini menjadi salah satu daerah penyangga pangan di Jawa Timur. Kontribusi tersebut antara lain terlihat dari produksi beras yang mencatat surplus 383.258,03 ton pada 2025.

    Sementara itu, produksi beras pada periode Januari hingga Juni 2026 telah mencatat surplus sebesar 174.005 ton.

    Di bidang pendidikan, berbagai program dijalankan Pemkab Banyuwangi untuk menekan angka putus sekolah, memperluas akses pendidikan tinggi, dan memperkuat pendidikan inklusif.

    Program tersebut di antaranya Beasiswa Banyuwangi Cerdas yang memberikan kesempatan kuliah gratis bagi warga kurang mampu serta Beasiswa Progresif (B-Pro) yang menyediakan dukungan pendidikan hingga jenjang dokter spesialis.

    Banyuwangi juga memiliki Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah (Garda Ampuh), Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan), program inklusi Agage Pinter bagi Anak Berkebutuhan Khusus, serta Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang mendorong kepedulian antarsiswa.

    “Banyuwangi juga mendukung program Sekolah Rakyat dengan menyediakan lahan untuk pembangunannya,” kata Ipuk.

    Sementara di sektor kesehatan, Pemkab Banyuwangi memprioritaskan penanganan stunting, penguatan layanan kesehatan berbasis desa, serta peningkatan fasilitas kesehatan di wilayah pelosok.

    Pembenahan sarana dan prasarana puskesmas juga terus dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan.

    Selain itu, dokter spesialis dijadwalkan memberikan layanan di puskesmas agar masyarakat dapat memperoleh akses pelayanan kesehatan yang berkualitas dan lebih dekat.

    “Semua ini untuk memberikan layanan kesehatan terbaik sebagaimana harapan Presiden Prabowo dalam pidatonya yang menjadikan Puskesmas sebagai ujung tombak layanan kesehatan rakyat Indonesia,” ujar Ipuk.

    Upaya pengentasan kemiskinan juga menjadi bagian dari agenda pembangunan Banyuwangi.

    Pemkab Banyuwangi menjalankan berbagai program dengan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan untuk menekan angka kemiskinan.

    “Banyuwangi juga fokus pada program pengentasan kemiskinan. Dengan berbagai upaya dan kolaborasi berbagai stakeholder daerah, Banyuwangi berhasil menurunkan angka kemiskinan daerah ke titik paling rendah sepanjang sejarah. Yakni menyisakan 6,13 persen angka kemiskinan di 2025,” tambah Ipuk. (*)

  • TK Aisyiyah Bustanul Athfal Rogojampi Lepas 37 Siswa, Usung Tema Ukir Asa Generasi Mulia

    TK Aisyiyah Bustanul Athfal Rogojampi Lepas 37 Siswa, Usung Tema Ukir Asa Generasi Mulia

    Rogojampi – Suasana haru dan kebanggaan mewarnai acara Pelepasan Siswa-Siswi Kelompok B TK Aisyiyah Bustanul Athfal Rogojampi yang digelar pada Sabtu (20/6).

    Dengan mengusung tema “Ukir Asa Generasi Mulia”, lembaga pendidikan anak usia dini tersebut melepas 37 siswa yang telah menyelesaikan masa belajar mereka dan siap melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

    Acara berlangsung khidmat sekaligus meriah dengan berbagai penampilan kreasi siswa yang berhasil memukau para tamu undangan dan wali murid.

    Kegiatan diawali dengan penampilan drum band yang dimainkan oleh siswa-siswi TK Aisyiyah Bustanul Athfal Rogojampi.

    Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan dari para hadirin.

    Kemudian acara dilanjutkan dengan Tari Gandrung yang dibawakan secara apik oleh para siswa.

    Tarian khas Banyuwangi tersebut menjadi salah satu bentuk pengenalan budaya lokal kepada anak-anak sejak usia dini.

    Selain itu, para hafiz dan hafizah cilik juga menampilkan hafalan surat-surat pendek Al-Qur’an yang menunjukkan hasil pembelajaran keagamaan selama mereka menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

    Berbagai penampilan lainnya turut memeriahkan acara, mulai dari hafalan doa-doa harian, hadits, hingga sejumlah pertunjukan edukatif yang menggambarkan kreativitas dan keberanian anak-anak tampil di depan publik.

    Salah satu penampilan yang menyita perhatian adalah pentas teater bertema “Semangat Menunaikan Ibadah Haji”.

    Dengan penuh penghayatan, para siswa memerankan rangkaian perjalanan ibadah haji yang sarat nilai pendidikan dan keislaman.

    Penampilan tersebut berhasil mengundang decak kagum para tamu undangan dan mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.

    Kepala TK Aisyiyah Bustanul Athfal Rogojampi, Kholidah, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pelepasan siswa tahun ini.

    Ia menjelaskan bahwa selama menempuh pendidikan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal, anak-anak tidak hanya dibekali kemampuan akademik dasar, tetapi juga pendidikan karakter dan keagamaan.

    “Alhamdulillah, anak-anak telah dibekali kemampuan baca tulis, pembelajaran shalat, hafalan surat-surat pendek, hadits, doa-doa sehari-hari, serta dasar-dasar pemahaman untuk menjadi anak-anak yang saleh dan salehah,” ujarnya.

    Menurut Kholidah, pendidikan usia dini merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter anak.

    Oleh karena itu, sekolah berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keislaman dan akhlak mulia.

    Dalam kesempatan tersebut, Kholidah berpesan kepada seluruh siswa agar terus semangat belajar dan menjaga nama baik almamater di mana pun mereka melanjutkan pendidikan.

    “Jagalah nama baik TK Aisyiyah Bustanul Athfal Rogojampi, hormati orang tua dan guru, serta terus rajin belajar agar dapat meraih cita-cita yang diinginkan,” pesannya.

    Ia juga berharap silaturahim yang telah terjalin antara sekolah, siswa, dan wali murid dapat terus berlanjut meskipun anak-anak telah menyelesaikan pendidikan di tingkat taman kanak-kanak.

    Pada kesempatan itu pula, Kholidah menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh wali murid apabila selama proses pendidikan terdapat kekurangan maupun kekhilafan dari pihak sekolah.

    Acara pelepasan turut dihadiri Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Rogojampi, PCM Rogojampi, Majelis PAUDDASMEN, perwakilan AUMKES RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi, SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi, SD Kreatif Muhammadiyah 19 Rogojampi, TK Dinar Nasyi’ah 2 Lateng, serta Pengasuh LKSA Khusnul Khotimah Muhammadiyah Rogojampi.

    Kehadiran berbagai unsur Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

    Tema “Ukir Asa Generasi Mulia” yang diangkat pada kegiatan ini mencerminkan harapan besar agar para lulusan mampu tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat.

    Sejalan dengan semangat dakwah Muhammadiyah, pendidikan dipandang sebagai sarana penting dalam membentuk generasi beriman, berilmu, dan berkemajuan.

    Melalui pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman, diharapkan anak-anak mampu melanjutkan perjalanan belajar dengan semangat yang tinggi serta menjadi generasi penerus yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

    Acara ditutup dengan doa bersama dan prosesi pelepasan siswa yang berlangsung penuh haru.

    Kebahagiaan para orang tua berpadu dengan rasa bangga para guru yang telah mendampingi tumbuh kembang anak-anak selama menempuh pendidikan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Rogojampi.

  • Takziah ke Mendiang Khusnan Abadi, Bupati Ipuk: Figur Politisi Pejuang

    Takziah ke Mendiang Khusnan Abadi, Bupati Ipuk: Figur Politisi Pejuang

    Banyuwangi – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bertakziyah ke rumah duka mendiang Khusnan Abadi di Genteng, Sabtu (13/6/2026).

    Ipuk mengenang mendiang sebagai seorang politisi pejuang semasa berkarir sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi.

    “Saya mengenal beliau sejak lama. Saya melihat langsung bagaimana kegigihan perjuangan beliau, dari seorang aktivis sampai menjadi salah politisi terkemuka di Banyuwangi. Selalu memperjuangkan aspirasi masyarakat,” ungkap Ipuk yang didampingi sang suami, Abdullah Azwar Anas.

    Sebagaimana diketahui, Khusnan Abadi merupakan aktivis yang berkarir sejak belia di Nahdlatul Ulama.

    Mulai dari IPNU, PMII hingga menjadi Sekretaris Cabang NU Kabupaten Banyuwangi. Sempat menjadi komisioner KPU Banyuwangi sebelum kemudian berlabuh di Partai Kebangkitan Bangsa.

    Di PKB Banyuwangi itu, Khusnan Abadi kemudian mendapat amanah sebagai anggota DPRD Banyuwangi.

    Ia dipercaya hingga tiga periode sebagai wakil rakyat di Gedung Dewan tersebut.

    “Selama beliau menjadi anggota dewan, kerap bersebrangan pandangan dengan kami di eksekutif. Namun, perbedaan tersebut semata untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Banyuwangi. Tidak sekadar didorong oleh sentimen politik atau tendensi tertentu,” kenang Ipuk.

    Sekeras apapun perbedaan pandangan yang terjadi di gedung dewan itu, imbuh Ipuk, selalu disampaikan dalam kerangka akademik dan kesantunan adab.

    “Ini perlu diteladani oleh para politisi muda Banyuwangi. Perbedaan pandangan harus selalu disampaikan dengan cara beradab dan kerangka akademik yang dapat dipertanggungjawabkan,” harapnya.

    Di hadapan keluarga mendiang Khusnan Abadi, Ipuk berpesan agar dapat terus melanjutkan nilai-nilai perjuangan sang ayahanda.

    “Semoga terus diberikan kesabaran dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggal. Serta mari kita doakan almarhum diterima segala amal baiknya dan diampuni segala khilafnya,” pungkasnya. (*)

  • Geopark Ijen Diperkuat sebagai Potensi Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan Banyuwangi

    Geopark Ijen Diperkuat sebagai Potensi Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan Banyuwangi

    Pengelolaan Geopark Ijen terus diperkuat Banyuwangi sebagai salah satu potensi unggulan daerah yang mengintegrasikan kekayaan alam, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari asesor UNESCO Global Geopark (UGG) yang melakukan proses revalidasi pada 3–6 Agustus 2026.

    Dua asesor UNESCO, Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China, melakukan penilaian untuk memastikan pengelolaan Geopark Ijen tetap memenuhi standar jaringan UNESCO Global Geopark. Revalidasi ini merupakan evaluasi pertama sejak kawasan tersebut memperoleh status UNESCO Global Geopark pada 2023.

    Evaluasi yang dilakukan setiap empat tahun tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan pengelolaan geopark berjalan sesuai standar internasional. Hasilnya akan menentukan keberlanjutan status Geopark Ijen dalam jaringan UGG, melalui Green Card, Yellow Card dengan kewajiban perbaikan, atau Red Card apabila status tersebut dicabut.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan proses revalidasi menjadi kesempatan bagi daerah untuk menunjukkan perkembangan pengelolaan Geopark Ijen sekaligus memperkuat komitmen terhadap pengembangan kawasan secara berkelanjutan.

    Sejak memperoleh pengakuan UNESCO pada 2023, pengelolaan Geopark Ijen terus dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan tersebut bertumpu pada tiga aspek utama, yakni edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.

    “Pengelolaan ekosistem UGG Ijen dilakukan mengintegrasikan alam, budaya, dan masyarakat dalam satu kesatuan yang berkelanjutan,” kata Ipuk, Selasa (4/8/2026).

    Dalam rangkaian revalidasi, para asesor mengunjungi berbagai geosite dan lokasi yang mendukung pengelolaan Geopark Ijen. Peninjauan hari pertama mencakup Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI), Desa Adat Kemiren, serta sejumlah sentra ekonomi kreatif di Banyuwangi, Senin (3/8/2026).

    Pada hari berikutnya, asesmen berlanjut ke kawasan Alas Purwo dan Teluk Pangpang di Grajagan. Kedua kawasan tersebut menjadi bagian dari bentang alam dan ekosistem yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan Geopark Ijen.

    Rangkaian kunjungan diawali welcoming dinner di Pendopo Sabha Swagata pada Minggu malam (2/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid beserta jajaran, perwakilan Bappenas, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

    Dr. Andreas Schüller mengungkapkan kekagumannya terhadap bentang alam Banyuwangi yang dilihatnya dalam perjalanan kereta api dari Surabaya menuju Banyuwangi.

    “Kami mendapatkan gambaran awal tentang wilayah Anda yang sangat luar biasa ini. Pemandangan yang indah, ladang-ladang, tanaman, perkebunan kopi, dan di balik awan, dalam remang-remang kami bisa melihat beberapa gunung besar,” ujarnya.

    Menurut Andreas, pengelolaan Geopark Ijen telah menunjukkan perkembangan positif sejak mendapatkan pengakuan UNESCO Global Geopark. Ia menilai Banyuwangi memahami bahwa geopark tidak hanya berkaitan dengan perlindungan warisan geologi, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mengembangkan pendidikan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

    “Geopark bukan hanya tentang geologi, tetapi juga tentang masyarakat, di mana masyarakat menjadi aktornya. Saya melihat komitmen yang kuat dari Ibu Bupati dan seluruh pihak dalam hal ini. Itu adalah awal yang sempurna dalam misi evaluasi ini,” katanya. (*)