Blog

  • Komnas HAM Apresiasi Pembangunan Inklusif Banyuwangi, Diusulkan Ikuti Penilaian HAM Nasional

    Komnas HAM Apresiasi Pembangunan Inklusif Banyuwangi, Diusulkan Ikuti Penilaian HAM Nasional

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI memberikan apresiasi terhadap berbagai upaya Pemkab Banyuwangi dalam memenuhi hak dasar masyarakat melalui kebijakan pembangunan yang inklusif.

    Apresiasi tersebut disampaikan dalam audiensi sekaligus sosialisasi program Penilaian HAM di Banyuwangi, Kamis (6/8). Kegiatan itu dihadiri Ketua Komnas HAM RI Anis Hidayah bersama jajaran komisioner.

    Dalam pertemuan tersebut, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan arah pembangunan daerah yang mengedepankan pendekatan human-centered development atau pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

    Sejumlah capaian pembangunan turut disampaikan, mulai dari penurunan angka kemiskinan menjadi 6,13 persen, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi 75,17, usia harapan hidup mencapai 74,43 tahun, hingga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,65 persen pada 2025.

    “Di sektor pendidikan kami terus memperkuat program sosial dan inklusif, Siswa Asuh Sebaya, Banyuwangi Mengajar, hingga beasiswa Banyuwangi Cerdas dan Banyuwangi Progresif,” ujar Ipuk.

    Dalam bidang pendidikan, Pemkab Banyuwangi juga memperluas akses bagi Anak Berkebutuhan Khusus melalui program Agage Pintar dan Lebur Seketi (Layanan Inklusif Peserta Berkebutuhan Khusus dengan Pendekatan Hati).

    Sementara di sektor kesehatan, pemerintah daerah mengembangkan berbagai layanan yang menitikberatkan pada pencegahan dan kemudahan akses masyarakat.

    Di antaranya Mall Orang Sehat, Jemput Bola Rawat Warga, serta layanan telekonsultasi 24 jam OASIS Wangi (Online Akses Solusi Indonesia Sehat dari Banyuwangi) yang menggandeng NGO NORA Health dari Amerika Serikat.

    “Pendidikan dan kesehatan merupakan investasi dasar. Kami memastikan faktor ekonomi, usia, maupun keterbatasan geografis tidak menghalangi warga memperoleh layanan yang layak,” kata Ipuk.

    Penguatan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) juga dilakukan melalui Peraturan Bupati Nomor 3 Tahun 2025 tentang Unit Layanan Disabilitas.

    Saat ini, enam dari 54 organisasi perangkat daerah di Banyuwangi telah mempekerjakan aparatur sipil negara penyandang disabilitas.

    Pemerintah daerah juga menyediakan ruang partisipasi bagi kelompok masyarakat melalui forum Rembuk Difabel, Rembuk Lansia, dan Rembuk Anak.

    Pada aspek pemenuhan hak pangan, Banyuwangi menjalankan program Rantang Kasih yang menyasar lebih dari 3.000 lansia miskin.

    Upaya penanganan stunting dilakukan melalui program Banyuwangi Tanggap Stunting dengan melibatkan sekaligus memberdayakan pedagang sayur keliling.

    “Setiap warga memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh informasi, mengakses layanan publik, dan menikmati kehidupan yang layak tanpa terkecuali,” tegas Ipuk.

    Ketua Komnas HAM RI Anis Hidayah mengapresiasi kesiapan Pemkab Banyuwangi dalam menyampaikan data dan indikator pembangunan yang berkaitan dengan pemenuhan hak asasi manusia.

    “Saya cukup terkejut karena memperoleh data yang sangat komprehensif dari Ibu Bupati. Ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pemenuhan hak asasi manusia,” ujar Anis.

    Komnas HAM kemudian menyatakan akan menunjuk Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang menjadi sasaran penilaian terhadap penerapan nilai-nilai HAM dalam pembangunan daerah.

    Program Penilaian HAM merupakan agenda nasional yang telah berlangsung selama tiga tahun di bawah koordinasi Bappenas.

    Program tersebut bertujuan mengukur sejauh mana pemerintah daerah menerapkan prinsip-prinsip HAM dalam pelaksanaan pembangunan.

    Anis menambahkan, Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Pulau Jawa sekaligus perwakilan Jawa Timur yang diproyeksikan mengikuti penilaian HAM pada tahun depan bersama sejumlah daerah lainnya.

    “Program yang dijalankan Banyuwangi menunjukkan banyak kemajuan. Berbagai kebijakan yang telah dilakukan sudah mengarah pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat sesuai indikator hak asasi manusia,” kata Anis. (*)

  • Gandeng ITS, Banyuwangi Dorong Hilirisasi dan Inovasi Sektor Perikanan

    Gandeng ITS, Banyuwangi Dorong Hilirisasi dan Inovasi Sektor Perikanan

    Banyuwangi memperkuat upaya pengembangan sektor perikanan dan potensi maritim melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) serta PW IKA ITS Jawa Timur.

    Kerja sama tersebut dituangkan dalam kesepakatan bersama yang ditandatangani di Surabaya, Selasa (11/8). Penandatanganan dilakukan bersama Kabupaten Nganjuk, Lamongan, dan Kota Pasuruan.

    Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan sektor perikanan, serta mengoptimalkan potensi maritim melalui penerapan teknologi yang berkelanjutan.

    Wakil Rektor II ITS Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana, Dr. Ir. Machsus, mengatakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dibutuhkan untuk mengoptimalkan kekayaan kelautan Indonesia.

    “Indonesia merupakan negara kepulauan. Sumber daya kelautan yang ada di dalamnya itulah yang perlu kita eksplorasi untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran bangsa ini,” ujar Machsus.

    Menurutnya, ITS memiliki sejarah panjang dalam pengembangan sektor kelautan dan kemaritiman.

    Perguruan tinggi tersebut menurutnya menjadi salah satu kampus yang mendapat amanat Presiden Soekarno untuk memberikan perhatian pada bidang kelautan.

    “Untuk itu perlu kolaborasi bersama, bagaimana ke depan bisa mengawal kemajuan kemaritiman di Indonesia ini. Sehingga segala potensi yang ada bisa kita berdayakan untuk kemakmuran bangsa, terutama untuk kemakmuran Jawa Timur,” tambahnya.

    Ketua Umum PW IKA ITS Jatim Eri Cahyadi menilai perguruan tinggi bersama jejaring alumninya perlu mengambil peran dalam memberikan solusi berbasis teknologi bagi pemerintah daerah.

    Salah satu penerapannya, menurut Eri, dapat dilakukan melalui pengembangan teknologi pengering ikan maupun teknologi penerangan yang membantu nelayan dalam meningkatkan hasil tangkapan.

    “IKA ITS harus hadir memberikan pendampingan dan memanfaatkan keunggulan teknologi untuk membantu wilayah-wilayah di Jawa Timur,” kata Eri sekaligus Wali Kota Surabaya ini.

    Eri juga menilai sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

    Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan ITS sesuai dengan karakter Banyuwangi yang memiliki wilayah pesisir luas serta potensi perikanan yang besar.

    “Bagi Banyuwangi, ini menjadi nilai tambah untuk menggandeng ITS, terutama dalam pengembangan sektor perikanan,” ujar Ipuk.

    Ipuk menyebut masih terdapat nelayan di Banyuwangi yang menjalankan aktivitasnya dengan metode tradisional.

    Karena itu, penguatan teknologi, riset, pengolahan, dan hilirisasi dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus nilai ekonomi hasil perikanan.

    Pemkab Banyuwangi berharap kerja sama dengan ITS dapat menghasilkan inovasi yang bisa diterapkan secara langsung di masyarakat, bukan hanya berhenti pada kegiatan penelitian.

    “Mudah-mudahan kerja sama ini berdampak pada peningkatan produk perikanan. Tidak hanya perikanan, sektor pertanian dan pengembangan sumber daya manusia juga bisa dikolaborasikan,” kata Ipuk.

    Selain penandatanganan kerja sama, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan forum strategis nasional.

    Forum menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Badan Penyuluhan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan KKP I Nyoman Radiarta, Direktur Utama PT Agrinas Jaladri Nasional (Persero) Kharisma Febriansyah, serta profesor dari ITS. (*)

  • Staf Batalyon SMK Pelayaran Kalipuro Dilantik, Dorong Penguatan Tradisi dan Disiplin Taruna

    Staf Batalyon SMK Pelayaran Kalipuro Dilantik, Dorong Penguatan Tradisi dan Disiplin Taruna

    Staf Batalyon SMK Pelayaran Kalipuro resmi dilantik dalam upacara yang berlangsung di pelataran plaza sekolah, Selasa (11/8/2026).

    Pelantikan berlangsung khidmat dan menjadi bagian dari upaya sekolah dalam menjaga tradisi, kedisiplinan, serta pembinaan ketarunaan di lingkungan SMK Pelayaran Kalipuro.

    Dalam upacara tersebut, H.M. Shodiqin, S.Pd., MM., mewakili Kepala Sekolah Agung Rahmadi, S.Pd., M.Si., bertindak sebagai inspektur upacara.

    Kegiatan turut dihadiri Waka Kesiswaan Aliefcaturwibowo, S.Kom., pelatih ketarunaan Serma Mers Purna Bambang Hermanto, serta dewan guru dan staf tata usaha.

    H.M. Shodiqin, S.Pd., MM

    Prosesi pelantikan ditandai dengan pengalungan tali kur kepada Komandan Batalyon Erling Aftrey Dermawan dan staf.

    Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya tugas dan tanggung jawab staf Batalyon dalam menjalankan peran mereka di lingkungan sekolah.

    Dalam sambutannya, H.M. Shodiqin menyampaikan ucapan selamat atas pelantikan tersebut.

    Ia berpesan agar para taruna terus menjaga tradisi dan kedisiplinan yang menjadi bagian penting dalam pendidikan ketarunaan.

    Menurutnya, pembinaan ketarunaan juga harus berlangsung dengan mengedepankan sikap saling menghormati.

    Ia menegaskan, tidak boleh ada kekerasan antara senior dan yunior. Sebaliknya, senior dan yunior harus saling menghormati dan menyayangi.

    Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter taruna, sehingga tradisi dan kedisiplinan yang dibangun di sekolah tetap berjalan tanpa menghilangkan nilai saling menghargai di antara para taruna.

    Selain pelantikan staf Batalyon, perkembangan SMK Pelayaran Kalipuro juga tidak terlepas dari langkah sekolah dalam melakukan pembenahan dan meningkatkan kualitas pendidikan pelayaran.

    SMK Pelayaran Kalipuro terus berbenah diri setelah mendapatkan sertifikat Aproval nomor SM.401/1/5/DK/2026 dari Dirjen Perhubungan Laut, Direktur Perkapalan dan Kepelautan, pada 5 Februari 2026 di Jakarta.

    Dengan diperolehnya sertifikat tersebut, kini SMK Pelayaran Kalipuro bisa meluluskan Taruna dan Taruninya menjadi perwira pelaut dengan pangkat ANT IV.

    Hal tersebut menjadi bagian dari perkembangan SMK Pelayaran Kalipuro dalam mempersiapkan taruna untuk memasuki dunia kepelautan.

    Pelantikan Staf Batalyon SMK Pelayaran Kalipuro Banyuwangi

    SMK Pelayaran Kalipuro juga merupakan satu-satunya SMK pelayaran negeri di Jawa Timur, Bali, dan Nusra.

    Keberadaan sekolah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pendidikan pelayaran, khususnya bagi Banyuwangi dan wilayah sekitarnya.

    Keberadaan SMK Negeri Pelayaran Kalipuro juga mendapat dukungan dari lingkungan maritim Banyuwangi.

    Banyuwangi disebut harus bangga memiliki SMK Negeri Pelayaran Kalipuro, terlebih sekolah tersebut didukung Selat Bali.

    Salah satu fasilitas yang menjadi tempat prakerin adalah penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

    Selain itu, terdapat Pelabuhan Tanjungwangi dengan trayek Banyuwangi-Lombok yang turut menjadi bagian dari lingkungan pendukung pendidikan dan pengalaman praktik bagi taruna.

    Dukungan tersebut menjadi salah satu keunggulan yang dimiliki SMK Negeri Pelayaran Kalipuro dalam memberikan pengalaman kepada para tarunanya sebelum terjun ke dunia pelayaran.

    SMK Negeri Pelayaran Kalipuro juga telah dikenal di seluruh Indonesia. Hal itu terbukti dari asal para tarunanya yang tidak hanya berasal dari Banyuwangi maupun wilayah Jawa Timur.

    Taruna SMK Negeri Pelayaran Kalipuro berasal dari berbagai daerah, di antaranya Kalimantan, Sumatra, Bali, Madura, dan Jawa Barat.

    Sementara itu, para alumninya juga telah tersebar dan berlayar di level nasional maupun internasional.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan SMK Negeri Pelayaran Kalipuro tidak hanya menjadi bagian dari pendidikan di Banyuwangi, tetapi juga telah dikenal hingga berbagai daerah di Indonesia.

    Sekolah ini terus berbenah untuk menjaga tradisi ketarunaan, meningkatkan kedisiplinan, serta mempersiapkan taruna menjadi perwira pelaut.

  • Lentera Sastra Banyuwangi Berkolaborasi dengan BCM dan Rumah Kebangsaan Peringati Hari Puisi Nasional

    Lentera Sastra Banyuwangi Berkolaborasi dengan BCM dan Rumah Kebangsaan Peringati Hari Puisi Nasional

    BANYUWANGI – Peringatan Hari Puisi Nasional yang digelar di Taman Blambangan, Banyuwangi, Minggu (26/7/2026), berlangsung semarak dan penuh makna.

    Kegiatan ini merupakan kolaborasi Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Banyuwangi Creative Market (BCM), dan Rumah Kebangsaan Banyuwangi yang menghadirkan panggung baca puisi sekaligus berbagai aksi sosial dalam rangka satu tahun Banyuwangi Creative Market.

    Dalam kegiatan tersebut, panitia berhasil menghimpun dana sebesar Rp6.450.000 dari pembuka lapak yang kemudian diwujudkan dalam bentuk santunan uang saku dan paket sembako bagi anak yatim piatu.

    Selain pembacaan puisi, acara juga diisi dengan donor darah, santunan kepada anak yatim, serta berbagai kegiatan sosial lainnya sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.

    Kolaborasi antara komunitas sastra, pelaku ekonomi kreatif, dan organisasi kemasyarakatan itu menghadirkan ruang publik yang memadukan seni, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, H. Syafaat, M.HI, mengatakan bahwa Hari Puisi Nasional merupakan momentum untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya sastra sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

    “Puisi adalah media yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan, membangun kepekaan sosial, serta mempererat persaudaraan. Karena itu, kami menggabungkan peringatan Hari Puisi Nasional dengan kegiatan sosial agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

    Panggung puisi diikuti oleh penyair, guru, pelajar, santri, serta pegiat literasi dari berbagai komunitas di Banyuwangi.

    Dari lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi hadir Kepala MTsN 5 Banyuwangi Herny Nilawati, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Uswatun Hasanah, Lulu Anwariyah dan Cicik Handayani dari MTsN 4 Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah, M.Pd., Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi yang juga guru MAN 1 Banyuwangi bersama para siswanya, Nukhbah Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi yang merupakan peraih Juara Liga Puisi Radar kategori guru sekaligus penerima penghargaan Sastra Tama, serta Nur Khofifah, guru MIN 1 Banyuwangi yang juga menerima penghargaan Sastra Tama.

    Peringatan Hari Puisi Nasional juga dimeriahkan penampilan Elok Faiqoh, Juara Liga Puisi Kategori SLTA Tahun 2025.

    Penampilannya yang penuh penghayatan mendapat apresiasi dari para hadirin.

    Warna tersendiri juga hadir melalui penampilan santriwati MI Darunnajah 2 Tukang Kayu, Azka Dzakiyatus Shaleha dan Zahiya Farha Sakinah, yang tampil didampingi Kepala Madrasah Majidatul Himmah, S.Ag.

    Keduanya membacakan puisi karya wali murid Ahmadi yang mengangkat isu penggusuran lapak UMKM Blambangan, dengan pesan agar masyarakat tetap bersabar dan meyakini bahwa rezeki berasal dari Yang Maha Kaya.

    Sementara itu, santri MI Syamsul Huda Bulusan Kalipuro, yakni Muhammad Bisma Arkananta Mahardika, Kiasatina Elisa Yulfani, dan Ananda Nur Millati Laili, tampil percaya diri didampingi guru pembina Wahyu Prahariningsih.

    Salah satu penampilan yang paling memukau hadir saat Purwowidodo, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, membawakan puisi berjudul Bukan Warisan Malaikat.

    Dengan penghayatan yang kuat dan intonasi yang penuh penjiwaan, ia mengajak hadirin merenungkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan tanggung jawab moral.

    Penampilannya mendapat tepuk tangan meriah dan menjadi salah satu momen paling berkesan dalam peringatan Hari Puisi Nasional tahun ini.

    Ketua Banyuwangi Creative Market, Rahmad Hidayat, mengapresiasi sinergi berbagai komunitas yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

    Menurutnya, perpaduan seni, kreativitas, dan aksi sosial menjadi kekuatan untuk menghidupkan ruang publik sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Banyuwangi.

    Sementara itu, Ketua Rumah Kebangsaan, Hakim Said, SH, menegaskan bahwa sastra memiliki peran strategis dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan.

    Ia berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan sebagai media membangun karakter bangsa melalui kebudayaan.

    Kegiatan baca puisi juga dihadiri Pengawas Madrasah St. Muanifah, penyair Faiz Abadi bersama putrinya Tirta Baiti Jannah, serta sejumlah penyair dan pegiat literasi dari berbagai komunitas.

    Suasana berlangsung hangat, tertib, dan penuh apresiasi terhadap karya sastra, menunjukkan bahwa puisi tetap memiliki tempat di hati masyarakat Banyuwangi.

    Melalui kolaborasi Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Banyuwangi Creative Market, dan Rumah Kebangsaan, peringatan Hari Puisi Nasional diharapkan menjadi ruang bersama untuk mengembangkan budaya literasi, memperkuat kepedulian sosial, serta meneguhkan semangat persatuan melalui seni dan kebudayaan.

    Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa sastra tidak hanya hidup dalam untaian kata, tetapi juga hadir sebagai penggerak solidaritas, persaudaraan, dan peradaban.

    Acara ditutup dengan tumpengan dan doa yang dipimpin Syech H. Mohammad Ikrom sebagai ungkapan tasyakuran atas satu tahun perjuangan UMKM Banyuwangi Creative Market (BCM), sekaligus sebagai wujud tawakal, permohonan ampun, dan doa lahir batin demi kebahagiaan dunia dan akhirat. (Aguk Wahyu Nuryadi)

  • Tingkatkan Literasi Sains Siswa, Dosen dan Mahasiswa Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga di SDN Jarangan 1

    Tingkatkan Literasi Sains Siswa, Dosen dan Mahasiswa Universitas Negeri Malang Gelar Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga di SDN Jarangan 1

    Pembelajaran sains tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas.

    Melalui pemanfaatan potensi alam yang ada di sekitar lingkungan sekolah, dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi siswa SDN Jarangan 1, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Literasi Sains Siswa SDN Jarangan 1 melalui Pelatihan Pembuatan Teh Herbal Daun Mangga (Mangifera indica L.)” menjadi bukti nyata bahwa sains dapat dipelajari secara kontekstual melalui praktik langsung yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Kegiatan yang diselenggarakan pada Kamis, 16 Juli 2026 ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi sains peserta didik sekaligus mengenalkan pemanfaatan tanaman lokal sebagai produk herbal bernilai tambah.

    Daun mangga yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah pekarangan diperkenalkan sebagai bahan baku teh herbal yang memiliki potensi manfaat bagi kesehatan apabila diolah dengan benar.

    Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dipelajari melalui buku, tetapi juga melalui proses mengamati, mencoba, menganalisis, dan menarik kesimpulan berdasarkan fenomena yang mereka temui di lingkungan sekitar.

    pengabdian mahasiswa um di sd 1 jarangan

    Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Frida Kunti Setiowati, S.T., M.Si. dengan anggota Dr. Sofia Ery Rahayu, S.Pd., M.Si., Dr. Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si., Dra. Hj. Nursasi Handayani, M.Si., Dr. Siti Imroatul Maslikha, S.Si., M.Si., Agung Witjoro, S.Pd., M.Kes., Stevanus Purbadirja, dan Talita Dwi Ardiningrum.

    Tim pengabdian memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna dengan memanfaatkan permasalahan dan potensi yang ada di lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

    Menurut Stevanus Purbadirja, kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan melalui pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

    “Ini merupakan langkah siswa untuk menghadapi tantangan di Era Globaliasi dan perkembangan di era 5.0, ini juga merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan bahan yang ada disekitar kita menjadi nilai guna,” ujar Stevanus Purbadirja (17/07).

    Sejak kegiatan dimulai, suasana belajar tampak hidup dan penuh antusiasme. Para siswa mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

    Diawali dengan pengenalan tanaman mangga beserta kandungan senyawa alaminya, peserta kemudian mempelajari manfaat daun mangga, prinsip pengolahan pangan herbal, hingga pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan pangan selama proses produksi.

    Materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, demonstrasi, permainan edukatif, serta tanya jawab sehingga mampu membangun keterlibatan aktif seluruh peserta.

    Puncak kegiatan berlangsung ketika siswa mempraktikkan secara langsung proses pembuatan teh herbal daun mangga. Dengan pendampingan dosen dan mahasiswa UM, peserta belajar memilih daun yang tepat, melakukan pencucian, pelayuan, penggulungan (rolling), pengeringan, hingga proses pengemasan sederhana.

    mahasiswa um di sd 1 jarangan

    Setiap tahapan tidak hanya mengajarkan keterampilan praktis, tetapi juga memperkenalkan konsep-konsep ilmiah seperti perubahan fisika dan kimia, pengaruh suhu terhadap kadar air, pentingnya sanitasi, serta teknik pengawetan bahan pangan.

    Melalui pengalaman tersebut, siswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan teori sains dengan penerapannya dalam kehidupan nyata.

    Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan karakter ilmiah pada peserta didik.

    Siswa dilatih untuk mengamati secara teliti, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, bekerja sama dalam kelompok, serta menyampaikan hasil pengamatannya.

    Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai bagian dari kompetensi abad ke-21 yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan saat ini.

    Ketua tim pengabdian, Dr. Frida Kunti Setiowati, S.T., M.Si., menyampaikan bahwa pemanfaatan daun mangga dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, memiliki nilai ekonomis, serta menyimpan potensi sebagai bahan pangan fungsional.

    “Pemanfaatan daun mangga dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, memiliki nilai ekonomis, serta menyimpan potensi sebagai bahan pangan fungsional. Melalui inovasi sederhana ini, siswa diperkenalkan pada konsep hilirisasi hasil alam sejak usia dini sehingga mereka memahami bahwa sumber daya di sekitar dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi, dan ramah lingkungan apabila didukung oleh pengetahuan sains dan kreativitas,” ujar Dr. Frida Kunti Setiowati (17/07).

    Kepala SDN Jarangan 1, Suhartiwiningsih, S.Pd.SD., menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut.

    Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar memberikan pengalaman belajar baru yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

    Pembelajaran yang memadukan teori dan praktik dinilai lebih efektif dalam menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus memperkuat pemahaman konsep-konsep sains.

    Kehadiran dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang juga menjadi inspirasi bagi peserta didik untuk terus semangat belajar dan bercita-cita melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

    “Ini merupakan momentum yang Istimewa bagi SDN Jarangan 1, bisa diatangai oleh Bapak/Ibu Dosen Universitas Negeri Malang, serta kita memperoleh Ilmu Baru untuk keberlanjutan,” ujarnya (18/07).

    Bagi Universitas Negeri Malang, kegiatan ini merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat.

    Dosen dan mahasiswa tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun kemitraan dengan sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berkelanjutan.

    Melalui kolaborasi tersebut, hasil-hasil kajian akademik dapat diterapkan secara langsung sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar.

    Pelatihan pembuatan teh herbal daun mangga di SDN Jarangan 1 menjadi bukti bahwa literasi sains dapat ditumbuhkan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

    Dengan mengintegrasikan potensi lokal, pembelajaran berbasis praktik, dan pendampingan dari perguruan tinggi, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami konsep sains, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

    Dari selembar daun mangga, lahir semangat baru untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan melalui sains. (IZ.Fathma Agmadina/AWN)

  • Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi

    Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi

    Sampah dan Paradoks Pembangunan Banyuwangi
    Penulis: Andi Sep Kurniawan, Anita Setyawati, Mohamad Yasin

    Di tengah sejumlah apresiasi dan penghargaan di bidang lingkungan yang pernah diterima Banyuwangi, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana capaian tersebut sejalan dengan kapasitas pengelolaan timbulan sampah yang cenderung meningkat.

    Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika volume sampah di Banyuwangi diperkirakan telah mencapai 850 sampai dengan 1.200 ton per hari.

    Angka itu mungkin terdengar sebagai konsekuensi wajar dari pertumbuhan penduduk, berkembangnya aktivitas ekonomi, dan meningkatnya kunjungan wisatawan.

    Namun di balik pertumbuhan tersebut tersimpan persoalan yang sering luput dari perhatian. Semakin maju suatu daerah, semakin besar pula tekanan yang dihadapi lingkungannya.

    Fenomena ini tidak hanya terjadi di Banyuwangi. Secara nasional, kualitas lingkungan masih menunjukkan berbagai pekerjaan rumah.

    Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat Indeks Kualitas Air Indonesia tahun 2024 berada pada level 54,78, sedikit di bawah target nasional.

    Bahkan lebih dari dua pertiga titik pantau sungai pada Semester I 2025 masih berada dalam kondisi tercemar.

    Selama ini pencemaran air kerap diasosiasikan dengan limbah industri atau aktivitas pertambangan. Padahal, sumber persoalan tidak selalu berasal dari sektor-sektor besar.

    Dalam banyak kasus, pencemaran justru berawal dari aktivitas yang tampak biasa, yaitu sampah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik.

    Di sinilah persoalan sampah menjadi menarik. Dampaknya jarang terlihat secara langsung.

    Satu kantong sampah yang dibuang hari ini tidak serta-merta mengubah warna sungai menjadi hitam. Tumpukan sampah di lahan kosong tidak langsung mencemari sumur warga.

    Akan tetapi, kerusakan lingkungan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tumbuh perlahan, terakumulasi, lalu muncul dalam bentuk biaya yang sering kali jauh lebih mahal dibandingkan upaya pencegahannya.

    Dalam ekonomi, kondisi semacam ini menggambarkan adanya biaya tersembunyi yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh pihak yang menghasilkan masalah.

    Ketika sampah dibuang sembarangan, konsekuensinya tidak berhenti pada pelaku.

    Biaya kesehatan meningkat, kualitas air menurun, risiko banjir bertambah, dan pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk pemulihan lingkungan.

    Dengan kata lain, persoalan sampah sesungguhnya adalah persoalan distribusi biaya sosial.

    Karena itu, pengelolaan sampah tidak lagi dapat dipandang semata sebagai urusan kebersihan kota. Ia telah menjadi bagian dari agenda pembangunan.

    Daerah yang gagal mengelola sampah bukan hanya menghadapi persoalan lingkungan, tetapi juga menghadapi penurunan kualitas hidup masyarakat, meningkatnya beban fiskal, hingga berkurangnya daya tarik investasi dan pariwisata.

    Bagi Banyuwangi, tantangan tersebut memiliki arti yang lebih besar. Selama ini keberhasilan daerah tidak hanya dibangun melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui reputasi sebagai kabupaten yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan.

    Reputasi itu merupakan aset yang nilainya tidak kecil. Namun seperti aset lainnya, ia memerlukan pemeliharaan yang berkelanjutan.

    Kesadaran atas tantangan tersebut tercermin dalam Program Banyuwangi Hijau yang menjadi salah satu instrumen penting pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

    Program ini tidak hanya berorientasi pada kebersihan kawasan perkotaan, tetapi juga berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

    Fokusnya mencakup pengurangan sampah dari sumbernya, penguatan pemilahan sampah rumah tangga, pengembangan ekonomi sirkular, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

    Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dalam pengelolaan sampah.

    Persoalan sampah tidak lagi diposisikan sebagai urusan akhir berupa pengangkutan dan pembuangan, melainkan sebagai bagian dari proses pembangunan yang melibatkan rumah tangga, komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah daerah secara bersama-sama.

    Keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil diangkut, tetapi juga dari kemampuan mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.

    Dalam praktiknya, Banyuwangi telah menerapkan berbagai model pengelolaan sampah. Di sejumlah wilayah, layanan dilakukan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang menyediakan sarana pemilahan dan pengangkutan sampah secara rutin.

    Di wilayah lainnya, masyarakat didorong untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk didaur ulang atau diproses lebih lanjut.

    erbagai skema tersebut menunjukkan bahwa solusi pengelolaan sampah sesungguhnya telah tersedia. Tantangan berikutnya adalah memastikan solusi tersebut menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.

    Akan tetapi, pengalaman banyak daerah menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan lingkungan pada akhirnya tidak ditentukan oleh kualitas program semata.

    Persoalan mendasarnya terletak pada perilaku. Infrastruktur dapat dibangun. Teknologi dapat dihadirkan.

    Sistem dapat diperbaiki. Namun seluruh instrumen tersebut memiliki batas ketika berhadapan dengan kebiasaan masyarakat yang masih memandang sampah sebagai sesuatu yang selesai begitu keluar dari rumah.

    Cara pandang semacam itu menjadi akar dari paradoks pembangunan lingkungan. Di satu sisi, masyarakat menginginkan lingkungan yang bersih, sungai yang sehat, dan kawasan wisata yang terawat.

    Namun di sisi lain, masih terdapat kebiasaan membuang sampah sembarangan, enggan memilah sampah dari rumah, atau menganggap biaya pengelolaan sampah sebagai beban tambahan.

    Akibatnya, biaya lingkungan yang muncul pada akhirnya harus ditanggung bersama oleh seluruh masyarakat.

    Di titik inilah masa depan Banyuwangi akan diuji. Pertumbuhan ekonomi dan pariwisata yang menjadi sumber kebanggaan daerah pada saat yang sama juga menghasilkan tekanan lingkungan yang semakin besar.

    Tantangannya bukan memilih antara pembangunan atau lingkungan, melainkan memastikan keduanya berjalan beriringan.

    Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi juga oleh seberapa baik ia menjaga kualitas lingkungan yang menopang pertumbuhan tersebut.

    Banyuwangi telah menunjukkan komitmen untuk menjadi daerah hijau melalui berbagai inisiatif pengelolaan sampah dan pembangunan berkelanjutan.

    Pertanyaan berikutnya adalah apakah komitmen itu mampu bertahan ketika berhadapan dengan persoalan sampah yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

    Sebab masa depan Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh keputusan sehari-hari masyarakat dalam memperlakukan sampah yang mereka hasilkan.

    Penulis: Andi Sep Kurniawan, Anita Setyawati, Mohamad Yasin

  • Tentang Sesuatu yang Belum Selesai: Cici Arista Devi dan Kisah Perempuan yang Mengabdi dalam Diam

    Tentang Sesuatu yang Belum Selesai: Cici Arista Devi dan Kisah Perempuan yang Mengabdi dalam Diam

    Menulis selalu bermula dari sesuatu yang mengusik, sesuatu yang tak kunjung selesai meski hari terus berganti, lalu perlahan mencari jalan pulang melalui kata-kata.

    Tidak semua yang dilihat dapat begitu saja dilupakan, tidak semua yang dirasakan mampu selesai dalam percakapan.

    Ada pengalaman yang terus tinggal dalam ingatan, ada kegelisahan yang menolak reda, hingga akhirnya memilih hidup sebagai sebuah tulisan.

    Keresahan itu pula yang membawa Cici Arista Devi berlabuh pada aksara: menjadikan tulisan sebagai ruang untuk merawat gagasan, merekam pengalaman, dan memahami berbagai persoalan yang ditemuinya.

    Di balik setiap tulisan, ia percaya selalu ada tanggung jawab untuk menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar rangkaian kata.

    Sebab, tulisan bukan hanya perkara apa yang ingin disampaikan, melainkan juga tentang keberanian melihat kenyataan apa adanya, lalu mengajaknya menjadi bahan renungan bersama.

    Dari sekian banyak hal yang ditemui, ada satu kenyataan yang terus mengetuk pikirannya.

    Kenyataan yang hadir begitu dekat, tumbuh di sekitar kehidupan sehari-hari, tetapi acap kali luput untuk benar-benar dipahami: perempuan.

    Ya, tentang perempuan yang menjalani banyak peran dalam waktu yang bersamaan, tetapi masih sering dipandang hanya dari satu sisi.

    Cici SMK Models

    Tentang pengabdian yang kerap diukur dari apa yang tampak, sementara banyak perjuangan lain berlangsung dalam sunyi dan nyaris luput dari perhatian.

    Kegelisahan itu tidak lahir dari keinginan untuk mempertentangkan peran perempuan di ruang domestik dan ruang publik. Justru sebaliknya, Cici melihat keduanya dapat berjalan berdampingan.

    Menjadi ibu, mengurus keluarga, aktif di organisasi, hingga mengambil bagian dalam kehidupan sosial bukanlah pilihan yang saling meniadakan.

    Dari keyakinan itulah gagasan demi gagasan mulai disusun, hingga akhirnya menjelma menjadi sebuah rajutan kata yang membawa suara perempuan berkemajuan dari sudut pandang yang lebih utuh.

    Rajutan kata itu kemudian menemukan bentuknya dalam sebuah artikel berjudul Dapur, Gendongan, dan Nasyiah: Seni Shodaqoh Waktu Perempuan Berkemajuan.

    Melalui tulisan tersebut, Cici tidak sedang menawarkan jawaban yang paling benar.

    Ia hanya mengajak pembaca berhenti sejenak, melihat kembali kehidupan perempuan dari sudut yang mungkin selama ini luput diperhatikan.

    Bahwa di balik dapur yang tetap mengepul, gendongan yang tak pernah lepas dari pelukan seorang ibu, dan pengabdian di ruang organisasi, ada perjuangan yang berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.

    Barangkali karena lahir dari kegelisahan yang nyata, tulisan itu pun mampu menyentuh pembacanya.

    Bukan semata karena pilihan diksinya, melainkan karena ia berbicara tentang kehidupan yang begitu dekat dengan banyak insan.

    Tentang perempuan yang setiap hari membagi waktunya, tenaganya, bahkan dirinya sendiri, agar keluarga tetap bertumbuh, organisasi terus bergerak, dan nilai-nilai kebaikan tidak berhenti diwariskan.

    Tidak pernah ada yang benar-benar tahu sejauh mana sebuah tulisan akan melangkah.

    Siapa sangka, kegelisahan yang mula-mula hanya bergumul di dalam benaknya, justru memilih jalannya sendiri.

    Cici Arista Devi SMK Models

    Di antara puluhan karya yang berkompetisi, tulisan tersebut mengantarkan nama Cici Arista Devi sebagai Juara I dalam Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Banyuwangi..

    Penghargaan itu tentu menjadi kabar yang membahagiakan. Namun, bagi Cici, kemenangan barangkali bukanlah akhir dari perjalanan sebuah tulisan.

    Sebab, sejak awal yang ia perjuangkan bukan semata-mata menjadi pemenang, melainkan menghadirkan kegelisahan yang selama ini hidup di sekelilingnya agar dapat dibaca, dipahami, dan direnungkan bersama.

    “Tulisan ini tidak lahir karena saya ingin mengubah dunia. Saya hanya tidak ingin perjuangan perempuan berlalu begitu saja tanpa sempat diceritakan. Sebab, ada begitu banyak pengabdian yang tumbuh dalam diam, tetapi justru menjadi penopang kehidupan,” tuturnya.

    Barangkali, itulah yang membuat sebuah tulisan memiliki usia yang lebih panjang daripada tepuk tangan atau sebuah piala penghargaan.

    Ketika perlombaan usai dan nama-nama pemenang perlahan menjadi kenangan, gagasan yang ditinggalkan sebuah tulisan tetap dapat hidup, berpindah dari satu pembaca ke pembaca lainnya, menghadirkan pertanyaan baru, sekaligus menumbuhkan cara pandang yang lebih lapang.

    Bagi Cici, tulisan itu adalah ikhtiar kecil untuk merawat kesadaran bahwa masih banyak hal di sekitar kita yang layak didengar, dipahami, dan diceritakan.

    Sebab, pada akhirnya, setiap tulisan selalu berangkat dari sesuatu yang belum selesai.

    Sesuatu yang masih tinggal dalam pikiran, mengendap dalam perasaan, dan menunggu untuk menemukan bentuknya melalui kata-kata.

    Begitu pula dengan kisah tentang perempuan yang ia tuliskan. Seolah refleksi untuk berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hidup dalam dirinya.

    Bahwa perempuan tidak semestinya hanya dikenang dari peran yang tampak di permukaan, melainkan juga dari ketulusan, keteguhan, dan pengabdian yang sering kali berlangsung tanpa sorotan.

    Dan seperti halnya setiap tulisan yang bermula dari sesuatu yang mengusik, kisah Cici pun mengingatkan bahwa kata-kata tidak pernah benar-benar lahir untuk sekadar dibaca.

    Aksara hadir untuk mengetuk kesadaran, merawat harapan, dan membuat kita memandang kehidupan dengan mata yang sedikit lebih jernih daripada sebelumnya.

    Tabik!
    Maulana Affandi
    Menulis agar tidak lupa cara merasa

  • Perkuat Eksistensi, Lembaga Penyiaran Publik Lokal Banyuwangi Radio Blambangan FM Hadir di Ruang Digital

    Perkuat Eksistensi, Lembaga Penyiaran Publik Lokal Banyuwangi Radio Blambangan FM Hadir di Ruang Digital

    Memperkuat eksistensi di tengah gempuran era digital, Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Blambangan FM Banyuwangi kini merambah ruang digital.

    Program-program unggulan Radio Blambangan tidak hanya bisa didengarkan melalui frekuensi radio analog, tetapi juga disiarkan secara langsung (live streaming) melalui website dan kanal media sosial.

    Asisten Administrasi Umum Setda Banyuwangi sekaligus Plt Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian, Budi Santoso, mengatakan bahwa sebelumnya kekuatan radio terletak pada audio dan imajinasi pendengar terhadap sosok penyiar.

    Namun, perkembangan teknologi mengubah perilaku audiens yang kini lebih menyukai konten audio visual.

    “Menjawab tantangan tersebut, Radio Blambangan mengadopsi konsep multiplatform di ruang digital. Tidak hanya untuk memperkuat eksistensi radio, namun sekaligus menjangkau audiens setia Blambangan di perantauan, sekaligus menggaet pendengar baru dari generasi muda yang akrab dengan media sosial,” kata Budi.

    blambangan fm

    Program-program unggulan Radio Blambangan bisa diakses selama 24 jam melalui website radioblambanganfm.com.

    Sementara itu, interaksi tatap muka berupa chat, komentar, dan request lagu bisa diakses audiens melalui live streaming program-program unggulan radio, baik melalui Instagram, Facebook, maupun TikTok.

    Di antaranya live streaming Program Isuk-Isuk setiap pukul 07.00–09.00 WIB, Vemale Program pukul 09.00–12.00 WIB, Program Young n Choice pukul 13.00–16.00 WIB, Program Goyang Suka-Suka pukul 18.00–20.00 WIB, dan Program Dua Dekade pukul 20.00–22.00 WIB.

    Melalui kolom komentar live streaming, para pendengar bisa langsung mengobrol dengan penyiar.

    Bahkan, dalam beberapa program khusus, Radio Blambangan memanfaatkan fitur live joint di media sosial, yang memungkinkan pendengar dari berbagai pelosok Banyuwangi bertatap muka langsung secara virtual dan berbagi cerita.

    “Bahkan pendengar Radio Blambangan dari luar negeri, seperti para rekan pekerja migran, sering memanfaatkan platform ini untuk berbagi cerita dan melepas kangen pada Banyuwangi,” ujar Budi.

    Meski bertransformasi secara digital dan modern, Radio Blambangan menegaskan komitmennya untuk tidak meninggalkan akar budaya lokal.

    Konten-konten kebudayaan Banyuwangi, lagu-lagu Osing, hingga informasi seputar program pembangunan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tetap menjadi menu utama yang dikemas secara kekinian agar ramah bagi generasi muda, baik Gen Z maupun milenial.

    “Dengan strategi di ruang digital ini, Radio Blambangan berhasil membuktikan diri bukan sekadar media bernostalgia, melainkan ruang kumpul digital yang dinamis, interaktif, dan tetap dicintai oleh lintas generasi di Banyuwangi,” pungkas Budi.

  • Tanamkan Nilai Adab dan Empati, LKSA Khadijah Ajak Anak Asuh Berbagi dengan Lansia

    Tanamkan Nilai Adab dan Empati, LKSA Khadijah Ajak Anak Asuh Berbagi dengan Lansia

    Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Khadijah Banyuwangi mengisi masa liburan sekolah dengan menggelar Pesantren Kilat dan Tadabbur Alam pada Jumat-Sabtu (3-4/7).

    Kegiatan yang berlangsung di kompleks panti asuhan di Jalan MT Haryono Nomor 58, Karangrejo, tersebut diikuti 17 anak asuh.

    Kegiatan diawali dengan pembacaan surat-surat pendek dalam Juz Amma yang dipimpin santriwati Aulia Awang, dilanjutkan doa bersama yang dipimpin Pembina Yayasan, Hj. Muzayinah Zaini.

    Ketua Panitia, Hj. Ilmiah, mengatakan pesantren kilat tahun ini mengusung tema “Mendahulukan Adab dari Ilmu dan Meningkatkan Martabat Yatim dengan Memuliakan, Bukan Mengasihani.”

    Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan membentuk akhlakul karimah, menumbuhkan kemandirian, sekaligus menyiapkan anak-anak menjadi kader agama dan kader bangsa.

    Materi pertama disampaikan Aguk Wahyu Nuryadi mengenai organisasi dan kepemimpinan. Peserta dibagi menjadi lima kelompok untuk bermusyawarah memilih ketua dan sekretaris.

    Masing-masing kelompok memilih nama yang terinspirasi dari tokoh-tokoh Islam maupun pahlawan nasional, seperti Sahabat Nabi, Abu Nawas, dan Cut Nyak Dhien.

    Dalam kesempatan itu, Aguk mendorong para peserta aktif dalam organisasi, baik di sekolah maupun masyarakat.

    “Ayo aktif menjadi pengurus kelas, OSIS, remaja masjid, karang taruna, maupun organisasi pelajar dan kepemudaan sebagai bekal menjadi pemimpin di masa depan. Pada dasarnya kita semua adalah khalifah yang kelak dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

    Usai salat Magrib berjemaah, kegiatan dilanjutkan dengan tahlil dan istigasah yang dipimpin Ustaz Abdul Rosyid. Doa dipanjatkan untuk para pendiri yayasan serta sejumlah ulama.

    Pada kesempatan itu, keluarga almarhumah Siti Hazilah Hatib juga turut memohon doa bersama karena genap 100 hari wafatnya almarhumah.

    Setelah salat Isya, Ketua LKSA Khadijah, Hj. Miftahur Rohman, S.Ag., memberikan materi tentang thaharah, kesucian, salat, dan pendidikan reproduksi sesuai tuntunan syariat.

    “Materi ini penting bagi anak-anak yang sudah memasuki masa balig,” katanya.

    Sesi penutup diisi refleksi oleh Wakil Sekretaris LKSA Khadijah, Widayani, S.Pd., yang akrab disapa Bu Wiwit.

    Ia memotivasi anak-anak asuh agar tetap optimistis menjalani kehidupan dengan meneladani Rasulullah SAW yang juga tumbuh sebagai anak yatim.

    “Kalian memang kehilangan orang tua, tetapi jangan sampai kehilangan Allah. Rajinlah salat, gemar bersedekah, murah senyum, dan selalu berprasangka baik,” pesannya.

    Rangkaian kegiatan berlanjut pada dini hari dengan salat tahajud berjemaah.

    Pagi harinya, peserta mengikuti kerja bakti, senam bersama, kemudian melaksanakan tadabbur alam menuju kawasan Kolam Renang 9 Palm di dekat Pantai Gumuk Kantong, Muncar.

    Sebelum menuju lokasi wisata, rombongan menyempatkan bersilaturahmi sekaligus berbagi kebahagiaan dengan penghuni Panti Jompo Sahabat Dhuafa di Desa Blambangan.

    Pengasuh Panti Jompo Sahabat Dhuafa, Indah Purwaningrum, menjelaskan bahwa lembaga yang telah berdiri selama tujuh tahun itu saat ini mendampingi 16 anak yatim yang masih menempuh pendidikan dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, serta merawat 42 lansia berusia antara 63 hingga 95 tahun.

    Selain itu, panti juga mengelola layanan ambulans untuk mengantar pasien rujukan ke RSUD Blambangan maupun RS Saiful Anwar Malang.

    “Kami berupaya mandiri dengan dukungan para dermawan yang digerakkan Allah. Selain ikhtiar menjaga kesehatan, kami juga membina para lansia agar meraih husnul khatimah melalui salat lima waktu dan khataman Al-Qur’an,” ujar Indah.

  • Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Kebo-Keboan Alas Malang, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

    Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tetap teguh menjaga tradisi leluhur melalui ritual adat Kebo-Keboan.

    Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, ikhtiar, dan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, serta hasil panen yang melimpah.

    Ketua Lembaga Adat Kebo-Keboan Alas Malang sekaligus Ketua Panitia Kebo-Keboan 2026, Doni Agus Ferdianto, menjelaskan bahwa tradisi tersebut lahir dari sebuah peristiwa pagebluk yang pernah melanda desa pada masa lampau.

    Wabah penyakit saat itu menyebar begitu cepat hingga merenggut banyak nyawa warga.

    “Konon, pada masa itu seseorang yang pagi hari jatuh sakit, sore harinya sudah meninggal. Dalam kondisi tersebut, Buyut Karti melakukan semedi di Watu Loso sebagai ikhtiar memohon kepada Tuhan agar pagebluk segera berakhir,” ujar Doni.

    Dari peristiwa itulah kemudian lahir ritual Kebo-Keboan yang terus dilaksanakan hingga kini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan doa agar masyarakat dijauhkan dari berbagai musibah, diberi keselamatan, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan dan pertanian.

    Kerbau dipilih sebagai simbol utama dalam ritual ini karena memiliki kedekatan yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris.

    Hewan tersebut dikenal kuat, tangguh, dan menjadi sahabat petani dalam mengolah sawah sejak dahulu.

    Selain itu, dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat, Danyang Watu Loso digambarkan sebagai sosok berbadan manusia berkepala kerbau yang dipercaya menjaga wilayah Alas Malang.

    Rangkaian ritual Kebo-Keboan dimulai sejak malam 1 Suro dengan menggelar selametan di Watu Loso, tempat yang diyakini sebagai lokasi Buyut Karti memperoleh petunjuk untuk mengakhiri pagebluk.

    Memasuki H-7, warga bergotong royong mendirikan Gapura Poro Bungkil yang kemudian dihiasi berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.

    Pada H-3, panitia bersama masyarakat mengadakan santunan kepada anak-anak yatim yang diawali dengan pawai obor.

    Kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial sekaligus doa agar seluruh rangkaian ritual berlangsung dengan penuh keberkahan.

    Dua hari menjelang puncak acara, masyarakat kembali bergotong royong menghias gapura menggunakan beragam hasil pertanian, mulai dari padi, jagung, buah-buahan, hingga aneka sayuran yang menjadi hasil unggulan Desa Alas Malang.

    Sehari sebelum prosesi utama, warga mengikuti tasyakuran bersama yang digelar di sepanjang jalan dusun.

    Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika malam harinya, seusai salat Isya, masyarakat menanam berbagai jenis pohon di sepanjang jalan kampung sebagai simbol pelestarian alam dan harapan akan kehidupan yang terus tumbuh.

    Menjelang dini hari, para sesepuh adat melaksanakan ritual peletakan sesaji di empat batu yang dianggap sakral, yakni Watu Loso, Watu Nogo atau Watu Tumpeng, Watu Gajah, dan Watu Karangan.

    Keempat batu tersebut dipercaya telah ada sejak sebelum Desa Alas Malang berdiri dan diyakini menjadi penjaga Dusun Krajan dari berbagai ancaman maupun niat jahat.

    Ritual ini menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan para leluhur agar seluruh rangkaian Kebo-Keboan berjalan dengan aman, lancar, dan membawa keberkahan bagi masyarakat.

    Lebih dari sekadar ritual adat, Kebo-Keboan juga menjadi ruang yang memperkuat solidaritas warga. Seluruh masyarakat terlibat aktif dalam setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan, mulai dari membersihkan lingkungan, menghias kampung, menyiapkan perlengkapan ritual, hingga menyambut tamu yang datang dari berbagai daerah.

    Semangat gotong royong tersebut menjadi nilai penting yang terus diwariskan kepada generasi muda.

    Di sisi lain, penyelenggaraan Kebo-Keboan turut memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat.

    Ribuan wisatawan yang hadir setiap tahun membawa berkah bagi para pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penjual hasil pertanian, hingga penyedia jasa parkir dan transportasi lokal.

    Perputaran ekonomi yang tercipta selama penyelenggaraan ritual menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga.

    Momentum ini juga menjadi panggung bagi para pelaku seni dan budaya lokal untuk menunjukkan kreativitasnya.

    Kelompok kesenian tradisional, penabuh gamelan, penari, pembuat properti adat, hingga para perajin lokal turut ambil bagian dalam menyukseskan rangkaian acara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.

    Bagi masyarakat Desa Alas Malang, Kebo-Keboan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang.

    Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual, gotong royong, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

    Melalui Kebo-Keboan, warisan budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga menjadi kekuatan yang mempersatukan warga sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa.