Blog

  • 6 Perbedaan Jersey Asli dan KW yang Wajib Kamu Ketahui

    6 Perbedaan Jersey Asli dan KW yang Wajib Kamu Ketahui

    Jika kamu seorang penggemar olahraga, terutama sepak bola, pasti pernah mendengar istilah jersey asli dan jersey KW, kan?

    Jersey adalah jenis pakaian berbahan kain rajutan yang sering digunakan untuk olahraga, seperti kaos tim sepak bola.

    Bagi banyak orang, memiliki jersey tim kesayangan adalah kebanggaan tersendiri.

    Tapi, harga jersey asli yang mahal membuat banyak orang memilih jersey KW sebagai alternatif.

    Namun, tahukah kamu bahwa ada perbedaan mencolok antara jersey asli dan KW?

    Dalam artikel ini, sastrawacana.id/ akan membahasnya secara lengkap agar kamu bisa lebih memahami dan menentukan pilihan yang tepat.

    Perbedaan Jersey Asli dan KW

    Bagi penggemar olahraga, jersey bukan sekadar pakaian, tapi melambangkan loyalitas, identitas, dan rasa kebanggaan terhadap tim yang didukung.

    Mengenakan jersey saat menonton pertandingan atau bahkan di kehidupan sehari-hari adalah cara banyak orang menunjukkan dukungan mereka.

    Karena itu, banyak orang rela merogoh kocek untuk membeli jersey asli. Namun, tak sedikit juga yang tergoda membeli versi KW karena harganya yang jauh lebih murah.

    Berikut adalah adalah perbedaan antara jersey asli dan KW.

    1. Perbedaan Harga

    Hal pertama yang membedakan jersey asli dan KW adalah harganya.

    Jersey asli biasanya dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi, berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp2 juta, tergantung pada klub, edisi, atau fitur tambahan.

    Harga yang tinggi ini disebabkan oleh kualitas bahan, lisensi resmi, dan desain eksklusif.

    Di sisi lain, jersey KW memiliki harga yang jauh lebih terjangkau, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp300 ribu.

    Harga yang murah ini tentu menggiurkan, tetapi kualitas yang ditawarkan pun sebanding dengan harganya.

    Jadi, jika menemukan jersey tim kesayangan dengan harga yang terlalu murah, besar kemungkinan itu adalah jersey KW.

    2. Kualitas Bahan

    Jersey asli dibuat dari bahan berkualitas tinggi yang dirancang khusus untuk kenyamanan dan performa pemain di lapangan.

    Teknologi seperti Dri-FIT dari Nike atau Climacool dari Adidas sering digunakan untuk memastikan jersey tetap ringan, menyerap keringat dengan baik, dan tidak mudah panas saat dikenakan.

    Sebaliknya, jersey KW biasanya menggunakan bahan yang lebih murah.

    Teksturnya cenderung lebih kasar, tidak sefleksibel jersey asli, dan kurang nyaman saat dipakai dalam waktu lama.

    Jersey KW juga biasanya kurang menyerap keringat, sehingga tidak ideal untuk aktivitas fisik yang intens.

    3. Detail Desain

    Salah satu cara mudah membedakan jersey asli dan KW adalah dengan melihat detail desainnya.

    Jersey asli memiliki desain yang sangat presisi, mulai dari warna, logo, hingga bordir sponsor.

    Logo tim biasanya dibuat dengan teknik bordir atau sablon berkualitas tinggi yang tidak mudah pudar atau rusak.

    Sebaliknya, pada jersey KW, detail seperti logo atau sponsor sering terlihat kurang rapi.

    Warna jersey KW kadang lebih pudar atau bahkan tidak sesuai dengan warna resmi tim.

    Jika perhatikan secara langsung, perbedaan ini akan sangat terlihat.

    4. Label dan Tag Resmi

    Jersey asli selalu dilengkapi dengan label dan tag resmi dari produsen.

    Misalnya, jersey Nike memiliki tag kecil dengan logo Nike, barcode, dan informasi tentang produk.

    Selain itu, jersey asli biasanya memiliki hologram atau tanda khusus yang menandakan bahwa produk tersebut resmi.

    Sementara itu, jersey KW memiliki label atau tag yang terlihat asal-asalan.

    Tulisannya mungkin kurang jelas, atau barcode-nya hanya sekadar hiasan.

    Beberapa jersey KW bahkan tidak memiliki tag sama sekali, sehingga menunjukkan bahwa itu bukan produk resmi.

    5. Ketahanan dan Umur Pemakaian

    Jersey asli dirancang untuk bertahan dalam jangka waktu yang lama.

    Meskipun sering dicuci atau digunakan untuk aktivitas berat, warnanya tidak mudah pudar, dan bahan tetap dalam kondisi baik.

    Kualitas tersebut menjadikannya sebagai bentuk investasi yang sepadan, terutama bagi kolektor jersey.

    Sebaliknya, jersey KW cenderung lebih cepat rusak.

    Sablon sponsor atau logo mungkin mulai mengelupas setelah beberapa kali dicuci, dan bahan kainnya bisa melar atau berubah bentuk.

    Jika kamu ingin jersey yang tahan lama, tentu jersey asli adalah pilihan yang lebih baik.

    6. Keberadaan di Pasaran

    Jersey asli hanya dijual di toko resmi, distributor terpercaya, atau situs web klub.

    Hal ini memastikan bahwa pembeli mendapatkan produk yang otentik dan berkualitas.

    Beberapa jersey edisi khusus bahkan hanya dijual dalam jumlah terbatas, sehingga memiliki nilai koleksi yang tinggi.

    Sementara itu, jersey KW dapat ditemukan dengan mudah di pasar-pasar lokal, toko online, atau pedagang kaki lima.

    Produksi jersey KW biasanya dilakukan secara massal tanpa memperhatikan kualitas atau legalitas.

    Itulah perbedaan antara jersey asli dan KW yang bisa diketahui dengan jelas, mulai dari harga, kualitas bahan, hingga detail desain.

    Jika kamu mencari kualitas terbaik, kenyamanan, dan ingin mendukung tim kesayangan dengan sepenuh hati, maka jersey asli adalah pilihan yang tepat.

  • Desa Kemiren Banyuwangi Raih Juara 2 Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

    Desa Kemiren Banyuwangi Raih Juara 2 Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

    Kabupaten Banyuwangi kembali mencatatkan prestasi gemilang di tingkat nasional.

    Desa Kemiren, yang terletak di Kecamatan Glagah, berhasil meraih Juara 2 dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 kategori Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM).

    Penghargaan ini diterima pada acara Malam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 yang digelar di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada Minggu malam (17/11).

    Plt. Bupati Banyuwangi, Sugirah, hadir langsung untuk menerima penghargaan tersebut yang diserahkan oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto, bersama Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana.

    Kompetisi Ketat di Tingkat Nasional

    Desa Wisata Adat Kemiren bersaing dengan lebih dari 6.000 desa wisata dari seluruh Indonesia.

    Setelah melewati proses seleksi yang ketat, desa ini berhasil masuk dalam 50 besar dan akhirnya meraih posisi runner-up.

    “Kami bersyukur desa-desa di Banyuwangi terus menunjukkan potensinya. Desa Kemiren menjadi bukti bahwa dengan kerja keras dan kolaborasi, potensi lokal bisa diangkat hingga tingkat nasional,” ujar Sugirah, Selasa (19/11).

    Keberhasilan Berkat Pemberdayaan SDM dan Inovasi

    Kepala Desa Kemiren, M. Arifin, menjelaskan bahwa penghargaan ini diraih berkat upaya konsisten dalam pemberdayaan SDM.

    Program pelatihan UMKM, energi terbarukan, dan tata kelola pariwisata telah memberikan dampak positif bagi perekonomian dan menciptakan lapangan kerja di desa.

    Desa Kemiren juga menjadi pelopor dalam mendukung kesetaraan gender.

    Peran perempuan dalam kegiatan adat dan seni, seperti pertunjukan tari Gandrung dan seni burdah, semakin menonjol.

    “Dengan 40 homestay dan peningkatan jumlah UMKM bersertifikasi, kami optimis desa ini dapat menjadi inspirasi bagi desa wisata lainnya,” tambah Arifin.

    Destinasi Wisata yang Edukatif dan Unik

    Desa Kemiren menawarkan pengalaman wisata yang kaya akan budaya, termasuk edukasi tentang tradisi lokal, kuliner khas di Pesantogan Kemangi, serta eksplorasi rumah adat Osing.

    Selain itu, desa ini juga memanfaatkan teknologi berbasis aplikasi Smart Kampung untuk meningkatkan pelayanan publik.

    Identitas budaya yang kuat, seperti seni Gandrung, angklung paglak, dan mocoan lontar yusup, menjadikan Desa Kemiren sebagai destinasi yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik.

  • MI Islamiyah Rogojampi Borong Juara dalam Ajang Pemilihan Jebeng Thulik Cilik 2024

    MI Islamiyah Rogojampi Borong Juara dalam Ajang Pemilihan Jebeng Thulik Cilik 2024

    sastrawacana.id/ – MI Islimiyah Rogojampi merupakan madrasah favorit yang ada di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

    Bukan hanya diminati oleh masyarakat di Rogojampi saja, namun beberapa kecamatan lain, mulai dari Kabat, Blimbingsari, Singojuruh dan Songgon.

    Selama ini, segudang prestasi telah diraih MI Islamiyah Rogojampi baik bidang akademik maupun non akademik.

    Hal ini tidak terlepas dari peran Kepala Madrasah, pendidik, tenaga pendidik dan komite sekolah dalam berkomitmen untuk memajukan MI Islamiyah Rogojampi.

    Terbaru, MI Islamiyah Rogojampi menjadi juara dalam ajang Pemilihan Jebeng Thulik Cilik 2024 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Jebeng Thulik Banyuwangi, didukung oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, pada 17 November 2024 di auditorium STIKES Banyuwangi.

    Pemilihan Jebeng Thulik Cilik 2024 terdiri dari beberapa kategori, diantaranya kategori TK, kategori SD A (Kelas 1-3), kategori SD B (Kelas 4-6), dan kategori SMP.

    Nur Kholifah, S.Pd.I selaku koordinator peserta Jebeng Thulik MI Islamiyah menerangkan ada 9 peserta dari MI Islamiyah yang ikut serta dalam event tersebut.

    Para peserta cukup antusias dalam mengikuti latihan persiapan event jebeng thulik ini. Kurang lebih 3 pekan durasi waktu latihan berjalan.

    “Alhamdulillah kepala MI Islamiyah Rogojampi, bapak Nur Khoriri, SH sangat mendukung sekali kegiatan ini. Tidak tanggung-tanggung, MI Islamiyah mendatangkan pelatih dari luar yang berkompeten di bidang fashion dan model agar memperoleh hasil yang maksimal. Tidak sampai disitu saja MI Islamiyah Rogojampi juga mendatangkan alumni yang pernah berprestasi di ajang serupa untuk memberikan semangat dan dukungan kepada adik kelasnya” tutur Nur Kholifah.

    Pada hari pelaksanaan Pemilihan Jebeng Thulik Cilik 2024 ini, semua peserta diminta untuk tampil satu persatu berjalan di atas panggung dengan menggunakan pakaian khas Banyuwangi, Jebeng & Thulik dengan masing-masing gaya khas peserta.

    Setelah semua peserta unjuk gigi, kemudian dipilih 5 besar dan 1 juara favorit masing-masing kategori.

    MI Islamiya Rogojampi menyabet beberapa juara dalam beberapa kategori diantaranya:

    • Juara Jebeng Cilik kategori SD B: RIKA NUR ANGGRAINI dari kelas 6 Al khawarizmi
    • Juara Wakil 1 Thulik Cilik kategori SD A : ALFARIZQI KHAIRAN ADIWANGSA RADHANA dari Kelas 1 Al Ghazali
    • Juara Harapan 1 Thulik Cilik kategori SD A: REFLI AHSAN MUBAROQI dari Kelas 2 Jalaluddin Rumi
    • Juara harapan 2 thulik cilik kategori dari SD A: QAISAR ALGHANI PRAMONO dari Kelas 2 Salman Alfarisi.

    Pencapaian ini menjadi sebuah prestasi yang cukup membanggakan, sekaligus membuktikan bahwa MI Islamiyah Rogojampi terus menjadi sekolah yang berprestasi.

    Adapun kesuksesan yang diraih tidak terlepas dari semua elemen madrasah, mulai dari Kepala Madrasah, dewan guru dan juga komite sekolah.

    Dalam hal ini, wali murid juga menjadi figur yang berjasa dalam mendukung anak-anaknya di kegiatan Jebeng Thulik Cilik.

    Madrasah berharap dalam kegiatan Jebeng Thulik Cilik ini bisa meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap budaya lokal yang ada di Banyuwangi, mulai dari pakaian adat, Bahasa Using dan juga adat yang ada di Banyuwangi.

    Selanjutnya bisa mempertahankan prestasi yang sudah diraih pada tahun 2024 ini dan meningkatkan prestasi pada tahun selanjutnya.

  • Tari Kolosal Tanah Air Nusantara Meriahkan Puncak Festival Kebangsaan Banyuwangi 2024

    Tari Kolosal Tanah Air Nusantara Meriahkan Puncak Festival Kebangsaan Banyuwangi 2024

    Pagelaran Seni yang menjadi puncak acara dalam Festival Kebangsaan, digelar pada malam Minggu (Sabtu, 16/11/2024) pukul 18.00 WIB Di Gesibu Taman Blambangan Banyuwangi.

    Acara serimonial yang dipandu oleh Mbak Mamiek, MC Kondang dari Banyuwangi, diawali dengan penyerahan bantuan secara simbolis kepada para yatim piatu, kemudian disambung dengan tari Sekar Mayang dari Sanggar Tari Lang-Lang Buana asuhan Sabar Harianto.

    Keunikan acara ini terasa saat doa disampaikan dalam dua bahasa: Bahasa Indonesia dan Bahasa Osing. Doa dalam Bahasa Osing dipimpin oleh Kang Usik, sesepuh masyarakat Osing dari Desa Adat Kemiren.

    Menariknya, dalam pembawaan doa dalam bahasa Osing ini adalah sahutan spontan “Amin.. !” dari para penonton ketika Kang Usik berdoa bagi penyelesaian segala topik permasalahan yang umumnya dialami oleh warga masyarakat, menjadikan sesi ini menjadi lebih hangat dan interaktif.

    Sambutan pertama disampaikan oleh Plt Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, M.Si., yang mengapresiasi peran berbagai kelompok masyarakat dalam menjaga persatuan dan harmoni di Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman yang telah terjalin lama di Banyuwangi.

    Selanjutnya, Mohamad Yanuarto Bramuda, S.Sos., MBA., mewakili Kepala Daerah, mengulas sejarah upaya pelestarian budaya Banyuwangi, termasuk penetapan pakaian adat Osing sebagai seragam resmi ASN dan sekolah.

    Puncak acara bertema “Kembang Setaman Harmoni Nusantara” menghadirkan Tari Kolosal “Tanah Air Nusantara”.

    Tarian ini menjadi simbol keberagaman budaya di Banyuwangi, melibatkan unsur seni dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Papua, Mandar, Melayu, Arab, dan Tionghoa.

    Nuansa budaya Osing menjadi penutup pertunjukan dengan kehadiran tokoh Menakjinggo dan para pengawalnya yang menyampaikan pesan kerukunan untuk Banyuwangi.

    Penampilan kolosal ini memukau dengan gerak tari, kostum berwarna-warni, permainan lampu, dan efek kembang api yang mempesona.

    Dibawakan oleh Sanggar Lang-Lang Buana, tari ini sukses menggambarkan keindahan harmoni Nusantara, sekaligus menjadi penutup luar biasa untuk Festival Kebangsaan 2024.

  • Bawaslu Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pengawasan Pilkada Serentak 2024 dengan Pelaku UMKM

    Bawaslu Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pengawasan Pilkada Serentak 2024 dengan Pelaku UMKM

    Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Banyuwangi menggelar acara sosialisasi dengan tema “Pemberdayaan Pelaku UMKM dalam Pengawasan Partisipatif PILKADA Serentak 2024” di Hotel Kokoon Banyuwangi pada Minggu (17/11/2024).

    Acara yang dihadiri oleh 100 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ini bertujuan untuk memperkuat peran aktif masyarakat, khususnya pelaku UMKM dalam memastikan Pilkada yang sehat, jujur, dan adil di Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, Ketua Bawaslu Banyuwangi, Adrianus Yansen Pale menekankan betapa pentingnya peran pelaku UMKM dalam menjaga integritas Pemilu.

    “Kami berharap peserta yang hadir bisa mengajak jejaring mereka untuk mengawasi jalannya Pilkada, memastikan prosesnya sehat, jujur, dan adil,” kata Adrianus dengan penuh semangat.

    Sosialisasi ini juga diwarnai dengan kehadiran narasumber dari kalangan pelaku UMKM, yaitu Lucia Damayanti, pemilik brand “Minimarketnya Orang Pintar”.

    Dalam sesi diskusi yang dipandu oleh Galang Romadon dari Bawaslu, Lucia berbagi pengalaman mengenai pengelolaan UMKM sekaligus membahas bagaimana sektor ini dapat berperan aktif dalam menjaga kualitas demokrasi di Banyuwangi.

    Ia juga menekankan bahwa pelaku UMKM tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga harus peka terhadap dinamika sosial yang terjadi di sekitar mereka, terutama dalam konteks pemilu.

    Pada sesi penutup, Galang Romadon memberikan edukasi kepada peserta mengenai langkah-langkah yang dapat diambil masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengawasan Pilkada.

    “Pilkada yang transparan dan adil hanya bisa terwujud jika kita semua berperan aktif,” tegas Galang.

    Melalui sosialisasi ini, Bawaslu Banyuwangi berharap para pelaku UMKM dapat menjadi mitra strategis dalam memastikan Pilkada Serentak 2024 berjalan dengan lancar, berintegritas, dan sesuai dengan prinsip demokrasi yang sejati.

    Dengan melibatkan masyarakat, terutama pelaku UMKM yang memiliki kedekatan dengan berbagai lapisan masyarakat, Bawaslu berharap pengawasan partisipatif ini akan semakin memperkuat kualitas demokrasi di Banyuwangi.

  • Profil Rohmaniah, Penulis Banyuwangi dengan Segudang Karya dan Prestasi

    Profil Rohmaniah, Penulis Banyuwangi dengan Segudang Karya dan Prestasi

    sastrawacana.id/ – Tak ada yang meragukan kecintaan Rohmaniah pada dunia literasi.

    Perjalanan hidupnya penuh jejak sastra dan tulisan yang bermakna, menjadikannya sosok inspiratif di bidang pendidikan sekaligus literasi.

    Sebagai seorang guru sekolah dasar, ia tak hanya mengajar, tetapi juga membangun fondasi literasi yang kokoh bagi anak didiknya dan masyarakat sekitarnya.

    Kecintaan terhadap literasi terlihat sejak Rohmaniah duduk di bangku sekolah dasar.

    Ia ingat sekali puisi pertama yang dibacanya berjudul “Renungan” karya NN.

    Puisi tersebut yang kemudian membuatnya jatuh hati pada puisi untuk pertama kali, hingga ingin membaca puisi lebih banyak lagi.

    Saat duduk di bangku SMA, ia mulai suka membaca buku-buku novel, mulai dari “Siti Nurbaya” karya Marah Roesli (1922), “Salah Asuhan” karya Abdoel Moeis (1928) dan “Tenggelammnya Kapal Van Der Wijck” karya Buya Hamka (1938).

    Tak sampai disitu, beberapa koleksi bukunya saat kuliah “Animal Farm” karya George Orwell (1945), “100 Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez (1967) sampai novel tetralogi Laskar Pelangi ia rampungkan semua.

    Lebih dari itu, Rohmaniah juga sangat suka dengan sastra serta ruang lingkupnya.

    Pada tahun 2010, pertama kali ia menulis puisi dengan judul “Ibu” dengan diksi dan makna yang mendalam.

    Ia ingat sekali menulis puisi tersebut di sebuah kantor balai desa dengan momen di waktu senja temaram.

    Rohmaniah adalah sosok pendidik yang suka literasi dan dunia menulis.

    Pikirnya, dengan menulis maka ia akan meninggalkan karya yang bisa dinikmati oleh para pembaca, terlebih untuk anak didiknya nanti.

    Pada tahun 2020, ia menulis buku antologi cerpen berjudul “Putih Abu-Abu” karya penulis komunitas pecinta buku KGBN. Cerpennya berjudul “Adok” dalam bahasa Indonesia artinya “Nenek.”

    Pada tahun 2019, Ia diangkat menjadi PNS dan dinas di SD Negeri 2 Pakistaji. Tepat pada tahun 2023, Ia menyelesaikan pendidikan guru penggerak angkatan 9.

    Prestasi yang diraih diantaranya

    • Puisi Terpilih dalam Lomba Menulis Puisi Tema Pahlawan Nasional oleh KOPIWANGI (2024).
    • Juara 1 Lomba Menulis Puisi Tema Kemerdekaan RI ke-79 (2024).
    • Esai Terbaik Kedua pada Event Menulis Esai Tema Pendidikan Hari Pendidikan Nasional (2024).
    • Top 10 Vlog Merdeka Belajar Universitas Terbuka (2022).
    • Inovator Sehari Bersama Internet (Sabernet) tingkat nasional (2022).

    Aktif juga sebagai narasumber dalam beberapa acara Banyuwangi Ayo Mengajar (BAM) tahun 2022 di SD Negeri 2 Gumuk kecamatan Licin, Temu Pengajar Nusantara (TPN) ke-10 dan ke-11 di SD Negeri Penganjuran.

    Upaya serta kerja keras yang ia lakukan untuk meningkatkan literasi di sekolah tempat mengajar, sehingga bisa membantu meningkatkan rapot literasi sekolah.

    Di samping itu, ia berkolaborasi dengan perpustakaan daerah untuk meningkatkan minat baca peserta didiknya.

    “Seorang guru harus gemar membaca sehingga menjadi contoh untuk peserta didiknya. Salah satu wadah untuk menumbuh kembangkan kompetensi di bidang literasi adalah KOPIWANGI. Di mana KOPIWANGI sebagai katalisator literasi yang ada di Banyuwangi, bisa menjangkau semua elemen warga sekolah” jelas pengagum Chairul Anwar dengan diksi-diksinya yang paten.

    Menurutnya literasi memang tidak sebatas membaca, tapi membaca adalah ruh-nya.

    Penulis: Andi BS

  • Sosok Agus Mulyono, Tokoh Dibalik Suksesnya Festival Kebangsaan Banyuwangi 2024

    Sosok Agus Mulyono, Tokoh Dibalik Suksesnya Festival Kebangsaan Banyuwangi 2024

    Dalam upaya memelihara keharmonisan antar etnis di Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, M.Si, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Banyuwangi, tampil sebagai figur sentral dalam pelaksanaan Festival Kebangsaan bertajuk Kembang Setaman Harmoni Nusantara.

    Acara yang berlangsung selama dua hari, 15–16 November 2024 di Gesibu Blambangan ini mengusung semangat keberagaman melalui tiga agenda utama, yaitu bazzar kuliner, talkshow kebangsaan, dan penampilan kebudayaan.

    Agus menjelaskan bahwa pada agenda pertama, yaitu bazaar kuliner menghadirkan sajian khas dari berbagai suku, termasuk Using, Jawa, Arab, Tionghoa, Minang, Batak, Melayu, Mandar, hingga Kalimantan.

    Kemudian, agenda kedua adalah talkshow dari Forum Pembauran Kebangsaan yang dipandu Bung Aguk Wahyu Nuryadi, budayawan sekaligus pegiat literasi Banyuwangi.

    Dalam diskusi tersebut, Kadek Yudiana, M.Pd., akademisi dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, hadir sebagai pemantik, membahas pentingnya pembauran kebangsaan dalam konteks lokal dan nasional.

    Lalu acara puncak akan digelar pada Sabtu malam (16/11), dimana akan ada pertunjukan sendratari dari berbagai etnis yang tinggal di Banyuwangi.

    Setiap kelompok menampilkan seni budaya khas mereka, menutup festival dengan pesan kuat tentang kerukunan dan keindahan dalam perbedaan.

    Sebagai penanggungjawab kegiatan, Agus menjelaskan jika festival ini membuka ruang bagi masyarakat untuk merasakan kekayaan budaya serta keharmonisan lintas etnis yang ada di Banyuwangi.

    Bagi Agus, Festival Kebangsaan ini memiliki tujuan mendalam yang lebih dari sekadar hiburan.

    Ia menegaskan bahwa kerukunan antar etnis yang sudah lama terjalin di Banyuwangi harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang.

    “Keluarannya tidak hanya keberhasilan acara, tapi bagaimana memberikan efek yang bagus pada teman-teman etnis semua yang berada di Banyuwangi,” ujar Agus dalam sesi wawancara bersama pewarta Bung Aguk.banyuwasdasdasdasdasd

    Selain itu, Agus juga berharap jika festival ini mampu menjadi pendidikan bagi generasi muda, terutama dalam menjaga keharmonisan serta melestarikan kebudayaan.

    “Memberikan pendidikan kepada anak-anak, bahwa di Banyuwangi itu rukun dan harmoni,” jelas Agus.

    Di tengah persiapan pesta demokrasi Pilkada Bupati dan Gubernur, Agus juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kedamaian.

    Ia mengimbau agar semua pihak tetap menghormati perbedaan pilihan politik dan menjunjung tinggi demokrasi.

    Agus menekankan bahwa partisipasi aktif dalam pemilu adalah bentuk kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa, khususnya bagi pemilih pemula.

    “Terutama pemilih pemula, ayo kita tunjukkan bahwa sebagai warga negara, kita punya peran penting dalam melanjutkan pembangunan,” tambahnya.

    Menutup sesi wawancara, Agus berharap agar Festival Kebangsaan ini menjadi inspirasi bagi masyarakat Banyuwangi untuk terus merawat kerukunan, bahkan di tengah perbedaan.

    Jurnalis: Maulana Affandi

    Video wawancara bersama Drs. R. Agus Mulyono, M.Si

  • Mengupas Beragam Tantangan Pancasila dalam Talkshow Forum Pembauran Kebangsaan

    Mengupas Beragam Tantangan Pancasila dalam Talkshow Forum Pembauran Kebangsaan

    Festival Kebangsaan Kabupaten Banyuwangi 2024 resmi dimulai pada Jumat, 15 November 2024, di Gesibu Blambangan, Banyuwangi.

    Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bakesbangpol Kabupaten Banyuwangi, R. Agus Mulyono, M.Si., yang diikuti dengan jabat tangan bersama tokoh adat, perwakilan etnis, dan pegiat pembauran kebangsaan.

    Festival ini mengangkat tema “Kembang Setaman Harmoni Nusantara” sebagai simbol keberagaman yang menjadi ciri khas Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, R. Agus Mulyono menyampaikan bahwa festival ini adalah bentuk nyata semangat kebersamaan dan harmoni di bumi Blambangan.

    “Festival ini menjadi sarana silaturahmi yang sangat dinantikan oleh pelaku adat dan tradisi etnis di Banyuwangi,” ujarnya.

    Diskusi Kebangsaan yang Membangun Dialog

    Rangkaian acara dimulai dengan Talkshow Kebangsaan yang menghadirkan perwakilan lintas etnis dan suku di Banyuwangi.

    Diskusi ini dipandu oleh Bung Aguk Wahyu Nuryadi dan menghadirkan Kadek Yudiana, M.Pd., seorang akademisi dari Untag 1945 Banyuwangi sebagai pemantik diskusi.

    Kadek yang juga penulis buku Desa Kebangsaan Patoman, menyoroti lima tantangan dalam kehidupan lintas etnis di era globalisasi, seperti menjaga kearifan lokal, menangkal gerakan intoleransi, serta pentingnya pendidikan yang bebas dari perundungan.

    “Bagaimana di era global tetap junjung kearifan lokal, di era medsos yang gerus tatap muka, gerakan intoleransi, pendidikan yang penuh perundungan di Merdeka Belajar serta penegakan supremasi hukum yang bersumber ke UUD 1945,” tutur pria asal Kintamani Bali ini.

    Peserta diskusi yang berjumlah 45 orang dibagi ke dalam lima kelompok lintas etnis untuk mendalami topik-topik tersebut.

    Setiap kelompok berdiskusi selama 17 menit sebelum mempresentasikan hasilnya.

    Aspirasi mereka mencerminkan semangat kebersamaan. Amiruddin, dengan logat Madura yang khas, menegaskan pentingnya keamanan dan kenyamanan bersama.

    Sementara itu, Hamdan yang mengenakan gamis, mengingatkan akan nilai saling mengenal dan tolong-menolong antar sesama manusia.

    Mega Kotto dan Qurrota A’Yunin, mewakili budaya Minang dan Borneo menyarankan sosialisasi bijak lewat media sosial dan ide kreatif seperti drama kolosal lintas suku.

    “Prosesnya akan menciptakan harmonisasi yang indah,” ungkap Mega.

    Imaniar dengan gaya khas Bataknya, menekankan peran pendidikan dalam membangun saling pengertian dan menghormati, seraya mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak bangsa.

    Sanusi Marhaedi dari Suku Osing menggarisbawahi pentingnya generasi muda memahami sejarah dan melestarikan tradisi lokal.

    Ia mengusulkan kunjungan antar suku saat gelaran tradisi atau ritual adat untuk mempererat hubungan.

    Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Banyuwangi menyambut baik ide-ide ini, sekaligus menegaskan target pembentukan lima Desa Kebangsaan di Banyuwangi sebagai langkah konkret menjaga harmoni sosial.

    Ragam Seni dan Kuliner Nusantara

    Setelah sesi diskusi, acara dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni.

    Tari Topeng Sumenep dari Desa Bayu, Songgon membuka panggung, diikuti oleh penampilan Tari Dayak Kalimantan oleh santriwati MI Darunnajah 2 yang dipimpin Majidatul Himmah, S.Ag.

    Ada pula fragmen drama berjudul Banyuwangi: Indonesia Mini dan undhoroso Osing.

    Salah satu momen yang menarik adalah pembacaan puisi dalam tiga bahasa berjudul Indonesia Setong oleh Yeti Chotimah, seorang guru sains dari SMPN 3 Rogojampi yang juga dikenal berprestasi di seni budaya.

    Para penampil lainnya, seperti Salwa dari SDN Sobo dengan Puisi Osing serta siswi SMPN 1 Giri dengan Gending Banyuwangi turut memeriahkan acara.

    Keberagaman seni yang ditampilkan mendapatkan apresiasi luar biasa dari ratusan peserta yang hadir.

    Stand-stand etnis dan UMKM turut menjadi daya tarik tersendiri.

    Di antaranya adalah stand Suku Osing yang menyajikan rujak kecut, jajan tradisional dan kopi khas Osing.

    Ada juga stand Minang yang menawarkan sate Padang dan busana adat untuk dipakai berfoto.

    Stand-stand lainnya mewakili berbagai etnis seperti Jawa, Arab, Tionghoa, Batak, Mandar, dan Kalimantan, memberikan pengunjung pengalaman kuliner dan budaya yang beragam.

    Puncak Acara: Harmoni dalam Seni dan Doa

    Festival ini akan mencapai puncaknya pada Sabtu, 16 November 2024 dengan pelantikan Ketua FPK Banyuwangi untuk masa bakti ketiga.

    Acara puncak akan diisi oleh sendratari Pelangi Nusantara yang dipersembahkan oleh Sanggar Lang-lang Buana, serta doa bersama dari tokoh adat.

    Selain itu, festival ini diharapkan mampu memperkuat semangat Pancasila di tengah dinamika sosial, baik di internal maupun eksternal komunitas suku etnis.

    “Kita punya peran penting dalam mengisi kemerdekaan serta keberlanjutan pembangunan yang ditandai Musrenbang serta pesta demokrasi pemilu berbagai tingkatan untuk kejayaan NKRI,” tegas Ketua FPK yang juga dosen Universitas Banyuwangi (Uniba). (AW/AWN)

  • Bagaimana partisipasi anak muda dalam demokrasi saat ini dibandingkan dengan era sebelumnya?

    Partisipasi anak muda dalam demokrasi saat ini lebih aktif dan beragam dibandingkan dengan era sebelumnya.

    Dengan kemajuan teknologi dan akses yang luas ke media sosial, anak muda kini memiliki platform untuk menyuarakan aspirasi mereka secara langsung dan instan.

    Mereka tidak hanya mengikuti pemilu, tetapi juga aktif dalam menggalang dukungan untuk isu-isu sosial, lingkungan, dan politik, serta mengadakan kampanye digital untuk mengadvokasi perubahan.

    Jika dibandingkan dengan era sebelumnya, ketika keterlibatan anak muda lebih terbatas pada kegiatan tatap muka atau organisasi tertentu, saat ini mereka dapat membentuk komunitas secara daring dan melakukan aksi kolektif dengan cepat.

    Hal ini menunjukkan bahwa anak muda sekarang lebih terinformasi dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk opini publik.

    Namun, tantangannya adalah bagaimana memastikan partisipasi ini tetap produktif dan tidak mudah terjebak dalam misinformasi atau polarisasi yang bisa memecah belah masyarakat.

    Selain itu, anak muda kini juga semakin berani untuk terjun langsung ke dunia politik, baik sebagai aktivis, relawan kampanye, atau bahkan calon legislatif di tingkat lokal.

    Hal ini menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya peran mereka dalam menentukan arah kebijakan dan masa depan negara.

    Dengan dorongan yang tepat, partisipasi anak muda ini berpotensi memperkuat demokrasi di Indonesia, menciptakan kepemimpinan baru yang inovatif, dan menginspirasi lebih banyak perubahan positif.

  • Bagaimana menurutmu kebebasan berpendapat atau berekspresi di Indonesia saat ini?

    Menurut saya, kebebasan berpendapat atau berekspresi di Indonesia saat ini memiliki dua sisi yang penting untuk diperhatikan.

    Di satu sisi, Indonesia memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat mereka, baik melalui media sosial, forum publik, maupun aksi demonstrasi.

    Hal ini merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin dalam UUD 1945 dan menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia cukup kuat untuk memberi ruang bagi berbagai suara.

    Namun, di sisi lain, kebebasan ini sering mendapat tantangan, terutama dengan adanya beberapa regulasi seperti UU ITE yang terkadang digunakan untuk membatasi atau menindak pendapat tertentu di media sosial.

    Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa batasan tersebut bisa disalahgunakan untuk menekan kritik atau membatasi kebebasan berekspresi.

    Pada dasarnya, kebebasan berpendapat di Indonesia sudah cukup berkembang, tetapi masih perlu diperkuat dengan aturan yang jelas dan perlindungan yang lebih besar bagi kebebasan berekspresi, tanpa ancaman atau risiko yang berlebihan bagi warga dalam menyuarakan pendapat mereka.

    Selain itu, mengawasi implementasi regulasi terkait kebebasan berpendapat juga penting agar kebijakan tersebut tidak malah menjadi alat pembungkaman.

    Masyarakat perlu memiliki rasa aman saat menyuarakan opini mereka, selama tetap menghormati batasan hukum dan etika.

    Dengan cara ini, kebebasan berekspresi dapat tumbuh sehat dan mendukung kemajuan demokrasi di Indonesia.