Blog

  • Bagaimana nilai-nilai atau prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

    Nilai-nilai dan prinsip yang kita anut dalam pengambilan keputusan dapat memberikan dampak signifikan pada lingkungan sosial, ekonomi, dan fisik di sekitar kita.

    Berikut adalah beberapa cara bagaimana nilai-nilai yang dianut seseorang dapat mempengaruhi lingkungan:

    1. Dampak Sosial

    Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, empati, dan tanggung jawab sosial memengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Ketika kita mengambil keputusan berdasarkan prinsip-prinsip ini:

    • Meningkatkan hubungan interpersonal: Keputusan yang mencerminkan kejujuran dan keadilan membantu membangun kepercayaan dalam hubungan pribadi maupun profesional. Ini mendorong iklim sosial yang lebih positif dan penuh rasa hormat.
    • Menciptakan lingkungan kolaboratif: Jika seseorang menganut prinsip kerjasama dan saling mendukung, mereka cenderung mengambil keputusan yang mendorong kerjasama dalam kelompok atau organisasi, menghasilkan produktivitas dan harmoni sosial yang lebih baik.

    2. Dampak pada Komunitas

    Nilai-nilai yang mengedepankan tanggung jawab terhadap sesama, seperti kepedulian sosial atau pengabdian kepada masyarakat, mendorong keputusan yang menguntungkan komunitas. Contohnya:

    • Kepedulian terhadap kaum marginal: Keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan kesejahteraan kelompok rentan, seperti anak yatim atau kaum miskin, dapat menciptakan dampak positif bagi keberlangsungan hidup mereka, meningkatkan solidaritas sosial.
    • Pembentukan nilai bersama: Prinsip inklusivitas dan kesetaraan dalam keputusan akan memperkuat komunitas yang adil dan toleran. Hal ini membuat lingkungan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk semua orang.

    3. Dampak Ekonomi

    Nilai-nilai seperti keadilan ekonomi, efisiensi, dan integritas mempengaruhi bagaimana seseorang mengelola sumber daya dan finansial:

    • Keadilan dalam distribusi sumber daya: Pengambilan keputusan yang didasarkan pada prinsip keadilan ekonomi dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi. Misalnya, dalam bisnis, keputusan untuk memberikan upah yang adil dan tunjangan yang layak bagi karyawan berkontribusi pada kesejahteraan mereka.
    • Penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab: Nilai efisiensi mendorong pengambilan keputusan yang lebih bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam maupun keuangan, mencegah pemborosan dan kerugian.

    4. Dampak pada Lingkungan Alam

    Pengambilan keputusan berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan dan tanggung jawab ekologis memiliki dampak langsung terhadap lingkungan fisik:

    • Pengurangan jejak ekologis: Jika seseorang menganut nilai-nilai keberlanjutan dan ramah lingkungan, mereka akan membuat keputusan yang memperhatikan dampak terhadap ekosistem. Contohnya, memilih untuk mengurangi penggunaan plastik, mendukung energi terbarukan, atau melakukan aktivitas ramah lingkungan lainnya.
    • Pelestarian sumber daya alam: Nilai tanggung jawab terhadap generasi mendatang dapat memotivasi seseorang untuk membuat keputusan yang melestarikan sumber daya alam, seperti menggunakan produk yang bisa didaur ulang atau mengurangi limbah.

    5. Dampak Jangka Panjang

    Prinsip-prinsip yang dipegang dalam pengambilan keputusan tidak hanya berdampak langsung pada lingkungan saat ini, tetapi juga berpengaruh jangka panjang.

    Keputusan yang dibuat dengan mempertimbangkan nilai keberlanjutan akan menciptakan dampak positif yang bertahan lebih lama, sementara keputusan yang diambil tanpa prinsip tanggung jawab bisa menimbulkan kerusakan permanen bagi lingkungan fisik dan sosial.

  • Jelaskan Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lainnya

    Jelaskan Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lainnya

    Manusia memiliki beberapa perbedaan mendasar dibandingkan dengan makhluk lainnya, baik dari segi fisik maupun non-fisik.

    Berikut adalah perbedaan utama manusia dengan makhluk lainnya:

    1. Akal dan Budi

    Salah satu perbedaan terbesar adalah kemampuan akal.

    Manusia memiliki kapasitas berpikir yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lain, memungkinkan mereka untuk membuat keputusan rasional, menganalisis situasi, memecahkan masalah kompleks, dan merencanakan masa depan.

    Selain itu, manusia juga memiliki budi pekerti atau moralitas, yaitu kemampuan untuk membedakan benar dan salah, baik dan buruk, serta memiliki kesadaran etis dalam tindakannya.

    2. Bahasa dan Komunikasi

    Meskipun banyak hewan memiliki cara berkomunikasi, manusia memiliki bahasa yang sangat kompleks.

    Bahasa manusia tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi tentang kebutuhan dasar, tetapi juga untuk menyampaikan ide-ide abstrak, emosi, dan konsep yang sangat luas.

    Manusia juga mampu menciptakan tulisan sebagai bentuk komunikasi yang lebih lanjut.

    3. Kreativitas dan Inovasi

    Manusia memiliki kemampuan untuk berkreasi, menciptakan karya seni, musik, sastra, dan teknologi.

    Sifat kreatif ini membuat manusia mampu berinovasi, mengembangkan penemuan baru, dan memperbaiki kondisi kehidupan, baik secara individu maupun sosial.

    Tidak ada makhluk lain yang mampu menghasilkan teknologi atau seni dengan kompleksitas yang sama seperti manusia.

    4. Kesadaran Diri (Self-Awareness)

    Manusia memiliki kesadaran diri yang mendalam.

    Artinya manusia tidak hanya sadar akan keberadaannya, tetapi juga mampu merenung tentang dirinya sendiri, memiliki identitas personal, cita-cita, dan aspirasi.

    Kesadaran diri ini juga membuat manusia mampu mengembangkan konsep waktu, memikirkan masa lalu, sekarang, dan masa depan.

    5. Budaya dan Peradaban

    Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menciptakan budaya dan peradaban yang terorganisas, mencakup berbagai aspek seperti hukum, agama, pendidikan, seni, dan teknologi.

    Budaya memungkinkan manusia untuk menyimpan dan mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi, yang membentuk masyarakat dan peradaban yang kompleks.

    6. Moral dan Nilai Sosial

    Manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan nilai-nilai sosial seperti keadilan, kemanusiaan, tanggung jawab, dan kasih sayang.

    Sehingga membuat manusia dapat hidup dalam kelompok atau komunitas yang sangat terorganisir dan berinteraksi secara harmonis berdasarkan norma-norma dan aturan sosial.

  • Jelaskan Cara Memegang Tongkat dengan Pegangan Bawah

    Jelaskan Cara Memegang Tongkat dengan Pegangan Bawah

    Cara memegang tongkat dengan pegangan bawah atau dikenal sebagai underhand grip, umumnya digunakan dalam kegiatan tertentu seperti mendaki, berjalan dengan tongkat, atau saat melakukan latihan fisik.

    Berikut adalah langkah-langkahnya:

    1. Posisikan tongkat secara vertikal

    Pegang tongkat dengan ujung bawahnya menyentuh tanah atau permukaan yang stabil, dan ujung atasnya mengarah ke langit.

    2. Letakkan tangan di bawah tongkat

    Genggam tongkat dari bawah dengan telapak tangan menghadap ke atas. Empat jari melingkari tongkat dari atas, sementara ibu jari berada di bawah, menekan tongkat.

    3. Sesuaikan posisi genggaman

    Pastikan tangan berada di bagian tongkat yang nyaman, sesuai dengan aktivitas yang dilakukan.

    Biasanya, genggaman bawah dilakukan di bagian yang lebih rendah dari pegangan atas, tergantung pada kebutuhan keseimbangan.

    4. Kencangkan genggaman

    Genggam tongkat dengan cukup kuat untuk memastikan stabilitas, tetapi tidak terlalu erat agar tangan tetap fleksibel dan tidak cepat lelah.

    Pegangan bawah ini sering digunakan untuk menjaga keseimbangan atau stabilitas saat berjalan di medan menurun atau saat melakukan gerakan yang membutuhkan kontrol lebih ringan dari tangan.

  • Jelaskan Cara Memegang Tongkat dengan Pegangan Atas

    Jelaskan Cara Memegang Tongkat dengan Pegangan Atas

    Cara memegang tongkat dengan pegangan atas dikenal sebagai overhand grip dan biasanya digunakan dalam kegiatan seperti hiking, olahraga, atau bela diri.

    Berikut adalah langkah-langkah untuk memegang tongkat dengan pegangan atas:

    1. Posisikan tongkat secara vertikal

    Pegang tongkat di depan tubuh, dengan bagian bawah tongkat menyentuh tanah atau permukaan yang kokoh.

    2. Letakkan tangan di atas tongkat

    Genggam tongkat dengan tangan dominan, pastikan ibu jari berada di bagian atas genggaman, sementara empat jari lainnya melingkar di sekitar tongkat dari arah bawah.

    3. Perhatikan posisi tangan

    Jarak antara tangan dan ujung atas tongkat harus cukup nyaman sehingga tongkat bisa dikendalikan tanpa terlalu berat.

    Biasanya, genggaman dilakukan pada bagian yang sesuai dengan tinggi badan atau posisi yang dirasa paling nyaman.

    4. Kencangkan genggaman

    Pastikan genggaman cukup kuat agar tongkat tidak mudah tergelincir saat digunakan, namun tidak terlalu erat agar tidak menghambat pergerakan tangan.

    Pegangan ini memberikan kekuatan dan kontrol lebih, terutama saat melakukan aktivitas yang membutuhkan stabilitas atau saat menopang berat badan menggunakan tongkat.

  • Jelaskan Dua Hikmah Dibalik Peristiwa Hijrah

    Jelaskan Dua Hikmah Dibalik Peristiwa Hijrah

    Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah bukan sekadar peristiwa sejarah biasa. Di balik langkah besar itu, tersimpan hikmah mendalam yang menginspirasi umat manusia hingga kini.

    Dua hikmah penting di balik peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah adalah:

    1. Toleransi dan Persatuan

    Hijrah mengajarkan pentingnya toleransi dan persatuan di tengah keberagaman.

    Setibanya di Madinah, Nabi Muhammad SAW berhasil mempersatukan kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah) dan kaum Anshar (penduduk Madinah) melalui Piagam Madinah, yang menjadi landasan bagi masyarakat multietnis dan multireligius.

    Hal ini menunjukkan bahwa persatuan dalam perbedaan adalah kunci untuk membangun masyarakat yang harmonis dan kokoh.

    2. Keteguhan dan Kesabaran dalam Menghadapi Ujian

    Hijrah mengajarkan pentingnya keteguhan dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.

    Para sahabat meninggalkan harta, keluarga, dan kampung halaman mereka demi mempertahankan keyakinan dan agama.

    Peristiwa ini mengajarkan bahwa perjuangan yang dilandasi oleh iman dan kesabaran pada akhirnya akan mendatangkan kemenangan dan keberhasilan, seperti yang dialami oleh umat Muslim di Madinah yang kemudian menjadi lebih kuat.

  • Sudah 10 Tahun Berlangsung, Lebih dari 3 Ribu Warga Banyuwangi Terima Fasilitas Operasi Katarak Gratis

    Sudah 10 Tahun Berlangsung, Lebih dari 3 Ribu Warga Banyuwangi Terima Fasilitas Operasi Katarak Gratis

    Kabupaten Banyuwangi kembali melaksanakan program operasi katarak gratis yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai hari Selasa, 22 Oktober 2024.

    Program ini merupakan pelaksanaan kedua untuk tahun ini sekaligus menandai genap satu dekade program ini berlangsung.

    Operasi katarak gratis diadakan di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Banyuwangi yang berlokasi di Jalan Kartini.

    Kegiatan ini diselenggarakan berkat kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, PMI Banyuwangi, John Fawcett Foundation, serta berbagai lembaga donor lainnya.

    Plt. Bupati Banyuwangi, Sugirah, mengungkapkan bahwa target pada pelaksanaan kali ini adalah sebanyak 300 orang yang akan menjalani operasi katarak gratis.

    Selain operasi katarak, program ini juga mencakup pemberian kacamata gratis untuk sekitar 800 orang, layanan pengobatan mata gratis bagi 500 orang, pemeriksaan mata gratis di sekolah untuk 300 siswa, serta pemasangan bola mata gratis untuk sejumlah orang.

    “Ini merupakan tahun kesepuluh pelaksanaan operasi katarak gratis di Banyuwangi. Alhamdulillah setiap pelaksanaan, pesertanya selalu membeludak,” ujar Sugirah.

    Program operasi katarak gratis pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014, dan saat itu kegiatan ini diadakan setahun sekali.

    Namun, karena tingginya minat, frekuensi pelaksanaannya ditingkatkan menjadi dua kali dalam setahun.

    “Dalam sepuluh tahun terakhir, hanya sekali tidak digelar, yaitu ketika Covid-19,” jelas Plt. Ketua PMI Banyuwangi, Nurhadi.

    Nurhadi menambahkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, lebih dari 3.840 orang telah menerima operasi katarak gratis.

    Sementara itu, jumlah warga yang mendapatkan pemasangan bola mata palsu secara gratis mencapai lebih dari 150 orang.

    Lebih jauh lagi, pemberian kacamata gratis telah menjangkau lebih dari 13.700 orang dengan pengobatan mata gratis mencakup lebih dari 7.000 orang dan pemeriksaan mata bagi anak sekolah mencapai lebih dari 6.800 siswa.

    Untuk pelaksanaan kali ini, sebanyak delapan dokter mata dan puluhan tenaga kesehatan lainnya ditugaskan untuk memberikan layanan.

    “Saya sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan kali ini,” lanjut Nurhadi.

    Salah satu pasien operasi katarak gratis, Kiran, yang berusia 70 tahun, mengungkapkan rasa senangnya bisa berpartisipasi dalam program ini.

    Sebelumnya, untuk menjalani operasi katarak secara mandiri, ia harus mengeluarkan biaya mencapai beberapa juta rupiah.

    “Senang di sini bisa gratis,” kata Kiran.

    Kiran mengalami katarak di mata sebelah kiri dan berharap setelah dioperasi, penglihatannya dapat membaik sehingga ia bisa kembali beraktivitas secara normal.

  • Halaqoh di Banyuwangi Memperkuat Nilai Pancasila Melalui Organisasi Keagamaan

    Halaqoh di Banyuwangi Memperkuat Nilai Pancasila Melalui Organisasi Keagamaan

    Dalam upaya memperkuat peran serta organisasi keagamaan dalam membangun karakter bernegara yang berlandaskan ideologi Pancasila, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi mengadakan halaqoh dengan tema “Peran Organisasi Keagamaan dalam Membangun Karakter Bernegara dengan Ideologi Pancasila” di Hallroom El-Hotel pada Selasa (22/10/2024).

    Halaqoh ini menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya, di antaranya Drs. Nur Chozin, S.H., M.H.I. dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyuwangi, serta K.H. Sholehuddin dari Pondok Pesantren Al Qibtiyah Tugung, Kecamatan Sempu.

    Acara dibuka oleh Plt. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, M.Si., yang turut memberikan pandangannya terkait peran strategis organisasi keagamaan dalam menjaga ideologi Pancasila di tengah keberagaman.

    Drs. R. Agus Mulyono, M.Si. menambahkan pentingnya sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan dalam memupuk kesadaran kebangsaan.

    “Kesatuan dan persatuan bangsa ini harus terus dijaga. Organisasi keagamaan bisa menjadi mitra pemerintah dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat luas,” tegasnya.

    Abdul Aziz selaku moderator, yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banyuwangi, menegaskan pentingnya peran organisasi keagamaan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila sebagai falsafah hidup bernegara.

    “Peran organisasi keagamaan sangat strategis dalam membentuk karakter bangsa yang cinta tanah air dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila,” ungkapnya.

    Drs. Nur Chozin dalam pemaparannya menekankan bahwa Pancasila merupakan dasar yang mengakomodasi seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi keagamaan.

    “Pancasila menjadi jembatan penghubung yang mampu merangkul semua kalangan, baik itu agama, budaya, maupun suku bangsa. Melalui organisasi keagamaan, kita bisa memperkuat peran Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Nur Chozin menyampaikan tentang pentingnya moderasi beragama dalam berbangsa dan bernegara.

    “Empat indikator moderasi beragama adalah komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi,” katanya.

    Ia juga menekankan pentingnya mentaati kesepakatan bersama yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa yang dituangkan dalam konstitusi.

    Sementara itu, K.H. Sholehuddin dari Pondok Pesantren Al Qibtiyah Tugung mengajak peserta halaqoh untuk meneladani nilai-nilai kebhinekaan dalam Islam yang sejalan dengan Pancasila.

    “Dalam organisasi, ditekankan pemahaman persamaan hak dalam berdemokrasi,” paparnya.

    Lebih lanjut, Sholehuddin menyampaikan bahwa jiwa organisasi harus memiliki sikap kemandirian dan bukan mencari keuntungan pribadi dari organisasi keagamaan.

    Acara halaqoh ini dihadiri oleh berbagai organisasi keagamaan Islam di Kabupaten Banyuwangi yang aktif berpartisipasi dalam diskusi yang hangat dan produktif.

    Diharapkan melalui kegiatan ini, organisasi keagamaan semakin aktif dalam memperkokoh nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. (ISNU)

  • Laros Ikut Jambore Cerpen BBJT di Surabaya, Karya Siswa Banyuwangi Menuju Panggung Nasional

    Laros Ikut Jambore Cerpen BBJT di Surabaya, Karya Siswa Banyuwangi Menuju Panggung Nasional

    Sebanyak 20 siswa berbakat dari Banyuwangi dan Madura mengikuti Perkemahan Cerpen Bahasa Ibu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) di Swiss-Belinn Hotel Surabaya, pada 21-25 Oktober 2024.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi siswa dalam menulis cerpen berbahasa daerah serta melestarikan bahasa ibu.

    Karya-karya terbaik para peserta akan dibukukan dan diterbitkan oleh BBJT.

    “Kami berharap kegiatan ini dapat menginspirasi siswa untuk terus berkarya dan mencintai bahasa daerahnya,” ungkap Kepala BBJT Dr. Umi Kulsum, M.Hum.

    Para peserta yang merupakan pemenang Festival Tunas Bahasa Ibu tahun 2023 dan 2024 mengikuti serangkaian pelatihan menulis cerpen di bawah bimbingan para ahli.

    Mereka juga berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

    “Ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan menulis kreatif mereka,” ujar Yeti Chotimah, S.Pd., M.Art., Ketua MGMP Bahasa Using SMP.

    Siswa Banyuwangi yang ikut serta kali ini adalah Mochamad Khoirul Anam (SDN 3 Sraten), Khansa Ramadani Kusuma (SDN 1 Kabat), Kalea Nadhira Fiorenza (SDN Kepatihan), Aqira Fayyola Nadifa (SDN 2 Karangsari), Rizkia Talita Zahra (SDN Olehsari), Gadis Sifatus Soleha (SMPN 2 Srono), Putri Hidayatul Meicha (SMPN 3 Rogojampi), Frisca Dwi Maulida (SMPN 1 Kabat), Jazilah Iga Palsa (SMPN 2 Cluring), dan Nadhiva Rahmadania Putri (SMPN 2 Banyuwangi).

    Setiap siswa didampingi oleh seorang guru. “Tentu ini ilmu berharga kembangkan ilmu sastra fiksi dan melestarikan bahasa ibu sesuai daerahnya!” tambah Yeti Chotimah, S.Pd., M.Art.

    BBJT juga berkomitmen untuk mendukung pelestarian bahasa daerah di Jawa Timur.

    Selain Perkemahan Cerpen, BBJT juga menyelenggarakan kegiatan seperti Festival Teater Jawa dan Revitalisasi Bahasa Daerah di sejumlah kabupaten.

    Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap pelestarian bahasa daerah.

    “Bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus kita jaga,” tegas Umi Kulsum.

    BBJT berencana untuk menyelenggarakan Perkemahan Cerpen kembali tahun depan, serta terus mengembangkan program-program yang mendukung pelestarian bahasa dan sastra daerah. (Yechot/Aguk)

  • 8 Kesenian Tradisional Jember yang Masih Dilestarikan Hingga Sekarang

    8 Kesenian Tradisional Jember yang Masih Dilestarikan Hingga Sekarang

    Kota Jember bukan hanya terkenal dengan pemandangannya yang indah, tetapi juga kaya akan seni dan budaya.

    Dari tarian hingga alat musik, Jember memiliki berbagai kesenian tradisional yang masih dilestarikan hingga saat ini.

    Kesenian tradisional di Jember tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga identitas dan warisan budaya.

    Di tengah modernitas yang terus berkembang, berbagai bentuk seni ini tetap dipertahankan oleh komunitas lokal.

    Kesenian Tradisional Jember

    Berikut adalah delapan kesenian tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jember,

    1. Can Macanan Kadhuk

    Can Macanan Kadhuk merupakan seni tradisional yang sangat dihargai di Jember. Uniknya, seni ini menggambarkan harimau besar yang terbuat dari karung goni.

    Meskipun tidak diketahui secara pasti kapan seni ini mulai ada, Can Macanan Kadhuk mencerminkan kehidupan masyarakat perkebunan yang berusaha melindungi kebun dari hewan liar.

    Pertunjukan ini melibatkan setidaknya 45-50 orang dalam satu kelompok, dan sering kali diadakan untuk menghibur dalam berbagai acara seperti pernikahan dan khitanan.

    Salah satu kelompok yang aktif adalah Bintang Timur, yang sudah berdiri sejak tahun 1974 dan tetap berkomitmen untuk melestarikan kesenian ini.

    2. Reog di Pendhalungan

    Reog dikenal sebagai seni pertunjukan yang berasal dari Ponorogo, namun di Jember, reog juga menemukan tempatnya sendiri.

    Sejarahnya bermula ketika pemerintah kolonial Belanda membawa para pekerja dari Mataraman untuk bekerja di Jember.

    Terpisah dari kampung halaman, mereka membentuk kelompok seni reog untuk menjaga identitas budaya mereka.

    Hingga saat ini, ada sekitar 23 kelompok reog di Jember yang dikelola secara mandiri.

    Universitas Jember juga berperan dalam melestarikan seni ini dengan mengadakan pentas kolosal setiap tahun.

    3. Musik Patrol

    Ketika bulan puasa tiba, alunan musik kendang patrol akan terdengar di malam hari.

    Musik ini dimainkan oleh pemuda dan anak-anak yang berkeliling desa untuk membangunkan orang-orang untuk sahur.

    Alat musik ini terbuat dari kayu nangka pilihan dan telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jember.

    Kini, musik kendang patrol tidak hanya dimainkan untuk hiburan, tetapi juga dalam acara resmi dan karnaval.

    4. Jaran Kencak

    Salah satu kesenian yang tak kalah menarik adalah jaran kencak atau kuda menari. Kesenian ini biasanya ditampilkan saat ada acara hajat di desa-desa di Jember selatan.

    Kuda yang digunakan bukan sembarangan; mereka dilatih untuk menari mengikuti irama musik yang dimainkan.

    Penampilan jaran kencak sangat memukau, apalagi dengan hiasan menarik yang disematkan pada kuda-kuda tersebut.

    5. Jember Fashion Carnaval

    Jember Fashion Carnaval (JFC) merupakan salah satu event fesyen terbesar yang menunjukkan kreativitas masyarakat Jember.

    Dilaksanakan pertama kali pada tahun 2003, JFC berkembang menjadi ajang yang diakui secara nasional dan internasional.

    Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar, pegawai, hingga ibu rumah tangga.

    Uniknya, mereka mendesain sendiri kostum dari bahan daur ulang, menjadikan JFC sebagai perayaan fesyen yang ramah lingkungan.

    6. Tari Lahbako

    Jember dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik di Indonesia dan tradisi petani tembakau di daerah ini menginspirasi lahirnya Tari Lahbako.

    Tarian ini menggambarkan proses pengolahan tembakau, di mana para penari mengenakan kostum khas yang mencerminkan aktivitas pertanian mereka.

    Tari Lahbako menjadi simbol identitas budaya masyarakat Jember yang erat kaitannya dengan hasil pertanian.

    7. Egrang Tanoker

    Di kawasan Tanoker, kegiatan yang melibatkan anak-anak dari berbagai latar belakang dijadikan sebagai wadah untuk menciptakan perdamaian dan keadilan

    Egrang Tanoker menjadi tempat bagi anak-anak untuk bertemu dan belajar dari satu sama lain, memperkuat rasa persaudaraan dalam keberagaman.

    8. Batik Jember

    Batik Jember memiliki ciri khas tersendiri dengan motif daun tembakau, mencerminkan kekayaan alam daerah ini.

    Selain motif tembakau, beberapa pengrajin juga menambahkan elemen lain seperti kopi dan cokelat pada batik mereka.

    Itulah beberapa kesenian tradisional Jember yang sampai saat ini masih dilestarikan.

    Kesenian-kesenian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan dan makna yang mendalam tentang kehidupan masyarakat Jember.

  • Resmi, Motif Batik Gajah Oling Jadi Kekayaan Intelektual Banyuwangi

    Resmi, Motif Batik Gajah Oling Jadi Kekayaan Intelektual Banyuwangi

    Motif batik Gajah Oling yang merupakan ciri khas Banyuwangi kini resmi terdaftar sebagai kekayaan intelektual komunal (KIK) setelah menerima surat pencatatan dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

    Motif Gajah Oling diakui sebagai Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) asli dari Banyuwangi.

    “Kita semua sangat bersyukur. Motif batik Gajah Oling sudah sah secara hukum diakui berasal dari Banyuwangi. Kita akan terus dorong motif-motif batik lain untuk segera dicatatkan pula,” ujar Plt. Bupati Banyuwangi, Sugirah, pada Minggu (20/10/2024).

    Gajah Oling merupakan salah satu dari sekian banyak motif batik yang ada di Banyuwangi, dan motif ini dianggap paling terkenal di antara yang lainnya.

    Gajah Oling menggambarkan kombinasi antara elemen gajah dan uling yang merupakan sejenis belut.

    Terdapat beberapa interpretasi mengenai makna dari motif ini, namun yang paling dikenal adalah sebagai simbol pengingat akan Tuhan.

    Kata “Oling” berasal dari istilah “iling,” yang berarti ingat, sementara gajah melambangkan kekuatan dan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

    Sugirah menambahkan bahwa pengakuan terhadap motif Gajah Oling ini menunjukkan bahwa batik telah lama menjadi bagian integral dari seni dan budaya Banyuwangi.

    Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan lainnya memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan melestarikan batik di wilayah mereka.

    Salah satu inisiatif pemerintah daerah dalam melestarikan batik adalah melalui Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang merupakan contoh nyata komitmen pemkab untuk mengembangkan industri batik di Banyuwangi.

    Pada tahun 2024, BBF akan menampilkan salah satu motif batik tradisional, yakni Jenon.

    Sebelumnya, festival ini telah mengangkat beberapa motif lainnya, termasuk Gajah Oling, Galaran, Sembruk Cacing, Gedekan, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Jajang Sebarong, hingga Sekar Jagad Blambangan.

    “Satu persatu setiap tahunnya motif-motif khas Banyuwangi kita angkat dalam BBF mulai tahun 2013. Diawali dari Gajah Oling, lalu Kangkung Setingkes, Paras Gempol, Sekar Jagad Blambangan, Kopi Pecah, hingga tahun ini Jenon. Ini adalah kekayaan warisan leluhur yang harus kita jaga, lestarikan, dan kembangkan,” tambah Sugirah.

    Keberagaman motif batik yang dimiliki akan terus didorong dan difasilitasi oleh pemerintah daerah untuk mendapatkan pengakuan sebagai kekayaan intelektual komunal dari Kemenkumham.

    “Ke depan pemkab akan terus mengupayakan pengakuan hukum atas keanekaragaman budaya Banyuwangi, termasuk motif batik khas-nya,” tegasnya.